BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
Penyiapan Mesin Tetas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. konstruksi khusus sesuai dengan kapasitas produksi, kandang dan ruangan

BAB II DASAR TEORI. Sedangkan dalam penetasan telur itu sendiri selama ini dikenal ada dua cara, yakni: Cara alami Cara buatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hingga menetas, yang bertujuan untuk mendapatkan individu baru. Cara penetasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penetasan telur ada dua cara, yaitu melalui penetasan alami (induk ayam)

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dengan metode-metode mengajar lainnya. Metode ini lebih sesuai untuk mengajarkan

1. Pendahuluan. 2. Kajian Pustaka RANCANG BANGUN ALAT PENETAS TELUR SEDERHANA MENGGUNAKAN SENSOR SUHU DAN PENGGERAK RAK OTOMATIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memperbanyak jumlah daya tetas telur agar dapat diatur segala prosesnya serta

TATALAKSANA PENETASAN TELUR ITIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Itik merupakan ternak jenis unggas air yang termasuk dalam kelas Aves, ordo

BAB III PERANCANGAN.

BAB 1 PENDAHULUAN. Tingginya kebutuhan masyarakat akan daging ayam membuat proses

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan pada 28 Mei--28 Juni 2012,

I. PENDAHULUAN. serta meningkatnya kesadaran akan gizi dan kesehatan masyarakat. Akan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bumirestu, Kecamatan Palas, Kabupaten

PENDAHULUAN. penyediaan daging itik secara kontinu. Kendala yang dihadapi adalah kurang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Itik adalah salah satu jenis unggas air ( water fowls) yang termasuk dalam

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada1 Maret--12 April 2013 bertempat di Peternakan

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang Pengaruh Indeks Bentuk Telur terhadap Daya Tetas dan

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April November 2016 di Desa

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan pada 1 Maret--5 April 2013

PEMBIBITAN DAN PENETASAN

Kata kunci: penetasan, telur itik Tegal, dan mesin tetas

BAB 9. PENGKONDISIAN UDARA

PENDAHULUAN. salah satunya pemenuhan gizi yang berasal dari protein hewani. Terlepas dari

Penelitian ini telah dilakukan selama 2 bulan pada bulan Februari-Maret di Laboratorium Patologi, Entomologi dan Mikrobiologi, dan Laboratorium

Buletin Peternakan Edisi IV 2017 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Sulawesi Selatan

[Pemanenan Ternak Unggas]

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. species dari Anas plitirinchos yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi

I. PENDAHULUAN. unggas di Sumatera Barat, salah satunya adalah peternakan Itik. Di Nagari Pitalah,

HASIL DAN PEMBAHASAN. Inseminasi Buatan pada Ayam Arab

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. banyaknya telur yang menetas dibagi dengan banyaknya telur yang fertil.

STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE (SOP) MIKROSKOP

PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan sumber protein. Di Indonesia terdapat bermacam-macam

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ayam Lokal

Cara cepat untuk membuat terarium padang pasir yang sempurna

Buku Petunjuk Pemakaian Pengering Rambut Ion Negatif

Gambar 3. Kondisi Kandang yang Digunakan pada Pemeliharaan Puyuh

I. PENDAHULUAN. peternakan seperti telur dan daging dari tahun ke tahun semakin meningkat.

III. BAHAN DAN MATERI. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 minggu pada Desember 2014 Januari 2015,

Irawati Bachari, Iskandar Sembiring, dan Dedi Suranta Tarigan. Departemen Perternakan Fakultas Pertanian USU

Sumber pemenuhan kebutuhan protein asal hewani yang cukup dikenal. masyarakat Indonesia selain ayam ialah itik. Usaha beternak itik dinilai

BISNIS TELOR ASIN DAN KEUNTUNGANYA. Disusun oleh: Sandwi Devi Andri S1 teknik informatika 2F

