BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian. Kabupaten Gorontalo Utara merupakan wilayah administrasi yang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. ekologis yaitu untuk melakukan pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery

LAMPIRAN. Lampiran 1. Analisis vegetasi hutan mangrove mulai dari pohon, pancang dan semai berdasarkan

BAB I PENDAHULUAN. atas pulau, dengan garis pantai sepanjang km. Luas laut Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. luar biasa ini memberikan tanggung jawab yang besar bagi warga Indonesia untuk

BAB I PENDAHULUAN. batas pasang surut air disebut tumbuhan mangrove.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pulau Dudepo merupakan salah satu pulau kecil berpenduduk yang berada

BAB I PENDAHULUAN. saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. SIMPULAN DAN SARAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dalam 3 zona berdasarkan perbedaan rona lingkungannya. Zona 1 merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Kerusakan hutan mangrove di Indonesia, kini semakin merata ke berbagai

ANALISIS VEGETASI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE KPH BANYUMAS BARAT

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

METODE PENELITIAN. Lokasi Dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bagan Serdang Kecamatan Pantai

Keanekaragaman Jenis dan Indeks Nilai Penting Mangrove di Desa Tabulo Selatan Kecamatan Mananggu Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo

BAB I PENDAHULUAN. antara dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. yaitu mendapatkan makanan, suhu yang tepat untuk hidup, atau mendapatkan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Kuisioner Pengunjung Kuisioner penelitian untuk pengunjung Pantai Putra Deli

1. Pengantar A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. baik bagi pesisir/daratan maupun lautan. Selain berfungsi secara ekologis,

KERUSAKAN MANGROVE SERTA KORELASINYA TERHADAP TINGKAT INTRUSI AIR LAUT (STUDI KASUS DI DESA PANTAI BAHAGIA KECAMATAN MUARA GEMBONG KABUPATEN BEKASI)

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem yang terdiri atas berbagai

BAB I PENDAHULUAN. kekayaan jenis flora dan fauna yang sangat tinggi (Mega Biodiversity). Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. wilayah perbatasan antara daratan dan laut, oleh karena itu wilayah ini

4 KERUSAKAN EKOSISTEM

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Struktur Dan Komposisi Vegetasi Mangrove Di Pulau Mantehage

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari

Struktur Vegetasi Mangrove di Desa Ponelo Kecamatan Ponelo Kepulauan Kabupaten Gorontalo Utara

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Secara keseluruhan daerah tempat penelitian ini didominasi oleh Avicennia

Oleh. Firmansyah Gusasi

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di

BAB I PENDAHULUAN. Hutan mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang. berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi ini

Hasil dan Pembahasan

PROPOSAL PENELITIAN PENYIAPAN PENYUSUNAN BAKU KERUSAKAN MANGROVE KEPULAUAN KARIMUNJAWA

TINJAUAN PUSTAKA. A. Mangrove. kemudian menjadi pelindung daratan dan gelombang laut yang besar. Sungai

BAB I PENDAHULUAN. fauna yang hidup di habitat darat dan air laut, antara batas air pasang dan surut.

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas

ANALISIS VEGETASI DAN STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI TELUK BENOA-BALI. Dwi Budi Wiyanto 1 dan Elok Faiqoh 2.

BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem pesisir tersebut dapat berupa ekosistem alami seperti hutan mangrove,

STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA MARTAJASAH KABUPATEN BANGKALAN

PENDAHULUAN. garis pantai sepanjang kilometer dan pulau. Wilayah pesisir

DISTRIBUSI SPASIAL DAN LUAS KERUSAKAN HUTAN MANGROVEDI WILAYAH PESISIR KWANDANG KABUPATEN GORONTALO UTARA PROVINSI GORONTALO

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia perkiraan luas mangrove sangat beragam, dengan luas

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2010

STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA KAHYAPU PULAU ENGGANO

TINJUAN PUSTAKA. Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal

REPORT MONITORING MANGROVE PADA KAWASAN TAMAN NASIONAL WAKATOBI KABUPATEN WAKATOBI

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. terluas di dunia sekitar ha (Ditjen INTAG, 1993). Luas hutan mangrove

IDENTIFIKASI VEGETASI MANGROVE DI SEGORO ANAK SELATAN, TAMAN NASIONAL ALAS PURWO, BANYUWANGI, JAWA TIMUR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara

IDENTIFIKASI POPULASI MAKROZOOBENTOS DI KAWASAN EKOSISTEM MANGROVE DESA LADONG ACEH BESAR. Lili Kasmini 11 ABSTRAK

ZONASI TUMBUHAN UTAMA PENYUSUN MANGROVE BERDASARKAN TINGKAT SALINITAS AIR LAUT DI DESA TELING KECAMATAN TOMBARIRI

Latar Belakang (1) Ekosistem mangrove Produktivitas tinggi. Habitat berbagai organisme makrobentik. Polychaeta

Analisis Vegetasi Mangrove di Pulau Dudepo Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KERAPATAN HUTAN MANGROVE SEBAGAI DASAR REHABILITASI DAN RESTOCKING KEPITING BAKAU DI KABUPATEN MAMUJU PROVINSI SULAWESI BARAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS VEGETASI MANGROVE DAN PEMANFAATANNYA OLEH MASYARAKAT KAMPUNG ISENEBUAI DISTRIK RUMBERPON KABUPATEN TELUK WONDAMA SKRIPSI YAN FRET AGUS AURI

