BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN

3. Belum ada yang meneliti tentang kesadaran gender siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Bandung tahun ajaran 2013/2014.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dapat dilaksanakan melalui proses belajar mengajar yang

III. METODE PENELITIAN. Pengembangan yang dilakukan adalah pengembangan media pembelajaran berupa

ASSALAMU ALAIKUM WR.WB.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakkan seluruh subjek dalam kelompok belajar untuk diberi perlakuan

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak dengan. remaja merupakan pengembangan dan perluasan kemampuan-kemampuan

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dapat terjadi, untuk menghindari hal tersebut maka diberikan penjelasan beberapa

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 6 Bandung yang beralamat di Jl. Soekarno-Hatta (Riung Bandung), Jawa Barat.

BAB III METODE PENELITIAN. A. Pendekatan, Metode, dan Desain Penelitian. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kuantitatif.

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre Experimental Design

Gambaran Pencapaian Tugas Perkembangan Siswa SMK Insan Global Jakarta

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dalam peneltian ini digunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

Langkah I : Need Assessment (Analisis Kebutuhan)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pra eksperimen

MENINGKATKAN EMPATI MELALUI LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK SOSIODRAMA SISWA KELAS X.2 SMA NEGERI 1 BRINGIN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dengan judul penelitian Efektivitas Pelatihan Kecerdasan Emosi terhadap

BAB III METODE PENELITIAN

PROFIL PENCAPAIAN TUGAS PERKEMBANGAN SISWA DI SMP NEGERI 8 TELUK KUANTAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode adalah cara teratur untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar

BAB I PENDAHULUAN. Nurul Fahmi,2014 EFEKTIVITAS PERMAINAN KELOMPOK UNTUK MENGEMBANGKAN PENYESUAIAN SOSIAL SISWA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kuasi

2015 PEMBELAJARAN TARI KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN EMPATI SISWA KELAS VII A DI SMPN 14 BANDUNG

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. individu. Maka tidak diragukan lagi bahwa pengalaman-pengalaman pada masa

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Alfian Rizanurrasa Asikin, 2014 Bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian merupakan cara pemecahan masalah penelitian yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. terhadap buku teks terjemahan adalah metode

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Keharusan sebuah penelitian adalah bersifat logis dan berkesinambungan.

PENGARUH PENGGUNAAN METODE PROBLEM SOLVING TERHADAP PEMAHAMAN KEPRIBADIAN SISWA KELAS X UNTUK PERENCANAAN KARIER DI SMK TUNAS HARAPAN JAKARTA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada penelitian ini digunakan metode penelitian weak eksperimen dengan

III. METODE PENELITIAN. dan kegunaan tertentu (Sugiyono,2011:2). Sedangkan peneliti lain mengatakan

III. METODE PENELITIAN. oleh asumsi-asumsi dasar, pandangan-pandangan filosofis dan ideologis,

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1. Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran yang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan sebagai penelitian lebih lanjut dari penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. A. Lokasi, subjek, populasi, dan sampel penelitian. Penelitian ini dilakukan di TKIT An-Nur yang beralamat di TKIT AN-

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa belajar bagi remaja untuk mengenal dirinya,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN PESERTA DIDIK. Mengenal tujuan dan arti ibadah.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Salah satunya adalah krisis multidimensi yang diderita oleh siswa sebagai sumber

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. konseling berdasarkan analisis tugas perkembangan siswa kelas IV, V dan VI di

DAFTAR ISI Esya Anesty Mashudi, 2012

III. METODE PENELITIAN. Pengembangan yang dilakukan adalah pengembangan media pembelajaran berupa

BAB III METODE PENELITIAN

Layanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Gender

BAB III METODE PENELITIAN. Percontohan UPI Jln. Senjayaguru No. 1 Bandung

STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK)

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN 1 Pringsewu

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Metode Penelitian dan Desain Penelitian. mengumpulkan data penelitiannnya (Arikunto, 2006: 160).