Nama : MILA SILFIA NIM : Kelas : S1-SI 08

PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN PEMBIBITAN AYAM LOKAL TAHUN 2012 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kemampuan untuk menyeleksi pejantan dan betina yang memiliki kualitas tinggi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam pembibit atau parent stock (PS) adalah ayam penghasil final stock

BAB V ANALISA HASIL PERHITUNGAN DAN PENGUJIAN

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II DASAR TEORI. Tabel 2.1 Daya tumbuh benih kedelai dengan kadar air dan temperatur yang berbeda

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Tujuan Pustaka Jufril, D., (2015), melakukan penelitian tentang implementasi mesin penetas telur otomatis adapun hasil

Laporan Tugas Akhir 2012 BAB II DASAR TEORI

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan di Pusat Pembibitan Puyuh Fakultas Peternakan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelompok Tani Ternak Rahayu merupakan suatu kelompok peternak yang ada di

Laporan Tugas Akhir 2012 BAB II DASAR TEORI

TEKNIK PENYEMAIAN CABAI DALAM KOKER DAUN PISANG Oleh : Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP Widyaiswara Muda Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Jambi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ayam ayam lokal (Marconah, 2012). Ayam ras petelur sangat diminati karena

BAB I PENDAHULUAN. dalam beberapa kasus hingga mengalami kebangkrutan. termometer. Dalam proses tersebut, seringkali operator melakukan kesalahan

Buku Petunjuk Pemakaian Pengeriting Rambut Berpelindung Ion

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori. 2.1 AC Split

PELUANG BISNIS PENETASAN TELUR ITIK

Temu Teknis Fungsionat non Penebti 2000 BAGIAN DAN PERLENGKAPAN MESIN TETAS Bagian-bagian dan perlengkapan yang ada pada mesin tetas sederhana dengan

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ayam arab (Gallus turcicus) adalah ayam kelas mediterain, hasil persilangan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Total jumlah itik yang dipelihara secara minim air sebanyak 48 ekor

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pertumbuhan cepat, kulit putih dan bulu merapat ke tubuh (Suprijatna et al., 2005).

PENDAHULUAN. semakin pesat termasuk itik lokal. Perkembangan ini ditandai dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan tentang aplikasi sistem pengabutan air di iklim kering

4 Telur biasanya juga mengandung semua vitamin yang sangat dibutuhkan kecuali vitamin C. Vitamin larut lemak (A, D, E, dan K), vitamin yang larut air

I PENDAHULUAN. lokal adalah salah satu unggas air yang telah lama di domestikasi, dan

MATERI DAN METODE. Materi

BAB I PENDAHULUAN I-1

I. PENDAHULUAN. Pembangunan peternakan dari tahun ke tahun semakin pesat dengan

I PENDAHULUAN. tidak dapat terbang tinggi, ukuran relatif kecil berkaki pendek.

Budidaya dan Pakan Ayam Buras. Oleh : Supriadi Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Riau.

Itik Petelur - Itik Indian Runner (Malaysia dan Cina) - Itik Khaki Cambell (Inggris) - Itik lokal tersebar di Indonesia (Itik Cirebon, Itik Tegal, Iti

BAB II LANDASAN TEORI

TINJAUAN PUSTAKA. Itik adalah salah satu jenis ungags air ( water fawls) yang termasuk dalam

THE EFFECTS OF THE BRANDS OF LAMPS ON THE RADIATION HEAT AS THE HEAT SOURCE OF POULTRY HATCHERIES

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Pengadaan dan Pemeliharaan Nyamuk Aedes aegypti Pemeliharaan Nyamuk Aedes aegypti

Laporan Tugas Akhir BAB II TEORI DASAR

MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat Materi Ulat Sutera Bahan-Bahan Alat

BAB III PERENCANAAN, PERHITUNGAN BEBAN PENDINGIN, DAN PEMILIHAN UNIT AC

Pembesaran udang galah Macrobrachium rosenbergii kini mengadopsi

UNIVERSITAS MERCU BUANA

BAB I PENDAHULUAN. unggas untuk mewujudkan beternak itik secara praktis. Dahulu saat teknologi

