PENGGUNAAN FLY ASH PADA SELF COMPACTING CONCRETE (SCC)

dokumen-dokumen yang mirip
PENGARUH PENAMBAHAN FLY ASH PADA SELF COMPACTING CONCRETE (SCC) TERHADAP KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTISITAS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGGUNAAN FLY ASH DAN VISCOCRETE PADA SELF COMPACTING CONCRETE

PENELITIAN MENGENAI PENINGKATAN KEKUATAN AWAL BETON PADA SELF COMPACTING CONCRETE

The 1 st INDONESIAN STRUCTURAL ENGINEERING AND MATERIALS SYMPOSIUM Department of Civil Engineering Parahyangan Catholic University

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Kemajuan teknologi telah berdampak positif dalam bidang konstruksi di

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Perlu adanya suatu alternatif bahan yang bisa mengurangi kadar semen, tetapi tidak mengurangi kekuatan (strength) beton itu sendiri dan sifat-sifat

Pengaruh Penambahan Admixture Jenis F dan Substitusi Silica Fume terhadap Semen pada Kuat Tekan Awal Self Compacting Concrete

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH BERBAGAI KADAR VISCOCRETE PADA BERBAGAI UMUR KUAT TEKAN BETON MUTU TINGGI f c = 45 MPa

KoNTekS 6 Universitas Trisakti, Jakarta November 2012

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KAJIAN INTERVAL RASIO AIR-POWDER BETON SELF-COMPACTING TERKAIT KINERJA KEKUATAN DAN FLOW (009M)

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Beton PT. Pionir Beton

PENGARUH VARIASI PENAMBAHAN ABU AMPAS TEBU TERHADAP FLOWABILITY DAN KUAT TEKAN SELF COMPACTING CONCRETE ABSTRAK

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KATA KUNCI : rheology, diameter, mortar, fly ash, silica fume, superplasticizer.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Self Compacting Concrete (Beton memadat Mandiri) adalah campuran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kualitas bahan, cara pengerjaan dan cara perawatannya.

BAB I PENDAHULUAN. Quality control yang kurang baik di lapangan telah menjadi masalah

LAMPIRAN 1 DATA HASIL PEMERIKSAAN AGREGAT

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI. dengan atau tanpa bahan campuran tambahan (admixture). Beton akan semakin

SIKA VISCOCRETE SEBAGAI DISPERSAN UNTUK SELF COMPACTING CONCRETE

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH PENAMBAHAN SLAG BESI TERHADAP KEKUATAN TEKAN DAN FLOWABILITY PADA SELF COMPACTING CONCRETE

BAB III LANDASAN TEORI. tidak terlalu diperhatikan di kalangan masyarakat.

BAB III LANDASAN TEORI

UJI KARAKTERISTIK BETON SEGAR AKIBAT PENAMBAHAN SERAT POLYPROPYLENE DALAM ADUKAN SELF-CONSOLIDATING CONCRETE ABSTRAK

BAB IV DATA DAN PENGOLAHAN

Pengaruh Variasi Jumlah Semen Dengan Faktor Air Yang Sama Terhadap Kuat Tekan Beton Normal. Oleh: Mulyati, ST., MT*, Aprino Maramis** Abstrak

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Zai, dkk (2014), melakukan penelitian Pengaruh Bahan Tambah Silica

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. berkembang, beton merupakan salah satu bahan elemen struktur bangunan yang

BAB I PENDAHULUAN. dalam dunia konstruksi modern saat ini.

BETON RINGAN SELF-COMPACTING DENGAN AGREGAT DAN POWDER LIMBAH PECAHAN GENTING MERAH

PERILAKU FISIK DAN MEKANIK SELF COMPACTING CONCRETE (SCC) DENGAN PEMANFAATAN ABU VULKANIK SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PENGGANTI SEMEN ABSTRAK

BAB III LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. dipakai dalam pembangunan. Akibat besarnya penggunaan beton, sementara material

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

PENGARUH PENAMBAHAN SILICA FUME DAN SUPERPLASTICIZER TERHADAP KUAT TEKAN BETON MUTU TINGGI DENGAN METODE ACI (AMERICAN CONCRETE INSTITUTE)

PENGARUH KADAR FLY ASH TERHADAP KINERJA BETON HVFA

BAB I PENDAHULUAN. baja sehingga menghasilkan beton yang lebih baik. akan menghasilkan beton jadi yang keropos atau porous, permeabilitas yang

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Nilai kuat tekan beton rerata pada umur 28 hari dengan variasi beton SCC

BAB I BETON MUTU TINGGI (HIGH STRENGHT CONCRETE)

BAB I PENDAHULUAN. Beton merupakan salah satu bahan material yang selalu hampir digunakan pada

APLIKASI BETON RAMAH LINGKUNGAN

PENGARUH PERUBAHAN UKURAN MAKSIMUM AGREGAT KASAR TERHADAP JUMLAH SEMEN UNTUK PEMBUATAN BETON SCC DENGAN BAHAN TAMBAH SP430 DAN RP260

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI EKSPERIMENTAL KUAT TEKAN BETON SELF COMPACTING CONCRETE (SCC) DENGAN MENGGUNAKAN MATERIAL PASIR LAUT DAN AIR LAUT.