STRUKTUR KOMUNITAS MOLUSKA (GASTROPODA DAN BIVALVIA) SERTA ASOSIASINYA PADA EKOSISTEM MANGROVE DI KAWASAN PANTAI ULEE - LHEUE, BANDA ACEH, NAD

BAB III METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Hampir 75 % tumbuhan mangrove hidup diantara 35ºLU-35ºLS (McGill, 1958

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan erat. Selain keunikannya, terdapat beragam fungsi yang dapat dihasilkan

SUMBERDAYA ALAM WILAYAH PESISIR

BAB I PENDAHULUAN. pantai sekitar Km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat potensial.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PROSIDING. FORUM NASIONAL PEMACUAN SUMBER DAYA IKAN III Hotel Grand Royal Panghegar Bandung, 18 Oktober 2011 DEWAN REDAKSI

KAJIAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DI TELUK YOUTEFA KOTA JAYAPURA ABSTRAK

III. Bahan dan Metode

I. PENDAHULUAN. pantai yang mempunyai arti strategis karena merupakan wilayah terjadinya

BAB I PENDAHULUAN. Karena berada di dekat pantai, mangrove sering juga disebut hutan pantai, hutan

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 3. No. 1, Maret 2012: ISSN :

Struktur dan Komposisi Mangrove di Pulau Hoga Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara Jamili

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PENDAHULUAN. pengelolaan kawasan pesisir dan lautan. Namun semakin hari semakin kritis

KORELASI ANTARA KERAPATAN AVICENNIA DENGAN KARAKTERISTIK SEDIMEN DI KAWASAN HUTAN MANGROVE DESA SUNGAI RAWA KABUPATEN SIAK, RIAU

Avicenia sp. ( Api-Api ) Rhizophora sp( Bakau ) Nypa sp. ( Nipah ) Bruguiera sp. ( Lacang ) Sonneratia sp. ( Pedada )

TINJAUAN PUSTAKA. A. Perencanaan Lanskap. berasal dari kata land dan scape yang artinya pada suatu lanskap terdapat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. Peta lokasi

BAB I PENDAHULUAN. dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

KAJIAN SUMBERDAYA EKOSISTEM MANGROVE UNTUK PENGELOLAAN EKOWISATA DI ESTUARI PERANCAK, JEMBRANA, BALI MURI MUHAERIN

STRUKTUR VEGETASI MANGROVE DI PANTAI MUARA MARUNDA KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA PROVONSI DKI JAKARTA. Abstrak

PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE UNTUK EKOWISATA DI KECAMATAN KUTA RAJA KOTA BANDA ACEH Syifa Saputra1, Sugianto2, Djufri3 1 ABSTRAK

PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE UNTUK EKOWISATA DI KECAMATAN KUTA RAJA KOTA BANDA ACEH Syifa Saputra1, Sugianto2, Djufri3 1 ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan

STRUKTUR KOMUNITAS VEGETASI MANGROVE BERDASARKAN KARAKTERISTIK SUBSTRAT DI MUARA HARMIN DESA CANGKRING KECAMATAN CANTIGI KABUPATEN INDRAMAYU

TINJAUAN PUSTAKA. kestabilan pantai, penyerap polutan, habitat burung (Bismark, 1986). Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut

MONITORING LINGKUNGAN

Teknologi penanaman jenis mangrove dan tumbuhan pantai pada tapak khusus

PENDAHULUAN. dan juga nursery ground. Mangrove juga berfungsi sebagai tempat penampung

TINJAUAN PUSTAKA. merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat

ANALISIS STRUKTUR DAN STATUS EKOSISTIM MANGROVE DI PERAIRAN TIMUR KABUPATEN BIAK NUMFOR

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kabupaten Gorontalo Utara merupakan wilayah administrasi yang merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo yang disahkan melalui Undang-undang nomor 11 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Gorontalo Utara. Secara geografis lebih dari 75 persen wilayah Kabupaten Gorontalo Utara merupakan wilayah pesisir, dengan panjang garis pantai mencapai 320 kilometer persegi (Km 2 ), sekaligus merupakan garis pantai terpanjang di Provinsi Gorontalo yang berhadapan dengan Samudera Pasifik. Secara administrasi pemerintahan Kabupaten Gorontalo Utara memiliki wilayah berbatasan dengan: Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Sulawesi, sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Boalemo sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Utara. Kecamatan kwandang merupakan salah satu kecamatan yang terdapat pada kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo. Wilayah Kecamatan Kwandang berdasarkan data BPS tahun 2011 memiliki luas 202,86 Km 2. Dari 18 desa yang ada di kecamatan Kwandang, hanya ada 5 (Lima) desa yang dipilih sebagai lokasi pengambilan sampel yaitu : Desa Katialada, Desa Bulalo, Desa Leboto, Desa Mootinelo, Desa Molingkapoto, dengan titik sebaran sampel sebanyak 10 titik plot sampel penelitian. Hal ini di dasarkan pada rehabilitasi mangrove di wilayah tersebut. 1