Kompos Cacing Tanah (CASTING)

BAB II DASAR TEORI. BAB II Dasar Teori

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Peningkatan populasi penduduk di Indonesia menyebabkan perkembangan

SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN LEMARI PENDINGIN (REFRIGERATOR) DOMO

ACARA III PEMBUATAN PRODUK DAN UJI KUALITAS PRODUK TELUR A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Telur merupakan salah satu dari beberapa produk yang di

Tugas akhir BAB III METODE PENELETIAN. alat destilasi tersebut banyak atau sedikit, maka diujilah dengan penyerap

BAGIAN II : UTILITAS TERMAL REFRIGERASI, VENTILASI DAN AIR CONDITIONING (RVAC)

BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

II. PENGAWETAN IKAN DENGAN PENGGARAMAN & PENGERINGAN DINI SURILAYANI

BAB I PENDAHULUAN. efektif karena satu induk ayam kampung hanya mampu mengerami maksimal

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pendahuluan Perkembangan industri peternakan yang semakin pesat menuntut teknologi yang baik dan menunjang. Salah satu industri peternakan yang paling berkembang adalah industri ternak unggas. Dalam perkembangannya industri ternak unggas juga membutuhkan teknologi-teknologi yang tepat, guna mendukung produksi yang lebih banyak. Salah satu dari teknologi tersebut adalah teknologi penetasan telur dengan menggunakan mesin tetas. Penetasan dengan menggunakan mesin tetas memiliki banyak keuntungan dan kemudahan dibandingkan dengan cara tradisional. Tetapi disamping itu di butuhkan pula ketekunan dan ketelitian tersendiri dalam pembuatan mesin tetas ini, mulai dari pengadaan telur, seleksi telur, cara penyimpanan telur (posisi/letak telur), temperatur serta kelembaban yang harus dijaga. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan mesin penetas telur, hal-hal yang mempengaruhi dalam proses penetasan telur seperti kondisi udara ruangan dan kondisi telur yang akan ditetaskan. 2.2 Mesin Tetas Prinsip kerja dari mesin tetas yang sederhana ini adalah menciptakan situasi dan kondisi yang sama pada saat telur dierami oleh induknya. Kondisi yang perlu diperhatikan adalah temperatur dan kelembaban. Temperatur optimal berkisar antara 37 0 C 39 0 C, dan kelembaban untuk penetasan berkisar antara 60% 70 %. Pada penetasan tingkat sederhana (peternak kecil), kelembaban dapat diatur dengan mengisi air di nampan secukupnya (tidak sampai penuh). Air digunakan untuk menjaga kelembaban mesin tetas, oleh karena itu selama penetasan harus diperhatikan stabilitas volume air (jangan sampai kering). Dalam tata/cara penetasan telur selama ini dikenal ada dua cara, yakni: Cara tradisional Cara teknologi Teknik Refrigerasi dan Tata Udara 10