Pengaruh Penggunaan Bambu Sebagai Pengganti Agregat Split terhadap Kuat Tekan Beton Ringan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

SIFAT RHEOLOGY SEMEN PASTA DITINJAU DARI CAMPURAN MATERIAL PENYUSUNNYA DAN PENGGUNAAN SUPERPLASTICIZER

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah membuat program untuk membangun pembangkit listrik dengan total

BAB I PENDAHULUAN. menguntungkan seperti kekuatan tarik dan sifat daktilitas yang relatif rendah.

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. benda uji, sifat fisik beton SCC meliputi : slump flow test, L-Shape box test, V

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

THE INFLUENCE OF INITIAL PRESSURE ON THE CONCRETE COMPRESSIVE STRENGTH. Lina Flaviana Tilik, Maulid M. Iqbal, Rosidawani Firdaus ABSTRACT

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI. Saya menyatakan bahwa tugas akhir yang berjudul Pengaruh Silica Fume


PENGARUH PENGGUNAAN SILICA FUME, FLY ASH DAN SUPERPLASTICIZER PADA BETON MUTU TINGGI MEMADAT MANDIRI

TEKNOLOGI BAHAN KONSTRUKSI PERTEMUAN KE-6 BETON SEGAR

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. faktor efektifitas dan tingkat efisiensinya. Secara umum bahan pengisi (filler)

BAB II LANDASAN TEORI

PENELITIAN AWAL TENTANG PENGGUNAAN CONSOL FIBER STEEL SEBAGAI CAMPURAN PADA BALOK BETON BERTULANG

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi yang dilakukan adalah dengan cara membuat benda uji di

PENGARUH VARIASI KADAR SUPERPLASTICIZER TERHADAP NILAI SLUMP BETON GEOPOLYMER

BAB III LANDASAN TEORI. dibandingkan beton normal biasa. Menurut PD T C tentang Tata Cara

PENGARUH KUAT TEKAN DAN HUBUNGAN TERHADAP BIAYA PRODUKSI BETON SELF COMPACTING CONCRETE DENGAN MATERIAL TAMBAHAN SERAT BAJA

PERUBAHAN KUAT TEKAN SELF COMPACTING CONCRETE

Heru Indra Siregar NRP : Pembimbing : Ny. Winarni Hadipratomo, Ir. FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan agar berat bangunan dapat dikurangi yang berdampak pada efisiensi

PENGARUH BAHAN KIMIA TAMBAHAN TERHADAP IKATAN AWAL DAN SLUMP BETON

PENGARUH TEMPERATUR AIR TERHADAP KUAT TEKAN BETON PADA BETON SCC (SELF COMPACTING CONCRETE) TUGAS AKHIR. Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Penyelesaian

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP - MADURA

JUNAIDI ABDILLAH I WAYAN DODY SEPTIANTA

BAB I PENDAHULUAN I 1

BAB 1 PENDAHULUAN. digunakan bahan tambah yang bersifat mineral (additive) yang lebih banyak bersifat

BAB I PENDAHULUAN. ini, para insinyur dituntut untuk memberikan inovasi-inovasi baru agar bisa

STUDI PERANCANGAN SELF-COMPACTING CONCRETE

BAB I PENDAHULUAN. dibidang konstruksi. Dalam bidang konstruksi, material konstruksi yang paling disukai dan

> NORMAL CONCRETE MIX DESIGN <

PENGARUH PENGGUNAAN SERBUK KACA SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI AGREGAT HALUS TERHADAP SIFAT MEKANIK BETON

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen PCC merek

untuk mencapai workabilitas dan nilai slump rencana terhadap kuat tekan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

BAB I PENDAHULUAN. beton (concrete). Beton merupakan bahan gabungan dari material-material

Dehn, F., Holschemacher, K. and Weiβe, D., 2000, Self-Compacting Concrete (SCC). Time Development of the Material Properties and the Bond Behaviour,

EFEK PENAMBAHAN SERAT POLYPROPYLENE TERHADAP KARAKTERISTIK BETON SEGAR JENIS SELF-COMPACTING CONCRETE

BAB III METODE PENELITIAN

PENGGUNAAN BOTTOM ASH YANG TELAH DIOLAH UNTUK PEMBUATAN BETON HVFA MUTU MENENGAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bahan, cara pengerjaan dan cara perawatannya. mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan, antara lain:

