OPTIMASI SISTEM STRUKTUR CABLE-STAYED AKIBAT BEBAN GEMPA

dokumen-dokumen yang mirip
LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN MADYA

LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN MADYA

ANALISIS PERBANDINGAN PERILAKU STRUKTUR JEMBATAN CABLE STAYEDTIPE FAN DAN TIPE RADIALAKIBAT BEBAN GEMPA

EVALUASI STRUKTUR ATAS JEMBATAN GANTUNG PEJALAN KAKI DI DESA AEK LIBUNG, KECAMATAN SAYUR MATINGGI, KABUPATEN TAPANULI SELATAN

STUDI PARAMETER DESAIN DIMENSI ELEMEN STRUKTUR JEMBATAN GANTUNG PEJALAN KAKI DENGAN BENTANG 120 M

KAJIAN PEMANFAATAN KABEL PADA PERANCANGAN JEMBATAN RANGKA BATANG KAYU

ANALISIS KAPASITAS TEKAN PROFIL-C BAJA CANAI DINGIN MENGGUNAKAN SNI 7971:2013 DAN AISI 2002

Pengaruh Rasio Tinggi Busur terhadap Bentang Jembatan Busur pada Gaya Dalam dan Dimensi Jembatan

PENGARUH GEMPA TERHADAP PERILAKU JEMBATAN CABLE STAYED TENGKU FISABILILAH RIAU DENGAN TIME HISTORY ANALYSIS NASKAH TERPUBLIKASI TEKNIK SIPIL

MODIFIKASI PERANCANGAN JEMBATAN TRISULA MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA DENGAN DILENGKAPI DAMPER PADA ZONA GEMPA 4

STUDI KOMPARASI VARIASI KONFIGURASI JEMBATAN CABLE STAYED AKIBAT BEBAN DINAMIK

Studi Alternatif Bentuk Rangka Jembatan Canai Dingin Untuk Pejalan Kaki Bentang Kecil Terhadap Rasio Berat dan Lendutan

Kajian Pemakaian Profil Fiber Reinforced Polymer (FRP) sebagai Elemen Struktur Jembatan Gantung Lalu Lintas Ringan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAHAN KULIAH Struktur Beton I (TC214) BAB IV BALOK BETON

PERILAKU DAN SISTEM STRUKTUR RANGKA BAJA JEMBATAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menyilang sungai atau saluran air, lembah atau menyilang jalan lain atau

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN

MODIFIKASI PERENCANAAN JEMBATAN KALI BAMBANG DI KAB. BLITAR KAB. MALANG MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA

DAFTAR ISI. LEMBAR JUDUL... i KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMA KASIH... iii. DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... ABSTRAK...

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

DESAIN STRUKTUR JEMBATAN RANGKA BAJA BENTANG 80 METER BERDASARKAN RSNI T ABSTRAK

Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Lhokseumawe

yang optimal sehingga dapat menekan biaya konstruksi namun tetap memenuhi persyaratan. Jenis jembatan rangka yang digunakan penulis dalam penelitian i

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN TUGAS AKHIR

GARIS GARIS BESAR PROGRAM PERKULIAHAN ( GBPP )

BAB 1 PENDAHULUAN. metoda desain elastis. Perencana menghitung beban kerja atau beban yang akan

PERANCANGAN ULANG JEMBATAN KUTAI KARTANEGARA DENGAN SISTEM CABLE STAYED

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

3.3. BATASAN MASALAH 3.4. TAHAPAN PELAKSANAAN Tahap Permodelan Komputer

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain seperti

Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung. Tugas Akhir

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METEDOLOGI PENELITIAN. dilakukan setelah mendapat data dari perencanaan arsitek. Analisa dan

MUHAMMAD SYAHID THONTHOWI NIM.