2.2.1 Cara Tradisional Sebelum adanya mesin penetas telur, penetasan dilakukan dengan menggunakan sistem pengeraman pada induk bebek. Kelemahan dengan menggunakan cara tradisional ini adalah jumlah telur yang sangat terbatas dan harus bersamaan dengan waktu mengeramnya bebek tersebut. Menetaskan telur bebek oleh induknya maksimal 15 butir per satu ekor bebek. Pengeraman dengan cara ini memerlukan waktu 28 hari, terhitung mulai saat telur pertama kali dierami. 2.2.2 Cara Teknologi Cara ini merupakan usaha penetasan dengan bantuan manusia yaitu menggunakan alat penetas. Keistimewaannya, penetasan dapat dilakukan setiap saat dan dalam jumlah yang banyak, tetapi pelaksanaannya memerlukan keterampilan khusus supaya bisa menghasilkan angka tetas yang tinggi. 2.3 Hal-hal yang Mempengaruhi dalam Proses Penetasan Telur Pada proses penetasan telur perlu diperhatikan beberapa hal, adalah: 2.3.1 Kondisi Udara Ruangan Mesin Tetas Kondisi udara ruangan pada mesin penetas telur harus mempunyai kondisi yang sama dengan kondisi udara pada penetasan dengan menggunakan induk bebek. Kondisi udara ruangan pada mesin penetas telur harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: Temperatur Udara Temperatur udara pada mesin penetas telur berkisar antara 37 0 C 39 0 C (98,6 0 F 102,2 0 F), yaitu pada temperatur 37 0 C lampu pijar (sumber panas yang digunakan) dalam keadaan on (hidup) dan pada temperatur 39 0 C thermostat mematikan lampu pijar tersebut. Temperatur tersebut disetting selama proses penetasan. Kelembaban Ruangan Kelembaban sangat dibutuhkan dalam proses penetasan telur, karena kelembaban udara pada ruang penetasan telur sangat mempengaruhi proses penetasan. Kegagalan-kegagalan dalam penetasan telur salah satunya adalah karena terlalu rendahnya kelembaban udara atau terlalu tingginya kelembaban udara dalam Teknik Refrigerasi dan Tata Udara 11

ruangan tetas. Untuk ruang penetasan telur, kondisi kelembaban yang baik yaitu berkisar antara 60% - 70%. 2.3.2 Proses Penetasan Telur Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum proses penetasan dimulai, yaitu adalah kebersihan dari mesin tetas. Mesin tetas yang akan digunakan harus bersih dari hama/kuman penyakit, agar telur bebek yang akan ditetaskan tidak terserang penyakit. Ada beberapa cara untuk membersihkan mesin tetas dari hama penyakit, di antaranya adalah sanitasi. Pada tingkat yang paling sederhana sanitasi dapat dilakukan dengan cara membersihkan telur-telur bebek dari berbagai macam kotoran dan bakteri dengan cara mengelap dengan kain halus, tetapi sebaiknya tidak menggunakan air. Apabila menggunakan air untuk mengeluarkan kotoran yang susah dibersihkan, lebih baik menggunakan sedikit air hangat bersih dan dengan tidak menekan kulit telur. Sebaiknya mesin tetas diletakkan pada ruangan yang sejuk dan tenang, serta terhindar dari sinar matahari langsung. 2.3.3 Persiapan Penetasan Telur A. Pemilihan Telur Telur yang akan ditetaskan terlebih dahulu harus diseleksi dengan baik dan benar. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih telur yang akan ditetaskan, antara lain: Umur telur paling lama 7 hari. Mempunyai ukuran yang seragam (Ukuran tidak terlalu besar atau terlalu kecil). Bentuk telur yang baik adalah bulat, tidak terlalu bulat dan tidak terlalu lonjong. Tidak cacat atau abnormal, dan tidak retak. Mempunyai permukaan kulit paling tidak agak halus atau tidak terlalu kasar, kulit agak tebal, warna agak terang. Teknik Refrigerasi dan Tata Udara 12