4.2 Hasil Penelitian 4.2.1 Fungsi Ekologi Hutan Mangrove Di Kecamatan Kwandang Pengambilan sampel fungsi ekologi hutan mangrove dilakukan melalui pengukuran langsung di lokasi penelitian, yakni di 5 stasiun yang tersebar di Kecamatan Kwandang dan dibagi dalam 2 aspek, yaitu : a) Vegetasi mangrove, dan b) Fauna hutan mangrove. 4.2.1.1 Vegetasi Mangrove a) Vegetasi Mangrove dan Nilai Penting Tingkat Pohon Pada Tabel 4.1 terlihat bahwa adanya spesies-spesies tertentu yang memiliki indeks nilai vegetasi yang tinggi dan menunjukan bahwa spesies tersebut dominan dalam suatu komunitas. Spesies Rhizophora apiculata memiliki nilai penting sebesar 0,80 %, dominansi sebesar 3,96 Cm 2, frekuensi 0,6%, dan kerapatan 0,57 M 2. Di samping itu juga Rhizophora apiculata mendominasi di lokasi penelitian sebesar 30% Sedangkan spesies Avicennia officinalis memiliki penyebaran yang tidak merata, hanya dapat di temui pada titik-titik tertentu. Hal ini di tunjukan dengan nilai penting terkecil yakni 0,046%, frekuensi %, dominansi 0,08 Cm 2, dan kerapatan 0,02M 2. Vegetasi mangrove tingkat pohon disajikan pada Table 4.1 dan Gambar 4.2. 2

3% 3% 2% 1% 1% Rhizophora apiculata Sonneratia alba 5% 30% Avicennia lanata 6% Aigiceras carniculatum 9% Bruguiera cylindica Avicennia marina 16% Ceriops tagal 23% Sonneratia ovata Xylocarpus granatum Gambar 4.2 Sebaran Spesies Dominan Tingkat Pohon Di Lokasi Penelitian Berdasarkan hasil analisis secara kuantitatif menunjukan vegetasi mangrove tingkat pohon disajikan pada Table 4.1 Tabel 4.1 Vegetasi Mangrove dan Nilai Penting Tingkat Pohon Nama spesies K (M 2 ) Kr D (cm 2 ) Dr F Rhizophora apiculata Avicennia lanata Sonneratia alba Aigiceras carniculatum Bruguiera cylindica Avicennia marina Ceriops tagal Sonneratia ovata Xylocarpus granatum Bruguiera gymnorriza Osbornia octodonta Avicennia officinalis 0,57 0,45 0,3 7 2 0,05 0,05 0,05 0,02 0,02 0,02 0,29 0,23 0,5 0,08 0,06 0,05 0,02 0,02 0,02 0,01 0,01 0,01 3,96 2,22 3,65 0,58 0,68 0,63 0,31 0,29 9 5 4 0,08 0,30 7 0,28 0,04 0,05 0,04 0,02 0,02 0,01 0,01 0,01 0,006 0,6 0,5 0,2 0,5 0,2 0,2 Sumber :Data Primer, 2013 Fr INP 0,21 0,80 7 0,57 0,07 0,50 7 0,29 0,03 4 0,07 6 0,07 1 0,03 0,07 0,03 0,06 0,03 0,05 0,03 0,05 0,03 0,04 6 b) Vegetasi Mangrove dan Nilai Penting Tingkat Pancang 3

Berdasarkan data Tabel 4.2 menunjukan bahwa untuk tingkat pancang terlihat adanya spesies yang memiliki nilai parameter vegetasi yang tinggi dan hal ini dapat mencirikann spesies yang dominan dalam suatu komunitas. Spesies tersebut yakni, Rhizophora apiculata adalah spesies yang paling mendominasi sebesar 46% di lokasi penelitian, dengan nilai penting sebesar 1,041 %, dominansi sebesar 0,395 Cm 2, frekuensi sebesar 42 % dan kerapatan sebesar 0,456 %. Tabel 4.2 Vegetasi Mangrove dan Nilai Penting Tingkat Pancang Nama spesies K (M 2 ) Kr D (cm 2 ) Dr F Rhizophora apiculata Aigiceras carniculatum Ceriops tagal Avicennia marina Sonneratia alba Xylocarpus granatum Bruguiera cylindrica Avicennia lanata Bruguiera gymnorriza 0,525 75 5 0,075 0,075 0,05 0,05 0,025 0,025 0,456 52 30 0,065 0,065 0,043 0,043 0,021 0,021 0,395 4 21 0,063 0,056 0,043 0,0395 0,018 0,0175 0,443 57 35 0,070 0,062 0,048 0,042 0,020 0,019 0,2 0,3 0,2 0,2 Sumber :Data Primer, 2013 Fr INP 42 1,041 0,214 0,522 42 0,407 42 0,277 0,071 0,263 0,071 0,205 0,071 56 0,071 12 0,071 11 7% 13% 2% 4% 7% 15% 4% 2% Avicennia lanata Avicennia marina Aigiceras carniculatum Bruguiera gymnorriza Bruguiera cylindrica Rhizophora apiculata Sonneratia alba 46% Ceriops tagal Xylocarpus granatum 4

