FLOOD STUDY ANALYSIS USING GIS TECHNOLOGY IN DISTRICT BOJONEGORO

dokumen-dokumen yang mirip
STUDI ANALISA BANJIR DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI SIG DI KABUPATEN BOJONEGORO. Disusun Oleh : 1. Anna Rosytha 2. Dr. Ir. M. Taufik

4. PERUBAHAN PENUTUP LAHAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Gambar 2. Peta Batas DAS Cimadur

SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA LAHAN

METODOLOGI. Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian

ANALISIS KETINGGIAN MODEL PERMUKAAN DIGITAL PADA DATA LiDAR (LIGHT DETECTION AND RANGING) (Studi Kasus: Sei Mangkei, Sumatera Utara)

BAB I PENDAHULUAN I-1

III. METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pembuatan Tampilan 3D DEM SRTM

SISTEM INFORMASI GEOGRAFI. Data spasial direpresentasikan di dalam basis data sebagai vektor atau raster.

BAHAN DAN METODE. Gambar 1 Peta Lokasi Penelitian

Sistem Informasi Geografis (SIG) Geographic Information System (SIG)

IV. METODOLOGI 4.1. Waktu dan Lokasi

Perumusan Masalah Bagaimana kondisi perubahan tutupan lahan yang terjadi di daerah aliran sungai Ciliwung dengan cara membandingkan citra satelit

KAJIAN KAWASAN RAWAN BANJIR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DI DAS TAMALATE

Aninda Nurry M.F., Ira Mutiara Anjasmara Jurusan Teknik Geomatika FTSP-ITS, Kampus ITS Sukolilo, Surabaya,

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Remote Sensing (Penginderaan Jauh)

Pemodelan Hidrologi Untuk Identifikasi Daerah Rawan Banjir Di Sebagian Wilayah Surakarta Menggunakan SIG

ABSTRAK PENDAHULUAN. Desi Etika Sari 1, Sigit Heru Murti 2 1 D3 PJ dan SIG Fakultas Geografi UGM.

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TEORI DASAR. Beberapa definisi tentang tutupan lahan antara lain:

TUGAS UTS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PEMETAAN DAERAH RAWAN BANJIR DI SAMARINDA

Jurusan Teknik Geomatika Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Gregorius Anung Hanindito 1 Eko Sediyono 2 Adi Setiawan 3. Abstrak

STUDI PERKEMBANGAN KOTA MEDAN MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH DAN SIG. Walbiden Lumbantoruan 1. Abstrak

BAB IV METODE PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. permukaan lahan (Burley, 1961 dalam Lo, 1995). Konstruksi tersebut seluruhnya

PENGGUNAAN SISTIM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PEMETAAN TINGKAT RAWAN BANJIR DI KABUPATEN BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. x, No. x, (2014) ISSN: xxxx-xxxx (xxxx-x Print) 1

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lahan dan Penggunaan Lahan Pengertian Lahan

Gambar 4.15 Kenampakan Satuan Dataran Aluvial. Foto menghadap selatan.

III. BAHAN DAN METODE

Model Data Spasial. by: Ahmad Syauqi Ahsan

INTEGRASI SPASIAL SISTEM DINAMIK UNTUK ANALISIS PERUBAHAN POLA ALIRAN SUNGAI DAN DAERAH GENANGAN DI PANTAI SURABAYA SIDOARJO

III METODOLOGI. 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

3/17/2011. Sistem Informasi Geografis

III. BAHAN DAN METODE

Tujuan. Model Data pada SIG. Arna fariza. Mengerti sumber data dan model data spasial Mengerti perbedaan data Raster dan Vektor 4/7/2016

III. BAHAN DAN METODE

Pengertian Sistem Informasi Geografis

III. BAHAN DAN METODE

BAB I PENDAHULUAN. yang mempunyai peluang pasar dan arti ekonomi cukup baik. digunakan untuk pertanian dan perkebunan. Dinas Pertanian adalah sebuah

