Buruh Kereta-api dan Komunitas Buruh Manggarai. Razif

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

BAB V PENUTUP Kesimpulan. Kaum buruh merupakan klas baru dalam tatanan sosial dengan semangat

BAB II. SEKILAS TENTANG PT. KERETA API (Persero) A. Sejarah Perkeretaapian Indonesia

BAB III PELAKSANAAN BATAS USIA PENSIUN PEGAWAI EKS DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DI PT.KAI. A. Profil Singkat PT. Kereta Api Indonesia (Persero)

BAB V KESIMPULAN. Malaka membuat jalur perdagangan beralih ke pesisir barat Sumatra.

BAB V KESIMPULAN. membantu kemajuan perekonomian bagi masyarakat disekitarnya.

BAB II GAMBARAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, Kota Sibolga juga memiliki kapalkapal

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. pemerintah RI yang terjadi di daerah Sulawesi tepatnya Sulawesi Selatan. Para pelaku

BAB II GAMBARAN UMUM KANTOR RESOR IMIGRASI POLONIA. Indonesia dan kota terbesar di Pulau Sumatera. Kota Medan pada awalnya merupakan

UNDANG-UNDANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NO.13 TAHUN 1992 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. Sumatera yang mengalami eksploitasi besar-besaran oleh pihak swasta terutama

I. PENDAHULUAN. dalamnya. Untuk dapat mewujudkan cita-cita itu maka seluruh komponen yang

BAB I PENDAHULUAN. cenderung ditulis sebagai fenomena yang tidak penting dengan alasan

Komunisme dan Pan-Islamisme

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tinjauan pustaka dilakukan untuk menyeleksi masalah-masalah yang akan

Pada tanggal 1 September 1945, Komite Sentral dari Komite-komite Kemerdekaan Indonesia mengeluarkan sebuah manifesto:

GERAKAN VSTP SEMARANG ( )

BAB I PENDAHULUAN. berposisi di baris depan, sebagai komunitas sosial yang memotori perwujudan

BAB I PENDAHULUAN. kemakmuran, kesehatan, keamanan termasuk juga kecelakaan kerja. Untuk

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN KERETA API DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. rekaman kaset, televise, electronic games. Radio telah beradaptasi dengan perubahan dunia,

Negara Jangan Cuci Tangan

penjajahan sudah dirasakan bangsa Indonesia, ketika kemerdekaan telah diraih, maka akan tetap dipertahankan meskipun nyawa menjadi taruhannya.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1957 TENTANG POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DAERAH *) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Revolusi Fisik atau periode Perang mempertahankan Kemerdekaan. Periode perang

PENETAPAN BAGIAN IV (KEMENTERIAN KEUANGAN) DARI ANGGARAN REPUBLIK INDONESIA UNTUK TAHUN DINAS 1955 *) ANGGARAN (BAGIAN IV) KEMENTERIAN KEUANGAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dengan persetujuan: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT; MEMUTUSKAN:

BAB I PENDAHULUAN. yang ingin menguasai Indonesia. Setelah Indonesia. disebabkan karena sulitnya komunikasi dan adanya sensor dari Jepang.

1. PENDAHULUAN. Nagasaki, Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat pada sekutu pada tanggal 15

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 1954 TENTANG PERMINTAAN DAN PELAKSANAAN BANTUAN MILITER PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERISTIWA YANG TERJADI PADA TAHUN A ZIZATUL MAR ATI ( )

BAB I PENDAHULUAN. menggantikan Soekarno, Undang-Undang yang pertama dibuat ialah Undang-Undang

Ini Pantauan CIA Saat Kejadian G30S/PKI

Makalah Diskusi SEJARAH SOSIAL EKONOMI

BAB I PENDAHULUAN. berat bagi rakyat Indonesia. Sebagai negara yang baru merdeka belum lepas

BAB III GAMBARAN UMUM PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO) DAOP IV SEMARANG. 3.1 Sejarah Berdirinya PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1953 TENTANG KEDUDUKAN KEUANGAN KETUA DAN ANGGAUTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya,

BAB I PENDAHULUAN. hampir bersamaan muncul gerakan-gerakan pendaulatan dimana targetnya tak

BAB II RUANG LINGKUP PERUSAHAAN

Surat-Surat Buat Dewi

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1952 TENTANG STAF KEAMANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RENGASDENGKLOK. Written by Soesilo Kartosoediro Thursday, 19 August :51 -

BAB I PENDAHULUAN. pada 17 agustus Tiga setengah tahun pendudukan militer jepang, dari februari, 1942

Kisah 'perburuan' kaum komunis di BBC

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


PENETAPAN BAGIAN IV (KEMENTERIAN KEUANGAN) DARI ANGGARAN REPUBLIK INDONESIA UNTUK TAHUN DINAS 1954 *) ANGGARAN (BAGIAN IV). KEMENTERIAN KEUANGAN.

BAB III PROFIL PERUSAHAAN. (BUMN) yang bergerak di bidang jasa transportasi pengankutan penumpang dan

BAB 7: SEJARAH PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA. PROGRAM PERSIAPAN SBMPTN BIMBINGAN ALUMNI UI

2018, No Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 176, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5086), sebagaimana telah diubah dengan Perat

BAB II KAJIAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka. 1. Pendudukan Jepang di Indonesia. Dalam usahanya membangun suatu imperium di Asia, Jepang telah

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 1953 TENTANG BANK TABUNGAN POS. Presiden Republik Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. Permulaan abad ke-20 merupakan salah satu periode penting dalam

PENDAHULUAN. Latar Belakang Masalah. Sejarah Indonesia pada periode merupakan sejarah yang menentukan

P E N J E L A S A N ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN KERETA API

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. dan mengacu pada bab pertama serta hasil analisis pada bab empat. Dalam

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1959 TENTANG FRONT NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Berakhirnya Perang Dunia II ditandai dengan menyerahnya Jerman kepada

BAB IV FAKTOR KEBERHASILAN SOSIAL EKONOMI H. OEMAR

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1955 TENTANG DEWAN KEAMANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Amerika Tanam Pengaruh di Asia Sejak Desember 1949

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 08 TAHUN 2004 TENTANG PENDIRIAN PERUSAHAAN DAERAH PELABUHAN KOTA TARAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Hubungan Buruh, Modal, dan Negara By: Dini Aprilia, Eko Galih, Istiarni

Menimbang : bahwa perlu diadakan peraturan untuk menentukan penggantian kerugian bagi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat;

BAB VI KESIMPULAN. Jalan Raya Pantura Jawa Tengah merupakan bagian dari sub sistem. Jalan Raya Pantai Utara Jawa yang menjadi tempat lintasan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dengan Persetujuan: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT MEMUTUSKAN:

BAB I PENDAHULUAN. PKI merupakan sebuah Partai yang berhaluan Marxisme-Lenisme(Komunis).

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. manufaktur dan lain sebagainya. Sementara dari sisi masyarakat,

BAB I PENDAHULUAN. Kota Pematangsiantar merupakan kota terbesar kedua di Provinsi

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1954 TENTANG KEDUDUKAN KEUANGAN KETUA, WAKIL KETUA DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

Siapa pendiri SDI??? Tirto Adisuryo pernah mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Bogor 1909 Tirto mendapat dukungan dari keluarga Badjanet

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

yang korup dan lemah. Berakhirnya masa pemerintahan Dinasti Qing menandai masuknya Cina ke dalam era baru dengan bentuk pemerintahan republik yang

Mengingat : Pasal-pasal 73, 89 dan 90 ayat 1 Undang-undang Dasar Sementara Republik Indonesia.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. keberadaannya di mata dunia. Perjuangan untuk mempertahankan Indonesia yang

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA (UUDRT) NOMOR 17 TAHUN 1951 (17/1951) TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG. Presiden Republik Indonesia,

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Pada bab ini penulis mencoba menarik kesimpulan dari pembahasan yang

PERATURAN PEMERINTAH (PP) 1947 NO. 13) (13/1947) PERATURAN TENTANG ONGKOS JALAN UNTUK PEGAWAI NEGERI, YANG MELAKSANAKAN PERJALANAN DINAS.

