Artikel Karya Seni Tri Kona

dokumen-dokumen yang mirip
Artikel Karya Seni Rare Ulangun

BENTUK LAGU PADA KARYA MUSIK SESEBULAN

BAB II LANDASAN TEORI

TEKNIK PERMAINAN DRUM PADA KARYA MUSIK BEGIN FROM BROKEN HEART. Oleh : Hendra Tomy Wahyudi. Pembimbing : Agus Suwahyono, S.Sn, M.

1) Nilai Religius. Nilai Nilai Gamelan Semara Pagulingan Banjar Teges Kanginan. Kiriman I Ketut Partha, SSKar., M. Si., dosen PS Seni Karawitan

Bentuk Penyajian Musik pada Karya The Spirit of Samurai, Sebuah Karya Musik Pada Ujian Tugas Akhir Jurusan Sendratasik Tahun 2013

TINJAUAN BENTUK MUSIK PADA KOMPOSISI MUSIK PLACE OF BIRTH (SIDAYU)

ARTIKEL KARYA SENI TRIDATU OLEH : I WAYAN ENDRA WIRADANA NIM :

Bentuk Musik Variasi Pada Karya Musik Hom Pim Pah

SKRIP KARYA SENI KELANGEN

BAB I PENDAHULUAN. pendukung berupa gagasan, sifat dan warna bunyi. Kendati demikian, dalam

Wujud Garapan Anda Bhuwana Kiriman I Kadek Alit Suparta, Mahasiswa PS Seni Karawitan, ISI Denpasar. Instrumentasi dan Fungsi Instrumen

ARTIKEL KARYA MUSIK LULLABYBIANU

Teknik Permainan Gitar Pada Karya Musik Spirito Con Grazia Ed Espressivo

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN MUSIK

BAB I PENDAHULUAN. umum musik yang meliputi pitch, dinamika, kualitas sonik dari timbre dan

ABSTRACT WONDERFULLY NATURAL

KARYA BERMAIN DALAM TINJAUAN KOMPOSISI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

ANALISIS BENTUK MUSIK PADA KARYA YEARS OF THE BITTER AND THE SWEET. Oleh : Ulfa Ayunin ( )

UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta BAB IV PENUTUP. A. Kesimpulan. Dari hasil penelitian mengenai perpaduan sastra dan musik dalam karya

Tangkurak Koriang dalam Bentuk Formasi Orkestra: Suatu Perwujudan dari Musik Tradisi Masyarakat Pulau Binjai Kabupaten Kuantan Singingi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Proses realisasi karya seni bersumber pada perasaan yang

LAPORAN PENELITIAN CONDUCTOR ORCHESTRA DALAM KONSER JANUARY OVERTURE

Bentuk Pementasan Karya Musik Symbol Of Warrior. Di Gedung Cak Durasim Surabaya

Bentuk Dan Deskripsi Karya Tawur Agung Oleh : I Ketut Partha, SSKar., M.Si. Bentuk Karya 4.2 Deskripsi Karya

ARTIKEL KARYA SENI PIS BOLONG

DESKRIPSI KARYA TARI KREASI S O M Y A. Dipentaskan pada Festival Nasional Tari Tradisional Indonesia di Jakarta Convention Centre 4-8 Juni 2008

GITA GESING ARTIKEL KARYA SENI. Oleh : I MADE EVA YADNYA NIM :

TUGAS AKHIR MINAT KOMPOSISI APOLOGIZE FOR ORCHESTRA

BAB III ANALISIS KARYA

SKRIP KARYA SENI GENITRI OLEH: I PUTU GEDE WAHYU KUMARA PUTRA NIM: PROGRAM STUDI S-1 SENI KARAWITAN JURUSAN SENI KARAWITAN

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

ANALISIS STRUKTUR DAN TEKNIK PERMAINAN PIANO CONCERTO POUR LA MAIN GAUCHE EN RE MAJEUR KARYA MAURICE RAVEL RINGKASAN SKRIPSI

DESKRIPSI TARI TABUH TUAK OLEH : I Gede Oka Surya Negara,SST.,M.Sn

Teknik Permainan Piano Goyang Borjuis, Sebuah Karya Musik Pada Ujian Karya Musik Jurusan Sendratasik Tahun 2013

ARTIKEL SKRIPSI KARYA SENI HARMONI TIRTA EMPUL PROGRAM STUDI S-1 SENI KARAWITAN JURUSAN SENI KARAWITAN

BAB I PENDAHULUAN. Oxford University, 1997), Dieter Mack, Apresiasi Musik Musik Populer (Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusatama,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Musik adalah salah satu hasil dari proses kebudayaan manusia dalam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

