11. TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Gelatin memiliki sifat yang khas, yaitu berubah secara reversible dari bentuk sol

TINJAUAN PUSTAKA. dikelompokkan sebagai berikut:kingdomanimalia, FilumChordata, KelasAves,

PENDAHULUAN Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. kandungan kulit serta tulangnya. Atmoko dan Pangestuti (2011) menyatakan. merupakan protein yang banyak terdapat di dalam tulang.

I. PENDAHULUAN. dengan nilai gizi yang tinggi dan disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa

TINJAUAN PUSTAKA. daritubuhhewan, diperoleh setelah hewan tersebutmatidandikuliti. kerbaudandombasertakambingmemilikistruktur jaringan yang

TINJAUAN PUSTAKA. Tulang adalah subtansi hidup yang dapat diperbaharui yang memiliki

1. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA. pengolahan menjadi produk lain yang bermanfaat, yaitu nonfood untuk kulit

I. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permen jelly merupakan salah satu produk pangan yang disukai semua orang dari kalangan anak-anak hingga dewasa.

BAB I PENDAHULUAN. Telur adalah salah satu bahan makanan hewani yang dikonsumsi selain

Dosen Pembimbing Tugas Akhir : Ir. Budi Setiawan, MT. Oleh : Sinta Aprillia Dwi Wardani ( ) Ivan Edo Nurhadist ( )

I. PENDAHULUAN. unggas yang lain. Itik mampu mempertahankan produksi telur lebih lama

I. PENDAHULUAN. Ketersediaan telur yang tidak mengenal musim, keunggulan gizi dari telur dan

Buletin Peternakan Edisi IV 2017 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Sulawesi Selatan

BAB I PENDAHULUAN ,5 ribu US$ (Kemenperin, 2014).

I. PENDAHULUAN. saji kaya protein yang bersumber dari bahan pangan hewani, memengaruhi

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1.1.) Latar Belakang, (1.2.) Identifikasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. kolagen alami hewan yang terdapat pada kulit, tulang, tulang rawan, dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5)

TINJAUAN PUSTAKA. gizi yang lengkap bagi pertumbuhan makhluk hidup baru. Menurut Whitaker and

TELUR ASIN PENDAHULUAN

4 Telur biasanya juga mengandung semua vitamin yang sangat dibutuhkan kecuali vitamin C. Vitamin larut lemak (A, D, E, dan K), vitamin yang larut air

KOMPOSISI DAN MIKROBA TELUR

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kualitas Telur

PERBAIKAN NILAI TAMBAH LIMBAH TULANG IKAN TUNA (Thunnus sp) MENJADI GELATIN SERTA ANALISIS FISIKA-KIMIA

I. TINJAUAN PUSTAKA. pengisi. Bahan pengisi pada tulang terdiri dari protein dan garam-garam mineral.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Susu kedelai adalah salah satu hasil pengolahan yang merupakan hasil ekstraksi dari

I. PENDAHULUAN. dengan susunan asam amino lengkap. Secara umum telur ayam ras merupakan

EFEK ASAM TERHADAP SIFAT TERMAL EKSTRAK GELATIN DARI TULANG IKAN TUNA (Euthynnus affinis)

BAB I PENDAHULUAN. pertambahan penduduk, perkembangan ekonomi, perubahan gaya hidup serta kesadaran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I PENDAHULUAN. kandungan gizi yang cukup baik. Suryana (2004) melaporkan data statistik

PENGANTAR. Latar Belakang. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk kebutuhan pangan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Gelatin adalah biopolimer yang dihasilkan dari hidrolisis parsial jaringan

MODUL TEKNOLOGI PEMANFAATAN KULIT TERNAK. Oleh : Muhammad Irfan Said, S.Pt, M.P

PENDAHULUAN. mempunyai potensi yang cukup besar sebagai penghasil telur karena

: Mengidentifikasi bahan makanan yang mengandung karbohidrat (amilum dan gula ), protein, lemak dan vitamin C secara kuantitatif.

