Keikhlasan Cinta Adinda Aku adalah mahasiswa kedokteran di salah satu Universitas ternama di Surabaya. Mahasiswa yang belajar dan berusaha menggapai mimpinya menjadi seorang dokter dengan mengandalkan beasiswa. Aku bersyukur dapat membahagiakan kedua orang tuaku. Aku benar-benar bersyukur atas nikmat Tuhan yang telah diberikan untukku. Rasanya begitu bahagia ketika abi dan umiku bangga kepadaku. Mereka selalu bilang kalau mereka bangga memiliki putri sepertiku. Dinda, kesini Nduk? suara abi memanggilku. Aku yang saat itu tidur-tiduran di kasur langsung bergegas menemui abi. Iya Bi kutemui abiku di ruang tamu. Duduk sini kamu Nduk. Aku tak tahu kenapa wajah abiku berubah menjadi dingin. Karena biasannya wajah abi selalu berseri-seri jika berbicara denganku. Iya Bi jawabku halus, sambil menempatkan diri duduk di sebelah abi. Abi mau bicara sama kamu Nduk katanya serius. Anakku, kapan kamu memikirkan jodohmu? Kenapa hanya sekolah-sekolah saja yang kamu pikirkan Nak? tanya abi halus dengan tatapan yang sangat tajam. Nada kecewa dan mata yang berbinar. Aku kaget setengah mati kenapa abi berbicara seperti ini.
Dinda masih ingin focus dengan kuliah Bi. Dinda ingin mengejar cita-cita Dinda. Bukankah dulu Abi selalu bilang, Abi akan mendukung segala apa yang Dinda lakukan? Iya Nduk. Tapi, ini juga masalah masa depanmu. Usiamu sudah 25 tahun tapi kenapa kamu tak memikirkan jodohmu? Abi malu kalau ditanya sama tetangga. Kenapa Adinda belum juga menikah? Takutnya nanti jadi perawan tua Pak, segera nikahkan saja. Saat itu Abi tetap diam Nduk, sebelumnya Abi percaya padamu bahwa kamu akan segera memilih seseorang untuk menjadi suamimu. Tapi nyatanya kamu malah tak menghiraukannya kata Abi dengan nada kecewa. Perkataan Abi benar-benar membuat pikiranku kacau balau. Udara kota Lamongan yang panas, semakin menambah kepedihan hatiku. Aku tahu Abi berbicara seperti ini, lantaran orang-orang desaku menganggap bahwa anak perempuan yang berusia 20 tahun ke atas dan belum juga menikah dianggap sebagai perawan tua, digunjing bahkan dianggap sebagai perawan yang tak laku. Abi mesti jawab apa Nduk kalau tetangga selalu saja bertanya seperti itu? Sampai kapan kamu mau cari gelar? Kamu harus mengerti posisi Abimu Nduk Lanjutnya lagi. Adinda akan berusaha membahagiakan Abi dan Umi, nggak mempermalukan Abi lagi Dengan mata yang menahan tangis, dan muka yang menekur. Aku meminta izin masuk ke kamar. 2
Sebelum Abi menyahut perkataanku, aku cepat-cepat masuk ke dalam kamar, dan menguncinya rapat-rapat. Badanku langsung kulempar terlentang diatas kasur. Kututup mataku, dan kurasakan kepedihan yang melanda hidupku. Air mata yang tadinya kutahan-tahan, sekarang menjadijadi dan tak henti-hentinya keluar mebasahi pipiku. Dadaku rasanya sesak, aku kesal dan aku ingin marah. Abi dan Umi. Tapi kenapa Abi selalu menututku untuk segera menikah? Kekesalanku kini berbenturan dengan rasa tidak tega untuk melawan mereka. *** Sejak kejadian abi menyuruhku untuk segera menikah, sedikitpun tak ada niatan untuk menyegerahkan menikah. Entahlah aku tak tahu, yang ada difikiranku hanyalah menyelesakan kuliahku. Akibatnya, kesehatan abi mulai turun dan abi jadi sakit-sakitan. Melihat kodisi abi, aku jadi khawatir. Ya, jelas-jelas akulah penyebabnya. Aku menjadi beban pikirannya. Abi, maafkan aku. Saat aku berada di kamar, umi menemuiku. Nduk, kamu adalah anak satu-satunya. Umi dan abimu ini juga sudah tua. Abimu juga sudah mulai sakit-sakitan. Hanya satu yang Umi minta padamu. Bahagiakan Abimu Nduk. Senangkan hatinya kata Umi sambil mengelus kepalaku. Kemudian Umi meninggalkanku sendirian di kamar. Aku tahu bahwa perkataan umi ini mengisyaratkan agar aku harus menikah, mungkin 3
umi juga khawatir terhadap kondisi abi yang sakitsakit karena memikirkanku tak kunjung menikah. Aku sebenarnya juga menginginkan. Tapi! ini masalah karir dan studiku. Ini masalah cita-citaku. Aku berkeyakinan bahwa jodoh merupakan urusan Allah. Jodoh tidak dapat dihindari walaupun pada waktu kita belum menginginkannya dan begitu juga sebaliknya. Jodoh tidak dapat dikejar walaupun ketika itu, kita sudah teramat sangat ingin mendapatkannya. Bukankah Rasulullah telah bersabda: Ketika ditiupkan ruh pada anak manusia tatkala ia masih di dalam perut ibunya sudah ditetapkan ajalnya, rezekinya, jodohnya dan celaka atau bahagianya di akhirat. *** Nduk, kemarilah perintah Abi, menyuruhku untuk duduk disampingnya. Sementara di depanku Umi sudah duduk manis. Iya Bi. Nduk, Abi akan menjodohkanmu dengan anak teman Abi. katanya langsung ke pokok pembicaraan. Anak teman Abi yang mana? Selidikku. Anaknya Pak Ali, Nduk. Namanya Hasan. Sahut Umi. Aku hanya diam saja. Tak tahu apa yang harus kukatakan. Bi, tapi Dinda harus kuliah dulu Kamu harus menikah dengan dia Nduk. Jika kuliah, menikah pun juga nggak papa tho? 4
Sudahlah Nduk, turuti saja apa kata Abimu. Ingat kan Nduk. Apa yang umi bilang. Bahagiakan Abimu kata Umi. Anggukkan, itulah jawaban yang kuberikan pada Umi. Sedih rasanya, aku tak tahu bagaimana kuliahku jika aku menikah. Bagaiaman caraku untuk mengatur waktu antara kuliah dan suamiku? Ah, entahlah. Kupasrahkan semuanya kepada-mu Ya Allah. Ya sudahlah. Kalau memang hal itu membuat Abi dan Umi bahagia. Adinda ikhlas melakukannya. Umi dan Abi seperti sekelompok yang kompak untuk memaksaku menikah dengan seorang pria yang sama sekali tak kukenali. Sedihnya, aku tiada berdaya sama sekali untuk melawannya. Aku tak memiliki kekuatan apa-apa untuk memberontak keinginan Abi dan Umi. Si Hasan itu orangnya baik, halus budi, dia juga sudah mapan tapi dia lebih muda darimu Nak. Kata Umi padaku. Lebih muda dariku Mi? tanyaku kaget. Jangan Khawatir, dia akan memahamimu. Dia akan bertanggung jawab, percayalah Nak *** Aku pasrah dengan segenap keikhlasan. Aku menuruti keinginan Abi dan Umi. Walau sebenarnya aku ingin focus terhadap kuliahku. Aku sungguh ingin menjadi mentari pagi di hati abi dan umi. Aku ingin menjadi bintang bersinar di hati abi dan umi. Meski aku harus mengorbankan perasaanku. Dengan 5
segala kepedihan di hati kuserahkan semuanya pada Allah. Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua. (Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim). Disudut hati yang lain kurasakan kecemasankecemasan yang mengintai. Kecemasan-kecemasan tentang laki-laki yang akan menjadi sumiku kelak. Ya Allah kuserahkan semuanya kepada-mu. Aku yakin pilihan Abi dan Umi adalah yang terbaik. Proses Khitbah berlangsung. Dan saat itu pula aku baru mengetahui bagaimana calon suamiku. Ya, benar saja dia memang tampan, kelihatan halus, sopan dan begitu jangkung. Wajahnya memang tak terlihat lebih muda dariku. Tapi yang kuharapkan sifat dan sikapnya juga tak dibawahku. Entah kenapa tak kurasakan geletar jiwa untukku kepadanya. Ya Allah haruskah aku menikah dengan orang yang tidak kucintai? Haruskah aku menikah dengan orang yang tak kukenal sama sekali? Dan aku hanya bisa pasrah dengan semuanya. Abi dan Umilah yang membuatku tak mampu untuk menolak untuk menikah dengan Hasan. Dinda, benarkah kabar yang kudengar tentang dirimu? Kabar kalau Dinda akan menikah? Bukankah dulu Dinda bilang kalau Dinda akan menikah setelah lulus dan menjadi Dokter? sebuah pesan singkat dari sahabat baikku, Fatimah. Memang benar Fat. Aku akan menikah. Abi dan Umiku menyuruhku untuk segera menikah. 6
Mereka menjodohkanku dengan seorang lelaki yang sama sekali aku tak mengenalnya. Bahkan laki-laki itu lebih muda dariku Adinda, sahabatku yang lembut hatinya. Kenapa kamu menerima segala keputusan Abimu? Aku ingin membahagiakan Abi dan Umiku Fat Tapi kamu nggak papa kan Din? Tidak Fat, aku tidak apa-apa. Jangan khawatikah aku. Do akan saja semoga proses pernikahanku berjalan lancar. Dan aku dapat menjadi istri yang baik Do aku selalu menyertaimu sahabatku *** Hari pernikahanku telah tiba. Aku duduk dipelaminan bersama Hasan. Kulihat wajah Hasan tersenyum bahagia. Seiring berjalannya waktu aku akan berusaha sepenuhnya menumbuhkan bibit-bibit cinta dan menyanyanginya setulus hatiku. Pepatah jawa kuno mengatakan, waiting tresno jalaran soko kulino! artinya hadirnya cinta sebab sering bersama. *** Dua minggu setelah pernikahan, Hasan membawaku ke rumah kontrakan di dekat kampusku. Dan tempat itu juga dekat dengan perusahaan di mana Hasan bekerja. Hari-hari kulalui bersama Hasan begitu bahagia. Makan, minum, tidur dan sholat bersama suamiku. Seperti yang dikatakan Abi dan Umi, Hasan memang baik hati, penturannya halus, pintar dan sholeh. 7
Tepat dua bulan setelah hidup di kontrakan. Kurasakan perubahan-perubahan pada diri Hasan. Hasan mulai cuek denganku, wajahnya selalu murung dan diam saja. Tak biasanya dia seperti ini? Batinku. Ketika dia duduk di kursi makan. Kutanya dia halus-halus. Kutanya gerangan apa yang membuatnya seperti ini. Mas, ada apa? ada masalahkah?. Tidak ada apa-apa kok Mbak, mungkin aku belum dewasa dari Mbak. Jadi aku harus belajar lebih dewasa lagi. Jawabnya lemah. Mbak? Aku kaget sekali. Mengapa dia memanggilku seperti itu? Aku ini istrinya mengapa dia memanggilku dengan sebutan Mbak. Bukankah Mbak adalah panggilan akrab untuk orang yang lebih tua atau panggilan akrab untuk orang lain tapi bukan untuk seorang istri? Kenapa Mas Hasan memanggilku Mbak? Aku kan istrimu Mas? Tanyaku sedih. Entahlah! jawabnya acuh. Hatiku benarbenar sakit. Suamiku yang selama ini kuanggap sebagai imam yang sempurna. Ternyata dia tidak menghargai kehadiranku sebagai istrinya. Apakah kau tidak mencintaiku Mas? Hingga kau acuh seperti ini kepadaku. Jika memang benar kau tidak mencintaiku, kenapa kamu mengucap akad nikah itu Mas? Jika memang benar Mas tidak mencitaiku, lantas kemesraan-kemesraan yang Mas berikan sebelumnya. Apakah itu yang pura-pura Mas? Tanyaku dengan air mata yang tak mampu 8
kutahan. Hasan hanya diam saja. Entahlah aku tak mengerti bagaimana jalan fikirannya. Apakah Mas terpaksa menikahiku? Tanyaku lagi. Dia tetap saja diam. Mas? Panggilku lagi. Diam tetap diam. Mas! Kalau memang iya, kenapa? Pernikahan ini memang terpaksa. Orang tuamu dan orang tuakulah yang memaksaku untuk menikahimu katanya dengan suara tinggi. Aku kaget setengah mati. Aku tidak percaya bahwa Hasan tega melakukan ini kepadaku. Aku mencoba untuk mempertahankan Hasan dan mengalah dengan segala sikap kekanakkanakannya. Ini demi pernikahanku, ini demi Abiku, ini demi Umiku. Ya, aku tak mau membuat orangorang disekelilingku kecewa kepadaku. Maaf Adinda, maafkan aku. Mungkin kita harus berpisah. Aku tidak bisa menjalani kepurapuraan ini. Aku tidak bisa menjalani pernikahan ini. Maafkan Aku. Relakan bila kita harus berpisah Aku memeluknya. Erat sekali. Aku rela dengan apa yang ingin kamu lakukan. Tapi satu hal yang kuminta. Jangan pernah ceraikan aku. Aku ingin mengabdikan diri. Menyempurnakan ibadahku di dunia ini. Jadi tolong Mas, berilah sedikit ruang hati untukku Maafkan Aku dia melepaskan pelukanku. Kemudian dia pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa menangis, aku hanya bisa menangis saat itu. 9
Rabbi dengan segenap keikhlasan, hambah bersimpuh dihadapan-mu. Kuatkan diri hamba Ya Allah. kuatkan diri hamba dengan cahaya-mu. Curahkan tambahan kesabaran pada diri hamba. Sesaat setelah kejadian itu. Kuambil handphone iku. Fatimah, suamiku kini pergi meninggalkanku. Sungguh aku merasa bersalah tak bisa mempertahankan keluargaku, tak bisa membahagiakan Abi dan Umiku Aku mengirim pesan singkat pada Fatimah. Mengeluarkan segala beban yang sepertinya tak sanggup kupendam sendiri. Handphonku bordering. Ukhti ada sms. Balasan dari Fatimah. Sahabatku sungguh malang nasib cintamu. Sungguh gerangan apa yang membuat suamimu meninggalkan bidadari cantik sepertimu? Ternyata suamiku tak mencintaiku. Dia menikahiku lantaran dipaksa oleh orang tuanya Bagaimana keadaanmu sekarang Dinda? Apakah aku harus kesana untuk menemanimu? AKU ORA POPO Fat. Ini mungkin takdir yang telah Tuhan berikan untukku. Lagian Lamongan-Surabaya jauh. Ini juga sudah malam. Aku ora popo Fat. Jangan khawatirkan aku Kamu selalu bilang Aku Ora Popo-Aku Ora Popo, besok aku akan pergi ke Surabaya untuk menemuimu. Pokoknya kamu harus sabar, terus berdo a sama Allah Iya Fat, aku selalu sabar. Aku ikhlas menghadapi semuanya 10