BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. ibu selama kehamilan. Ketika ibu hamil mendapatkan infeksi virus rubella maka

GANGGUAN NAPAS PADA BAYI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

LAPORAN JAGA 24 Maret 2013

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 8 Anak menderita HIV/Aids. Catatan untuk fasilitator. Ringkasan Kasus:

Kesan : terdapat riwayat penyakit keluarga yang diturunkan

BAB I PENDAHULUAN. a. Latar Belakang. Congenital rubella syndrome (CRS) adalah kumpulan kelainan kongenital yang

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN TRANSIENT TACHYPNEA OF THE NEW BORN

Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat sakit serupa sebelumnya, batuk lama, dan asma disangkal Riwayat Penyakit Keluarga: Riwayat TB paru dan Asma

Pelayanan Kesehatan bagi Anak. Bab 7 Gizi Buruk

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 3 Permasalahan Neonatus-Berat Badan lahir rendah. Catatan untuk fasilitator.

DIARE AKUT. Berdasarkan Riskesdas 2007 : diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25,2% pada anak usia 1-4 tahun.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang merupakan salah satu masalah kesehatan. anak yang penting di dunia karena tingginya angka

BAB III RESUME KEPERAWATAN

BAB III TINJAUAN KASUS. Jenis kelamin : Laki-laki Suku bangsa : Jawa, Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012,

KASUS GIZI BURUK. 1. Identitas. a. Identitas Balita. : Yuni Rastiani. Umur : 40 bln ( ) Tempat Tanggal Lahir : Tasikmalaya,

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA LAPORAN USAHA KESEHATAN MASYARAKAT UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) SERTA KELUARGA BERENCANA (KB)

Pengertian. Bayi berat lahir rendah adalah bayi lahir yang berat badannya pada saat kelahiran <2.500 gram [ sampai dengan 2.

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 3 Permasalahan neonatal dan bayi muda infeksi

PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

Efikasi terhadap penyebab kematian ibu

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. PENGUMPULAN/PENYAJIAN DATA DASAR SECARA LENGKAP

BAB I PENDAHULUAN. Bayi (AKB). Angka kematian bayi merupakan salah satu target dari Millennium

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

KOMPLIKASI PADA IBU HAMIL, BERSALIN, DAN NIFAS. Ante Partum : keguguran, plasenta previa, solusio Plasenta

PERAWATAN NEONATAL ESENSIAL PADA SAAT LAHIR

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34

LAPORAN JAGA. 26/1/ 2010 pukul WITA 21-22/6/2014 pukul WITA. Jaga : Ludi Dokter Jaga : dr. Fahroni Dokter Jaga : dr.

SINDROM GANGGUAN PERNAFASAN

Dr. Prastowo Sidi Pramono, Sp.A

riwayat personal-sosial

BAB I PENDAHULUAN. Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) akan mengalami peningkatan

PENGARUH KOMPETENSI BIDAN DI DESA DALAM MANAJEMEN KASUS GIZI BURUK ANAK BALITA TERHADAP PEMULIHAN KASUS DI KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2008 ARTIKEL

BAB I PENDAHULUAN. dari kehamilan dengan risiko usia tinggi (Manuaba, 2012: h.38).

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

KEHAMILAN. Tulislah keadaan ibu saat ibu hamil anak ini, ceklis jawaban yang anda anggap tepat.

BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dini pada usia bayi, atau bahkan saat masa neonatus, sedangkan

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

LAPORAN KASUS BEDAH SEORANG PRIA 34 TAHUN DENGAN TUMOR REGIO COLLI DEXTRA ET SINISTRA DAN TUMOR REGIO THORAX ANTERIOR

BAB 1 PENDAHULUAN. menjadi sumber daya yang berkualitas tidak hanya dilihat secara fisik namun

BAB I PENDAHULUAN. Asuhan Komprehensif Kebidanan..., Harlina Destri Utami, Kebidanan DIII UMP, 2015

LAPORAN KASUS / RESUME DIARE

BUKU REGISTER PARTUS DI PUSKESMAS

BAB III TINJAUAN KASUS. Pengkajian dilakukan pada tanggal 8 Mei 2007 jam : Jl. Menoreh I Sampangan Semarang

ADHIM SETIADIANSYAH Pembimbing : dr. HJ. SUGINEM MUDJIANTORO, Sp.Rad FAKULTAS KEDOKTERAN UNIV. MUHAMMADIYAH JAKARTA S t a s e R a d i o l o g i, R u