III. METODOLOGI. Gambar 2. Peta Orientasi Wilayah Penelitian. Kota Yogyakarta. Kota Medan. Kota Banjarmasin

1. BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Pengantar Teknologi. Informasi (Teori) Minggu ke-11. Geogrphical Information System (GIS) Oleh : Ibnu Utomo WM, M.Kom UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

BAB III METODE PENELITIAN

SISTEM INFORMASI SUMBERDAYA LAHAN (Kuliah ke 12)

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (S I G )

Sistem Infornasi Geografis, atau dalam bahasa Inggeris lebih dikenal dengan Geographic Information System, adalah suatu sistem berbasis komputer yang

RELASIONAL PENGINDERAAN JAUH DENGAN PEMETAAN PENGADAAN TANAH JALAN TOL TRANS JAWA

APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PEMETAAN DAERAH RAWAN BANJIR DI KOTA MALANG

III. METODE PENELITIAN

Penggunaan Data Landsat TM dan SRTM untuk Deteksi Rawan Banjir di DAS Bengawan Solo

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PREDIKSI PENGGUNAAN DAN PERUBAHAN LAHAN MENGGUNAKAN CITRA IKONOS MULTISPEKTRAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisa Pantauan dan Klasifikasi Citra Digital Remote Sensing dengan Data Satelit Landsat TM Melalui Teknik Supervised Classification

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MENGANALISIS GENANGAN AIR HUJAN

METODE. Waktu dan Tempat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Pemanfaatan Citra Landsat Untuk Klasifikasi Tutupan Lahan Lanskap Perkotaan Kota Palu

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.59/Menhut-II/2013 TENTANG TATA CARA PENETAPAN BATAS DAERAH ALIRAN SUNGAI

Sistem Informasi Geografis. Widiastuti Universitas Gunadarma 2015

Pembangunan Basis Data Guna Lahan Kabupaten Bengkalis

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Banjir 2.2 Tipologi Kawasan Rawan Banjir

BAB 11: GEOGRAFI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI

INFORMASI GEOGRAFIS DAN INFORMASI KERUANGAN

BAB III METODE PENELITIAN

q Tujuan dari kegiatan ini diperolehnya peta penggunaan lahan yang up-to date Alat dan Bahan :

Evaluasi Ketelitian Luas Bidang Tanah Dalam Pengembangan Sistem Informasi Pertanahan

Pengantar Sistem Informasi Geografis O L E H : N UNUNG P U J I N U G R O HO

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Masyarakat Adat Kasepuhan

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 8. SUPLEMEN PENGINDRAAN JAUH, PEMETAAN, DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)LATIHAN SOAL 8.3.

Analisa Perubahan Tutupan Lahan di Waduk Riam Kanan dan Sekitarnya Menggunakan Sistem Informasi Geografis(SIG) dan data citra Landsat

METODOLOGI PENELITIAN

Karena tidak pernah ada proyek yang dimulai tanpa terlebih dahulu menanyakan: DIMANA?

BAB III METODOLOGI 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan

RINGKASAN PROGRAM PENELITIAN HIBAH BERSAING TAHUN ANGGARAN TAHUN 2013

KESESUAIAN LAHAN TAMBAK GARAM MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SAMPANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Gambar 1. Peta DAS penelitian

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (XXXX) ISSN: XXXX-XXXX (XXXX-XXXX Print) 1

- Sumber dan Akuisisi Data - Global Positioning System (GPS) - Tahapan Kerja dalam SIG

Pemetaan Perubahan Garis Pantai Menggunakan Citra Penginderaan Jauh di Pulau Batam

BAB I PENDAHULUAN. penduduk akan berdampak secara spasial (keruangan). Menurut Yunus (2005),

dalam ilmu Geographic Information (Geomatics) menjadi dua teknologi yang

Oleh : Hernandi Kustandyo ( ) Jurusan Teknik Geomatika Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Gambar 7. Lokasi Penelitian

BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Geogrhafic Information System (GIS) 2. Sejarah GIS

TINJAUAN PUSTAKA. Secara geografis DAS Besitang terletak antara 03 o o LU. (perhitungan luas menggunakan perangkat GIS).

