BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

Berdasarkan sistem yang sedang berjalan, tahapan-tahapan proses. deteksi adanya viskositas darah dalam tubuh adalah sebagai berikut :

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

PERANCANGAN SISTEM REKOMENDASI JURUSAN BERDASARKAN POTENSI SISWA MENGGUNAKAN METODE PROFILE MATCHING

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN. evaluasi terhadap Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan STMIK Terbaik Di

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB IV PERANCANGAN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

Transkripsi:

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM III.1. Analisis Masalah KPR merupakan solusi bagi masyarakat untuk dapat membeli rumah dengan harga yang murah. Namun untuk mendapatkan persetujuan permohonan KPR ini, masyarakat harus memenuhi beberapa persyaratan ataupun kriteria yang ditentukan oleh beberapa Bank di indonesia. Pada PT. Bank Mestika Dharma, Tbk untuk memberikan persetujuan KPR bagi masyarakat, PT. Bank Mestika Dharma, Tbk harus memperhatikan persyaratan-persyaratan dan dokumen-dokumen dari pemohon KPR. Namun hal ini terkadang menyulitkan PT. Bank Mestika Dharma, Tbk karena data pemohon KPR yang dikelola sangat banyak, hal ini akan memperlambat kinerja karyawan PT. Bank Mestika Dharma, Tbk. Untuk itu diperlukan sebuah sistem komputer yang dapat mengelola data-data pemohon KPR dan memberikan keputusan yang tepat dalam persetujuan pemberian KPR. Berdasarkan analisis masalah di atas maka penulis mengusulkan sebuah sistem pendukung keputusan menggunakan perangkat keras komputer untuk menentukan calon debitur yang layak untuk mendapatkan KPR. Namun untuk menentukan kelayakan penerimaan KPR diperlukan sebuah metode untuk mendapatkan hasil yang akurat. Untuk itu penulis merekomendasikan metode profile matching di dalam penyelesaiannya. 28

29 III.2. Penerapan Metode Setelah melihat permasalah diatas maka penulis mencoba untuk merancang suatu aplikasi sistem pendukung keputusan kelayakan pemberian KPR yang lebih baik sehingga dapat menghasilkan keputusan dengan tepat. Dengan menggunakan metode Profile Matching aplikasi sistem pendukung kelayakan pemberian KPR menghasilkan keputusan yang tepat dengan menggunakan rumus metode Profile Matching. Dalam proses Profile Matching secara garis besar merupakan proses membandingkan antara kompetensi individu ke dalam kompetensi jabatan, sehingga dapat diketahui perbedaan kompetensinya (disebut juga gap). Semakin kecil gap yang dihasilkan maka bobot nilainya semakin besar berarti memiliki peluang lebih besar untuk karyawan menempati posisi tersebut (Luckyana Puspitasari : 2013). langkah rumus Profile Matching dapat dilihat sebagai berikut : 1. Menentukan kriteria-kriteria yang akan dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan. 2. Menentukan nilai dari setiap kriteria. 3. Pemetaan GAP kompetensi untuk menghitung perbedaan/selisih masingmasing aspek/atribut dengan value target. 4. Mencari nilai bobot GAP dengan hasil selisih dengan nilai variable kriteria. 5. Perhitungan dan pengelompokan core factor dan secondary factor.

30 6. Perhitungan nilai total yang diperoleh dari persen core factor dan secondary factor dengan nilai pengelompokan core factor dan secondary factor. 7. Perhitungan Penentuan Hasil Akhir Atau Ranking nilai total dari tiap alternative. III.2.1. Perhitungan Manual Profile Matching 1. Menentukan Kriteria Menentukan kriteria-kriteria yang akan menjadi acuan dalam pengambilan keputusan kelayakan pemberian KPR, yaitu: Tabel III.1. Kriteria Kriteria Aspek Dokumen Aspek Lokasi Aspek Pekerjaan Keterangan Sub Kriteria Rekening 3 Bulan Terakhir DHN Riwayat Kredit KTP Letak Rumah Type Rumah Fasilitas Kebersihan Status Penghasilan Masa Kerja Joint Income

31 2. Menentukan Nilai Sub Kriteria Nilai Sub Kriteria yang ditentukan dalam setiap aspek kriteria nantinya akan dihitung dengan pemetaan GAP untuk menghitung perbedaan/selisih masing-masing aspek/atribut dengan value target (profile). Adapun penilaian variable untuk setiap kriteria adalah sebagai berikut. Tabel III.2. Nilai Sub Kriteria Kriteria Profil Sub Kriteria Aspek Dokumen Lokasi 4 3 2 Rekening 3 Bulan Terakhir Nilai Sub Kriteria 1 2 3 DHN 1 2 3 Riwayat Kredit Bank Mestika 1 2 3 1 KTP 1 2 3 4 Letak Rumah 3 Type Rumah 1 2 3 1 2 3 2 Fasilitas 1 2 3 Keterangan Tidak Aktif Kurang Aktif Aktiff Blacklist Dalam Perhatian Khusus Bersih Macet Kurang Lancar Lancar Tidak Ada Resi KTP Ada Dekat Tebing, Dekat Kuburan, Dekat Sutet, Dekat Sungai, Dekat Pemukiman Penduduk Jauh Dari Tebing,Dekat Kuburan, Jauh Dari Sutet, Dekat Sungai, Dekat Pemukiman Jauh Dari Tebing, Kuburan, Sutet & Sungai, Dekat Pemukiman Penduduk 36 45 64 Jalan Sempit, Listrik Berbayar, Air Sumur Jalan Lingkungan, Listrik Berbayar, Air PAM Jalan Lingkungan, Listrik Elektrik, Air PAM, Jaringan Telepon

