BAB I DASAR TEORI I. TRANSFORMATOR

dokumen-dokumen yang mirip
I. Tujuan. 1. Agar mahasiswa mengetahui karakteristik transformator 2. Agar mahasiswa dapat membandingkan rangkaian transformator berbeban R, L, dan C

BAB II TRANSFORMATOR. magnet dan berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik.

BAB II TRANSFORMATOR

BAB II TRANSFORMATOR. sistem ketenagalistrikan. Transformator adalah suatu peralatan listrik. dan berbanding terbalik dengan perbandingan arusnya.

Transformator. Dasar Konversi Energi

BAB II TRANSFORMATOR

BAB II TRANSFORMATOR. elektromagnet. Pada umumnya transformator terdiri atas sebuah inti yang terbuat

BAB II TRANSFORMATOR

Pengenalan Sistem Catu Daya (Teknik Tenaga Listrik)

LEMBAR DISKUSI SISWA MATER : INDUKSI ELEKTROMAGNETIK IPA TERPADU KELAS 9 SEMESTER 2

BAB II PRINSIP DASAR TRANSFORMATOR

BAB II DASAR TEORI. melalui gandengan magnet dan prinsip induksi elektromagnetik [1].

BAB II TRANSFORMATOR. dan mengubah tegangan dan arus bolak-balik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke

BAB II TRANSFORMATOR

BAB II TRANSFORMATOR. II.1 UMUM Transformator atau trafo adalah suatu peralatan listrik yang dapat memindahkan

TRANSFORMATOR. Bagian-bagian Tranformator adalah : 1. Lilitan Primer 2. Inti besi berlaminasi 3. Lilitan Sekunder

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Elektrodinamometer dalam Pengukuran Daya

TOPIK 9 ELEKTROMAGNETIK

BAB 2 DASAR TEORI. lain, melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip induksi

BAB 2II DASAR TEORI. Motor sinkron tiga fasa adalah motor listrik arus bolak-balik (AC) yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang lain, melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip induksi

Transformator (trafo)

LAPORAN PRAKTIKUM TRANSFORMATOR TRANSFORMATOR PENURUN TEGANGAN CUT CORE, TOROIDAL, SHELL DAN AUTO TRANSFORMATOR

BAB II MOTOR SINKRON. 2.1 Prinsip Kerja Motor Sinkron

BAB II TRANSFORMATOR. Transformator merupakan suatu alat listrik statis yang mampu mengubah

Induksi Elektromagnetik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TRANSFORMATOR. maupun untuk menyalurkan energi listrik arus bolak-balik dari satu atau lebih

1. Menerapkan konsep kelistrikan dan kemagnetan dalam berbagai penyelesaian masalah dan produk teknologi

Transformator : peralatan listrik elektromagnetik statis yang berfungsi untuk memindahkan dan mengubah daya listrik dari suatu rangkaian listrik ke ra

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB II TRANSFORMATOR

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

FISIKA LAPORAN PENGAMATAN INDUKSI ELEKTROMAGNETIK (LILITAN & TRANSFORMATOR) Oleh: Wisnu Pramadhitya Ramadhan/36/XII-MIPA 6

Gambar 2.1 Skema Sistem Tenaga Listrik

BAB III. Transformator

Induksi Elektromagnetik

BAB II TEORI DASAR. Universitas Sumatera Utara

TRAFO. Induksi Timbal Balik

PROSEDUR PENGUJIAN TAHANAN ISOLASI TRAFO

Laporan Praktikum Fisika Transformator. Disusun Oleh : 1 Bindra Jati. (02) 2 Dwi Puspita A. (07) 3 Lida Puspita N. (13) 4 Mutiara Salsabella.

BAB II LANDASAN TEORI

Teknik Tenaga Listrik (FTG2J2)


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. yang dipakai adalah tegangan dan arus bolak-balik ( AC). Sedangkan tegangan dan arus

BAB II TRANSFORMATOR DAYA DAN PENGUBAH SADAPAN BERBEBAN. Tenaga listrik dibangkitkan dipusat pusat listrik (power station) seperti

BAB II MOTOR INDUKSI TIGA PHASA

BAB II MOTOR ARUS SEARAH. tersebut berupa putaran rotor. Proses pengkonversian energi listrik menjadi energi

Generator listrik adalah sebuah alat yang memproduksi energi listrik dari sumber energi mekanik, biasanya dengan menggunakan induksi elektromagnetik.

