ABSTRAK Faris Afif.O,

dokumen-dokumen yang mirip
STUDI PERENCANAAN BANGUNAN UTAMA EMBUNG GUWOREJO DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BAKU DI KABUPATEN KEDIRI

I. PENDAHULUAN. Kata kunci : Air Baku, Spillway, Embung.

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) ISSN: Perencanaan Embung Bulung Kabupaten Bangkalan

PERENCANAAN TUBUH EMBUNG ROBATAL, KECAMATAN ROBATAL, KABUPATEN SAMPANG

Perencanaan Embung Gunung Rancak 2, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang

Perencanaan Embung Gunung Rancak 2, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang

4.6 Perhitungan Debit Perhitungan hidrograf debit banjir periode ulang 100 tahun dengan metode Nakayasu, ditabelkan dalam tabel 4.

PERENCANAAN TUBUH EMBUNG BULUNG DI KABUPATEN BANGKALAN TUGAS AKHIR

Perencanaan Embung Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep

PERENCANAAN EMBUNG KEDUNG BUNDER KABUPATEN PROBOLINGGO AHMAD NAUFAL HIDAYAT

PERENCANAAN TUBUH EMBUNG GADDING KECAMATAN MANDING, KABUPATEN SUMENEP TUGAS AKHIR

PERENCANAAN BENDUNGAN PAMUTIH KECAMATAN KAJEN KABUPATEN PEKALONGAN BAB III METODOLOGI

PERENCANAAN EMBUNG MANDIRADA KABUPATEN SUMENEP. Oleh : M YUNUS NRP :

BAB III METODOLOGI. Gambar 3.1 Diagram Alir Penyusunan Tugas Akhir

PERENCANAAN EMBUNG BLORONG KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH. Muhammad Erri Kurniawan, Yudha Satria, Sugiyanto *), Hari Budieny *)

BAB VII PENELUSURAN BANJIR (FLOOD ROUTING)

PERENCANAAN STRUKTUR BENDUNGAN BANDUNGHARJO DESA BANDUNGHARJO - KECAMATAN TOROH KABUPATEN GROBOGAN

I. PENDAHULUAN. Redesain Bendungan Way Apu Kabpaten Buru Provinsi Maluku


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN I-1

Identifikasi Debit Banjir, Desain Teknis dan Kontrol Stabilitas Bendung Pengelak Banjir ABSTRAK

BAB III METODOLOGI. Dalam pengumpulan data untuk mengevaluasi bendungan Ketro, dilakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait, antara lain :

PERENCANAAN EMBUNG SEMAR KABUPATEN REMBANG. Muchammad Chusni Irfany, Satriyo Pandu Wicaksono, Suripin *), Sri Eko Wahyuni *)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI. Setiap perencanaan akan membutuhkan data-data pendukung baik data primer maupun data sekunder (Soedibyo, 1993).

BAB III METODOLOGI MULAI IDENTIFIKASI MASALAH PENGUMPULAN DATA PENENTUAN LOKASI EMBUNG

TUGAS AKHIR ANALISIS ROUTING ALIRAN MELALUI RESERVOIR STUDI KASUS WADUK KEDUNG OMBO

KAJIAN HIDROLIS RUNTUHNYA EMBUNG JOHO DI KECAMATAN SEMEN KABUPATEN KEDIRI

STUDI PERENCANAAN PELIMPAH EMBUNG KRUENG RAYA KELURAHAN KRUENG RAYA KECAMATAN MESJID RAYA KABUPATEN ACEH BESAR

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam Perencanaan Embung

PROYEK AKHIR PERENCANAAN TEKNIK EMBUNG DAWUNG KABUPATEN NGAWI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Air merupakan unsur yang sangat penting di bumi dan dibutuhkan

Identifikasi Debit Banjir, Desain Teknis dan Kontrol Stabilitas Bendung Pengelak Banjir ABSTRAK

