Etika Hidup Orang Jawa dalam Cerbung Garising Pepesthen Karya Suroso BC.HK. Majalah Penjebar Semangat Tahun 2012 Episode 1-5

dokumen-dokumen yang mirip
KIRNILAI MORAL DALAM NOVEL PELANGI DI ATAS CINTA KARYA CHAERUL AL-ATTAR DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI KELAS XI SMA

NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN KARYA TERE LIYE DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

NILAI MORAL DALAM NOVEL SUJUD NISA DI KAKI TAHAJUD SUBUH KARYA KARTINI NAINGGOLAN DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

STRUKTUR DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM NOVEL KERAJUT BENANG IRENG KARYA HARWIMUKA

NILAI MORAL NOVEL PENGANTIN HAMAS KARYA VANNY CHRISMA W. DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

ANALISIS NILAI-NILAI MORAL NOVEL RAMAYANA KARYA SUNARDI D.M. DAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARANNYA DI SMA

TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA NOVEL ELANG DAN BIDADARI KARYA PUPUT SEKAR DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI SMA

ASPEK PENDIDIKAN MORAL DALAM NOVEL CINTA SUCI ZAHRANA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN SKENARIO PEMBELAJARAN DI KELAS XI SMA

ANALISIS NILAI MORAL PADA NOVEL BUMI BIDADARI KARYA TAUFIQURRAHMAN AL-AZIZY DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA NOVEL MEMANG JODOH KARYA MARAH RUSLI DAN PEMBELAJARANNYA DI SMA

NILAI BUDAYA DALAM NOVEL SINDEN KARYA PURWADMADI ADMADIPURWA DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

ANALISIS NILAI MORAL DALAM NOVEL EDENSOR KARYA ANDREA HIRATA DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

NILAI RELIGIUS NOVEL SURGA YANG TAK DIRINDUKAN KARYA ASMA NADIA DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

AJARAN ETIKA JAWA DI PADEPOKAN PAYUNG AGUNG CILACAP

NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMSA

ASPEK KEPRIBADIAN TOKOH RAIHANA DALAM NOVEL PUDARNYA PESONA CLEOPATRA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM FILM CINTA SUCI ZAHRANA SUTRADARA CHAERUL UMAM DAN SKENARIO PEMBELAJARAN DI KELAS XI SMA

NILAI RELIGIUS NOVEL RAMBUT ANNISA KARYA ZAYNUR RIDWAN DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

ANALISIS NILAI RELIGIUS TOKOH UTAMA DALAM NOVEL SEKUNTUM NAYSILA KARYA M. BUDI ANGGORO DAN RELEVANSI PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

ABSTRAK. Kata kunci : unsur intrinsik, nilai moral, bahan pembelajaran sastra

ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA TOKOH UTAMA NOVEL MERENGKUH CITA MERAJUT ASA KARYA ARIF YS DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

NILAI AKHLAK TOKOH UTAMA DALAM NOVEL IBUKU TAK MENYIMPAN SURGA DI TELAPAK KAKINYA KARYA TRIANI RETNO A. DAN SKENARIO PEMBELAJRANNYA DI KELAS XII SMA

ANALISIS NILAI PENDIDIKAN TOKOH UTAMA NOVELTAK SEMPURNAKARYA FAHD DJIBRAN BONDAN PRAKOSO DAN FADE2BLACK DAN SKENARIO PEMBELAJARANSASTRA DI SMA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sastra merupakan salah satu cabang kesenian yang selalu berada dalam

NILAI MORAL NOVEL TAHAJUD CINTA DI KOTA NEW YORK KARYA ARUMI EKOWATI DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI. nilai-nilai moral terhadap cerita rakyat Deleng Pertektekkendengan menggunakan kajian

NILAI MORAL DALAM NOVEL RINDU KARYA TERE LIYE DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XII SMA

IDENTIFIKASI KARAKTER TOKOH UTAMA DALAM NOVEL DI UJUNG JALAN SUNYI KARYA MIRA WIJAYA DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI SMA KELAS XI