O 1 X O 2. Gambar 3.1 One Group Pretest-Posttest Design

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Definisi operasional diperlukan agar tidak terjadi salah pengertian dan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE DAN DESAIN PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH LAYANAN INFORMASI KARIR TERHADAP MINAT STUDI LANJUT PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 16 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Transkripsi:

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar Laboratorium Percontohan UPI Bandung. Alasan pemilihan lokasi penelitian yakni belum tersedianya suatu layanan bimbingan pribadi sosial yang difokuskan untuk mengembangkan kesadaran gender siswa. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik Kelas III SD Laboratorium Percontohan UPI Bandung Tahun ajaran 2013/2014. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel jenuh yaitu penentuan sampel dimana semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono:2011). Jumlah subjek penelitian adalah 55 orang, yang terdiri dari Kelas III A 29 orang, Kelas III B 26 orang. Alasan pemilihan populasi terhadap kelas III antara lain sebagai berikut. 1. Salah satu tugas perkembangan anak pada usia 6-12 tahun adalah belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk bertumbuh serta belajar memainkan peranan kelaminnya. 2. Hasil analisis tugas perkembangan dari Inventori Tugas Perkembangan (ITP) kelas II SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2012/2013 diketahui dua puluh empat dari lima puluh lima orang siswa, aspek peran sosial sebagai pria dan wanitanya berada di bawah rata-rata tugas perkembangan, yaitu sub aspek kesadaran gender. Ini menunjukkan bahwa hampir 43.64% siswa mengalami hambatan dalam kesadaran gendernya. B. Desain Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran kesadaran gender siswa. Alasan menggunakan pendekatan kuantitatif adalah memungkinkan dilakukan pencatatan penganalisaan data hasil penelitian secara matematis dengan menggunakan penghitungan statistik.

32 Alur penelitian dan pengembangan layanan BK yang layak menurut pakar dan praktisi ini dapat dilihat dalam alur di bawah ini. PENDAHULUAN Studi Empiris Studi Pustaka Latar Belakang Permasalahan Need Asessment Analisis hasil Inventori Tugas Perkembangan (ITP) kelas II SD Laboratorium UPI Tahun Ajaran 2012/2013 Profil awal kesadaran gender di kelas III SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2013/2014 INTI Perumusan Program 1. Penyusunan Layanan Bimbingan Pribadi Sosial untuk Mengembangkan Kesadaran Gender Siswa. 2. Penimbangan Program oleh Ahli Program Layanan Bimbingan Pribadi Sosial untuk Mengembangkan Kesadaran Gender Siswa Pelaksanaan Layanan Pelaksanaan layanan Bimbingan Pribadi Sosial untuk Mengembangkan Kesadaran Gender Siswa Kelas III SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2013/2014 AKHIR Bagan 3.1 Alur Penelitian Post Test Evaluasi Program Pelaksanaan Hasil Menyebarkan kembali Inventori Tugas Perkembangan (ITP) kepada Siswa kelas III SD Laboratorium UPI Tahun Ajaran 2013/2014 Mengetahui ketepatan pelaksanaan layanan berdasarkan program yang telah disusun Diperoleh efektivitas layanan bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa

33 Penelitian dimulai dengan studi pendahuluan mengenai latar belakang permasalahan yang dijadikan bahan penelitian. Setelah itu melakukan identifikasi masalah yang didukung dengan studi empiris dan studi pustaka. Studi empiris berpedoman pada fenomena yang terjadi pada anak dan tempat subjek penelitian. Sedangkan studi pustaka berpedoman kepada literatur serta penelitian terdahulu yang memperkuat penelitian ini. Selanjutnya, setelah melakukan studi empiris dan studi pustaka dilakukan analisis tugas perkembangan dari Inventori Tugas Perkembangan (ITP) yang telah dilakukan di kelas II SD Laboratorium UPI Tahun Ajaran 2012/2013. Analisis tugas perkembangan ini dilakukan untuk mengetahui gambaran awal kesadaran gender di kelas III SD Laboratorium Percontohan UPI. Setelah diketahui gambaran umum kesadaran gender di kelas II SD Laboratorium UPI Tahun Ajaran 2012/2013, tahap selanjutnya yaitu membuat rancangan layanan bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa yang akan dilakukan di SD Laboratorium UPI Kelas III Tahun Ajaran 2013/2014. Sebelum melaksanakan bimbingan, rancangan layanan bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa tersebut diuji secara rasional oleh dua orang pakar bimbingan dan konseling serta satu orang praktisi bimbingan dan konseling yaitu guru BK SD Laboratorium Percontohan UPI Bandung. Selanjutnya layanan bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa diberikan kepada siswa kelas III SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2013/2014. Setelah layanan tersebut selesai dilaksanakan tahap selanjutnya yaitu melakukan post tes menggunakan Inventori Tugas Perkembangan (ITP) untuk mengetahui gambaran kesadaran gender siswa setelah melalui layanan bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa.

