FAKTOR PENDUKUNG KERAJINAN BATU BATA DI KELURAHAN RAJABASA JAYA BANDAR LAMPUNG 2012 (JURNAL) Oleh: PERISTIANIKA

dokumen-dokumen yang mirip
METODOLOGI PENELITIAN. Untuk memperoleh hasil penelitian yang baik maka perlu adanya metode ilmiah,

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG BERDIRINYA INDUSTRI KERAJINAN ROTAN DI DESA CANDIMAS KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2013.

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Landasan teori merupakan suatu konsep mengenai cara yang akan digunakan

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG BERDIRINYA INDUSTRI KERAJINAN DARI BAHAN BAKU KAIN PERCA DI DESA SUKAMULYA

TINJAUAN GEOGRAFIS PT. KALIREJO LESTARI DI KAMPUNG KALIREJO KECAMATAN KALIREJO LAMPUNG TENGAH

METODE PENELITIAN. penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang

KEADAAN SOSIAL EKONOMI KELUARGA PETANI SAWAH TADAH HUJAN DI DESA BALINURAGA TAHUN 2016 (JURNAL) Oleh PUTU NILAYANTI

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. pendapat para ahli yang berkaitan dengan variabel-variabel penelitian. Geografi

BAB IV PEMBAHASAN. a. Letak, Luas, dan Batas Daerah Penelitian. geografis berada di koordinat 07 o LS-7 o LS dan

TINJAUAN GEOGRAFIS TERHADAP KEBERADAAN INDUSTRI TUNGKU DAN KEBERLANJUTANNYA DI DESA REJOSARI (JURNAL) Oleh : SITI USWATUN HASANAH

TINJAUAN GEOGRAFIS KEBERADAAN INDUSTRI AIR MINUM PT. VODA TIRTA NIRWANA DI DESA BATU KERAMAT

Mochamad Rizwan 1, Yarmaidi, 2, Dedy Miswar 3

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Geografi merupakan ilmu pengetahuan yang mencitrakan (to describe),

I. PENDAHULUAN. kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kehidupan manusia

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. pendapat para ahli yang berkaitan dengan variabel-variabel pada penelitian ini.

1. PENDAHULUAN. produksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. Dalam arti luas industri mencakup

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Sebagai dasar pada penelitian ini, maka perlu dikemukakan landasan teoritis dan

FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG BERDIRINYA USAHA BATU BATA DESA WATES SELATAN KECAMATAN GADING REJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN 2016.

HUBUNGAN PENDAPATAN INDUSTRI KERAJINAN GERABAH DENGAN TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PENGRAJIN DI DESA MELIKAN KECAMATAN WEDI KABUPATEN KLATEN

III METODOLOGI PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. beberapa pendapat ahli yang berkaitan dengan penelitian ini yaitu sebagai berikut:

MENURUNNYA JUMLAH SISWA SD NEGERI 1 DESA RUKTI SEDIYO KECAMATAN RAMAN UTARA KABUPATEN LAMPUNG TIMUR

dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain yang berada di Provinsi

I. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Berdasarkan hasil seminar lokakarya (SEMLOK) tahun 1988 (Suharyono dan Moch. Amien,

IV. KONDISI DAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. administratif berada di wilayah Kelurahan Kedaung Kecamatan Kemiling Kota

DESKRIPSI INDUSTRI KOPI LUWAK DI WILAYAH DESA WAY MENGAKU KECAMATAN BALIK BUKIT KABUPATEN LAMPUNG BARAT TAHUN 2012

III. METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Pada Seminar dan Lokakarya Geografi tahun 1988 yang diprakarsai oleh Ikatan

III. METODE PENELITIAN. untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadiankejadian.

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

ANALISIS SEBARAN SMP/SEDERAJAT DI KECAMATAN SEPUTIH BANYAK KABUPATEN LAMPUNG TENGAH (JURNAL)

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

DESKRIPSI TENAGA KERJA INDUSTRI KERUPUK RAFIKA DI KELURAHAN TANJUNG HARAPAN KECAMATAN KOTABUMI SELATAN KABUPATEN LAMPUNG UTARA TAHUN 2012

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Keadaan Fisik dan Topografi Kota Bandarlampung

IV. KONDISI UMUM KABUPATEN SIMEULUE

KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI WANITA SEBAGAI KEPALA KELUARGA DI KECAMATAN TANJUNG KARANG PUSAT (JURNAL) Oleh NANDA FITRIANI

