BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN. menyeluruh dan dengan cara deksripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada

BAB III METODE PENELITIAN

Konsep dan Model-Model Analisis Framing. Dewi Kartika Sari, S.Sos., M.I.Kom

BAB III METODE PENELITIAN. Sesuai dengan jenis penelitiannya yakni Penelitian Analisis Teks

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

09Ilmu. Analisis Framing. Sri Wahyuning Astuti, S.Psi. M,Ikom

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruksionis. Menurut Bogdan dan

BAB III METODELOGI PENELITIAN. kondisi empirik objek penelitian berdasarkan karakteristik yang dimiliki. 25

09ILMU. Modul Perkuliahan IX. Metode Penelitian Kualitatif. Metode Analisis Framing. Ponco Budi Sulistyo., S.Sos., M.Comm KOMUNIKASI.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Digital Communications Award for Social Media Presence pada News Overview

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. deskriptif kualitatif, dimana penelitian ini berusaha melihat makna teks yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB III METODE PENELITIAN. selanjutnya dicarikan cara pemecahannya. 1

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Fenomena yang dijadikan objek penelitian adalah isi editorial Hortikultura

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN. Pemberitaan seputar eksekusi terpidana mati Amrozi cs 2008 telah menarik

BAB 3 METODOLOGI. Universitas Indonesia Representasi jilbab..., Sulistami Prihandini, FISIP UI, 2008

BAB III METODE PENELITIAN A. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. seperangkat pengetahuan tentang langkah-langkah sistematis dan logis tentang

EPILOG (ditujukan untuk memenuhi salah satu Tugas Mata Kuliah Analisis Framing)

peristiwa lebih mudah menyentuh dan diingat oleh khalayak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. analisis isi, dengan model analisis framingnya model Zhongdang Pan dan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Penelitian. Kota berasal dari kata urban yang mengandung pengertian kekotaan dan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Wardi Bahtiar dalam bukunya Metodologi Penelitian Dakwah. kesimpulan dan selanjutnya dicarikan cara pemecahannya 26.

BAB I PENDAHULUAN. adalah stasiun DAAI TV merupakan sebuah stasiun televisi milik Yayasan Buddha

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. dalam mendapatkan informasi dari luar dirinya. Berbagai upaya dilakukan oleh

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif,

BAB III METODE PENELITIAN. diasuh oleh lukman hakim ditabloid Posmo dalam membingkai dan

BAB III METODE PENELITIAN. yang bersifat menjelaskan, menggambarkan atau menuturkan dan menafsirkan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. jenis penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalamdalamnya.

PRINSIP-PRINSIP NASIONALISME DALAM FILM (ANALISIS FILM HABIBIE DAN AINUN)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. yang menggunakan metode analisis framing dari Zhongdang Pan dan Gerald

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Pandangan konstruktivis memelihat realitas sebagai hasil konstruksi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. dan dengan mengamati teks online

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

ABSTRAK. Munculnya berbagai kasus kasus seperti pemerkosaan diangkot, kekerasan

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian pendekatan kualitatif adalah suatu penelitian yang bermaksud untuk

BAB I PENDAHULUAN. menjadi faktor determinan dalam kehidupan sosial, ekonomi dan budaya bangsa Indonesia.

FRAMING BERITA GAYUS TAMBUNAN DI SURAT KABAR MEDIA INDONESIA DAN REPUBLIKA

PEMBINGKAIAN BERITA TENTANG KASUS KORUPSI SPORT CENTER DI HAMBALANG PADA SURAT KABAR JAWA POS DAN KOMPAS. Skripsi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penelitian terdahulu sebagai bahan rujukan berjudul:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. oleh proses sejarah dan kekuatan-kekuatan sosial, budaya dan ekonomi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Media massa pada dasarnya selalu melakukan pembingkaian (framing)

BAB III METODE PENELITIAN. konstruksi media dalam pemberitaan adalah model framing yang dikemukakan