BAB III TINJAUAN DAERAH STUDI

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Tinjauan Umum

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan vital setiap makhluk hidup. Dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan Embung Logung Dusun Slalang, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Tinjauan Umum

ANALISA STABILITAS TUBUH EMBUNG SUMBERURIP KECAMATAN BERBEK KABUPATEN NGANJUK MENGGUNAKAN SOFTWARE GEO-STUDIO

PERENCANAAN BANGUNAN PELIMPAH UTAMA BENDUNGAN LAWE-LAWE DI KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

Feasibility Study Pembangunan Embung Taman Sari dan Sumber Blimbing, Kecamatan Licin Kabupaten Banyuwangi

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENYEDIAAN AIR BAKU DAN PENGENDALIAN BANJIR DI KAWASAN KOTA PAMEKASAN DAN SEKITARNYA

PERENCANAAN EMBUNG GUNUNG RANCAK 2, KECAMATAN ROBATAL, KABUPATEN SAMPANG

BAB III METODOLOGI III-1

METODOLOGI BAB III III Tinjauan Umum

BAB I PENDAHULUAN. Bab I Pendahuluan 1.1. LATAR BELAKANG

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Diagram Alir pola perhitungan dimensi hidrolis spillway serbaguna

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

STUDI PENANGGULANGAN BANJIR KAWASAN PERUMAHAN GRAHA FAMILY DAN SEKITARNYA DI SURABAYA BARAT

BAB I PENDAHULUAN I-1

PERENCANAAN EMBUNG KENDO KECAMATAN RASANAE TIMUR KABUPATEN BIMA NTB

Perencanaan Sistem Drainase Perumahan Grand City Balikpapan

PERENCANAAN EMBUNG KERSULO KABUPATEN PATI JAWA TENGAH

Studi Penanggulangan Banjir Kali Lamong Terhadap Genangan Di Kabupaten Gresik

ANALISIS DEBIT BANJIR RANCANGAN BANGUNAN PENAMPUNG AIR KAYANGAN UNTUK SUPLESI KEBUTUHAN AIR BANDARA KULON PROGO DIY

BAB IV ANALISIS HIDROLOGI

BAB III METODOLOGI. dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban.

STUDI SIMULASI POLA OPERASI WADUK UNTUK AIR BAKU DAN AIR IRIGASI PADA WADUK DARMA KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT (221A)

Studi Penanggulangan Banjir Kali Lamong Terhadap Genangan di Kabupaten Gresik

PERENCANAAN DETAIL EMBUNG UNDIP SEBAGAI PENGENDALI BANJIR PADA BANJIR KANAL TIMUR

PERENCANAAN BENDUNGAN BENER KABUPATEN PURWOREJO. Claudia Ratna KD, Dwiarta A Lubis Sutarto Edhisono, Hary Budieni

PERENCANAAN EMBUNG SIDOMULIH KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH

Bab III Metodologi Analisis Kajian

BAB I PENDAHULUAN. daya alam yang sangat besar terutama potensi sumber daya air. Pelaksanaan

Bab 1 Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Mojokerto, Gresik dan Kodya Surabaya, Propinsi Jawa Timur. DAS Lamong

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

PERENCANAAN EMBUNG ROBATAL KABUPATEN SAMPANG

PERENCANAAN EMBUNG PARAS KABUPATEN BOYOLALI JAWA TENGAH

PENELUSURAN BANJIR MENGGUNAKAN METODE LEVEL POOL ROUTING PADA WADUK KOTA LHOKSEUMAWE

PERENCANAAN EMBUNG TAMANREJO KECAMATAN SUKOREJO, KABUPATEN KENDAL. Bachtiar Khoironi Wibowo, Arvie Narayana, Abdul Kadir *), Dwi Kurniani *)

BAB II DASAR TEORI 2.1 Perhitungan Hidrologi Curah hujan rata-rata DAS

EVALUASI KEAMANAN PELIMPAH BENDUNGAN PRIJETAN MENGGUNAKAN APLIKASI PLAXIS 8.2.