BAB I PENDAHULUAN. Manusia memanfaatkan lahan untuk melakukan aktivitas mulai dari

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

STUDI DESKTIPTIF TENTANG PEMAHAMAN GURU DAN PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN REALIA, MODEL DAN GRAFIS OLEH GURU JURNAL. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. ini. Terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard Km 3 air dengan persentase 97,5%

ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PEMUKIMAN DI KECAMATAN SEBERANG ULU I KOTA PALEMBANG

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

EVALUASI LOKASI SMA DENGAN ZONA PENDIDIKAN BERDASARKAN RTRW BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014 ABSTRACT

UPAYA PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BERSIH KEPERLUAN RUMAH TANGGA DESA MERAK BATIN KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN TAHUN 2012

DESKRIPSI INDUSTRI KERAJINAN SULAM USUS DI DESA NATAR TAHUN 2014

Karakteristik Sosial Ekonomi Kepala Rumah Tangga Di Perumahan Permata Biru Kelurahan Sukarame Tahun 2015

Kata Kunci: Tingkat kesejahteraan, pendapatan, supir angkut batubara.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Air diperuntukan untuk

I. PENDAHULUAN. Potensi sumber daya alam yang dimiliki setiap wilayah berbeda-beda, tiap daerah mempunyai

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH

ANALISIS PENDAPATAN PETANI KARET YANG ANAKNYA TIDAK MELANJUTKAN KE PERGURUAN TINGGI (JURNAL) Oleh. Susi Novela

Kata kunci: kontribusi,industri kain jumputan, pendapatan rumah tangga

PROFIL PENAMBANG BATU DI KELURAHAN SUKAMENANTI KECAMATAN KEDATON KOTA BANDAR LAMPUNG. (Jurnal) Oleh QEIS IMAMI ARIEF

I. PENDAHULUAN. Pembangunan industri memiliki peranan penting dalam rangka mewujudkan

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota

III. METODELOGI PENELITIAN

Gambar 5. Peta Citra Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi

ANALISIS KEBUTUHAN GURU IPS SMP DI KECAMATAN WONOSOBO KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN 2017 (JURNAL) Oleh HERLI ANDIKA PUTRA

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Menurut Sumadi Suryabrata

KONDISI FISIOGRAFIS YANG MENDUKUNG POLA PERMUKIMAN PENDUDUK TAHUN 2014 (JURNAL) Oleh : ANISA NURJANAH

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Pabundu Tika, 2005:12). Desain penelitian bertujuan untuk memberi

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB IBU RUMAH TANGGA DI DESA PONCOWATI BEKERJA SEBAGAI BURUH PABRIK PT GREAT GIANT PINEAPPLE

BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Letak, Luas dan Batas Wilayah. dari kantor Kabupaten Wonogiri sekitar 30 km.

BAB I PENDAHULUAN. Hutan bagi masyarakat bukanlah hal yang baru, terutama bagi masyarakat

DAMPAK PEMANFAATAN BANTARAN SUNGAITERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN DI KELURAHAN PASAR KRUI (JURNAL)

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang

I. PENDAHULUAN. Industri merupakan serangkaian kegiatan mengolah bahan mentah atau bahan

Gambar 2 Peta Lokasi Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan salah satu sumber daya alam yang mutlak diperlukan bagi

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. memiliki aksesibilitas yang baik sehingga mudah dijangkau dan terhubung dengan

STUDY HOUSEHOLD CRAFTSMEN STONE LADO, KOTO PANJANG LIMAU MANIS VILLAGE DISTRICT CITY PAUH PADANG

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan. Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Letak, Batas dan Luas Daerah Penelitian. Kabupaten Wonosobo, terletak lintang selatan

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

DAFTAR ISI II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

III. METODOLOGI PENELITIAN. mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian (Sumadi Suryabrata, 2009:76).

METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang

HUBUNGAN KONDISI SOSIAL EKONOMI DENGAN TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PENAMBANG PASIR DESA KENDALSARI KECAMATAN KEMALANG KABUPATEN KLATEN

PENGARUH BUDIDAYA JAMUR MERANG TERHADAP KONDISI SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT DI KECAMATAN BANYUSARI KABUPATEN KARAWANG

BAB IV GAMBARAN UMUM

PEMANFAATAN SUNGAI CI KARO UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN DOMESTIK MASYARAKAT DI DESA KAWUNGSARI KECAMATAN CIBEUREUM KABUPATEN KUNINGAN