(MSPI), p A. A. M. Djelantik, 1999, Estetika Sebuah Pengantar, Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia

BAB III ANALISIS BENTUK LAGU. Wonderful Slippery Thing merupakan lagu hits Guthrie Govan yang berdurasi

BAB I PENDAHULUAN. proses pembaharuan atau inovasi yang ditandai dengan masuknya gagasan-gagasan baru dalam

DESKRIPSI TARI ADI MERDANGGA SIWA NATA RAJA TEDUNG AGUNG

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN RELEVAN

Penggunaan Bahasa Pada Syair Lagu Tetep Mekenyem Karya Leeyonk Sinatra

ARTIKEL TENTANG SENI TARI

BAB I PENDAHULUAN. Seni adalah kemampuan membuat sesuatu dalam hubungannya dengan upaya mencapai

dari pengalaman tertentu dalam karya seninya melainkan formasi pengalaman emosional yang bukan dari pikiranya semata. 2.

BAB I PENDAHULUAN. 1 Alkitab merupakan Kitab Suci Agama Kristen

BAB IV PENUTUP. Kesimpulan dalam penulisan ini adalah tangga nada pelog dan blues dapat

BAHAN USBN AKORD. = 2 1 ½ m = 1 ½ 2 dim = 1 ½ - 1 ½ M 7 = 2 1 ½ - 2 m 7 = 1 ½ 2-1 ½ 7 = 2 1 ½ - 1 ½ Sus 4 = = 2 ½ - 1 Sus 2 = = 1 2 ½

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP No. 1.1) : SMP Negeri 2 Gerokgak

ARANSEMEN ORKES KERONCONG TENGGARA PADA LAGU KR. KEMAYORAN SEBAGAI KAJIAN MUSIKOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. berhubungan dengan cerita, puisi, ide atau adegan. Bagian instrumental pada

TARI ADI MERDANGGA SIWA NATA RAJA LINGGA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

STRUKTUR HARMONI PADA KARYA MUSIK SING ISN T LIPSYNC. Oleh Nur Irfan Ismail Pembimbing : Budi Dharmawanputra S.pd, M.

BAB III ANALISIS KARYA

BAB I PENDAHULUAN. dari sudut struktual maupun jenisnya dalam kebudayaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:602) Musik adalah ilmu atau

BAB I PENDAHULUAN. Analisis merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh

TAYUB NINTHING: TARI KREASI BARU YANG BERSUMBER PADA KESENIAN TAYUB

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1 Alkitab merupakan Kitab Suci Agama Kristen

ARANSEMEN LAGU MAU DIBAWA KEMANA UNTUK ENSEMBEL MUSIK SEKOLAH

MUSIK ANSAMBEL. A. Pengertian dan Jenis Musik Ansambel. Musik ansambel adalah bermain musik secara. bersama-sama dengan menggunakan beberapa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seni musik merupakan bidang seni yang sangat diminati, sebab musik

DESKRIPSI PENATAAN TARI ADI MERDANGGA SIWA NATA RAJA DEWATA NAWA SANGA

MINANG GROOVY. Kata kunci : komposisi, Minang Groovy, kesenian

BAB II SENI TARI DAN UNSUR VISUAL

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, yaitu tentang analisis

melodi dan keharmonisan dari nada dan suara yang disusun '). Seni

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

Nilai Estetis Struktur Melodi Karya Musik Middernacht Harmony in D Minor

GAMBAR 3 TATA RIAS WAJAH PENARI PRIA DAN WANITA

TINJAUAN HARMONI MUSIK DALAM KARYA MUSIK Finding. Yonatan Wisnu Setyawan Heri Murbiyantoro

KARYA MUSIK PELOG VARIATIONS IN 3 MOVEMENT DALAM TINJAUAN VARIASI MELODI

MENGENAL IRAMA 8 BEAT

pergelaran wayang golek. Dalam setiap pergelaran wayang golek, Gending Karatagan berfungsi sebagai tanda dimulainya pergelaran.

ANALISIS MUSIK CALEMPONG (LAGU MUARA TAKUI) DI KECAMATAN BANGKINANG SEBERANG KABUPATEN KAMPAR RIAU

GLOSARIUM. lainnya, baik dari kata-kata maupu melodi lagu. musik untuk suatu pegelaran. tujuan pengadaannya

KRITIK SENI BUSANA LIKU DMA TARI ARJA

BAB II LANDASAN TEORI

PERTUNJUKAN RENGGET DALAM RESITAL TUGAS AKHIR MINAT UTAMA POP-JAZZ JURUSAN MUSIK ISI YOGYAKARTA TUGAS AKHIR. Program Studi S-1 Seni Musik

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

SOAL PENILAIAN AKHIR SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2017/2018. Berilah Tanda silang( X ), hurup a,b,c, dan d pada jawaban yang benar dibawah!

