BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kalimantan Barat merupakan salah satu propinsi di Indonesia, memiliki 10 Kabupaten dengan status malaria dikategorikan endemis tinggi (>50 kasus per 1000 penduduk), endemis sedang (20-50 kasus per 1000 penduduk) sebanyak 3 kabupaten, dan endemis rendah / nonendemis (< 20 kasus per 1000 penduduk) sebanyak 1 kabupaten. Kabupaten Sambas adalah salah satu daerah dikategorikan termasuk endemitas tinggi. Pada tahun 2009 kejadian malaria dilaporkan sebanyak 691 kasus, kemudian meningkat pada tahun 2010 menjadi 1702 kasus, pada tahun 2011 menjadi 2.991 kasus (Dinkes Kab Sambas, 2010). Vektor malaria di Kalimantan Barat dilaporkan An.,balabacensis, An.campestris, An.maculatus, dan An.nigerrimus (Kemenkes, 2011). Wilayah kerja Puskesmas Sekura merupakan salah satu daerah endemis malaria di Kabupaten Sambas. Angka API (Annual Parasite Incidence) pada tahun 2009 dilaporkan 4,31 per mil, kemudian meningkat pada tahun 2010 menjadi 4,42 per mil, pada tahun 2011 menjadi 5,93 per mil (Puskesmas Sekura, 2011). Berdasarkan angka API tersebut, wilayah kerja Puskesmas Sekura dikategorikan sebagai daerah endemis tinggi / HIA (high incidence area ). Secara epidemiologis penyebaran penyakit menurut Gordon dalam Noor (2008) dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu agent, host, dan environment. Kejadian penyakit oleh vektor tergantung pada interaksi antara tiga faktor berbeda yaitu parasit (penularan pada tubuh host terinfeksi), vektor atau host perantara (berperan dalam kejadian penyakit) dan manusia rentan terhadap penyakit (susceptible human host). Terjadinya penularan malaria sangat dipengaruhi faktor manusia (individu) dan lingkungan. Faktor individu meliputi pengetahuan, sikap, tingkat pendidikan, perilaku, pekerjaan dan kebiasan-kebiasaan, sedangkan faktor lingkungan meliputi lingkungan sosial, fisik, dan biologi (perilaku vektor malaria). Menurut penelitian 1
2 yang dilakukan oleh Kacey et al. (2001) di dataran tinggi sebelah barat Kenya, dilaporkan bahwa faktor resiko berhubungan dengan penularan malaria adalah tingkat pendidikan, keadaan plavon, dan keberadaan semak-semak. Sarkar et al, (2009) melaporkan bahwa faktor berhubungan dengan malaria di Jalpaiguri India adalah penggunaan kelambu. Sedangkan hasil penelitian Ramtana (2011) diperoleh hasil bahwa faktor berhubungan dengan kejadian malaria di Desa Manimbaya Sulawesi Tengah adalah jarak rumah dengan habitat perkembangbiakan (breeding places). Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut maka, dapat disimpulkan bahwa faktor resiko kejadian malaria di berbagai tempat berbeda. Menurut survei pendahuluan yang telah dilakukan, wilayah Kerja Puskesmas Sekura merupakan daerah yang memiliki tingkat endemitas malaria tinggi di Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat. Wilayah tersebut merupakan ekosistem hutan, dikelilingi oleh sungai, dan berada dekat wilayah perkebunan. Malaria ditemukan pada penduduk bermukim di sekitar perkebunan karet dan salak, serta di sekitar pinggiran sungai. Berdasarkan hasil survei pendahuluan dan telaah epidemiologi, faktor perilaku individu dan lingkungan diduga merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sekura. Faktor resiko sehubungan dengan kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sekura harus diketahui dengan jelas, sehingga perlu dilakukan penelitian. Gambaran distribusi kasus malaria dengan menggunakan analisis menurut waktu dan ruang dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) perlu diketahui untuk identifikasi faktor resiko penularan. Metode SIG menyediakan teknologi baru dan solusi untuk menganalisis konteks epidemiologi dan ekologi malaria dan penyakit menular lainnya. Statistik spasial lokal telah mempermudah dalam mendeteksi cluster penyakit atau hot spot, untuk surveilans kesehatan masyarakat dan untuk meningkatkan pemahaman kita tentang etiologi penyakit dan patogenesis epidemi seperti malaria (Yeshiwondim et al., 2008). Menurut Boulus (2004) pemanfaatan SIG merupakan sebuah langkah mencerminkan pengambilan keputusan berdasarkan bukti.