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Puyuh (Coturnix-coturnix japonica)

I. PENDAHULUAN. yang berfungsi sebagai penstabil pada emulsi. Pada makanan, emulsifier berperan

PENGANTAR. Latar Belakang. dan negatif. Dampak positif yaitu meningkatkan perekonomian dan mengurangi

PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TEHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI, DAN ORGANOLEPTIK PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING. (Laporan Penelitian) Oleh

I PENDAHULUAN. Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian. Dilihat dari karakter fisiknya, murbei merupakan buah yang berasa segar manis

Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Larutan Perendam terhadap Rendemen Gelatin

SUSU. b. Sifat Fisik Susu Sifat fisik susu meliputi warna, bau, rasa, berat jenis, titik didih, titik beku, dan kekentalannya.

Pembuatan Yogurt. 1. Pendahuluan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kue bolu merupakan kue berbahan dasar tepung terigu dengan penambahan

BAB I PENDAHULUAN. pembuatan tempe, tahu, kecap, oncom, susu, dan lain-lain. Kacangkacangan

Pakan ternak. Dibutuhkan oleh ternak untuk : 1. Hidup pokok 2. Pertumbuhan 3. Produksi 4. Mengganti sel yang rusak pada jaringan

I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat

PENDAHULUAN. proses pengolahannya permen terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu

I PENDAHULUAN. Dewasa ini kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai gizi suatu produk

Dewi Hastuti, dkk. Pengenalan dan proses.. PENGENALAN DAN PROSES PEMBUATAN GELATIN

I. PENDAHULUAN. Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi menyebabkan

I. PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi

I. PENDAHULUAN. Telur merupakan sumber protein hewani yang baik, murah dan mudah

b. Bahan pangan hewani bersifat lunak dan lembek sehingga mudah terpenetrasi oleh faktor tekanan dari luar.

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. protein yang lebih baik bagi tubuh dibandingkan sumber protein nabati karena mengandung

TINJAUAN PUSTAKA. Kacang merah atau kacang jogo tergolong pangan nabati. Kacang merah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (kutikula), membran kulit telur, kantung udara, chalaza, putih telur (albumen),

Manfaat Ikan Mas Untuk Kesehatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Daging sapi didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk

I PENDAHULUAN. (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. terjangkau oleh berbagai kalangan. Menurut (Rusdi dkk, 2011) tahu memiliki

Telur. Titis Sari Kusuma. Ilmu Bahan Makanan-Telur

BAB 1 PENDAHULUAN. disukai oleh masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga

BAB I PENDAHULUAN. sangat terkenal dan digemari oleh semua lapisan masyarakat, karena memiliki

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam istilah asing, burung puyuh disebut quail yang merupakan bangsa

PENGARUH TINGKAT SUBSTITUSI TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG MAGGOT TERHADAP KOMPOSISI KIMIA PAKAN DAN TUBUH IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsskal)

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu masalah yang dihadapi di negara berkembang dalam. meningkatkan kualitas sumber daya manusianya adalah pada pemenuhan

EKSTRAKSI GELATIN DARI LIMBAH TULANG IKAN TENGGIRI (Scomberomorus sp.) DENGAN JENIS DAN KONSENTRASI ASAM YANG BERBEDA

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kandungan gizi lengkap yaitu karbohidrat, lemak, protein, mineral dan

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING (lanjutan)

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian. Kepulauan Indonesia dengan daerah continental dengan perairan

I. PENDAHULUAN. tengah masyarakat harus segera diatasi. Maraknya penggunaan daging babi yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN. Pada pendahuluan menjelaskan mengenai (1) Latar Belakang, (2)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

11. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kandungan Nutrisi Telur Puyuh Telur puyuh terdiri atas putih telur (albumen) 47,4%, kuning telur ( yolk) 31,9% dan kerabang serta membran kerabang 20,7%. Kandungan protein telur puyuh sekitar 13,1%, sedangkan kandungan lemaknya mengandung 15,7%-16,6% protein, 31,8%-35,5% 11,1%. Kuning telur puyuh lemak, 0,2%-1,0% karbohidrat dan 1,1% abu. Telur puyuh mengandung vitamin A sebesar 543 µg (per 100g) (Stadelman & Cotterill, 1995). Ditambahkan juga oleh Bambang (2003) bah wa kandungan protein telur puyuh sekitar 13,1%, kandungan lemaknya 11,1%, kadar kolesterol kuning telur puyuh sebesar 2138,17 mg/100 g, sedangkan kandungan kolesterol kuning telur ayam ras hanya 1274,5 mg/100 g. Dilihat dari nilai gizinya, telur puyuh mengandung 13.6% protein dan 8.2% lemak (Nugroho & Mayun, 1986). Nilai gizi telur puyuh ini tidak kalah dari nilai gizi telur ayam ras yang mengandung 12.8% protein dan 11,5% lemak (Daftar Komposisi Bahan Makanan, 1989). Perbandingan komposisi nutrisi pada putih dan kuning telur puyuh dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini: Tabel 2.1.Komposisi Kimia Telur Komposisi Keseluruhan (%) Putih (%) Kuning (%) Total 100 58 31 Air 65,6 88 48 Protein 11,8 11 17,5 Lemak 11 0,2 32,5 Abu 11,7 0,8 2 Sumber: American Heart Asociation (2002). 5

Kandungan Nutrisi dalam telur puyuh pun hampir setara dengan kandungan telur unggas lainnya. Adapun perbandingan kandungan gizi telur puyuh dan unggas lain dapat dilihat pada Tabel 2.1 di bawah ini : Tabel 2.2 Kandungan gizi telur Jenis Unggas Protein (%) Lemak (%) Karbohidrat (%) Abu (%) Ayam Ras 12,7 11,3 0,9 1,0 Ayam Buras 13,4 10,3 0,9 1,0 Itik 13,3 14,5 0,7 1,1 Angsa 13,9 13,3 1,5 1,1 Merpati 13,8 12,0 0,8 0,9 Kalkun 13,1 11,8 1,7 0,8 Burung Puyuh 13,1 11,1 1,6 1,1 Sumber: Listiyowati & Kinanti (2005) Daging dan telur merupakan produk utama yang dihasilkan ternak unggas, seperti ayam, itik, dan puyuh. Secara keseluruhan kandungan gizi daging dan telur antara unggas satu dengan unggas lainnya relatif sama (Tetty, 2003). Sirait (1986) menambahkan bahwa kuning telur merupakan komponen lemak tertinggi yang terdiri atas 65,50% trigliserida, 5,20% kolesterol dan 28,30% fosfolipid, atau mengandung kolesterol sekitar 270 mg/butir telur. Kadar kolesterol yang tinggi dalam darah dapat menyebabkan penyakit seperti serangan jantung dan penyempitan pembuluh darah, Kuning telur puyuh memiliki kadar lemak dan kolesterol yang tinggi, hal ini dapat menyebabkan ketakutan konsumen untuk mengkonsumsinya, oleh sebab itu diperlukan suatu produk alternatif dari kuning telur puyuh yang rendah kolesterol (Soeharto, 2002). Menurut Saerang (1997) kadar kolesterol per gram dari telur puyuh lebih tinggi dibandingkan kadar kolesterol telur ayam. Ayam muda yang berumur 24 minggu kadar kolesterol telurnya 121 mg/butir, sedangkan ayam yang berumur 68 minggu kadar kolesterolnya 313 mg/butir, dengan berat telur 50-70 g. Kadar 6

kolesterol pada telur puyuh 168 mg/butir, bila satu butir beratnya sekitar 9-12 g, maka kadar kolesterol telur puyuh per gram telur adalah 16-17 mg kolesterol untuk setiap gram telur puyuh, sementara pada telur ayam terdapat kolesterol 6-8 mg kolesterol untuk setiap gram telur puyuh. Bambang (2003) menambahkan bahwa kandungan protein telur puyuh sekitar 13,1%, lemak 11,1%, kadar kolesterol kuning telur puyuh sebesar 2138,17 mg/100g sedangkan kandungan kolesterol kuning telur ayam ras hanya 1274,4 mg/100g. American Heart Asosiation (2002) menyatakan Tingginya kadar High Density Lipoprotein (HDL) di dalam produk tepung kuning telur puyuh ini menambah nilai lebih pada produk ini karena menjadi produk yang ramah bagi tubuh. High Density Lipoprotein (HDL) disebut sebagai kolesterol baik karena jika terdapat dalam jumlah banyak akan mampu mengurangi resiko terkena serangan jantung. 2.2. Pengawetan Telur Menurut Hintono (1984) prinsip pengawetan telur adalah mempertahankan kualitas telur dari kerusakan fisik dan kimia serta mencegah terjadinya pembusukan oleh mikroorganisme pada telur segar. Soedjoedono (2002) menambahkan bahwa prinsip pengawetan telur dalam bentuk utuh adalah dengan menutup pori-pori kulit telur agar tidak dimasuki mikroorganisme, serta mencegah terjadinya penguapan dan keluarnya gas dari dalam telur. Syarif & Halid (1990) menyatakan bahwa pengawetan telur utuh bertujuan untuk mempertahankan mutu telur segar. Prinsip dalam pengawetan telur segar adalah mencegah penguapan air dan terlepasnya gas-gas lain dari dalam isi telur, serta 7

