BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN. dengan Motto Narada School: Bahusacca Sippa Sila (Ilmu Pengetahuan

BAB I PENDAHULUAN. Semakin berkembangnya dunia pendidikan menuntut setiap lembaga pendidikan

BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Masalah pendidikan Indonesia ibarat benang kusut yang terus bertambah.

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ekonomi Indonesia saat ini semakin pesat, sehingga terjadi

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Visi : Menjadi lembaga unggul dalam mengembangkan seluruh potensi anak yang berakhlaq mulia, mandiri dan kreatif. Misi:

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. SMA

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan. bahwa dalam proses pendidikan, peserta didik/siswa menjadi sentral

BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI SEKOLAH BERBASIS PESANTREN DI SMP DARUL MA ARIF BANYUPUTIH KABUPATEN BATANG

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Hal ini bersentuhan dengan Undang - undang Nomor 20 Tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. berjalan dengan sangat efektif dan efisien. Efektifitas dan efisiensi proses kerja

BAB I PENDAHULUAN. khususnya orang tua juga merupakan faktor terpenting dalam mempengaruhi

PROFIL AISYIYAH BOARDING SCHOOL BANDUNG

BAB II DESKRIPSI SD SURYA BANGSA

BAB II OBYEK PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan faktor penting bagi kelangsungan kehidupan

BAB II DESKRIPSI SMA NEGERI RAYON 08 JAKARTA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. guru menempati titik sentral pendidikan. Peranan guru yang sangat penting adalah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan di Indonesia adalah seluruh pendidikan yang diselenggarakan di

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 3 DESKRIPSI UMUM STUDENT DESK DAN PARENT DESK BINUS INTERNATIONAL SCHOOL SERPONG

DIKLAT/BIMTEK KTSP 2009 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL HALAMAN 1

PENERAPAN KONSEP PEMBELAJARAN HOLISTIK DI SEKOLAH DASAR ISLAM RAUDLATUL JANNAH WARU SIDOARJO PADA MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

BAB I PENDAHULUAN. yang saling berinteraksi di dalamnya, salah satu komponen tersebut adalah sumber

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. CIPP. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Pada penelitian ini sasaran

BAB I PENDAHULUAN. miliar giga byte informasi baru di produksi pada tahun 2002 dan 92% dari

BAB I PENDAHULUAN. pengawasan, dan penilaian. Suasana pembelajaran akan mampu. menciptakan lingkungan akademis yang harmonis dan produktif, jika

PRINSIP PENGEMBANGAN KARIR BIDAN

BAB I PENDAHULUAN. E. Mulyasa, Manajemen PAUD, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2014, hlm

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 202 TAHUN : 2016 PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG

TERWUJUDNYA LAYANAN PENDIDIKAN YANG PRIMA, UNTUK MEMBENTUK INSAN LAMANDAU CERDAS KOMPREHENSIF, MANDIRI, BERIMANDAN BERTAQWA SERTA BERBUDAYA

BAB I PENDAHULUAN 1 PAUD DAN SD ALAM DI SEMARANG TUGAS AKHIR 115 ALIZA MELINDA (L2B ) 1.1 Latar Belakang

BELAJAR DI ERA DIGITAL: BAHASA INGGRIS BERBASIS LOKALITAS MELALUI MEDIA SOSIAL SEBAGAI LANGKAH ANTISIPATIF MENYONGSONG 0 KM JAWA

BAB I PENDAHULUAN. umumnya dan anak pada khususnya. Sebenarnya pendidikan telah dilaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, politik, budaya, sosial dan pendidikan. Kondisi seperti ini menuntut

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang masalah

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. SMA Ar-Risalah beralamat Jl. Aula Muktamar no.2 kota kediri,

BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL. Pendidikan pesantren dalam menghadapi era globalisasi, meskipun pada

BAB I PENDAHULUAN. kependidikan sebagai unsur yang mempunyai posisi sentral dan strategis

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan perkembangan zaman kehidupan manusiap musik saat ini

BAB I PENDAHULUAN. sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan keakuratan dalam pemerosesan data dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional mempunyai fungsi

PENDAHULUAN. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Mathla ul Anwar merupakan salah satu. Madrasah Swasta yang di selenggarakan oleh Perguruan Mathla ul Anwar Kota