Gambar 4.3 Sebaran Spesies Dominan Tingkat Pancang Di Lokasi Penelitian c. Vegetasi Mangrove dan Nilai Penting Tingkat Semai Berdasarkan data Tabel 4.3 menunjukan bahwa untuk tingkat semai terlihat adanya spesies yang dominan. Spesies tersebut yakni, Rhizophora apiculata adalah spesies yang paling mendominasi sebesar 42% di lokasi penelitian, dengan nilai penting sebesar 0,55 %, frekuensi sebesar 0,2 % dan kerapatan sebesar 1,05 %. Tabel 4.3 Vegetasi Mangrove dan Nilai Penting Tingkat Semai Nama spesies Rhizophora apiculata Aigiceras carniculatum Ceriops tagal Avicennia marina Sonneratia alba Bruguiera cylindica Avicennia lanata Bruguiera gymnorriza Xylocarpus granatum Sumber : Data Primer, 2013 K Kr (M 2 ) F Fr INP 1,05 0,42 0,2 3 0,55 0,5 0,2 0,3 0,2 0,40 0,35 4 0,3 0,2 0,34 5 0,06 0,2 3 9 5 0,06 0,06 2 0,04 0,06 0 0,05 0,02 0,06 0,08 0,05 0,02 0,06 0,08 0,04 0,06 0,01 14% 6% 4% 2% 6% 20% Avicennia lanata Avicennia marina Aigiceras carniculatum Bruguiera gymnorriza Bruguiera cylindrica 2% Rhizophora apiculata 42% 4% Sonneratia alba Ceriops tagal Xylocarpus granatum 5

Gambar 4.4 Sebaran Spesies Dominan Tingkat Semai Di Lokasi Penelitian 4.2.1.2 Fauna Hutan Mangrove Di Pesisir Kecamatan Kwandang a) Indeks Diversitas H Berdasarkan analisis secara kuantitatif menunjukan bahwa pada stasiun 1 memiliki indeks diversitas 1,009, stasiun 2 memiliki indeks diversitas 0,843, stasiun 3 memiliki indeks diversitas 0,702, stasiun 4 memiliki indeks diversitas 0,547, dan stasiun 5 memiliki indeks diversitas 0,524. Tabel 4.4 Indeks Diversitas Fauna Hutan Mangrove Di lokasi Penelitian Stasiun Diversitas Ind / M 2 1 1,009 2 0,843 3 0,702 4 0,547 5 0,524 Sumber :Data Primer, 2013 b) Indeks Dominansi Berdasarkan analisis secara kuantitatif menunjukan bahwa pada stasiun 1 indeks dominansi masing-masing yaitu spesies Telescopium dengan indeks dominansi 0,31, spesies Periophthalmus walailake dengan indeks dominansi 0,004, spesies Scylla serrata dengan indeks dominansi 0,04, dan spesies Fiddler Crab tidak di temukan pada stasiun 1, 2, dan 3. Fiddler crab ditemukan di stasiun 6

4 dengan indeks dominansi 0,57, dan stasiun 5 dengan indeks dominansi 0,60. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel 4.5. Tabel 4.5 Dominansi Fauna Hutan Mangrove Di lokasi Penelitian Dominansi Stasiun Ind / M 2 1 2 3 4 5 Rodong (Telescopium) 0,31 0,37 7 0 0 Glodok (Periophthalmus walailake) 0,04 0,001 0 0 0 Kepiting Bakau (Scylla serrata) 0,04 0,09 0,05 0,05 0,04 Kepiting Capit Satu (Fiddler Crab) 0 0 0 0,57 0,60 Sumber :Data Primer, 2013 c) Indeks Kemelimpahan Berdasarkan analisis secara kuantitatif indeks kemelimpahan di lokasi penelitian menunjukan bahwa pada spesies Scylla serrata memiliki indeks kemelimpahan yang rata-rata tersebar di stasiun 1, 2, 3, 4, dan 5. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel 4.6. Tabel 4.6 Kemelimpahan Fauna Hutan Mangrove Di lokasi Penelitian Kemelimpahan Stasiun Ind / M 2 1 2 3 4 5 Rodong (Telescopium) 0,297 0,273 0,527 0 0 Glodok (Periophthalmus Walailake) 0,319 66 0 0 0 Kepiting Bakau (Scylla serata) 0,309 0,333 0,489 0,494 0,481 Kepiting Capit satu Capit satu (Fiddler 0 0 0 0,298 0,278 Crab) Sumber :Data Primer,2013 4.2.1.3 Kondisi Faktor Lingkungan Di Pesisir Kwandang Faktor lingkungan yang diukur pada pesisir Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara memiliki suhu lingkungan berkisar antara 29-31 0 C, 7

suhu air berkisar antara 28-33 0 C, kelembaban berkisar antara 27-29 0 C, dan salinitas 32-33.8 o / oo (ppt). 40 35 30 25 20 15 10 5 0 31 0 C 330 C 33.5 o / oo 29 0 C 1 Stasiun 1, 2, 3, 4, dan 5 33 o / oo 33 o / oo 30 0 C 29 0 C 30 0 C 29 0 C 29 0 C29 C o / oo 32 27 0 C 2 3 4 33.8 o / oo 29 0 C 280 C 270 C 5 Suhu lingkungan Suhu air kelembaban salinitas Gambar 4.5 Diagram Hasil Pengukuran Faktor Lingkungan Di Lokasi Penelitian 4.3 Pembahasan 4.3.1 Fungsi Ekologi Hutan Mangrove Di Kecamatan Kwandang Kerusakan hutan magrove selain berdampak pada penghidupan masyarakat di sekitar kawasan mangrove juga mengakibatkan punahnya berbagai spesies flora, fauna, dan biota tertentu di dunia. Dimana untuk pulau sulawesi, wilayah pesisir Kecamatan Kwandang, tahun 1994 dari 27 spesies mangrove sejati di indonesia di temukan adanya 14 spesies mangrove sejati yang tersebar diseluruh Desa di Kecamatan Kwandang (Rauf, 1994 dalam Baderan 2013). Selanjutnya, Katili (2009) menemukan adanya 10 spesies yang tersebar di 3 Desa, selanjutnya, Baderan (2013) menemukan 16 spesies mangrove yang tersebar di 6 lokasi penelitian. Dari 16 spesies mangrove yang di temukan, terdapat 11 spesies 8