Mahasiswa Teknik Pengairan, 2 Dosen Teknik Pengairan -,

BAB IV HASIL DAN ANALISIS. menyimpan semua atau sebagian air yang masuk (inflow) yang berasal dari

Bab IV Analisis Data

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

Kolam Retensi (Retarding Basin) Sebagai Alternatif Pengendali Banjir Dan Rob.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DAN KERUSAKAN HUTAN TERHADAP KOEFISIEN PENGALIRAN DAN HIDROGRAF SATUAN

PERENCANAAN SISTEM DRAINASE SEGOROMADU 2 GRESIK

3 BAB III METODOLOGI

KAJIAN PENGEMBANGAN SUMUR RESAPAN AIR HUJAN

STUDI PERENCANAAN EMBUNG LONDO DENGAN MEMANFAATKAN ALUR SUNGAI SEBAGAI TAMPUNGAN MEMANJANG DI DESA BANYUURIP KECAMATAN KALIDAWIR KABUPATEN TULUNGAGUNG

BAB I PENDAHULUAN. menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian.

PERENCANAAN EMBUNG TAMANREJO KECAMATAN SUKOREJO, KABUPATEN KENDAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tinjauan Umum 1.2 Latar Belakang

PERSYARATAN JARINGAN DRAINASE

Perencanaan Sistem Drainase Pada Sungai Buntung Kabupaten Sidoarjo ABSTRAK:

PETA SUNGAI PADA DAS BEKASI HULU

BAB I PENDAHULUAN. siklus hidrologi dengan mengembalikan limpasan sungai ke laut.

Bab 3 Metodologi III TINJAUAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Umum. Bendung adalah suatu bangunan yang dibangun melintang sungai

Transkripsi:

ABSTRAK Faris Afif.O, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, November 2014, Studi Perencanaan Bangunan Utama Embung Guworejo Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Dosen Pembimbing : Ir. Pudyono, MT dan Dr. Eng. Alwafi P, ST, MT. Embung Guworejo direncanakan dibangun di desa Guworejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kabupaten Kediri adalah salah satu daerah di Privinsi Jawa Timur dengan perkembangan yang cepat baik dari pertambahan jumlah penduduk maupun dalam pertumbuhan pertanian dan ekonomi. Namun perkembangan tersebut masih menemui hambatan-hambatan yang dapat mengganggu jalannya proses tersebut, yaitu adanya permasalahan kekurangan air pada saat musim kemarau untuk kebutuhan irigasi dan permasalahan banjir pada musim penghujan. Salah satu upaya dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan membangun embung (bendungan) yang dapat memberikan solusi pemanfaatan air permukaan dari daerah hulu yang dapat berfungsi sebagai tampungan air pada saat musim penghujan. Dalam kajian ini dilakukan analisis perencanaan tubuh utama embung, stabilitas rembesan, stabilitas lereng dan simulasi embung tersebut. Analisis perencanaan tubuh utama embung dilakukan guna mengetahui dimensi embung yang akan direncanakan tersebut. Perhitungan stabilitas rembesan dilakukan guna mengidentifikasi faktor kehilangan air melalui tubuh embung, sedangkan stabilitas lereng dilakukan guna mengidentifikasi faktor keamanan tubuh embung dari bidang longsor yang potensial pada bagian hulu dan hilir. Dan simulasi embung adalah untuk mengetahui apakah embung tersebut layak dibangun atau tidak. Berdasarkan hasil desain tubuh embung sesuai dengan data penunjang yang didapat, maka didapatkan bahwa tubuh embung Guworejo aman terhadap bahaya yang mungkin ditimbulkan pada bendungan dan sesuai dengan hasil simulasi embung tersebut, embung Guworejo layak dibangun karena dapat menyalurkan ketersediaan air untuk kebutuhan irigasi. Kata Kunci Bendungan. : Bendungan Urugan, Simulasi Waduk, Stabilitas Rembesan, Stabilitas Tubuh