LAPORAN PROYEK PENGINDERAAN JAUH IDENTIFIKASI PENGGUNAAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN HIRARKI DI KOTA BATU

APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN GIS UNTUK PENENTUAN LOKASI TPA SAMPAH DI KOTA SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard km 3 : 97,5% adalah air

ANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN KABUPATEN TOBA SAMOSIR SKRIPSI. Oleh : PUTRI SINAMBELA /MANAJEMEN HUTAN

Transkripsi:

FLOOD STUDY ANALYSIS USING GIS TECHNOLOGY IN DISTRICT BOJONEGORO Anna Rosytha, M. Taufik Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surabaya Jl. Sutorejo No.59, Surabaya, Surabaya ABSTRACT The incidence of floods in Bojonegoro is common every year during the rainy season, flood events that cause terendamnya thousands of hectares of agricultural land and thousands of homes, flooding that occurred in Bojonegoro caused by the overflow of the Bengawan Solo river, causing flash flooding because the river upstream is derived of limestone mountains south high rainfall. Given the flood events causing substantial losses, the need for a study to analyze the potential of the region is prone to flooding in Bojonegoro. Determination zone flood-prone areas using Landsat ETM 7 integration and Map RBI produce land cover information, road networks, river networks, and Digital Elevation Model (DEM). The data is combined with historical data to produce maps of flood runoff flooding. Furthermore, the GIS analysis, the overlay data and network analyst, can be made map visualization runoff and rainwater so it can be seen the extent and causes of the flooding. Keywords: Flood, Landsat ETM 7, DEM and GIS A. PENDAHULUAN Menurut Lillesand dan Kiefer 1979, penginderaan jauh adalah suatu ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah atau fenomena dengan jalan menganalisa data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah atau gejala yang dikaji Kedua metode tersebut, baik penginderaan jauh maupun SIG merupakan alat atau tools yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti: perikanan dengan melihat temperatur permukaan laut (Sea Surface Temperature/SST), kebakaran hutan dengan memantau titik-titik api, dunia perpajakan dan asuransi dengan menghitung zona-zona pelanggan, pemantauan distribusi pipa PDAM, dan masih banyak lagi. Salah satu kegunaan penginderaan jauh dan SIG adalah menduga daerah rawan banjir. Penentuan zona daerah rawan banjir menggunakan satelit penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dilakukan dengan memadukan antara fenomena banjir dan kemampuan data satelit citra. Adanya suatu sistem yang dapat terintegrasi dan tersusun dalam suatu SIG secara digital. Aplikasi SIG Sedangkan pengertian Sistem Informasi Geografis menurut Aronoff, 1992 sebagai: seperangkat kerja baik secara manual maupun didukung oleh piranti komputer untuk melakukan koleksi, menyimpan, mengelola, serta menyajikan data dan informasi yang bergeoreferensi untuk tujuan tertentu. Dari sini tampak bahwa data yang diolah dalam metode SIG haruslah mengacu pada sistem koordinat tertentu. yang dilakukan menggunakan ekstensi Tiga Dimensi (3D) Analyst yang terdapat dalam software ArcView 3.3, ekstensi 3D Analyst digunakan untuk menggambarkan relief permukaan bumi dengan pemodelan Digital Elevation Model (DEM). Sedangkan pemilihan daerah penelitian, yakni Kabupaten Bojonegoro dikarenakan oleh meluapnya Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo Hulu dan DAS Kali Madiun. Kabupaten Bojonegoro berpotensi terjadi banjir bandang karena hulu sungai tersebut berasal dari pengunungan kapur selatan yang curah hujannya tinggi.. Mengingat kejadian banjir mengakibatkan kerugian yang besar maka perlu adanya kajian untuk menganalisa potensi rawan banjir di wilayah Kabupaten Bojonegoro. B. DASAR TEORI Pada penelitian ini, ada tiga jenis data yang digunakan, yakni citra satelit Landsat 37