PROSES PEMBELAJARAN MUSIK BAGI KELOMPOK BAND JUST 4_U DI SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA

JURNAL JEGHEH. Gagasan yang menjiwai karya ini adalah telah tentang seorang ibu.

BAB I PENDAHULUAN. penting. Notasi musik merupakan media agar hasil karya musik seseorang

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

Gambar 3 Tata Rias Wajah Penari Pria dan Wanita

LAPORAN PENELITIAN CONDUCTOR ORCHESTRA DALAM KEGIATAN DIES NATALIS UNY KE 47

MUSIK DAN PERTUNJUKAN MUSIK

BAB III ANALISIS KOMPOSISI

BENTUK MUSIK DAN MAKSUD YANG TERKANDUNG DALAM TIAP BAGIAN MUSIK DALAM KARYA MUSIK LEARNING TO BLOW

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

ANALISIS RITME BAMBU'A DI PROVINSI GORONTALO PENULIS DWI ANGGELITA HAMZAH ANGGOTA PENULIS. TRUBUS SEMIAJI, S.Sn, M.Sn. NUGRA P. PILONGO, S.Pd, M.

TINJAUAN ESTETIKA MUSIK PADA KARYA QUINTET FOR TENOR SAXOPHONE AND STRING QUARTET. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. tinggal masing-masing dengan kondisi yang berbeda. Manusia yang tinggal di

Transkripsi:

Karya Ilmiah ISI Denpasar 1 Artikel Karya Seni Tri Kona I Made Githa Wiradharma (Penata) I Wayan Suweca, S.SKar., M.Mus. (Pembimbing I) Ketut Sumerjana. S.Sn., M.Sn. (Pembimbing II) Institut Seni Indonesia Denpasar Jalan Nusa Indah, telp/fax (0361) 227316/ (0361) 236100 e-mail: info@isi-dps.ac.id ABSTRAK Karya Seni Tri Kona merupakan sebuah komposisi musik yang memadukan instrumen musik barat dengan instrumen musik Bali. Karya ini terinspirasi dari siklus kehidupan manusia dari lahir, tumbuh dan berkembang, kemudian pada akhirnya mengalami kematian meninggalkan dunia ini. Karya ini terdiri dari tiga bagian yaitu, pada bagian pertama menggambarkan ketika manusia akan lahir ke dunia, bagian kedua menceritakan ketika manusia menjalani kehidupan, tumbuh dan berkembang hingga dewasa, dan pada bagian ketiga merupakan penggambaran dari ketika manusia itu akan mengalami kematian dan meninggalkan dunia ini. Adapun pesan yang ingin disampaikan dalam karya ini yaitu, apapun yang kita capai dalam kehidupan ini baik itu harta benda ataupun yang lainnya, semua akan kita tinggalkan di dunia dan menjadi warisan untuk keluarga yang kita tinggalkan, maka dari itu jangan pernah terlena akan kehidupan duniawi karena pada akhirnya yang kita bawa pada saat kematian hanya hasil dari perbuatan baik dan buruk, amal dan budi pekerti yang kita perbuat di dunia. Didukung oleh 10 orang pemusik, Tri Kona menggunakan format : 2 buah gitar akustik, 1 buah piano, 2 buah violin, 1 buah viola, 1 buah cello, 1 buah perkusi (floor dan simbal), dan 2 buah suling. Kata Kunci : Perpaduan antara instrumen musik barat dengan instrumen musik Bali, siklus kehidupan manusia, jangan terlena dengan kehidupan duniawi.

