BAB 4 VERIFIKASI DAN VALIDASI MODEL

dokumen-dokumen yang mirip
Perencanaan Inventori Bahan Baku SPM dengan Model P Back Order

Perencanaan Inventori Bahan Baku SPM Dengan Model P Back Order

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan HIV/AIDS di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan karena

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG HIV/ AIDS DENGAN TINDAKAN PERAWAT TERHADAP PENDERITA HIV/AIDS DI RUMAH SAKIT KOTA MANADO

BAB I PENDAHULUAN. dapat menyebabkan AIDS (Acquired Immuno-Deficiency Syndrome). Virus. ibu kepada janin yang dikandungnya. HIV bersifat carrier dalam

BAB I PENDAHULUAN. Jumlah perempuan yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dari tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. Immunodeficiency Virus (HIV) semakin mengkhawatirkan secara kuantitatif dan

GLOBAL HEALTH SCIENCE, Volume 2 Issue 1, Maret 2017 ISSN

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ibu Hamil Melakukan Tes HIV pada Layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Puskesmas

HASIL LOKAKARYA REVIEW PENANGGULANGAN HIV & AIDS PROVINSI JAWA TENGAH

W A L I K O T A Y O G Y A K A R T A

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. simulasi komputer yang diawali dengan membuat model operasional sistem sesuai dengan

BAB I PENDAHULUAN. berbagai lapisan masyarakat dan ke berbagai bagian dunia. Di Indonesia,

Penjangkauan dalam penggulangan AIDS di kelompok Penasun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA sudah mencapai tahap terkonsentrasi pada beberapa sub-populasi berisiko

Silabus Mata Kuliah Kesehatan Seksual dan HIV/AIDS Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana

BAB 1 PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang menginfeksi

Pendampingan Pembiayaan Program HIV- AIDS (Akses Layanan) dari APBD II di Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Kaltim. Tri Astuti Sugiyatmi Khairul Arbiati

BAB I PENDAHULUAN. masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Masalah

Situasi HIV & AIDS di Indonesia

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di Asia. (2) Meskipun ilmu. namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

ANALISIS EPIDEMIOLOGI HIV AIDS DI KOTA BANDUNG DINAS KESEHATAN KOTA BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

ABSTRAK PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA ANGKATAN 2010 TENTANG HIV/AIDS

ARAH KEBIJAKAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS PROVINSI DKI JAKARTA. Disampaikan Pada Acara :

BAB I PENDAHULUAN. hangat dibahas dalam masa sekarang ini adalah penyakit HIV/AIDS (Human

OPTIMASI PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU DI PT. SIANTAR TOP TBK ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

Mata Kuliah Pemodelan & Simulasi. Riani Lubis. Program Studi Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang

SUFA (Strategic Use of ARV) di Kabupaten Jember ; Capaian dan Kendala

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMANFAATAN PROGRAM PREVENTION OF MOTHER TO CHILD TRANSMISSION

BAB I PENDAHULUAN. (2004), pelacuran bukan saja masalah kualitas moral, melainkan juga

BAB IV KONSEPTUALISASI DAN METODE SYSTEM DYNAMICS

PENCEGAHAN, PENANGGULANGAN HIV & AIDS DI KABUPATEN GROBOGAN. OLEH : PENGENDALIAN PENYAKIT (PROGRAM HIV &AIDS) DINAS KESEHATAN Kab.

PENENTUAN KEBIJAKAN ORDER PRODUK SKINCARE DAN PLASTER DENGAN PENDEKATAN VENDOR MANAGED INVENTORY (Studi Kasus: PT Beiersdorf Indonesia)

HIV/AIDS. Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH

KERANGKA ACUAN KLINIK MS DAN VCT PENDAHULUAN

Evaluasi Dampak Program Edukasi, Skrining Dan Terapi HIV Pada Model Penyebaran Infeksi HIV

ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS DI KOMISI PENANGGULANGAN AIDS PROVINSI SULAWESI UTARA

Simulasi Kebijakan Persediaan Optimal Pada Sistem Persediaan Probabilistik Model P Menggunakan Powersim