ETM7 sebagai data raster, peta RBI Tahun 1999 dan tematik sebagai data vektor, dan data curah hujan sebagai data tabular. 1. Pengolahan Citra Satelit Citra satelit yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Landsat ETM 7 (Enhanced Thematic Mapper 7) tahun 2009 untuk daerah Bojonegoro dan sekitarnya. Dari pengolahan didapatkan klasifikasi tutupan lahan berupa: tambak, sungai, sawah (irigasi dan tadah hujan), dan permukiman (padat dan renggang), industri, kebun dan lahan kosong. 2. Digital Elevation Model (DEM) DEM adalah data digital yang menggambarkan geometri dari bentuk permukaan bumi atau bagiannya yang terdiri dari himpunan titik titik koordinat hasil sampling dari permukaan dengan algoritma yang mendefinisikan permukaan tersebut menggunakan himpunan koordiat (Tempfli, 1991). DEM merupakan suatu system, model, metode, dan alat dalam mengumpulkan, prosessing dan penyajian informasi medan. Susunan nilai nilai digital yang mewakili distribusi spasial dari karajteristik medan, distribusi spasial di wakili oleh nilai system koordiat horizontal XY dan karakteristik medan diwakili oleh ketinggian medan dalam system koordinat Z (Frederic J. Doyle, 1991). DEM khususnya digunakan unruk menggambarkan relief medan. Gambaran model relief rupabumi tiga deimensi (3-Dimensi) yang menyerupai keadaan sebenarnya di dunia nyata (Real world) divisualisasikan dengan bantuan teknologi computer grafis dan teknologi virtual reality (Mogal, 1993). Visualisasi DEM dibangun dengan menggunakan aplikasi software 3D Analyst berbasis SIG seperti ArcView 3.3. 3. Sistem Informasi Geografis Dalam sistem pengolahan citra digital, pemanfaatan SIG secara terpadu digunakan untuk memperbaiki hasil klasifikasi. Dengan demikian peranan teknologi SIG dapat diterapkan untuk operasionalisasi penginderaan jauh. Secara teknis SIG mengorganisasikan dan memanfaatkan data dari peta digital yang tersimpan dalam basis data. Dalam SIG, dunia nyata dijabarkan dalam data peta digital yang 38 menggambarkan posisi dari ruang, dari klasifikasi, atribut data, dan hubungan antar item data. Kerincian data dalam SIG ditentukan oleh besarnya satuan pemetaan terkecil yang dihimpun dalam basis data. Sedangkan dalam bahasa pemetaan kerincian itu tergantung dari skala peta dan dasar acuan geografis yang disebut sebagai peta dasar (Budiman, 1999 : 4 ) Dalam metodologi SIG tampak bahwa data yang dioleh dalam metode SIG haruslah mengacu pada system koordinat tertentu. Secara garis besar, metodologi Sistem Informasi geografis dapat dilihat pada bagan berikut : Gambar 1. Metodologi SIG Adapun kegunaan SIG adalah : a. Visualisasi Informasi, yaitu bentuk penyajian informasi melalui penglihatan. Semua informasi yang divisualisasikan dapat dilihat, diinterpretasi, dan selanjutnya dianalisa. b. Pengorganisasian Informasi, yaitu penyampian informasi menurut hubungan yang logis. Dalam SIG, data diatur secara keruangan (spasial) c. Pengkombinasian informasi, yaitu untuk mengintegrasikan data yang terkadang berasal dari sumber berbeda dalam skala, system proyeksi serta cara penyimpanan. d. Analisa Informasi, yaitu mempelajari dan menginterpretasi data/informasi yang telah diproses untuk keperluan tertentu.