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah

Keterlibatan Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris. dalam Genosida 65

MIGRASI DARI JAWA TENGAH KE JAWA TIMUR MASA KOLONIAL. Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Indonesia Masa Kolonial

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemilu 1955 merupakan pemilihan umum pertama dengan sistem multi partai yang dilakukan secara terbuka,

BAB I PENDAHULUAN. kemerdekaan Indonesia. Berhubung dengan masih buruk dan minimnya sarana dan prasarana

UU 7/1951, PERUBAHAN DAN TAMBAHAN UNDANG UNDANG LALU LINTAS JALAN (WEGVERKEERSORDONNANTIE, STAATSBLAD 1933 NO. 86) Oleh:PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 83 TAHUN 1958 TENTANG PENERBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. yang putih dan terasa manis. Dalam bahasa Inggris, tebu disebut sugar cane. Tebu

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1954 TENTANG PERJANJIAN PERBURUHAN ANTARA SERIKAT BURUH DAN MAJIKAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Transkripsi:

Buruh Kereta-api dan Komunitas Buruh Manggarai Razif A bstrak :Sejak 1904 Buruh k ereta api adalah fenomena modern y ang dilengk api dengan organisasi modern, seperti adanya serikat buruh, iuran anggota dan mempunyai medium bacaan. A kan tetapi, setelah pemberontak an 1926 terjadi pemutusan dalam organisasi buruh. Serikat buruh kereta-api tidak lagi menuntut politik. Politik dianggap identik dengan komunisme. Pada tahun 1930-an perkembangan buruh kereta-api tidak lagi seperti tahun 1920- an. Intelek tual-in telek tual y ang sebelumnya terlibat dalam serik at buruh, pada tahun 1930- an menjauh dari massa buruh. Keadaan itu berak ibat pada pergerak an buruh, terutama buruh kereta-api menjauh dari partai politik dan keterlibatan negara. Situasi itu berlanjut hingga paska revolusi, buruh-buruh kereta-api melakukan perebutan-perebutan stasiun kereta-api tanpa dukungan partai politik atau negara. Pergerakan buruh kereta-api pada masa paska revolusi di Jakarta bergerak di stasiun Maggarai mendapatkan dukungan dari kelompok-kelompok pemuda, seperti Menteng 31, Jalan Guntur, Prapatan 10 dan Kebon Sirih. Kelompok-kelompok ini membutuhkan kereta-api sebagai kendaraan untuk menggerakakan revolusi. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, buruh-buruh kereta-api tidak hanya menjadi anggota serikat buruh kereta-api (SBKA) tetapi juga menjadi anggota Persatuan Buruh Kereta-api (PBKA) dan Serikat Buruh Kereta-api dibawah naungan NU. PBKA yang cenderung mempunyai hubungan dekat dengan Belanda dan SBKA yang mempunyai kecenderungan dengan nasionalis bertikai secara ideologis hingga tragedi 1965. Pask a peristiwa 1965, buruh-buruh k ereta-api yang menjadi anggota SBKA dipecat dari pek erjaanny a atau dipak sa untuk mengundurk an diri. Keadaan itu mengak ibatk an banyak jalur-jalur kereta-api di Jawa ditutup, karena kekurangan tenaga kerja untuk mengoperasikan jalan kereta-api. Catatan. Tulisan ini terselenggara atas kerjasama dengan NIOD dan tulisan ini belum pernah dimuat dimedia manapun. Perlu juga dipertimbangkan tulisan ini masih belum rampung, baik argumentasi maupun sistematisasi perlu dilakukan perbaikan. Pengantar Kemunculan serikat buruh di Indonesia pada masa kolonial dan Orde Baru senantiasa dikaitkan oleh peran negara dan partai politik. 1 Keyakinan ini pun nampaknya begitu kokoh dipegang oleh M.H. Luk man sebagai Wakil Ketua dua Partai Komunis Indonesia (PKI), bahwa serik at buruh yang muncul di luar negara dan partai mempunyai kecenderungan anarkis. 2 Dalam tulisan in i saya mencoba berpandangan lain, munculnya serikat buruh dan gerakan buruh berkaitan dengan, pek erjaan, k omposisi k aum buruh dan komunitas serta pengalaman k aum buruh. Pergerakan buruh kereta-api baik pada era kolonial (VSTP) maupun setelah diihancurkan pada tahun 1926 dan muncul k embali tahun 1931 sebagai PBST (Perhimpoenan Beambte Spoor dan Tram), atau Angk atan Muda Kereta- Api (A MKA) pada pendudukan Jepang serta Serik at Buruh Kereta-Api (SBKA) masa tahun-tahun revolusi samasekali tidak berkaitan dengan peran negara dan partai politik. Malah sebaliknya mereka muncul dari lingkungan kerja dan kampung buruh kereta-api menjelang kekalahan Jepang dan tahun-tahun revolusi bercampur dengan pemudapemuda yang mempunyai latar belakang pendidikan teknik pada masa pendudukan Jepang. 1 John Ingleson. The Legacy of Colonial Labour Unions in Indonesia Australia Journal of Politics and History: Volume 47, Number 1, 2001, pp. 85-100. 2 Pernyataan ini dikemukakan oleh Lukman, ketika ia berdebat dengan Bojoeng Saleh di majalah Bintang Merah No. 9 tahun 1952. 1

Pemerintah kolonial Belanda menggunakan kereta-api sebagai kendaraan penghubung antara wilayah perkebunan dengan pelabuhan, yang seterusnya komoditi perkebunan diekspor ke Eropa. Awal abad ke 20 jumlah perusahaan kereta-api di Hindia Belanda telah mencapai 12 perusahaan, satu perusahaan Staat Spoorweg (SS) milik pemerintah Belanda dan 11 perusahaan lainnya adalah milik swasta yang beroperasi di Jawa dan Sumatra. 3 Perusahaan-perusahaan kereta-api ini yang juga melakukan perluasan jaringan jalan kereta-api untuk dapat melayani perusahaan perkebunan dipelosok-pelosok Jawa. Pada awal abad ke 20 dibentuk tiga eksploitasi y ang mengatur lalulintas k ereta-api di wilay ah Barat (jangk auanny a hany a wilay ah Jawa-Barat), k emudian ek sploitasi wilay ah Tengah (meliputi Jawa Tengah) dan terakhir ek sploitasi wilay ah Timur (menjangk au Jawa Timur). Untuk mengatur lalu-lintas (trak si) kereta-api y ang memasuk i wilayah Barat, atau Jawa-Tengah dan Jawa Timur perlu sebuah stasiun yang mengatur perlintasan tersebut. Manggarai selain sebagai stasiun kereta-api, juga sebagai tempat mengatur lalu lintas kereta-api wilayah Barat 4 yang dilalui oleh berbagai kereta-api baik yang datang dan pergi ke wilayah Timur dan Tengah. Alasan pemerintah kolonial membangun stasiun kereta-api di Manggarai selain sebagai tempat mengontrol lalulintas wilay ah Barat nampak nya Manggarai juga strategis untuk tempat depo (pembersihan gerbong, perbaikan lokomotif dan interior gerbong). Wilayah Manggarai juga berfungsi sebagai tempat pembuat onderdil-onderdil dan interior kereta-api Pemerintah kolonial membangun stasiun, depo dan bengkel di Manggarai tahun 1928 sebagai konsekuensi dari perluasan jaringan kereta-api di wilayah Jawa. Sebelum pembangunan ini, pemerintah k olonial bersama Staat Spoor telah memp ersiapk an pembangunan rumah-rumah untuk para pegawai kereta-api di wilayah Bukit Duri yang terletak di seberang stasiun kereta-api. Tulisan ini berupaya untuk menelusuri perjalanan buruh kereta-api mulai tahun 1930-an dan berak hir tahun 1965, serta kaitanny a dengan k omunitas buruh k ereta-api Manggarai. Masa 1930- an buruh kereta-api sulit untuk melakukan pergerakan, kemungkinan besar pemerintah kolonial Belanda melancarkan pengawasan politik serta terjadi pemecatan besar-besaran buruh kereta-api karena dampak resesi ekonomi yang terus berlanjut. 5 Lantas apa hubungannya dengan komunitas buruh kereta-api Manggarai? Tahun-tahun awal revolusi Manggarai mempunyai kaitan erat dengan para pemuda dan laskar, yang kemudian turut terlibat dalam serikat buruh keretaapi. Pemuda-pemuda ini y ang kemudian menyebarkan pamflet tentang perlawanan terhadap k edatanganan k embali pasuk an ten tara Belanda dan melak ukan sabotase terhadap k endaraan militer sekutu. Lagi pula pemuda-pemuda itu, berkumpul tidak jauh dari Manggarai. Mereka berkumpul di Menteng 31, Jalan Guntur, Prapatan 10 dan Kebon Sirih, dan diantara mereka pun belum terdapat garis ideologi, tetapi hubungan pertemanan yang menjadi pengikatnya. Dalam memb ah as periode 1930- an, penulis lebih bany ak menggunak an bahan bacaan sezaman dan beberapa wawancara dengan mantan pimpinan dan buruh kereta-api. Ingleson dalam membahas perkembangan serikat buruh tahun 1930-an hingga setelah revolusi sangat erat hubungannya dengan partai politik. Pembentukan dana sosial untuk membantu buruh-buruh yang dipecat oleh perusahaan senantiasa atas inisiatif partai politik. 6 Penjelasan ini perlu diuji 3 Untuk wilayah Sumatera perusahaan kereta-api yang mengangkut dari perkebunan besar Sumatra Timur hingga ke pelabuhan Medan dimonopoli oleh perusahaan Deli Spoorweg Maatschappij. 4 Eksploitasi wilayah Barat terdiri dari Jakarta, Bekasi, Kerawang, Bandung, Tasikmalaya, Cicalengka dan Garut. Selain itu eksploitasi wilayah barat mencakup 230 stasiun besar dan kecil. Pada m asa revolusi kantor eksploitasi Barat mengungsi ke Purwokerto. Informasi ini berdas arkan wawancara dengan Sosromoeljono 23 Febuari 2005. Sosromoeljono, seorang buruh kereta-api Manggarai yang ikut mempersiapkan pengangkutan peralatan bengkel kereta-api di Jawa Barat ke Purwokerto. 5 Untuk masalah depresi ekonomi dan politik, lihat Bob Hering. Moehammad Hoesni Thamrin Membangun Nasionalisme Indonesia. Jakarta. Hasta Mistra 2003. Terutama pada chapter 6 dan 7, hal 147-1196. 6 Lihat Ingleson, The Legacy of Colonial Labour Unions 2