BAB I PENDAHULUAN. menjadi masalah kesehatan global. Kasus HIV/AIDS yang dilaporkan secara global

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6 1

ABSTRAK. Kata Kunci : distribusi, bullwhip effect, pemusatan informasi. Universitas Kristen Maranatha

STRATEGI KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI KONSELOR VCT DALAM MENINGKATKAN KESADARAN BEROBAT PADA PASIEN HIV DI RSUD KABUPATEN KARAWANG

LEMBAR FAKTA HARI AIDS SEDUNIA 2014 KEMENTERIAN KESEHATAN 1 DESEMBER 2014

BAB 1 PENDAHULUAN. kekebalan tubuh manusia, sedangkan Acquired Immunodeficiency Syndrom. penularan terjadi melalui hubungan seksual (Noviana, 2013).

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. masalah berkembangnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Masalah HIV/AIDS yang

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala yang timbul akibat

Outline 0 PENDAHULUAN 0 PENTINGNYA VERIFIKASI DAN VALIDASI MODEL 0 VERIFIKASI MODEL 0 VALIDASI MODEL 0 PENGUJIAN SOLUSI 0 ATURAN PENGUJIAN VALIDITAS

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Kegiatan Penanggulangan HIV/AIDS Melalui Serosurvey Di Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan Tahun Sitti Fatimah 1, Hilmiyah 2

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya penyakit Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Kasus HIV-

SIMULASI SISTEM DINAMIK UNTUK MENINGKATKAN KINERJA RANTAI PASOK (Studi Kasus Di Industri Kulit PT Lembah Tidar Jaya Magelang)

WALIKOTA GORONTALO PERATURAN DAERAH KOTA GORONTALO NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

Nama : Ella Khairatunnisa NIM : SR Kelas : SI Reguler IV B Asuhan Keperawatan Klien Dengan HIV/AIDS

IMPLEMENTASI MODEL PERSEDIAAN YANG DIKELOLA PEMASOK (VENDORS MANAGED INVENTORY) DENGAN BANYAK RETAILER

Oleh: Logan Cochrane

Informasi Epidemiologi Upaya Penanggulangan HIV-AIDS Dalam Sistem Kesehatan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

TOOLS SIMULASI INVENTORI PADA SUPERMARKET

EVALUASI DAN PERBANDINGAN KEBIJAKAN PERSEDIAAN PROBABILISTIK MENGGUNAKAN MODEL P DI PT. X ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. macam pekerjaan rumah tangga. Sedangkan HIV (Human Immuno Virus)

BAB I PENDAHULUAN. AIDS (Aquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan

PENGENDALIAN INVENTORY UNTUK PROBLEM MULTI ECHELON MULTI DEMAND CLASSES PRODUCT DENGAN MEMPERTIMBANGKAN LOST SALES DAN BACKORDER

Untuk komunitas dari komunitas: Jangan hanya di puskesmas dan rumah sakit!

MODEL SIR (SUSCEPTIBLE, INFECTIOUS, RECOVERED) UNTUK PENYEBARAN PENYAKIT TUBERKULOSIS

Kebijakan dan Program HIV/AIDS dalam Kerangka Kerja Sistem Kesehatan di Indonesia

Virus tersebut bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Evaluasi dan Perbandingan Kebijakan Persediaan Probabilistik Menggunakan Model P di PT. X ABSTRAK

Simulasi Dan Analisis Kebijakan

Farkhanani, et al, Implementasi Pelayanan Tes HIV atas Inisiasi Petugas Kesehatan dan Konseling...