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan suatu negara, pendidikan memiliki peran strategis dalam

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan salah satu kunci utama dalam perkembangan

DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan tidak hanya berlangsung pada satu tahap perkembangan saja

BAB I PENDAHULUAN. dampak positif juga memberi dampak negatif terutama ditunjukkan oleh

Sekolah Taman Kanak-Kanak Dasar Model (TK dan SD Model) Kabupaten Sleman

BAB I PENDAHULUAN. Potensi dibidang pendidikan di wilayah Tangerang sangat besar, ditandai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. mengarahkan pendidikan menuju kualitas yang lebih baik. Berbagai. Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun,

BAB I PENDAHULUAN. teknologi yang terus berkembang pesat, sehingga dibutuhkan individu-individu

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. Gambar 1.1 Logo Yayasan Badan Perguruan Indonesia

Ahlan wa Sahlan. PARA TAMU UNDANGAN open house

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dikembangkan agar pribadi anak berkembang secara optimal. Tertunda atau

BAB I PENDAHULUAN. Landasan Program Perencanaan & Perancangan Arsitektur Tugas Akhir Periode 135

BAB I PENDAHULUAN. reformasi diindikasikan dengan adanya perombakan di segala bidang kehidupan,

BAB I PENDAHULUAN. Bab pendahuluan ini secara berturut-turut di bahas mengenai latar belakang, fokus

Cendikia Religius Akhlaqul Karimah Entrepreneur. Be The Teacher of The World

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. pendidikan karakter telah menjadi bagian penting dari visi dan misi SMA

BAB I PENDAHULUAN. Sastra tumbuh, hidup, dan berkembang seiring dengan kemajuan peradaban

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, berkeluarga, bermasyarakat maupun berkarya. Sebaliknya orang

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. A. Dasar Pemikiran Terbentuknya ANAK PRIMA

A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Menengah Kejuruan (SMK). Posisi SMK menurut UU Sistem Pendidikan. SMK yang berkarakter, terampil, dan cerdas.

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan teknologi, dibutuhkan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia

VISI, MISI, DAN PROGRAM UB TAHUN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PEMERINTAH KABUPATEN KULON PROGO

HOMESCHOOLING PRIMAGAMA SEKOLAH BERBASIS BAKAT DAN MINAT

BAB I PENDAHULUAN. aspek, termasuk dalam struktur sosial, kultur, sistem pendidikan, dan tidak

BAB II HASIL SURVEY. 2.1 Gambaran Umum SMK Prapanca 2 Surabaya oleh Drs. H.Suwandi di bawah kepengurusan Yayasan Pendidikan

I. PENDAHULUAN. positif dan negatif pada suatu negara. Orang-orang dari berbagai negara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. istilah ini dikenal Cerdas Istimewa adalah bentuk alternatif pelayanan pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik

BAB I PENDAHULUAN. besar dan kecil mempunyai berbagai keragaman. Keragaman itu menjadi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat di era

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Teknologi Informasi berkembang sangat pesat seiring penemuan dan

2014 FAKTOR-FAKTOR DETERMINAN YANG MEMENGARUHI PEMBENTUKAN JIWA WIRAUSAHA SISWA SMK

BAB I PENDAHULUAN. kecerdasan anak sebanyak-banyaknya. Di masa peka ini, kecepatan. pertumbuhan otak anak sangat tinggi hingga mencapai 50 persen dari

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG UPI Kampus Serang Nova Sri Wahyuni, 2016

BAB I PENDAHULUAN. untuk melakukan perubahan sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman.

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. karyawan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. pada tanggal 17 Januari 1980

Transkripsi:

8 BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN 2.1. Sejarah Lembaga SIT Darul Abidin berada di bawah naungan Yayasan Darul Abidin Depok. Di atas lahan 2.500 m2, bangunan pertama didirikan pada tahun 1997 dan pada saat itu SIT Darul Abidin hanya memiliki beberapa lokal sekolah dasar dengan 50 orang siswa. Saat ini SIT Darul Abidin memperluas lahannya sehingga mencapai 1,2 hektar dan memiliki beberapa gedung untuk level TK, SD, dan SMP dan fasilitas sekolah seperti Masjid, Laboratorium Komputer, Lapangan, dan kantin. Siswa SIT Darul Abidin saat ini mencapai 750 siswa dengan 93 orang guru berbagai tingkatan. Yayasan Darul Abidin Depok merupakan yayasan keluarga dengan ketua yayasannya Bpk. H. Indra T Abidin, seorang mantan pejabat pemerintahan dan senior manajer pada perusahaan swasta nasional. 2.2. Visi, Misi, dan Tujuan Visi SIT Darul Abidin adalah: Menjadi Institusi Pendidikan yang Membangun Generasi Robbani dan Berjuang Melakukan yang Terbaik (To be Educational Institution that Develop Robbani Generation and Strive for Excellent) Misi SIT Darul Abidin adalah sebagai berikut: 8

9 1. Islamic Character, yaitu membangun dan mengembangkan pendidikan karakter Islami dalam anak didik dan mengintegrasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari. 2. Holistic Education, yaitu mengembangkan pendidikan yang menyentuh segala aspek pribadi siswa dengan pendekatan yang komprehensif dan menyeluruh. 3. Engaging & Fun Learning, yaitu mengembangkan pendidikan yang melibatkan seluruh potensi anak sekaligus mengembangkan pengalaman belajar yang menyenangkan. 2.3. Lingkup Bidang Usaha SIT Darul Abidin (SITDA) memiliki lingkup bidang usaha dalam penyelenggaraan pendidikan formal khususnya dan pendidikan secara umum. Saat ini SITDA menyelenggarakan pendidikan untuk tingkat pre-elementary (Playgroup, TK), tingkat elementary (SD), dan tingkat middle school (SMP). Selain pendidikan formal, SITDA juga memiliki unit-unit bisnis yang masih dalam ruang lingkup pendidikan seperti unit Laboratorium Komputer, Koperasi Guru dan Bimbingan Qur an, Semua itu dijalankan masih dalam satu lokasi.

10 2.4. Sumber Daya SITDA memiliki sumber daya manusia sebanyak 127 orang yang meliputi 14 orang guru dengan jabatan structural (pimpinan), 79 orang guru fungsional, dan 34 orang staff. Sumber keuangan SITDA adalah mengandalkan dari uang masuk dan SPP siswa, sedikit keuntungan unit bisnis, dan suntikan dana dari yayasan. 2.5. Tantangan yang Dihadapi Sekolah Dalam dunia pendidikan, istilah bisnis dalam konteks keuntungan finansial, menjadi suatu yang tidak populer. Hal ini disebabkan karena besarnya biaya operasional pendidikan, sementara konsumen dalam hal ini orangtua siswa- tidak dapat dibebankan biaya terlalu besar. Sekolah-sekolah swasta seperti SITDA menghadapi tantangan yang semakin besar dalam mencari siswa baru seiring dengan kebijakan pemerintah untuk menggratiskan sekolah-sekolah negeri. Hal ini diartikan, sekolah swasta seperti SITDA harus mampu memberikan nilai (value) yang lebih dari sekedar yang diberikan oleh sekolah-sekolah negeri. Padahal sekolah-sekolah negeri didukung penuh oleh pemerintah dalam hal fasilitas dan program pengembangan akademis siswa. Dengan program penambahan daya tampung sekolah negeri dengan penambahan ruang kelas maupun pembukaan sekolah baru- oleh pemerintah, maka pasar dari sekolah swasta semakin sempit dan eksklusif. Dampaknya, di antara sekolah-sekolah swasta semakin ketat bersaing menawarkan ide dan model pendidikan yang unik dan unggul. Persaingan ini