kembali, karena partai politik tahun 1930-an sangat dibatasi pergerakannya di organisasi massa oleh pemerintah kolonial. Mereka hanya bisa mengajukan usulan perbaikan-perbaikan ditingkat Volksrad. Pada periode ini dibahas proses buruh-buruh kereta-api dalam membentuk perkumpulan sosial seperti dana untuk kematian, dan dana untuk membantu buruh-buruh yang dipecat. Selain itu, partai politik maupun organisasi massa masuk dalam perangkap pemerintah kolonial untuk beraktifitas ditingkat Volksraad. 7 Kemudian pada 1940 terbentuk lembaga tripartit yang dikenal sebagai Ordonantie Regeling Arbeidsverhouding. Ordonantie ini berperan sebagai pendamai perselisihan antara buruh dan majikan, jika keduanya tidak mempunyai kesepakatan maka akan diputuskan oleh Directeur Van Justitie. 8 Periode penduduk an Jepang 1942-1945, ak an dibahas apak ah ada perlawanan dari buruh-buruh k ereta-api terhadap fasisme Jepang? Lan tas bagaiman a ingatan pengalaman buruh k ereta-api dan pemuda pada masa Jepang? Pertanyaan yang juga cukup penting adalah apa yang meny ebabk an kek uatan buruh k ereta-api begitu luar biasa setelah penduduk an balatentara Jepang berakhir? Apakah ini ada hubungannya dengan Jepang membangun sekolah teknik bagi pemuda untuk memahami seluk-beluk kereta-api? Contohny a pada bulan Juli 1945 sekolahsek olah tek nik perk ereta-apian menghasilkan 80.000 teknisi buruh k ereta-api. Kemudian para pemuda dan buruh teknisi ini membentuk Angkatan Muda Kereta-Api (AMKA) yang kemudian setelah rev olusi ik ut membaur dengan Serik at Buruh Kereta-Api (SBKA). Dalam membahas periode 1945 hingga 1950 saya mempergunakan sumber interview dan beberapa bahan tertulis pada masa tersebut. Periode 1950-1960 adalah periode turun naiknya perjuangan buruh-buruh kereta-api, baik dalam tingkat serikat buruh maupun komunitas buruh di Manggarai. Buruh kereta-api awal tahun 1951 membantu pemogokan buruh-buruh rokok BAT dengan cara menolak mengangkut produksi rokok tersebut. Nampak telah terbentuk solidaritas horizontal dikalangan kaum buruh, tetapi pertany aanny a k emudian adalah seberapa jauh SBKA menduk ung tuntutan kepentingan buruh? Lantas apakah SBKA juga membantu buruh perempuan dalam memenuhi hak-hak dasarnya? Periode 1950-an buruh kereta-api juga menghadapi nasionalisasi perusahaan, jawatan kereta-api berubah menjadi perusahaan dan seberapa jauh berpengaruh pada komunitas buruh? Bahanbahan informasi untuk periode ini sebagian besar diperoleh dari wawancara dengan bekas buruh kereta-api di Manggarai, di samping sumber-sumber tertulis Bagian terak hir ak an dibahas ak ibat dari peristiwa 65 terhadap perjalanan buruh k ereta-api dan juga penutupan jalur-jalur kereta-api, karena banyak buruh yang bernaung dalam SBKA, dipecat, dibuang atau bahk an dibunuh. Pada bagian ini ak an dilihat pula pola penangkapan dan pergantian buruh serta pejabat kereta-api. Posisi penting dalam kereta-api diduduki oleh militer. Melalui pembentuk an lemb aga diluar hukum seperti Komando Ketertiban dan Keaman an (Kopkamtib) melakukan pembersihan terhadap buruh-buruh kereta-api. Pembersihan dan screening berjalan berbulan-bulan yang membuat buruh kereta-api tidak pasti dan tidak menentu. Selanjutnya juga diperinci dampak perisitiwa G 30 S terhadap buruh-buruh kereta-api di Manggarai dan bagaimana kisah mereka yang bekerja di bengkel dan Depo. Untuk periode ini saya hampir keseluruhan mempergunakan data-data wawancara. Depresi Ekonomi dan Kehidupan Buruh Kereta-Api 7 Susan Abeyasekere. Koperator dan Non-Koperator. Kegiatan Politik Nasionalis di tahun 1930-an. Dalam, Gelora Api Revolusi Sebuah Antologi Sejarah, ed Colin Wild dan Peter Carey. Jakart a. Gramedia 1986. 8 Mr. Hindromartono. Ordonantie Regeling Arbeidverhouding, dalam Kemadjoean Juni 1940, hal. 4-8 3

Setelah gagalnya pemberontakan Komunis di Jawa pada November 1926 dan di Sumatra Barat pada Januari 1927 menj adi titik y ang menentuk an dalam sej arah pergerak an. 9 Peristiwa ini mengakibatkan riburan aktifis pergerakan dan kaum buruh dibuang ke Digul. Kemudian disusul dengan gerakan PID (Politieke Inlandche Dienst) semakin intensif mengawasi pertemuan, dan melakukan campurtangan dalam pidato-pidato. Polisi juga melakukan penggeledahan rumah dan tahanan rumah, menahan, mengintrograsi orang-orang dicurigai, melakukan sensor, menyita koran harian, mingguan dan bulanan, serta menyita buku-buku. Namun yang lebih penting polisi PID yang mendapatkan julukan sebagai polisi rahasia tidak lagi bekerja secara rahasia, mereka bisa muncul dimana saja, dalam rapat-rapat, duduk ditempat-tempat yang mencolok dan mudah dikenali. Mereka disebar untuk mengintai partai-partai politik, serikat buruh, para penjual koran, sekolah-sekolah yang dikelola oleh orang-orang bumiputera dan perkumpulan-perkumpulan dan tempat-tempat yang sering disinggahi para aktifis pergerakan. Mereka berada diluar ruang rapatrapat tertutup dilakukan. Mereka juga mengandalkan mata-mata dan kode sandi intelejen. Polisi PID juga mempunyai dana rahasia untuk menjalankan tugas rahasia mereka. Dana rahasia mereka misalnya untuk tahun 1932 sebesar 750.000 gulden, dan merosot pada tahun 1936 mencapai 522.000 gulden karena masalah depresi yang mengakibatkan anggaran belanja pemerintah perlu dipangkas. 10 Orang-orang pergerak an mulai meny adari k ehadiran polisi- polisi PID. Merek a mulai meny adari bahwa merek a sedang diawasi, tid ak saja oleh PID juga oleh teman sesama aktiv is sendiri bahk an oleh sesama ak tivis. Merek a juga meny adari resiko dari pengawasan, y ang bisa berak ibat mengantarkan mereka ke Digoel. 11 Satu-satunya cara untuk menghindari ancaman pembuangan k e Digoel adalah dengan menjauhi politik agar tidak diawasi oleh PID. Suasana demik ian dirasak an sec ar a umum disemua tempat diantara orang-orang bumiputra. Keadaan ini dengan baik digambarkan Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya yang berjudul Cerita Dari Blora, ketika ibunya menceritakan bahwa kakaknya telah bergabung dalam partai politik: Buka main kagetnya aku mendengar dia campur-tangan dalam politik. Menurut pengertiank u politik adalah polisi. Dan seisi rumah k ami jijik dengan pada apa saja y ang berhubungan dengan polisi. Tidak marahkah bapak karena dia masuk polisi? Tanyaku. Ibu tersenyum manis mendengar pertanyaanku itu. Kemudian dengan kata-kata sederhana menjelask an apa artiny a politik dan bahwa: Mereka y ang masuk politik adalah musuh polisi. Dan aku mengerti sedikit. 12 Dialog tersebut dirancang secara hati-hati, seperti diny atak an oleh Pramoedy a, untuk menceritak an sejarah mengenai bagaimana suatu gerak an tahun 1930-an. Dengan demik ian, tujuan k ita y ang paling penting adalah meninjau anak-anak k ecil y ang cerdas dan polos, sebagai metafor dari kelompok yang tak berpendidikan, tidak tahu apa-apa, namun dialah rakyat yang pandai, yang barangkali menganggap bahwa politik adalah polisi. Ini merupakan dampak sebagian besar orang-orang bumiputera menjauhi politik sama dengan polisi, suatu kondisi yang penting bagi pembentukan Hindia di masa tahun 30-an. Selain itu yang menjadi petugas polisi reserse k ebany ak an adalah orang-orang bumiputera sendiri. 9 Dengan dibantainya Partai Komunis Indonesia beserta massa pengikutnya, unsur yang paling aktif dan paling berkomitmen dalam pergerakan tersingkir dalam arena politik. Lihat, Takashi Shiraishi. An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926. New York, Cornell University Press 1990. 10 Over Geheim Politie Fondsen, dalam De Nederlandsch-Indische Polietigids. September 1936. No 9 hal. 168-170. 11 Bahkan beberapa surat kabar yang terbit pada tahun 1930an masih memberitakan perlunya hati-hati dengan politik pengawasan kolonial sekarang. Misalkan suratkabar yang dipimpin oleh Sosrokardono menegaskan dalam halaman muka Awas Digoel. Lihat Suratkabar Pemimpin 1 January 1930. 12 Pramoedya Ananta Toer. Kemudian Lahirlah Dia Cerita Dari Blora. Jakarta:Balai Poestaka 1963 hal. 96. 4