B. Hal-hal yang Menentukan Proses Penetasan Berikut dibawah ini adalah hal-hal yang sangat berpengaruh dan harus menjadi perhatian khusus selama proses penetasan berlangsung, yaitu: Sumber Panas Sumber panas yang digunakan adalah lampu pijar, sumber panas tersebut harus benar-benar diperhatikan dengan baik. Air Air sangat diperlukan selama proses penetasan berlangsung. Fungsi dari air itu sendiri adalah sebagai pelembab di dalam ruangan mesin tetas. Oleh karena itu, air dalam bak air selama proses penetasan tidak boleh sampai kering, sebab dapat mengakibatkan kegagalan dalam proses penetasan. Operator Operator adalah orang yang menjaga, mengamati, serta mengoperasikan mesin penetas telur. Operator juga memiliki peranan yang sangat penting dalam proses penetasan telur, menentukan berhasil-tidaknya suatu proses penetasan. Pemutaran Telur Pemutaran telur dilakukan empat kali sehari selama proses penetasan berlangsung, yaitu pada pukul 06.00, pukul 10.00, pukul 14.00, pukul 18.00. Tujuan dari pemutaran telur adalah untuk memberikan panas secara merata pada permukaan kulit telur. Pemutaran telur dilakukan dengan mengubah posisi telur atau menggeser telur ke kanan atau ke kiri, atau sebaliknya. Permukaan atas bagian ujung telur yang tumpul harus selalu berada di atas. Tampak pada Gambar 2.1 bagaimana letak/posisi telur seharusnya dimulai pada pukul 06.00 hingga pukul 18.00. 06.00 18.00 Gambar 2.1 Letak/Posisi Telur Teknik Refrigerasi dan Tata Udara 13

Peneropongan Telur Peneropongan telur mutlak dilakukan, bertujuan untuk melihat dan mengetahui dengan jelas perkembangan embrio selama proses penetasan berlangsung. Peneropongan telur dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu peneropongan pertama dilakukan pada hari ketiga setelah telur yang akan ditetaskan dimasukkan ke dalam mesin tetas selama 24 jam dengan kondisi inkubator yang telah dikondisikan. Guna melihat dan mengetahui apakah telur tersebut fertile atau infertile. Peneropongan kedua dilakukan pada hari ketujuh, dengan tujuan untuk melihat perkembangan embrio serta menentukan telur yang embrionya mati dan segera diapkir. Peneropongan yang ketiga dilakukan pada hari ke-17 atau pada hari ke-18. Pada hari tersebut dilakukannya penyemprotan pada telur-telur bebek atau di lap dengan air yang telah di campur dengan jeruk nipis, dengan tujuan agar kulit telur tersebut keras sehingga pada saat menetasnya telur tersebut tidak perlu di bantu dengan membuka kulit-kulit telur yang mulai retak. Pada waktu peneropongan terakhir dilakukan, gerakan embrio sudah terlihat aktif. Terlihat dengan jelas perbedaan antara telur yang embrionya hidup dengan telur yang embrionya mati. Pada telur yang embrionya hidup, akan tampak satu titik yang bergerak dan adanya pembuluh darah. Tampak pada Gambar 2.2 telur yang didalamnya terdapat embrio. Pada Gambar 2.3 tampak telur yang terlihat terang, tidak ada tanda-tanda perkembangan embrio didalamnya, hal tersebut menandakan bahwa embrio didalam telur tersebut mati (tidak berkembang). Sedangkan pada Gambar 2.4 terlihat seperti ada darah yang bercampur, hal tersebut juga menandakan bahwa embrio didalam telur telah mati. Gambar 2.2 Telur yang Memiliki Embrio Teknik Refrigerasi dan Tata Udara 14

Gambar 2.3 Telur yang Embrionya Mati (Tampak Terang) Gambar 2.4 Telur yang Embrionya Mati (Tampak Terdapat Darah) 2.3.4 Perawatan Telur Tetas Walaupun telur tetas mutunya bagus ketika dihasilkan, tetapi jika perawatan dan penyimpanannya kurang benar telur tetas mudah rusak dan menurun mutunya. Pengaruh yang paling besar yang menyebabkan gagalnya telur tetas adalah kelembaban air dan suhu udara yang terlalu panas. Untuk itu sebaiknya telur tetas disimpan pada tempat yang jauh dari gangguangangguan misalnya percikan dari air hujan yang bocor, dinding lembab yang berlumut, uap air dari masakan, panasnya kompor dan asap, dan ruangan yang pengap dimana tidak ada sirkulasi udara pada ruangan tersebut. Jadi tempat untuk penyimpanan telur tetas adalah tempat penyimpanan yang kering, sejuk, dan selalu dialiri udara segar. Cara penyimpanan telur adalah diletakkan dengan pangkal menghadap ke atas sebab pada bagian yang mengandung kantung udara inilah yang dipakai untuk pernafasan tunas embrio. Apabila telur tersebut ditempatkan terbalik, maka selaput udara pada kantung udara dapat robek atau rusak dan pertukaran zat dengan udara luar akan terganggu. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas telur antara lain temperatur, cara penyimpanan, umur telur, dan kebersihan kulit telur. Telur tetas yang berkulit kotor tidak dapat menetas dengan baik. Kotoran tersebut akan menghalangi pertukaran CO 2 dan O 2 pada pernafasan embrio telur melalui pori-pori kulit sehingga akan mempengaruhi proses penetasan. Untuk itu, kotoran yang terdapat pada telur tetas harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum telur Teknik Refrigerasi dan Tata Udara 15