STUDI KERUNTUHAN JEMBATAN GANTUNG X DENGAN MEMPERTIMBANGKAN FAKTOR GAYA DINAMIK DAN EFEK KEKAKUAN RANGKA

BAB III METODE PENELITIAN

) DAN ANALISIS PERKUATAN KAYU GLULAM BANGKIRAI DENGAN PELAT BAJA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gedung dalam menahan beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut. Dalam. harus diperhitungkan adalah sebagai berikut :

Kajian Pengaruh Panjang Back Span pada Jembatan Busur Tiga Bentang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

MODIFIKASI JEMBATAN PALU IV DENGAN KONSTRUKSI CABLE STAYED SINGLE PLANE WITH BOX GIRDER. Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Hidayat Soegihardjo M, MS

PLATE GIRDER A. Pengertian Pelat Girder

STUDI ANALISIS DAN EKSPERIMENTAL PENGARUH PERKUATAN SAMBUNGAN PADA STRUKTUR JEMBATAN RANGKA CANAI DINGIN TERHADAP LENDUTANNYA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang

ANALISIS KAPASITAS BALOK BETON BERTULANG DENGAN LUBANG PADA BADAN BALOK

BAB 1 PENDAHULUAN. mulailah orang membuat jembatan dengan teknologi beton prategang.

PERENCANAAN STRUKTUR JEMBATAN SLAB ON PILE SUNGAI BRANTAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE PRACETAK PADA PROYEK TOL SOLO KERTOSONO STA STA.

BAB I PENDAHULUAN. dengan banyaknya dilakukan penelitian untuk menemukan bahan-bahan baru atau

BAB I PENDAHULUAN. fisik menuntut perkembangan model struktur yang variatif, ekonomis, dan aman. Hal

BAB I PENDAHULUAN. tidak dapat diramalkan kapan terjadi dan berapa besarnya, serta akan menimbulkan

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Beton berlulang merupakan bahan konstruksi yang paling penting dan merupakan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENGARUH PASANGAN DINDING BATA PADA RESPON DINAMIK STRUKTUR GEDUNG AKIBAT BEBAN GEMPA

Jl. Banyumas Wonosobo

BAB I PENDAHULUAN. Dalam upaya untuk dapat memperoleh desain konstruksi baja yang lebih

Analisis Perilaku Struktur Pelat Datar ( Flat Plate ) Sebagai Struktur Rangka Tahan Gempa BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. system jaringan jalan. Jembatan digunakan sebagai akses untuk melintasi sungai,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

03. Semua komponen struktur diproporsikan untuk mendapatkan kekuatan yang. seimbang yang menggunakan unsur faktor beban dan faktor reduksi.

MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR BAJA KOMPOSIT PADA GEDUNG PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI JEMBER

STUDY PEMODELAN STRUKTUR SUBMERGED FLOATING TUNNEL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

GARIS GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (RENCANA KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR)

PERENCANAAN ULANG JEMBATAN TUKAD BANGKUNG KABUPATEN BADUNG, BALI DENGAN METODE CABLE STAYED. Oleh

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

RESPON DINAMIS STRUKTUR PADA PORTAL TERBUKA, PORTAL DENGAN BRESING V DAN PORTAL DENGAN BRESING DIAGONAL

EVALUASI KEKUATAN STRUKTUR YANG SUDAH BERDIRI DENGAN UJI ANALISIS DAN UJI BEBAN (STUDI KASUS GEDUNG SETDA KABUPATEN BREBES)

ANALISIS KEKUATAN GIRDER AKIBAT KEMIRINGAN MEMANJANG JEMBATAN. Suyadi 1)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pembebanan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERENCANAAN JEMBATAN TUKAD WOS DENGAN BALOK PELENGKUNG BETON BERTULANG.

STUDI PENGGUNAAN, PERBAIKAN DAN METODE SAMBUNGAN UNTUK JEMBATAN KOMPOSIT MENGGUNAKAN LINK SLAB

BAB III PEMODELAN DAN ANALISIS STRUKTUR

Analisis Konstruksi Jembatan Busur Rangka Baja Tipe A-half Through Arch. Bayzoni 1) Eddy Purwanto 1) Yumna Cici Olyvia 2)

PERBANDINGAN KUAT LENTUR DUA ARAH PLAT BETON BERTULANGAN BAMBU RANGKAP LAPIS STYROFOAM

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III LANDASAN TEORI. dasar ke permukaan tanah untuk suatu situs, maka situs tersebut harus