BAB II KONDISI DESA BELIK KECAMATAN BELIK KABUPATEN PEMALANG. melakukan berbagai bidang termasuk bidang sosial.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang bertujuan menggambarkan

Eksistensi Industri Batu Bata di Kecamatan Kutorejo Kabupaten Mojokerto EKSISTENSI INDUSTRI BATU BATA DI KECAMATAN KUTOREJO KABUPATEN MOJOKERTO

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Lampung. Secara geografis Kota Bandar Lampung terletak pada sampai

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Posisi wilayah Kota Metro berada di tengah Provinsi Lampung, secara

BAB IV GAMBARAN UMUM

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Bangun Rejo merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di

DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMA KASIH... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR, BAGAN DAN PETA...

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Lokasi dari penelitian ini terletak di Kecamatan Rancaekek Kabupaten

Transkripsi:

FAKTOR PENDUKUNG KERAJINAN BATU BATA DI KELURAHAN RAJABASA JAYA BANDAR LAMPUNG 2012 (JURNAL) Oleh: PERISTIANIKA 0813034038 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015

FAKTOR PENDUKUNG KERAJINAN BATU BATA DI KELURAHAN RAJABASA JAYA BANDAR LAMPUNG 2012 Oleh Peristianika, (1) Drs. Yarmaidi, M.Si., (2) Drs. Edy Haryono, M.Si (3) This study aimed to describe the supporting factors of the establisment of craft business bricks in Rajabasa Jaya subdistrict, Rajabasa district, Bandar Lampung city in 2012. This research used descriptive method. Population research amounted to 50 head of the family craftsman brick. Data retrieval was performed by using techniques of observation, interview and documentation. Data analysis was using percentage as the basis of description. The results showed that : (1) the easiness in obtaining capital support for craft business bricks; (2)it is not easy to get raw materials still support for craft business bricks; (3) the easiness to meet the needs of water support for craft business bricks; (4) not easy to get a fixed fuel still support for craft business bricks; (5) the easiness of transportation support for craft business bricks; (6) the easiness of marketing support for craft business bricks. Key words: supporting factors, craft business bricks, crafters. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor pendukung berdirinya usaha kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi penelitian berjumlah 50 kepala keluarga (KK) perajin usaha batu. Pengambilan data dilakukan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dengan persentase sebagai dasar deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) mudahnya mendapatkan modal mendukung untuk usaha kerajinan batu bata; (2) tidak mudahnya mendapatkan bahan mentah tetap mendukung untuk usaha kerajinan batu bata; (3) mudahnya memenuhi kebutuhan air mendukung untuk usaha kerajinan batu; (4) tidak mudahnya mendapatkan bahan bakar tetap mendukung untuk usaha kerajinan batu; (5) mudahnya sarana transportasi yang diperlukan mendukung usaha kerajinan batu bata; (6) mudahnya pemasaran mendukung untuk usaha kerajinan batu. Kata kunci: faktor pendukung, kerajinan batu bata, perajin. 1 Mahasiswa Pendidikan Geografi 2 Dosen Pembimbing I 3 Dosen Pembimbing 2

PENDAHULUAN Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang sangat terikat dengan kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut antara lain pangan, sandang, dan papan. Ketiga kebutuhan ini merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Untuk itu setiap orang selalu mencari cara-cara yang dapat dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhankebutuhan hidupnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan manusia adalah kegiatan menciptakan kegiatan industri. Kegiatan ini bukan hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup seseorang maupun masyarakat juga mampu menjadi lapangan pekerjaan bagi masyarakat, menambah, meratakan kesempatan kerja, serta meningkatkan produksi guna mencapai kesejahteraan. Pembangunan industri sebagai salah satu dari prioritas pemerintah, pembangunan industri baik pada industri besar, industri menengah, industri kecil maupun kerajinan diharapkan dapat memperbaiki ekonomi masyarakat. Salah satu wujud dukungan pemerintah terhadap sektor ini yaitu memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk melakukan kegiatan industri. Menurut Trisura Suhardi (1992:97), bahwa kebijaksanaan ekonomi pasar yang terkendalikan, memberikan peluang kepada kita untuk melahirkan berbagai strategi operasional pembangunan yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan kreativitas dan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan, terutama industri kecil, termasuk industri kecil pedesaan Berdirinya usaha kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung dapat berlangsung dengan baik apabila didukung oleh faktorfaktor geografis yang memadai. Adapun faktor-faktor geografis itu menurut Robinson dalam Daldjoeni (1992:58) yaitu bahan mentah, sumberdaya tenaga, suplai tenaga kerja, suplai air, pasaran dan fasilitas transportasi. Faktor-faktor produksi juga menjadi pertimbangan dalam mendirikan suatu industri atau kerajinan. Adapun faktor-faktor tersebut diuraikan oleh Kartasapoetra (1987:62) yaitu bahan-bahan mentah/baku, tenaga kerja, dan permodalan. Selain itu, factor endowment juga menjadi pertimbangan. Menurut Marsudi Djojodipuro (1992:31) factor endowment adalah tersedianya faktor produksi secara kualitatif maupun kuantitatif di suatu negara atau daerah. Factor endowment ini meliputi tanah, tenaga kerja, dan modal. Selain itu faktor lokasi industri disebutkan pula oleh John Bale dalam Edy Haryono yaitu bahan bakar.