Manajemen Produksi dan Operasi. Inventory M-4

OUT-OF-POCKET PASIEN HIV/AIDS RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT KETERGANTUNGAN OBAT JAKARTA TAHUN 2012

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan di Perusahaan Sammy Batik Pekalongan merupakan Applied

BAB 1 PENDAHULUAN. sistem kekebalan tubuh yang terjadi karena seseorang terinfeksi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. menunjukkan jumlah kasus Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)

DINAS KESEHATAN KOTA MOJOKERTO PUSKESMAS KEDUNDUNG Jl. BY PASS KEDUNDUNG, TELP.(0321) MOJOKERTO

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Human Immunodefficiency Virus (HIV) adalah virus penyebab Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang

KERANGKA ACUAN KEGIATAN

ANALISIS KEBIJAKAN PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS DI PROVINSI JAWA BARAT. EKA NURHAYATI, dr., MKM Bagian IKM FK UNISBA 2013

KERANGKA ACUAN KERJA REKRUTMEN/PEMILIHAN INSTITUSI PENELITIAN SKRINING HIV BERBASIS KOMUNITAS

SITUASI EPIDEMI HIV DAN AIDS SERTA PROGRAM PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS DI DKI JAKARTA KOMISI PENANGGULANGAN AIDS PROVINSI DKI JAKARTA 2015

Bab I Pendahuluan. Universitas Indonesia

Transkripsi:

BAB 4 VERIFIKASI DAN VALIDASI MODEL 1.1 Verifikasi Model Verifikasi model diperlukan untuk mengetahui apakah model telah dikodekan dengan benar dan konsisten. Berbeda dengan validasi, tes ini tidak memerlukan perbandingan antara model dan sistem nyata. Verifikasi ditujukan untuk menjawab pertanyaan apakah model telah dibuat dengan transisi yang benar dari konsep ke spesifikasi. Verifkasi model digunakan untuk memastikan apakah model yang dibuat sudah berjalan sesuai dengan perspesi modeler. Suatu model dapat dikatakan verified ketika model tersebut dapat dijalankan secara independent oleh kelompok yang berbeda pada komputer yang berbeda untuk mengetahui apakah hasil dari simulasi model sesuai dengan hasil yang diperoleh. Tujuan dari tes verifikasi ini adalah untuk mengetahui apakah model simulasi komputer berjalan sebagaimana yang diinginkan (house dan Mcleod, 1997 p.66). Greenberger et al.,(1976 p.7) menjelaskan verifikasi sebagai test apakah model telah disintesis persis sebagaimana yang diharapkan. Tiga jenis tes akan dijelaskan: (i) pengkodean model (ii) dimensi analisis, dan (iii) pemeriksaan kesalahan numerik. 4.1.1 Pengujian Pengkodean Model Tujuan dari pengujian pengkodeaan model adalah untuk membuat model mudah untuk dimengerti oleh siapapun baik ketika membuat model atau pengembangan model. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengambil satu bagian dari model yang output nya diketahui berasal dari input yang telah diketahui. Dalam hal ini, penulis mengambil bagian dari model kebutuhan obat ARV. Laju infeksi dan symptome HIV AIDS serta laju meninggal HIV AIDS adalah variabel model epidemi penyakit HIV AIDS merupakan input laju masuk populasi yang menggunakan ARV per tahun pada model kebutuhan obat ARV. Jika input tersebut dipisahkan dari model kebutuhan obat 91

92 ARV, maka terjadi link yang tidak berjalan, dengan demikian pengokodeaan dalam model ini sudah benar. Populasi yang menggunakan ARV Fraksi populasi yang menggunakan ARV laju Populasi ARV yang meninggal per tahun #? Laju masuk yang # menggunakan ART per tahun Total Populasi yang menggunakan ARV laju meninggal dengan ARV per tahun Laju infeksi dan symptome populasi HIV AIDS laju meninggal HIV AIDS Laju LFU dan stop dengan ARV per tahun Populasi yang menggunakan ARV Fraksi Populasi ARV yang LFU dan Stop per tahun Laju Infeksi symptome rate IDU Symptome Rate Laju meninggal HIV Positip tanpa AIDS Laju meninggal AIDS Laju infeksi dan symptome populasi Laju infeksi IDU HIV AIDS Laju kelahiran anak HIV Positip INPUT Laju kematian anak HIV Positip laju meninggal HIV AIDS laju meninggal IDU HIV positip tanpa AIDS Gambar 4.1 Pengujian pengkodean model laju meninggal IDU AIDS 4.1.2 Analisa Dimensi Dalam analisa dimensi, penulis melakukan verifikasi dengan melihat apakah unit dimensi yang digunakan sudah sesuai dengan variabel yang diwakilinya, sebagai contoh untuk model penyakit HIV AIDS, dimensi laju infeksi,symptome rate dan laju aids yang digunakan adalah (ppl/year). Dalam model inventory, variabel pemberian obat di rumah sakit adalah botol/mo, untuk inventory di rumah sakit, gudang propinsi dan gudang pusat