BAB 1 PENDAHULUAN. konstruksionis, realitas bersifat subjektif, relitas dihadirkan oleh konsep subjektif

II. TINJAUAN PUSTAKA. Iksan (1996) menyatakan bahwa tinjauan pustaka harus mengemukakan hasil

BAB I PENDAHULUAN. harinya, masyarakat mengkonsumsi media demi memenuhi kebutuhan informasi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. persepsi mengenai bagaimana sosok pria dan wanita. Dengan demikian

13 ZHONGDANG PAN DAN GERALD M. KOSICKI

BAB III METODELOGI PENELITIAN. terstruktur/rekonstruksi pada iklan Cocacola Versi Live Positively disini peneliti

BAB V HASIL PENELITIAN. 1.1 Hasil Temuan Tabel 5.1 Profil Rizky Eka Predana Putra #129. Media Package EDISI 129 Profile #1 Rizky Eka Predana Putra

PEMBINGKAIAN BERITA TENTANG KASUS KORUPSI SIMULATOR SIM SKRIPSI

Bab 1 PENDAHULUAN. Komunikasi akan berjalan dengan diterapkannya sebuah bahasa yang baik

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

KONSTRUKSI BERITA PERKOSAAN OLEH SITOK SRENGENGE DI MEDIA ONLINE TEMPO DAN REPUBLIKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terdahulu ini mengemukakan hasil penelitian lain yang relevan dalam pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. mempunyai langkah-langkah sistematis. Sedangkan penelitian adalah terjemahan

BAB I PENDAHULUAN. ini terjadi di Jalan Thamrin Jakarta. Peristiwa Bom Thamrin ini mengejutkan

Transkripsi:

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Paradigma Penelitian Dalam berbagai aspek, paradigma membantu merumuskan apa yang harus dipelajari. Ia merupakan suatu kesatuan konsensus yang terluas dalam suatu bidang ilmu pengentahuan dan membantu membedakan antara instrumen-instrumen ilmuwan yang satu dengan komunitas ilmuwan yang lain. Paradigma menggolongkan, mendefinisikan dan menghubungkan antara teori, metode serta instrumen yang terdapat di dalamnya (Yanuar, 2012:51). Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivis atau interpretatif. Paradigma ini menanggap bahwa salah satu penentu hal yang mengarahkan pola pikir khalayak adalah saat pembuatan teks berita. Hal yang mendasar dari paradigma konstruktivis ini ialah bagaimana suatu peristiwa atau realitas dikonstruksi dan dengan cara apa konstruksi tersebut dibentuk. Dalam hal ini, paradigma konstruktivis mendekati prinsip dari analisis framing yang menekankan bahwa wartawan serta tim redaksi merupakan sang penentu dalam mengkonstruksi sebuah realita dalam beritanya. Untuk itulah, dalam penelitian ini paradigma konstrukstivis dianggap paling mendekati untuk menggambarkan serta menjelaskan obyek atau masalah yang diangkat dalam analisis framing ini. Peter Berger, seorang sosiolog bersama dengan Thomas Luckman mengenalkan khalayak paradigma ini. Bersama-sama, mereka dengan konsisten mengembangkan pendekatan ini. Asumsi dasarnya adalah realitas tidak dibentuk secara alamiah namun dibentuk dan dikonstruksi. Karena itulah sebuah realitas yang sama bisa ditanggapi, dimaknai dan dikonstruksi secara ganda/plural, dalam artian makna realitas tersebut dipandang berbeda-beda oleh setiap orang sesuai dengan konstruksi pikirannya. Setiap orang yang memiliki pengalaman, prefensi, pendidikan tertentu dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu akan menafsirkan realitas sosial itu dengan konstuksinya masing-masing. 3.2 Pendekatan dan Metode Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan metode analisis framing. Kualitatif dipilih karena bertujuan untuk mempertahankan bentuk dan isi perilaku manusia dan menganalisis kualitas-kualitasnya, ketimbang mengubah menjadi entitas-entitas kuantitatif (Mulyana, 2006:150). Metode penelitian deskriptif merupakan suatu metode yang banyak dipergunakan dan dikembangkan dalam penelitian 13