3 Berdasarkan latar belakang di atas dan menurut hasil survey pendahuluan yang telah dilakukan, maka dengan memperhatikan penyebaran malaria yang cepat, kondisi pemukiman, dan belum pernah dilakukan penelitian mengenai malaria di daerah tersebut maka beberapa faktor yang akan diteliti dalam penelitian ini yang diduga berhubungan dengan kejadian malaria diantaranya faktor individu (penggunaan kelambu, penggunaan anti nyamuk, aktivitas keluar rumah malam, dan penggunaan penutup tubuh ketika keluar rumah pada malam hari) dan lingkungan rumah (kerapatan dinding, penggunaan kawat kasa, keberadaan habitat perkembangbiakan jentik, dan keberadaan kandang ternak). Selain itu penelitian ini juga memetakan cluster kasus malaria secara ruang dan waktu dan buffering habitat perkembangbiakan jentik Anopheles sp dengan kasus malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Sekura. Untuk mengetahui transmisi penularan malaria yang sebenarnya terjadi di wilayah tersebut dilakukan dengan menggunakan transmisi malaria secara indeginous, yaitu kasus malaria yang transmisinya terjadi setempat atau lokal (di wilayah tersebut). Salah satunya adalah dengan melakukan penelitian pada kelompok usia 0-10 tahun. Dengan pertimbangan bahwa usia tersebut mobilitas ke daerah-daerah lain, terutama daerah endemik malaria tidak begitu besar dibandingkan usia dewasa, sehingga apabila terjadi transmisi malaria pada usia tersebut besar kemungkinan transmisi yang terjadi adalah secara lokal. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Apakah faktor individu meliputi penggunaan kelambu, penggunaan anti nyamuk, penggunaan penutup tubuh ketika keluar rumah pada malam hari, dan aktivitas keluar rumah pada malam hari merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria?
4 2. Apakah faktor lingkungan yang meliputi kerapatan dinding, penggunaan kawat kasa, keberadaan habitat perkembangbiakan jentik, dan keberadaan kandang ternak merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria? 3. Bagaimana pemetaan cluster kasus malaria secara ruang dan waktu dan buffering habitat perkembangbiakan jentik Anopheles sp dengan kasus malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Sekura Kabupaten Sambas? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Menentukan hubungan beberapa faktor individu dan faktor lingkungan dengan kejadian malaria, serta memetakan cluster kasus malaria secara ruang dan waktu dan buffering habitat perkembangbiakan jentik Anopheles sp dengan kasus malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Sekura Kabupaten Sambas. 2. Tujuan Khusus a. Menentukan hubungan faktor individu meliputi: penggunaan kelambu, penggunaan anti nyamuk saat tidur malam hari, penggunaan penutup tubuh dan aktivitas keluar rumah pada malam hari dengan kejadian malaria. b. Menentukan hubungan faktor lingkungan meliputi: kerapatan dinding, penggunaan kawat kasa pada rumah, keberadaan habitat perkembangbiakan jentik, dan kandang ternak dengan kejadian malaria. c. Memetakan cluster kasus malaria secara ruang dan waktu dan buffering habitat perkembangbiakan jentik Anopheles sp dengan kasus malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Sekura Kabupaten Sambas D. Manfaat Penelitian 1. Hasil penelitian ini sebagai masukan dalam menyusun langkah pemberantasan malaria di Kabupaten Sambas khususnya di daerah endemis dan terpencil yang memiliki karakteristik seperti Wilayah Kerja Puskesmas Sekura.