2 PENDAHULUAN Musik adalah cabang seni yang membahas dan menetapkan berbagai suara kedalam polapola yang dapat dimengerti dan dipahami manusia. Musik dari kata muse, yaitu salah satu dewa dari mitologi yunani kunobagi cabang seni dan ilmu; dewa seni dan ilmu pengetahuan. Musik yang baik adalah yang memiliki unsur-unsur melodi, ritme, dan harmoni (Banoe, 2008; 288). Seiring dengan berkembangnya zaman, seni musik telah berkembang dan menjadi salah satu hiburan yang populer di masyarakat khususnya daerah Bali. Bali merupakan salah satu daerah yang mayoritas masyarakatnya menganut agama Hindu dan hingga kini tradisi dan budayanya masih dipegang teguh oleh masyarakatnya. Agama Hindu sendiri di Bali dikenal mengandung praktik budaya religius yang selalu terkait dengan praktikpraktik seni sesuai dengan jiwa satyam (kebenaran), sivam (kesucian), sundaram (keindahan). Dalam banyak aspek, bentuk-bentuk kesenian yang muncul terkait dengan realitas upacara yang dijalankan masyarakatnya. Dalam ajaran agama Hindu, terdapat konsep yang bersifat universal yaitu Tri Kona. Tri kona berasal dari dua kata yaitu Tri artinya tiga, dan Kona berarti dinamika hidup, jadi Tri Kona merupakan suatu konsep atau ajaran spiritual dimana kemahakuasaan Tuhan dijadikan sumber tuntunan tertinggi dalam melakukan tiga dinamika hidup yang meliputi Utpati (kelahiran), Sthiti (kehidupan), dan Pralina (kematian) (www.scribd.com/doc/konsep-tri-kona). Dari pemaparan di atas, penata terinspirasi untuk menciptakan sebuah karya komposisi yang berjudul Tri Kona, dimana penata ingin mengungkapkan salah satu makhluk hidup yang diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa yaitu manusia ke dalam sebuah bentuk garapan komposisi musik yang dituangkan dengan media ungkap instrumen musik barat yang dipadukan dengan instrumen musik Bali. Dalam karya komposisi ini dibagi menjadi tiga bagian, dimana pada bagian pertama menunjukan proses lahirnya seorang manusia, kemudian pada bagian kedua menunjukan setelah manusia itu lahir dia akan menjalani kehidupan, dan pada bagian ketiga menunjukkan bagaimana ketika manusia mengalami kematian dan meninggalkan dunia ini. Dalam karya komposisi yang berjudul Tri Kona, merupakan komposisi yang mengadopsi beberapa teknik-teknik musik yang sudah ada dan juga terinspirasi dari beberapa karya komposer musik seperti Steve Reich, Depa Pepe, Gus Teja dan John Adams. METODE PENCIPTAAN Terwujudnya sebuah karya seni apapun bentuknya, selalu melalui proses yang berlangsung mulai dari motivasi yang dirasakan oleh seorang seniman untuk membuat sebuah karya sampai karya tersebut menjadi nyata dan benar-benar terwujud. Proses yang dilewati tersebut bisa berjalan lancar ataupun tidak, tergantung dari situasi dan kondisi pada saat menjalani proses tersebut. Proses pembuatan karya seni perlu pemikiran yang sangat matang dalam mengawali langkah-langkah penggarapan. Seperti halnya di dalam mewujudkan sebuah karya seni komposisi musik, dibutuhkan proses kreativitas dan percaya diri yang selalu ditumbuhkan dari dalam diri, sebab tanpa adanya kepercayaan dalam diri maka dalam melewati berbagai proses nantinya akan mengalami hambatan-hambatan dan apa yang diinginkan tidak akan terwujud. Setiap tahap pada proses kreativitas dan hasil pekerjaan dari seorang seniman selalu mengandung ciri khas yang merupakan akibat dari segala pengaruh dan pengalaman-pengalaman dari seniman itu sendiri, baik yang disadari maupun tidak disadari. Pengaruh- Pengaruh tersebut berkaitan dengan lingkungannya, pendidikannya, dan apa yang pernah dibaca, dilihat, dan didengarnya. Terciptanya karya seni tidaklah semudah yang dibayangkan, melainkan melalui proses yang cukup panjang. Ada tiga tahapan yang ditempuh dalam proses penggarapan, yaitu: Penjajagan (eksplorasi), percobaan (improvisasi), dan tahap pembentukan (forming). Ketiga tahapan digunakan sebagai acuan dalam proses penggarapan sebuah karya seni komposisi musik. Pada tahap penjajagan (eksplorasi) merupakan langkah awal dalam memilih ide untuk digunakan sebagai karya seni dan menterjemahkan kedalam bentuk tulisan. Pada tahap ini