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAYI BARU LAHIR DARI IBU DM OLEH: KELOMPOK 14

BAB IV PEMBAHASAN. yang ada di lahan praktek di RSUD Sunan Kalijaga Demak. Dalam pembahasan ini penulis

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada hari Sabtu tanggal 22 Maret 2014 pukul WIB Ny Y datang ke

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 6

BAB III TINJAUAN KASUS ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR PATOLOGI DENGAN IKTERIK DI RSUD SUNAN KALIJAGA DEMAK. : RSUD Sunan Kalijaga Demak

BAB 1 PENDAHULUAN. perkembangan janin intrauterin mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai

BAB IV METODE PENELITIAN

PMR WIRA UNIT SMA NEGERI 1 BONDOWOSO Materi 3 Penilaian Penderita

BAB IV PEMBAHASAN. Pada bab ini berisi pembahasan asuhan kebidanan pada Ny.S di

BUKU REGISTER PARTUS DI RUMAH SAKIT

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Patent duktus arteriosus (PDA) merupakan salah satu penyakit jantung

BAB I PENDAHULUAN. Perhatian terhadap upaya penurunan angka kematian neonatal. kematian bayi. Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan

Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9

M/ WITA/ P4A0

No Identitas Tempat Jam Pemantauan 1 Ny.TS 32th

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. nafas dan nutrisi dengan kesenjangan antara teori dan intervensi sesuai evidance base dan

1. ASUHAN IBU SELAMA MASA NIFAS

Asfiksia. Keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur

BAB I PENDAHULUAN. terhadap kualitas dan aksebilitas fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. akibatnya sering terjadi komplikasi yang berakhir dengan kematian. Bulan Sesuai untuk Masa Kehamilan (NKB-SMK).

STATUS COASS KEBIDANAN DAN KANDUNGAN

ASUHAN IBU POST PARTUM DI RUMAH

LBM 1 Bayiku Lahir Kecil

LAMPIRAN. 1. Personil Penelitian 1. Ketua Penelitian Nama : dr. Cherie Nurul F Lubis Jabatan : Peserta PPDS Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RSHAM

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan pendekatan case control yaitu membandingkan antara

Fungsi Makanan Dalam Perawatan Orang Sakit

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR DINAS KESEHATAN PUSKESMAS LENEK Jln. Raya Mataram Lb. Lombok KM. 50 Desa Lenek Kec. Aikmel

PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA)

D. Patofisiologi Ketika kita hirup masuk dan keluar, udara masuk ke dalam hidung dan mulut, melalui kotak suara (laring) ke dalam tenggorokan

BAB III TINJAUAN KASUS. Pengkajian dilakukan pada tanggal 28 April Tanggal lahir : 21 Agustus : 8 bulan 7 hari

KUESIONER PEMANTAUAN STATUS GIZI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Langkah I : Pengumpulan/penyajian data dasar secara lengkap

BUKU REGISTER PERINATOLOGI DI RUMAH SAKIT

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pengumpulan/ Penyajian Data Dasar Secara Lengkap. Pengkajian kasus By Ny A dengan asfiksia sedang di RSUD

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap tahun, sekitar 15 juta bayi lahir prematur (sebelum

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

MANAJEMEN TERPADU UMUR 1 HARI SAMPAI 2 BULAN

PENGKAJIAN PNC. kelami

RITA ROGAYAH DEPT.PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI FKUI

BAB I PENDAHULUAN. Selama pertumbuhan dan perkembangan kehamilan bisa saja terjadi sebuah

Pedoman Instrumen Penilaian Kinerja Puskesmas Provinsi Jawa Barat

PELATIHAN NEFROLOGI MEET THE PROFESSOR OF PEDIATRICS. TOPIK: Tata laksana Acute Kidney Injury (AKI)

BAB I PENDAHULUAN. ketergantungan total ke kemandirian fisiologis. Proses perubahan yang rumit