Transkripsi:

PENGGUNAAN FLY ASH PADA SELF COMPACTING CONCRETE (SCC) Jurusan Teknik Sipil UPN Veteran Jawa Timur ABSTRACT The concept new concrete of technology is effective and efficient is Self Compacting Concrete (SCC). The Additional of fines material use for increasing and keeping cohesive, reduce the heat of hydration and as lubricant wich is eable to increase flowability and workability. Kind of admixture which used is high range water reducer (HRWR) that is eable to reduce water. This SCC research using water cement ratio 0.41, maximum size coarse aggregate 12.5 mm, fines additional is fly ash as dosage 0%, 10%, 20%, 0% and 40% of binder weight and using admixture viscocrete-10 with dosage 1 % of binder weight. And mix design methode for SCC is mix design methode observated by PT. SIKA. For know SCC criteria, we have is workability and flowability test with slump cone test and L-shape box test. Result of the research SCC which is effective and efficient with use fly ash dosage 20 % is mix design third composition. Keywords: Self Compacting Concrete, Flowability, Workability ABSTRAK Konsep teknologi beton baru yang efektif dan efesien yaitu beton yang dapat memadat sendiri atau self compacting concrete (SCC). Penambahan bahan yang halus (fines) yang berfungsi untuk meningkatkan dan memelihara kohesi, mengurangi panas hidrasi dan sebagai pelumas sehingga dapat meningkatkan flowability dan workabilitynya. Jenis admixture yang digunakan adalah high range water reducer (HRWR) yang bersifat mengurangi air. Pada penelitian SCC ini menggunakan faktor air semen 0,41, ukuran maksimum agregat kasar 12.5 mm, tambahan fines berupa fly ash dengan dosis 0%, 10%, 20%, 0% dan 40% dari berat binder dan menggunakan admixture Viscocrete-10 dengan dosis 1% dari berat binder. Dan metode perencanaan campuran beton untuk SCC adalah metode mix design yang diteliti PT. SIKA.Untuk mengetahui kriteria SCC maka dilakukan pengujian workability dan flowability dengan menggunakan alat slump cone test dan L-shaped box test. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan beton SCC (Self Compacting Concrete) yang paling efisien dan efektif dengan menggunakan fly ash 20 % adalah komposisi campuran yang ketiga. Kata kunci: Self Compacting Concrete, Flowability, Workability

PENGGUNAAN FLY ASH PADA SELF COMPACTING CONCRETE (SCC) PENDAHULUAN Dalam pekerjaan konstruksi beton, pemadatan atau vibrasi beton mutlak dilakukan untuk suatu pekerjaan beton bertulang konvensional, tujuan dari pemadatan itu sendiri adalah meminimalkan udara yang terjebak dalam rongga-rongga didalam beton. Hal inilah yang menyebabkan dikembangkan suatu konsep teknologi beton baru yang efektif dan efesien yaitu beton yang dapat memadat sendiri atau self compacting concrete (S.C.C). S.C.C merupakan beton yang dapat memadat dibawah beratnya sendiri. Sedangkan dalam segi mutu S.C.C mempunyai banyak keunggulan yaitu workability dan flowability yang tinggi, homogenitas beton yang baik, dapat mengurangi Permeabilitas dan mempunyai tingkat durabilitas yang tinggi. Pada S.C.C diperlukan admixture yang bersifat mengurangi air, selain dari penambahan admixture, beton S.C.C juga memerlukan bahan yang halus (fines) yang berfungsi sebagai pelumas sehingga dapat meningkatkan flowability dan workabilitynya, dan sebagai bahan pengisi (filler) yang berfungsi mengisi ronggarongga pada beton salah satunya fly ash. fly ash sendiri merupakan limbah dari pembakaran batu bara yang tidak terpakai lagi, sehingga diharapkan melalui metode S.C.C limbah tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimum. Didasarkan pada hal tersebut maka akan dilakukan penelitian mengenai efektifitas penggunaan fly ash terhadap flowability dan workability pada self compacting concrete. Untuk mengetahui pengaruh fly ash terhadap flowability dan workability pada self compacting concrete (SCC). Dalam penelitian ini dibatasi dengan ketentuan sebagai berikut : Spesifikasi Bahan Semen Portland tipe I, Produksi PT. Semen Gresik. Agregat halus menggunakan pasir alami dari Lumajang. Agregat kasar menggunakan batu pecah dari Mojokerto dengan ukuran maksimum 12,5 mm. Air produksi PDAM. Menggunakan bahan admixture Viscocrete-10 yang di produksi PT. SIKA. Menggunakan bahan tambahan yang halus (fines) berupa fly ash. Spesifikasi Campuran Faktor air semen 0,41. Menggunakan admixture Viscorete 1 % dari berat binder ( ketentuan dari PT. SIKA 0,5 1,8 % dari berat binder).