ditetaskan. Telur yang kotor dapat dibersihkan dengan lap yang sebelumnya dicelup dalam air hangat. Begitupun dengan tempat penyimpanan telur harus dijaga supaya bersih, berventilasi baik, dan bebas dari gangguan-gangguan yang bersifat merusak. 2.3.5 Kulit Telur Kotor Telur bibit yang kulit luarnya kotor masih dapat juga ditetaskan, asalkan kotoran yang menempel belum terlalu lama melekat dan harus cepat-cepat dibersihkan. Kulit telur yang kotor apabila dicuci akan mengakibatkan selaput lendir larut. Sisa lendir, cairan, dan kotoran tersebut akan menutupi lubang pori-pori. Dalam campuran tersebut akan berkembang biaknya bakteri-bakteri dan kuman-kuman perusak yang akan masuk ke dalam rongga telur, yang selanjutnya akan merusak isi telur. Oleh karena itu, pencucian kulit telur yang kotor harus dilakukan dengan hati-hati dan harus dijaga jangan sampai pori-pori kulit yang bentuknya seperti corong akan tertutup permukaannya oleh butir-butir kotoran. 2.3.6 Memilih Telur Tetas Tidak semua telur dapat digunakan untuk keperluan konsumsi. Dalam industri peternakan biasanya terdapat telur yang disisihkan untuk keperlun bibit atau untuk ditetaskan. Telur yang akan ditetaskan merupakan telur yang memiliki embrio. Selama beberapa waktu tertentu, akan lahir seekor hewan baru apabila telur tetas ini dierami oleh induknya atau ditetaskan dengan alat penetas telur. Tetapi tidak semua telur yang memiliki embrio dapat ditetaskan. Karena beberapa faktor yang menyebabkan telur tetas tersebut mengalami kegagalan, salah satunya adalah karena daya tetas yang sangat rendah. Oleh karena itu, berikut di bawah ini adalah cara memilih telur tetas yang berkualitas yang dapat digunakan sebagai standarisasi, yaitu: Bentuk oval, kulit telur licin atau tidak kasar, rata, dan memiliki berat yang seragam dan tidak ada keretakan pada kulit telur. Bentuk ideal telur tetas adalah oval tidak terlalu bulat dan juga tidak terlalu lonjong dengan perbandingan lebar dan panjang adalah 3 : 4. Telur yang berkulit mulus memiliki kualitas yang lebih baik di banding telur yang berkulit kasar. Berat telur tetas sebaiknya memiliki berat yang seragam. yakni berkisar antara 40-50 gram. Berat untuk telur bebek Teknik Refrigerasi dan Tata Udara 16