4. Limpasan Permukaan (Surface Runoff). Air hujan yang turun ke bumi mengalami siklus hidrologi yaitu penguapan (evapotranspirasi), penyerapan oleh tanah (infiltrasi), dan limpasan permukaan bumi (surface run off). Limpasan diidefinisikan bagian air yang mengalir diatas permukaan tanah. Genangan didefinisikan endapan air yang tidak mengalirkan limpasannya ke saluran pembuangan. 5. Faktor Yang Mempengaruhi Limpasan Jenis Presipitasi Jenis Presipitasi ada dua yaitu hujan dan salju. Intensitas Curah Hujan Intensitas curah hujan adalah besarnya curah hujan per satuan waktu. Lamanya Curah Hujan Jika lama curah hujan lebih pendek, maka limpasan akan sama dan tidak tergantung pada intensitas curah hujan. Dan jika curah hujan lebih panjang, maka limpasan permukaan akan lebih panjang. Distribusi Curah Hujan Dalam daerah Pengaliran Debit curah hujan dapat mempengaruhi debit puncak, yaitu daerah pengaliran yang luas dengan distribusi hujan merata mengakibatkan debit maksimum. Arah pergerakan hujan. Curah hujan bergerak sepanjang sistem aliran sungai yang mempengaruhi debit puncak dan limpasan permukaan. Kelembaban tanah. Kadar kelembaban tanah berpengaruh terhadap kapasitas infiltrasi dimana tanah yang lembab yang menyebabkan limpasan yang semakin besar. Kelembaban tanah. Kadar kelembaban tanah berpengaruh terhadap kapasitas infiltrasi dimana tanah yang lembab yang menyebabkan limpasan yang semakin besar. Kondisi meteorologi yang lain. C. METODOLOGI PENELITIAN Untuk mempermudah pemahaman terhadap langkah-langkah (prosedur) penelitian, berikut disajikan diagram alir pengolahan data (gambar 1). Hasil akhir yang diharapkan dari penelitian adalah berupa peta genangan wilayah Studi. Gambar 2. Metodologi Penelitian Penjelasan Flowchart pengolahan Data. 1. Peta Rupa Bumi (RBI) Indonesia a. Digitasi Melakukan digitasi peta RBI Kabuapten Bojonegoro. Proses digitasi meliputi : Peta Kontur. Peta kontur adalah peta yang memberikan informasi tentang koordinat secara tiga dimensi (x,y,z) dari setiap titik pada permukaan daerah Lamongan. Interval kontur 12.5 meter. Peta Jaringan Sungai. Peta Jaringan Sungai adalah peta yang memberikan informasi jaringan sungai sehingga dapat diketahui aliran air sungai tersebut. Di samping itu juga memberikan informais tentang badan air dan batas laut. Peta Administrasi. Peta Administrasi adalah peta yang memberikan informasi batas wilayah antar satu wilayah dengan wilayah yang 39