PENDAHULUAN Desa Tarokan Kecamatan Tarokan berada di Kabupaten Kediri. Desa tersebut di atas merupakan sebagian dari desa-desa di daerah Kabupaten Kediri yang banyak mengalami masalah dan sangat membutuhkan kebutuhan air, misalnya pada saat musim kemarau banyak desa yang kekurangan air. Oleh karena itu pada saat musim penghujan air akan ditampung agar pada saat musim kemarau air yang ditampung tersebut dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan, misalnya untuk kebutuhan air bersih, irigasi dan sebagainya. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan bukan hanya fungsi dari embung tersebut tetapi juga harus diperhatikan keadaan topografi dan luas lahan yang direncanakan untuk menampung air dan kekuatan konstruksi yang menahan air pada ketinggian permukaan air pada embung tersebut. Bangunan utama untuk bangunan embung adalah suatu konstruksi bendungan yang dibangun melintang sungai sehingga terjadi kenaikan permukaan air serta tampungan air. Bangunan ini direncanakan dengan type tanah urugan homogen. Material yang akan digunakan diambil dari daerah sekitarnya. Penerapan elevasi puncak embung didasarkan pada tinggi air yang melimpah melalui ambang pelimpah ditambah tinggi jagaan. Embung Guworejo direncanakan menggunakan tipe konstruksi pelimpah langsung (overflow spillway wier type). Hal ini disebabkan kondisi topografi disekitar site cenderung kecil sehingga memungkinkan untuk menggunakan pelimpah overflow. Dalam kajian ini dicoba untuk menganalisis perencanaan tinggi bangunan utama yang layak dibangun. Pembuatan suatu embung memerlukan suatu pemikiran yang komplek dari segi teknis serta mempunyai persyaratan yang harus dipenuhi yaitu stabilitas konstruksi yang dipengaruhi oleh material pembentuk tubuh embung. Daerah aliran sungai Guworejo mempunyai luas sekitar 2.22 km2. Perencanaan Embung Guworejo digunakan untuk memenuhi kebutuhan irigasi, air minum, dan lain-lain pada musim kemarau, sehingga mampu meningkatkan intensitas tanam untuk lahan seluas 3.953,6 Ha. Maksud dari perencanaan embung ini adalah untuk menetukan desain embung yang layak dibangun secara teknis dan berfungsi guna menampung kelebihan air di musim hujan

dan dimanfaatkan atau didistribusikan pada saat dibutuhkan terutama untuk meningkatkan dan mengembangkan produksi pertanian dalam rangka mempertahankan swasembada pangan. Serta bertujuan untuk memberikan sumbangan pemikiran dan perencanaan embung, yang diharapakan dapat dipakai sebagai acuan. METODE PENELITIAN Lokasi perencanaan Embung Guworejo terletak pada sungai Guworejo, tepatnya di Dusun Guworejo, Desa Tarokan, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri Jawa Timur. Bedasarkan keadaan topografinya, daerah rencana pembuatan embung merupakan daerah perbukitan yang bergelombang dan bagian hulu sebagian besar merupakan daerah hutan dengan ketinggian berkisar antara 100 m sampai 150 m di atas permukaan laut. Embung Guworejo secara regional terletak pada zona pegunungan dan perbukitan. Kondisi topografi di sekitar site embung relative bergelombang. Daerah pengaliran sungainya juga tidak jauh berbeda relative bergelombang dan datar, hanya dibagian hulu yang agak curam. Daerah aliran sungai Guworejo mempunyai luas sekitar 2.22 km2. Perencanaan Embung Guworejo digunakan untuk memenuhi kebutuhan irigasi, air minum, dan lain-lain pada musim kemarau, sehingga mampu meningkatkan intensitas tanam untuk lahan seluas 3,953,6 Ha. Data-data yang dibutuhkan adalah sebagai berikut: a. Data Topografi b. Data Geologi c. Data Curah Hujan d. Data Klimatologi e. Data Sedimen HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Gambaran Umum Wilayah Studi Gambar 1. DAS Guworejo Tabel 1. Data Curah Hujan Tahunan Tahun Hujan (mm) 2011 85 2010 118 2009 60 2008 73 2007 110 2006 70 2005 114 2004 125 2003 100 2002 90