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Chronic lung disease (CLD) merupakan suatu diagnosis klinis, yang berarti ketergantungan terhadap suplementasi oksigen pada periode tertentu setelah kelahiran disertai kelainan gambaran radiologis dari anatomi paru 1. CLD pertama kali didefinisikan oleh Northway pada tahun 1967 sebagai suatu sindroma akibat kerusakan berat pada paru-paru dari bayi prematur yang mendapat terapi oksigen konsentrasi tinggi dan penggunaan ventilator mekanik. Berat rata-rata bayi yang dapat bertahan hidup dengan CLD pada saat itu 2,3 kg dengan usia kehamilan 34 minggu 2,3. Faktor risiko terjadinya CLD sangat beragam, tergantung kepada beratnya penyakit yang mendasari dan lamanya penggunaan ventilator mekanik dan pemberian oksigen. CLD berhubungan secara tidak langsung dengan berat lahir, umur kehamilan, dimana semakin kecil berat lahir dan semakin muda usia kehamilan maka semakin besar risiko menderita CLD 4,5. Dalam 20 tahun terakhir, penanganan terhadap bayi prematur mengalami perkembangan yang pesat dengan digunakannya continuous positive airway pressure (CPAP) atau aliran udara bertekanan positif, pemberian kortikosteroid antenatal, surfaktan, kemajuan teknologi ventilator dan kemajuan dalam pemberian nutrisi. Saat ini definisi yang dikemukakan Northway tidak digunakan lagi karena kejadian CLD tidak hanya dijumpai pada bayi prematur yang menggunakan ventilator, tetapi juga terjadi pada bayi-bayi cukup umur dengan faktor risiko yang lain, seperti sepsis neonatorum, patent ductus arteriosus (PDA) dan chorioamnionitis antenatal 6. Bayi cukup umur juga berisiko terhadap terjadinya CLD jika pernah menjalani perawatan dan mendapat terapi oksigen konsentrasi tinggi dan ventilator mekanik serta oksigenasi dengan membran extrakorporal karena gagal napas berat. CLD terjadi hampir pada 27% bayi cukup umur yang mengalami penyakit paru primer yang berat (RDS, sindrom aspirasi mekonium, pneumonia, sepsis) dan sampai 50% pada bayi dengan adanya kelainan hipoplasia paru dan congenital diaphragmatic hernia. Sejalan dengan perkembangan definisi dan perubahan faktor risiko terjadinya CLD, kriteria diagnosis CLD mengalami perubahan. Saat ini diagnosis CLD ditegakkan dengan adanya perubahan gambaran 1

radiologi paru, ketergantungan terhadap oksigen sampai usia 28 hari kelahiran atau ketergantungan terhadap oksigen sampai 36 minggu usia biologis 2,6. Anak dengan CLD memerlukan pemantauan jangka panjang karena rentan mengalami berbagai masalah kesehatan akibat komplikasi CLD. Sebanyak 25% penderita CLD memiliki masalah pada sistem respirasi sampai remaja dan dewasa muda, seperti asma, infeksi saluran nafas bawah (pneumonia) berulang dan bronkitis 7. Pada sistem gastrointestinal masalah yang sering di jumpai adalah GERD dan intoleransi diet. Hipoksia yang berulang dan kerusakan paru yang permanen akan memicu terjadinya hipertensi pulmonal pada 8-11% penderita CLD, juga dapat menyebabkan cor pulmonal bahkan sampai gagal jantung 8. Monitoring, intervensi dan evaluasi perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita CLD 9. B. Deskripsi Kasus Singkat IDENTITAS PASIEN Nama : An. DDP Nama Ayah : Bpk. NI Tanggal Lahir : 31 Maret 2013 Umur : 32 tahun Jenis kelamin : Perempuan Pendidikan : SLTA Alamat Masuk RS No. CM Tanggal diperiksa Usia saat ini : Pundak, Kulonprogo : 19 Oktober 2013 : 01.63.58.83 : 20 Oktober 2013 : 9 bulan 20 hari Pekerjaan Nama ibu Umur Pendidikan Pekerjaan : Montir : Ny. WL : 31 tahun : SLTA : Ibu rumah tangga Seorang anak perempuan, usia 4 bulan saat datang pertama kali ke IGD RS Sardjito dengan keluhan utama sesak napas, pasien merupakan rujukan dari RSUD Wates dengan pneumonia, palatoschisis, gizi buruk tipe marasmik, susp. GERD. Alloanamnesis dengan orang tua pasien mendapatkan informasi bahwa sejak anak berumur 2 minggu anak sering gumoh, kadang tersedak dan napas grok-grok, kontrol rutin di poliklinik anak RSUD Wates. 3 bulan SMRS (usia 1,5 bulan) anak mengalami muntah dan sesak napas, dirawat selama 7 hari di RS Bhaktiningsih, dikatakan infeksi saluran napas. Pada saat 2