mangrove sejati atau mangrove mayor, 4 spesies mangrove minor, dan 1 spesies mangrove asosiasi. Selanjutnya, hasil penelitian ini menemukan 12 spesies mangrove yang tersebar di 5 lokasi penelitian, yang terdiri dari 10 titik sampel. Spesies mangrove yang ditemukan pada lokasi penelitian di Kecamatan Kwandang sebanyak 12 spesies yakni Avicennia lanata, Avicennia marina, Avicennia officinalis, Aigiceras carniculatum, Bruguiera gymnorriza, Bruguiera cylindrica, Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Sonneratia ovata, Osbornia octodonta, Ceriops tagal, Xylocarpus granatum. Kelompok mangrove di lokasi penelitian di bagi menjadi dua kelompok yakni mangrove mayor atau mangrove sejati, yakni flora yang hanya terdapat pada ekosistem mangrove dan tidak di temukan di komunitas terestrial, berkemampuan memebentuk tegakan murni yang secara dominan dapat mencirikan dari suatu komunitas, secara morfologi mempunyai bentuk-bentuk adadtif khusus yakni seperti akar dan buah terhadap lingkungan mangrove, mangrove minor, yakni flora mangrove yang tidak mampu memebntuk tegakan murni sehingga secara morfologis tidak berperan dominan dalam struktur komunitas (Baderan, 2013). Spesies mangrove yang di temukan di lokasi penelitian, di kelompokan ke dalam Tabel 4.7. Tabel 4.7 Kelompok Mangrove Di Lokasi Penelitian No Kelompok mangrove Spesies 1 Kelompok mayor Avicennia lanata, Avicennia marina, (vegetasi dominan) Avicennia officinalis, Bruguiera gymnorriza, Bruguiera cylindrica, Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Sonneratia ovata, Osbornia 9

2 Kelompok minor (vegetasi marjinal) octodonta, Ceriops tagal. Aigiceras carniculatum, Xylocarpus granatum. Sumber : Data Primer, 2013 Sejumlah spesies yang di temukan pada lokasi penelitian di wilayah pesisir Kecamatan Kwandang, yang mengalami kerusakan yang sangat parah yakni pada spesies Avicennia officinalis. Pada tingkat pohon, Avicennia officinalis memiliki Indeks Nilai Penting yang sangat di bawah yakni 0,046%, di karenakan spesies Avicennia officinalis ini hanya di temukan pada satu plot yakni plot 7 di desa Mootinelo. Dan saat ini dengan keadaan lahan mangrove yang ada di desa mootinelo sudah banyak di konfersi menjadi tambak dan di tambah dengan pembuatan jalan bebas hambatan sebagai perwujudan penataan Kecamatan Kwandang sebagai pusat Kabupaten Gorontalo Utara, sehingga menyebabkan lahan/hutan mangrove banyak di konfersi dan menyebabkan penurunan jumlah vegetasi mangrove yang ada di desa mootinelo. Untuk tingkat pancang terlihat adanya spesies yang memiliki nilai parameter vegetasi yang tinggi dan hal ini dapat mencirikan spesies yang dominan dalam suatu komunitas. Spesies tersebut yakni, Rhizophora apiculata adalah spesies yang paling mendominasi sebesar 46% di lokasi penelitian, dengan nilai penting sebesar 1,041 %, dominansi sebesar 0,395 Cm 2, frekuensi sebesar 42 % dan kerapatan sebesar 0,456 %. Selanjutnya hasil nilai penting untuk mangrove tingkat semai di lokasi penelitian bahwa terdapat salah satu jenis yang paling 10

dominan yakni spesies Rhizophora apiculata dengan nilai penting sebesar 0,55 %, kerapatan sebesar 1,05 M 2, frekuensi sebesar 0,2 dan mendominasi sebesar 42 %. Kerusakan yang terjadi di hutan mangrove pesisir Kecamatan Kwandang tidak hanya berkaitan dengan hilangnya beberapa jenis tumbuhan mangrove saja, melainkan hancurnya habitat hutan mangrove itu sendiri. Hilangnya tegakan mangrove secara otomatis berarti hilangnya pohon induk penghasil benih. Sementara hancurnya sebahagian besar habitat mangrove berarti menurunnya luasan areal yang sesuai untuk ditanami mangrove kembali. Berdasarkan zonasi di lokasi penelitian, hutan mangrove di Kecamatan Kwandang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan zonasi di daerah lain. Salah satu keunikannya adalah jenis mangrove yang hidup tidak berdasarkan pola zonasi pada umumnya. Hal yang sama juga di kemukakan oleh peneliti sebelumnya Baderan (2013) Profil zonasi di wilayah pesisir Kecamatan Kwandang tidak terdiri atas beberapa zonasi, karena tidak ada zonasi yang murni satu genus saja, yang ditemukan hanya satu zonasi yang miks, dimana setiap spesies tumbuh berulang sampai kearah daratan, dan tumbuh saling bercampur antara beberapa spesies, tidak ditemukan spesies yang dominan untuk menentukan pembagian zonasi. Faktor yang menyebabkan adanya perbedaan vegetasi mangrove di pesisir Kecamatan Kwandang adalah kondisi lingkungan, pada Gambar 4.5 menunujakan bahwa pada stasiun 1 memiliki salinitas rata-rata 33,5 o / oo, suhu lingkungan ratarata 31 0 C, suhu air rata-rata 33 0 C, dan kelembaban rata-rata 29 0 C. stasiun 2 memiliki salinitas rata-rata 33 o / oo, suhu lingkungan rata-rata 30 0 C, suhu air rata- 11