lain. Batas wilayah berupa batas desa, batas kecamatan, dan batas kabupaten. 2. Citra Landsat TM7 (Terkoreksi) a. Pemotongan Citra. Proses pemotongan citra (cropping) bertujuan untuk mendapatkan citra digital yang hanya meliputi daerah penelitian sehingga pemrosesan data menjadi lebih efektif. Proses pemotongan citra secara sederhana dilakukan dengan menampilkan citra berdasarkan masukan koordinat geografis yang membatasi daerah penelitian. b. Penajaman. Penajaman citra ini didasarkan pada pemetaan kembali tingkat kepekatan dalam suatu citra setelah mengalami perubahan (transformasi), dan bentuk transformasi ini tergantung pada kriteria yang dipilih. Adapun lingkup operasi peningkatan mutu citra yaitu peningkatan kontras, potongan kepekatan, peningkatan ketajaman tepi, peningkatan warna, menonjolkan obyek utama. Penajaman citra bertujuan untuk peningkatan mutu citra, yaitu menguatkan kontras kenampakan yang tergambar dalam citra digital. c. Klasifikasi. Klasifikasi citra secara digital merupakan proses pembagian pixel ke dalam kelas tertentu. Biasanya tiap pixel merupakan satu unit perpaduan nilai dari beberapa band spektral. Dengan membandingkan suatu pixel dengan pixel lainnya yang diketahui identitasnya, akan memudahkan untuk memasukkan kelompok yang memiliki pixel serupa ke dalam kelas yang cocok untuk kategori informasi yang diperlukan oleh pengguna data remote sensing. Klasifikasi citra bertujuan untuk mengelompokkan dan melakukan segmentasi terhadap kenampakkan kenampakkan yang homogen dengan menggunakan teknik kuantitatif. Klasifikasi citra yang dilakukan adalah klasifikasi terbimbing. Klasifiksi citra dibagi ke dalam beberapa kelas yaitu badan air, jalan, pemukiman, sungai, tambak, tanah, dan vegetasi. d. Digitasi Melakukan proses digitasi obyek sesuai dengan hasil klasifikasi obyek. Hasil digitasi tersebut menghasilkan peta : Peta Tata Guna Lahan Peta Tutupan Lahan adalah peta yang memberikan informasi wilayah sesuai dengan peruntukannya. Peta tutupan lahan diklasifikasi menjadi badan air, 40 jalan, pemukiman, sungai, tambak, tanah, dan vegetasi. Peta wilayah Limpasan dan Genangan Air Hujan Peta wilayah banjir adalah peta yang memberikan informasi wilayah yang terkena dampak dari limpasan dan genangan air hujan. 3. Pembuatan DEM DEM merupakan penggambaran relief bumi dengan sebuah model di dalam komputer. DEM akan menghasilkan model 3D dari permukaan di Kabupaten Bojonegoro. DEM diperoleh dari pengolahan peta kontur menggunakan aplikasi 3D analyst pada software ArcView 3.3. 4. Peta Dampak Limpasan dan Genangan Air Hujan Peta dampak limpasan dan genangan air hujan adalah overlay peta limpasan dangan genangan air hujan, peta jaringan sungai dengan peta administrasi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui limpasan dan genangan air hujan yang berdampak pada batas administrasi. 5. Peta Tata Guna Lahan Peta Limpasan dan Genangan Air Hujan Peta tata guna lahan limpasan dan genangan air hujan adalah overlay peta tata guna lahan dengan peta limpasan dan genangan air hujan dan peta administrasi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tata guna lahan pada area limpasan dan genangan air hujan. 6. Peta DEM - Limpasan dan Genangan Air Hujan Peta DEM limpasan dan genangan air hujan adalah overlay DEM dengan peta limpasan dan genangan air hujan dan peta administrasi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui ketinggian pada area limpasan dan genangan air hujan. 7. Peta Isohyet - Limpasan dan Genangan Air Hujan Peta isohyet limpasan dan genangan air hujan adalah overlay peta isohyet dengan peta limpasan dan genangan air hujan dan peta administrasi. Peta isohyet dibuat menggunakan data curah hujan rata-rata tahun 2000-2009. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tinggi curah hujan pada area limpasan dan genangan air hujan. 8. Analisa