dirawat anak dikatakan palatoschisis, sejak itu anak minum dengan NGT. Anak kemudian dirujuk ke RS Panti Rapih dirawat selama 12 hari. Selama perawatan muntah dan sesak berkurang, kemudian anak diperbolehkan pulang 1 bulan SMRS anak kembali dirawat di RSUD Wates dengan vomitus profus dengan dehidrasi tak berat, palatoschisis, gizi buruk tipe marasmik. Hasil rontgen thoraks tampak gambaran bronchopneumonia. Selama perawatan anak batuk, sesak dan demam, didiagnosis pneumonia dan diberikan terapi kotrimoksazol kemudian diganti ampisillin dan gentamisin. 2 minggu SMRS sesak napas semakin meningkat, pada pemeriksaan didapatkan peningkatan usaha napas, saturasi oksigen menurun dan tanda distress napas sehingga perawatan di pindah ke PICU dengan Nasal CPAP (FiO2 60%, PEEP 5) selama 3 hari, antibiotik diganti dengan ceftriaxon. Selama perawatan di PICU klinis membaik, sehingga Nasal CPAP diganti oksigen headbox dan akhirnya alih rawat ke bangsal dengan oksigen nasal kanul 1 liter/menit (saturasi oksigen 95-96%). Pada saat pindah bangsal, sesak berkurang, demam menurun, kadang anak masih batuk dan muntah. Antibiotik diganti dengan amoksisilin per oral dan selanjutnya dilakukan penyapihan oksigen tetapi selalu gagal dilakukan karena setiap kali nasal kanul dicoba dilepaskan, saturasi menurun hingga 75-80% sehingga akhirnya dirujuk ke RSS. Pada saat dirujuk ke RSS anak masih demam sub febris, batuk dan sesak napas berkurang dibanding sebelumnya, sesekali anak gumoh. Dari alloanamnesis dengan ibu pasien didapatkan keterangan bahwa selama hamil, ibu kontrol rutin di bidan mendapatkan vitamin, penambah darah, kalk, mendapatkan suntikan TT 2x, tidak mengkonsumsi jamu-jamuan, kenaikan BB ibu saat lahir sekitar 10 kg, tidak demam, tidak bengkak di kaki, tekanan darah tidak tinggi, tidak menderita DM, asma dan penyakit jantung. Anak lahir dari ibu usia 30 tahun, P 2 A 0, umur kehamilan cukup bulan (37+ 4 minggu), lahir SC a.i. induksi gagal, ditolong dokter SpOG, tidak ada ketuban pecah dini, air ketuban jernih, BBL 2400 gram, PBL 46 cm dan LK? cm (tidak diketahui). Setelah lahir dikatakan langsung menangis. Bayi dirawat selama 3 hari, kemudian diperbolehkan pulang dengan kondisi umum baik, gerak aktif, menangis kuat, intake ASI setiap 2-3 jam 3

Riwayat pasca persalinan dikatakan kontrol di puskesmas, anak mendapatkan imunisasi BCG pada umur 1 minggu, imunisasi Hepatitis B 2 kali saat lahir dan umur 2 bulan, imunisasi DPT-1 pada umur 2 bulan, imunisasi Polio-1 pada umur 2 bulan. Imunisasi DPT-2 dan Polio-2 belum dilakukan karena anak menjalani rawat inap Tidak terdapat faktor risiko penyakit yang diturunkan dan tidak terdapat faktor risiko penyakit yang ditularkan dalam keluarga. Gambar 1.Pedigree keluarga pasien Riwayat makanan sejak lahir sampai umur 1,5 bulan anak mendapatkan ASI setiap 2-3 jam. Sejak umur 1,5 bulan hingga saat masuk rumah sakit, anak mendapatkan ASI dan susu formula per NGT 8 x 60 cc. Perkembangan motorik kasar anak mulai bisa miring usia 3 bulan, hingga saat ini belum dapat tengkurap sendiri. Perkembangan motorik halus mulai dapat menggenggam pada usia 3 bulan hingga sekarang. Perkembangan bahasa anak baru dapat bersuara tanpa arti sejak usia 4 bulan. Perkembangan sosial bisa tersenyum sejak usia 3 bulan hingga saat ini. Anak tinggal bersama ayah, ibu, kakak, kakek dan nenek di rumah seluas 6x8 m 2, terletak di wilayah pedesaan. Sejak 7 tahun sebelum hamil ibu bekerja sebagai buruh di pabrik cat, sedangkan ayah bekerja sebagai montir di bengkel sepeda motor 4