rata 31 0 C, dan kelembaban rata-rata 29 0 C. stasiun 3 memiliki salinitas rata-rata 33 o / oo, suhu lingkungan rata-rata 30 0 C, suhu air rata-rata 31 0 C, dan kelembaban ratarata 29 0 C, stasiun 4 memiliki salinitas rata-rata 32 o / oo, suhu lingkungan rata-rata 29 0 C, suhu air rata-rata 29 0 C, dan kelembaban rata-rata 27 0 C, stasiun 5 memiliki salinitas rata-rata 33,8 o / oo, suhu lingkungan rata-rata 29 0 C, suhu air rata-rata 28 0 C, dan kelembaban rata-rata 27 0 C. Vegetasi mangrove secara khas memperlihatkan adanya pola zonasi. Beberapa ahli (seperti Chapman, 1977 dkk dalam Noor, 2006) menyatakan bahwa hal tersebut berkaitan erat dengan tipe tanah (lumpur, pasir atau gambut), keterbukaan (terhadap hempasan gelombang), salinitas serta pengaruh pasang surut. Beberapa penulis melaporkan adanya korelasi antara zonasi mangrove dengan tinggi rendahnya pasang surut dan frekuensi banjir. Di Indonesia, areal yang selalu digenangi walaupun pada saat pasang rendah umumnya didominasi oleh Avicennia alba atau Sonneratia alba. Areal yang digenangi oleh pasang sedang didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora. Adapun areal yang digenangi hanya pada saat pasang tinggi, yang mana areal ini lebih ke daratan, umumnya didominasi oleh jenis-jenis Bruguiera dan Xylocarpus granatum. Mangrove juga merupakan habitat penting bagi berbagai jenis fauna lainnya, termasuk berbagai jenis filum arthropoda dan molusca yang memiliki nilai komersial penting. Berdasarkan hasil penelitian pada stasiun 1, 2, 3, 4, dan 5, terlihat jelas bahwa untuk rata-rata indeks diversitas hewan yang ada di pesisir Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara berbeda-beda. Hasil perhitungan indeks diversitas fauna hutan mangrove di lokasi penelitian, yaitu 12

antara 0,52 1 Ind/M 2. Stasiun 1 memiliki indeks nilai keragaman 1,009, stasiun 2 memiliki indeks nilai keragaman 0,843, dan stasiun 3 memiliki indeks nilai keragaman 0,702 yang merupakan lokasi yang memiliki indeks nilai keragaman buruk, berdasarkan kriteria hasil keragaman. Sedangkan stasiun 4 memiliki indeks nilai keragaman 0,547 Ind/ 2, dan stasiun 5 memiliki indeks nilai keragaman 0,524 yang merupakan lokasi yang memiliki indeks nilai keragaman sangat buruk, berdasarkan kriteria hasil keragaman. Perbedaan indeks nilai keragaman disetiap lokasi penelitian disebabkan, stasiun 4 dan stasiun 5 merupakan wilayah terluas dalam alih fungsi hutan mangrove yakni, Desa Mootinelo daerah tambak yang ada seluas 111,1 Ha dan Desa Molingkapoto daerah tambak yang ada seluas 110,3 Ha. Keadaan lingkungan seperti ini membuat fauna hutan mangrove jarang ditemukan lagi, yang dapat berdampak pada kestabilan suatu ekosistem. Hal demikian menurut Wibisono (2005) dengan rata-rata nilai indeks tersebut berarti penyebaran jumlah individu tiap spesies dan kestabilan komunitas pada seluruh stasiun termasuk ke dalam kategori buruk. Secara umum dari 4(empat) spesies hewan yang di temukan ditempat penelitian ada 2(dua) spesies yang unik, yakni (kepiting capit satu) Fiddler crab dan (Glodok)Periophthalmus walailakae atau yang lebih di kenal dengan bahasa lokalnya buli ata. Dimana kedua spesies ini hanya ada di tempat-tempat tertentu. Periophthalmus walailakae (glodok) selama penelitian hanya di temukan di stasiun 1 dan 2 di plot 1,2, dan 3 yang terdapat di Desa Katialada. Fiddler crab (kepiting capit satu) sama halnya dengan Periophthalmus walailakae (glodok) 13