3 dilakukan pencarian dan penjajagan secara terus-menerus mulai dari pencarian ide atau media yang diwujudkan dalam tatanan sajian penggarapan. Pencarian ide adalah hal utama karena memerlukan proses dan waktu yang cukup lama. Berawal dari penata membaca salah satu buku ajaran agama hindu yang ada di perpustakaan Institut Seni Indonesia Denpasar, penata menemukan pengertian-pengertian beberapa konsep kehidupan yang bersifat universal yang ada dalam ajaran agama hindu di Bali. Kemudian pada bulan Februari 2017, penata mengajukan proposal garapan pada ujian proposal karya tugas akhir program studi musik Institut Seni Indonesia Denpasar. Setelah proposal dinyatakan lulus, penata melakukan berbagai langkah yang terkait dengan proses penggarapan karya komposisi ini. Pada tahapan ini pula penata mencari beberapa pemain musik yang akan mendukung dalam proses garapan karya ini. Karya komposisi musik Tri Kona ini, menggunakan media ungkap yaitu, dua buah gitar, satu piano, String quartet, perkusi dan dua buah sulling. Dalam penggunaan instrumen tersebut penata mencoba memadukan harmonisasi dari suling dan string quartet sehingga terbentuk sebuah harmoni yang indah. Pada tahapan ini pula penata melakukan observasi kepada pemain string dan pemain suling, karena salah satu keterbatasan penata yang tidak bisa memainkan instrumen string dan suling dengan baik dan benar. Maka dari itu, penata melakukan observasi agar penata lebih memahami bagaimana jenis-jenis ritmis, dan motif yang ada dalam permainan string dan suling. Pada tahap percobaan (improvisasi) merupakan tahap yang lebih banyak menyediakan waktu dan kesempatan untuk melakukan proses pemilihan dan pemilahan serta pengolahan unsur musikal pada karya ini. Bagi penata, tahapan ini menjadi sangat penting dalam memilih, memilah dan mempertimbangkan teknik-teknik dan motif-motif yang dipergunakan, agar karya seni ini memiliki ragam garap yang harmonis. Pada tahapan ini, penata lebih banyak bekerja mempergunakan sebuah software komputer yaitu Sibelius yang merupakan sebuah aplikasi komputer untuk menulis notasi atau partitur musik, serta file partitur pada sibelius juga dapat di export menjadi sebuah audio (mp3) yang tentunya nanti akan dibutuhkan pada saat proses latihan. Sebelum menulis notasi, penata lebih dulu menentukan instrumen-instrumen yang dipergunakan dalam karya komposisi ini. Kemudian penata mulai menentukan progres akord dan motif-motif yang dipergunakan dalam karya ini yang tentunya sesuai dengan suasana yang ingin digambarkan dalam setiap bagian dari karya komposisi Tri Kona. Setelah menentukan progresi akord dan motif-motif, penata mulai merangkainya menjadi satu kesatuan dan mulai membuat tema dalam karya ini. Pada tahap pembentukan (forming) Tahap ini merupakan tahap akhir dari garapan ini, yaitu tahap pembentukan menjadi sebuah garapan komposisi musik yang utuh. Bagian-bagian yang telah dicapai dirangkai menjadi satu kesatuan bentuk yang utuh walaupun masih terdapat bagian-bagian yang masih kasar. Dalam sebuah karya musik tentunya tidak terlepas dengan dinamika, yang tentunya dalam karya ini pula penata sangat memperhatikan dinamika dalam setiap bagian dari komposisi ini. Inspirasi penata dalam menghasilkan temuan berupa pola-pola berasal menonton dan mendengarkan dari beberapa karya yang sudah ada seperti karya Nagoya Guitar, Short Ride In A Fast Machine, Hero, dan Ost. Anime Naruto Shippuden. Dari beberapa karya tersebut, memberikan penata gambaran beberapa motif-motif dan progres akor dalam pembentukan sebuah komposisi musik. Bimbingan-bimbingan baik karya cipta maupun karya tulis lebih interatif dilakukan agar mendapat motivasi, saran, dan masukan untuk menunjang garapan. Penyatuan rasa juga perlu dilakukan sehingga dapat terbentuk garapan yang benar-benar utuh. Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan agar komposisi musik ini lebih rapi dan apik. Setelah tahapan ini dilakukan tahap finishing untuk mengakhiri proses kreativitas dengan lebih menghaluskan dan menghayati garapan. Penjiwaan dan kekompakan pendukung sangat dibutuhkan karena hal tersebut sangat berperan penyampaian kesan dan pesan yang terkandung dalam garapan kepada penonton. DESKRIPSI GARAPAN