Waktu aku masih jadi mantri polisi dulu sebelum perang aku mendapat perintah dari Hindia Belanda untuk mengawasi orang. Dia tercantum di lis orang merah di garis yang pertama sek ali. Kuk irim tiga orang reserse untuk bergantian mengik uti dan meny elidik i orang tersebut. Kemudian orang itu tau diikuti oleh polisis reserse, dan dia menghilang tanpa diketahui. 13 Dialog ini memperlih atk an bahwa pengamanan politik semak in k etat dilak ukan pada masa-masa akhir pemerintah kolonial Belanda sebelum masuknya pendudukan Jepang. Pada pertengahan tahun 1930- an, pemerintah k olonial Belanda telah mulai mencium kegiatan-kegiatan politik dari beberapa partai politik, serikat buruh dan aktifis-aktifis yang baru kembali dari luar negeri. Mereka semua dimasukkan kedalam kategori kelompok ekstrem kiri. Pengamanan politik dengan cara mengawasi secara k husus penduduk membentuk cara pemerintah menempatkan aktifitas penduduk pribumi pada umumnya. Untuk melihat situasi tahun 30-an perlu melihat hasil survei Algemeene Recherche Dienst (ARD). Hasil survey ini k emudian dipergunak an oleh pemerintah kolonial untuk melak ukan pengintaian terhadap ak tiv itas politik penduduk pribumi. Survei tersebut terdiri dari lima bagian; gerak an ek stremis, gerakan Islam dan nasional, gerakan orang-orang Cina dan gerakan serikat buruh dan luar negeri. 14 Tahun 30-an hingga masuknya balatentara Jepang ke Hindia Belanda, orang-orang pergerakan mengalami kesulitan untuk beraktifitas politik, terutama aktifis gerakan buruh untuk menembus politik pengamanan pemerintah kolonial. Seringk ali serik at-serik at buruh ditafsirk an oleh A RD sebagai gerakan komunis yang senantiasa mengganggu rust en orde. Misalnya serikat buruh kereta-api diduga mempunyai kedekatan langsung dengan partai komunis. Di ilain pihak, buruh kereta-api merupakan tulang punggung perekonomian pemerintah kolonial, terutama untuk transportasi produk perk ebunan. Untuk mengamank an tran sportasi k ereta-api, agar tidak melak uk an pemogokan, atau bahk an pemberontak an, pemerintah k olonial membangun k embali proses hubungan kerja yakni dengan cara memindahkan pusat kantor kereta-api dari Semarang k e Bandung. Selain itu, didirik an pusat pendidikan teknik k ereta-api di Bandung y ang bersebelahan dengan komplek s militer Belanda. Di setiap stasiun-stasiun penting wilay ah Jawa dan Sumatra ditempatkan polisi-polisi rahasia dan ARD, agar dapat memantau rapat-rapat yang mereka lakukan. 15 Perekrutan buruh-buruh kereta-api dibuka kembali sebelum Depresi ekonomi dan mereka mulai diberik an mess untuk tempat penginapan dan sek aligus untuk mengawasi k egiatan merek a. Buruh kereta-api yang berhasil direkrut tidak bisa ditempatkan sebagai posisi masinis, kalaupun ada sebagai masinis klas dua. Kepala stasiun pun diduduki oleh orang-orang Belanda, k ebanyak an orang-orang bumiputera menempati stok er (juru-api), pemer ik sa tik et (kondektur), tukang rem, pembersih kereta-api, dan bekerja di bengkel-bengkel kereta-api. Sementara itu, pihak pemerintah Hindia Belanda tidak melakukan perubahan mendasar dalam pendidikan buruhburuh kereta-api, mereka tetap melakukan cara lama, yakni mendidik buruh-buruh tidak terampil. Selain itu, pimpinan buruh kereta-api seperti stoker atau masinis klas dua, dan wakil k epala stasiun dipindahk an k e tempat-tempat lain. Keadaan ini agar tidak terjadi pembentuk an organisasi buruh yang permanent. Setelah ditumpasnya pemberontakan nasional tahun 1927, pemerintah k olonial memusatk an sekolah kereta-api di Bandung bersama dengan sekolah teknik tinggi. Tetapi yang menjadi prioritas untuk menduduki pucuk pimpinan dan masinis kelas satu berasal dari orang Belanda 13 Pramodeya Ananta Toer. Bukan Pasar Malam. Jakarta:Lentera 2004, hal. 97. 14 Harry A. Poeze, Voorwoord, dalam Poeze, ed. Politiek-Politioneele Overzichten van Nederlandch- Indie, Deel 1, 1927-1928. The Haque: Martinus Nijhoff, 1982, hal. Vii-Viii 15 Interview dengan Moenadi, Jakarta 23 September dan Kareta Api 15 Oktober 1936. 5