JURNAL REKAYASA PERENCANAAN, Vol. 4, No., Juni 2008 Variasi penambahan Fly ash 0%, 10 %, 20 %, 0% dan 40% dari total berat binder. TINJAUAN PUSTAKA Metode Self Compacting Concrete (S.C.C) mempunyai tujuan mencapai workability dan flowability yang tinggi dan tidak terjadi segregasi pada beton. Untuk tujuan mencapai kondisi tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah. Self compactability Workability & flowability High Segregation Resistance Pembatasan jumlah agregat Batas Minimum Binder Efek dari superlasticizer Pengurangan W/C Metode Untuk mencapai Self Compactability (Himawan, A., & Darma, D.S., Penelitian awal mengenai self compacting concrete.2000) - Spesifikasi Self compacting concrete (SCC) Untuk mengetahui kategori self compacting concrete (SCC) perlu dilakukan beberapa pengujian terhadap sifat beton segar, diantaranya pengujian workability dengan menggunakan slump cone dan pengujian flowability dengan mengunakan L- Shaped Box. (Efnarc Association, The European Guideliness For Self Compacting Concrete) - Workability Workability merupakan kemudahan dalam pengerjaan beton, Untuk pengujian workability digunakan Slump cone. Pengujian dengan alat ini dilakukan untuk mengatahui bagaimana kondisi slump flow dari beton tersebut. Metode untuk pengujian dengan slump cone ini berbeda dengan pengujian slump pada beton bertulang konvensional biasa ( Himawan,A., & Darma,D.S., Penelitian Mengenai Awal Self Compacting Concrete,2000). - Flowability Flowability adalah kemampuan beton segar untuk melewati tulangan dan mengisi Formwork dengan lebih cepat tanpa terjadi segregasi dan bleeding,untuk pengujian flowability digunakan L-Shaped box. Alat ini berbentuk huruf L dan terbuat dari kayu plywood ataupun dari Kaca. Pada alat ini, antara arah horizontal dengan vertikal dipasang pintu penutup yang cara membukanya dengan menarik kearah atas dan diberikan tulangan baja, saringan ini berfungsi untuk mengkondisikan sesuai dengan keadaan dilapangan ( Himawan,A., & Darma,D.S., penelitian Awal Mengenai Self Compacting Concrete,2000).

PENGGUNAAN FLY ASH PADA SELF COMPACTING CONCRETE (SCC) - Material Self Compacting Concrete (SCC) Unsur pokok material yang digunakan self compating conrete (SCC) hampir sama dengan beton konvensional. Tetapi ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seperti pengurangan agregat kasar, penambahan jumlah agregat halus yang digunakan, tambahan bahan pengisi (filler) dan memerlukan admixture yang bersifat mengurangi air (HRWR). - Agregat Kasar dan Agregat Halus Untuk mix design beton bertulangan konvensional, komposisi dari agregat kasar biasanya 70 sampai 75% dari total volume beton. Sedangkan dalam metode mix design ini agregat kasar dibatasi jumlahnya sekitar kurang lebih 50% dari total volume beton dan peningkatan penggunaan jumlah agregat halus. Dengan pembatasan jumlah agregat kasar ini diharapkan terjadi blok seminimal mungkin sehingga kemampuan aliran beton untuk melewati tulangan lebih maksimal. (Himawan,A., & Darma,D.S., Penelitian Mengenai Awal Self Compacting Concrete,2000). - Bahan Tambahan yang Halus (fines) Bahan tambahan ini dapat digolongkan berdasarkan sifatnya seperti tertera pada tabel dibawah ini : Tabel 1. Bahan Pengisi (Filler) Berdasarkan Sifatnya Mineral filler (limestone, dolomite Tipe Inert atau dll.) I semi inert Ground glass filler Pigmen Fly ash Pozzolanik Silica fume Tipe II Granulated blastfurnace slag Hidrolik (GGBS) Sumber: Efnarc Association, The European Guideliness For Self Compacting Concrete. - Admixtures Self compacting concrete (SCC) memerlukan admixtures yang bersifat mengurangi air dan mampu menghasilkan beton dengan tingkat Fluiditas yang tinggi dengan tetap mempertahankan viscositasnya dan homogenitas. Viscocrete- 10 merupakan admixtures modern yang diproduksi PT Sika yang bersifat mengurangi air dan mampu meningkatkan workability sehingga faktor air semen rendah. - Mix Design Self Compacting Concrete (S.C.C) yang diteliti PT. Sika Self Compacting Concrete (S.C.C) yang diteliti PT. SIKA secara garis besar sama seperti metode mix design yang lain. Misal, dilakukan pengurangan agregat