34 C. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu eksperimen dengan desain penelitian pra-eksperimen one group pretest-posttest. Metode penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono:2011,72). Dalam penelitian ini digunakan model penelitian pra-eksperimen one group pretest-posttest yaitu terdapat pretest sebelum siswa diberi perlakuan. Menurut Sugiyono (2011) hasil perlakuan diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Seperti halnya dalam penelitian ini analisis tugas perkembangan dari Inventori Tugas Perkembangan (ITP) yang telah dilakukan di kelas II SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2012/2013 dijadikan sebagai gambaran awal kesadaran gender siswa sebelum akhirnya diberikan layanan bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa yang disesuaikan dengan tugas perkembangan siswa sekolah dasar, kemudian setelah diberi layanan siswa akan kembali melakukan post test dengan menggunakan Inventori Tugas Perkembangan (ITP) siswa Sekolah Dasar untuk mengetahui perkembangan kesadaran gender siswa setelah diberi layanan bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa. D. Definisi Operasional Variabel Penelitian mengenai bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa terdiri dari dua variabel. 1. Bimbingan Pribadi-Sosial Bimbingan pribadi-sosial merupakan bimbingan untuk membantu individu dalam memecahkan masalah-masalah pribadi-sosial. Bimbingan pribadi sosial diarahkan untuk memantapkan kepribadian dan mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dirinya. Bimbingan ini merupakan layanan yang mengarah pada pencapaian pribadi yang seimbang dengan

35 memperhatikan keunikan karakteristik pribadi serta ragam permasalahan yang dialami oleh individu (Yusuf dan Nurihsan, 2009). Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa bimbingan pribadi sosial adalah proses membantu individu dalam mencapai tugas perkembangan dan mengatasi permasalahan pribadi-sosial yang dihadapinya. Bimbingan pribadi sosial yang dimaksud dalam penelitian ini adalah upaya peneliti sebagai konselor bekerjasama dengan guru mata pelajaran untuk mengembangkan kemampuan siswa Kelas III SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2013/2014 dalam peran sosialnya sebagai pria atau wanita. Bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender ini didasarkan pada hasil Analisis Tugas Perkembangan (ATP) dari Inventori Tugas Perkembangan (ITP) yang menunjukkan bahwa aspek terendah yang diperoleh oleh siswa adalah aspek kesadaran gender. Layanan bimbingan pribadi sosial untuk mengembangakan aspek kesadaran gender ini terintegrasi dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar siswa kelas III pada kurikulum 2013. Mata pelajaran yang terintegrasi dengan pengembangan aspek kesadaran gender ini yaitu PKN dan Pendidikan Agama Islam. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya diperlukan kolaborasi antara peneliti yang dalam penelitian ini berperan sebagai konselor dengan guru mata pelajaran tersebut. Adapun peran guru mata pelajaran dalam pelaksanaan bimbimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender di kelas III SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2013/2014 yaitu: 1) mensosialisasikan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa agar siswa dapat memahami kegiatan yang akan dilaksanakan serta agar siswa dapat mengikuti kegiatan bimbingan dengan baik; 2) menyediakan informasi mengenai sikap dan kebiasaan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran; 3) mengidentifikasi peserta didik yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan aspek kesadaran gender;