ANALISA RUGI-RUGI PADA GARDU 20/0.4 KV

MODUL I TRANSFORMATOR SATU FASA

MESIN SINKRON ( MESIN SEREMPAK )

Dasar Teori Generator Sinkron Tiga Fasa

DASAR-DASAR LISTRIK ARUS AC

BAB 1 TRANSFORMATOR. Gambar 1. Transformator

Bab 3. Teknik Tenaga Listrik

BAB III KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN

MAGNET JARUM. saklar. Besi lunak. Sumber arus Oleh : DRS. BRATA,M.Pd. SMAN1 KRA. kumparan. lampu. kumparan

BAB II LANDASAN TEORI

RANCANGBANGUN TRANSFORMATOR STEP UP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

: Dr. Budi Mulyanti, MSi. Pertemuan ke-12 CAKUPAN MATERI 1. TRANSFORMATOR 2. TRANSMISI DAYA 3. ARUS EDDY DAN PANAS INDUKSI 4. GGL INDUKSI KARENA GERAK

BAB II SISTEM DAYA LISTRIK TIGA FASA

LEMBAR KERJA SISWA (LKS) /TUGAS TERSTRUKTUR - - INDUKSI ELEKTROMAGNET - INDUKSI FARADAY DAN ARUS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II MOTOR ARUS SEARAH

PENYEARAH TEGANGAN 3 FASA

Modul Kuliah Dasar-Dasar Kelistrikan 1

ARUS BOLAK-BALIK Pertemuan 13/14 Fisika 2

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Motor Sinkron Tiga Fasa. Motor sinkron tiga fasa adalah motor listrik arus bolak-balik (AC) yang

waktu. Gaya gerak listrik (ggl) lawan akan dibangkitkan sesuai persamaan: N p dt Substitute Φ = N p i p /R into the above equation, then

Elektronika daya. Dasar elektronika daya

DA S S AR AR T T E E ORI ORI

BAB II GENERATOR SINKRON

BAB II TRANSFORMATOR

ANALISIS KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TRANSFORMATOR DISTRIBUSI UNTUK IDENTIFIKASI BEBAN LEBIH DAN ESTIMASI RUGI-RUGI PADA JARINGAN TEGANGAN RENDAH

PENGUJIAN TAPPING TRANSFORMATOR DISTRIBUSI 20

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KONSTRUKSI GENERATOR ARUS SEARAH

Dasar Konversi Energi Listrik Motor Arus Searah

BAB II MOTOR INDUKSI TIGA FASA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MAKALAH INDUKTANSI DAN TRANSFORMATOR

BAB II GENERATOR SINKRON. bolak-balik dengan cara mengubah energi mekanis menjadi energi listrik. Energi

BAB II GENERATOR SINKRON TIGA FASA

BAB II GENERATOR SINKRON

Jurnal Teknologi Elektro, Universitas Mercu Buana ISSN: ANALISIS VECTOR GROUP PADA HUBUNGAN PARALEL TRANSFORMATOR UNIT GARDU BERGERAK


i : kuat arus listrik (A) a : jarak dari kawat berarus (m)

BAB II MOTOR ARUS SEARAH. searah menjadi energi mekanis yang berupa putaran. Pada prinsip

BAB II MOTOR INDUKSI TIGA FASA. biasanya adalah tipe tiga phasa. Motor induksi tiga phasa banyak digunakan di

INDUKSI ELEKTROMAGNETIK

BAB II DASAR TEORI. searah. Energi mekanik dipergunakan untuk memutar kumparan kawat penghantar

BAB II DASAR TEORI. Motor asinkron atau motor induksi biasanya dikenal sebagai motor induksi

SMP kelas 9 - FISIKA BAB 3. KEMAGNETAN DAN INDUKSI ELEKTROMAGNETLatihan Soal 3.2

BAB II EKSPERIMEN 2 RANGKAIAN TIGA FASA SERTA HUBUNGAN Y (BINTANG) DAN DELTA ( )

Magnet Rudi Susanto 1

Transkripsi:

BAB I DASAR TEORI I. TRANSFORMATOR Transformator atau trafo adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan mengubah energi listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian listrik yang lain melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip induksi elektromagnet tanpa perubahan frekuensi. Penggunaan transformator dalam sistem tenaga listrik adalah untuk menaikkan tegangan yang dihasilkan dari generator pembangkit hingga mencapai 380 kv atau 500 kv dari 11 kv atau 22 kv yang bertujuan untuk menurunkan rugi tembaga sehingga transmisi lebih ekonomis. Kemudian melalui trafo step down, tegangan diturunkan menjadi 10 kv atau 20 kv kembali untuk bisa memberikan suplai pada jaringan distribusi. Kemudian tegangan tersebut diturunkan lagi menjadi 380 V untuk bisa dipakai pada beban seperti motor induksi. Dengan trafo pembakaian motor AC lebih digemari dibandingkan dengna motor DC. Transformator mempunyai dua buah sisi, yaitu sisi primer dan sisi sekunder. Selain itu trafo juga memiliki dua buah konstruksi, yaitu tipe shell dan tipe core. Pada trafo dengan tipe shell, inti baja akan mengelilingi kumparan dan pada tipe core, kumparan akan mengelilingi bagian inti dari trafo. II. KARAKTERISTIK TRANSFORMATOR II.1.KEADAAN TRANSFORMATOR TANPA BEBAN Bila kumparan primer transformator dihubungkan dengan sumber tegangan V1 yang sinusoid maka akan mengalir arus primer I o yang juga sinusoid dan dengn menganggap belitan N 1 reaktif murni, I o akan tertinggal 90 o dari V 1 dan fluks sefasa dengn I o. Dengan mengabaikan rugi tahanan dan adanya fluks bocor: E1 V1 N1 = = E2 V2 N 2 Arus primer I o yang mengalir dalam kenyataannya bukan merupakan arus induktif murni, tapi terdiri atas komponen: Komponen arus pemagnetan (I m ) Komponen arus rugi tembaga (I c ) II.2.KEADAAN BERBEBAN Apabila kumparan skunder dihubungkan dengan beban ZL, I 2 akan mengalir pada kumparan skunder dimana I 2 = V 2 /ZL. Persaman arus yang mengalir: I 1 = I o + I 2 I o = I m dianggap kecil N 1 I 1 = N 2 I 2 atau I 1 / I 2 = N 2 / N 1

II.3. RANGKAIAN EKIVALEN Rangkaian ekivalen dari transformator seperti pada gambar I 1 I 2 Io Ic Im V1 E1 E2 Gambar 1.1 Rangkaian ekivalen transformator Untuk memudahkan analisis (perhitungan) model rangkain diatas dapat diubah menjadi I 1 I 2 a 2 a 2 I 0 V1 Gambar 1.2 Rangkaian ekivalen transformator III. TRANSFORMATOR TIGA FASA Transformator 3 fasa dipakai karena pertimbangan ekonomi. Dari pembahasan berikut ini akan terlihat pemakaian inti besi pada transformator 3 fasa jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pemakaian tiga buah transformator fasa tunggal. Pada suatu bidang a b c d hanya diperlukan aliran fluks sebesar: ϕa ϕb 2 2 dan diketahui vektor tersebut adalah 3 ϕa 2 Apabila digunakn transformator fasa tunggal, pada bagian tersebut akan mengalir fluks sebesar 1 1 ϕadan ϕb atau sebesar ØA. 2 2 Demikian juga halnya untuk bidang n, m, q, r. Jadi pemakaian inti besi jelas menunjukkan penghematan pada transformator tiga fasa. Penghematan tersebut akan lebih terasa lagi bila kini kita

merubah polaritas transformator sedemikian rupa sehingga arah ØB ke atas. Dengan arah ØB ke atas fluks yang mengalir pada bidang abcd menjadi ϕ A ϕb 1 + dan besaran vektor ini hanya sebesar ϕa. 2 2 2 Apabila ditambah lagi dengan sistem pendingin yang bagus maka transformator tiga fasa menjadi lebih ekonomis. Tegangan transformator tiga fasa dengan kumparan yang dihubungkan secara delta, yaitu V AB,V BC dan V CA masing masing berbeda fasa 120 o V AB +V BC +V CA = 0 Untuk beban yang seimbang I A = I AB - I CA I B = I BC - I AB I C = I CA I BC I A I C I AC I AB I B I BC Gambar 1.3 (a) Hubungan delta I B I CA I C I BC I AB Gambar 1.3 (b) Diagram fasor hubungn delta Dari fektor diagram diketahui arus I A (arus jala-jala) adalah 3 x I AB (arus fasa). Tegangn jala-jala dalam hubungan Delta sama dengan tegangn fasanya. I L V A hubungan delta = 3Vp Ip = 3 V L ( ) = 3 V L I L 3 Arus transformator 3 fasa dengankumparan yang dihubungkan secara bintang yaitu I A, I B dan I C, masing - masing berbeda fasa 120 o I N = I A + I B + I C = 0 V AB +V BN = V AN - V BN V BC = V BN - V AN V CA = V CN -V AN I A