Usaha kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya ini sudah ada sejak tahun 1980-an. Pada tahun 1982 perajin batu bata di kelurahan ini jumlahnya ada 3 orang, lalu pada tahun 1984 bertambah 7 orang dan terus bertambah hingga pada tahun 2002 jumlahnya menjadi 50 perajin. Pada saat awal berdirinya, bahan mentah yang diperlukan yaitu tanah masih tersedia di lokasi kerajinan. Seiring dengan berjalannya waktu, bahan mentah yang diperlukan sudah habis digunakan. Dengan demikian, perajin harus mencari cara agar tetap dapat memproduksi batu batanya. Selain itu, lahan tempat usaha kerajinan ini awalnya hanya menumpang saja tanpa membayar uang sewa. Berdasarkan uraian di atas penulis mengadakan penelitian tentang Deskripsi Faktor Pendukung Berdirinya Usaha Kerajinan Batu Bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1. Apakah kemudahan mendapatkan modal mendukung berdirinya kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012? 2. Apakah kemudahan mendapatkan bahan mentah sebagai pendukung berdirinya kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012? 3. Apakah kemudahan pemenuhan kebutuhan air yang diperlukan sebagai pendukung berdirinya kerajinan batu bata di kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012? 4. Apakah kemudahan mendapatkan bahan bakar sebagai pendukung berdirinya kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012? 5. Apakah kemudahan memperoleh sarana transportasi mendukung berdirinya kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012? 6. Apakah kemudahan pemasaran hasil produksi mendukung berdirinya kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012? Ruang Lingkup ilmu yang digunakan dalam penelitian ini adalah Geografi Industri. Geografi industri adalah ilmu yang mempelajari tentang persebaran dan bagaimana berdirinya suatu industri berdasarkan pendekatan kelingkungan, kewilayahan dalam konteks keruangan. Menurut Jhonston dalam Budiyono (1987:164), Geografi Industri adalah cabang dari geografi ekonomi yang mempelajari dengan ruang yang berkenaan dengan tempat penyelenggaraan aktivitas industri.

Berdasarkan pendapat di atas, bahwa keberadaan usaha kerajinan batu bata yang berada di wilayah Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung ini merupakan aktivitas yang dilakukan manusia untuk mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi yaitu batu bata yang diperdagangkan sebagai bahan bangunan. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki, dengan menggambarkan/melukiskan keadaan objek penelitian pada saat sekarang, berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Metode deskriptif memusatkan perhatiannya pada penemuan fakta-fakta (fact finding) sebagaimana keadaan sebenarnya (Hadari Nawawi dan Mimi Martini, 1996:73). Populasi dalam penelitian ini adalah 50 kepala keluarga perajin usaha batu bata yang lokasi kerajinannya berada di Kelurahan Raja Basa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012. Seluruh populasi yang ada menjadi responden sehingga disebut juga sebagai penelitian populasi. Teknik pengumpulan data yaitu menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kuantitatif persentase, artinya data yang diperoleh dari penelitian dimasukan dalam tabel persentase. Setelah itu interpretasi yang jelas tersebut disusun sebagai laporan hasil penelitian. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut: % = x 100 Keterangan: % : Persentase yang diperoleh n : Jumlah jawaban responden yang diperoleh N : Jumlah seluruh responden 100 : Konstanta (Mohamad Ali, 1984:184). Langkah pertama dalam menyusun suatu tabel persentase adalah membagi jumlah masing-masing kategori variabel (n) dengan jumlah frekuensi (N). Setelah pembagian dilakukan hasilnya dikalikan dengan 100 untuk menghasilkan persentase.