Sejak melahirkan ibu tidak bekerja, dan sejak anak dirawat inap ayah berhenti bekerja. Sebelum melahirkan ibu tinggal di rumah kost seukuran 2x3 m 2. Pada pemeriksaan fisik didapatkan ketika datang anak tampak sesak, tampak kurus, denyut jantung 130x/menit, frekuensi napas 46-50x/menit, SpO 2 77-80% (O 2 room air) namun bila dengan O 2 NK 1 liter/menit saturasi oksigen mencapai 95%, suhu tubuh 38,5 0 C, berat badan 4,4 kg, panjang badan 54 cm dengan dengan status gizi BB/U Z score < -3 SD; TB/U Z score -3 SD < z-score <-2 SD ; BB/TB <-3 SD kesan gizi buruk. Pada pemeriksaan daerah leher tidak teraba pembesaran limfonodi servikal. Bentuk dada pectus excavatum, dinding dada simetris, tidak ada ketinggalan gerak, terdapat retraksi subkostal, suara jantung I tunggal dan suara jantung II split tak konstan, tidak ada bising. Pada pemeriksaan paru didapatkan suara pernapasan vesicular, suara tambahan ronki di kedua lapang paru, tidak dijumpai krepitasi. Abdomen tidak distended, peristaltik normal, hepar teraba 1-2cm dibawah arkus kostarum, lien tidak teraba. Akral hangat, perfusi jaringan baik, ujung-ujung jari tidak sianosis. Pada pemeriksaan kepala, ubun-ubun besar (UUB) teraba 2,5 x 2,5cm 2 tidak membonjol, tidak terdapat sianosis pada mulut, tampak cleft pada palatum. Pemeriksaan laboratorium mendapatkan hasil hemoglobin (Hb) 10,5 g/dl, hematokrit (Hct) 31,9%, jumlah lekosit 11,270/mm 3, jumlah trombosit 487.000/mm 3. Rontgen thoraks mendukung gambaran pneumonia bilateral. Anak didiagnosis sebagai chronic lung disease, recurrent pneumonia, susp. GERD, palatoschizis, gizi buruk. Diberikan terapi 02 NK 1 liter/m, antibiotik amoxicillin 100 mg/kgbb/hr (3x50mg) per oral, 10 langkah manajemen gizi buruk dan ranitidin 2mg/kgBB/x. Anak dirawat selama 2 bulan di bangsal melati 2, dilakukan pemeriksaan Rontgen thoraks dengan hasil dysplasia brochopulmoner grade 2 dan CT Scan Thoraks dengan hasil pneumonia dextra (lobus superior, media dan inferior) dan dilakukan konsultasi dengan bagian bedah mulut dengan hasil tidak didapatkan celah langit-langit, hanya dijumpai palatum letak tinggi. Berdasarkan evaluasi klinis dan laboratorium selama perawatan, antibiotika diganti dengan klindamisin kemudian diganti azitromicin serta diberikan steroid berupa metilprednisolon 0,5-1mg/kgBB/x per oral selama 3 hari kemudian dilanjutkan flutikason (seretide) 2x50 μg dengan spaser. Elektrokardiografi dilanjutkan ekocardiografi dilakukan untuk melacak adanya kelainan jantung, dan didapatkan kondisi patent foramen ovale, TI mild dan PH mild 5