ANALISIS PENGARUH DIMENSI DAN JARAK PELAT KOPEL PADA KOLOM DENGAN PROFIL BAJA TERSUSUN

OPTIMALISASI DESAIN JEMBATAN LENGKUNG (ARCH BRIDGE) TERHADAP BERAT DAN LENDUTAN

BAB I PENDAHULUAN. Suatu konstruksi tersusun atas bagian-bagian tunggal yang digabung membentuk

BAB III METODOLOGI PERANCANGAN

EVALUASI JEMBATAN BAILEY MOLINTOGUPO PASCA PENGGANTIAN GIRDER DAN LANTAI KENDARAAN

COVER TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN RANGKA BAJA DENGAN PELAT LANTAI ORTOTROPIK

PERENCANAAN GEDUNG PERPUSTAKAAN KOTA 4 LANTAI DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL DI SURAKARTA (+BASEMENT 1 LANTAI)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV ANALISA STRUKTUR

PENGGAMBARAN DIAGRAM INTERAKSI KOLOM BAJA BERDASARKAN TATA CARA PERENCANAAN STRUKTUR BAJA UNTUK BANGUNAN GEDUNG (SNI ) MENGGUNAKAN MATLAB

BAB II LANDASAN TEORI. Efektifitas dinding struktur dan core-wall untuk menahan momen yang

PENGARUH PERBANDINGAN PANJANG BENTANG GESER DAN TINGGI EFEKTIF PADA BALOK BETON BERTULANG

EVALUASI KONDISI EKSISTING STRUKTUR ATAS JEMBATAN BAILEY MOLINTOGUPO, KABUPATEN BONE BOLANGO, GORONTALO

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Umum. Berkembangnya kemajuan teknologi bangunan bangunan tinggi disebabkan

Transkripsi:

OPTIMASI SISTEM STRUKTUR CABLE-STAYED AKIBAT BEBAN GEMPA Murdini Mukhsin 1),Yusep Ramdani 2) 1,2,3 Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Siliwangi Tasikmalaya Email: murdini@unsil.ac.id 1, ramdani.yusep@yahoo.com 2 Abstrak Struktur jembatan cable stayed merupakan salah satu struktur jembatan yang memiliki rasio bentang jembatan terhadap tinggi dek yang tinggi sehingga struktur jembatan jauh lebih ringan dibandingkan jembatan yang ditumpu oleh banyak pilar. Jembatan cable stayed merupakan pilihan utama untuk jembatan bentang panjang karena struktur jembatan cable stayed menghasilkan bentuk geometri dan elemen-elemen struktur yang relatif ringan dan ekonomis. Hasil analisis bentuk geometri pada jembatan cable stayed menunjukan bentuk susunan kabel semi harp menengahi permasalahan dimensi pada susunan harp dan permasalahan pelaksanaan pemasangan pada susunan fan. Hasil analisis statik menunjukkan bahwa pada masa layan pengaruh beban lalu lintas menyebabkan kemungkinan terjadinya lendutan keatas dan kebawah pada dek sehingga terjadi pembalikan tegangan pada dek. Sedangkan beban tetap dan lalu lintas akan mempengaruhi perencanaan pylon dan kabel jembatan. Kata kunci: Kabel, Jembatan, Geometri, Pylon Abstract The cable stayed bridge structure is one of the bridge structure which has bridge span ratio to high deck height so that the bridge structure is much lighter than the bridge which is supported by many pillars. Cable stayed bridges are the primary choice for long-span bridges because the cable stayed bridged structures produce geometrical shapes and relatively lightweight and economical structural elements. The result of geometric shape analysis on cable stayed bridge shows the form of semi harp cable arrangement mediate the dimension problem on the harp arrangement and the problem of installation implementation on the fan arrangement. The result of static analysis shows that in the service period, the traffic load causes the possibility of deflection up and down on the deck so that there is a reversal of stress on the deck. While the fixed load and traffic will affect the planning of pylons and bridge cables. Keyword : Cable, Bridge, Geometry, Pylon I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam beberapa dekade terakhir jembatan cable stayed telah digunakan secara luas di seluruh dunia. Penggunaan secara luas struktur jembatan ini mulai setelah dikenal teori high strength steel, dek jembatan tipe orthotropic, berkembangnya teknik pengelasan dan kemajuan dalam bidang analisis struktur[1]. Berkembangnya bentuk dan tipe jembatan cable stayed memberikan tantangan kepada para insinyur untuk berinovasi karena struktur jembatan cable stayed banyak digunakan sebagai penghubung dua daratan, daerah, wilayah bahkan menghubungkan dua kepulauan yang terpisah dengan bentang yang panjang. Indonesia adalah negara kepulauan dengan karakteristik wilayah gempa yang tersebar mulai Sabang sampai Merauke. Karakteristik gempa yang terjadi di wilayah Indonesia akan mempengaruhi proses perancangan struktur jembatan cable-stayed pada setiap wilayahnya[2]. Analisa beban gempa dalam perhitungan struktur jembatan cable-stayed sangat penting, karena sistem pylon jembatan cablestayed bersentuhan langsung dengan tanah keras sebagai media pelepasan energi sesaat pada saat terjadi gempa bumi[3]. Secara otomatis besarnya gempa bumi akan mempengaruhi bentuk geometri kabel, type pylon, bentuk dek dan panjang bentang jembatan. 156