HASIL DAN PEMBAHASAN Letak Astronomis Kelurahan Rajabasa Jaya Letak astronomis adalah letak suatu tempat berdasarkan garis lintang dan garis bujurnya. Adapun lokasi penelitian usaha kerajinan batu bata ini yaitu di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung dengan letak astronomis Kelurahan Rajabasa Jaya yaitu antara 105 14 52 BT 105 15 46 BT dan antara 5 20 44 LS 5 21 42 LS (Peta Administratif Kelurahan Rajabasa Jaya Tahun 2011). Letak Administratif Kelurahan Rajabasa Jaya Letak administratif adalah letak suatu daerah berdasarkan pembagian administratif pemerintahan. Kelurahan Rajabasa Jaya termasuk dalam Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung, terbagi menjadi 2 Lingkungan dan 18 RT. Lingkungan I terdiri dari 7 RT sedangkan Lingkungan II terdiri dari 11 RT. Adapun batas-batas Kelurahan Rajabasa Jaya yaitu sebagai berikut: 1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Lampung Selatan 2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Senang 3) Sebelah Barat berbatasan dengan Lampung Selatan 4) Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lampung Selatan (Monografi Kelurahan Rajabasa Jaya Tahun 2012). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta 1.

Keadaan Iklim Iklim merupakan keadaan rata-rata udara yang mencakup wilayah yang luas dan dalam kurun waktu yang lama kurang lebih selama 30 tahun. Penentuan iklim dapat dilakukan sekurang kurangnya dalam waktu 10 tahun.iklim dapat diukur dengan menganalisis unsur iklim berupa suhu udara, curah hujan, tekanan udara, kelengasan udara, laju serta arah angin, perawanan dan penyinaran matahari (Subarjo, 2006:2). Jadi, iklim merupakan keadaan yang mencirikan atmosfer suatu daerah yang luas dalam jangka waktu lama. Berdasarkan hasil perhitungan nilai Q dan melihat penggolongan tipe iklim menurut Schmidth-Ferguson (dalam subarjo, 2006: 47) maka dapat diketahui bahwa Kecamatan Rajabasa berada pada tipe iklim B karena nilai Q dari Kecamatan Tanjung Karang Pusat berada pada kisaran angka 0,143 0,333 dengan kondisi iklim basah dan ciri-ciri vegetasi hutan hujan tropika. Keadaaan iklim di Kcamatan Rajabasa yang merupakan zona/tipe iklim B dengan kondisi iklim yang basah ini mendukung untuk usaha kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya. Ketersediaan air yang dibutuhkan untuk proses produksi akan terpenuhi dengan kondisi iklim tersebut. Usaha kerajinan batu bata ini pun tidak akan terlalu kesulitan apabila terjadi musim kemarau karena perajin akan tetap berproduksi walaupun dengan jumlah yang lebih sedikit. Pada musim hujan perajin akan memproduksi batu bata yang lebih banyak walaupun untuk proses penjemuran memerlukan waktu yang lebih lama karena proses penjemuran mengandalkan sinar matahari. Hidrografis Hidrografis berarti keadaan air yang berada pada suatu wilayah, baik air permukaan (freatik) maupun air tanah dalam (artesis). Keadaan hidrografis di Kelurahan Rajabasa Jaya, sumber air bersih penduduk menggunakan sumur galian dan sumur bor yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari seperti: untuk minum, mandi, memasak dan mencuci. Dalam kegiatan usaha kerajinan batu-bata, pengrajin juga menggunakan air untuk keperluan produksi batu bata maupun untuk keperluan pekerja dan anggota rumah tangganya. Untuk keperluan produksi yaitu untuk mengolah tanah sehingga menjadi adonan batu bata yang siap dicetak. Pada usaha kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya ini, kebutuhan air yang diperlukan dipenuhi dengan cara membuat sumur gali. Sumber air dari sumur gali memang sangat dipengaruhi oleh musim. Akan tetapi, meskipun pada musim kemarau jumah volume air sedikit, perajin usaha batu bata ini tetap berproduksi walaupun dalam jumlah produksi yang sedikit.

DESKRIPSI DATA DAN PEMBAHASAN Kemudahan Mendapatkan Modal Kemudahan modal yang dimaksud adalah mudah atau tidaknya mendapatkan modal yang diperlukan. Besarnya modal adalah besarnya dana atau biaya yang digunakan untuk membiayai usaha kerajinan yang dihitung dalam rupiah. Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa modal dibutuhkan untuk keperluan membeli bahan mentah berupa tanah, membeli bahan bakar berupa kayu, membayar upah tenaga kerja, biaya transportasi pemasaran dan membayar sewa lahan yang digunakan dalam usaha kerajinan ini. Dalam usaha kerajinan batu bata ini, modal didapatkan dari uang pribadi perajin sendiri. Selain itu, kebutuhan akan modal yang diperlukan untuk berproduksi dapat ditanggulangi dengan cara-cara yang memudahkan bagi perajin yang memiliki modal sedikit atau terbatas. Hal ini misalnya dari cara pembayaran bahan bakar kayu, upah tenaga kerja dan biaya sewa lahan yang dibayarkan setelah batu batanya terjual. Berikut adalah tabel yang memuat jawaban responden mengenai kemudahan mendapatkan modal. Tabel 13. Kemudahah Mendapatkan Modal pada Usaha Kerajinan Batu Bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012 No Jawaban Responden Jumlah Responden Persentase (%) 1 Mudah 39 88,60 2 Sulit 5 11,40 Jumlah 44 100,00 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Berdasarkan tabel 13, dapat diketahui bahwa sebanyak 39 orang responden atau 88,6% menyatakan mudah mendapatkan modal karena modal yang diperlukan dapat terpenuhi dengan uang sendiri. Sebanyak 5 orang responden atau 11,4% menyatakan bahwa sulit memenuhi modal karena modal yang dimiliki sedikit sehingga untuk membeli bahan bakar, upah tenaga kerja dan membayar sewa lahan harus berhutang. Dengan berhutang bahan bakar yang berupa kayu bakar tersebut maka harga pembelian kayu bakarnya menjadi dua kali harga tunai. Namun demikian, perajin tetap dapat berproduksi.

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa kebutuhan modal untuk menjalankan produksi kerajinan batu bata ini yaitu untuk membeli bahan mentah berupa tanah, membeli bahan bakar berupa kayu, membayar upah tenaga kerja, biaya transportasi pemasaran dan membayar sewa lahan. Dalam penelitian ini juga diuraikan rincian modal berdasarkan alokasi kebutuhan tersebut. Berikut ini dijelaskan mengenai kebutuhan modal apa saja yang digunakan dalam usaha kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012. Kemudahan Mendapatkan Bahan Mentah Kemudahan mendapatkan bahan mentah yang dimaksud adalah kemudahan mendapatkan bahan mentah berupa tanah campuran untuk kegiatan usaha kerajinan batu bata. Jawaban responden mengenai kemudahan mendapatkan bahan mentah ini adalah sebanyak 100% atau seluruh responden menyatakan bahwa bahan mentah yang diperlukan dalam kegiatan kerajinan usaha batu bata ini mudah didapatkan karena perajin dapat membeli bahan mentah yang berupa tanah campuran dengan mudah walaupun harus membeli di luar lokasi kerajinannya. Adapun asal bahan mentah berupa tanah campuran tersebut didapatkan dari luar Kota Bandar Lampung, yaitu dari beberapa daerah di Kabupaten Lampung Selatan. Untuk lebih jelasnya mengenai asal bahan mentah ini dapat dilihat dalam tabel berikut. Tabel 22. Asal Bahan Mentah pada Usaha Kerajinan Batu Bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012 No Jawaban Responden Jumlah Responden Persentase (%) 1 Branti (Lampung Selatan) 25 56,81 2 Priangan (Lampung Selatan) 8 18,18 3 Karang Anyar (Lampung Selatan) 11 25,00 Jumlah 44 100,00 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Berdasarkan tabel 22 asal bahan mentah didapatkan dari daerah di Kabupaten Lampung Selatan. Adapun daerah asal bahan mentah tersebut yaitu Branti, Priangan dan Karang Anyar. Hal ini karena daerah tersebut masih memiliki banyak lahan yang tanahnya dapat diambil untuk dimanfaatkan sebagai campuran bahan mentah untuk pembuatan usaha kerajinan batu bata.

Sebagian besar responden memperoleh bahan mentah dari daerah Banti, yaitu sebanyak 25 orang responden atau 56,81%. Responden ini menyatakan bahwa tanah campuran yang didapatkan dari daerah Branti ini lebih sesuai untuk digunakan sebagai bahan mentah batu batanya. Jika tanah dari daerah Branti ini dicampurkan dengan tanah yang berada di lokasi kerajinan usaha batu bata ini akan lebih mudah diadon, tidak banyak sampah akarakaran tumbuhan yang harus dibuang karena mengganggu dalam proses pencetakan. Untuk lebih jelasnya mengenai asal bahan mentah ini dapat dilihat pada peta berikut. Kemudahan Memenuhi Kebutuhan Air Kebutuhan air yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu kebutuhan air yang digunakan dalam proses produksi kerajinan batu bata. Dalam penelitian ini, dikaji mengenai cara perajin usaha batu bata dalam memenuhi kebutuhan suplai air untuk produksinya. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa seluruh responden atau 100% menyatakan bahwa mereka memenuhi kebutuhan airnya dengan membuat sumur gali di lokasi kerajian usaha batu batanya. Sumur gali sebagai sumber pemenuhan kebutuhan air sangat dipengaruhi oleh musim. Pada musim penghujan volume air sumur gali akan banhyak sehingga perajin usaha batu bata dapat berproduksi maksimal. Akan tetapi, pada musim kemarau para perajin usaha batu bata ini akan mengurangi jumlah batu bata yang diproduksinya.

Kemudahan Mendapatkan Bahan Bakar Kemudahan mendapatkan bahan bakar yang dimaksud adalah kemudahan mendapatkan bahan bakar berupa kayu bakar untuk kegiatan usaha kerajinan batu bata. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa sebesar 100% atau seluruh responden menyatakan bahwa bahan bakar yang diperlukan dalam kegiatan kerajinan usaha batu bata ini mudah didapatkan karena bahan bakar kayu ini dapat dibeli dari luar lokasi kerajinan. Asal bahan bakar yang dibeli oleh perajin usaha batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya ini berasal dari beberapa daerah di Kabupaten Lampung Selatan. Berikut adalah tabel pernyataan responden mengenai asal bahan bakar. Tabel 24. Asal Bahan Bakar pada Usaha Kerajinan Batu Bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012 No Jawaban Responden Jumlah Persentase (%) Responden 1 Tanjungan (Lampung Selatan) 18 40,90 2 Tanjung Bintang (Lampung Selatan) 21 47,73 3 Bergen (Lampung Selatan) 5 11,36 Jumlah 44 100,00 Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2012 Berdasarkan tabel 24, dapat diketahui bahwa asal bahan bakar berupa kayu yang dibutuhkan perajin usaha batu bata didapatkan dari luar Kota Bandar Lampung, yaitu dari Kabupaten Lampung Selatan. Adapun daerah asal bahan bakar menurut pernyataan responden didapatkan dari daerah Tanjungan, Tanjung Bintang dan Bergen. Sebanyak 21 orang responden atau 47,73% menyatakan memperoleh bahan bakar dari daerah Tanjung Bintang karena sudah berlangganan dengan pedagang kayu bakar di sana dan merasa sesuai dengan kebutuhan pembakaran batu bata juga ketersediaanya yang banyak sehingga setiap pemesanan langsung segera dikirimkan kayu bakarnya. Untuk lebih jelasnya mengenai asal bahan bakar ini dapat dilihat pada peta berikut.

Kemudahan Mendapatkan Transportasi Transportasi yang dimaksud dalam penelitan ini adalah tentang mudah atau tidaknya mendapatkan sarana transportasi untuk kegiatan usaha kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya. Sarana transportasi ini yaitu digunakan untuk pengadaan bahan mentah, bahan bakar berupa kayu bakar dan untuk pemasaran hasil produksi batu bata. Alat transportasi yang digunakan dalam usaha kerajinan ini bukan milik perajin usaha batu bata akan tetapi perajin akan mudah mendapatkan kendaraan yang diperlukan dengan menggunakan jasa angkutan. Perajin dapat menghubungi supir truk yang sudah mereka kenal apabila membutuhkan alat transportasi tersebut. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebesar 100% atau seluruh responden menyatakan bahwa sarana transportasi yang diperlukan dalam kegiatan kerajinan usaha batu bata ini mudah didapatkan karena lokasi kerajinan ini berada di dalam Kota Bandar Lampung yang sarana transportasi selalu tersedia kapan pun perajin usaha batu bata membutuhkan. Di Kelurahan Rajabasa Jaya penduduk yang bermata pencaharian di bidang jasa/supir berjumlah 65 jiwa (Monografi Kelurahan Rajabasa Jaya Tahun 2012) dengan sedikitnya 20 orang yang bekerja sebagai supir angkut. Hal ini juga mendukung berdirinya usaha kerajinan batu bata sehingga perajin tidak merasa kesulitan dalam mencari sarana transportasi.

Kemudahan Pemasaran Pemasaran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tentang mudaha atau tidaknya pemasaran hasil produksi usaha kerajinan batu bata ke konsumennya. Menurut hasil penelitian, ada beberapa cara yang sering dilakukan untuk memasarkan batu bata yang ada di kelurahan ini. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa sebanyak 100% atau seluruh responden menyatakan bahwa mengenai pemasaran batu bata ini mudah karena barang hasil produksi berupa batu bata tersebut selalu habis dipasarkan. Selain itu, para supir angkut juga berperan dalam pemasaran batu bata ini. Kebanyakan para konsumen yang tidak langsung datang ke lokasi usaha kerajinan batu bata untuk membeli akan lebih mudah jika memesan batu bata kepada supir angkut sejumlah batu bata yang dibutuhkan. Perajin usaha batu bata di Kelurahan Rajabasa ini dapat menjual batu batanya langsung kepada konsumen, baik konsumen yang datang ke lokasi atau pun yang memesan lewat perantara supir angkut. Dengan demikian, hubungan baik yang terjalin antara perajin usaha batu bata dengan supir angkut akan mempercepat habisnya hasil produksi batu bata karena keduanya saling menguntungkan. Selain itu, perajin usaha batu bata juga dapat menjual batu batanya kepada pengumpul atau agen penjualan bahan-bahan bangunan atau pun ke pangkalan batu bata. Mengenai daerah pemasaran, responden menyatakan bahwa batu bata yang dihasilkan dari produksinya dipasarkan hanya ke wilayah Kota Bandar Lampung. Mengenai sarana transportasi yang diperlukan untuk pemasaran, responden menyatakan tidak mengalami hambatan atau kendala. Baik sarana transportasi yang tersedia maupun supir angkut juga turut mendukung kemudahan dalam hal pemasaran batu bata ini. KESIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian mengenai Deskripsi Faktor Pendukung Berdirinya Usaha Kerajinan Batu Bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung Tahun 2012 dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Mudahnya mendapatkan modal mendukung untuk usaha kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya karena modal terpenuhi dengan uang pribadi. 2. Tidak mudahnya mendapatkan bahan mentah tetap mendukung untuk usaha kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya. 3. Mudahnya memenuhi kebutuhan air mendukung untuk usaha kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya.

4. Tidak mudahnya mendapatkan bahan bakar tetap mendukung untuk usaha kerajian batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya. 5. Mudahnya transportasi mendukung untuk usaha kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya. 6. Mudahnya pemasaran mendukung untuk usaha kerajinan batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya. SARAN 1. Perajin usaha batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung sebaiknya mempertahankan mudahnya pemasaran dengan cara menjaga kualitas batu bata dan menjaga hubungan baik dengan konsumen agar konsumen tidak membeli batu bata di lokasi kerajinan batu bata yang lain. 2. Perajin usaha batu bata di Kelurahan Rajabasa Jaya Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung sebaiknya meningkatkan produksinya agar pemasarannya dapat lebih luas. DAFTAR PUSTAKA Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa. Budiyono. 1987. Geografi Industri (Buku Ajar). Bandar Lampung: Universitas Lampung Daldjoeni. 1992. Geografi Baru Organisasi Keruangan dalam Teori dan Praktek. Bandung: Alumni. Djojodipuro, Marsudi. 1992. Teori Lokasi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI. Kartasapoetra. 1987. Pembentukan Perusahaan Industri. Jakarta: Bina Aksara. Nawawi, Hadari. dan Martini, Mimi. 1996. Penelitian Terapan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Subarjo. 2006. Meteorologi dan Klimatologi (Buku Ajar). Bandar Lampung: Universitas Lampung. Suhardi, Trisura. 1992. Kemitraan dan Keterkaitan Antara Usaha Besar dan Usaha Kecil dalam Industri Pengolahan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Ali, Mohamad. 1984. Penelitian