akan tetapi Fiddler crab (kepiting capit satu) di temukan di stasiun dan plot berbeda. Fiddler crab (kepiting capit satu) di temukan di stasiun 4 dan 5 yakni stasiun trakhir pada plot 7, 8, 9, dan 10 yang terdapat di desa mootinelo dan molingkapoto. Faktor yang menyebabkan adanya perbedaan fauna hutan mangrove antara stasiun 1 dan stasiun 5 adalah faktor lingkungan pada lokasi penelitian, yang menunjukan bahwa, di stasiun 1 memiliki salinitas rata-rata 33,5 o / oo, suhu lingkungan rata-rata 31 0 C, suhu air rata-rata 33 0 C, dan kelembaban rata-rata 29 0 C. stasiun 2 memiliki salinitas rata-rata 33 o / oo, suhu lingkungan rata-rata 30 0 C, suhu air rata-rata 31 0 C, dan kelembaban rata-rata 29 0 C. stasiun 3 memiliki salinitas rata-rata 33 o / oo, suhu lingkungan rata-rata 30 0 C, suhu air rata-rata 31 0 C, dan kelembaban rata-rata 29 0 C, stasiun 4 memiliki salinitas rata-rata 32 o / oo, suhu lingkungan rata-rata 29 0 C, suhu air rata-rata 29 0 C, dan kelembaban rata-rata 27 0 C, stasiun 5 memiliki salinitas rata-rata 33,8 o / oo, suhu lingkungan rata-rata 29 0 C, suhu air rata-rata 28 0 C, dan kelembaban rata-rata 27 0 C. Salinitas stasiun 5 lebih tinggi jika dibandingkan dengan salinitas pada stasiun lainnya. Ini dikarenakan pada stasiun 1 sampai dengan stasiun 4 pengambilan sampel dilakukan pada sore hari, yang dapat mengurangi penguapan. Dan jika di bandingkan dengan stasiun 5 yang tingkat salinitasnya tinggi karena kondisi loksi penelitian merupakan lokasi hutan mangrove yang sudah mengalami alih fungsi yang sangat luas yakni 110,3 Ha. Menyebabkan tingginya kecepatan angin serta penguapan menjadi tinggi. Hal ini seperti yang dikemukan oleh Nontji (1993) bahwa Salinitas perairan pesisir pantai menjadi turun karena di pengaruhi 14

oleh curah hujan dan aliran sungai, sebaliknya daerah dengan penguapan yang kuat menyebabkan salinitas meningkat. Selain salinitas, kondisi suhu lingkungan, suhu air, dan kelembaban juga sangat mempengaruhi kehidupan flora dan fauna dipesisir Kecamatan Kwandang. Hal ini seperti yang dikatakan Anthony dalam Dampal, (2003:42) bahwa perairan pantai daeraah tropika biasanya mempunyai kisaran suhu antara 27-29 0 C akan tetapi dapat tinggi dengan berkurangnya kedalaman air. Pada masingmasing tempat pengamatan(plot) kepadatan setiap spesies yang di temukan bervariasi jumlahnya dikarenakan terdapat beberapa spesies yang jumlahnya jauh lebih besar daripada spesies lainnya sehingga mengakibatkan keanekaragaman suatu ekosistem akan menjadi kecil. Kestabilan fauna hutan mangrove dapat dilakukan dengan melihat dominansi serta indeks keragaman. 2 pokok yang harus di perhatikan yaitu variasi jumlah spesies dan jumlah individu setiap spesies pada suatu kawasan. Apabila variasi jumlah spesies dan jumlah individu setiap spesies relatif kecil berarti terjadi ketidak seimbangan ekosistem yang disebabkan akibat adanya gangguan dan tekanan. Menurut Sugianti dalam Dian Saptarini dkk (2011) suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman jenis tinggi jika komunitas itu disusun oleh banyak jenis dengan kelimpahan jenis yang sama atau hampir sama. Sebaliknya jika komunitas itu disusun oleh sangat sedikit jenis dan jika hanya sedikit jenis yang dominan maka keanekaragaman jenisnya rendah. Keanekaragaman yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas tinggi karena dalam komunitas itu terjadi interaksi jenis yang 15

tinggipula. Sehingga dalam suatu komunitas yang mempunyai keanekaragaman jenis tinggi akan terjadi interaksi jenis yang melibatkan transfer energi (jaringjaring makanan), predasi, kompetisi, dan pembagian relung yang secara teoritis lebih kompleks. Berturut-turut nilai indeks dominansi yang tertinggi hingga yang terendah mendekati nilai 0, adalah 0,60 Ind/M 2 (stasiun 5); 0,57 Ind/M 2 (stasiun 4); 0,37 Ind/M 2 (stasiun 2); 0,31 Ind/M 2 (stasiun 1); 7 Ind/M 2 (stasiun 3). Indeks dominansi yang diperoleh di pesisir Kecamatan Kwandang sebagian besar tidak mendekati nilai 0, hal tersebut berarti bahwa terdapat beberapa spesies tertentu ada yang mendominasi dalam komunitas tersebut. Secara umum spesies Scn yang tersebar di lokasi penelitian, karena merupakan jenis yang kosmopolitan di dalam hutan mangrove sepanjang masih di aliri oleh air laut pada saat pasang. 4.3.2 Keberhasilan Rehabilitasi Dari Fungsi Ekologi Hutan Mangrove Di Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Berdasarkan hasil penelitian, keberhasilan rehabilitasi dari fungsi ekologi di pesisir Kecamatan Kwandang belum berhasil. Hal ini dibuktikan dengan hanya ditemukannya 12 spesies mangrove pada 10 titik pengambilan sampel yakni Avicennia lanata, Avicennia marina, Avicennia officinalis, Aigiceras carniculatum, Bruguiera gymnorriza, Bruguiera cylindrica, Rhizophora apiculata, Sonneratia alba, Sonneratia ovata, Osbornia octodonta, Ceriops tagal, Xylocarpus granatum. 16