ANALISIS PERWATAKAN TOKOH UTAMA NOVEL NI WUNGKUK KARYA ANY ASMARA

NILAI-NILAI PENDIDIKAN NOVEL GURU PARA PEMIMPI KARYA HADI SURYA DAN RENCANA PEMBELAJARANNYA DI SMA

ANALISIS NILAI MORAL NOVEL HADIAH KECIL DARI TUHAN KARYA ADI RUSTANDI DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA TOKOH UTAMA NOVEL HANIF: ZIKIR DAN PIKIR KARYA REZA NUFA DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI KELAS XII SMA

ANALISIS NILAI MORAL NOVEL SURGA YANG TAK DIRINDUKAN KARYA ASMA NADIA DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI SMA

NILAI-NILAI MORALDALAM NOVEL AYAH MENGAPA AKU BERBEDA? KARYA AGNES DAVONAR DAN SKENARIOPEMBELAJARANNYA DI SMA KELAS X

ANALISIS NILAI MORAL DALAM NOVEL SEE YOU IN UZLIFATUL JANNAH KARYA FERYANTO HADI DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

Analisis Resepsi Sastra Cerita Sambung Ngonceki Impen Karya Sri Sugiyanto

NILAI MORAL NOVEL KUTITIPKAN AZEL KEPADAMU KARYA ZAYYADI ALWY DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

NILAI AKIDAH TOKOH UTAMA NOVEL BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA

Nilai Moral dalam Serat Kartawiyoga karya Ki Reditanaya dan Relevansinya dengan Kehidupan Sekarang

NILAI RELIGIUS NOVEL KERLING SI JANDA KARYA TAUFIQURRAHMAN AL-AZIZY DAN SKENARIO PEMBELAJARAN DI KELAS XI SMA

ANALISIS NILAI RELIGIUS NOVEL WO AI NI, ALLAH KARYA VANNY CHRISMA W. DAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI KELAS XI SMA

NILAI MORAL DALAM NOVEL MENEBUS IMPIAN KARYA ABIDAH EL KHALIEQY DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

ANALISIS STRUKTURAL NOVEL BERLAYAR KE SURGA KARYA RAMADHA TSULATSI HAJAR DAN IMPLEMENTASINYA SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN DI SMA

NILAI RELIGIUS DALAM NOVEL HITAM PUTIH KARYA MUSTHOFA ACHMAD DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

ANALISIS NILAI MORAL PADA NOVEL ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH KARYA WIWID PRASETYO DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI SMA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada era an banyak bermunculan novel-novel yang berbahasa

NILAI RELIGIUS NOVEL HAJI BACKPACKER KARYA AGUK IRAWAN MN DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

Analisis Struktural Novel Rangsang Tuban Karya Padmasusastra dan Pembelajarannya di SMA

ANALISIS STRUKTURAL DAN MORALITAS TOKOH DALAM DONGENG PUTRI ARUM DALU KARANGAN DHANU PRIYO PRABOWO

ANALISIS NILAI MORAL TOKOH UTAMA DALAM NOVEL DI BAWAH LANGIT JAKARTA KARYA GUNTUR ALAM DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XII SMA

ANALISIS NILAI PENDIDIKAN PADA NOVEL ORANG CACAT DILARANG SEKOLAH KARYA WIWID PRASETYO DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI SMA KELAS XI

Analisis Struktural Objektif Cerita Sambung Rembulan Wungu Karya Ardini Pangastuti dalam Majalah Djaka Lodang Edisi Maret-Juli 2011

ANALISIS TOKOH UTAMA DAN NILAI MORAL DALAM NOVEL CANTING KARYA ARSWENDO ATMOWILOTO DAN SKENARIO PEMBELAJARAN DI SMK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

NILAI-NILAI RELIGIOSITAS NOVEL MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH KARYA TERE LIYE DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI SMA KELAS XI

PENDIDIKAN KARAKTER NOVEL TEMPAT PALING SUNYI KARYA ARAFAT NUR DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI SMA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

ANALISIS NILAI MORAL NOVEL CINTA SUCI ZAHRANA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

KAJIAN NILAI MORAL TEMBANG MACAPAT DALAM BUKU MÉGA MENDUNG KARANGAN TÉDJASUSASTRA DAN RELEVANSINYA DENGAN KEHIDUPAN SEKARANG

NILAI PENDIDIKAN ANTIKORUPSI DALAM CERPEN JALAN LAIN KE ROMA KARYA IDRUS DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS X SMA

BAB I PENDAHULUAN. juga memberikan pengalaman dan gambaran dalam bermasyarakat.