JURNAL REKAYASA PERENCANAAN, Vol. 4, No., Juni 2008 kasar, penambahan agregat halus dan diberikan bahan tambahan. Dari hasil peneltian yang dilakukan PT. Sika diperoleh kriteria bahan yang digunakan seperti agregat, bahan tambahan yang halus (fines material) dan binder content. - Agregat Metode mix design ini agregat kasar dibatasi jumlahnya sekitar kurang lebih 50% dari total volume beton dan peningkatan penggunaan jumlah agregat halus.ukuran yang baik untuk agregat kasar yang digunakan berdiameter maksimum antara 12 mm sampai 20 mm. tetapi untuk ukuran agregat kasar lain juga dapat digunakan, hal ini tergantung dari struktur formwork yang akan dicor. Pada umumnya komposisi agregat seperti tabel dibawah ini. Tabel 2. Agregat Ukuran (%) Agregat (mm) 0-4,75 50 4,75 9,50 15 9,50 19,00 5 Sumber : Himawan, A., & Darma, D.S., Penelitian Awal Mengenai Self Compacting Conrete, 2000 beton bertulang konvensional. Untuk jumlah keseluruhan dari fines material ini termasuk juga semen, agregat halus dari pasir dan tambahan seperti Fly ash. Tabel. Jumlah Total fines material Ukuran maksimum Agregat kasar (mm) 4,75 9,50 19,00 25,00 Jumlah Fines material (kg/m ) 650 550 500 475 Sumber : Himawan, A., & Darma, D.S., Penelitian Awal Mengenai Self Compacting Conrete, 2000 - Binder content Untuk jumlah semen maupun jumlah binder tergantung dari jumlah yang dibutuhkan pada fines material, mutu beton yang diinginkan dan tergantung dari ukuran maksimum agregat kasar. Sedangkan untuk komponen binder dapat digunakan fly ash, serbuk limestone, silica fume ataupun yang lainnya. - Fines material Kebutuhan akan fines material pada metode ini mix design Self Compacting Concrete (S.C.C) ini biasanya lebih banyak dibandingkan dengan mix design pada

PENGGUNAAN FLY ASH PADA SELF COMPACTING CONCRETE (SCC) Tabel 4. Jumlah Binder Ukuran maksimum Agregat kasar (mm) 4,75 9,50 19,00 25,00 JumlahBinder (kg/m ) 550-650 450-550 400-450 75-425 Metode Mix Design PT. Sika Untuk pelaksanaan metode mix design Self Compacting Concrete (S.C.C), diberikan beberapa panduan secara umum (Himawan, A., & Darma, D.S., Penelitian Awal Mengenai Self Compacting Conrete, 2000) 1. Metode mix design ini memerlukan fines material yang lebih banyak dibandingkan dengan mix design pada beton bertulang konvensional. 1. Untuk ukuran maksimum dari agregat kasar biasanya digunakan ukuran antara 12 mm sampai 20 mm. untuk metode mix design ini ukuran agregat kasar sampai 2 mm juga memungkinkan untuk digunakan. 2. Water binder ratio harus tetap dikontrol pada batasan yang telah ditentukan. Hal ini disebabkan karena jumlah air berpengaruh besar terhadap kualitas dari beton keras seperti mutu beton, porositas permeabilitas dan durabilitas.. untuk mendapatkan permukaan yang baik dan homogenitas dari beton, mix design ini memerlukan admixtures yang sangat kuat untuk mendapatkan tingkat workabilitas yang tinggi. METODOLOGI Pada bab ini akan dijelaskan mengenai pengujian karakteristik material yang akan digunakan, sistematika mix design serta langkah-langkah dan pengambilan data dari pengujian / tes yang dilakukan. Rancangan penelitian Variasi penambahan fly ash 0%, 10%, 20%, 0% dan 40% dari total berat binder. Variabel Antara Variabel antara untuk setiap trial mix penelitian ini adalah : Faktor air semen (FAS) 0.41