mencegah masuk dan tumbuhnya mikroba di dalam telur selama mungkin Jika dibiarkan dalam udara terbuka (suhu ruang) hanya tahan 10-14 hari, setelah waktu tersebut telur mengalami perubahan-perubahan ke arah kerusakan seperti terjadinya penguapan kadar air melalui pori kulit telur yang berakibat berkurangnya berat telur, perubahan komposisi kimia dan terjadinya pengenceran isi telur. Menurut Hardiwiyoto (1983) pengawetan dapat dilakukan dengan cara kering, perendaman, penutupan kulit dengan bahan pengawet dan penyimpanan dalam ruangan pendingin. Koswara (2009) menambahkan bahwa pengawetan dapat dilakukan dengan cara menutup pori-pori kulit telur atau mengatur kelembaban dan kecepatan aliran udara dalam ruangan penyimpanan. Penutupan pori-pori kulit telur dapat dilakukan dengan menggunakan larutan kapur, parafin, minyak nabati (minyak sayur), air kaca ( water glass), dicelupkan dalam air mendidih dan lain-lain. Pengaturan kecepatan dan kelembaban udara dapat dilakukan dengan penyimpanan di ruangan khusus. Sebelum dilakukan prosedur pengawetan, penting diperhatikan kebersihan kulit telur, karena meskipun mutunya sangat baik, tetapi jika kulitnya kotor, telur dianggap bermutu rendah atau tidak dipilih pembeli. 2.3. Gelatin Menurut Matz (1962) gelatin adalah polimer dari asam amino yang terdapat dalam kolagen pada jaringan kulit dan tulang hewan. Wahyuni & Peranginan (2005) menambahkan bahwa gelatin merupakan protein hasil hidrolisis parsial kolagen tulang dan kulit. Penggunaan gelatin sangat luas khususnya dalam bidang industri, baik industri pangan maupun non pangan. Gelatin memiliki sifat yang khas yaitu 8

berubah secara reversible dari bentuk sol ke bentuk gel, mengembang dalam air dingin, dapat membentuk film serta mempengaruhi viskositas suatu bahan dan dapat melindungi sistem koloid. Kelarutannya dalam air membuat gelatin diaplikasikan untuk keperluan berbagai industri. Gelatin merupakan produk yang diperoleh dari hasil hidrolisis protein kolagen kulit. Kebutuhan gelatin di Indonesia dipenuhi dengan cara impor dari negara-negara penghasil gelatin seperti Eropa, Amerika Serikat, Amerika Selatan, serta Negara-negara Asia seperti Thailand, Cina, dan Jepang. Masalah yang lebih krusial adalah masalah kehalalannya bagi umat muslim, mengingat bahan baku gelatin impor diduga berasal dari kulit atau tulang babi (Apriyantono, 2003). Gelatin secara kimiawi diperoleh melalui rangkaian proses hidrolisis kolagen yang terkandung dalam kulit, protein kolagen ini secara ilmiah dapat ditangkap untuk konversi sebagai gelatin (Abustam & Said, 2004). Gelatin Food Science (2007) menyatakan bahwa dalam gelatin tidak terdapat asam amino triptopan, sehingga gelatin tidak dapat digolongkan sebagai protein yang lengkap. Gelatin mengandung berbagai jenis asam amino yaitu: 9.15 hidroksiprolin, 2,9% asam aspartat, 1,8% treonin, 3,5% serin, 4,8% asam glutamat, 13,2% prolin, 33% glisin, 11,2% alanin, 2,6% valin, 0,36% metionin, 1% isoleusin, 2,7% leusin, 0,26% tirosin, 1,4% phenilalanin, 0,51% hidroksilisin, 3% lisin, 0,4% histidin, dan 4,9% arginin, penggabungan 18 jenis asam amino akan membentuk susunan polipeptida yang dikenal sebagai struktur primer (Campball & Farrel, 2006). 9