BAB V PENUTUP. struktural adalah menjelaskan sedetail mungkin unsur-unsur pembangun sebuah

NILAI PENDIDIKAN KARAKTER NOVEL LAMPAU KARYA SANDI FIRLY DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

NILAI NILAI DIDAKTIS DALAM NOVEL CINTA SUCI ZAHRANA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY. Oleh : Rice Sepniyantika ABSTRAK

NILAI PENDIDIKAN KARAKTERNOVEL BURLIANKARYA TERE LIYE DAN SKENARIO PEMBALAJARANNYA DI SMA

NILAI PENDIDIKAN NOVEL AIR BASUHAN KAKI IBU KARYA TAUFIQURRAHMAN AL-AZIZY DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

Konflik Sosial Dalam Novel Cintrong Paju-Pat Karya Suparto Brata (Tinjauan Sosiologi Sastra)

NILAI PENDIDIKAN DALAM NOVEL MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH KARYA TERE-LIYE DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

FEMINISME TOKOH UTAMA DALAM NOVEL KEMBANG ALANG- ALANG KARYA MARGARETH WIDHY PRATIWI

ANALISIS TOKOH UTAMA NOVEL BATAS KARYA AKMAL NASERY BASRAL, RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER, DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

NILAI MORAL NOVEL SEPATU DAHLAN KARYA KHRISNA PABICHARA DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

ANALISIS NILAI MORAL DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM NOVEL AMELIA KARYA TERE LIYE DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

II. KAJIAN PUSTAKA. makhluk lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari pasti mengalami apa itu proses. dalam kehidupan sosial (Soekanto, 1996: 140).

NILAI MORAL NOVEL BULAN KARYA TERE LIYE DAN RENCANA PEMBELAJARANNYA DENGAN METODE GROUP INVESTIGATION DI KELAS XI SMA

ABSTRAK. Kata kunci: unsur intrinsik, nilai religius, bahan pembelajaran sastra.

Konflik Psikis pada Tokoh-Tokoh Wanita dalam Novel Kunarpa Tan Bisa Kandha Karangan Suparto Brata (tinjauan psikologi sastra)

IDENTIFIKASI TOKOH UTAMA DALAM NOVEL LAMPAU KARYA SANDI FIRLY DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS VIII SMP

Pendidikan Karakter Berbasis Moral dalam Novel Eliana Karya Tere Liye dan Pembelajarannya di Kelas XII SMK

Analisis Nilai Moral Rubrik Wacan Bocah dalam Majalah Djaka Lodang Edisi Juni-Desember 2013 dan Relevansinya dengan Kehidupan Sekarang

ASPEK SOSIOLOGI SASTRA DALAM NOVEL SEPENGGAL BULAN UNTUKMU KARYA ZHAENAL FANANI DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

NILAI MORAL NOVEL DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN KARYA TERE LIYE DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

ASPEK SOSIOLOGI SASTRA NOVEL 99 HARI DI PRANCIS KARYA WIWID PRASETIYO DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI KELAS XI SMA

KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA ASPEK KEPRIBADIAN TOKOH LASI NOVEL BEKISAR MERAH KARYA AHMAD TOHARI DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

NILAI-NILAI PENDIDIKAN NOVEL RANAH 3 WARNA KARYA AHMAD FUADI DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA.

PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS MORAL DALAM NOVEL AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG KARYA TERE LIYE DAN PEMBELAJARANNYA PADA KELAS XI SMA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang memiliki

STUDI KOMPARATIF NOVEL DJODO KANG PINASTI KARYA SRI HADIDJOJO DAN NOVEL GUMUK SANDHI KARYA POERWADHIE ATMODIHARDJO

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bangsa. Melalui karya sastra manusia bisa mengetahui sejarah berbagai hal,

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN LANDASAN TEORI. Dalam melakukan sebuah penelitian memerlukan adanya kajian pustaka.

BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam keberagaman sering kali lupa terhadap nilai-nilai kebudayaan yang

BAB I PENDAHULUAN. realitas, dan sebagainya. Sarana yang paling vital untuk memenuhi kebutuhan

NILAI AKHLAQUL KARIMAH TOKOH UTAMA DALAM NOVEL IQRA! KARYA REZA NUFA DAN PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA MUHAMMADIYAH KUTOARJO

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Oleh: Tri Wahyuningsih Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

NILAI PENDIDIKAN NOVEL RANAH 3 WARNA KARYA AHMAD FUADI SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN SASTRA DI KELAS XI SMA

NILAI-NILAI MORAL DALAM NOVEL KEMI CINTA KEBEBASAN YANG TERSESAT KARYA ADIAN HUSAINI ARTIKEL ILMIAH DELVI SEPTIANI NPM

NILAI PENDIDIKAN AKHLAK NOVEL AIR MATA TUHAN KARYA AGUK IRAWAN M. N. DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

NILAI-NILAI MORAL DALAM NOVEL BUMI CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN SKENARIO PEMBELAJARANNYA DI KELAS XI SMA

Transkripsi:

Etika Hidup Orang Jawa dalam Cerbung Garising Pepesthen Karya Suroso BC.HK. Majalah Penjebar Semangat Tahun 2012 Episode 1-5 Oleh: Sri Iriyanti Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa 24April1962@gmail.com Abstrak.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) struktur sastra cerbung Garising Pepesthen karya Suroso,BC.HK meliputi tema, alur, Latar (setting), tokoh dan penokohan, serta amanat; (2) etika hidup orang Jawa dalam cerbung Garising Pepesthen karya Suroso,BC.HK menggunakan teori yang diungkapkan oleh Widyawati,wiwik. Etika hidup orang Jawa dalam penelitian ini adalah merupakan Filsafat hidup orang Jawa berdasarkan kalimatkalimat yang ber-falsafah Jawa yaitu seperti eling, pracaya dan mituhu tiga hal tersebut yang harus dilaksanakan setiap hari oleh manusia, yang dasarnya yaitu ajaran-ajaran etika dalam Serat Sasangka Jati yang telah digunakan oleh R.Sunarto. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah cerita bersambung Garising Pepesthen, dan data dalam penelitian ini berupa kutipan-kutipan cerita peristiwa yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari, cerita bersambung Garising Pepesthen. Selain itu, juga berupa kutipan-kutipan cerita yang mengandung makna. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik catat dan pustaka. Instrumen penelitian yang digunakan adalah human instrument yang dibantu buku tentang teori sastra, serta kartu pencatat data. Teknik analisis data yang digunakan adalah content analysis atau analisis isi. Dalam penyajian hasil analisis data digunakan teknik informal. Hasil penelitian dari cerita bersambung ini menunjukkan bahwa (1) struktur cerita dalam cerita bersambung Garising Pepesthen dalam majalah Penjebar Semangat adalah tema, alur, tokoh dan penokohan, dan latar, amanat. Tema dalam cerita bersambung Garising Pepesthen tersebut tentang kisah dokter yang kandas untuk berjodoh karena suratan takdir. Alur dalam cerbung Garising Pepesthen sorot balik. Latar/setting terdapat di kota Negara Bali, rumah gedung desa Kethuthuk, UGM, Jl.Magelang, Pakuningratan, Prambanan, Banyumas, Paviliun, Hotel, Kaliurang, Jakarta, Pantai Cupel, Candi Kesuma. Tokoh dan penokohan terdiri dari tokoh utama yaitu Anggun Wibawa dan penokohannya ramah dan mudah bergaul, selalu ingat nasehat ibu, sopan dan Endah Ratriningsih dan penokohannya mudah bergaul, menarik hati, menghargai orang tua, tokoh tambahan, Pak Hardiman, Ibu Soesanti, Ni Luh Lusiningtyas dan Pak Harsa. Selanjutnya (2) etika hidup orang Jawa (a) eling, (b) pracaya,(c) mituhu, (d) Rila, (e) narima, (f) temen, (g) sabar, (h) budi luhur; dan makna cerita bersambung Garising Pepesthen karya Suroso,Bc.HK adalah tentang pesan-pesan pengarang yang berhubungan dengan masalah kehidupan yang dialami oleh manusia. Kata kunci : etika hidup, struktural, cerita bersambung Pendahuluan Pada saat itu timbul anggapan bahwa karya sastra berupa cerita yang berbahasa Jawa di pandang karya yang remeh kurang bermutu, atau cengeng, sehingga sulit dikategorikan sebagai karya sastra. Saat mulai banyak cerita-cerita Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 28