36 4) memantau perkembangan dan kemajuan para siswa setelah mengikuti kegiatan bimbingan. Adapun struktur pengembangan layanan bimbingan pribadi-sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa Kelas III SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2013/2014 terdiri dari; rasional, deskripsi kebutuhan, tujuan, komponen program, rancangan operasional, pengembangan tema, pengembangan satuan layanan dan evaluasi. 2. Kesadaran Gender Kata gender bisa diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara lakilaki dan perempuan dalam hal nilai dan perilaku (Neufeldt (ed.), 1984: 561). Secara terminologis, gender bisa didefinisikan sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (Lips, 1993: 4). Definisi lain mengenai gender dikemukakan oleh Fakih (2012) bahwa gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa gender adalah suatu sifat yang dijadikan dasar untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi kondisi sosial dan budaya, nilai dan perilaku, mentalitas, dan emosi. Kesadaran gender yang dimaksud dalam penilitian ini adalah upaya untuk membantu siswa agar memiliki kemampuan untuk dapat membedakan peran antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari, dapat membedakan serta memahami perbedaan fisik dan emosional antara laki-laki dan perempuan serta mampu untuk dapat saling menghargai dan menghormati antar teman yang berbeda jenis kelamin. Kemampuan siswa kelas III SD Laboratorium UPI Tahun 2013/2014 dalam mengembangkan kesadaran gender ditandai dengan indikator sebagai berikut: 1. Siswa memiliki sikap positif terhadap jenis kelaminnya (pria atau wanita). 2. Dapat menerima serta menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan (baik rupa wajahnya maupun postur tubuhnya).

37 3. Dapat memainkan peran kelaminnya. Salah satu contohnya dari segi permainan akan tampak bahwa laki-laki tidak akan memperbolehkan anak perempuan mengikuti permainannya yang khas lakilaki, seperti main kelereng, main bola dan layang-layang. E. Instrumen Penelitian Intrumen pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Nurhudaya (2011) mengemukakan ITP dapat digunakan untuk mengetahui tingkat perkembangan individu maupun kelompok, mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu siswa yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. ITP dapat mengukur tingkat perkembangan sebelas aspek, yaitu: landasan hidup religius, landasan perilaku etis, kematangan sosial, kematangan intelektual, kesadaran tanggung jawab, peran sosial sebagai pria atau wanita, penerimaan diri dan pengembangannya, kemandirian perilaku ekonomi, wawasan dan persiapan karier, kematangan hubungan dengan teman sebaya dan persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. Dalam penelitian ini yang menjadi fokus pengembangan yaitu pada aspek kesadaran gender atau peran sosial sebagai pria atau wanita pada jenjang sekolah dasar. Hal ini didasarkan pada tugas perkembangan anak usia SD yang dirumuskan oleh Havighurst (Yusuf: 2011). 1. Mempelajari keterampilan fisik untu keperluan sehari-hari 2. Membentuk sikap positif/sehat terhadap dirinya sendiri 3. Belajar bergaul/bekerja dengan teman sebaya 4. Belajar peran sosial sebagai dengan jenis kelamin/gender 5. Mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, berhitung 6. Mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan bagi kehidupan sehari-hari 7. Mengembangkan kata hati, moralitas, dan sistem nilai sebagai suatu pedoman hidup 8. Belajar menjadi pribadi yang mandiri 9. Mengembangkan sikap positif terhadap 10. Mengembangkan konsep diri yang sehat

38 F. Teknik Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai kesadaran gender dalam penelitian ini yaitu Inventori Tugas Perkembangan (ITP) untuk mendapatkan data mengenai gambaran kesadaran gender siswa kelas III SD Laboratorium Percontohan UPI. ITP diukur dengan memberikan siswa suatu angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus diisi oleh siswa. Setiap butir pernyataan mengukur satu subaspek, terdapat 10 aspek dan 4 subaspek atau 40 butir pernyataan. Siswa memilih satu pernyataan yang paling sesuai dengan keadaan dirinya. Hasil pre-test Inventori Tugas Perkembangan (ITP) di kelas II SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2013/2014 diuraikan dalam grafik sebagai berikut:

39 3,5 3 2,5 2,62 3,26 2,76 2,77 2,84 2,4 2,8 2,7 2,7 2,95 2 1,5 1 Aspek 0,5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Analisis Tugas Perkembagan (ATP) di kelas II-A SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2012/2013 Grafik 3.1 Keterangan : 1. Landasan Hidup Religius 2. Landasan Perilaku Etis 3. Kematangan Emosional 4. Kematangan Intelektual 5. Kesadaran Tanggung Jawab 6. Peran Sosial sebagai Pria atau Wanita 7. Penerimaan Diri dan Pengembangannya 8. Kemandirian Perilaku Ekonomis 9. Wawasan dan Persiapan Karir 10. Kematangan Hubungan dengan Teman Sebaya

40 Adapun hasil pre-test analisis tugas perkembangan (ATP) dari inventori tugas perkembangan (ITP) di kelas II-B SD Laboratorium UPI Tahun Ajaran 2012/2013 adalah sebagai berikut. 3,5 3 2,5 2,62 3,28 2,81 2,63 2,71 2,54 2,73 2,89 2,65 2,94 2 1,5 1 Aspek 0,5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Analisis Tugas Perkembagan (ATP) di kelas II-B SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2012/2013 Grafik 3.2 Keterangan : 1. Landasan Hidup Religius 2. Landasan Perilaku Etis 3. Kematangan Emosional 4. Kematangan Intelektual 5. Kesadaran Tanggung Jawab 6. Peran Sosial sebagai Pria atau Wanita 7. Penerimaan Diri dan Pengembangannya 8. Kemandirian Perilaku Ekonomis 9. Wawasan dan Persiapan Karir 10. Kematangan Hubungan dengan Teman Sebaya

41 Berdasarkan hasil pre test Inventori Tugas Perkembangan (ITP) di Kelas II SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2012/2013 diketahui aspek terendah secara kelompok yang diperoleh oleh dua kelas tersebut adalah aspek peran sosial sebagai pria atau wanita. Hasil tersebut menunjukkan bahwa rata-rata siswa Kelas III SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2013/2014 memerlukan bimbingan dalam aspek peran sosial sebagai pria atau wanita agar siswa dapat mencapai tugas perkembangan tersebut secara optimal. Adapun analisis kebutuhan siswa kelas III SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2013/2014 berdasarkan analisis tugas perkembangan adalah siswa perlu memiliki kemampuan untuk: a. mengetahui perbedaan pokok laki-laki dan perempuan; b. mengetahui peran sosial kelamin; c. dapat bertingkah laku dan kegiatan kelamin d. memiliki cita-cita kelamin. Oleh karena itu berdasarkan hasil analisis tugas perkembangan tersebut disusun layanan bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa kelas III SD Laboratorium Percontohan UPI Tahun Ajaran 2013/2014, program layanan terlampir. G. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui profil awal kesadaran gender di SD Laboratorium Percontohan UPI yaitu menggunakan perangkat lunak Analisis Tugas Perkembangan (ATP). Analisis Tugas Perkembangan (ATP) adalah perangkat lunak yang digunakan khusus untuk membantu mengolah Inventori Tugas Perkembangan (ITP). Dari ATP dapat diketahui ketercapaian tugas perkembangan siswa. Adapun analisis perkembangan yang diperoleh di antaranya:

42 1. analisis kelompok, yang terdiri atas: profil kelompok, grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek, grafik distribusi frekuensi konsistensi, delapan butir tertinggi dan terendah; 2. analisis per individu, yang terdiri atas: profil individual, distribusi frekuensi nilai, delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut; 3. visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik. Setiap kelas memperoleh kategori yang berbeda-beda, untuk menentukan kategori digunakan perhitungan bilangan baku (skor z) yang diperoleh dari standar deviasi data dan rata-rata. Berikut rumus yang digunakan dalam menentukan kategorisasi: Keterangan: = skor z atau bilangan baku = skor yang diperoleh = rata-rata s = simpangan baku (Sudjana, 2005:99) Setelah mengetahui nilai skor z langkah selanjutnya yaitu mengelompokkan data menjadi tiga kategori dengan pedoman sebagai berikut: Rentang Skor z Tabel 3.1 Kategori Skor z Kategori Skor z z 1 Tinggi -1 z 1 Sedang z -1 Rendah