93 adalah botol. Dimensi tersebut sesuai dengan dimensi variabel dari sistem yang sebenarnya. 4.1.3 Numerical Method Dependent Error Pengujian dilakukan dengan menguji metode yang digunakan. Metode yang digunakan dalam simulasi ini adalah 3rd Order Runge Kuta (Fixed Step).Simulasi dengan 2nd order Runge Kuta ( Fixed Step ) dan 4th order Runge Kuta (fixed step) tidak menghasilkan perubahan yang siginificant. Pengujian dengan timestep. Timestep yang digunakan adalah 3 (da). Dengan merubah timestep menjadi 45 (da) dan 6 (da) tidak menghasilkan perubahan yang significant. Hasil dari pengujian ini menunjukkan model telah robust. 4.1.4 Model Dependent Error Kesalahan dalam formulasi model menyebabkan model sangat bergantung pada integration method dan timestep. Dengan menguji perubahan integration method dan timestep, model tetap menunjukkan behaviour (struktur perilaku ) yang sama. 4.2 Validasi Model Validasi model digunakan untuk menguji apakah output dari simulasi yang dihasilkan sudah sesuai dengan persepsi modeler atau sesuai dengan keadaan yang sebenarnya atau perilaku struktur dari sistem mempunyai karakteristik yang sama dengan keadaan nyata. 4.2.1 Direct Structure Test 4.2.1.1 Direct Extreme Condition Direct Extreme Condition dilakukan dengan mengubah jumlah awal populasi rentan pada model epidemi penyakit HIV AIDS menjadi. Hasil dari running powersim menunjukkan pertumbuhan populasi HIV/AIDS yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan dengan model 8, tetapi struktur perilaku sistem tetap sama yaitu tumbuh secara exponensial.

Populasi HIV Positip 94 TEST KONDISI EXTREME 6 5 4 3 2 Model 8 Extreme Condition 1 1989 1991 1993 1995 1997 1999 21 23 25 27 Grafik 4.1 Test kondisi extreme dengan jumlah awal populasi rentan = pada model epidemi penyakit HIV/AIDS Selanjutnya dilakukan juga pengujian dengan mengubah jumlah awal dari populasi HIV+ menjadi. Jika tidak ada orang yang terinfeksi HIV+ maka diharapakan stok populasi HIV+ tetap sepanjang waktu, begitu juga dengan populasi AIDS. ppl 1..5. -.5-1. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1989199199119921993199419951996199719981999221222324252627 Grafik 4.2 Tes kondisi extreme jumlah awal populasi HIV+ = pada model epidemi penyakit HIV/AIDS

Populasi AIDS Populasi HIV Positip 95 Jika jumlah kontak sexual beresiko berubah menjadi, maka populasi HIV+ akan tumbuh menurun dan mengalami penurunan menuju titik, sedangkan populasi AIDS tumbuh diawal kemudian selanjutnya akan mengalami penurunan dan pada akhirnya tetap. Test extreme Condition terhadap populasi HIV+ (jumlah kontak sexual beresiko menjadi ) ppl 2. 1.5 1..5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1989 199 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2 21 22 23 24 25 26 27 Grafik 4.3 Tes kondisi extreme jumlah kontak sexual beresiko menjadi terhadap populasi HIV+ pada model epidemi penyakit HIV/AIDS Test extreme Condition terhadap populasi AIDS (jumlah kontak sexual beresiko menjadi ) ppl.15.1.5. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1989 199 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2 21 22 23 24 25 26 27 Grafik 4.4 Test kondisi extreme jumlah kontak sexual beresiko menjadi terhadap populasi AIDS pada model epidemi penyakit HIV/AIDS 1.2.1.2 Boundary Adequacy Pengujian boundary adequacy dalam model ini dilakukan pada model epidemi penyakit HIV AIDS yaitu dengan mengubah jumlah awal populasi HIV+ yang merupakan faktor yang mempengaruhi model. Jika tidak ada populasi awal orang yang