4 Garapan komposisi Tri Kona merupakan sebuah garapan yang terinspirasi dari siklus kehidupan manusia yaitu, bagaimana manusia itu lahir, kemudian menjalani kehidupan, dan pada akhirnya mengalami kematian. Karya komposisi Tri Kona terdiri dari tiga bagian musik, dimana dalam setiap bagiannya memiliki ciri-cirinya masing-masing untuk menggambarkan bagaimana proses kelahiran, kehidupan, dan kematian seorang manusia itu terjadi. Dalam komposisi ini pula penata mengadopsi genre-genre musik yang sudah ada dan dikembangkan sehingga menjadi satu kesatuan komposisi musik. Karya komposisi musik Tri Kona mempergunakan instrumen musik barat yaitu Gitar, Piano, dan String Quartet (dua Violin, Viola, Cello), perkusi (floor dan simbal) dan juga mempergunakan salah satu instrumen musik Bali yaitu suling sebagai media ungkap dan diwujudkan ke dalam bentuk komposisi musik dengan memperhatikan dan memanfaatkan unsurunsur musik yang ada seperti penggunaan sukat, tempo, ritmis dan melodi yang penata coba kembangkan sehingga bisa menjadi satu kesatuan komposisi musik. BENTUK DAN STRUKTUR GARAPAN Struktur dari suatu karya seni meliputi peranan masing-masing bagian untuk dapat dicapainya sebuah bentuk karya musik yang utuh. Secara struktural, karya seni musik Tri Kona diwujudkan dalam tiga bagian dan dalam setiap bagian akan menggambarkan situasi yang berbeda dan dalam setiap bagian akan menggambarkan suasana yang berbeda. Selain itu, pembagian ini dimaksudkan agar terlihat masing-masing penonjolan, perbedaan karakteristik, dan keragaman motif. Pada bagian I terdapat tiga sub bagian yaitu 1 (a), 1 (b), 1 (c), pada bagian II terdapat dua sub bagian yaitu 2 (a), dan 2 (b), kemudian pada bagian III terdapat dua sub bagian yaitu 3 (a) dan 3 (b). Dalam setiap bagian terdapat sukat yang berbeda-beda, yaitu pada bagian I menggunakan sukat 4/4, 3/4, 6/4, 6/8, bagian II menggunakan sukat 4/4, 6/8 dan bagian III menggunakan sukat 4/4. Adapun sekema bentuk pada garapan Tri Kona adalah : A B C A B A B I II III ANALISA ESTETIS Estetis merupakan salah satu bagian penting dalam penggarapan sebuah karya seni. Keindahan membuat seseorang menjadi senang, enak dipandang, didengar dan menimbulkan rasa bahagia. Penilaian terhadap keindahan tergantung bagaimana persepsi dan pandangan masingmasing orang dalam menikmati karya yang disajikan. Dalam garapan Tri Kona, keindahan dapat terlihat jika masing-masing penikmat merasakan dan mendalami garapan, namun penikmat tentu memiliki penilaiannya sendiri. Adapun tiga unsur keindahan pada karya seni yang harus diperhatikan yaitu wujud, bobot, dan penampilan (Djelantik,1990: 41). Wujud dapat dilihat dari bentuk dan struktur, bobot dapat diamati melalui tiga aspek yaitu suasana, gagasan, dan pesan, sedangkan dalam penampilan ada tiga unsur yang berperan, yaitu bakat, keterampilan, dan sarana atau media (Djelantik, 1990: 18). Wujud merupakan kenyataan yang nampak secara konkrit didepan mata kita berarti dapat dipersepsikan dengan mata dan telinga (Djelantik, 1990: 17). Dalam hal ini wujud dapat dilihat dari bentuk dan struktur sebuah karya seni. Garapan komposisi Tri Kona ini disajikan secara konser/instrumental dalam durasi waktu kurang lebih 15 menit. Penyajian karya ini didukung oleh