1.2 Rumusan Masalah Indonesia merupakan daerah pertemuan tiga lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo Australia, Eurasia, dan lempeng Pasific[4]. Pertemuan lempeng ini memberikan akumulasi energi tabrakan sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas Pelepasan energi sesaat ini berupa percepatan gelombang seismik yang akan menimbulkan berbagai dampak terhadap bangunan-bangunan sipil diantaranya jembatan, struktur gedung, bendungan dan lain sebagainya. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji optimasi struktur jembatan cable stayed akibat pengaruh beban gempa dengan perumusan masalah sebagai berikut : a. Bagaimanakah pengaruh zonasi gempa di wilayah Indonesia dapat berpengaruh terhadap desain struktur jembatan cable-stayed b. Ketika beban gempa statik dan beban gempa dinamik bekerja pada struktur jembatan cablestayed, apakah akan memberikan perilaku yang sama atau berbeda pada setiap elemen struktur jembatan cable-stayed c. Apakah perbedaan dalam pemilihan bentuk geometri kabel, bentuk pylon, bentuk dek dan panjang bentang jembatan dapat dioptimalkan dalam proses desain elemen struktur jembatan cable-stayed II. LANDASAN TEORI 2.1. Umum Mengingat Indonesia adalah wilayah yang rawan terjadi gempa, maka salah satu cara untuk mengurangi kerusakan bangunan akibat gempa tersebut adalah dengan cara merencanakan bangunan tahan gempa berdasarkan peraturan-peraturan yang ada di Indonesia. Implementasi dari peraturan-peraturan tersebut adalah dengan melakukan perencanaan struktur bangunan dengan pendekatan finite element method (metode elemen hingga). Salah satu cara mengaplikasikan metode tersebut dapat dilakukan dengan bantuan pengunaan software aplikasi. Khususnya untuk struktur jembatan cable-stayed yang memiliki bentang panjang dengan penopang jembatan berupa pylon yang cukup berperan dalam mereduksi beban gempa, pemodelan dapat dilakukan dalam ruang 3 dimensi (3D). 2.2. Struktur Jembatan Cable-Stayed Jembatan cable stayed adalah model jembatan yang memiliki struktur lantai kendaraan pada satu atau beberapa titik digantung secara elastik pada kabel. yang digunakan sebagai salah satu tumpuannya[5]. Jembatan ini semakin populer seiring kemampuannya mengatasi bentang yang panjang. Kekhususan jembatan ini ditandai dengan daya tarik estetika, penggunaan material struktur secara lebih efisien dan kecepatan cara kerja konstruksinya dan elemen struktural yang dimensinya relatif semakin kecil. Elemen struktur jembatan cable stayed yang penting adalah kabel, angkur, menara dan dek. 2.3. Kabel Kabel merupakan bagian jembatan cable-stayed yang menahan gaya tarik, kabel ini harus terhindar dari fatigue dan diproteksi terhadap korosi, terutama pada lingkungan yang agresif. Kabel yang biasa digunakan adalah kabel tipe ikatan wire paralel atau strand paralel yang panjang, karena memiliki modulus elastisitas yang tinggi dan konstan. Pemilihan jumlah dan susunan kabel berpengaruh terhadap dimensi gelagar dan menara serta metode pelaksanaan struktur jembatan cable-stayed. Sistem penataan kabel dapat berupa sistem harp (harpa) dimana kabel dipasang sejajar dan disambungkan ke menara dengan ketinggian yang berbeda-beda satu sama lain, sistem radiating dimana kabel dipusatkan pada ujung atas menara dan disebar sepanjang bentang pada gelagar, sistem fan (kipas) dimana kabel disebar pada bagian atas menara dan pada dek sepanjang bentang yang menghasilkan kabel tidak sejajar dan sistem star dimana kabel tersebar sepanjang gelagar. Pada sistem harp, untuk jarak kabel tetap pada dek dan berat gelagar tetap, terjadi pada kabel yang sama, sedangkan pada system fan gaya kabel akan berkurang. Pada system kabel fan, gaya tekan pada menara akan lebih besar dan pada dek akan lebih kecil, hal ini akan berlaku sebaliknya pada siatem harp sehingga akan menimbulkan tekuk yang besar untuk jembatan bentang panjang. 157

2.4. Angkur Gambar 1. Tipe susunan kabel Angkur adalah tempat ujung kabel yang dikaitkan ke penumpu. Angkur harus menyalurkan gaya kabel pada dek jembatan dan pylon. Pada pylon kabel dapat diangkur atau sebagai kabel menembus pylon[6]. 2.5. Menara Menara adalah komponen jembatan cable-stayed yang berfungsi sebagai tumpuan dan rangkaian kabel. Desain menara menunjukkan estetika dari jembatan cable-stayed, maka perancang harus memilih proporsi dan bentuk yang baik. Sebagian besar menara dibuat dari beton karena relatif lebih murah dan mudah dibentuk dibandingkan dengan baja[6]. 2.6. Dek Gambar 2. Tipe bentuk Menara[6] Dek jembatan cable-stayed terdiri atas tipe rangka padat (stiffening truss) dan tipe profil padat (solid web). Tipe rangka batang memerlukan proses fabrikasi lebih kompleks, relatif sulit dalam perawatan dan mudah terpengaruh korosi sehingga jarang digunakan. Tipe profil padat terdiri atas gelagar pelat (plate girder) dan gelagar box (box girder), gelagar box memiliki kekakuan torsional lebih tinggi dibandingkan gelagar pelat sehingga cocok untuk jembatan yang mengalami torsi yang sangat besar[3]. 2.7. Pemodelan Elemen Struktur Perilaku dari komponen struktur yang dimodelkan harus dapat diwakili oleh elemen yang menjadi modelnya. Untuk itu dalam penelitian ini digunakan tiga jenis elemen hingga. Kabel dimodelkan sebagai elemen satu demensi yang setiap titik nodalnya mempunyai satu derajat kebebasan diarah aksial, sementara menara dimodelkan sebagai elemen tiga demensi yang setiap titik nodalnya mempunyai enam derajat kebebasan, tiga translasi arah sumbu XYZ dan tiga rotasi dalam arah vektorial XYZ dan dek dimodelkan sebagai sebagai elemen tiga demensi yang setiap nodalnya mempunyai tiga derajat kebebasan translasi arah sumbu Z dan rotasi dalam arah vektorial sumbu XY[7]. III. METODE PENELITIAN 3.1. Umum Dalam Penelitian ini digunakam model struktur jembatan cable stayed dengan menggunakan kabel sebagai elemen truss, pylon sebagai elemen frame dan dek sebagai elemen shell. Kemudian dimodelkan konfigurasi struktur kabel dengan tiga variasi bentuk. Konfigurasi kabel yang digunakan adalah fan system, harp system, dan modified fan system. 3.2. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian jembatan cable stayed ini tidak terikat tempat, bias dilakukan dimana saja. 3.3. Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Proses penelitian dilakukan dengan cara menjabarkan peraturan SNI terkini mengenai pembebanan gempa sesuai zonasi kegempaan di wilayah Indonesia, standar peraturan struktur baja dan beton bertulang. Kemudian dilakukan analisis struktur dengan pemodelan 3 dimensi (3D) menggunakan software aplikasi SAP 2000. Data-data hasil analisis struktur berupa gaya-gaya dalam dianalisa sebagai data perencanaan struktur. IV.HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Analisis Penampang Dek 158