JURNAL REKAYASA PERENCANAAN, Vol. 4, No., Juni 2008 Flow chart penelitian START Pengujian Karakteristik Material Perhitungan Mix Design Trial Mix Material Yang Digunakan Semen Portland Pada penelitian ini digunakan jenis semen Portland tipe I produksi dari P.T Semen Gresik.. Agregat Halus Agregat halus yang digunakan yaitu pasir alami (uncrushed) yang berasal dari Lumajang. Untuk keperluan mix design beton dilakukan analisa ayakan, berat jenis, resapan dan kadar lumpur. Semua analisa tersebut dilakukan di laboratorium PT. SPU di Krian. Tabel 5. Analisa Agregat Halus JENIS ANALISA PEDOMAN Slump Cone Test Tidak Persyaratan SCC L-Shape Box Test Analisa Ayakan ASTM C 16 9 Analisa Berat Jenis ASTM C 128 9 Analisa Air Resapan ASTM C 128 9 Analisa Kelembapan ASTM C 556-97 Analisa Kebersihan Terhadap Bahan Organik ASTM C 40-99 Finish Tidak Agregat Kasar Agregat kasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah batu pecah yang berasal dari Mojokerto. Batu pecah yang dipakai split dengan ukuran maksimum 12,5 mm. untuk keperluan mix design beton dilakukan analisa ayakan, berat jenis, resapan dan kadar lumpur semua analisa

PENGGUNAAN FLY ASH PADA SELF COMPACTING CONCRETE (SCC) tersebut dilakukan di laboratorium PT. SPU di krian. Tabel 6. Analisa Agregat Kasar JENIS ANALISA PEDOMAN Analisa Ayakan ASTM C 16 9 Analisa Berat Jenis ASTM C 127 88 Analisa Air Resapan ASTM C 127 88 Analisa Kelembapan ASTM C 566-97 Analisa Kadar Lumpur ASTM C 117-95 - Perencanaan Campuran Beton (Mix Design) Metode perencanaan campuran beton (mix design) untuk self compacting concrete (SCC) adalah metode mix design yang diteliti oleh PT. SIKA. Dalam penelitian ini, nilai faktor air semen sebesar 0,41 dan ukuran maksimum agregat kasar 12.5 mm. - Data data Material Diperlukan informasi mengenai bahan / material yang akan digunakan. Sebelum memulai mix design, perlu diketahui dulu data-data analisa agregat kasar atau agregat halus. - Estimasi Jumlah binder Content Untuk menentukan jumlah binder tergantung dari jumlah yang dibutuhkan pada fines material, ukuran maksimum agregat kasar dan mutu beton seperti tabel dibawah ini: Tabel 7. Jumlah Total fines material Ukuran maksimum Jumlah Agregat kasar Fines material (mm) (kg/m ) 4,75 9,50 19,00 25,00 650 550 500 475 Tabel 8. Jumlah Binder Ukuran maksimum Agregat kasar (mm) 4,75 9,50 19,00 25,00 JumlahBinder (kg/m ) 550-650 450-550 400-450 75-425 Dalam penelitian ini menggunakan agregat kasar dengan maksimum ukurannya 12,5 mm, agar mendapatkan hasil yang optimal dalam mencapai workability dan flowabilitynya maka berat binder 550 kg/m. Pengujian Workability Untuk pengujian workability menggunakan alat Slump Cone, langkahlangkah kerja metode alat ini adalah sebagai berikut :

JURNAL REKAYASA PERENCANAAN, Vol. 4, No., Juni 2008 Sebelum dilakukan pengujian, perlu dilakukan persiapan alat slump cone. Persiapan yang dilakukan adalah dengan membasahi alat ini dengan air sehingga seluruh permukaannya basah. Slump cone diletakkan secara terbalik, diameter yang kecil diletakkan dibagian bawah, hal ini berbeda dengan pengujian slump pada beton konvensional dimana diameter yang lebih besar diletakkan dibagian bawah. Dibagian dasar diletakkan papan yang datar kurang lebih selebar 60 cm. Adukan beton dimasukkan dalam slump cone sampai dengan volume penuh dan tidak dilakukan pengerojokan terhadap campuran beton tersebut. Kemudian slump cone diangkat secara perlahan dan konstan. Aliran tidak boleh sampai terputus. Dicatat waktu yang diperlukan aliran beton untuk mencapai diameter 50cm (SF 50 ) maksimal 6 detik. Setelah aliran beton berhenti, dicatat diameter maksimum yang dapat dicapai aliran beton (SFmax) harus lebih dari 50 cm. Kemudian dengan pengujian slump cone ini dapat diamati workability dari campuran beton tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan mengamati beberapa kondisi sebagai berikut : Homogenitas dari beton tersebut, tanpa terjadi segregasi. Tidak terjadi bleeding. Agregat harus tersebar merata. Pengujian Flowability Pengujian flowability dengan menggunakan alat L-shaped box ini digunakan untuk mengetahui kemampuan campuran beton segar untuk melewati tulangan (passing ability) Metode kerja alat L-shaped box adalah sebagai berikut : Sebelum digunakan alat ini harus dibasahi terlebih dahulu sehingga permukaannya basah. Pintu pada L-shaped box ditutup dan halangan tulangan dipasangkan pada alat. Campuran beton diisikan pada L- shaped box pada arah vertikal sampai dengan penuh pada permukaan alat tersebut. Disiapkan 2 buah stop watch untuk mengukur waktu yang diperlukan campuran beton untuk mengalir. Kemudian pintu dibuka, sehingga campuaran beton mulai mengalir pada arah horisontal dari L-shaped box. Dicatat waktu yang dicapai oleh aliran beton untuk mencapai 40cm dari ujung dalam L-shaped box (FL 40 ) maksimal 6 detik.