ilmu-ilmu sosial, karena memang kebanyakan penelitian sosial bersifat deskriptif (Nasution, 1982:32). Untuk menganalisa berita, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan yaitu analisis isi (content analysis), analisis bingkai (frame analysis), analisis wacana (discourse analysis), dan analisis semiotik (semiotic analysis). Analisis framing merupakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana khususnya untuk menganalisa teks media. Peneliti akan menganalisis pemberitaan dari rubrikasi tertentu dalam Magic Wave Surf Community Magazine dan menyimpulkan hasil temuan dari analisis tersebut. Dan seperti yang telah dijelaskan di atas, hasil penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu untuk memberi gambaran tentang bagaimana sebuah Magic Wave mengkonstruksi pemberitaan mengenai peselancar lokal. Pendekatan kualitatif digunakan karena pendekatan ini memusatkan perhatian pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan sebuah makna dari gejala-gejala sosial dalam masyarakat. Penelitian kualititatif memang merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang terjadi dalam subjek penelitian, seperti perilaku, tindakan, persepsi, motivasi, pemilihan kata, bahasa dan lain sebagainya. Menjadi suatu metode yang sesuai untuk mengalanisa penulisan naskah berita berdasarkan analisis framing. Dengan begitu, dapat diketahui serta dipahami bagaimana cara media menggiring pembaca dalam penulisan naskah berita. 3.3 Sumber Data Dalam penelitian ini peneliti data primer yang akan digunakan yaitu arsip berita dari 5 edisi. 2 edisi tahun 2014 dan 3 edisi tahun 2013 (129-133), sementara untuk data sekundernya penulis menggunakan data tambahan dari wawancara. 3.4 Metode Pengumpulan Data Peneliti melakukan pengumpulan data dengan metode dokumentasi. Peneliti akan mengumpulkan majalah Magic Wave Surf Community Magazine sebanyak 5 edisi yaitu, 129-133. Kumpulan majalah tersebut kemudian dianalisis berdasarkan analisis framing model Gamson dan Modigliani. Yang dilakukan penulis adalah metode dokumentasi, yaitu metode pengumpulan data yang bertujuan untuk menggali data-data secara sitematis dan objektif dan untuk mendapatkan informasi yang mendukung analisis dan interpretasi data (Kriyantono, 2006:116). 14

3.5 Unit Pengamatan dan Unit Analisa Unit Amatan dalam penelitian ini adalah berita-berita dalam Magic Wave dalam edisi 129-133. Sedangkan satuan analisisnya yaitu, framing Magic Wave dalam perkembangan selancar lokal Bali. 3.6 Teknik Analisa Data Seperti yang telah dikemukan penulis pada bab terdahulu, teknik analisis framing yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan perangkat Gamson dan Modigliani. Penelitian akan dimulai dari mengumpulkan data melalui cara dokumentasi kemudian data akan dianalisis dengan analisis model framing Gamson & Modigliani. Setelah itu dilakukan penyusunan data hasil penelusuran/pemilahan berita-berita Magic Wave Surf Community Magazine. 3.7 Batasan Penelitian Agar penelitian tidak meluas pembahasannya, maka peneliti membatasi jumlah rubrikasi yang akan diteliti. Berita-berita yang dituliskan dalam bahasa Indonesia, kemudian bersifat Surfer Profile dan Surf Event Report merupakan rubrikasi yang dipilih untuk ditelaah. Keduanya dipilih karena dirasa relevan dengan hasil akhir yang diharapkan, yaitu membuktikan adanya dukungan Magic Wave dalam perkembangan selancar lokal. 3.8 Pemilihan Wilayah Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di Bali dengan dasar pertimbangan: 1. Pertimbangan metodologis penulis mengambil judul Analisis Framing Magic Wave Surf Community Magazine Dalam Mendukung Perkembangan Surfing Lokal 2. Dengan berbagai pertimbangan antara lain: Penulis sempat melakukan kerja praktek (magang) di majalah yang diteliti. Penulis dapat mengakses informasi dengan baik karena penulis mempunyai akses dalam mencari informasi yang dapat membantu penulis dalam menyelesaikan studi. 15