5 2. Sebagai tambahan kepustakaan kesehatan masyarakat terutama pada pemberantasan dan pencegahan penyakit malaria. 3. Sebagai bahan masukan bagi perkembangan dan kemajuan pengetahuan dan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk pemantauan dan penanggulangan malaria. 4. Sebagai tambahan ilmu dan pengetahuan bagi peneliti dalam hal pemberantasan penyakit malaria khususnya tentang faktor resiko kejadian malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Sekura Kabupaten Sambas. E. Keaslian Penelitian Penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria, seperti faktor individu dan lingkungan sudah banyak dilakukan, namun penelitian mengenai malaria yang menjelaskan dengan analisis spasial masih belum banyak dilakukan, selain itu penelitian ini dilakukan dengan sudut pandang dan kondisi yang berbeda baik dari aspek lokasi penelitian, tahun pelaksanaan, dan faktor resiko yang dianalisis. 1. Kacey et al. (2011) yang berjudul Environmental, Socio-Demographic and Behavioral Determinants of Malaria Risk in the Highlands of Western Kenya: a Case-Control Study. Persamaan : Variabel bebas yang diteliti antara lain aspek lingkungan, pekerjaan (sosio demografi), dan perilaku. Perbedaan : Variabel terikat pada penelitian Kacey et al adalah berdasarkan malaria klinis, sedangkan pada penelitian ini adalah malaria yang dinyatakan positif secara laboratorium. Pada penelitian Kacey et al tidak dilakukan analisis spasial mengenai kejadian malaraia, sedangkan penelitian ini menggunakan analisis spasial. 2. Sarkar et al. (2009) yang berjudul Risk Factors for Malaria Deaths in Jalpaiguri District, West Bengal, India: Evidence for Further Action Persamaan : Variabel bebas yang sama diteliti antara lain karakteristik demografi dan beberapa tindakan pencegahan
6 Perbedaan : Variabel terikat dalam penelitian yang dilakukan oleh Sarkat et al adalah kasus kematian yang diakibatkan oleh malaria, sedangkan pada penelitian ini adalah kasus kesakitan yang dinyatakan positif malaria secara laboratorium. Pada penelitian Sarkar et al tidak dilakukan analisis spasial mengenai kejadian malarai, sedangkan penelitian ini menggunakan analisis spasial. 3. Zhang et al. (2008) yang berjudul Spatial Analysis of Malaria in Anhui Province, China. Persamaan : Penelitian mengenai analisis spasial malaria Perbedaan : Penelitian Zhang tidak meneliti hubungan faktor individu dan lingkungan terhadap kejadian malaria. 4. Yeshiwondim et al. (2008) yang berjudul Spatial Analysis of Malaria Incidence at the Village Level in Areas with Unstable Transmission in Ethiopia. Persamaan : Penelitian mengenai analisis spasial malaria. Perbedaan : Penelitian dengan analisa spasial dengan variabelnya meliputi umur, jenis kelamin dan desa, sedangkan pada penelitian ini meliputi faktor individu dan lingkungan. 5. Sulistiowati, Z.D. (2011) yang berjudul Analisis Spasial Kejadian Malaria di Kecamatan Sosoh Buay Rayap Kabupaten Ogan Komering Ulu. Persamaan : Penelitian mengenai analisis spasial malaria. Perbedaan : Variabel yang diteliti adalah karakteristik responden, kondisi lingkungan perumahan, perilaku masyarakat, dan status sosial budaya. Tidak terdapat variabel lingkungan sekitar perumahan. Pengambilan sampel tidak menggunakan sistem matching dan populasinya adalah pada semua kelompok umur. 6. Ramtana,S.D. (2011) yang berjudul Faktor Resiko Kejadian Malaria Di Desa Manibaya, Balesang Tanjung Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Persamaan : Sama-sama meneliti hubungan tempat berkembang biak, kondisi dinding rumah, aktifitas di kebun atau di hutan dan penggunaan anti nyamuk dengan kejadian malaria.
7 Perbedaan : Penelitan Ramtana tidak meneliti keberadaan kandang ternak, serta tidak menggunakan analisis spasial, sedangkan pada penelitian ini varibel tersebut diteliti dan menggunakan analisis spasial.