atau Indo 16. Sekolah tinggi teknik kereta-api, terbagi menjadi administrasi perusahaan, lalu-lintas kereta-api dan masinis kereta-api. Untuk orang-orang pribumi hanya untuk wakil kepala stasiun, juru api dan y ang paling banyak adalah para remers (tuk ang rem). Selain itu, masing-masing perusahaan kereta-api membuka sekolah-sekolah untuk juru-api, pemindahan jalur dan remmers, dan sekolah-sekolah ini hanya dapat bertahan selama dua tahun, karena kesulitan keuangan ak ibat depresi ekonomi. Sementara itu, untuk perbaikan k ereta-api tersedia di stasiun-stasiun kereta-api besar seperti. Bandung, Manggarai, Madiun, Lempuyangan, Poncol (Semarang), Kertosono dan Madiun. Sekolah teknik kereta-api hanya dibuka sesuai dengan kebutuhan memperoleh tenaga kerja, bukan dengan tugas untuk menjalankan kereta-api. Demikian pula, dalam perluasan pemasangan jaringan jalan kereta-api di pulau Jawa lebih diarahkan kepada tujuan meny empurnakan ad ministrasi pemerintahan dalam rangk a menjamin k eamanan dalam negeri dan pertahanan. 17 Meskipun masing-masing perusahaan kereta-api baik swasta maupun negara mempunyai peraturan hubungan perburuhan sendiri, namun dalam bidang penggunaan tenaga kerja, pada dasarnya ditempuh garis kebijaksanaan yang sama. Tenaga pribumi hanya merupakan tenaga cadangan dan pembantu pelaksana. Sedangkan, tenaga pengawas dan pimpinan didatangkan dari negeri Belanda. Garis kebijaksanaan dalam bidang perburuhan untuk tenaga pribumi dilandaskan pada adanya penyediaan tenaga kerja yang cukup keahliannya untuk tugas pelaksana dan pembantu pelaksana dengan upah yang rendah. Depresi ek onomi, pendapatan perusahaan k ereta-api swasta dan negara mengalami kemerosotan. Penurunan pada pengangkutan komoditi perkebunan serta pengangkutan penumpang. Jumlah penumpang yang diangkut oleh State Spoor (SS) pada tahun 1929 mencapai 70.000, tetapi tahun 1936, jumlahnya menurun 40.000 orang. Perusahaanperusahaan swasta tahun 1929 berhasil mengangkut penumpang hingga 50.000 orang, dan mengalami penurunan drastis menjadi 30.000 orang dalam tahun 1936. Sedangk an, barang dan hasil perkebunan yang diangkut oleh perusahaan kereta-api negara atau (SS) tahun 1929 mencapai 10.000 ton, dan tahun 1936 turun menjadi 6.000 ton. Sebaliknya, perusahaanperusahaan swasta tahun 1929 mengangkut barang dan hasil perkebunan sebanyak 9000 ton dan tahun 1936 mengalami kemerosotan mencapai 5000 ton. 18 Pemasukan dari pengangkutan penumpang, barang dan hasil perkebunan perusahaan kereta-api negara tahun 1929 sebesar 90 juta gulden, sedangkan perusahaan swasta mendapatkan keuntungan 50 juta gulden. Tetapi memasuki tahun Depresi hingga tahun 1936, perusahaan kereta api SS mendapatkan pemasukan kotor hanya 50 juta gulden, dan perusahaan-perusahan swasta tahun yang sama hanya memperoleh pemasukan 35 juta gulden. Sedangkan ongkos produksi eksploitasi yang dikeluarkan tahun 1929 oleh perusahaan kereta-api SS mencapai 50 juta gulden, dan mengalami kemerosotan hingga tahun 1936 hanya mengeluarkan 38 juta gulden. Lain halnya dengan perusahaan-perusahaan swasta pada tahun 1929 yang mengeluarkan ongkos produk si 30 juta gulden dan tahun 1936 menurun hingga 20 juta gulden. Merosotny a k euntungan perusahaan-perusahaan k ereta-api mengak ibatk an perusahaan untuk memotong upah dan memecat buruh-buruh. Keputusan perusahaan ini nampaknya tidak membawa protes-protes yang cukup berarti dari kalangan buruh. Keadaan ini juga disebabkan k urangny a orang atau buruh k ereta-api y ang terlibat dalam politik. Jumlah anggota PBST tidak lebih dari 1000 buruh kereta-api. 19 dan kebanyakan dari mereka hanya menjadi anggota dana pertolongan kesulitan ekonomi, atau membantu buruh-buruh yang kehilangan pekerjaan. Dalam 16 Dalam jabatan perusahaan kereta-api orang Belanda dan Indo tidak mempunyai perbedaan yang besar. Misalkan keturunan Indo sebagai m asinis dan Belanda totok sebagai kepala stasiun sama-sama bisa menempati kompleks perumahan kereta-api di Bukitduri. Sejarah Perkereta-Apian Indonesia Jilid 1. Bandung. Angkasa 1997, hal. 43. 17 Pemasangan jaringan kereta-api di Aceh, diselenggarakan oleh Departemen Peperangan (Departement Van Oorlog dan pada 1917 penguasaannya beralih dari militer kepada negara, untuk mengamankan hasil dari usaha-usaha Pasifikasi Belanda. 18 Periksa Hatsil di kalangan S.S dan Peroesahaan Partikelir, Kareta-Api, 12 Nopember 1936. 6

sebuah wawancara dengan Moenadi, bahwa pada tahun 1934 buruh-buruh sudah mulai mendapatkan pendidikan dasar perkereta-apian. Lebih jauh ia bercerita bahwa ia sering pulangpergi Bandung-Manggarai untuk membantu kursus mesin disel, dan ia mengungkapkan pengalamannya sebagai berikut: wah dimasa kesulitan ekonomi sebetulnya buruh kereta-api bengkel di Manggarai semakin bertambah penderitaan, dan mereka pasrah saja, mereka tidak sanggup lagi terlibat dalam kegiatan politik. 20 Pada awal revolusi, Moenadi membentuk Persatoean Serikat Boeroeh Kereta-api, dan pernah menjadi asisten menteri perburuhan untuk masalah pengupahan. Peristiw a tragedi 1965, Moenadi dipenjara hingga tahun 1978 di penjara Salemba. Ia k emudian menuturk an pengalamanny a pada perk ereta-apian menjelang pemerintahan Belanda berakhir: kegiatan sosial dan ekonomi kami dalam membantu buruh yang kesulitan ekonomi juga diawasi oleh polisi, karena kegiatan ini termasuk berkumpul dan melakukan rapat. Kami tidak mempunyai hak untuk berkumpul, sehingga seringkali kegiatan sosial dan ekonomi di Manggarai berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah buruh kereta-api lain. Tapi, lama- lama kita menjadi terbiasa dengan kelakuan polisi itu, seperti mereka menanyakan surat izin dari Residen. 21 Periode 1935-1942, hany a organisasi-organisasi non-politik dan partai-partai y ang bersedia bekerja sama dan setuju mempunyai wakil dalam dewan perwakilan ciptaan Belanda yang terjamin sedikit mendapatkan sedikit kekebalan dari gangguan polisi. Dan satu-satu forum yang secara relatif bebas untuk menyatakan pendapat politik adalah dewan perwakilan itu. Dengan demikian satu-satunya cara bagi gerakan nasionalis untuk mengusahakan perubahan ialah dengan jalan mempengaruhi Belanda secara langsung, tidak dengan mengatur dukungan massa. Masa Depresi ekonomi buruh-buruh kereta-api mempunyai karakter dan cara kerja berbeda dengan periode tahun 1920-an. Pada masa Depresi ekonomi buruh kereta-api belum mempunyai perlawanan strategis terhadap pemerintah k olonial Belanda. Hal ini disebabkan oleh k esulitan ekonomi dan pemotongan upah y ang luar biasa dari perusahaan k ereta-api. Keadaan ini merupakan politik penghematan kolonial dan bertambah ketat pada Depresi ekonomi. Politik penghematan memecat buruh dan tidak memberikan tunjangan kemahalan. Pemecatan juga berakibat semakin berat pekerjaan buruh yang tetap dipertahankan perusahaan, jam kerja mereka semakin tinggi. 22 Mereka yang kehilangan pekerjaan karena pemutusan hubungan kerja, biasanya pindah bekerja ke stasiun lain apakah menjadi tukang bersih, mencuci gerbong kereta-api dan perbaikan rel kereta-api. Meskipun kesulitan ekonomi yang begitu sulit, buruh-buruh kereta-api tetap melakukan aktivitas politik, walaupun tidak sekuat pada zaman Vereeniging voor Spoor en Tramweg Personeel (VSTP) 1920 yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada masa tahun 30-an muncul Perhimpoenan Beambte Spoor dan Tram di Hindia Belanda (PBST) yang sama sekali tidak bersekutu dengan partai politik manapun. PBST mempunyai terbitan bernama Kareta Api dan dari salah satu berita dipaparkan PBST mempunyai hubungan erat dengan bekas anggota VSTP dan kemungkinan berdirinya PBST atas inisiatif mantan anggota VSTP berusaha menghubungk an buruh kereta-api dan buruh tram k elas dua. Jalin an pek erjaan ini bisa membangun kantong-kantong dana bagi keperluan buruh kereta-api dan tram. 23 Dari sin i mulai terbangun fonds untuk membantu buruh-buruh kereta-api, seperti fond k esehatan, fond 19 Jumlah buruh kereta-api untuk wilayah eksploitasi barat untuk kurun 1930-1942 diperkirakan 5400 buruh, dan jumlah t erbesar bekerja pada buruh angkut di stasiun. Lihat, Sejarah Perkeretaapian Indonesi a Jilid I. Bandung. Angkasa 1997, hal. 102. 20 Wawancara dengan Moenadi 23 September 2005. 21 Wawancara dengan Moenadi 23 September 2005. 22 Pemetjatan pegawei Kereta-api dalam Kareta Api 1 Juni 1931. 23 Inisiatif ini merupakan semangat buruh kereta-api tahun 20an yang berusaha untuk tetap menyatukan seluruh buruh baik yang bekerja di kereta-api dan tram. Kareta Api, 10 Juni 1932 7