berkisar antara 60 65 gram. Hal ini dimaksudkan agar yang menetas nantinya memiliki berat tubuh yang hampir sama dan mempunyai pertumbuhan yang seragam. Ketebalan Kulit Telur. Ketebalan kulit telur atau cangkang telur sebaiknya yang ideal. Tidak terlalu tebal juga tidak terlalu tipis. Kulit telur yang terlalu tebal dapat menyulitkan anak bebek keluar dari kulit telur atau cangkang telur pada saat menetas. Sehingga dapat menyebabkan kematian pada anak bebek sebelum menetas, dan apabila dibantu dengan cara memecah kulit telur atau cangkang telur, biasanya anak bebek yang dihasilkan akan mengalami cacat pada kaki. Sementara kulit telur yang terlalu tipis menggambarkan kondisi telur yang tidak normal sehingga kemungkinan menetas lebih kecil dibandingkan dengan kulit telur yang memiliki ketebalan ideal, dan apabila telur dengan kulit telur yang tipis ini menetas, bibit yang dihasilkan tidak sehat atau tidak normal. Kondisi Kantong Udara. Kantong udara yang baik akan kelihatan bening dan kokoh dengan kedalaman sekitar 3 mm dari bagian dalam telur. sementara kantong udara yang kurang baik kedalamannya lebih dari 4.5 mm serta kelihatan keruh. Kegunaan kantong udara dalam telur sangat penting. Kantong udara ini berfungsi sebagai sumber udara bagi calon anak bebek yang akan menetas. Posisi kantong udara dapat dilihat dengan melakukan peneropongan. Umur Telur. Umur telur pada penyimpanan maksimal 7 hari. Idealnya adalah 4 hari. Semakin lama penyimpanan telur maka daya tetas akan semakin kecil. Telur tetas sebaiknya dari indukan yang sehat. Indukan yang sakit mempunyai resiko menularkan penyakit melalui telur tetas. Indukan yang sehat akan sangat berpengaruh pada tingkat fertilitas telur tetas. 2.3.7 Pedoman Penetasan Berikut di bawah ini adalah beberapa pedoman penetasan agar didapatkan hasil penetasan yang maksimal: Alat penetas harus diletakkan pada tempat yang rata, tidak boleh terkena pancaran sinar matahari secara langsung, tempat penetasan tidak banyak tertiup angin. Ruangan tempat alat penetas harus bebas dari obat-obatan atau cairan yang mudah menguap, alat penetasan sudah disterilkan dengan desinfektan sebelum digunakan. Teknik Refrigerasi dan Tata Udara 17

Lampu pijar sebagai sumber panas yang digunakan dinyalakan dan diatur lebih dulu sampai panasnya sesuai dengan yang dibutuhkan dan cukup stabil. Sebaiknya dalam rak penetasan ditaruh alat pengukur suhu dan kelembaban atau hygrometer. Telur bebek yang akan ditetaskan harus dibilas/dibersihkan dengan air hangat dengan suhu berkisar antara 38 0 C - 39 0 C. Pembilasan/pembersihan harus merata ke seluruh permukaan kulit telur, kemudian disusun dalam rak penetas setelah sebelumnya dikeringkan. Nampan berisi air untuk mengatur kelembaban dimasukkan kedalam rak penetas. Nampan cukup diisi air setengahnya. Akan lebih baik alat penetas dilengkapi alat pengukur kelembaban sehingga dapat diusahakan kelembaban penetasan berkisar antara 60% - 70%. Range temperatur yang diperlukan adalah berkisar antara 37 0 C 39 0 C. Pembalikan telur selama penetasan dilakukan paling sedikit 2 kali sehari, mulai dari hari ke-2 sampai ke-25. Oleh sebab itu jangan pernah membiarkan telur tetas tidak dibalik atau diputar posisinya dalam 1 hari pada masa penetasan telur. Pemutaran telur tersebut dilakukan dalam 18 hari pertama penetasan. Tetapi jangan membalik telur sama sekali pada 3 hari terakhir menjelang telur menetas. Pada saat itu telur tidak boleh diusik karena embrio dalam telur yang akan menetas tersebut sedang bergerak pada posisi penetasannya. Pemeriksaan telur selama penetasan dilakukan 3 kali : Pemeriksaan pertama pada hari ke-3, Pemeriksaan kedua pada hari ke-7, Pemeriksaan ketiga pada hari ke-18. Setelah telur menetas, biarkan anak bebek yang bulunya masih basah berada dalam alat penetas selam 24 jam sampai bulunya kering. Selanjutnya dipindahkan ke kandang atau kotak anak bebek yang sudah dilengkapi pemanas. 2.4 Sumber Beban Kalor dalam Kotak Mesin Tetas Sumber beban yang terdapat pada kotak mesin penetas telur dapat dikelompokkan dalam 4 bagian, yaitu beban kalor melalui dinding, beban produk, beban sensibel dan laten. Teknik Refrigerasi dan Tata Udara 18