96 HIV+ maka model tidak mengalami perubahan apapun, tetapi dengan adanya populasi awal orang yang HIV+ maka model mengalami perubahan yang significant. 4.2.1.3 Uji Konfirmasi Dan Parameter Struktur Empiris Dalam uji konfirmasi dan parameter struktur empiris, struktur model dibandingkan secara kuantitatif atau kualitatif dengan informasi yang berkaitan dengan sistem nyata. Bentuk struktur model dan persamaan dibandingkan dengan struktur dan hubungannya di dunia nyata. Penulis telah melakukan hal tersebut pada tahap pembuatan model epidemi penyakit HIV AIDS, model kebutuhan ARV dan model inventory. Model dibandingkan dengan referensi mode dan data dari keadaan yang sebenarnya, sehingga uji konfirmasi dan parameter empiris sudah sesuai. 4.2.1.4 Face Validity Ford menggambarkan test face validity sebagai uji akal sehat (Ford, 1999). Kami telah melakukan tes face validity untuk melihat apakah parameter dan struktur model masuk akal. Semua variabel yang digunakan dalam model seperti populasi rentan, populasi HIV+, populasi AIDS, populasi anak HIV+, populasi HIV+ IDU, populasi HIV AIDS yang eligible ARV, populasi yang menggunakan ARV, inventory di rumah sakit, inventory di gudang propinsi dan inventory di gudang pusat merupakan variabel utama dalam model epidemi penyakit HIV AIDS, model kebutuhan ARV dan model inventory. Semua mengalir menunju ke arah yang tepat, parameter yang harus positif seperti laju kelahiran, laju infeksi, laju meninggal memiliki nilai positif di seluruh simulasi, begitu juga laju pemberiaan obat di rumah sakit, laju pengiriman DO dari gudang propinsi dan laju pengiriman QO di gudang pusat. 1.2.2 Test Orientasi Perilaku Struktur 4.2.2.1 Test Extreme Condition Extreme condition juga dapat dipelajari dalam test perilaku struktur. Model yang diuji untuk test extreme condition ini adalah Model 1 pada model epidemi penyakit HIV AIDS yang terdiri dari stok populasi rentan dan stok populasi HIV+. Perilaku struktur

97 dari model 1 adalah Populasi rentan akan menurun dengan semakin bertambahnya populasi HIV+. Test ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh perubahan angka variable terhadap terhadap perilaku struktur. Test dilakukan dengan mengubah jumlah awal populasi HIV+ dari 2 penderita menjadi 1, penderita, hasil dari running simulasi model, titik equilibirium antara populasi rentan dan populasi HIV+ didapatkan pada tahun 1997. Pada test ini populasi rentan akan menurun dan mendekati. Dengan test ini diperoleh kesimpulan bahwa semakin banyak populasi HIV+, maka semakin sedikit populasi rentan. Test Extreme Condition Orientasi Perilaku struktur ppl 2,, 15,, 1,, Populasi HIV Positip Populasi Rentan 5,, 89991 929394 95969798 991 2345 67 Grafik 4.5 Test extreme condition orientasi perilaku struktur model 1 4.2.2.2 Analisa Sensitivitas Analisa sensitivitas digunakan untuk menentukan variabel yang sensitif terhadap model yaitu yang memiliki pengaruh besar pada perilaku sistem ketika ada variable yang sedikit berubah. Analisa sensitivitas penting baik dalam validasi model dan dalam penggunaan model. Dalam validasi model, tujuan dari analisa sensitivitas adalah untuk menentukan seberapa sensitif model terhadap perubahan data. Sedangkan dalam penggunaan model,analisa sensitivitas bertujuan untuk menemukan perubahan dalam sistem yang memiliki pengaruh yang diinginkan pada perilaku sistem. Richardson dan Pugh (1981) menyebutkan tiga jenis model sensitivitas (bukan tiga jenis analisis, tapi tiga jenis hasil):1) Sensitivitas Numerik, terjadi jika ada perubahan dalam asumsi perubahan nilai numerik. 2) Sensitivitas Perilaku, terjadi jika ada perubahan dalam asumsi akan mengubah pola perilaku model. 3) Sensitivitas Policy, terjadi jika ada asumsi berbeda menyebabkan rekomendasi kebijkan yang berbeda.