Gambar di atas merupakan wilayah studi pada penelitian ini. Daerah tersebut luas DAS-nya sebesar 2,22 Km² dan panjang sungainya sebesar 2,48 Km. 2. Analisa Jenis Sebaran Untuk menganalisa jenis sebaran digunakan metode Log Pearson III. Tabel 2. Hasil Perhitungan Log Pearson III No Tr G Log Xt Xt 1 1-2,6176 1,6806 47,9248 2 2 0,0666 1,9709 93,5277 3 5 0,8550 2,0562 113,8228 4 10 1,2304 2,0968 124,9800 5 25 1,6046 2,1373 137,1866 6 50 1,8319 2,1619 145,1792 7 100 2,0263 2,1829 152,0237 3. Distribusi Hujan Jam-jaman Data analisa stasiun hujan otomatis Sukodadi didapat distribusi hujan jam-jaman dengan metode Mononobe dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 3. Data Distribusi Hujan Jam-jaman Data Rasio Jam Distribusi Hujan Hujan Hujan (T) (mm) (%) 1 71 0,5299 52,99 2 52 0,3881 38,81 3 7 0,0522 5,22 4 2 0,0149 1,49 5 2 0,0149 1,49 Total 134 100 4. Perhitungan Debit Banjir Rencana Metode yang digunakan adalah metode Nakayasu. Hasilnya sebagai berikut. 15,000 10,000 Waktu (jam) 5,000 0,000 Gambar 2. Debit Bajir Rencana 50 Tahun 5. Analisa Kebutuhan Air Guworejo Kebutuhan air pada saat musim kemarau direncanakan untuk 25 tahun mendatang. Hasilnya yaitu volume air yang dibutuhkan pada tahun 2040 untuk embung Guworejo adalah 49.245 m³. Tabel 4. Kebutuhan Air Embung Guworejo 6. Penelusuran Banjir 15,104 0 2 4 6 Debit (m3/dt) Total Total Total Outflow Total Total Inflow Evapo Rembesan Bulan Hari Inflow Evapo Irigasi Air Baku Rembesan Outflow (hr) m3/dt m3 mm/hr m3 m3 m3 m3/hari m3 m3 1 2 7 8 9 10 13 14 15 16 17 Jul-2 10 0,0103 8873 3,404 421,689 1782 6686 7,08 70,8 8960 Jul-3 11 0,0052 4907 3,404 463,683 1055 7355 7,08 77,88 8951 Ags-1 10 0,0050 4320 4,744 583,725 1026 6686 7,08 70,8 8367 Ags-2 10 0,0050 4320 4,744 577,946 988 6686 7,08 70,8 8323 Ags-3 11 0,0050 4752 4,744 629,668 1697 7355 7,08 77,88 9760 Sep-1 10 0,0050 4320 5,274 625,661 2002 6686 7,08 70,8 9385 Sep-2 10 0,0050 4320 5,274 612,565 2431 6686 7,08 70,8 9801 Sep-3 10 0,0050 4320 5,274 596,743 2870 6686 7,08 70,8 10223 Okt-1 10 0,0050 4320 5,008 548,943 2768 6686 7,08 70,8 10074 Total 44452 83843 Penelusuran banjir di sini dianalisa jika fasilitas outlet yang ada adalah pelimpah. Debit inflow adalah debit banjir rencana dengan kala ulang 50 tahun. 16 Debit (m 3 /s) 8 0 Inflow Outflow 0,0 2,0 t (jam) 4,0 6,0 Gambar 3. Debit Inflow dan Outflow