32 Pekerjaan 1 Kebersihan 1 2 3 4 Status 1 2 3 3 Penghasilan 1 2 3 2 Masa Kerja 1 2 3 1 Joint 1 Income 2 3 Kurang Bersih Cukup Bersih Bersih Kontrak Wiraswasta Karyawan Tetap 1 juta 2 juta 2 juta 5 juta > 5 juta 1 tahun 2 tahun 2 tahun 5 tahun > 5 tahun 2 jt - 4 jt 4 jt - 10 jt > 10 jt Adapun pengelompokan Kriteria Core Factor dan Secondary Factor bisa dilihat pada ditunjukkan pada Tabel III.3. Kriteria Aspek Dokumen Lokasi Pekerjaan Tabel III.3. Keterangan Sub Aspek Kriteria Keterangan Sub Kriteria Rekening 3 Bulan Terakhir DHN Riwayat Kredit KTP Letak Rumah Type Rumah Fasilitas Kebersihan Status Penghasilan Masa Kerja Joint Income Core Factor Secondary Factor Berikut merupakan nilai kriteria berdasarkan dari nilai sub criteria, dimana nilai kriterria memiliki range antara 1 sampai 3 ditunjukkan pada Tabel III.4.

33 Tabel III.4. Keterangan Nilai Sub Aspek Kriteria Kriteria Sub Kriteria Nilai Sub Kriteria Aspek Dokumen Rekening 3 Bulan Terakhir DHN 1 1 2 3 2 3 Keterangan Tidak Aktif Kurang Aktif Aktif Blacklist Dalam Perhatian Khusus Bersih Riwayat Kredit Bank Mestika 1 2 3 Macet Kurang Lancar Lancar Lokasi KTP 1 2 3 Letak Rumah 1 2 3 Type Rumah 1 2 3 Fasilitas 1 2 Tidak Ada Resi KTP Ada Kurang Strategis Cukup Strategis Strategis 36 45 64 Jalan Lingkungan, Listrik Elektrik, Air PAM, Jaringan Telepon Jalan Lingkungan, Listrik Berbayar, Air PAM 3 Jalan Sempit, Listrik Berbayar, Air Sumur

34 Kebersihan 1 2 3 Kurang Bersih Cukup Bersih Bersih Pekerjaan Status 1 2 3 Kontrak Wiraswasta Karyawan Tetap Penghasilan 1 2 3 1 juta 2 juta 2 juta 5 juta > 5 juta Masa Kerja 1 2 3 1 tahun 2 tahun 2 tahun 5 tahun > 5 tahun Joint Income 1 2 3 2 jt - 4 jt 4 jt - 10 jt > 10 jt 3. Pemetaan GAP kompetensi untuk menghitung perbedaan/selisih masing-masing aspek/atribut dengan value target. Berikut merupakan contoh kasus dari penerapan metode profile matching. a. Dokumen Pada aspek ini, dilakukan perhitungan gap antara profile calon debitur dikurang dengan profile tetap, adapun perhitungan bobot profil tetap ditunjukkan pada table III.5.

35 Alternatif Tabel III.5. Tabel Gap Nilai Dokumen Calon DB Rekening 3 Bulan Terakhir 1 DHN Riwayat Kredit KTP 2 3 4 A1 Gege 2 2 3 3 A2 Gilang 2 2 2 2 A3 Ade 3 3 3 3 A4 Dedek 1 2 2 1 Profile 4 3 2 1 A1 Gege -2-1 1 2 A2 Gilang -2-1 0 1 A3 Ade -1 0 1 2 A4 Dedek -3-1 0 0 Keterangan : 1 : Rekening 3 Bulan Terakhir 2 : DHN 3 : Riwayat Kredit Bank Mestika 4 : KTP b. Lokasi Pada aspek ini, dilakukan perhitungan gap antara profile perkarya dikurang dengan profile tetap, adapun perhitungan bobot profil tetap ditunjukkan pada table III.6. Alternatif Tabel III.6. Tabel Gap Nilai Lokasi Calon DB Letak Rumah 1 Type Rumah 2 Fasilitas Kebersihan 3 4 A1 Gege 3 1 3 3 A2 Gilang 2 2 2 2 A3 Ade 3 3 3 3 A4 Dedek 2 2 1 3 Profile 4 3 2 1

36 A1 Gege -1-2 1 2 A2 Gilang -2-1 0 1 A3 Ade -1 0 1 2 A4 Dedek -2-1 -1 2 Keterangan : 1 : Letak Rumah 2 : Type Rumah 3 : Fasilitas 4 : Kebersihan c. Pekerjaan Pada aspek ini, dilakukan perhitungan gap antara profile perkarya dikurang dengan profile tetap, adapun perhitungan bobot profil tetap ditunjukkan pada table III.7. Alternatif Tabel III.7. Tabel Gap Nilai Pekerjaan Calon DB Status Penghasilan Masa Kerja 3 Joint Income 1 2 4 A1 Gege 3 3 2 3 A2 Gilang 2 2 2 2 A3 Ade 3 3 3 3 A4 Dedek 1 1 1 2 Profile 4 3 2 1 A1 Gege -1 0 0 2 A2 Gilang -2-1 0 1 A3 Ade -1 0 1 2 A4 Dedek -3-2 -1 1 Keterangan : 1 : Status 2 : Masa Kerja