98 4.2.2.2.1 Sensitivitas Numerik Tes sensitivitas numerik dilakukan pada total populasi HIV/AIDS dalam model epidemi penyakit HIV/AIDS jika terdapat perubahan pada jumlah kontak sexual beresiko dan tingkat infectivity. Dengan adanya perubahan penurunan jumlah kontak sexual beresiko pada tahun 24-28 sebesar 2%,maka total populasi HIV/AIDS tumbuh mencapai 37,73 orang pada tahun 28. Sedangkan jika perubahan penurunan jumlah kontak sexual beresiko sebesar 3% pada tahun 24-28, maka populasi HIV AIDS tumbuh mencapai 32,399 pada tahun 28. Sensitivitas Populasi HIV AIDS Terhadap Perubahan Jumlah Kontak Sexual Beresiko 4 35 3 25 2 15 1 5 1989 1991 1993 1995 1997 1999 21 23 25 27 Grafik 4.6 Sensitivitas Populasi HIV/AIDS terhadap perubahan jumlah kontak sexual beresiko Penurunan jumlah kontak sexual beresiko 2% Penurunan jumlah kontak sexual beresiko 3% Sementara itu jika ada perubahan penurunan tingkat infectivity dari tahun 24-28 sebesar 5% maka populasi HIV/AIDS akan tumbuh mencapai 46,91 penderita pada tahun 28 sedangkan jika penurunan tingkat infectivity sebesar 1% maka populasi HIV AIDS akan tumbuh mencpai 42,784 pada tahun 28.

99 Sensitivitas Populasi HIV AIDS terhadap Tingkat Infectivity 5 4 3 2 1 1989 1991 1993 1995 1997 1999 21 23 25 27 Grafik 4.7 Sensitivitas populasi HIV/AIDS terhadap perubahan tingkat infectivity Perubahan penurunan tingkat infectivity 5% Perubahan penurunan tingkat infectivity 1% Pengujian sensitivitas numerik dilakukan juga untuk service level di rumah sakit jika terdapat perubahan penurunan inventory buffer rumah sakit sebesar 1 bulan dan 2 bulan dari tahun 26 28. Dengan penurunan inventory buffer rumah sakit sebesar 1 bulan maka service level akan berubah menjadi.99 pada tahun 27 dan 28. sedangkan dengan penurunan sebesar 2 bulan, maka service level akan berubah menjadi.49 dan.5. Sensitivitas service level terhadap inventory buffer rumah sakit 1.9.8.7.6.5.4.3.2.1 1989 1991 1993 1995 1997 1999 21 23 25 27 Grafik 4.8 Sensitivitas service level rumah sakit terhadap perubahan inventory buffer rumah sakit Perubahan penurunan inventory buffer rumah sakit 1 bulan Perubahan penurunan inventory buffer rumah sakit 2 bulan

Inventory Gudang Propinsi 1 4.2.2.2.2 Sensitivitas Perilaku Pengujian sensitivitas perilaku dilakukan dengan mengubah periode QO (Quarterly Order) oleh Subdit AIDS untuk pengisian obat ARV ke gudang propinsi dari 3 bulan menjadi 1 bulan. Hasil running powersim menunjukkan perubahan perilaku inventory gudang propinsi menjadi seperti perilaku inventory di rumah sakit botol STRUKTUR PERILAKU INVENTORY DI GUDANG PROPINSI 8, 6, 4, 2, 89 9 91 92 93 94 95 96 97 98 99 1 2 3 4 5 6 7 Grafik 4.9 Sensitivitas perilaku inventory di gudang propinsi terhadap perubahan QO 4.2.2.2.3 Sensitivitas Policy Sensitivitas policy terjadi jika perubahan asumsi menyebabkan rekomendasi policy yang berbeda. Dalam hal ini pengujian dilakukan dengan merubah periode pemesanan rumah sakit dari setiap bulan menjadi 2 bulan dan periode pengisian gudang propinsi dari 3 bulan menjadi 4 bulan. Perubahan asumsi tersebut mempengaruhi service level policy yang dihasilkan rumah sakit.