3.9 Penelitian Terdahulu Mengenai Magic Wave Pengaruh Intensitas Membaca Tabloid Magic Wave Terhadap Kepuasan Komunitas Surfing di Bali (Studi Eksplanatif Kuantitatif tentang Pengaruh Intensitas Membaca Tabloid Magic Wave terhadap Kepuasan Anggota Bukit Board Riders Bali), oleh Natalia Indah Kartikaningrum, 2012. Strategi Komunikasi Pemasaran Magic Wave dalam Mendapatkan Pengiklan, oleh Cindy Arnika, 2012. 3.10 Analisis Framing 3.10.1 Pengertian Framing Secara luas dalam literatur komunikasi, framing digambarkan sebagai proses penyeleksian dan penyorotan aspek-aspek khusus sebuah realita oleh media. Analisis framing mewakili tradisi yang mengedepankan pendekatan atau perspektif multidisipliner untuk menganalisis fenomena atau aktivitas komunikasi. Analisis ini digunakan untuk membedah cara-cara atau ideologi media dalam mengkonstruksi fakta, menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya. Pada dasarnya metode yang digunakan untuk melihat gaya bercerita atau mengenai media tentang suatu peristiwa atau realitas. Eriyanto (2002:3) mendefinisikan bahwa analisis framing dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok, atau apa saja) dibingkai oleh media. Terdapat beberapa ahli yang mendefinisikan konsep framing, yaitu Murray Edelman, Robert N. Entman, William A. Gamson & Andre Modigliani, dan Zhongdang Pan & Gerrald M. Kosicki sebagai berikut: Murray Edelman: Framing adalah apa yang kita ketahui mengenai suatu realitas atau tentang dunia, tergantung bagaimana kita membingkai dan mengkonstruksi atau menafsirkan realitas. Robert N. Entman: Framing merupakan seleksi dari berbagai aspek realitas yang diterima dan membuat suatu peristiwa lebih menonjol dalam sebuah teks komunikasi. William Gamson & A. Modigliani: Frame adalah cara bercerita atau gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwaperistiwa yang berkaitan dengan suatu obyek wacana. 16

Zhongdang Pan & Gerrald M. Kosicki: Framing merupakan sebuah proses membuat suatu pesan lebih menonjol, menempatkan informasi lebih dari pada yang lain sehingga khalayak tertuju pada pesan tersebut. Esensi dari framing sebenarnya merujuk pada usaha pemberian definisi, penjelasan, evaluasi dan rekomendasi dalam suatu diskursus (discourse) untuk menekankan kerangka berpikir tertentu akan suatu peristiwa yang diwacanakan dalam berita. Menurut Eriyanto (2002: 69-70), paling tidak ada dua aspek dalam framing. Pertama, memilih fakta / realitas, proses ini didasarkan pada asumsi wartawannya. Wartawan tidak mungkin melihat peristiwa tanpa perspektif dan dalam pemilihan fakta ini terkandung dua kemungkinan, apa yang dipilih (included) dan apa yang dibuang (excluded). Kedua, menuliskan fakta, proses ini berhubungan dengan bagaimana fakta yang telah dipilih disajikan kepada khalayak. Gagasan tersebut diungkapkan dengan kata, kalimat, proposi apa, dengan bantuan aksentuasi foto dan gambar apa, dan lainnya. 3.10.2 Konsep Framing Pada dasarnya, analisis framing merupakan versi terbaru dari penedekatan analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks media (Sobur, 2001:161). Mulanya, frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan dan wacana, serta menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Konsep ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman pada tahun 1974 yang mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of behavior) yang membimbing individu dalam membaca realitas. Dalam ranah studi komunikasi, analisis framing mewakili tradisi yang mengedepankan pendekatan atau perspektif multidisipliner untuk menganalisis fenomena atau aktivitas komunikasi. Analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya. Media framing mencerminkan produk media sekaligus produk dari para wartawannya ketika harus mengidentifikasi dan mengklarifikasi, kemudian menyampaikan informasi dan opini kepada khalayak (Pawito, 2007:188). Dengan kata lain, framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan atau media dalam menyeleksi isu dan menulis berita, framing juga merupakan konstruksi atau pendefinisian oleh media mengenai realitas atau peristiwa- 17