a) Analisa peta limpasan dan genangan air hujan tentang luasan limpasan dan genangan air hujan. b) Analisa dari overlay peta administrasi dengan peta limpasan dan genangan air hujan untuk mengetahui limpasan dan genangan air hujan yang berdampak pada batas administrasi. c) Analisa dari overlay peta tata guna lahan dengan peta limpasan dan genangan air hujan untuk mengetahui tata guna lahan pada area limpasan dan genangan air hujan. d) Analisa overlay dari DEM dengan peta limpasan dan genangan air hujan. untuk mengetahui ketinggian pada area limpasan dan genangan air hujan. e) Analisa overlay peta isohyet dengan peta limpasan dan genangan air hujan. Peta isohyet digunakan data curah hujan ratarata tahun 2000-2009. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tinggi curah hujan pada area limpasan dan genangan air hujan. 9. Peta Visualisasi Limpasan dan Genangan Air Hujan dengan faktor Penyebab dan Dampaknya Peta visualisasi limpasan dan genangan air hujan dengan faktor penyebab dan dampaknya merupakan hasil overlay antara peta administrasi, peta jaringan sungai, peta limpasan dan genangan air hujan, peta tata guna lahan, DEM, peta isohyet. Peta tersebut yang mampu memberikan infromasi luasan, faktor penyebab, dan area dampak limpasan dan genangan air hujan. D. HASIL DAN DISKUSI 1. Pemotongan Citra Landsat TM7 Proses pemotongan citra (cropping) dilakukan pada daerah Bojonegor yang dilalui oleh sungai Bengawan Solo. Pemotongan dapat dilakukan dengan menggunakan menu map computation / annotation pada ER Mapper 7.0 Gambar 3. Hasil Pemotongan Citra Landsat TM7 Kabupaten Bojonegoro 2. Penajaman Citra Penajaman Citra Landsat TM7 akan dilakukan dengan meningkatkan kontras warna dan cahaya dari suatu citra sehingga memudahkan untuk interpretasi dari analisis citra. Pada penajaman citra kali ini dilakukan dengan menggunakan modifikasi histogram. Histogram adalah suatu tampilan grafik dari distribusi frekuensi relatif dalam suatu dataset. Suatu kotak analog transformasi akan menampilkan histogram data masukan dan data keluaran setelah ditransformasi dan garis transformasi. Gambar 4. Penajaman dengan histogram 3. Klasifikasi Citra Pada citra Landsat TM7 terkoreksi di daerah Kabupaten Bojonegoro terdapat streapping yang tidak begitu menghambat proses klasifikasi karena ketika proses klasisifikisi dilakukan, di orientasikan menggunakan peta RBI Kabupaten Bojonegoro. 41

Klasifikasi yang dilakukan pada citra Landsat TM7 menggunakan klasifikasi visual. Hasil dari klasifikasi citra Landsat TM7 yaitu berupa Peta tutupan lahan yang diklasifikasi menjadi 8 kelas yaitu : a) Sungai b) Pemukiman c) Badan Air d) Jalan e) Vegetasi f) Tanah g) Tambak h) Awan Tabel 1. Jenis dan luas area tutupan lahan No Jenis Tutupan Lahan Area (Ha) Area (%) 1. Sungai 74119.68 8,47% 2. Pemukiman 90316.71 10,32% 3. Badan Air 9987.48 1,14% 4. Jalan 67695.21 7,74% 5. Vegetasi 294101.73 33,61% 6. Tambak 89.55 0,01% 7. Tanah 338287.86 38,66% 8. Awan 500.85 0,06% 4. Pembuatan DEM Peta kontur dibuat dari Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1 : 25.000. Kontur dibuat dengan menghubungkan titik ketinggian yang sama. Dengan skala 1 : 25.000, peta kontur memiliki interval 12.5 meter. Peta kontur dikonversikan menjadi jaringan-jaringan segitiga yang di kenal dengan Triangulated Irregular Network (TIN). TIN adalah model data vektor berbasiskan topologi yang digunakan untuk mempresentasikan data permukaan bumi atau model permukaan digital (Prahasta,2001). Hasil TIN di buat menjadi sebuah pemodelan yang di kenal dengan DEM. Pembuatan DEM dikelompokkan menjadi dua yaitu DEM di daerah limpasan dan genangan air hujan dan DEM secara keseluruhan pada Kabupaten Bojonegoro. Kedua DEM tersebut memiliki ketinggian yang sama yaitu 0-175 m. DEM diklasifikasi menjadi 14 kelas dengan interval 12.5 m. Berikut ini DEM Sepanjang Sungai Bengawan Solo Kabupaten Bojonegoro, dan DEM Kabupaten Bojonegoro. Total 875099,07 100% Gambar 5. Peta Tata Guna Lahan Kabuapten Bojonegoro Gambar 6. Hasil DEM Kabuapten Bojonegoro 5. Peta Limpasan dan Genangan Air Hujan Peta dampak limpasan dan genangan air hujan adalah overlay peta limpasan dan genangan air hujan dengan peta jaringan sungai, dan peta administrasi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui limpasan dan genangan air hujan yang berdampak pada batas administrasi. 42