service level rumah sakit 11 SERVICE LEVEL DI RUMAH SAKIT 1..8.6.4.2. 89 9 91 92 93 94 95 96 97 98 99 1 2 3 4 5 6 7 Grafik 4.1 Sensitivitas policy service level akibat perubahan periode pengisian gudang propinsi botol/mo 1,5 STRUKTUR PERILAKU SUPPLY DAN DEMAND DI RUMAH SAKIT 1, Pemberian obat di RS Penerimaan DO 5 89 9 91 92 93 94 95 96 97 98 99 1 2 3 4 5 6 7 Grafik 4.11 Sensitivitas policy supply dan demand di rumah sakit akibat perubahan periode pengisian gudang propinsi 4.2.2.3 Test Struktur Perilaku 4.2.2.3.1 Memotong Reinforcing Loop Dengan memotong reinforcing loop dari Populasi HIV+ ke Populasi HIV pembuat penularan seperti gambar dibawah ini, menyebabkan populasi HIV pembuat

Populasi HIV Positip 12 penularan hanya dipengaruhi oleh jumlah kontak sexual beresiko, sehingga struktur perilaku dari populasi HIV+ akan berubah. Populasi HIV pembuat penularan Jumlah kontak sexual beresiko Tingkat inventivity Masa Jendela aliran masuk Laju dew asa Populasi Rentan Laju Infeksi Populasi HIV Positip Porsi Populasi Rentan Gambar 4.2 Test perilaku struktur pemotongan reinforching loop populasi HIV+ ppl 5 Test Struktur Perilaku Pemotongan Reinforching Loop 4 3 2 89 9 91 92 93 94 95 96 97 98 99 1 2 3 4 5 6 7 Grafik 4.12 Perilaku struktur populasi HIV+ akibat pemotongan reinforching loop Pengujian test perilaku struktur juga dilakukan dengan memotong reinforcing loop Inventory RS ke DO RS, hal ini menyebabkan perubahan perilaku struktur dari inventory rumah sakit.

INVENTORY RS 13 INVENTORY RS Penerimaan DO QTY DO RS Pesanan RS kebutuhan ARV Inventory Buffer rumah sakit Adjustment inventory time rumah sakit Gambar 4.3 Tes perilaku struktur pemotongan reinforching loop inventory RS botol 9, STRUKTUR PERILAKU INVENTORY DI RUMAH SAKIT 6, 3, 89 9 91 92 93 94 95 96 97 98 99 1 2 3 4 5 6 7 Grafik 4.13 Perilaku struktur inventory RS akibat pemotongan reinforching loop 1.3 Analisa Kebijakan Dengan memperpanjang simulasi sampai tahun 225 sebagai perencanaan kebijakan dimasa depan untuk pengambilan keputusan baik perencanaan program penanggulangan HIV AIDS maupun kebijakan inventory desentralisasi obat ARV