Pada tingkat pohon spesies Rhyzophora apiculata memiliki nilai dominan yakni 30 % dengan indeks nilai penting(inp) 0,80% dengan kerapatan 0,57 M 2 dan Avicennia lanata yang memiliki nilai dominan yakni 23 % dengan indeks nilai penting(inp) 0,57% dengan kerapatan 0,45 M 2. Kerusakan yang terjadi di hutan mangrove pesisir Kecamatan Kwandang tidak hanya berkaitan dengan hilangnya beberapa jenis tumbuhan, tetapi hilangnya pohon induk penghasil benih dan tempat fauna hutan mangrove berlindung, mencari makan, dan tempat bertelur. Fauna hutan mangrove yang ditemukan di pesisir Kecamatan Kwandang sejumlah 4 spesies yakni Uca sp, Periophthalmus walailake, Scylla serrata, Telescopium telescopium. Berdasarkan analisis secara kuantitatif fauna hutan mangrove di pesisir Kecamatan Kwandang memiliki indeks keragaman buruk pada stasiun 1(1,009), 2(0,843), 3(0,702) dan pada stasiun 4(0,547), 5(0,524) memiliki indeks keragaman sangat buruk berdasarkan kriteria hasil keragaman. Dari 10 titik pengambilan sampel di lokasi penelitian spesies yang mendominasi oleh Scylla serrata. Upaya dalam pemulihan fungsi ekologi di pesisir Kecamatan Kwandang yang belum berhasil, dikarenakan rehabilitasi mangrove sering diartikan secara sederhana oleh masyarakat pesisir Kwandang, yaitu menanam mangrove atau membenihkan mangrove lalu menanamnya tanpa adanya penilaian terhadap keberhasilan penanaman. Selain itu kegiatan rehabilitasi di Kecamatan Kwandang sering kali terbatas pada 2 atau 3 jenis spesies mangrove. Pemulihan ekosistem mangrove yang terbatas pada beberapa jenis spesies mangrove bisa menyebabkan perubahan terhadap habitat dan penurunan fungsi 17

ekologi ekosistem mangrove. Hal ini dikarenakan sifatnya yang homogen dibandingakan yang alami sifatnya heterogen (banyak spesies). Sehingga berdasarkan penelitian fauna hutan mangrove di pesisir Kecamatan Kwandang tergolong dalam indeks keragaman sangat buruk sebesar 0,524 Ind/M 2. Fokus kegiatan rehabilitasi di Kecamatan Kwandang dilakukan tahun 2009, tahun 2010, 2013. Tahun dan luasan area kegiatan rehabilitasi di kecamatan kwandang disajikan pada Tabel 4.8. Tabel 4.8 Tahun Dan Luasan Area Kegiatan Rehabilitasi Di Kecamatan Kwandang DESA TAHUN LUAS AREA KET Katialada 2013 25 Ha Penanaman Bulalo 2009 2010 2013 20 Ha 25 Ha 25 Ha Penanaman Pengkayaan Penanaman Leboto 2009 25 Ha penanaman Mootinelo 2009 10 Ha Penanaman Molingkapoto 2009 20 Ha Penanaman Sumber : Kelompok Pelestari Mangrove Sinar Laut Kecamatan Kwandang Berdasarkan Tabel 4.8, menunjukan bahwa kegiatan rehabilitasi di Kecamatan Kwandang belum berjalan dengan baik, dikarenakan hanya terfokus di satu Desa yakni Desa Bulalo. Kegiatan rehabilitasi di Desa Katialada hanya dilakukan satu kali yakni pada tahun 2013 dengan luas 25 Ha, dan untuk Desa Leboto, Mootinelo, Molingkapoto dilakukan di tahun 2009 dengan luas bervariasi yakni 10-25 Ha. Selain itu kegiatan rehabilitasi di Kecamatan Kwandang kurang melakukan penilaian terhadap Desa-Desa yang mengalami alih fungsi yang sangat luas seperti di Desa Mootinelo mencapai 181,29 Ha, Desa Leboto Mencapai 181,23 Ha (Baderan, 2013). 18

Penanaman yang dilakukan di Desa Mootinelo dan Desa Leboto pada tahun 2009 tidak mendapat perawatan dengan baik, akibatnya penanaman yang dilakukan tidak memberikan hasil yang baik seperti yang diharapkan. Hal ini di perkuat oleh peneliti sebelumnya dimana kondisi mangrove yang ada di pesisir Kecamatan Kwandang tidak mengalami perubahan yang serius, sudah rusak dan tidak ada penanaman. Selain itu kegiatan rehabilitasi tidak menitik beratkan pada kondisi kerusakannya, seperti di Desa Mootinelo yang mengalami kerusakan 2,6 Km dari garis pantai (Baderan, 2013). Pesisir Kecamatan Kwandang memiliki arti yang sangat strategis dilihat dari segi ekonomis, berdasarkan analisis kuantitatif spesies Scylla serrata ditemukan di seluruh stasiun penelitian dan merupakan biota yang memiliki nilai ekonomis penting. Akan tetapi daerah yang potensial tersebut tidak akan bertahan lama apabila tidak diselamatkan, dalam arti kawasan pesisir tersebut tidak mendapat perlakuan konservasi. Oleh karena itu perlu adanya penanaman kembali mangrove dan memberi pengertian akan pentingnya hutan mangrove serta kesadaran dari masyarakat pesisir Kecamatan Kwandang. 19