Gambar 7. Peta Limpasan dan Genangan di kabupaten Bojonegoro E. KESIMPULAN 1. Terjadinya genangan air disebabkan oleh banyak faktor, antara lain faktor alamiah dan faktor tindakan manusia. Faktor alamiah, diindikasikan oleh curah hujan yang tinggi, topografi suatu daerah dan kondisi alam daerah itu (jenis tanah, bentuk aliran sungai, dsb). Sedangkan faktor tindakan manusia antara lain: perubahan tata guna lahan akibat penggundulan hutan (deforestasi) dan perluasan kota. 2. Faktor penyebab area limpasan dan genangan air hujan disebabkan oleh vegetasi dalam jumlah sedikit di sepanjang Sungai Bengawan Solo, ketinggian yang relatif sangat rendah yaitu 0-12.5 meter. F. DAFTAR PUSTAKA 1. Atang, Ramadhany. 2007, Analisa Perbandingan Penggunaan Software Autodesk Land Destop 2004 Dengan Terramodel 9.6 Untuk pengolahan data Topografi. Program Studi Teknik Geodesi ITS. Surabaya. 2. Benyamin Lakitan. 1991, Dasar dasar Klimatologi, Raja Grafindo Persada, Jakarta. 3. Hardaningrum, Farida. 2005, Pemanfaatan Penginderaan jauh Dan Sistem Informasi geografis Untuk Analisa Limpasan Air Hujan di Kabupaten Sidoarjo. Program Studi Magister Teknik Sipil Bidang Keahlian Penginderaan jauh ITS. Surabaya. 4. Hardika, Erwin. 2006, Estimasi daerah Rawan Banjir Menggunakan Metode Pendekatan Topographic Wetness Index, http://www.bpdastondano.net/file.upload/ karyailmiah / rawanbencana banjir.htm. Dikunjungi pada tanggal 15 Juni 2009. 5. Hardiyanti, Sri P, Interpretasi Citra Digital, PT.Grassindo press, Bandung. 6. Jawa Timur Dalam Angka 2007, (01-9- 2007), BPS Propinsi Jawa Timur. 7. Jensen, J.R., 1996, Introductory Digital Image Processing : A Remote Sensing Persepective Second Edition, Prentice hall Inc., New Jersy. 8. Lillesend, M.T. and Kiefer, R.W. 1987. Remote Sensing and Image Interpretation. 2 ed. John Wiley and Sons. Canada. P:721. 9. Linsley JR, Ray K, Kohler, Max A dan Paulhus, Joseph L.H, (1982), Hidrologi untuk Insinyur, Terjemahan, Edisi ketiga, Erlangga, Jakarta. 10. Pohl, 1996, Communication-Driven Alignment of Sparse Data Structures - An Approach Towards Algebraic Mapping, RWC [2 citations 1 self]. 11. Pohl, C., 1996, Geometric Aspects of Multisensor Image Fusion for Topographic Map Uploading In The Humid Tropics, Ph.D., Dissertation, ITC., Publication No. 39, ITC. 12. Prahasta Eddy, 2006, praktis penginderaan jauh & pengolahan citra dijital dengan perangkat lunak ER Mapper, Informatika, Bandung. 13. Prahasta Eddy, 2001, Sistem informasi geografis, Informatika press, Bandung, 2001. 14. Sabins, F.F.Jr., 1986, Remote Sensing Principles and Interpretation Second Edition W.H. Freeman and Co., Sanfransisco. 15. Tempfli, K. (1991) DTM and differential modelling. In: Proceedings ISPRS and OEEPE joint workshop on updating digital data by photogrammetric methods, September 15-17 1991, Oxford, England / ed. by P.R.T. Newby. - (OEEPE publication ; 27), pp. 193-200. 16. Wilson, E.M., (1993), Hidrologi Teknik, Terjemahan, Edisi keempat, ITB, Bandung. 17. Wolf, P.R., 1983, Elements of Photogrammetry : With Air Photo Interpretation and Remote Sensing, 2 nd Edition, McGrow-Hill Book Company. 43