5 10 orang. Garapan komposisi Tri Kona terdiri dari 3 bagian yaitu bagian I yang merupakan penggambaran ketika manusia lahir kedunia, bagian II merupakan penggambaran ketika manusia menjalani kehidupan di dunia, dan bagian III merupakan pengambaran ketika manusia mengalami kematian. Ketiga bagian ini dihubungkan dengan adanya transisi antara satu bagian dengan bagian yang lainnya yang mengacu pada ide dan konsep garapan. Bobot dari suatu karya seni merupakan isi atau makna yang disajikan kepada penikmat karya seni. Bobot meliputi apa yang dapat dirasakan dan dihayati sehingga penikmat dapat menangkap nilai dan kualitas dari karya seni yang dipertunjukkan. Dengan demikian antara karya seni dan penikmat terdapat adanya interaksi komunikatif. Bobot terdiri dari tiga aspek yaitu, gagasan, suasana, dan pesan. Gagasan dalam hal ini sejajar dengan ide. Gagasan menyangkut hasil pemikiran dan inspirasi yang didapat oleh penatanya. Gagasan atau ide dalam komposisi Tri Kona merupakan sebuah komposisi musik yang mengangkat salah satu ajaran spiritual yang bersifat universal dalam ajaran agama hindu di Bali yaitu Tri Kona, dan karya komposisi ini pula terinspirasi dari bagaimana manusia lahir, tumbuh dan berkembang, dan mengalami kematian di dunia. Suasana yang ingin disampaikan dalam garapan komposisi Tri Kona bervariasi. Pada bagian I terdapat dua suasana yaitu suasana bahagia dengan tempo sedang (moderato), dan suasana kecemasan dengan tempo cepat (allegro), pada bagian II terdapat suasana yakin dan percaya diri dengan tempo sedang (moderato), dan bagian terdapat tiga suasana yaitu suasana takut dengan tempo lambat (andante), suasana ikhlas dan harapan dengan tempo cepat (allegro). Penampilan mengacu pada bagaimana cara karya seni disajikan atau disuguhkan kepada si penikmat. Penampilan sangat menentukan bagaimana persepsi atau pandangan penikmat terhadap hasil karya pelaku pertunjukan. Penampilan sangat menentukan bagaimana persepsi atau pandangan penikmat terhadap hasil karya pelaku pertunjukan. Penampilan dipengaruhi oleh tiga unsur yang berperan, yaitu bakat, keterampilan, dan sarana (media). Bakat adalah kemampuan yang dimiliki dan dibawa sejak lahir. Setiap orang memiliki bakat atau kemampuan (talent) yang berbeda-beda dan pengembangan bakat juga harus didukung adanya rasa percaya diri. Dengan adanya bakat, segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang yang diminati akan dapat dikuasai secara lebih mudah. Melalui bakat, diharapkan penata dapat menampilkan hasil karyanya sendiri dengan baik dan maksimal sesuai kemampuan yang dimiliki. Dalam mempertunjukkan garapan komposisi Tri Kona, para pendukung berusaha semaksimal mungkin menunjukkan penampilan yang terbaik sesuai bidangnya masing-masing. Keterampilan (skill) sangat penting adanya dalam suatu penampilan. Keterampilan diperoleh jika setiap orang selalu memiliki keinginan untuk mengasah keterampilan yang dimiliki. Latihan-latihan intensif perlu dilakukan dengan disiplin agar keterampilan para pendukung garapan Tri Kona menjadi terasah dan dapat menyatukan rasa sehingga kualitas keterampilan lebih meningkat untuk tercapainya penampilan yang baik. Sarana atau media bersifat intrinsik dan ekstrinsik yang mendukung penampilan sebuah karya seni. Media intrinsik menyangkut instrumen atau alat-alat musik yang dipergunakan dan ekstrinsik menyangkut segala penunjang berhasilnya pertunjukan garapan komposisi Tri Kona. Dengan demikian diperlukan adanya tempat pementasan, tata lampu (lighting), dan peralatan sound system. Tempat pementasan garapan komposisi Tri Kona adalah di gedung Natya Mandala. Tata lampu yang dominan digunakan dalam mendukung penyajian garapan adalah lampu general. ANALISA PENYAJIAN Garapan komposisi Tri Kona disajikan sebagai komposisi musik yang mandiri atau instrumental. Sajian ini didukung oleh sepuluh orang melalui media ungkap gitar, piano, string quartet, perkusi dan suling yang dalam pengolahannya terinspirasi dari siklus kehidupan manusia dari lahir, tumbuh dan berkembang, dan pada akhirnya mengalami kematian. Garapan ini berdurasi waktu 15 menit dengan struktur garapan yang terdiri dari tiga bagian yang diharapkan