untuk membantu anggota yang kesulitan dan fond untuk menyebarkan berita-berita penting bagi buruh-buruh kereta-api. Misalnya pada Depresi tahun 1930-an, dikalangan kaum buruh keretaapi dilancarkan solidaritas untuk menampung buruh-buruh yang dipecat. Sebagaimana ditegaskan dalam Kareta-Api 24 : Kita soedah mengetahoei dan merasak an sendiri, bahwa kita, sek arang ini di dalam djaman jang soesah, jaitoe zaman meleset djaman jang ta mengenali kemanoesiaan lagi, djaman oentoek berlombaan dengan sekeras-kerasnja bagi kehidoepannja masing-masing. Banjak pedagang-pedagang jang besar-besar mengeloeh, lantaran k eroegiaan jang boek an k etjil, berpoeloeh-poloeh riboe kaoem boroeh kehilangan pentjahariaannja, berpoeloeh-poeloeh riboe roemah tangga djadi terbalik k endilnja, ak an tetapi misih banjak sek ali diantara soedarasoedara kita jang beloem maoe mengerti dan memikirkan bahwa nasib djelek tadi besoek atau loesa bisa menimpa mareka djoega. 25 Muncul fenomena persaingan diantara anggota serikat buruh untuk mendapatkan pekerjaan. Perusahaan-perusahaan kereta-api baik Staat Spoor dan NIS saling berlomba untuk melepaskan buruh-buruh dari perusahaan agar ongkos produksi perusahaan dapat ditekan serendah mungkin. Cara perusahaan kereta-api menekan biaya produksi dengan mengurangi buruh-buruh yang dianggap tidak produktif atau menurunkan pangkat mereka untuk mengisi pekerjaan yang lebih rendah. Sedangkan buruh-buruh kereta-api yang menduduki pekerjaan rendah dikeluarkan dari pek erjaanny a. Perusahaan mengeluark an alasan bermacam-macam untuk memecat buruh salah satunya dengan memberikan pensiun bagi yang sudah bertugas selama bertahun-tahun, tidak ada batasan lama pekerjaan yang jelas. Misalkan saja 78 buruh kereta-api yang bekerja di Manggarai dan Bandung terkena pemecatan padahal hampir 10 tahun bekerja mereka ini terdiri dari seperti Stokers dan Conducteurs. 26 Buruh stokers (pengapian kereta-api dan merangkap asisten masinis) serta conducteurs (pemeriksa karcis) tidak langsung dipecat, tetapi dipindahkan ke tempat pekerjaan yang lebih rendah dan otomatis mendapatk an upah yang lebih rendah. Mereka juga dipak sa untuk menyingkirkan buruh-buruh yang ada dibawah mereka, ini berlaku pada buruh juru api yang turun pangkat berfungsi sebagai tukang rem dan mendapatkan upah separuh dari upahnya sebelumnya, kemudian para tukang rem gerbong dikeluarkan dari perusahaan kereta api. 27 Buruh kereta-api Manggarai yang dipaksa keluar dari perusahaan kereta-api, terutama untuk jenis pekerjaan remmers dan poetsers terus bertahan bekerja di SS maupun NIS, dengan persyaratan mereka mesti bekerja lebih panjang daripada sebelumnya. Keadaan seperti ini dituturk an oleh Suy itno bek as anggota Serik at Buruh Kereta Api (SBKA) dan ia pun mengalami situasi krisis ekonomi dan pada saat itu, ia bertugas sebagai juru-api di lokomotif: Kalau masa 30-an, tid ak hanya pada krisis ekonomi, tetapi penindasan semakin tajam pada buruh kereta-api gitu. Sebab bayarnya pada waktu sebelum itu 24 Majalah Kareta-Api terbit untuk memberikan informasi tentang situasi depresi ekonomi kepada buruhburuh keret a-api. Ditambah pula majal ah ini terbit dengan latar belakang untuk menjelaskan penyebab buruh-buruh kereta-api dipecat dan upahnya dipotong pada deperesi ekonomi. Majalah ini juga menyuarakan pentingnya pergerakan buruh-buruh kereta-api untuk membangun fond-fond untuk membantu buruh yang mengalami pem ecatan, kecelakaan dan kematian. Majalah ini berkantor di Bandung dan sebagai hoofd redacteur Sastroamidjojo orang yang sehari-harinya bekerj a sebagai pegawai pembangunan jalan kereta-api untuk wilayah Barat. 25 Sw Djliteng, Malaise, dalam Kareta Api, Mei 1932 26 Kareta Api, Juli 1932. 27 Kareta-Api, Juli 1932 8

antara kaum buruh kereta-api itu sudah bagus. Karena adanya matschappij itu jadi dia memproyeki buruh. Tetapi tidak langsung kesejahteraan buruh itu langsung baik tidak, tetapi karena ditindas oleh maatschappij-maatschappij kereta-api termasuk JOS, NIS dan SS. Jadi kesejahteraan buruh agak lumayan bayarannya. Karena disitu ada kilometer, (setiap kilometer tukang rem mendapatkan uang tambahan) portasi (buruh angkut mendapatkan uang tambahan) dan sebagainya. Tetapi tidak tujuh jam kerja, kerjanya non stop sampai 13 jam, 15 jam buruh tidak merasakan. 28 Sementara itu pemerintah kolonial berpegang teguh pada mata uang gulden yang kuat, berarti kebijakan penyesuian harus diambil di negeri jajahan Hindia Belanda. Sejak awal Depresi, para pejabat di Den Haag mendesak pemerintah di Batavia untuk menghemat pengeluaran umum agar dapat mencapai anggaran berimbang. Pengeluaran dan pendapatan ny ata untuk tahun 1930 memberik an gambaran semak in suram, meny impang dari perk iraan tingkat pendapatan, sehingga memaksa pemerintah untuk mengakui bahwa bagian terbesar pendapatan pemerintah Hindia Belanda berasal dari pajak pendapatan, konsumsi dan perdagangan yang diambil dari perusahaan dan monopoli pemerintah. Ini membuat pendapatan tersebut sangat goyah terhadap fluktuasi dalam perekonomian internasional. Tekanan untuk melakukan pemotongan anggaran yang lebih ketat dilakukan oleh Menteri Urusan Tanah Jajahan, De Graff, dan terutama oleh penggantinya Colijn. Namun, di Hindia Belanda ada kesan bahwa sebanyak apa pun yang dilakukan tetap mungkin, dan pemotongan anggaran lebih lanjut akan menjadi bencana politik, ekonomi dan sosial. Pengeluaran bersih dalam pelayanan biasa menunjukkan betapa banyak jumlah pemotongan tersebut: pengeluaran umum total mencapai 512,2 juta gulden pada 1929, namun dipotong kembali hingga 378,2 juta pada 1933 dan 291,6 juta pada 1935. 29 Berdasarkan angk a dari departemen perekonomian, perdagangan Hindia mengalami peningk atan pesat selama 1925-1929, k emudian terus merosot dan hany a tinggal seperempat pada 1936. 30 Bagi negeri yang tergantung pada permintaan luar negeri akan barang dagangan utamanya berupa bahan mentah dan produk eksotis, krisis ini berdampak berat bagi kaum kromo. Sebagai negeri tergantung dan pengutang yang sangat sensitif terhadap gejolak pasar dunia maka hal itu membuat Indonesia lebih mudah berguncang oleh depresi dibanding dengan negeri yang k ondisiny a berbeda. Keny ataan itu ditunjuk an dengan mencolok pada anjlok ny a permintaan gula dan karet. Sementara tembakau, teh, kopi, kapuk dan beras menderita dampak yang enteng walaupun tetap serius. 31 Satu contoh produksi gula di Jawa sebany ak 2.935.317 ton dihasilk an oleh 178 pabrik, pada 1935 merosot menjadi 513.544 ton oleh 38 pabrik. 32 Sedangkan upah buruh y ang dibay ar oleh perusahaan pada 1929 sebesar 102. 000.000 gulden, pada 1934 merosot menjadi 9.721. 000 gulden dengan upah rata-rata 12 sen. Keadaan ini membuat simpanan emas kelas buruh yang cuma sedikit berikut perhiasan lain digadaikan sampai mereka tak memiliki 28 Wawancara dengan Suyitno 6 Febuari 2004. Untuk sektor perkebunan terjadi pengurangan tenaga kerja pada masa depresi ekonomi, tetapi untuk buruh transportasi kereta-api yang mesti melayani perusahaanperusahaan perkebunan. Meskipun masa depresi jumlah perusahaan perkebunan untuk Jawa masih mencapai 157 perusahaan. Ditambah pula perusahaan besar seperti the big fi ve masih memberikan subsidi kepada perusahaan kereta-api milik negara (st ate spoor). Perusahaan-perus ahaan kereta-api tidak begitu drastis melakukan pemecatan, dan cara yang paling efektif adalah meninggikan jam kerja mereka. Lihat. Sejarah Perkereta-apian Indonesia Jilid I. Angkasa. Bandung 1999, hal. 234. 29 Cruetzberg, Ekonomisch beleid, III hal, 143-144-147. 30 Vriesman Verslag I 1941:5 31 Tentang gambaran umum lihat Burger II 1975 dan Rutgers 1947: 194-196. Perincian grafis dalam Creutzberg (ed.,) jilid 5 1979. 32 GFE. Gonggrijp. Schet ener Economische Geschiedenis van Nederlandsch-Indie. Erven F. De Bohn: Haarlem 1949, hal. 219. 9