7. Hasil Dimensi Embung Guworejo Karena disekitar daerah tersebut banyak tersedia tanah, maka embung Guworejo tersebut memakai type bendungan tanah urugan. Berikut hasil dimensi dari embung Guworejo, B = 6 m ± 145,00 ± 142,06 ± 142,06 ± 140,5 ± 140,50.1 : 2.1 : 2,5 H = 14 m ± 131 35 m 6 m 28 m Gambar 4. Dimensi Embung Guworejo Kondisi perhitungan pada Air Kosong Kondisi Air normal SF = 1,97 > 1,5 (aman) SF = 1,64 > 1,1 (aman) Kontrol Stabilitas Lereng Pada bagian Hilir Kondisi perhitungan pada Air Kosong Kondisi Air Normal SF = 1,59 > 1,5 (aman) SF = 1,31 > 1,1 (aman) 8. Stabilitas Lereng Embung Guworejo Lereng pada bagian hulu embung Guworejo kemiringannya 1 : 2,5. Dan pada bagian hilir kemiringannya 1 : 2. Berikut hasil dari faktor keamanan terhadap longsor pada lereng embung Guworejo. Kontrol Stabilitas Lereng Pada Bagian Hulu Kondisi perhitungan pada Air Maksimum Kondisi Air Normal SF = 1,66 > 1,5 (aman) SF = 1,37 > 1,1 (aman) Kondisi perhitungan pada Air Normal Kondisi Air Normal SF = 1,83 > 1,5 (aman) SF = 1,42 > 1,1 (aman) KESIMPULAN Dari hasil perhitungan perencanaan embung Guworejo dengan menggunakan dasar teori dan data yang diperoleh dari Balai Besar Wilayah Sungai Brantas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Tipe tubuh bangunan utama embung Guworejo yang direncanakan adalah tipe urugan tanah dengan pembagian zonal. 2. Dari penelusuran flood routing pada embung Guworejo diperoleh elevasi HWL sebesar +142,06 m. 3. Dari hasil perhitungan perencanaan embung Guworejo, diperoleh dimensi bangunan utama sebagai berikut:

- Elevasi puncak bangunan utama : +145,00 m - Elevasi HWL : +142,06 m - Elevasi dasar bangunan utama : +131,00 m - Tinggi bangunan utama : 14 m - Lebar puncak bangunan utama : 6 m - Kemiringan bagian hulu : 1 : 2,5 - Kemiringan bagian hilir : 1 : 2 4. Dari perhitungan stabilitas keamanan terhadap rembesan dan gempa terhadap stabilitas lereng, didapat bahwa tubuh bangunan utama embung Guworejo aman terhadap bahaya tersebut. 5. Dari hasil perhitungan simulasi waduk pada masa tanam padi-padi palawija simulasi tersebut berhasil. Maka, yang akan dipakai untuk kebutuhan irigasi di daerah aliran sungai Guworejo yaitu padi-padi palawija. kabupaten Kediri, maka penulis menyarankan pola tanam pada daerah aliran sungai tersebut yaitu padi-padi-palawija dan juga perlu adanya perencanaan ulang yang dapat memuat penggunaan material menjadi lebih efisien. Selain itu perlu adanya penelitian lagi guna memperbaiki data-data yang ada. Penggunaan tinjauan pustaka sebisa mungkin dimaksimalkan untuk menambah wawasan dan mempermudah dalam pengerjaan. DAFTAR PUSTAKA Soemarto, CD. 1999. Hidrologi Teknik. Surabaya : Usaha Nasional Sosrodarsono, S., Takeda, K., 1989. Bendungan Type Urugan. Jakarta : Pradnya Paramitha Soedibyo. 2003. Teknik Bendungan. Jakarta : Pradya Paramitha Das, Braja M. 1984. Mekanika Tanah (Prinsip-prinsip Rekayasa Geoteknis) jilid 2. Jakrta : PT. Erlangga SARAN Dari studi yang dilakukan pada perencanaan tubuh bangunan utama embung Guworejo