berbahasa Jawa yang di kenal masyarakat dengan istilah penglipur lara, roman picisan dan lain-lain yang bernada tak suka terhadap karya-karya novel, dan cerita bersambung. Kemunculan cerita berbahasa Jawa tersebut pada awalnya mendapat dukungan dari berbagai surat kabar atau majalah yang menjadi wadah tersiarnya jenis sastra ini. Sebagai sebuah karya sastra, cerita bersambung menawarkankan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Hasil karya sastra fiksi berupa cerita bersambung adalah potret realitas yang terwujud melalui bahasa yang estetis. Karya-karya Suroso, Bc.HK sesuai dengan selera masyarakat Jawa maksudnya menyenangkan dan bermanfaat, seni sastra itu menyenangkan karena bersifat harmonis dengan kata-katanya, menarik hati, mengharukan, mengandung konflik dan sebagainya. Suroso, Bc.HK termasuk pengarang tahun 70 an, sekelas dengan Tiwiek SA dan Djajus Pete, karya-karyanya seperti, Njareming pangigit-igit, Racun-racun ing puri Buleleng, dan karya lainnya yang telah di hasilkan dan dimuat di berbagai majalah berbahasa Jawa seperti, Penjebar Semangat, Mekar Sari, Joko Lodang, karya-karyanya antara lain, cerita bersambung yang berkaitan dengan bidang sastra. Suroso,Bc.HK juga pernah menerima penghargaan Satya Lencana karya satya karena pengabdiannya selama 30 tahun, yang bertepatan di HUT RI ke 67. Pengarang menghayati berbagai permasalahn tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkannya kembali melaui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya (Nurgiantoro, 1995: 2) Budaya Jawa lebih menitik beratkan etika hidup yang tidak mengenai pola kehidupan di luar. Pada kenyataannya dengan adanya etika hidup, manusia terpaksa mengerjakan kegiatannya sesuai aturan. Jadi etika Jawa merupakan sebuah aturan agung yang harus di jaga dan sangat membutuhkan amanat. Amanat yang tersirat dalam cerita bersambung Garising Pepesthen ini terdapat pada akhir cerita. Amanat pengarang dalam cerita ini disampaikan melalui tokoh ibu Susanti yang akhirnya harus sabar karena anaknya ber nama Anggun Wibawa gagal untuk hidup berumah tangga. Amanat yang tersurat dapat ketahui melalui ungkapan langsung dari dialog salah satu tokoh, dimana Pak Hardiman ayah Anggun sendiri menasehati anaknya, bahwa bagi orang yang akan membangun rumah tangga itu Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 29

banyak sekali cobaan serta ujian hidup, sepahit apapun kenyataan itu manusia harus mampu menjalaninya. Metode penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Bogan dan Taylor dalam Moelong (1988: 4) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik atau utuh. Sumber adalah subjek pemerolehan data. Sumber data dalam penelitian ini yaitu majalah Penjebar Semangat yang memuat cerita bersambung Garising Pepesthen karya Suroso,Bc.HK, buku tentang teori sastra, buku tentang Etika dan pandangan hidup orang Jawa, dan referensi lain. Data dalam penelitian ini berupa data dalam penelitian ini meliputi deskripsi kalimat dan kutipan struktur dan etika hidup orang Jawa dalam cerbung Garising Pepesthen karya Suroso,Bc.HK. Sumber data adalah subjek dari mana data penelitian dapat diperoleh (Arikunto, 2010:172). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian meliputi membaca cerbung Garising Pepesthen karya Suroso,Bc.HK, memahami cerbung Garising Pepesthen karya Suroso,Bc.HK, mencari struktural berupa tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, amanat, dan Etika hidup orang Jawa dalam cerbung Garising Pepesthen karya Suroso,Bc.HK, mencatat data yang diperoleh sesuai dengan objek penelitian. Instrumen penelitian yang utama dalam penelitian ini adalah buku tulis, pensil, peneliti sendiri, dan kartu data. Instrumen dalam penelitian ini adalah human instrument menurut Moleong (1989: 168). Teknik keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis konten (analisis content). Teknik penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini mengunakan teknik informal. Sudaryanto (1993: 145) menyatakan bahwa teknik informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa tanpa lambang-lambang. Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 30