43 Setelah mengelompokkan kategori berdasarkan perolehan skor z langkah selanjutnya yaitu menginterpretasi setiap rentang skor yang diuraikan dalam tabel sebagai berikut. Tabel 3.2 Interpretasi Skor Berdasarkan Kategori Kelas III-A Kategori Interval Interpretasi Tinggi z 1 Sedang -1 z 1 Siswa telah mampu membedakan perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, mengetahui peran di masyarakat sesuai dengan jenis kelaminnya (seperti; laki-laki memiliki kekuatan fisik lebih kuat dibandingkan dengan perempuan sehingga lakilaki harus bisa membantu pekerjaan perempuan, memilih cita-cita yang kelaminnya, bermain mainan yang sesuai dengan jenis kelaminnya), siswa mampu menerima keadaan dirinya baik itu sebagai laki-laki atau perempuan serta dapat berperilaku kelaminnya (seperti, lakilaki tidak bersikap lemah gemulai serta perempuan tidak bersikap seperti lakilaki, laki-laki tidak memakai pakaian yang menyerupai perempuan begitupun sebaliknya). Siswa telah dapat memahami perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, mengetahui peran di masyarakat sesuai dengan jenis kelaminnya (seperti; laki-laki memiliki

44 Rendah z -1 kekuatan fisik lebih kuat dibandingkan dengan perempuan sehingga lakilaki harus bisa membantu pekerjaan perempuan, memilih cita-cita yang kelaminnya, bermain mainan yang sesuai dengan jenis kelaminnya), siswa memahami keadaan dirinya baik itu sebagai laki-laki atau perempuan serta mengetahui perilaku kelaminnya (seperti, lakilaki tidak bersikap lemah gemulai serta perempuan tidak bersikap seperti lakilaki, laki-laki tidak memakai pakaian yang menyerupai perempuan begitupun sebaliknya) akan tetapi siswa belum mampu untuk menampilkan perilaku yang seharusnya ditampilkan dalam lingkungan sosial seperti dalam hubungan dengan teman sebayanya yang berbeda jenis kelamin, siswa yang terkategori sedang masih belum mau untuk bergabung dengan teman-teman yang berbeda jenis kelamin dan cenderung hanya bermain dengan teman-teman yang berjenis kelamin sama. Siswa belum mampu memahami perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, belum mengetahui peran dirinya di masyarakat yang sesuai dengan jenis kelaminnya

45 (seperti; laki-laki memiliki kekuatan fisik lebih kuat dibandingkan dengan perempuan sehingga lakilaki harus bisa membantu pekerjaan perempuan, memilih cita-cita yang kelaminnya, bermain mainan yang sesuai dengan jenis kelaminnya), siswa belum memahami keadaan dirinya baik itu sebagai laki-laki atau perempuan, siswa belum dapat menampilkan perilaku kelaminnya (seperti, lakilaki tidak bersikap lemah gemulai serta perempuan tidak bersikap seperti lakilaki, laki-laki tidak memakai pakaian yang menyerupai perempuan begitupun sebaliknya) serta siswa belum dapat menghargai dan menghormati teman yang berbeda jenis kelaminnya (seperti; masih senang mengganggu dan menjahili teman yang berbeda jenis kelaminnya).