peristiwa yang ada atau terjadi di dalam masyarakat. Karena itulah, media framing dapat memengaruhi secara sistematik bagaimana khalayak memahami peristiwa-peristiwa, atau untuk lebih luasnya adalah realitas. 3.10.3 Proses Framing Proses pemberitaan dalam organisasi media sangat berpengaruh terhadap suatu berita yang akan diproduksi, pemrosesan framing ini tidak lepas dari latar belakang pendidikan wartawan sampai ideologi institusi media yang dimiliki. Untuk menjelaskan proses framing, paling tidak ada tiga proses yang dapat dipahami antara lain sebagai berikut: Proses framing sebagai metode penyajian realitas. Hal ini dimaksudkan bahwa kebenaran mengenai suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibalik secara halus. Caranya dengan memberi sorotan pada aspek-aspek tertentu dan menggunakan istilah-istilah tertentu serta bantuan foto, karikatur dan alat-alat ilustrasi lainnya. Proses framing merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses penyuntingan yang melibatkan semua pekerja di bagian redaksi media cetak. Proses framing juga tidak hanya melibatkan pers melainkan juga pihak-pihak yang bersengketa dalam kasus tertentu. Dimana masing-masing pihak berusaha menampilkan sisi informasi yang ingin ditonjolkan dan menyembunyikan sisi lainnya. 1.10.4 Model Gamson dan Modigliani Rumusan atau model Gamson dan Modigliani didasarkan pada pendekatan konstruksionis yang melihat representasi media. Berita dan artikel, terdiri atas package intrepetatif yang mengandung konstruksi makna tertentu. Di dalam package terdapat dua struktur, yaitu core frame dan condensing symbols. Struktur pertama (core frame) merupakan pusat organisasi elemen-elemen ide yang membantu komunikator untuk menunjukkan substansi isu yang tengah dibicarakan. Sedangkan struktur kedua (condensing symbols) mengandung dua substruktur, yaitu framing devices dan reasoning devices. Gamson merupakan ilmuwan yang paling konsisten dalam mengembangkan konsep framing. Ia mendefinisikan frame sebagai organisasi gagasan sentral atau alur cerita yang mengarahkan makna peristiwa-peristiwa yang dihubungkan dengan suatu isu. Frame merupakan inti sebuah unit besar wacana publik yang disebut package. Gamson dan 18