1. Beban kalor melalui dinding Beban kalor melalui dinding adalah banyaknya kalor yang masuk kedalam inkubator melalui dinding, karena adanya perbedaan temperatur antara lingkungan luar dengan ruangan yang dikondisikan. Besarnya kalor yang masuk melalui dinding dapat di hitung dengan persamaan: Q = U. A. T... (2.1) [Sumber : Principles of Refrigeration, Roy J. Dossat] Keterangan: Q = Laju aliran kalor (W) U = Koefisien perpindahan kalor menyeluruh (W/m 2 K) A = Luas permukaan dinding luar (m 2 ) T = Perbedaan temperatur ( 0 C) Nilai U tergantung pada : Ketebalan dinding Material bahan dinding Kondisi permukaan (koefisien konveksi) Besarnya harga U dapat dihitung dengan persamaan: U =... (2.2) [Sumber : Principles of Refrigeration, Roy J. Dossat] Keterangan: U = Koefisien perpindahan panas menyeluruh K = Konduktifitas bahan dinding (W/m.K) f o = Koefisien konveksi dinding luar (W/m.K) = 9,37 W/m.K f i = Koefisien dinding dalam (W/m.K) = 9,37 W/m.K Nilai K untuk berbagai bahan dapat diperoleh dalam tabel sifat-sifat bahan. 2. Beban Produk... (2.3) [Sumber : Principles of Refrigeration, Roy J. Dossat] Teknik Refrigerasi dan Tata Udara 19

Keterangan: Q = Beban produk (W) m = Massa produk (kg) C p = Kalor spesifik produk (kj/kgk) T = Perbedaan temperatur ( 0 C) 3. Beban Sensibel dan Laten q sensibel = 1,23 x Q inf x T... (2.4) [Sumber : Perancangan Sistem Tata Udara, Andriyanto Setyawan] q laten = 3,01 x Q inf x w... (2.5) [Sumber : Perancangan Sistem Tata Udara, Andriyanto Setyawan] Keterangan: q sensibel q laten Q inf = beban pemanasan sensibel akibat infiltrasi (W) = beban pemanasan laten akibat infiltrasi (W) = debit infiltrasi (LPS) T = Perbedaan temperatur ( 0 C) w = Perbedaan rasio kelembaban udara (g/kg.da) Untuk mengetahui debit infiltrasi digunakan persamaan berikut:... (2.6) [Sumber : Perancangan Sistem Tata Udara, Andriyanto Setyawan] Keterangan: Q inf = Debit infiltrasi (LPS) ACH = Jumlah pertukaran udara ruangan per jam (air change per hour) A = Luas (m 2 ) h = Tinggi (m) Beban kalor keseluruhan adalah: Q total = Q dinding total + Q produk + Q sensibel & laten... (2.7) Kapasitas pemanasan kabin pada kotak mesin adalah: Faktor keamanan 10% = Q total x 10%... (2.8) Teknik Refrigerasi dan Tata Udara 20

Beban faktor keamanan adalah: q t = Q total + Faktor keamanan 10%... (2.9) Kapasitas pemanasan kabin untuk jam operasi 24jam/hari Q = q t x 24/RT... (2.10) Keterangan: RT = Lamanya jam operasi, jam (hours). Teknik Refrigerasi dan Tata Udara 21