37 3 : Penghasilan 4 : Joint Income Setelah pemetaan gap kompetensi berdasarkan masing-masing aspek tahap selanjutanya adalah pembobotan. 4. Pembobotan Pada tahap ini, akan ditentukan bobot nilai masing-masing aspek dengan menggunakan bobot nilai yang telah ditentukann bagi masing-masing aspek itu sendiri. Adapun ketentuan bobot nilai itu sendiri adalah tidak lebih besar dari nilai 10 dimana tujuan pembobotan gap itu sendiri nilai selisih yang digunakan sebagai perhitungan core factor dan secondary factor. Berikut ini dapat dilihat bobot nilai gap ditunjukkan pada tabel III.8. Tabel III.8. Tabel Bobot Nilai Gap No. Selisih Bobot Nilai Keterangan 1 0 5 Tidak Ada Selisih 2 1 4.5 Kompetensi individu kelebihan 1 tingkat/level 3-1 4 Kompetensi individu kekurangan 1 tingkat/level 4 2 3.5 Kompetensi individu kelebihan 2 tingkat/level 5-2 3 Kompetensi individu kekurangan 2 tingkat/level 6 3 2.5 Kompetensi individu kelebihan 3 tingkat/level 7-3 2 Kompetensi individu kekurangan 3 tingkat/level 8 4 1.5 Kompetensi individu kelebihan 4 tingkat/level 9-4 1 Kompetensi individu kekurangan 4 tingkat/level Tiap calon debitur akan memiliki table bobot nilai seperti contoh-contoh yang ada dibawah ini. Dengan contoh table bobot nilai calon debitur dan dengan acuan pada table bobot nilai gap, maka calon debitur dengan sub-sub aspek dokumen,lokasi

38 dan pekerjaan akan memiliki hasil dengan bobot nilai gap seperti terlihat pada table III.9. sampai dengan tabel III.11. : Alternatif Tabel III.9. Hasil Bobot Nilai Gap Dokumen Calon DB REKENING 3 BLN TERAKHIR DHN RIWAYAT KREDIT KTP A1 Gege -2-1 1 2 A2 Gilang -2-1 0 1 A3 Ade -1 0 1 2 A4 Dedek -3-1 0 0 Keterangan Bobot Nilai Gap A1 Gege 3 4 4,5 3,5 A2 Gilang 3 4 5 4,5 A3 Ade 4 5 4,5 3,5 A4 Dedek 2 4 5 5 Tabel III.10. Hasil Bobot Nilai Gap Lokasi Alternatif Calon Letak Type Fasilitas Kebersihan DB Rumah Rumah A1 Gege -1-2 1 2 A2 Gilang -2-1 0 1 A3 Ade -1 0 1 2 A4 Dedek -2-1 -1 2 Keterangan Bobot Nilai Gap A1 Gege 4 3 4,5 3,5 A2 Gilang 3 4 5 4,5 A3 Ade 4 5 4,5 3,5 A4 Dedek 3 4 4 3,5 Tabel III.11. Hasil Bobot Nilai Gap Pekerjaan Alternatif Calon DB Status Penghasilan Masa Kerja Joint Income A1 Gege -1 0 0 2 A2 Gilang -2-1 0 1 A3 Ade -1 0 1 2 A4 Dedek -3-2 -1 1

39 Keterangan Bobot Nilai Gap A1 Gege 4 5 5 3,5 A2 Gilang 3 4 5 4,5 A3 Ade 4 5 4,5 3,5 A4 Dedek 2 3 4 4,5 5. Perhitungan dan Pengelompokan Core dan Secondary Factor Setelah menentukan bobot nilai gap untuk ketiga aspek, yaitu aspek dokumen, lokasi dan pekerjaan dengan cara yang sama, setiap aspek dikelompokan menjadi dua kelompok, yaitu core factor dan secondary factor. Perhitungan Core Factor dan Secondary Factor ditunjukkan pada persamaan (1) di bawah (1) Keterangan: NCT : Nilai rata rata core factor NC : Jumlah total nilai core factor IC : Jumlah item core factor Sedangkan secondary factor merupakan item-item selain yang ada pada faktor utama (core factor). Secondary factor dihitung menggunakan persamaan (2). (2) Keterangan: NST : Nilai rata rata secondary factor NS : Jumlah total nilai secondary factor IS : Jumlah item secondary factor

40 6. Menghitung Nilai Total Selanjutnya perhitungan nilai total berdasar nilai dari core dan secondary factor yang digunakan sebagai kriteria penilaian yang berpengaruh terhadap kelulusan proposal penelitian. Perhitungan dapat dilakukan menggunakan persamaan (4). (4) Keterangan: NCT : Nilai rata rata core factor NST : Nilai rata rata secondary factor NT : Nilai total kriteria penilaian Dalam contoh kasus diatas yang menjadi core factor dari aspek dokumen yaitu 1 dan 2 maka sub-aspek sisanya akan menjadi secondary factor. Kemudian nilai core factor dan secondary factor ini akan dijumlahkan sesuai rumus dan hasilnya dapat dilihat pada table III.12. berikut cara pengerjaanya misal dengan mengambil contoh perhitungan pada sub aspek core factor dan secondary factor berikut : Gege : NCF = 3 + 4 / 2 = 3,5 NSF = 4,5 + 3,5 / 2 = 4 Gilang : NCF = 3 + 4 / 2 = 3,5 NSF = 5 + 4,5 / 2 = 4,75 Ade : NCF = 4 + 5 / 2 = 4,5 NSF = 4,5 + 3,5 / 2 = 4 Dedek : NCF = 2 + 4 / 2 = 3 NSF = 5 + 5 / 2 = 5

41 Tabel III.12. Bobot Nilai Core Factor dan Secondary Factor Aspek Dokumen No. Calon DB REKENING 3 BLN TERAKHIR DHN RIWAYAT KREDIT KTP NCF NSF 1 Gege -2-1 1 2 3,5 4 2 Gilang -2-1 0 1 3,5 4,75 3 Ade -1 0 1 2 4,5 4 4 Dedek -3-1 0 0 3 5 Perhitungan core factor dan secondary factor aspek lokasi Gege : NCF = 4 + 3 / 2 = 3,5 NSF = 4,5 + 3,5 / 2 = 4 Gilang : NCF = 3 + 4 / 2 = 3,5 NSF = 5 + 4,5 / 2 = 4,75 Ade : NCF = 4 + 5 / 2 = 4,5 NSF = 4,5 + 3,5 / 2 = 4 Dedek : NCF = 3 + 4 / 2 = 3,5 NSF = 4 + 3,5 / 2 = 3,75 Tabel III.13. Bobot Nilai Core Factor dan Secondary Factor Aspek Lokasi No. Calon Letak Type Fasilitas Kebersihan NCF NSF DB Rumah Rumah 1 Gege -1-2 1 2 3,5 4 2 Gilang -2-1 0 1 3,5 4,75 3 Ade -1 0 1 2 4,5 4 4 Dedek -2-1 -1 2 3,5 3,75 Perhitungan bobot nilai core factor dan secondary factor aspek pekerjaan Gege : NCF = 4 + 5 / 2 = 4,5 NSF = 5 + 3,5 / 2 = 4,25

42 Gilang : NCF = 3 + 4 / 2 = 3,5 NSF = 5 + 4,5 / 2 = 4,75 Ade : NCF = 4 + 5 / 2 = 4,5 NSF = 4,5 + 3,5 / 2 = 4 Dedek : NCF = 2 + 3 / 2 = 2,5 NSF = 4 + 4,5 / 2 = 4,25 Tabel III.14. Bobot Nilai Gap Aspek Pekerjaan No. Calon Status Penghasilan Masa Joint NCF NSF DB Kerja Income 1 Gege -1 0 0 2 4,5 4,25 2 Gilang -2-1 0 1 3,5 4,75 3 Ade -1 0 1 2 4,5 4 4 Dedek -3-2 -1 0 2,5 4,25 6. Perhitungan nilai total yang diperoleh dari persen core factor dan secondary factor dengan nilai pengelompokan core factor dan secondary factor. Dari hasil perhitungan dari tiap aspek diatas kemudian dihitung nilai total berdasar presentasi dari core dan secondary yang diperkirakan ber pengaruh terhadap kinerja tiap-tiap profile. Contoh perhitungan dapat dilihat pada rumus dibawah ini: N(d, l, p) = (x)%ncf(d, l, p )(x)%nsf(d, l, p) Keterangan: (d, l, p) N(d, l, p) NCF(d, l, p) NSF(d, l, p) : (dokumen, lokasi, pekerjaan) : Nilai total dari aspek : Nilai rata-rata core factor : Nilai rata-rata secondary factor

43 (x)% : Nilai persen yang diinputkan Untuk lebih jelasnya penghitungan nilai total terlebih dahulu menentukan nilai persen yang diinputkan yaitu core factor 60% dan secondary factor 40%. Kemudian nilai core factor dan secondary factor ini dijumlahkan sesuai rumus dan hasilnya dapat dilihat pada contoh perhitungan aspek dokumen,lokasi dan pekerjaan. a. Aspek Dokumen N d Gege = (60% x 3,5) (40% x 4) = 2,1 + 1,6 = 3,7 N d Gilang = (60% x 3,5) (40% x 4,75) = 2,1 + 1,9 = 4 N d Ade = (60% x 4,5) (40% x 4) = 2,7 + 1,6 = 4,3 N d Dedek = (60% x 3) (40% x 5) = 1,8 + 2 = 3,8 Tabel III.15. Nilai Total Gap Aspek Dokumen No. Calon DB NCF NSF Nd 1 Gege 4,5 4,25 3,7 2 Gilang 3,5 4,75 4 3 Ade 4,5 4 4,3 4 Dedek 3 5 3,8

44 b. Aspek Lokasi N l Gege = (60% x 3,5) (40% x 4) = 2,1 + 1,6 = 3,7 N l Gilang = (60% x 3,5) (40% x 4,75) = 2,1 + 1,9 = 4 N l Ade = (60% x 4,5) (40% x 4) = 2,7 + 1,6 = 4,3 N l Dedek = (60% x 3,5) (40% x 3,75) = 2,1 + 1,5 = 3,6 Tabel III.16. Nilai Total Gap Aspek Lokasi No. Calon NCF NSF Nl DB 1 Gege 3,5 4 3,7 2 Gilang 3,5 4,75 4 3 Ade 4,5 4 4,3 4 Dedek 3,5 3,75 3,6 c. Aspek Pekerjaan N p Gege = (60% x 4,5) (40% x 4,25) = 2,7 + 1,7 = 4,4 N p Gilang = (60% x 3,5) (40% x 4,75) = 2,1 + 1,9 = 4 N p Ade = (60% x 4,5) (40% x 4) = 2,7 + 1,6 = 4,3 N p Dedek = (60% x 2,5) (40% x 4,25)

45 = 1,5 + 1,7 = 3,2 Tabel III.17. Nilai Total Gap Aspek Pekerjaan No. Calon DB NCF NSF Np 1 Gege 4,5 4,25 4,4 2 Gilang 3,5 4,75 4 3 Ade 4,5 4 4,3 4 Dedek 2,5 4,5 3,2 7. Menghitung Hasil Akhir atau Kelayakan Langkah terakhir adalah perhitungan ranking, yang dilakukan dengan menggunakan persamaan (5). Ha = (x)%nd + (x)%nl + (x)% Np (5) Keterangan: Ha Nd Nl Np : Hasil Akhir : Nilai Dokumen : Nilai Lokasi : Nilai Pekerjaan (x)% : Nilai Persen yang diinputkan (Luckyana Puspitasari, 2013 : 16). Sebagai contoh rumus untuk perhitungan hasil akhir diatas maka hasil akhir dari karyawan dengan sub aspek C01 dengan nilai persen = 30%, 20% dan 50%. Dapat dilihat pada proses dibawah ini : Hasil akhir Gege = (30% x 3,7) + (20% x 3,7 ) + (50% x 4,4)

46 = 1,11 + 0,74 + 2,2 = 4,05 Hasil akhir Gilang = (30% x 4) + (20% x 4 ) + (50% x 4) = 1,2 + 0,8 + 2 = 4 Hasil akhir Ade = (30% x 4,3) + (20% x 4,3 ) + (50% x 4,3) = 1,29 + 0,86 + 2,15 = 4,3 Hasil akhir Dedek = (30% x 3,8) + (20% x 3,6 ) + (50% x 3,2) = 1,14+ 0,72 + 1,6 = 3,46 Proses di atas dapat dilihat pada table III.18 : No. Tabel III.18.Hasil Akhir dan Hasil Kelayakan Calon DB Nd Nl Np Ha Hasil Kelayakan >=4 (Layak) atau < 4 (Tidak Layak) 1 Gege 3,7 3,7 4,4 4,05 Layak 2 Gilang 4 4 4 4 Layak 3 Ade 4,3 4,3 4,3 4,3 Layak 4 Dedek 3,8 3,6 3,2 3,46 Tidak Layak

47 Berikut ini adalah flowchart metode profile matching : Mulai User, Kriteria, Input Input kriteria dan nilainya Data Nilai Kriteria Mencari Nilai GAP Nilai GAP = Input Kriteria - Nilai Profile Nilai GAP Ubah Nilai GAP Berdasarkan Bobot GAP Nilai Bobot GAP Kelompokkan nilai core factor dan secondary factor NCF = NCF1 + NCF2 / 2 NSF = NSF1 + NSF2 /2 Nilai NCF dan NSF Nilai Total = (x)%ncf + (x)%nsf Nilai Total Ranking = (x)%n1 + (x)%n2 + (x)%n3 Nilai Ranking Selesai Gambar III.1. Langkah Metode Profile Matching

48 Dalam menentukan kelayakan dan tidak layak, maka penulis menetapkan nilai kelayakan berdasarkan hasil perhitungan metode profile matching yaitu apabila pemohon KPR memenuhi kriteria yang dibutuhkan dan hasil perhitungan lebih besar sama dengan 4 maka hasil keputusan adalah layak, jika tidak memenuhi kriteria dan hasil perhitungan lebih kecil dari 4 maka hasil keputusan adalah tidak layak. Maka hasil keputusan penentuan contoh diatas adalah layak, karena memenuhi kriteria yang dibutuhkan. III.3 Desain Sistem Untuk membantu dalam keputusan kelayakan pemberian KPR, penulis mengusulkan pembuatan sebuah sistem dengan menggunakan aplikasi program yang lebih akurat dan lebih mudah dalam pengolahannya. Dengan menggunakan Microsoft Visual Studio 2010 dan database Sql Server 2008 untuk memudahkan dalam perancangan dari aplikasi itu sendiri. III.3.1 Use Case Diagram Dalam penyusunan suatu program diperlukan suatu model data yang berbentuk diagram yang dapat menjelaskan suatu alur proses sistem yang akan di bangun. Maka digambarlah suatu bentuk diagram Use Case yang dapat dilihat pada gambar III.2

49 Gambar III.2. Use Case Sistem Pendukung Keputusan Kelayakan Pemberian KPR Dengan Metode Profile Matching Pada PT. Bank Mestika Dharma, Tbk. III.3.2 Class Diagram Class Diagram adalah sebuah spesifikasi yang jika diinstansiasi akan menghasilkan sebuah objek dan merupakan inti dari pengembangan dan desain berorientasi objek. Rancangan kelas-kelas yang akan digunakan pada sistem yang akan dirancang dapat dilihat pada gambar III.3 :

Gambar III.3. Class Diagram Sistem Pendukung Keputusan Kelayakan Pemberian KPR Dengan Metode Profile Matching Pada PT. Bank Mestika Dharma, Tbk 50

51 III.3.3 Activity Diagram Rangkaian kegiatan pada setiap terjadi event sistem digambarkan pada activity diagram berikut: 1. Activity Diagram Login Aktivitas yang dilakukan untuk melakukan login admin dapat dilihat seperti pada gambar III.4 berikut : Gambar III.4. Activity Diagram Login

52 2. Activity Diagram Form Input Dokumen Activity diagram form input Dokumen dapat dilihat seperti pada gambar III.5 berikut : Gambar III.5. Activity Diagram Form Input Dokumen

53 3. Activity Diagram Form Input Lokasi Activity diagram form input Lokasi dapat dilihat seperti pada gambar III.6 berikut : Gambar III.6. Activity Diagram Form Input Lokasi

54 4. Activity Diagram Form Input Pekerjaan Activity diagram form Input Pekerjaan dapat dilihat seperti pada gambar III.7 berikut : Gambar III.7. Activity Diagram Form Input Pekerjaan

55 5. Activity Diagram Form Input Bobot Activity diagram form Input Bobot dapat dilihat seperti pada gambar III.8 berikut : Gambar III.8. Activity Diagram Form Input Bobot

56 6. Activity Diagram Form Input Penilaian Activity diagram form Input Penilaian dapat dilihat seperti pada gambar III.9 berikut : Gambar III.9. Activity Diagram Form Input Penilaian

57 7. Activity Diagram Form Input Hasil Activity diagram form Input Hasil dapat dilihat seperti pada gambar III.10 berikut : Gambar III.10. Activity Diagram Form Input Hasil

58 8. Activity Diagram Form Input Kriteria Activity diagram form Input Kriteria dapat dilihat seperti pada gambar III.11 berikut : Gambar III.11. Activity Diagram Form Input Kriteria

59 9. Activity Diagram Form Input Nilai Activity diagram form Input Nilai dapat dilihat seperti pada gambar III.12 berikut : Gambar III.12. Activity Diagram Form Input Nilai

60 10. Activity Diagram Form Input Factor Activity diagram form Input Factor dapat dilihat seperti pada gambar III.13 berikut : Gambar III.13. Activity Diagram Form Input Factor

61 11. Activity Diagram Form Input DHN Activity diagram form Input DHN dapat dilihat seperti pada gambar III.14 berikut : Gambar III.14. Activity Diagram Form Input DHN

62 III.3.4 Sequence Diagram Rangkaian kegiatan pada setiap terjadi event sistem digambarkan pada Sequence diagram berikut: 1. Sequence Diagram Login Serangkaian kerja melakukan login admin dapat terlihat seperti pada gambar III.15 berikut : Gambar III.15. Sequence Diagram Login

63 2. Sequence Diagram Dokumen Sequence diagram data Dokumen dapat dilihat seperti pada gambar III.16. berikut : * * Id * Gambar III.16. Sequence Diagram Form Dokumen

64 3. Sequence Diagram Data Lokasi Sequence diagram data Lokasi dapat dilihat seperti pada gambar III.17. berikut : * * Id * Gambar III.17. Sequence Diagram Form Lokasi

65 4. Sequence Diagram Pekerjaan Sequence diagram data Pekerjaan dapat dilihat seperti pada gambar III.18. berikut : * Id * Id * Gambar III.18. Sequence Diagram Form Pekerjaan

66 5. Sequence Diagram Bobot Sequence diagram data Bobot dapat dilihat seperti pada gambar III.19. berikut : * Id * Id * Gambar III.19. Sequence Diagram Form Bobot

67 6. Sequence Diagram Penilaian Sequence diagram data Penilaian dapat dilihat seperti pada gambar III.20. berikut : * Id * Id * Gambar III.20. Sequence Diagram Form Penilaian

68 7. Sequence Diagram Hasil Sequence diagram Hasil dapat dilihat seperti pada gambar III.21 berikut : * * * * * * Gambar III.15. Sequence Diagram Form Penjualan Gambar III.13. Sequence Diagram Form Hasil Gambar III.21. Sequence Diagram Form Hasil

69 8. Sequence Diagram Nilai Sequence diagram data Nilai dapat dilihat seperti pada gambar III.22. berikut : * Id * Id * Gambar III.22. Sequence Diagram Form Nilai

70 9. Sequence Diagram Factor Sequence diagram data Factor dapat dilihat seperti pada gambar III.23. berikut : * Id * Id * Gambar III.23. Sequence Diagram Form Factor

71 10. Sequence Diagram DHN Sequence diagram data DHN dapat dilihat seperti pada gambar III.24. berikut : * Id * Id * Gambar III.24. Sequence Diagram Form DHN

72 III.3.5 Desain Database 1. Normalisasi Tahap normalisasi ini bertujuan untuk menghilangkan masalah berupa ketidak konsistenan apabila dilakukannya proses manipulasi data seperti penghapusan, perudokumen dan penamdokumen data sehingga data tidak ambigu. 1. Bentuk Tidak Normal Bentuk tidak normal dari data kelayakan pemberian KPR ditandai dengan adanya baris yang satu atau lebih atributnya tidak terisi, bentuk ini dapat dilihat pada tabel III.19 dibawah ini : Tabel III.19. Data Kelayakan Pemberian KPR Bentuk Tidak Normal ID Nama Debitur Dokumen Lokasi Pekerjaan Hasil Kelayakan 01 Gege 3,7 3,7 4,4 4,05 Layak 02 Gilang 4 4 4 4 Layak 03 Ade 4,3 4,3 4,3 4,3 Layak 04 Dedek 3,5 3,75 3,6 3,46 Tidak Layak 2. Bentuk Normal Pertama (1NF) Bentuk normal pertama dari data kelayakan pemberian KPR merupakan bentuk tidak normal yang atribut kosongnya diisi sesuai dengan atribut induk dari recordnya, bentuk ini dapat dilihat pada tabel III.20 di berikut ini : Tabel III.20. Data Kelayakan Pemberian KPR Bentuk 1NF ID Nama Debitur Hasil Kelayakan 01 Gege 4,05 Layak 02 Gilang 4 Layak 03 Ade 4,3 Layak 04 Dedek 3,46 Tidak Layak

73 3. Bentuk Normal Kedua (2NF) Bentuk normal kedua dari kelayakan pemberian KPR merupakan bentuk normal pertama, dimana telah dilakukan pemisahan data sehingga tidak adanya ketergantungan parsial. Setiap data memiliki kunci primer untuk membuat relasi antar data, bentuk ini dapat dilihat pada tabel III.21 berikut ini : Tabel III.21. Data Kelayakan Pemberian KPR Bentuk 2NF 2. Desain Tabel ID Hasil Kelayakan 01 4,05 Layak 02 4 Layak 03 4,3 Layak 04 3,46 Tidak Layak Setelah melakukan tahap normalisasi, maka tahap selanjutnya yang dikerjakan yaitu merancang struktur tabel pada basis data sistem yang akan dibuat, berikut ini merupakan rancangan struktur tabel tersebut: 1. Struktur Tabel Login Tabel Login digunakan untuk menyimpan data Login selengkapnya mengenai struktur tabel ini dapat dilihat pada tabel III.22 di bawah ini : Nama Database Nama Tabel : KPR : Login Primary Key : Id Tabel III.22. Tabel Login Nama Field Tipe Data Ukuran Keterangan Id Int - Id Pencarian Sandi Varchar 50 Sandi Admin

74 2. Struktur Tabel Dokumen Tabel Dokumen digunakan untuk menyimpan data Dokumen selengkapnya mengenai struktur tabel ini dapat dilihat pada tabel III.23 di bawah ini: Nama Database Nama Tabel : KPR : Dokumen Primary Key : Id 3. Struktur Tabel Lokasi Tabel III.23. Tabel Dokumen Nama Field Tipe Data Ukuran Keterangan Id Int - Id Pencarian Dokumen Varchar 50 Dokumen Target Varchar 50 Nilai Target Tabel Lokasi digunakan untuk menyimpan data Lokasi, selengkapnya mengenai struktur tabel ini dapat dilihat pada tabel III.24 di bawah ini: Nama Database Nama Tabel Primary Key : KPR : Lokasi : Id 4. Struktur Tabel Pekerjaan Tabel III.24. Tabel Lokasi Nama Field Tipe Data Ukuran Keterangan Id Int - Id Pencarian Lokasi Varchar 50 Lokasi Target Varchar 50 Nilai Target Tabel Pekerjaan digunakan untuk menyimpan data Pekerjaan, selengkapnya mengenai struktur tabel ini dapat dilihat pada tabel III.25 di bawah ini:

75 Nama Database Nama Tabel Primary Key : KPR : Pekerjaan : Id 5. Struktur Tabel Bobot Tabel III.25. Tabel Pekerjaan Nama Field Tipe Data Ukuran Keterangan Id Int - Id Pencarian Pekerjaan Varchar 50 Pekerjaan Target Varchar 50 Nilai Target Tabel Bobot digunakan untuk menyimpan data Bobot, selengkapnya mengenai struktur tabel ini dapat dilihat pada tabel III.26 di bawah ini: Nama Database Nama Tabel Primary Key : KPR : Bobot : Id Tabel III.26. Tabel Bobot Nama Field Tipe Data Ukuran Keterangan Id Int - Id Pencarian Kriteria Varchar 50 Kriteria Bobot Nilai Varchar 50 Nilai Bobot 6. Struktur Tabel Penilaian Tabel Penilaian digunakan untuk menyimpan data Penilaian, selengkapnya mengenai struktur tabel ini dapat dilihat pada tabel III.27 di bawah ini: Nama Database Nama Tabel Primary Key : KPR : Penilaian : Id

76 7. Struktur Tabel Hasil Tabel III.27. Tabel Penilaian Nama Field Tipe Data Ukuran Keterangan Id Int - Id Pencarian Kategori Varchar 50 Kategori Bobot Nilai Varchar 50 Nilai Bobot Tabel Hasil digunakan untuk menyimpan data Hasil, selengkapnya mengenai struktur tabel ini dapat dilihat pada tabel III.28 di bawah ini: Nama Database Nama Tabel Primary Key : KPR : Hasil : Id Tabel III.28. Tabel Hasil Nama Field Tipe Data Ukuran Keterangan Id Int - Id Pencarian Nama_Pelanggan Varchar 50 Jenis Karet Dokumen Varchar Max Jenis Dokumen Lokasi Varchar Max Jenis Lokasi Pekerjaan Varchar Max Jenis Pekerjaan Nilai_Dokumen Varchar 50 Nilai Dokumen Nilai_Lokasi Varchar 50 Nilai Lokasi Nilai_Jenis_Kelamin Varchar 50 Nilai Pekerjaan Hasil Varchar 50 Nilai Hasil 8. Struktur Tabel Kriteria Tabel Kriteria digunakan untuk menyimpan data Kriteria, selengkapnya mengenai struktur tabel ini dapat dilihat pada tabel III.29 di bawah ini: Nama Database Nama Tabel Primary Key : KPR : Kriteria : Id

77 Tabel III.29. Tabel Kriteria Nama Field Tipe Data Ukuran Keterangan Id Int - Id Pencarian Kriteria Varchar 50 Kriteria Baik Varchar 50 Nilai Baik Cukup Varchar 50 Nilai Cukup Kurang Varchar 50 Nilai Kurang 9. Struktur Tabel Nilai Tabel Nilai digunakan untuk menyimpan data Nilai, selengkapnya mengenai struktur tabel ini dapat dilihat pada tabel III.30 di bawah ini: Nama Database Nama Tabel Primary Key : KPR : Nilai : Id Tabel III.30. Tabel Nilai Nama Field Tipe Data Ukuran Keterangan Id Int - Id Pencarian Penilaian_Aspek1 Varchar 50 Kriteria Penilaian_Aspek2 Varchar 50 Nilai Baik Penilaian_Aspek3 Varchar 50 Nilai Cukup 10. Struktur Tabel Factor Tabel Factor digunakan untuk menyimpan data Factor, selengkapnya mengenai struktur tabel ini dapat dilihat pada tabel III.31 di bawah ini: Nama Database Nama Tabel Primary Key : KPR : Factor : Id Tabel III.31. Tabel Factor Nama Field Tipe Data Ukuran Keterangan Id Int - Id Pencarian NCF Varchar 50 NCF

78 NSF Varchar 50 NSF 11. Struktur Tabel DHN Tabel DHN digunakan untuk menyimpan data DHN, selengkapnya mengenai struktur tabel ini dapat dilihat pada tabel III.32 di bawah ini: Nama Database Nama Tabel Primary Key : KPR : DHN : Id Tabel III.32. Tabel DHN Nama Field Tipe Data Ukuran Keterangan Id Int - Id Pencarian Nama Varchar 50 Nama Calon No_KTP Varchar 50 Nomor KTP Status Varchar 50 Status DHN III.3.6. Desain User Interface User Interface merupakan tampilan masukan yang penulis rancang guna lebih memudahkan dalam entry data. Entry data yang dirancang akan lebih mudah dan cepat dan meminimalisir kesalahan penulisan dan memudahkan perubahan. Perancangan tampilan yang dirancang adalah sebagai berikut : 1. Rancangan Form Login Rancangan form login berfungsi untuk verifikasi pengguna yang berhak menggunakan sistem. Adapun rancangan form login dapat dilihat pada gambar III.25. sebagai berikut :

79 Gambar III.25. Rancangan Input Form Login 2. Rancangan Form Dokumen Rancangan Form Dokumen berfungsi untuk menambah, mengubah dan menghapus data Dokumen. Adapun rancangan form Dokumen dapat dilihat pada gambar III.26. sebagai berikut : Gambar III.26. Rancangan Form Dokumen

80 3. Rancangan Form Lokasi Rancangan Form Lokasi berfungsi untuk menambah, mengubah dan menghapus data Lokasi. Adapun rancangan form Lokasi dapat dilihat pada gambar III.27 sebagai berikut : Gambar III.27. Rancangan Form Lokasi 4. Rancangan Form Pekerjaan Rancangan Form Pekerjaan berfungsi untuk menambah, mengubah dan menghapus data Pekerjaan. Adapun rancangan form Pekerjaan dapat dilihat pada gambar III.28 sebagai berikut :

81 Gambar III.28. Rancangan Form Pekerjaan 5. Rancangan Form Bobot Rancangan Form Bobot berfungsi untuk menambah, mengubah dan menghapus data Bobot. Adapun rancangan form Bobot dapat dilihat pada gambar III.29 sebagai berikut :

82 Gambar III.29. Rancangan Form Bobot 6. Rancangan Form Penilaian Rancangan Form Penilaian berfungsi untuk menambah, mengubah dan menghapus data Penilaian. Adapun rancangan form Penilaian dapat dilihat pada gambar III.30 sebagai berikut :

83 Gambar III.30. Rancangan Form Penilaian 7. Rancangan Form Hasil Rancangan Form Hasil berfungsi untuk menambah, mengubah dan menghapus data Hasil. Adapun rancangan form Hasil dapat dilihat pada gambar III.31. sebagai berikut :

84 8. Rancangan Form Kriteria Gambar III.31. Rancangan Form Hasil Rancangan Form Kriteria berfungsi untuk menambah, mengubah dan menghapus data Kriteria. Adapun rancangan form Kriteria dapat dilihat pada gambar III.32 sebagai berikut :

85 Gambar III.32. Rancangan Form Kriteria 9. Rancangan Form Nilai Rancangan Form Nilai berfungsi untuk menambah, mengubah dan menghapus data Nilai Adapun rancangan form Nilai dapat dilihat pada gambar III.33 sebagai berikut :

86 Gambar III.33. Rancangan Form Nilai 10. Rancangan Form Factor Rancangan Form Factor berfungsi untuk menambah, mengubah dan menghapus data Factor. Adapun rancangan form Factor dapat dilihat pada gambar III.34 sebagai berikut :

87 Gambar III.34. Rancangan Form Factor 11. Rancangan Form DHN Rancangan Form DHN berfungsi untuk menambah, mengubah dan menghapus data DHN. Adapun rancangan form DHN dapat dilihat pada gambar III.35 sebagai berikut :

Gambar III.35. Rancangan Form DHN 88