PENGGUNAAN FLY ASH PADA SELF COMPACTING CONCRETE (SCC) Dicatat waktu yang dicapai campuran beton untuk mencapai ujung luar dari L-shaped box (FL max ). Setelah itu dicek perbedaan tinggi dalam arah horizontal, maksimum perbedaan tinggi yang terjadi kurang dari 20%. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dari pengujian-pengujian yang dilakukan dibagi menjadi 2 bagian yaitu pengujian bahan material, pengujian beton. - Spesifikasi Karakteristik dan AnalisaAyakan Agregat. Tabel 9. Spesifikasi Karakteristik Agregat Halus Uraian Agregat Halus Berat jenis 2,70 Resapan 1.225 % Kelembapan.275 % Kadar zat organik Bening Modulus kehalusan 2,72 % PASSING 120 100 80 60 40 20 0 0 SIEVE ANALYSIS CURVE FINE AGGREGATE 0.15 0.0 0.60 1.18 SIEVE SIZE (m m ) ASTM C Hasil ASTM C Grafik 1. Analisa Ayakan Agregat Halus Hasil Analisa Ayakan Agregat Halus dan analisa ayakan agregat kasar dengan ukuran maksimum 12.5 mm Tabel 10. Spesifikasi Karakteristik Agregat Kasar Uraian Agregat Kasar Berat jenis 2,715 Resapan 1,905 % Kelembapan 1,615 % Kadar lumpur 0.795% Modulus kehalusan 6,8 Sumber : hasil penelitian 2.6 4.75 9.50

JURNAL REKAYASA PERENCANAAN, Vol. 4, No., Juni 2008 % PASSING 120 100 80 60 40 20 0 0.00 SIEVE ANALYSIS CURVE FINE AGGREGATE 2.6 4.75 SIEVE SIZE (m m ) 9.50 ASTM C Hasil ASTM C 12.50 Grafik 2. Analisa Ayakan Agregat Kasar Mix Design Setelah melakukan pengujian material yang digunakan dan melakukan beberapa kali trial mix, dilakukan perhitungan mix design dengan metode mix design yang diteliti PT. SIKA dengan FAS 0,41 dan berat binder 550 Kg/m. Mix Design I Pada komposisi mix design I menggunakan fly ash 0% dari berat binder. No 1 2 4 5 6 Tabel 11. Campuran Mix Design I Uraian Semen Fly ash Air Agregat Kasar Agregat Halus Viscocrete 10 Tiap 1 m 550 kg 0 kg 226 kg 69 kg 958 kg 5,5 kg 19.00 0.055m Terkoreksi 0, kg 0 kg 11, kg 5,1 kg 5,8 kg 0, kg Mix Design II Pada komposisi mix design II menggunakan fly ash 10% dari berat binder. No 1 2 4 5 6 Tabel 12. Campuran Mix Design II Uraian Semen Fly ash Air Agregat Kasar Agregat Halus Viscocrete 10 Tiap 1 m 495 kg 55 kg 226 kg 66 kg 954 kg 5,5 kg 0.055m Terkoreksi 27,2 kg,0 kg 11,4 kg 5,0 kg 5,5 kg 0, kg Mix Design III Pada komposisi mix design III menggunakan fly ash 20% dari berat binder. No 1 2 4 5 6 Tabel 1. Campuran Mix Design III Uraian Semen Fly ash Air Agregat Kasar Agregat Halus Viscocrete 10 Tiap 1 m 440 kg 110 kg 226 kg 64 kg 951 kg 5,5 kg 0.055m Terkoreksi 24,2 kg 6,1 kg 11,4 kg 4,9 kg 5,4 kg 0, kg