barang berharga apapun. 33 Dengan demikian kehidupan orang-orang pribumi kebanyakan menjadi tanpa modal maupun cadangan berupa perhiasan dan segala barang berharga, dan mereka mejadi korban yang paling berat. Sedang pihak administratur kolonial Belanda dan majik an Cina tidak lah terlalu terimbas. Berdasark an catatan pendeta Protestan Belanda kepentingan kaum pribumi diabdikan untuk mendukung para pengusaha asing raksasa. Karena itu tidak begitu aneh jika kelas buruh harus mengais kehidupannya dari hari ke hari hanya dengan 2,5 sen, dan mereka sedikit pun tidak tersentuh undang-undang kesejahteraan sosial. 34 Hal yang juga cukup mengherankan pemerintah Belanda begitu keras kepala [paling tidak sampai 1936] dengan mengaitkan uang gulden dengan standar emas. Ini merupakan kesalahan besar dan langk ah y ang bertentangan. Karena politik moneter y ang k eliru inilah mak a cengk eraman Depresi di Hindia Belanda tiga tahun lebih panjang daripada semestinya. Sebaliknya banjir ekspor barang keperluan sehari-hari dan tekstil murah dari Jepang merupakan berkah bagi penduduk. 35 Cengkeraman depresi ekonomi berakibat hilangnya pekerjaan bagi buruh kereta-api yang tinggal diperkampungan Manggarai. Mereka yang mengalami pemecatan atas politik penghematan pemerintah berusaha membangun perekonomian subsistensi, seperti membuka usaha pemasangan instalasi listrik listr ik, menjadi tuk ang pipa air dirumah-rumah pembesar perusahaan kereta-api. Pekerjaan-pekerjaan seperti ini paling tidak bisa menggantikan upah harian buruh kereta-api, tetapi tidak setiap hari mereka mendapat panggilan dari tuan-tuan Eropa. Dalam k ontek s ini beberapa afdelling memb angun fonds (dana) penghematan sebagai reak si terhadap politik penghematan pemerintah. Fonds penghematan berhasil dibangun dibeberapa afdeling seperti Bandung, Manggarai dan Surabaya. Fonds penghematan ini kurang berhasil untuk di afdeling lain, k arena secara ek onomi merek a sulit secara terus-menerus memberik an iuran. Sedangkan mereka secara politik mendapatkan tekanan dari pemerintah kolonial untuk tidak mengembangkan fonds kearah yang lebih terorganisir. 36 33 T.M. Loemban Tobing & T. Joesoef Moedadalam Economisch Overzicht Indonesie dalam M. Ford van Lennep & Fore. W.J. Indonesiers Spreiken. Den Haag: Van Hoeve 1947, hal. 183-185. 34 H. van den Brink. Een Eish van Recht, de koloniale verhouding als vraagstuk getoetst. Amsterdam, 1946, hal. 25. 35 Ibid., Gonggrip 1949, hal 214-15. 36 Kareta-Api, Agustus 1932. 10

Partai dan organisasi politik telah mengambil jalan parlemen berhasil mengeluarkan Ordonansi Regerling Arbeidsverhoudingen dan diterima oleh Volksraad dan mendapatkan pengesahan dari Gubernur Jenderal pada Mei 1940. Ordonansi ini mengatur tuntutan buruh terhadap perusahaan dengan jalan organisasi buruh membuat kolektif yang kemudian akan disebut sebagai komisi. Seandainya terjadi perselisihan antara buruh dan pihak perusahaan, maka beberapa wakil buruh perusahaan membentuk komisi dan akan berhadapan dengan perusahaan. Seandaiany a terjadi jalan buntu antara perusahaan dan pihak k omisi, mak a Directeur Justitie yang akan memutuskan, dan keputusannya tidak dapat ditawar lagi oleh masing-masing pihak. Ordonansi ini berlaku bagi perusahaan-perusahaan besar baik milik sw asta maupun pemerintah. Tetapi, perusahaan-perusahaan besar seperti Staat Spoor atau Koninklijke Paakevart Maatchappij (KPM), banyak mempekerjakan buruh tidak tetap, akibatnya Ordonantie ini tidak berlaku bagi buruh-buruh tidak tetap. 37 Ordonansi itu, biasanya untuk masalah pemecatan buruh, menurunkan upah buruh dan penutupan perusahaan secara sepihak oleh pengusaha senantiasa mendapatk an pembelaan dari Directeur van Justitie. Sehingga kecenderungan untuk membela kepentingan-kepentingan pihak perusahaan menjadi lebih besar. Selain itu, Ordonasi itu berlaku surut bagi perselisihan-perselisihan y ang berlangsung sebelum Ordonansi mendapatk an pengesahan dari Gubernur Jenderal. Pendudukan Jepang: Munculnya SBKA, Angkatan Muda Kereta A pi dan Bengkel Manggarai Saat balatentara Jepang masuk dan menduduki Jawa dipimpin oleh oleh Komandan Panglima A ngkatan Darat Jenderal Imamura Histoshi tanpa mengalami perlawanan berarti dari pasuk an tentara Belanda. Bahkan ketika tentara Jepang masuk ke Jakarta dan selanjutnya diganti dengan nama Jakarta Shu penduduk menyambut balatentara Jepang dengan harapan tinggi untuk membebaskan mereka dari pengawasan polisi Belanda. 38 Suyitno seorang buruh kereta-api di Manggarai dan kemudian hari terlibat dalam keanggotaan SBKA menceritakan gegap gempitanya penerimaan penduduk Manggarai dan sekitarnya pada saat Jepang masuk: Bany ak warga disini [Manggarai, Bukit duri, dan Jatinegara] berkumpul menyambut tentara Jepang berbaris baru turun dari kereta-api. Warga membawakan kelapa, papaya dan Mangga untuk tentara Jepang. Warga riang gembira mengangk at tangan dan mengajungkan jempol. Lantas k eadaan ini dibalas oleh beberapa perwira Jepang dengan mengambil kamus kantong percakapan Indonesia-Jepang dan mulai bicara dengan orang dewasa dan anak-anak dengan bantuan gerak tubuhnya. 39 Awalnya pemerintahan pendudukan Jepang akan melanjutkan struktur pemerintahan kolonial yakni menekankan orientasi ekonomi ekspor dan ketergantungan pada iimpor industri. Konsekuensi-konsekuensi perang menjungkirkan harapan ini. Pertengahan tahun 1943 kekurangan kapal begitu akut, sehingga Tokyo memerintahkan men iadakan kebijakan awal. Seluruh tekanan ditempatkan pada ekonomi self-suffiecien tly untuk setiap pemerintahan lokal. 40 Produksi makanan terus-menerus berkurang untuk setiap pemerintahan lokal, dan pemerintahan swapraja diarahkan untuk membuat pakaian dan membuka pabrik. Penduduk sulit untuk melak uk an perlawanan terhadap balatentara Jepang, k arena pemerintah penduduk an Jepang melakukan mobilisasi dan kontrol yang begitu ketat. 37 Mr. Hindromartono. Ordonansi Regeling Arbeidverhouding, dalam Kemadjoean Juni 1940, hal. 4-8. 38 Anthony Reid. Indonesia: From Briefcase To Sword Samurai in Alfred W. McCoy (ed) Southeast Asia Under Japanese Occupation. Yale University Southeast Asia Studies. Monograph Series Number 22. 1980. 39 Wawancara dengan Suyitno 3 Maret 2004. 40 Ibid., Afred W. McCoy, p. 51 11