14 4.3.1 Analisa Program Penanggulangan HIV/AIDS Analisa kebijakan berhubungan dengan kebijakan yang diambil dimasa yang akan datang. Berdasarkan pengalaman dari Kamboja dan Thailand, keberhasilan program penanggulangan HIV/AIDS khususnya dalam kebijakan penggunaan kondom mampu mengurangi tingkat infectivity lebih dari 75%. Sedangkan berdasarkan pengalaman Uganda, keberhasilan program pengendalian penyakit HIV/AIDS dapat menurunkan jumlah kontak sexual beresiko sebesar 5%. Dalam hal ini untuk Propinsi Jawa Timur diasumsikan tingkat infectivity menurun dari tahun 29 sampai tahun 213 sebesar 5%, tahun 214 sampai tahun 217 menurun sebesar 6%, tahun 218 sampai tahun 221 menurun sebesar 65% dan dari tahun 222 sampai tahun 225 menurun sebesar 7%. Sedangkan jumlah kontak sexual beresiko diasumsikan turun sebesar 3% dari tahun 29 sampai tahun 213, tahun 214 sampai tahun 218 turun sebesar 4%, tahun 219 sampai tahun 225 turun sebesar 25%. Variabel dampak program penanggulangan HIV AIDS kemudian ditambahkan kedalam model epidemi penyakit HIV AIDS sehingga formula dari tingkat infectivity menjadi (.2165-(.2165 x dampak program terhadap tingkat infectivity'). Sedangkan formula jumlah kontak sexual beresiko berubah menjadi (34<<ppl/ppl/yr>> - (34<<ppl/ppl/yr>> x dampak program terhadap Jumlah kontak sexual beresiko)). Fraksi ibu hamil HIV+ diasumsikan masih mengalami peningkatan dari dari tahun 29 sampai tahun 214. begitu juga dengan HIV Prevalance IDU dan fraksi populasi IDU. Pengaruh program PMTCT (Prevention Mother to Child Transmission) mempunyai dampak terhadap fraksi ibu hamil HIV+ dari tahun 215-225. Diasumsikan fraksi ibu hamil HIV+ mengalami penurunan sebesar 25% dari tahun 215-219 dan dari tahun 22 225 mengalami penurunan sebesari 3%. Sedangkan penanggulangan pada kelompok IDU, diasumsikan menurunkan HIV prevalance dikelompok IDU dan fraksi populasi IDU sebesar 25% dari tahun 215-219. dan penurunan sebesar 3% dari tahun 22-225. Dampak program penanggulangan HIV/AIDS tersebut kemudian ditambahkan sebagai variabel baru dalam model epidemi penyakit HIV/AIDS. Hasil dari running powersim menghasilkan jumlah populasi

Total Populasi HIV AIDS 15 HIV/AIDS pada tahun 225 sebanyak 194,441 penderita dan mengalami titik tertinggi pada tahun 222 sebanyak 2,191 penderita. ppl 2, Dampak kebijakan penanggulangan HIV AIDS 15, 1, 5, 8999192939495969798991234567891111213141516171819221222324 Grafik 4.14 Dampak kebijakan penaggulangan HIV/AIDS terhadap Populasi HIV/AIDS di Propinsi Jawa Timur ( 1989-225) 4.3.1 Analisa Kebijakan Inventory Berdasarkan hasil program penanggulangan penyakit kemudian dilakukan perubahan kebijakan inventory buffer pada tahun 213 untuk rumah sakit menjadi 2.5 bulan, inventory gudang propinsi 4 bulan dan inventory gudang pusat 15 bulan tetap menghasilkan service level rumah sakit 1% dan menghasilkan biaya inventory yang minimum.

16 SERVICE LEVEL DI RUMAH SAKIT 1989 199 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2 21 22 23 24 25 26 27 28 29 21 211 212 213 214 215 216 217 218 219 22 221 222 223 224..2.4.6.8 1. service level rumah sakit Grafik 4.15 Service Level di rumah sakit dengan perubahan kebijakan buffer inventory STRUKTUR PRILAKU PEMBERIAN OBAT DI RUMAH SAKIT 1989 199 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2 21 22 23 24 25 26 27 28 29 21 211 212 213 214 215 216 217 218 219 22 221 222 223 224 2, 4, 6, 8, botol/m o Pemberian obat di RS kebutuhan ARV Grafik 4.16 Struktur pemberian obat di rumah sakit setelah perubahan kebijakan buffer inventory

17 Struktur Perilaku Inventory Cost 1989 199 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2 21 22 23 24 25 26 27 28 29 21 211 212 213 214 215 216 217 218 219 22 221 222 223 224 5,, 1,,, 1,5,, rp inventory cost Grafik 4.17 Struktur perilaku inventory cost setelah perubahan kebijakan buffer inventory