Hasil Penelitian Bentuk penyajian dalam cerbung garising pepesthen episode 1-15, yaitu: 1. Struktur cerita bersambung garising pepesthen karya Suroso,Bc.HK. a. Tema pada cerita bersambung Garising Pepesthen karya Suroso,Bc.HK ialah perjodohan yang selalu gagal. b. Alur yang terdapat dalam cerita bersambung GarisingPepesthen karya Suroso,Bc.HK adalah alur sorot balik c. Dalam cerita bersambung Garising Pepesthen karya Suroso.Bc.HK terdapat beberapa latar yang dipakai meliputi latar tempat, latar waktu, latar sosial. Latar tempat meliputi: Pulau Bali, Rumah Gedung, UGM, Pegunungan Dieng, Jalan Magelang, Pakuningratan, Prambanan, Banyumas, Paviliun, Kaliurang, Hotel, Sala, Jakarta, Pantai Cupel, Kamar Keluarga, Candi Kesuma. Latar waktu meliputi: Kemarau, Waktu malam. Setiap waktu, Malam Minggu, Sabtu sore, Suatu hari, Hari Minggu.Latar Sosial meliputi: Pandangan hidup, kebebasan hidup, keyakinan hidup, adat sopan santun, Adat Istiadat, Memegang teguh Hukum Karma. d. Tokoh dan penokohan dalam cerita bersambung GarisingPepesthenkarya Suroso,Bc.HK yaitu tokoh Anggun mempunyai perwatakan seperti ramah, sederhana, jujur, sopan, selalu mengingat nasehat orang tua. Tokoh Ratri mempunyai perwatakan seperti mudah bergaul, menyenangkan hati, menghargai orang tua.tokoh Pak Harsa mempunyai perwatakan seperti berwibawa, berpikir sebelum bertindak, bijaksana, selalu ramah. Tokoh Bu Harsa mempunyai perwatakan seperti sombong, takabur, culas, kejam. Ibunya Anggun mempunyai perwatakan seperti ramah, keibuan, baik hati. Tokoh Yuanita mempunyai perwatakan seperti pengertian, baik hati, budi luhur, setia kawan.tokoh Pak Hardiman mempunyai perwatakan seperti jiwa kesatria, kebapakan, familier, baik hati. Tokoh Lusi mempunyai perwatakan seperti cerdas, lincah, berperasaan halus. Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 31

e. Amanat yang dipakai dalam cerita bersambung Garising Pepesthen karya Suroso,Bc.HK adalah pesan pengarang yang memberikan ajaran moral yakni bahwa kita hidup jangan mudah menyerah, selalu bekerja keras, dan berfikir positif. 2. Etika Hidup Orang Jawa dalam cerita bersambung Garising Pepesthen karya Suroso,Bc.HK. Etika Hidup Orang Jawa dalam cerita bersambung Garising Pepesthen karya Suroso,Bc.HK tentang sikap dasar, yang menjadi pedoman pokok hidup bermasyarakat, orang Jawa yang taat kepada adat-istiadat warisan nenek moyangnya, selalu mengutamakan kepentingan umum atau masyarakatnya dari pada kepentingan pribadinya. Karena sikap hidup dapat dikatakan telah menjadi pedoman umum dan bahkan merupakan etika sosial atau bahkan telah menjadi ukuran moral masyarakat Jawa. Etika Hidup Orang Jawa dalam cerita bersambung karya Suroso,Bc.HK. a. Eling atau sadar yang dimaksud eling atau sadar ialah sadar untuk selalu berbakti kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Manusia agar eling atau sadar untuk bersifat hati-hati, agar dapat memisahkan antara yang benar dan yang salah. Contohnya yakni, Dengan peristiwa Dr. Anggun dengan Dr. Ratriningsih, walaupun Dr. Anggun sangat sayang dengan Dr.Ratri, tetapi Dr. Anggun tidak boleh larut dalam kesedihan terus-menerus, dan sadar akan kewajibannya sebagai seorang dokter. b. Pracaya atau percaya ialah percaya kepada utusan-nya berarti pula percaya kepada JIwa Pribadinya sendiri serta kepada Allah. Dengan kepercayaan terhadap Tuhan manusia tidak boleh berputus asa, untuk terus berusaha semaksimal mungkin. Contohnya, Dr. Anggun memohon pada Dr. Ratri agar semua masalah serahkan pada Tuhan, karena Tuhan Maha penentu dan mengatur, termasuk jodoh, maut dan perpisahan. c. Mituhu ialah setia kepada Nya dan selalu melaksanakan segala perintah-nya. Manusia harus dapat mituhu atau setia apalagi dengan orang tua yang selalu menyayangi anak-anaknya sampai akhir hayat. Contohnya, walaupun Dr. Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 32