6 mampu menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga dapat terwujud karya seni berkualitas dan berbobot. KOSTUM/TATA BUSANA Kostum atau tata busana merupakan elemen yang tidak kalah penting perannya dalam sebuah pertunjukan karya seni. Kostum juga berfungsi mempertegas ide, tema dan konsep dari karya seni yang disajikan. Penataan kostum dapat mempengaruhi nilai atistik suatu karya seni. Adapun kostum atau tata busana yang digunakan dalam penyajian garapan komposisi Tri Kona adalah: Baju kemeja hitam lengan panjang Selendang (ambed) merah dengan kombinasi prada Kamen warna putih TATA LAMPU (lighting) Tata lampu merupakan salah satu elemen yang penting dalam sebuah pertunjukan khususnya dalam pementasan karya komposisi musik. Tata lampu juga berfungsi mempertegas dari penggambaran suasana dan nuansa dalam pertunjukan musik. Dalam karya komposisi Tri Kona penataan lighting ditata berdasarkan strukturnya. Adapun penataan tata lampunya adalah sebagai berikut: Pada introduksi bagian I diawali dengan solo gitar I, menggunakan lampu side wing dengan daya sekitar 25% dan down centre yang khusus mengarah ke instrumen gitar I. Kemudian ketika semua instrumen masuk menggunakan lampu general berkisar 60-70%. Pada pertengahan bagian I, ketika tempo musik mulai cepat menggunakan lampu dengan berwarna merah dan general 60% hingga tempo musik kembali turun hanya lampu general yang masih dipergunakan yang berkisar 50% sampai akhir dari bagian I. Pada awal bagian II menggunakan lampu side wing dan general yang agak redup berkisar 20-30%. Ketika pertengahan bagian II menggunakan lampu berwarna biru dan general 70% sampai akhir dari bagian II perlahan kekuatan lampu mulai menurun hingga 30%. Pada awal bagian III menggunakan lampu berwarna merah dan general 40%, lalu kemudian ketika tempo cepat kekuatan lampu dinaikan menjadi 80%. Ketika bagian ending dari garapan komposisi Tri Kona menggunakan lampu warna biru, hijau, dan general 80% dan ketika klimaks dari garapan ini kekutatan lampu general menjadi 100%. TATA PANGGUNG Tata panggung merupakan letak atau posisi dari masing-masing instrumen dalam pementasan karya komposisi musik. Tata panggung yang dipergunakan dalam garapan komposisi musik Tri Kona adalah sebagai berikut : Intrumen gitar I, II dan Suling I, II berada di depan, kemudian dibelakangnya adalah instrumen string kemudian dibelakang string adalah instrumen perkusi, instrumen piano berada di sebelah kiri panggung.

7 10 9 8 7 6 5 2 1 3 4 Keterangan : 1. Instrumen gitar I 2. Instrumen gitar II 3. Instrumen suling I 4. Instrumen suling II 5. Instrumen violin I 6. Instrumen violin II 7. Instrumen viola 8. Instrumen cello 9. Intrumen piano 10. Instrumen perkusi PENUTUP Garapan komposisi Tri Kona merupakan karya komposisi yang masih berpegang pada pola-pola dan motif-motif, dan mempergunakan instrumen musik barat yaitu Gitar, Piano, dan String Quartet (dua Violin, Viola, Cello), perkusi (floor dan simbal) dan juga mempergunakan salah satu instrumen musik Bali yaitu suling sebagai media ungkap dan diwujudkan ke dalam bentuk komposisi musik dengan memperhatikan dan memanfaatkan unsur-unsur musik yang ada seperti penggunaan sukat, tempo, ritmis dan melodi yang dikembangkan sehingga bisa menjadi satu kesatuan komposisi musik. Garapan komposisi Tri Kona disajikan secara konser/instrumental dengan durasi waktu 15 menit. Struktur garapan Tri Kona terdiri dari bagian I, bagian II, dan bagian III. Penyajian karya ini didukung oleh 10 orang sesuai dengan kebutuhan garapan. Garapan ini terbentuk melalui proses kreativitas yang cukup panjang, disertai adanya bimbingan-bimbingan dengan pihak terkait guna mendapatkan saran dan kritik sehingga bermanfaat untuk meningkatkan kualitas penggarapan.

8 DAFTAR RUJUKAN Acuan dari buku dengan satu, dua, dan tiga pengarang Bandem, I Made. 1986. Prakempa Sebuah Lontar Gambelan Bali. Denpasar: Akademi Seni Tari Indonesia Denpasar. Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik. Yogyakarta: Kanisius., 2003. Pengantar Pengetahuan Harmoni. Yogyakarta: Kanisius. Budidharma, Pra. 2001. Buku Kerja Teori Musik Sebagai Pengantar Komposisi & Aransemen. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Djelantik, A. A. M. 1990. Pengantar Dasar Ilmu Estetika Jilid I Estetika Instrumental. Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). Edmund Prier SJ, Karl. 2004. Ilmu Bentuk Musik. Yogyakarta : Pusat Musik Liturgi. Hindemith, Paul.1943. Traditional Harmony, New York: Schott Music Corporation. Jamalus, Srs.1998. Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kusumawati, Heni. 2013. Komposisi 1. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta. Nala, I Gst. Ngurah dan Adia Wiratmadja, I.G.K. 1995. Murddha Agama Hindu. Denpasar: Upasada Sastra. Sukohardi Al. 2012. Teori Musik Umum. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi.