Unnes Science Education Journal

dokumen-dokumen yang mirip
Edu Geography 3 (1) (2014) Edu Geography.

Joyful Learning Journal

Edu Geography 3 (7) (2015) Edu Geography.

Unnes Physics Education Journal

PENGEMBANGAN ASESMEN ALTERNATIF PORTOFOLIO IPA KELAS VIII MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH MANUSIA

Unnes Physics Education Journal

PENGARUH PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING. Info Artikel. Abstrak.

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN TERTULIS UNTUK PEMBELAJARAN TEKS EKSPOSISI DI SMA. Oleh

Fashion and Fashion Education Journal

Unnes Physics Education Journal

Penerapan Perangkat Pembelajaran Materi Kalor melalui Pendekatan Saintifik dengan Model Pembelajaran Guided Discovery Kelas X SMA

Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreations

Unnes Science Education Journal

Economic Education Analysis Journal

Unnes Science Education Journal

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA BERORIENTASI SOFT SKILLS PADA MATERI POKOK LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT KELAS X DI MAN MOJOKERTO

Unnes Science Education Journal

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA BERORIENTASI SETS PADA MATERI POKOK ZAT ADITIF MAKANAN

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK PADA PEMBELAJARAN FISIKA MATERI KALOR TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X SMA

PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA.

PROFIL PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMPN1 WERU MELALUI IMPLEMENTASI MODUL IPA MENGGUNAKAN MODEL SAINTIFIK

2 Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, Universitas Pasir Pengaraian

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATEMATIKA (MATERI STATISTIK) DENGAN MENGGUNAKAN MODEL ACTIVE LEARNING SISTEM 5 M UNTUK SISWA KELAS VII

PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA SISWA UNTUK MENGASES KETERAMPILAN PROSES DALAM PRAKTIKUM SENYAWA POLAR DAN NON POLAR KELAS X SMA

Unnes Science Education Journal

EFEKTIFITAS PENGGUNAAN LABORATORIUM TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPA PESERTA DIDIK SMPN 3 PALAKKA KABUPATEN BONE

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol.4, No.3. pp , September 2015

Unnes Physics Education Journal

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKDP) BERBASIS GUIDED INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN PRACTICAL SKILLS DAN PEMAHAMAN KONSEP IPA PESERTA DIDIK SMP

BAB I PENDAHULUAN. pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi siswa

Pengembangan Perangkat Penilaian Autentik Berbasis Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran IPA/Biologi di Sekolah Menengah Pertama

Automotive Science and Education Journal

PENILAIAN BERBASIS KELAS UNTUK PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN IPA BIOLOGI SMP

Ernita Vika Aulia dan Ismono Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya

E-journal Prodi Edisi 1

Unnes Physics Education Journal

PENGEMBANGAN MODUL SIFAT LARUTAN BERMUATAN NILAI KETUHANAN DAN KECINTAAN LINGKUNGAN DI SMP

Jurnal Pena Sains Vol. 3, No. 2, Oktober 2016 p-issn: e-issn:

Unnes Physics Education Journal

IPA TEMA PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR BERBASIS PEDAGOGY FOR SUSTAINABILITY

Unnes Physics Education Journal

MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA MATERI LAJU REAKSI KELAS XI SMA NEGERI 1 GRESIK

Edu Geography

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2, No. 2, pp , May 2013

PENGEMBANGAN PERMAINAN KUARTET SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATERI KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP KELAS VII SMP

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 03 Tahun 2014, ISSN:

Unnes Science Education Journal

Unnes Science Education Journal

PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU BERBASIS SETS DENGAN TEMA HUJAN ASAM UNTUK KELAS VII SMP

NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Biologi

Rahma Ditasari, Endah Peniati, Kasmui. Prodi Pendidikan IPA, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang, Indonesia

BAB III METODE PENELITIAN. didik pada pembelajaran IPA. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan

PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN OTENTIK TES TERTULIS PILIHAN JAMAK BERALASAN DENGAN SCIENTIFIC APPROACH

Mubashiroh et al., Penerapan...

KREATIVITAS GURU IPA KELAS VII DAN VIII DALAM PENYUSUNAN PENILAIAN AUTENTIK DI SMP NEGERI 1 PECANGAAN JEPARA SEMESTER GASAL TAHUN AJARAN 2014/2015

PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU TEMA PEMANASAN GLOBAL BERBASIS KOMIK DI SMPN 4 DELANGGU

Santi Helmi et al., Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA (Fisika)...

Fashion and Fashion Education Journal

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) IPA MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMP KELAS VII JURNAL

PENGARUH MODEL GUIDED INQUIRY DISERTAI FISHBONE DIAGRAM TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI

UNESA Journal of Chemistry Education ISSN: Vol. 6, No. 1, pp January 2017

ARTIKEL ILMIAH OLEH: FITRIA DWITA A1C411031

MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS X IPA 1 SMA NEGERI 1 MARABAHAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED INQUIRY

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 4, No.2, pp , May 2015

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta 2)

Unnes Physics Education Journal

Kata kunci : hasil belajar kognitif, modul sistem reproduksi manusia, sikap spiritual

PENGARUH METODE AKTIF TIPE TEAM QUIZ BERBANTUAN QUESTION CARD TERHADAP HASIL BELAJAR. Info Artikel. Abstrak. , T Subroto, W Sunarto

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02 Tahun 2014, ISSN:

ANALISIS HAMBATAN PROSES PEMBELAJARAN BIOLOGI DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM 2013 BAGI GURU KELAS X SMA/SEDERAJAT DI KECAMATAN RAMBAH SAMO

BAB III METODE PENELITIAN. produk berupa bahan ajar berbasis scientific method untuk meningkatkan. materi Struktur Bumi dan Bencana.

Unnes Journal of Biology Education PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN RANAH AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK PADA MATA KULIAH PRAKTIKUM STRUKTUR TUBUH HEWAN

Unesa Journal of Chemical Education ISSN Vol. 5 No. 3. pp , September 2016

PENERAPAN STRATEGI SNOWBALLING PADA MATERI ATOM, ION, MOLEKUL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS VIII SMPN 19 SURABAYA

UNESA Journal of Chemical Education ISSN: Vol. 2 No.2 pp May 2013

STUDENT ACADEMIC SKILLS THROUGH PROJECT BASED LEARNING IN CLASS XI SENIOR HIGH SCHOOL BABUSSALAM

Kemampuan Keterampilan Proses Sains Siswa pada Materi Zat Aditif Pada Makanan dan Minuman. Ariska Yuniar Rahmawati (1),Evie Ratnasari (2)

PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES LITERASI SAINTIFIK UNTUK SISWA KELAS XI MIA SMA/MA

PENGEMBANGAN PENILAIAN AUTENTIK GUNA MENGUKUR PENGETAHUAN DAN KREATIVITAS DALAM PEMBELAJARAN FISIKA PADA PESERTA DIDIK SMA NEGERI 6 PURWOREJO

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA MATERI LAJU REAKSI

Pengembangan Alat Praktikum Gelombang Stasioner untuk Melatihkan Keterampilan Proses Siswa SMA Kelas XI

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERBASIS SEARCH, SOLVE, CREATE AND SHARE (SSCS) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA SUB MATERI ARTHROPODA

Diah Pitaloka Handriani SMP Negeri 1 Surakarta

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) BERBASIS MODEL LEARNING CYCLE 5E UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN

Unnes Science Education Journal

Nurul Umamah, Marjono dan Erly Nurul Hidayah

JIPFRI: Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika dan Riset Ilmiah

Pancasakti Science Education Journal

KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA KEMALA BHAYANGKARI 1 SURABAYA PADA MATERI LAJU REAKSI MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI

ARTIKEL PENELITIAN. Oleh RANTI EFRIZAL NPM

PENGEMBANGAN MODEL E-BOOK INTERAKTIF TERMODIFIKASI MAJALAH PADA MATERI STRUKTUR ATOM

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing disertai diskusi dalam Pembelajaran Fisika Kelas VII di SMP

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 05 No. 03, September 2016, ISSN:

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BIOLOGI BERORIENTASI PENGEMBANGAN KECERDASAN MAJEMUK SISWA PADA KONSEP SEL KELAS XI SMA

Transkripsi:

USEJ 4 (2) (2015) Unnes Science Education Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/usej PENGEMBANGAN ASESMEN AUTENTIK PADA MATERI INTERAKSI MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA Muhammad Irsyad, Sri Sukaesih Jurusan IPA Terpadu, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang, Indonesia Info Artikel Sejarah Artikel Diterima April 2015 Disetujui Juni 2015 Dipublikasikan Juli 2015 Keywords: Authentic Assessment, Critical Thinking Skill, Interaction of Living Organism with the Environment Abstrak Implementasi kurikulum 2013 pada pembelajaran IPA mengharuskan agar pembelajaran IPA menerapkan penilaian yang komprehensif dan berimbang. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SMP Negeri 2 Kendal, didapatkan bahwa penilaian yang digunakan guru masih mengacu pada tingkatan kognitif rendah dengan menggunakan paper and pencil test, sedangkan aspek afektif dan psikomotorik belum terlaksana. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kelayakan lingkungan dan mendeskripsikan keefektifan autentik dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D). Asesmen autentik dinyatakan sangat layak dengan rerata persentase skor oleh validator sebesar 91,18% dan validator bahasa sebesar 89,71%. Hasil tanggapan siswa mengenai keterbacaan autentik diperoleh rerata skor 86% dengan kriteria sangat baik. Uji n-gain digunakan untuk mengetahui efektivitas autentik dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Jumlah siswa yang mencapai n-gain dengan kriteria sedang dan tinggi sebanyak 27 siswa dari 30 siswa dengan persentase 90%. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan autentik efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil tanggapan guru terhadap penggunaan autentik memperoleh rerata persentase 91,25% dengan kriteria sangat praktis. Abstract Curriculum implementation in 2013 on science learning requires that learning science implement a comprehensive and balanced assessment. Initial observation result on SMPN 2 Kendal shows that teachers use assessment still refers to the cognitive levels low by using a paper and pencil test, whereas affective and psychomotor aspects have not been implemented. This researches to determine the feasibility of authentic assessment in interaction of living organism with the environment theme and determine the effectivity of authentic assessment to improve student s critical thinking skills. This research used Research and Development (R&D) method. Authentic assessment is stated very decent with the mean percentage substance validator score of 91.18% and language validator of 89.71%. The results of student s responses on authentic assessment obtain a mean score of 86% with a very well criteria. N-gain test is used to determine the effectiveness of authentic assessment to improve student s critical thinking skills. Students who achieve n-gain medium and high criteria is 27 students of 30 students with a percentage of 90%. It shows that the use of authentic assessment is effective to improve student s critical thinking skills. The results of teacher s responses on authentic assessment obtain a mean score of 91.25% with a very practical criteria. 2015 Universitas Negeri Semarang Alamat korespondensi: Jurusan IPA Terpadu FMIPA Universitas Negeri Semarang Gedung D7 Kampus Sekaran Gunungpati Telp. (024) 70805795 Kode Pos 50229 E-mail: irsyadmeazza@yahoo.co.id ISSN 2252-6617

PENDAHULUAN Percepatan arus informasi dalam era globalisasi menuntut sistem pendidikan nasional dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan. Pada Kurikulum 2013, terdapat empat fokus pengembangan kurikulum yang salah satunya adalah mengenai standar penilaian pendidikan. Kedudukan penilaian sangat penting bagi keberhasilan melaksanakan pembelajaran. Dalam setiap pembelajaran perlu diadakan suatu penilaian untuk mengetahui bagaimana hasil dari proses pembelajaran yang dilakukan. Penilaian merupakan proses pengukuran hasil belajar dan monitoring kegiatan pembelajaran di kelas (Siswono, 2002). Permendikbud No 66 Tahun 2013 menyebutkan bahwa ada pergeseran dari penilaian melalui tes, yang hanya mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja, menuju penilaian autentik yang mengukur kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi dan hasil wawancara di SMP Negeri 2 Kendal, didapatkan bahwa penilaian yang digunakan guru masih mengacu pada aspek kognitif dengan menggunakan paper and pencil test, sedangkan aspek afektif dan psikomotorik belum terlaksana. Proses pembelajaran dan instrumen penilaian yang diberikan belum berorientasi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini mengakibatkan rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa kesulitan menganalisis informasi yang ada, cenderung menerima apa adanya informasi yang disampaikan maupun yang tertulis dalam buku. Disamping itu, pembahasan penilaian IPA masih belum sesuai dengan hakikat IPA, yaitu penilaian IPA memiliki dimensi proses, produk, dan sikap. Berdasarkan dimensi hakikat IPA, instrumen penilaian pembelajaran IPA belum banyak yang menyentuh pada dimensi proses dan sikap sedangkan untuk dimensi produk sangat luas dibahas (Mariana, 2008). Penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik untuk mengases aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dapat dilakukan guru dengan menggunakan autentik. Asesmen autentik merupakan suatu penilaian yang dilakukan melalui penyajian atau penampilan oleh siswa dalam bentuk pengerjaan tugas-tugas atau berbagai aktivitas tertentu yang langsung mempunyai makna pendidikan (Pantiwati, 2013). Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013, karena autentik mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Asesmen autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan siswa, karena berfokus pada kemampuan siswa berkembang untuk belajar. Asesmen autentik mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh siswa, dan bagaimana siswa menerapkan pengetahuannya (Kemendikbud, 2013). Pembelajaran IPA lebih bermakna ketika pembelajaran dikaitkan dengan dunia nyata peserta didik. Peserta didik belajar dan memahami dirinya sendiri beserta lingkungan yang ada di sekitarnya, dengan demikian akan memberikan pengalaman belajar lebih nyata dan aplikatif. Materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan merupakan materi IPA yang diajarkan pada kelas VII SMP semester II (genap). Teknik penilaian yang dilakukan guru pada materi ini sebelumnya masih menggunakan penilaian dari aspek kognitif saja, sedangkan penilaian dari aspek afektif dan psikomotorik belum terlaksana. Materi ini memiliki banyak aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dalam proses pembelajarannya dinilai hanya pada tingkat hafalan, pemahaman teori dan konsep. Penilaian aplikasi, sintetis, dan analisis belum banyak disentuh oleh guru. Oleh karena itu pada pembelajaran IPA materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan diperlukan suatu autentik untuk mengases aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara komprehensif. Jenis autentik yang dikembangkan pada penelitian ini yaitu penilaian kinerja (performance assessment), penilaian sikap, penilaian diri (self assessment), dan penilaian tertulis. Pengembangan autentik ini dilakukan untuk menginovasi penilaian IPA menjadi penilaian yang menggambarkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kondisi sekolah di SMP Negeri 2 Kendal juga mendukung dengan adanya laboratorium IPA dan lingkungan di sekitar sekolah yang dapat dijadikan sumber belajar. Asesmen autentik yang dikembangkan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Menurut Liliasari (2007), keterampilan berpikir kritis dapat diases melalui tes tertulis. Penilaian tertulis seperti ini dikembangkan melalui 899

pengintegrasian antara indikator berpikir kritis dan konsep-konsep serta keterampilan proses sains. Berpikir kritis dapat pula berguna secara kritis mengevaluasi apa yang dipelajari di kelas. Hal ini dapat membantu untuk berdiskusi dengan sesama siswa maupun dengan guru. Bagi guru, kemampuan berpikir kritis dapat digunakan untuk berargumentasi dengan baik ketika memberikan penjelasan kepada siswa. Penelitian pengembangan autentik ini menghasilkan suatu produk yang dapat mengases aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara komprehensif. Siswa merupakan target utama dari penelitian ini karena siswa tidak hanya mendapatkan kemampuan kognitif hafalan dan pemahaman saja tetapi analisis, sintesis, dan aplikasi juga dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah. Hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu model bagi guru untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kelayakan autentik pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan dan mendeskripsikan keefektifan autentik dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. METODE Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Kendal tahun ajaran 2013/2014. Subjek penelitian adalah 15 siswa kelas VII D untuk uji skala terbatas dan 30 siswa kelas VII D untuk uji skala besar atau pemakaian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang diadaptasi dari Sugiyono (2013). Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, angket, dan tes. Teknik analisis data meliputi analisis data teknik penilaian, analisis kelayakan produk, analisis angket keterbacaan siswa, analisis kemampuan berpikir kritis siswa, dan analisis kepraktisan autentik. Analisis data teknik penilaian menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Analisis kelayakan produk meliputi penilaian tahap I dan tahap II. Penilaian tahap I menilai tentang kelengkapan autentik. Penilaian tahap II meliputi penilaian kelayakan dan kelayakan bahasa. Analisis keterbacaan siswa menggunakan angket tanggapan siswa sebelum pemakaian. Analisis kemampuan berpikir kritis siswa menggunakan perhitungan n-gain berdasarkan nilai pretest dan posttest. Analisis kepraktisan 900 autentik menggunakan angket tanggapan guru setelah pemakaian produk. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil wawancara yang telah dilakukan dengan guru di SMP Negeri 2 Kendal menunjukkan bahwa penilaian yang digunakan pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan masih mengacu pada aspek kognitif dengan menggunakan paper and pencil test, sedangkan aspek afektif dan psikomotorik belum terlaksana. Latihan soal yang digunakan guru berupa soal pilihan ganda, isian singkat dan essay, tanpa adanya kegiatan diskusi/praktikum yang nyata dalam pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Kusmarni (2010) bahwa dalam melaksanakan penilaian hasil belajar di sekolah terdapat kecenderungan dari guru untuk mengutamakan penggunaan tes (paper and pencil test) sebagai satu-satunya alat ukur yang terpenting dalam proses pembelajaran di sekolah. Materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan adalah materi yang sangat erat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, sehingga dibutuhkan teknik penilaian yang dapat membantu peserta didik mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki. Teknik penilaian bertujuan untuk membantu peserta didik mengembangkan kemampuan yang dimiliki secara menyeluruh dan seimbang. Sehingga perlu dikembangkan lingkungan untuk mengases aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara komprehensif. Menurut Nyoman (2008), autentik mencerminkan tugas dan pemecahan masalah yang dilakukan oleh peserta didik dikaitkan dengan realita di luar sekolah atau kehidupan sehari-hari. Asesmen autentik berusaha mengukur dan menunjukkan kemampuan peserta didik dengan cara menerapkan pada kehidupan nyata (Siswono, 2002). Mueller (2005) menyatakan bahwa penilaian seharusnya menunjukkan dimana peserta didik dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan di dunia nyata melalui tugas-tugas autentik, sehingga penugasan, soal, dan daftar kemampuan peserta didik disusun sesuai dengan kebutuhan peserta didik di dunia nyata. Asesmen autentik yang dikembangkan pada penelitian ini yaitu penilaian kinerja (performance assessment), penilaian sikap, penilaian diri (self assessment), dan penilaian tertulis. Keempat jenis penilaian tersebut dapat menggambarkan penilaian aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Penilaian

kinerja (performance assessment) yang dikembangkan berbentuk penugasan siswa (task) melalui pengamatan menggunakan lembar pengamatan. Penilaian sikap dikembangkan dengan mengamati perilaku siswa selama proses pembelajaran melalui lembar pengamatan sikap. Penilaian diri (self assessment) dikembangkan dengan cara meminta siswa untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Tes tertulis yang dikembangkan berbentuk uraian atau esai yang diukur dengan menggunakan indikator berpikir kritis menurut Fisher (2008) yaitu mengidentifikasi, menginterpretasi, menganalisis, menilai, dan menyimpulkan. Pengembangan autentik pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan ini dikembangkan dari kompetensi inti dan kompetensi dasar yang ditetapkan pada kurikulum 2013. Kelebihan dari autentik ini adalah dapat memberikan informasi atau dokumen karya siswa yang tersusun secara sistematis pada aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa yang mampu menilai segenap kemampuan siswa secara berkesinambungan. Hal ini sesuai dengan Kemendikbud (2013) yang menyatakan bahwa autentik mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh siswa, dan bagaimana siswa menerapkan pengetahuannya. Asesmen autentik dinyatakan layak apabila memenuhi kriteria kelayakan penilaian tahap I dan penilaian tahap II. Standar yang digunakan sebagai acuan untuk menilai autentik adalah standar penilaian yang diadaptasi dari indikator yang ditentukan BSNP (2006). Aspek yang dinilai pada penilaian tahap 1 adalah kelengkapan aspek isi, aspek penyajian, dan aspek kegrafikaan. Komponen pada aspek kelayakan isi yaitu KI dan KD tercantum dalam dan kesesuaian isi dengan KI dan KD. Komponen pada aspek kelayakan penyajian yaitu daftar isi, indikator pembelajaran, lembar kerja siswa, lembar penilaian, dan rubrik penilaian. Komponen pada aspek kelayakan kegrafikan yaitu cover, keterbacaan, dan kualitas cetakan. Hasil penilaian dari pakar menunjukkan persentase penilaian sebesar 100% dengan kriteria sangat layak. Hal ini dikarenakan semua komponen pada autentik sudah ada sesuai butir pernyataan penilaian tahap I. Pada penilaian tahap II, komponen yang dinilai meliputi komponen kelayakan dan kelayakan bahasa. Penilaian tahap II ini berdasarkan 901 instrumen penilaian buku teks pelajaran dari BSNP (2006). Hasil penilaian kelayakan oleh pakar dan bahasa disajikan pada Tabel 1. Hasil penilaian kelayakan dari 2 pakar dihasilkan persentase rata-rata 91,18%. Sedangkan hasil penilaian kelayakan bahasa dari 2 pakar dihasilkan persentase rata-rata 89,71%. Hal tersebut menunjukkan bahwa autentik pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan memiliki kriteria sangat layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Tabel 1. Hasil penilaian pakar Nilai No Pakar Nilai ratarata Kriteria 1. Pakar Pakar 1 88,24% Sangat 91,18% Asesmen Pakar 2 94,12% Layak 2. Pakar Pakar 1 86,76% Sangat 89,71% Bahasa Pakar 2 92,65% Layak Hasil penilaian pakar terhadap autentik pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan mendapatkan masukan sehingga perlu diperbaiki. Hasil revisi disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2. Revisi autentik oleh pakar No Komponen Sebelum Sesudah 1 Identitas 2 Tujuan Penilaian 3 Penilaian Sikap Tidak terdapat identitas autentik. Tidak terdapat tujuan aspek yang akan diukur dalam setiap lembar penilaian. Pernyataan dalam lembar penilaian sikap kurang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diukur. Sudah terdapat identitas autentik Sudah terdapat tujuan aspek yang akan diukur dalam setiap lembar penilaian. Pernyataan dalam lembar penilaian sikap sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diukur.

Saran yang diberikan oleh pakar bahasa yaitu mengenai ukuran teks/ tulisan, tata kalimat, dan gambar pada autentik. Hasil penilaian pakar bahasa terhadap autentik yang perlu untuk direvisi terangkum dalam Tabel 3. Asesmen autentik yang telah dinyatakan sangat layak oleh pakar dan pakar bahasa kemudian diuji coba skala terbatas dengan melibatkan 15 siswa kelas VII D. Penilaian kelayakan didasarkan pada angket keterbacaan siswa terhadap autentik pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan. Pada uji coba skala kecil, siswa mengisi angket tanggapan tentang keterbacaan autentik yang meliputi 10 aspek. Tabel 3. Revisi autentik oleh pakar bahasa No Komponen Sebelum Sesudah 1 Ukuran teks Font ukuran 11 2 Gambar Gambar pada autentik tidak sesuai dengan buku guru. 3 Rubrik Penilaian Kunci jawaban pada rubrik penilaian terlalu singkat. Font sudah diperbesar menjadi ukuran 12 Gambar pada autentik sudah disesuaikan dengan buku guru. Kunci jawaban pada rubrik penilaian sudah diuraikan secara jelas. Hasil tanggapan siswa terhadap lingkungan yang diujicobakan memperoleh rata-rata skor 86% dengan kriteria sangat baik. Tanggapan positif siswa terhadap autentik menunjukkan bahwa sangat baik digunakan dalam proses pembelajaran materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan. Asesmen autentik yang telah direvisi kemudian digunakan dalam uji coba skala besar. Pada uji coba skala besar dilakukan untuk mengetahui keefektifan autentik dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Kemampuan berpikir kritis siswa diperoleh dari ratarata nilai pretest dan nilai post test. Uji n-gain digunakan untuk mengetahui efektivitas autentik dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil uji n-gain disajikan dalam Tabel 4. Tabel 4. Hasil uji n-gain Data Kelas VIII D Pre test Post test Jumlah siswa 30 30 Nilai tertinggi 62 91 Nilai terendah 21 48 Rata-rata nilai 43 70 Skor n-gain 0,49 (sedang) Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa skor n-gain sebesar 0,49, maka dapat dinyatakan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa termasuk kriteria sedang. Jumlah siswa dalam uji n- gain dapat dilihat pada Gambar 1. jumlah siswa 25 20 15 10 5 0 3 Rendah Sedang Tinggi Gambar 1. Jumlah siswa dalam uji n-gain Jumlah siswa yang mencapai n-gain dengan kriteria sedang dan tinggi sebanyak 27 siswa dari 30 siswa dengan persentase 90%. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan autentik pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pantiwati (2013) bahwa autentik dapat meningkatkan kemampuan kognitif, berpikir kritis, dan berpikir kreatif dengan tetap memperhatikan karakter siswa. Menurut Wayan (2007), sistem autentik yang diimplementasikan dalam pembelajaran secara konsisten dapat meningkatkan kompetensi dasar dan respon peserta didik terhadap pembelajaran IPA. Melalui penerapan autentik pada pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan tugas-tugas autentik yang menarik, bermanfaat, dan relevan dengan kehidupan siswa. Tugas ini dapat menjadikan siswa inovatif dan kreatif karena memiliki kesempatan untuk 902 23 4

mengembangkan diri, menumbuhkan sikap yang lebih positif terhadap sekolah, kegiatan belajar, dan dirinya sendiri (Wijayanti, 2014). Pada dasarnya, pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa dapat dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis siswa di dalam pembelajaran tidak dapat dikembangkan dari tipe hasil belajar kognitif saja atau pada saat siswa mengerjakan soal-soal evaluasi. Dengan kata lain, tipe hasil belajar kognitif bukan satu-satunya faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Pembelajaran berpikir kritis dapat dilakukan guru di kelas melalui metode diskusi, tanya jawab, menulis, dan praktek. Menurut Hashemi (2011), kemampuan berpikir kritis membantu orang bertindak secara logis dan berperilaku baik dalam masyarakat. Emi (2013) mengemukakan bahwa berpikir kritis adalah sebuah proses terorganisasi yang memungkinkan siswa mengevaluasi bukti, asumsi, logika, dan bahasa yang mendasari pemikiran orang lain. Dengan adanya suatu pembelajaran yang memberdayakan kemampuan berpikir kritis, siswa akan terbiasa dengan kebiasaan untuk berpikir (habits of minds). Pembiasaan untuk berpikir merupakan inovasi baru dalam pendidikan yang didasarkan pada konsep belajar seumur hidup, kreativitas, dan keterampilan hidup Kebiasaan berpikir dapat menentukan tingkat kepercayaan diri dan kepribadian seseorang dalam menghadapi masalah (Campbell, 2002). Dengan adanya kemampuan berpikir kritis dan kebiasaan berpikir, siswa akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, kreatif dan mampu memecahkan masalah dengan baik, serta mampu menggunakan informasi secara benar di dalam kehidupannya. Asesmen autentik yang telah dikembangkan dalam uji coba skala besar kemudian dinilai kepkraktisannya melalui tanggapan guru. Guru mengisi angket tanggapan tentang autentik yang meliputi 10 aspek. Hasil analisis tanggapan guru terhadap autentik pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan memperoleh rerata persentase 91,25% dengan kriteria sangat praktis. Berdasarkan hasil tersebut, maka autentik dinyatakan sangat praktis digunakan dalam pembelajaran materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan. Asesmen autentik pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan dinyatakan sangat layak dan efektif digunakan dalam pembelajaran, tetapi masih terdapat kendala-kendala 903 saat proses pengumpulan data dalam penyusunan autentik hingga penerapannya di lapangan. Adapun kendala dalam penelitian ini yaitu pencarian gambar-gambar yang sesuai dengan materi dan penyusunan pertanyaan yang berhubungan dengan kegiatan diskusi/praktikum. Untuk mengatasi kendala tersebut, dilakukan pencarian gambar yang sesuai dengan materi dan menarik minat belajar siswa dan menyusun pertanyaan yang tidak terlalu panjang untuk memudahkan siswa dalam menjawabnya. PENUTUP Teknik penilaian yang digunakan guru dalam pembelajaran materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan masih mengacu pada aspek kognitif dengan menggunakan paper and pencil test, sedangkan aspek afektif dan psikomotorik belum terlaksana. Asesmen autentik yang dikembangkan pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan telah memenuhi kriteria kelayakan menurut pakar dengan rerata persentase skor sebesar 91,18% untuk pakar dan 89,71% untuk pakar bahasa dengan kriteria sangat layak. Asesmen lingkungan efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa karena jumlah siswa yang mencapai n-gain dengan kriteria sedang dan tinggi sebanyak 27 siswa dari 30 siswa dengan persentase 90%. Saran yang diberikan adalah lingkungan ini dapat digunakan oleh guru untuk mengukur hasil belajar siswa. Guru diharapkan pula dapat mengembangkan autentik pada kompetensi dasar yang lain, sehingga dapat mengukur kemampuan siswa pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara komprehensif. DAFTAR PUSTAKA [BSNP] Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Instrumen Penilaian TahapI Buku Teks Pelajaran Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP Campbell, J. 2002. Theorising Habits of Mind as a Framework for Learning. Central Queensland University. Journal of Technology Education 11 (1): 13-16. Emi, R. 2013. Penyusunan Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Fisika

Pada Siswa SMP. Jurnal Pendidikan Fisika, 1(2): 17-22 Fisher A. 2008. Berpikir Kritis. Terjemahan Benyamin Adinata. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hashemi, S.A. 2011. The Use of Thinking in Social Science Text books of High School: A Field Study of Fars. International Journal of Intruction (4): 63-78 Kemendikbud. 2013. Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kusmarni, Y. 2010. Asesmen Kinerja Suatu Penilaian Alternatif Dalam Pembelajaran Sejarah Tantangan Globalisasi. Jurnal Studi Komparasi IPS Liliasari. 2007. Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran Sains Kimia Menuju Profesionalitas Guru. Jurnal Penelitian Hibah Pascasarjana. Mariana, M.A. 2008. Inovasi Penilaian Hasil Belajar Dalam IPA. Jurnal Bidang Program dan Informasi P4TK, 6(6): 11-19. Nyoman, D. 2008. Hakikat Asesmen Autentik Sebagai Penilaian Proses Dan Produk Dalam Pembelajaran Yang Berbasis Kompetensi. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, 2(1):42-59. Pantiwati, Y. 2013. Hakekat Asesmen Autentik dan Penerapannya Dalam Pembelajaran Biologi. Jurnal Edukasi Matematika dan Sains, (1): 1-10. Siswono, T. 2002. Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Kontekstual. Jurnal Matematika dan Pembelajarannya: 51-57 Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta. Wayan, S. 2007. Pengembangan Sistem Asesmen Otentik dalam pembelajaran Fisika di Sekolah Menengah Atas (SMA). Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDHIKSA: 1-5. Wijayanti, A. 2014. Pengembangan Authentic Assessment Berbasis Proyek dengan Pendekatan Saintifik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Ilmiah Mahasiswa. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia: 1-7 Mueller, J. 2005. The Authentic Assessment Toolbox: Enhancing Student Learning Through Online Faculty Development. Journal of Online Learning and Teaching 1(1) 904