Modigliani memahami wacana media sebagai satu gugusan perspektif interpretasi (interpretative package) saat mengkonstruksi dan memberi makna suatu isu. SKEMA FRAMING ANALYSIS MODEL GAMSON DAN MODIGLIANI Media Package Core Frame Framing Devices 1. Metaphors 2. Exemplars 3. Catchphrases 4. Depictions 5. Visual Images Condensing Symbols Reasoning Devices 1. Roots 2. Appeal to Principle Gambar 4 Skema Analisis Framing Model Gamson dan Modigliani (Sumber: Analisis Teks Media, Alex Sobur, 2001, hlm. 177) Core frames (gagasan sentral) berisi elemen-elemen inti untuk memberikan pengertian yang relevan terhadap peristiwa, dan mengarahkan makna isu yang dibangun condensing symbol (simbol yang dimampatkan ). Condensing Symbols adalah hasil pencermatan terhadap interaksi perangkat simbolik (framing devices dan reasoning devices) sebagai dasar digunakannya perspektif. Simbol dalam wacana terlihat transparan bila dalam dirinya menyusup perangkat bermakna yang mampu berperan sebagai panduan menggantikan sesuatu yang lain. Condensing symbols memiliki makna konotatif, makna yang dihubungkan dengan simbol ini terdiri dari orientasi-orientasi terhadap simbol itu sendiri, dan bukan terhadap apapun yang khusus, yang ditunjukkannya. Struktur framing devices yang 19

mencakup metaphors, exemplars, catchphrases, depictions, dan visual images menekankan aspek bagaimana melihat suatu isu. Struktur reasoning devices menekankan aspek pembenaran terhadap cara melihat isu, yakni roots (analisis kausal) dan appeals to principle (klaim moral). Berikut penjelasan mengenai masing-masing komponen: Metaphors: Metaphors dipahami sebagai cara memindahkan makna dengan merelasikan dua fakta melalui analogi, atau memakai kiasan dengan menggunakan kata-kata seperti, ibarat, baik, sebagai, umpama, laksana. John Fiske menilai metafora sebagai common sense, pengalaman hidup keseharian yang di-taken-forgranted masyarakat. Common sense terlihat alamiah dan perlahan-lahan menjadi kekuatan ideologis kelas dominan dalam memperluas dan mempertahnakna ide untuk seluruh kelas. Metafora berperan ganda; pertama sebagai perangkat diskursif, dan ekspresi piranti mental; kedua, berasosiai dengan asumsi atau penilaian, serta memaksa teks membuat sense tertentu. Exemplars: Exemplars mengemas fakta tertentu secara mendalam agar satu sisi memiliki bobot makna lebih untuk dijadikan rujukan/pelajaran. Posisinya menjadi pelengkap bingkai inti dalam kesatuan berita untuk membenarkan perspektif. Catchphrases: Catchphrases merupakan istilah, bentukan kata, atau frase khas cerminan fakta yang merujuk pemikiran atau semangat tertentu. Dalam teks berita, catchphrases mewujud dalam bentuk jargon, slogan, atau semboyan. Depictions: Penggambaran fakta dengan memakai kata, istilah, kalimat konotatif agar khalayak terarah ke citra tertentu. Asumsinya, pemakaian kata khusus diniatkan untuk membangkitkan prasangka, menyesatkan pikiran dan tindakan, serta efektif sebagai bentuk aksi politik. Visual Images: Pemakaian foto, diagram, grafis, tabel, kartun, dan sejenisnya untuk mengekspresikan kesan, misalnya perhatian atau penolakan, dibesarkan-dikecilkan, ditebalkan atau dimiringkan, serta pemakaian warna. Visual Images bersifat sangat natural, sangat mewakili realitas yang membuat erat muatan ideologi pesan dengan khalayak. Roots (Analisis Kausal): Pembenaran isu dengan menghubungkan suatu objek atau lebih yang dianggap menjadi sebab timbulnya atau terjadinya hal yang lain. Tujuannya, membenarkan penyimpulan fakta berdasar hubungan sebab-akibat yang digambarkan atau dibeberkan. 20

Appeals To Principle: Merupakan pemikirian, prinsip, klaim moral sebagai argumentasi pembenar membangun berita, berupa pepatah, cerita rakyat, mitos, doktrin, ajaran dan sejenisnya. Fokusnya untuk memanipulasi emosi agar mengarah ke sifat, waktu, tempat, cara tertentu, serta membuatnya tertutup/keras dari bentuk penalaran lain. 21