46 Adapun interpretasi rentang skor berdasarkan kategori kelas III-B adalah sebagai berikut: Tabel 3.3 Interpretasi Skor Berdasarkan Kategori Kelas III-B Kategori Interval Interpretasi Tinggi z 1 Sedang -1 z 1 Siswa telah mampu membedakan perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, mengetahui peran di masyarakat sesuai dengan jenis kelaminnya (seperti; laki-laki memiliki kekuatan fisik lebih kuat dibandingkan dengan perempuan sehingga lakilaki harus bisa membantu pekerjaan perempuan, memilih cita-cita yang kelaminnya, bermain mainan yang sesuai dengan jenis kelaminnya), siswa mampu menerima keadaan dirinya baik itu sebagai laki-laki atau perempuan serta dapat berperilaku kelaminnya (seperti, lakilaki tidak bersikap lemah gemulai serta perempuan tidak bersikap seperti lakilaki, laki-laki tidak memakai pakaian yang menyerupai perempuan begitupun sebaliknya). Siswa telah dapat memahami perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, mengetahui peran di masyarakat sesuai dengan jenis kelaminnya (seperti; laki-laki memiliki kekuatan fisik lebih kuat

47 Rendah z -1 dibandingkan dengan perempuan sehingga lakilaki harus bisa membantu pekerjaan perempuan, memilih cita-cita yang kelaminnya, bermain mainan yang sesuai dengan jenis kelaminnya), siswa memahami keadaan dirinya baik itu sebagai laki-laki atau perempuan serta mengetahui perilaku kelaminnya (seperti, lakilaki tidak bersikap lemah gemulai serta perempuan tidak bersikap seperti lakilaki, laki-laki tidak memakai pakaian yang menyerupai perempuan begitupun sebaliknya) akan tetapi siswa belum mampu untuk menampilkan perilaku yang seharusnya ditampilkan dalam lingkungan sosial seperti dalam hubungan dengan teman sebayanya yang berbeda jenis kelamin, siswa yang terkategori sedang masih belum mau untuk bergabung dengan teman-teman yang berbeda jenis kelamin dan cenderung hanya bermain dengan teman-teman yang berjenis kelamin sama. Siswa belum mampu memahami perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, belum mengetahui peran dirinya di masyarakat yang sesuai dengan jenis kelaminnya (seperti; laki-laki memiliki

48 kekuatan fisik lebih kuat dibandingkan dengan perempuan sehingga lakilaki harus bisa membantu pekerjaan perempuan, memilih cita-cita yang kelaminnya, bermain mainan yang sesuai dengan jenis kelaminnya), siswa belum memahami keadaan dirinya baik itu sebagai laki-laki atau perempuan, siswa belum dapat menampilkan perilaku kelaminnya (seperti, lakilaki tidak bersikap lemah gemulai serta perempuan tidak bersikap seperti lakilaki, laki-laki tidak memakai pakaian yang menyerupai perempuan begitupun sebaliknya) serta siswa belum dapat menghargai dan menghormati teman yang berbeda jenis kelaminnya (seperti; masih senang mengganggu dan menjahili teman yang berbeda jenis kelaminnya). Setelah diperoleh profil awal kesadaran gender siswa di kelas III SD Laboratorium UPI selanjutnya disusun layanan bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa yang berdasarkan pada hasil analisis tugas perkembangan siswa. Dalam pengembangan program bimbingan pribadi sosial ini difokuskan pada aspek tugas perkembangan siswa yang paling rendah. Hasil dari analisis tugas perkembangan siswa aspek yang paling rendah adalah peran sosial

49 sebagai pria atau wanita oleh karena itu program disusun secara khusus untuk mengembangkan kesadaran gender siswa. Selanjutnya, untuk mengetahui efektivitas layanan yang diberikan kepada siswa yaitu dengan membandingkan hasil pre tes dan post test Analisis Tugas Perkembangan (ATP). Selain menggunakan ATP, untuk mengetahui efektifitas bimbingan pribadi sosial untuk mengembangkan kesadaran gender siswa menggunakan uji t. Tujuan uji t adalah untuk membandingkan kedua data, yaitu pretest dan post-test. Gunanya untuk menguji kemampuan generalisasi yang berupa dua variabel berbeda dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Keterangan: t D N ( ) ( ) (Arikunto, 2008: 306) = harga t untuk sampel berkorelasi = (difference), perbedaan antara skor tes awal dengan skor tes akhir untuk setiap individu = jumlah subjek penelitian