Anggun sudah dewasa dan menjadi dokter, tak pernah melupakan apa yang di ucapkan oleh Ibunya, bahkan tidak berani membantahnya, Dr. Anggun selalu memperhatikan semua kata-kata Ibunya serta mituhu akan nasehat Ibunya. d. Rila atau rela yaitu keikhlasan hati sewaktu menyerahkan segala miliknya, orang yang memiliki sifat rela, tidak berharap akan mendapatkan imbalannya. Dengan bekerja keras didasari rasa rila atau keikhlasan, maka hidup ini akan merasa nikmat tak terhingga dan tidak sia-sia dan tidak disiasiakan. Contohnya, Dr. Anggun dan Lusi tidak jadi berumah tangga, karena keduanya kakak beradik, maka harus rela dan ikhlas untuk kebahagiaan keluarga, yang berpisah selama 29 th. e. Narima atau menerima berarti tidak menginginkan milik orang lain, maka orang yang narima sebagai orang yang bersyukur kepada Tuhan. Manusia diharapkan untuk menerima apa yang di takdirkan oleh Tuhan dan menikmati dengan penuh rasa syukur, dengan berfikir kedepan. Contohnya, pada sosok ibu yang melihat Dr. Anggun supaya hidupnya selalu bersemangat tidak merasakan kesedihan yang mendalam, berupaya menerima semua yang sudah menjadi takdir Illahi. f. Temen atau sungguh-sungguh menepati janji segala apa yang pernah di ucapkan sendiri. Hubungan antara Anggun dan Ratri dijalani secara sungguhsungguh namun tidak meninggalkan tata cara orang Jawa pada umumnya. Contohnya, walaupun hubungan Anggun dan Ratri sudah kian akrab, namun Anggun belum berani menyatakan cinta, karena Anggun dengan sungguhsungguh memegang teguh akan prinsipnya, agar tidak ada orang yang tersakiti dan menyakiti. g. Sabar adalah sifat merupakan tingkah laku yang terbaik, orang yang sabar berarti kuat menghadapi segala cobaan. Seseorang dapat dikatakan sabar apabila sudah sering mendapat cacian, tuduhan serta fitnahan, dengan mencari tahu sebab musababnya atau mengerti cara mengatasinya. Contohnya, Dr. Yuanita setelah mendengar tuduhan yang mengandung fitnah Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 33

tidak serta merta marah kepada yang menuduhnya, namun dengan sabar dia memberi kebaikan dan membuktikan bahwa dirinya tidak seperti yang di tuduhkan. h. Budi luhur berarti suka menolong dan melindugi dengan tanpa mengharap balas jasa, bahkan kalau mungkin jiwa sendiri pun dikorbankannya. Sosok orang yang berbudi luhur memang jarang sekali jaman sekarang, yang melakukan segala sesuatunya dengan hati, dengan perasaan yang mendalam, untuk membantu sesama tidak ragu-ragu. Contohnya, apa yang didengar oleh Dr. Yuanita bahwa Dr. Ratri pergi ke Jakarta karena marah dan cemburu. Maka yang di lakukan Dr. Yuanita dengan cara mengirim surat pada Dr. Ratri, memberikan penjelasan apa yang sebenarnya terjadi dan bermaksud untuk menyatukan Dr. Ratri dengan Dr. Anggun untuk pulang ke Yogya kembali kepada kekasihnya. Simpulan Bentuk struktur cerita bersambung garising pepesthen karya Suroso, Bc. HK meliputi tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, dan amanat. Etika hidup orang jawa dalam cerita bersambung karya Suroso, Bc.HK. Meliputi: eling, pracaya, mituhu, rila, narima, temen, sabar, budi luhur. Daftar Pustaka Arikunto, Suharsini. 2010. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik Jakarta: Rineka Cipta. Moleong, Lexy. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Remaja Rosdakarya. Nurgiyantoro, Burhan. 1994. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 34