Selain itu, hampir seluruh gerakan politik pada tahun 39-40 tidak diberi ruang oleh pemerintah kolonial dan jika ingin tampil dalam wilayah politik harus melalui volksraad. Pemerintah kolonial melalui tentara KNIL dan pegawai dinas intelejen mengintai penduduk kampung dan mengawasi gerak gerik perlawanan orang-orang bumiputra. Suatu harga yang besar dibayar oleh Hindia Belanda untuk politik pertahanan semacam ini. Tidaklah berlebihan k etik a Jepang masuk, penduduk bumiputera menyambutnya bagaikan tentara pembebasan. Mereka tidak mengetahui bahwa balaten tara Jepang kemudian melak uk an mobilisasi terhadap penduduk, entah k erja paksa sebagai romusha di negeri sendiri maupun di negeri orang lain. Untuk wilayah Manggarai dan sek itarny a masalah mobilisasi tenaga k erja romusha oleh Jepang menjadi pembicaraan buruh k ereta-api. Informasi ini cuk up penting untuk mengetahui apak ah ada sanak keluarga dan sahabat yang dijadikan romusha. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang sulit untuk mendapatkan beras, tentara Jepang akan menghukum penduduk mendapatkan beras tanpa proses penjatahan. Berkumpul lebih dari tiga orang merupakan tindakan yang dicurigai. Rapatrapat di kalangan buruh dilakukan secara sembunyi dan tertutup, sebagaiman diceritakan oleh Suyitno, bekas anggota SBKA dan selama pendudukan Jepang mendapatkan pelatihan teknisi diesel dibengkel Manggarai: Pada masa Jepang berkuasa kami melakukan perlawanan secara diam-diam, terutama bagaimana caranya mendapatkan beras. Pada masa itu beras susah didapatkan, kalau kita ketahuan Jepang mencuri beras bisa mati. Sekitar tahun 1943 bulan Oktober say a berk eliling Manggarai dan Buk itduri untuk mengawasi keadaan aman dari tentara Jepang, karena teman-teman lainnya sedang melak uk an rapat di bengkel. Kami membicarakan masalah-masalah penting seperti keadaan peperangan atau bagaimana kesiapan kita kalau ingin melak uk an perlawanan. Dan juga membagi informasi soal teman-teman k ita yang dijadikan Romusha di Rangon dan Birma. 41 Berdasarkan penuturan Suyitno sejumlah buruh kereta-api yang dibawa secara paksa oleh Jepang ke wilayah Asia Tenggara, terutama Birma (sekarang Myanmar) untuk membangun jembatan dan pemasangan rel kereta-api bagi kepentingan peperangan Jepang. Saat memberlakukan kerja paksa, tentara Jepang mempergunakan sistem tanggung renteng. Mak sudny a jik a seorang calon romusha tidak bisa bekerja, ia ak an digantik an oleh saudarany a. Jik a saudarany a berhalangan, ak an digantik an oleh k awanny a. Dalam keadaan seperti ini buruhburuh kereta-api berupaya melindungi teman-temannya dari sergapan Jepang, caranya dengan bekerja di bengkel perawatan kereta-api, sebagaimana dituturkan oleh Tardjo bekas masinis yang memilih masuk menjadi anggota SBKA dan kemudian pada peristiwa 65 ditangkap oleh pasukan screening bentukan Pangkopkamtib: Buruh-buruh kereta-api yang biasanya bekerja diperbaikan rel dan bagian remmers secara diam-diam dimasuk an k edalam bengk el, untuk membuat perk akas-perk akas lok omotif atau perbaik an gerbong. Sebab k alau mereka ada Depo dengan pekerjaan mencuci dan membersihkan kereta-api maka mereka akan disergap oleh tentara Jepang. Untuk memasukan buruh ke bengkel perlu mendapatkan izin dari wakil kepala bengkel yang waktu itu dikepalai oleh Singgih, tetapi kepala bengkel mesti melapor kepada Zinnusho-tyo (Kepala bengkel bangsa Jepang yang mengawasi Kereta-api). Nah di sini pintar-pintarnja kepala bengkel untuk berbicara perlunya tenaga di bengkel. 42 41 Wawancara dengan Suyitno. 7 Febuari 2004. Bandingkan dengan Shigero Sato, Labour Relations in Japanese Occupied Indonesia Clara Working Paper No. 8. Amsterdam 2000, hal. 1-24. Sato mendapatkan informasi seorang buruh diketahui mencuri beras satu mangkok saja terkena hukuman berdiri diterik mata hari selama tiga hari, atau hukuman gantung dengan kaki di atas dan kepala dibawah. 42 Wawancara dengan Tardjo. 25 Febuari 2004 12

Untuk memberikan kepercayaan kepada Zinnusho (kepala bengkel) tidaklah begitu sulit karena peranan buruh di bengkel cukup penting untuk memproduksi peralatan yang dibutuhkan keretaapi. Tanpa kereta-api, pasukan balatentara Jepang tidak dapat bergerak secara lancar. Pada akhir pendudukan balatentara Jepang, penduduk yang menolak romusha harus membayar sebesar sepuluh rupiah, sulit bagi penduduk untuk membayar uang sebesar itu. Untuk upah masinis saja hanya mencapai lima rupiah per-bulannya. Buruh-buruh kereta-api yang tinggal di sekitar stasiun dan bengkel kereta-api juga melakukan kerja paksa, bongkar muat selama lima jam per-hari dan mereka bekerja jika ada kereta api yang masuk stasiun. Jika menolak akan siap menerima hukuman dijemur ditengah terik matah ar i. 43 Seluruh perusahaan kereta-api disatukan dalam satu pimpinan. Di Jawa berada di bawah Angkatan Darat ke 16 (Rikuyuu) dan di Sumatera dibawah komando Angkatan Darat ke 25 yang berkantor pusat di Bukit Tinggi. Masing-masing daerah dibagi ke dalam inspeksi-inspeksi (Zinnusho) yang masing-masing dikepalai oleh kepala inspeksi (Zinnusho-tyo). Secara resmi seluruh pimpinan puncak langsung dipegang oleh pejabat sipil/militer Jepang. 44 Pada kenyataannya orang-orang bumiputera yang bekerja sebagai pelaksana. Ketika kekalahan Jepang semakin mendekat kedudukan kepala inspeksi secara resmi dipegang oleh orang bumiputera yang didampingi oleh pejabat sipi/militer Jepang, misalkan wakil kepala stasiun dijabat oleh orang bumiputera, sedangkan k epala stasiun dijabat oleh orang militer Jepang. Demik ian pula untuk kepala bengkel dan wakil kepala bengkel Manggarai. Kemudian juga terjadi penyatuan dalam peraturan kepegawaian kereta-api yang dipaksakan melalui peraturan gaji bagi pegawai negeri (Kanpo). Peraturan ini merupakan suatu peraturan baru dalam pengupahan personil pegawai kereta-api, yang menyamaratakan pegawai kereta-api dalam tiga hirarkhi, yakni pegawai rendah, pegawai menengah dan pegawai tinggi, disamping masih adanya golongan pegawai rendahan. 45 Satu hal yang menguntungkan bagi perkembangan pergerakan revolusi, pada masa Jepang dibuka sekolah teknisi kereta-api bagi bagi pemuda dan hampir 80.000 orang yang dilatih oleh Jepang untuk masalah mesin dan teknisi diakhir Juli 1945. Awalnya bulan September 1943, Balai Pusat Kereta-api membuka lowongan bagi para pemuda untuk memp elajari masalah tek nisi dan mesin, dan lowongan ini dapat menyerap sebesar 7000 teknisi. Kemudian, tiga bulan selanjutnya direkrut 20.000 orang yang rata-rata berumur 16-17 tahun dan mempunyai latar-belakang beragam, ada yang orang tuanya sudah menjadi wakil masinis pada masa Belanda, namun juga ada berasal dari lingk ungan stasiun dan ada pula y ang juga ingin mendapatk an pek erjaan sebagai pegawai negeri. Selanjutnya, tiga bulan kemudian direkrut kembali 20.000 pemuda untuk menguasai masalah trak si atau lalu lintas perk ereta-apian, sebab pada masa Jepang lalu lintas kereta-api berbeda dengan masa kolonial Belanda, beberapa jalur Jawa Barat dibongkat, terutama wilayah Banten. 46 Ditambah pula, buruh-buruh bengkel Manggarai mendapatkan kursus pendidik an menengah tek nisi (Ty uo-kyushuzy o), pelatih an kemiliteran dari Seinendan, Keibodan dan Hatohan. Latihan militer ini membawa pengaruh besar pada tahun-tahun revolusi. Februari 43 Wawancara dengan Tardjo 25 Febuari 2004 44 Anonim. Partisipasi Perkereta-apian Dalam Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta 1975, tanpa penerbit, hal 1-14. 45 Wakil kepala eksploitasi Barat, Tengah dan Timur termasuk pegawai Tinggi, sedangkan wakil inspektur seperti wakil kepala stasiun dan wakil bengkel t ermasuk pegawai m enengah dan pegawai rendah berlaku untuk masinis, stoker dan pekerja bengkel. Pembagian seperti ini untuk menyiasati agar seluruh pegawai keret a-api mau bekerja untuk kepentingan mesin perang Jepang. Informasi ini diperoleh dari Wawancara dengan Moenadi 23 September 2005. 46 Gerbong-gerbong rampasan yang baru tiba dari Filipina, dan Thailand memerlukan teknisi untuk pemasangannya. Oleh karena itu penguasa militer Jepang memerlukan tenaga teknisi dalam jumlah besar. Pada masa revolusi para teknisi ini melakukan sabotase-sabotase terhadap kendaraan-kendaraan militer NICA. Informasi ini saya peroleh dari wawancara dengan Soemadi 10 Juni 2005. 13