I A I B I N I C Gambar 1.4 (a) Hubungan bintang V AN V BC V AB V BN V CA V CN Gambar 1.4 (b) Diagram fasor hubungn bintang V AB = 3 V AN atau 3 V P ; I P = I L V Jadi V A hubungn bintang = 3Vp Ip = 3 ( ) IL = 3 V L I L L 3 Setiap sisi primer atau sisi sekunder transformator tiga fasa dapat dihubungkan menurut tiga cara yaitu hubungn bintang, hubungan delta dan hubungn zig-zag. Di dalam praktek hubungan bintang dan hubungan delta paling banyak digunakan. Ujung awal biasanya diberi simbol A, B, C sedangkan ujung akhirnya diberi simbol X, Y, Z untuk sisi tegangan tinggi. Untuk sisi tegangan rendah ujung awal lilitan diberi simbol a, b, c dan ujung akhirnya diberi simbol X, Y, Z seperti pada Gambar 1.5. A X a x B C Y Z b c y z Gambar 1.5 (a) sisi tegangan tinggi Gambar 1.5 (b).sisi tegangn rendah Seperti telah diuraikan terdahulu, vektor tegangn primer dan sekunder suatu transformator dapat dibuat searah atau berlawanan dengan mengubah cara melilit kumparan. Untuk tranformator tiga fasa, arah tegangn akan menimbulkan

perbedaan fasa. Arah dan besar perbedaan fasa tersebut mengakibatkan adanya berbagai kelompok hubungan pada transformator. IV. ANGKA JAM TRANSFORMATOR TIGA FASA Untuk mengetahui angka jam sebuah transformator yang angka jamnya belum diketahui dapat dilakukan melalui beberapa cara. Antara lain ialah dengan membandingkan besar tegangan pada tiap-tiap terminal pada Transformator dan dengan melihat beda fasa tegangan input dan output. 1. Melihat Beda Fasa Tegangan Input Dan Output Angka jam pada suatu Transformator menunjukkan arah GGL induksi dan arah perputaran vector tegangan induksi di sisi sekunder terhadap vector tegangan di sisi primer bila dilihat dari arah perputaran angka jam. Gambar 1.6. Gambar Empat Buah Transformator Tiga Fasa Terhubung Delta/Star dengan Polaritas dan Urutan Fasa Yang Berbeda (terdapat dua belas arah angka jam) dimana vector tegangan di sisi primer dianggap sebagai arah jarum panjang (selalu menunjuk ke arah angka 12), dan vector tegangan di sisi sekunder dianggap sebagai arah jarum pendek seperti ditunjukkan pada Gambar 1.6

Gambar 1.7. Transformator Hubungan Bintang/Delta Dy11 Vektor tegangan primer dan sekunder suatu transformator dapat dibuat searah atau berlawanan dengan merubah cara melilit kumparan. Untuk transformator tiga fasa, arah tegangan akan menimbulkan perbedaan fasa. Arah dan besar perbedaan fasa tersebut mengakibatkan adanya berbagai kelompok hubungan pada transformator. Notasi untuk hubungan Delta, Bintang, dan Zig-zag, masingmasing adalah D, Y, dan Z untuk sisi tegangan tinggi. Dan notasi d, y, dan z untuk sisi tegangan rendah. Sudut antara jarum jam panjang dan pendek adalah pergeseran antara vector A dan a. Gambar 1.8. Beda Sudut Fasa Antara Tegangan di Sisi Primer dan Sekunder. Dengan melihat contoh pada Gambar 1.7 dan memperhatikan patokan yang telah diberikan diatas, diketahui bahwa perbedaan fasa pada Transformator diatas mempunyai kelompok hubungan Dy 11. Atau bisa juga dikatakan Angka Jam ialah besar sudut fasa antara tegangan di sisi sekunder terhadap tegangan di sisi primer seperti ditunjukkan pada Gambar 1.8