Sifat umum gelatin dan kandungan unsur-unsur mineral tertentu dalam gelatin dapat digunakan untuk menilai mutu gelatin menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 06-3735-1995 dapat dilihat pada Tabel 2.3 berikut ini: Tabel 2.3 Standar Mutu Gelatin Karakteristik SNI (1995) British Standard Tipe A Tipe B Warna Tidak berwarna Kuning pucat Kadar abu (%) Maks 3.25 0,3-2,0 0,5-2,0 Kadar air Maks 16 Logam berat (mg/kg) Maks 50 Arsen (mg/kg) Maks 2 Tembaga (mg/kg) Maks 30 Seng (mg/kg) Maks 100 Sulfit (mg/kg) Maks 1000 Viskositas (cp) 1,5-7,0 1,5-7,5 2,0-7,5 Kekuatan Gel (bloom) 50-100 50-300 50-300 Ph 5 3,8-5,5 5,0-7,5 Titik Isoelektrik (s/cm) 1-5 7,0-9,0 4,7-6,0 Sumber: Standar Nasional Indonesia (1995) 2.4. Kaki Ayam Purnomo (1992) menyatakan bahwa komposisi kimia kaki ayam yaitu: kadar air 65,90%, protein 22,98%, lemak 5,60%, abu 3,49% dan kandungan lainnya 2,03%. Pemanfaatan kaki ayam (shank) sebagai bahan baku gelatin perlu dikaji potensinya, mengingat banyaknya kaki ayam yang pemanfaatannya belum optimal, tetapi memiliki kandungan kimia yang mendukung yakni kadar protein total lebih dari 80%. Menurut Brown et al. (1997) tingginya kandungan protein pada kaki ayam khususnya protein kolagen membuka peluang untuk diekstrak agar dihasilkan produk gelatin. Baliant & Bowes (1977) menambahkan bahwa tulang kaki ayam memiliki kandungan nilai kolagen 9,07%, protein 17,40%, air 60,05%, abu 5,98% dan lemak 12,00%. 10

[[ 2.5. Pemanfaatan Gelatin Gelatin mempunyai banyak fungsi dan sangat aplikatif penggunaannya dalam industri pangan dan non pangan (Suryani, 2009). Gelatin dalam industri pangan digunakan sebagai pembentuk busa ( whipping agent), pengikat ( binder agent), penstabil ( stabilizer), pembentuk gel ( gelling agent), perekat ( adhesive), peningkat viskositas (viscosity agent), pengemulsi (emulsifier), finning agent, crystal modifier, dan pengental (thickener) ( Poppe, 1992). Adapun gelatin dalam industri non pangan dapat digunakan sebagai bahan pembuat kapsul, pengikat tablet, dan mikroenkapsulasi dalam bidang farmasi, dalam bidang fotografi digunakan sebagai pengikat peka cahaya, dan pada industri kosmetik digunakan untuk menstabilkan emulsi pada produk sampo, penyegar, lotion, sabun, lipstick, cat kuku, busa cukur dan krim pelindung sinar matahari (Hermanianto, 2004). Produk lain yang menggunakan gelatin adalah soft candy, whipping cream, karamel, selai, permen, yoghurt, susu olahan, sosis, hard capsule, soft capsule, pelapis vitamin, tablet, korek api, fotografi, pelapis kertas, pelapis kayu interior dan masih banyak yang lainnya (Gelatin Manufacture Europe, 2006). Apriantono (2003) menambahkan bahwa pemanfaatan gelatin sangat luas seperti sebagai bahan kosmetik dan produk farmasi serta bahan baku makanan (es krim, permen karet, pengental, dan mayonaise), bahan film, material medis, dan bahan baku kultur jasad renik. 11