PENGGUNAAN FLY ASH PADA SELF COMPACTING CONCRETE (SCC) Mix Design IV Pada komposisi mix design IV menggunakan fly ash 0% dari berat binder. No 1 2 4 5 6 Tabel 14. Campuran Mix Design IV Uraian Semen Fly ash Air Agregat Kasar Agregat Halus Viscocrete 10 Tiap 1 m 85 kg 165 kg 226 kg 61 kg 947 kg 5,5 kg 0.055m Terkoreksi 21,2 kg 9,1 kg 11,4 kg 4,7 kg 5,2 kg 0, kg Mix Design V Pada komposisi mix design V menggunakan fly ash 40% dari berat binder. No 1 2 4 5 6 Tabel 15. Campuran Mix Design V Uraian Semen Fly ash Air Agregat Kasar Agregat Halus Viscocrete 10 Tiap 1 m 0 kg 220 kg 226 kg 629 kg 944 kg 5,5 kg 0.055m Terkoreksi 18,2 kg 12,1 kg 11,5 kg 4,6 kg 5,0kg 0, kg Hasil Pengujian Beton Segar Mix Desig n Tabel 16. Hasil Pengujian Flowability dan Workability L Shaped Box Fl 40 (detik) Fl Max (detik) 1.41 1.21 Slump Cone Sf 50 (detik) Sf Max (cm) 56 I 0.80 II 1.01 1.20 1.40 59 III 1.09 1.28 1.7 55 IV 1.4 1.68 2.00 55 V 1.84 2.17 2.18 60 Syarat SCC Maks. 6 detik Syarat SCC Maks. 6 detik Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa semakin bertambah penggunaan fly ash maka waktu yang diperlukan untuk menyebar semakin lama. Atau kemampuan mengalir (flowability) beton segar semakin lambat walaupun syarat uji waktu dan penyebaran masih terpenuhi yaitu FL 40 dan FL maksimum adalah 6 detik. Sedangkan untuk uji workability dengan bertambahnya fly ash semakin rendah tingkat workabilitynya walaupun syarat Sf 50 dan Sf maksimum masih terpenuhi, dari hasil terlihat dibawah standard 6 detik. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan beton SCC (Self Compacting Concrete) penggunaan fly ash yang paling efisien dan efektif adalah komposisi campuran mix design yang ketiga dengan variasi fly ash 20 %

JURNAL REKAYASA PERENCANAAN, Vol. 4, No., Juni 2008 SIMPULAN Berdasarkan hasil pengamatan dan pengolahan data mengenai pengaruh kadar fly ash terhadap flowability dan workability beton segar pada self compacting concrete (SCC) dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Kadar fly ash terhadap flowability beton segar, semakin banyak kadar fly ash maka flowability atau kemampuan mengalir beton segar semakin lambat. 2. Dari hasil pengujian mengenai workability dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kadar fly ash maka workabilitynya semakin rendah.. Variasi penggunaan fly ash yang paling optimal untuk mendapatkan beton Self Compacting Concrete dengan penambahan fly ash 20 % Sehubungan dengan penelitian mengenai self compacting concrete (SCC) merupakan perkembangan baru dalan teknologi beton, maka ada beberapa hal yang dapat disarankan untuk dilakukan pada penelitian selanjutnya mengingat penelitian ini masih mungkin mengalami perkembangan lebih lanjut. Adapun beberapa saran yang dapat diperhatikan antara lain : 1. Dalam penelitian ini masih perlu dipertimbangan mengenai pengaruh perbandingan penggunaan agregat kasar dan agregat halus terhadap syaratsyarat pengujian self compacting concrete (SCC). Sebab pada penelitian ini yang diutamakan adalah mengenai pengaruh jumlah kadar fly ash terhadap flowabilit dan, workability 2. Dalam penelitian ini semua trial mix design dilakukan terhadap satu jenis Admixtures yaitu, viscocrete-10. diharapkan adanya penelitian yang lain mengenai cara kerja admixtures yang lain bila digunakan dalam metode mix design self compacting concrete (SCC). sebab tiap jenis admixtures mempunyai perbedaan.. Mengingat pada penelitian self compacting concrete (SCC) ini, mix design yang digunakan melibatkan komposisi semen yang cukup tinggi, oleh karena itu perlu diperhatikan efek dari penggunaan semen yang cukup tinggi tersebut yaitu reaksi hidrasi yang besar dapat menyebabkan timbulnya retak (crack) pada beton tersebut. 4. Perlu penelitian lanjutan mengenai beton self compacting concrete ditinjau terhadap kuat tekan dan durabilitasnya. DAFTAR PUSTAKA ACI Manual of Concrete Practice Part I 1996 Efnarc Association, The European Guideliness for Self Compacting Concrete.

Himawan. A., & Darma. D.S., Penelitian Awal Mengenai Self Compacting Concrete, 2000. Okamura. H., Self Compacting Highperformance Concrete, concrete international, 1997. Setiawan. A., Self Compacting Concrete Fenomena Baru Dalam Dunia Teknologi Beton, 2001. PENGGUNAAN FLY ASH PADA SELF COMPACTING CONCRETE (SCC)