yang hanya memerlukan pemantauan berkala tanpa pengobatan. Selama perawatan didapatkan perbaikan klinis dan pertambahan berat badan sehingga dikatakan pneumonia dan GERD membaik, anak direncanakan pulang dengan meneruskan terapi seretide 2x50 µg dengan spacer, ranitidin oral, fisioterapi dada dan oral. Nutrisi tetap diberikan melalui NGT. Edukasi persiapan dipulangkan dengan persediaan oksigen selama di rumah. Pada hari perawatan ke-61 pasien berhasil weaning oksigen, kemudian dipulangkan. Berat badan saat pulang 4,9 kg. Kejar imunisasi pada saat itu belum dilakukan. Selama di rumah anak masih menggunakan oksigen secara intermitten bila tampak napas cepat dan saturasi menurun di bawah 92%, sedangkan nutrisi masih diberikan melalui pipa lambung berupa F100. Anak kontrol 5 hari setelah dirawat inap dan selanjutnya setiap bulan ke poli respirologi, poli gizi, poli gastroenterologi. Saat kontrol pertama (umur 7 bulan), anak tidak sesak, muntah jarang, hanya jika diberikan minum lebih dari 100cc, berat badan meningkat menjadi 5 kg. Terapi oksigen masih dipakai sesekali terutama saat malam hari dimana anak tampak nafas cepat, nafas berbunyi atau saturasi menurun di bawah 92%. Pada saat itu didiagnosis sebagai CLD, pneumonia membaik, GERD membaik, gizi buruk fase rehabilitasi, palatum letak tinggi, PFO, TI mild, PH mild, missed opportunity of immunization. Terapi diteruskan dengan seretide inhalasi menggunakan spacer, ranitidin dihentikan. Kepada orang tua disarankan melanjutkan terapi dirumah, fisioterapi, pemberian nutrisi F100 melalui pipa lambung dan dicoba minum sedikit demi sedikit per oral. Pada saat kontrol sebulan setelah rawat inap (umur 8 bulan), anak tidak sesak, oksigen telah dapat dilepaskan, anak sudah tidak muntah, tidak gumoh, anak baru dapat tengkurap belum bisa duduk, berat badan meningkat menjadi 5,2 kg, panjang badan 60 cm. Anak diases sebagai pneumonia membaik pada chronic lung disease, gizi buruk fase rehabilitasi, palatum letak tinggi, suspek keterlambatan perkembangan motorik kasar, patent foramen ovale, TI mild, PH mild, missed opportunity of immunization. Anak mendapat imunisasi polio-2, DPaT-2, HiB-1 dan Hepatitis B. Terapi seretide inhalasi masih diteruskan dengan evaluasi pada saat kontrol bulan berikutnya, nutrisi F100 diganti dengan Bebelac complete melalui pipa lambung dan per oral serta dianjurkan mulai diberikan makanan tambahan berupa bubur susu. 6

Saat diambil sebagai kasus longitudinal, anak berumur 9 bulan 20 hari dengan diagnosis chronic lung disease, gizi buruk fase rehabilitasi, suspek keterlambatan perkembangan motorik kasar, palatum letak tinggi, patent foramen ovale, TI mild, PH mild dan missed opportunity of immunization. C. Tujuan Pemantauan bertujuan untuk mengetahui luaran klinis jangka panjang chronic lung disease berupa kejadian rehospitalisasi, morbiditas penyakit berupa gangguan pernapasan dan komplikasi penyakit seperti gangguan tumbuh kembang maupun komplikasi terhadap organ lain. Pemantauan juga dimaksudkan untuk mengetahui hasil intervensi terhadap faktor prognostik pada chronic lung disease (CLD). D. Manfaat Manfaat untuk pasien adalah dengan pemantauan dan intervensi yang baik, diharapkan pasien chronic lung disease mendapatkan tata laksana sebaik-baiknya baik jangka pendek maupun jangka panjang, serta permasalahan maupun komplikasi penyakit dapat dideteksi sedini mungkin sehingga dapat dilakukan intervensi yang sesuai. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan prognosis yang lebih baik, anak memiliki kualitas hidup yang baik serta dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan mencapai kemandirian dalam melakukan aktivitasnya. Manfaat untuk keluarga dan lingkungannya antara lain keluarga dapat mengetahui dan memahami mengenai penyakit anak baik kondisi-kondisi terkait, komplikasi, prognosis dan manajemen yang diterapkan sehingga dapat bekerja sama dan berkolaborasi dalam penanganan penyakit anak. Hal ini disebabkan peranan keluarga sangat penting dalam keberhasilan tatalaksana anak dengan chronic lung disease. Kemauan dan kemampuan orang tua dalam perawatan di rumah, mengenali tanda bahaya dan melakukan pertolongan awal sebelum dibawa ke rumah sakit merupakan hal yang penting dan perlu terus diberikan motivasi agar perawatan jangka panjang dapat berjalan optimal. Manfaat untuk peserta PPDS antara lain dapat mengetahui manajemen chronic lung disease sejak penegakan diagnosis, prognosis dan pengenalan komplikasinya 7

sehingga dapat merencanakan dan melaksanakan penanganan yang berkelanjutan, dapat melakukan pemantauan pada anak dengan chronic lung disease, mengenali komplikasi sehingga dapat mencapai hasil yang seoptimal mungkin dengan terapi yang komprehensif. Manfaat bagi rumah sakit antara lain dengan melakukan pemantauan dan tatalaksana anak dengan chronic lung disease yang komprehensif, maka mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit dapat ditingkatkan dan dapat memberikan luaran yang seoptimal mungkin. 8