11 tidak hanya dalam program pendidikannya, namun juga kepada fasilitas fisik, dan biaya pendidikan. Di masa-masa yang akan datang, eksistensi sekolah swasta akan semakin tergantung dari kreatifitas dan inovasi yang dilakukan oleh SDM yang berada di dalamnya. 2.6. Proses Pendidikan Sekolah seringkali dikatakan sebagai tempat mencetak generasi yang unggul. Hal ini sudah menjadi keyakinan dan steorotype masyarakat tidak hanya di Indonesia, namun juga seluruh dunia, bahwa sekolah masih menjadi sebuah lembaga yang memiliki kemampuan merubah seseorang dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak terampil menjadi terampil, tidak faham menjadi faham, dan tidak berkarakter menjadi memiliki karakter yang baik. Semua orangtua yang mengantarkan anaknya untuk mengikuti proses belajar di sekolah, menghendaki anaknya menjadi seseorang yang cerdas, santun dan memiliki keterampilan hidup (life skill) yang memadai. Sehingga sekolah menjalankan sebuah proses untuk merubah manusia (peserta didik) yang merupakan bahan mentah menjadi seseorang yang lebih baik sesuai dengan visi dan misi pendidikan. Proses tersebut adalah proses belajar mengajar yang dilakukan selama jangka waktu tertentu dengan menyertakan sistim pengajarannya, sarana dan pra sarananya, dan evaluasi pengajaran. Hasilnya secara formal adalah sebuah penyataan tertulis dalam bentuk narasi dan angka-angka tentang kemajuan dan keberhasilan peserta didik.

12 Penyelenggaraan proses pendidikan di sekolah juga terkait dengan sistem pendidikan yang menjadi porsi dari institusi Negara dalam hal ini Kementrian Pendidikan Nasional, yang berkewajiban melakukan fungsi administratif maupun kontekstual dalam hal pengarahan, pendampingan, penilaian. Kemendiknas juga mengatur mekanisme penyelenggaraan sebuah sekolah mulai dari perizinan, standard sarana dan pra sarana, standard isi, dan tenaga pendidik. Sehingga berjalannya proses pendidikan di sekolah dapat dipertanggung jawabkan. 2.5.1. Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (TKIT) Jenjang awal yang ditawarkan kepada masyarakat umum di SIT Darul Abidin adalah Taman Kanak-kanak yang di dalamnya sudah menawarkan kelas yang melayani anak dengan umur yang lebih rendah seperti toddler (usia mulai 3 bulan) dan playgroup (usia 3 sampai 4 tahun). Taman Kanak-kanak Darul Abidin di desain dengan model pembelajaran active learning dan multiple intelligence dengan sentra-sentra kegiatan belajar mengajar. Sehingga siswa-siswi dapat tergali bakat intelektualnya dengan cara yang menyenangkan. Sedangkan kurikulum yang dibangun adalah dengan mengintegrasikannya dengan muatan keagamaan Islam. Jenjang TK ini umumnya ditempuh selama 2 tahun, yaitu TKA (5-6 tahun) dan TKB (6-7 tahun). 2.5.2. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Jenjang berikutnya adalah Sekolah Dasar (SD). SD ditempuh selama 6 tahun mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6, dengan syarat minimum usia saat

13 awal ajaran baru di kelas 1 adalah 7 tahun. Siswa-siswi yang hendak masuk ke SDIT Darul Abidin, terlebih dahulu dites perkembangan emosionalnya dan kesiapan belajarnya. Sehingga siswa yang belum cukup umur dapat terdeteksi untuk diobservasi lebih lanjut atau disarankan kembali ke jenjang TK untuk pematangan emosional dan kesiapan belajarnya. Baik pendekatan belajar maupun metode yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar pada umumya adalah sama, yaitu belajar aktif (active learning) dan mengakomodasi siswa dengan kebutuhan khusus walaupun secara terbatas. 2.5.3. Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT Jenjang selanjutnya adalah kelas 7 sampai dengan 9 yang masuk ke dalam jenjang SMP. Di SMPIT Darul Abidin, siswa-siswi belajar dengan pendekatan yang sedikit berbeda. Selain dengan metode belajar aktif, siswa-siswi juga ditawarkan mengikuti beberapa pelajaran dan kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan bakat,kemampuan, dan minat siswa. Siswa juga mendapatkan pengalaman belajar yang lain dengan system kelas berpindah (running class atau moving class), sehingga siswa dapat lebih dinamis dan terhindar dari kebosanan. Untuk menambah wawasan, siswa juga memiliki beberapa project untuk diselesaikan selama menempuh studi di SMPIT Darul Abidin di antaranya project riset ilmiah, project seni dan budaya, dan project bersama berupa teknologi terapan seperti berternak hewan dan mengelola laboratorium alam berupa kebunkebun sekolah.

14 Saat ini SIT Darul Abidin belum membuka jenjang SMA dikarenakan belum tersedianya lahan dan pendanaan yang memadai.