Dari beberapa pertimbangan diatas maka dalam penelitian ini digunakan susunan kabel tipe semiharp karena kabel tipe ini selain menggunakan panjang kabel yang relatif lebih pendek juga gaya-gaya dalam yang terjadi di struktur tidak begitu besar. Gambar 3. Grafik tegangan dek akibat kombinasi beban SLS 3 Gambar 5. Kurva gaya aksial pylon berbagai tipe susunan cable Gambar 4. Grafik tegangan dek akibat kombinasi beban SLS 5 2. Pemilihan Susunan Kabel Pengaruh susunan kabel memberikan perilaku struktur jembatan cable stayed, yang antara lain : 1. Urutan gaya aksial semakin besar untuk formasi kabel fan-semiharp-harp 2. Urutan gaya geser pilar (V22) semakin kecil untuk formasi kabel fan-semiharp-harp 3. Urutan gaya geser pilar (V33) semakin besar 4. Urutan momen lentur pilar (M22) semakin besar 5. Urutan momen lentur pilar (M33) semakin besar 6. Urutan tegangan pada dek atas (S11) semakin besar 7. Urutan tegangan pada bawah atas (S11) semakin besar Gamb ar 6. Kurva momen lentur pylon arah 33 pada berbagai tipe susunan cable Hasil analisis struktur diperoleh gaya aksial tekan terbesar yang terjadi adalah akibat kombinasi beban ULS 2 yaitu sebesar 1717181 kn, gaya geser maksimum arah 22 terjadi akibat kombinasi pembebanan ULS 1C sebesar 30353,5 kn, gaya geser arah 33 maksimum sebesar 88589,67 kn akibat kombinasi beban ULS 2, momen lentur arah 22 terbesar dialami pylon adalah akibat kombinasi pembebanan ULS 2 sebesar 1457555 knm dan momen lentur arah 33 terbesar yang dialami pylon adalah akibat kombinasi beban ULS 1 sebesar 2952086. IV. KESIMPULAN 5.1. Kesimpulan 1. Gaya-gaya dalam yang timbul akibat gempa pada kabel dan panjang kabel semakin membesar dengan urutan formasi kabel tipe fan, semiharp, harp, sedangkan pekerjaan tipe fan memerlukan 159

perletakan kabel pada pylon yang lebih rumit dari pada tipe semiharp. 2. Gaya-gaya dalam maksimum yang terjadi pada pylon tidak tergantung pada satu jenis pembebanan, untuk momen lentur arah memanjang dek maksimum terjadi akibat beban yang diletakkan ditengah bentang jembatan cable stayed. 3. Penggunaan formasi tipe semiharp merupakan pilihan utama pada jembatan cable stayed karena masih lebih ekonomis. Adapun tegangan yang terjadi pada kabel selama masa layanan adalah sebesar 385,52 Mpa, nilai ini lebih kecil dari tegangan ijin sebesar 1395 Mpa. 5.2. Saran 1. Melakukan analisis untuk bentuk pylon yang beragam pada struktur jembatan cable stayed. 2. Melakukan analisis untuk beban dinamik akibat beban gempa pada struktur jembatan cable stayed dengan keragaman tanah keras. 3. Melakukan perancangan struktur jembatan cable stayed dengan panjang jembatan yang beragam. 4. Melakukan analisis penggunaan material yang beragam pada struktur jembatan cable stayed DAFTAR PUSTAKA [1]. Karoumi R., Modeling of Cable Stayed Bridger For Analysis of Traffic Induced Vibrations, [2]. Firmansyah, J. (2003), Tantangan Alam dan Tipe Struktur Jembatan Lintas Selat Sunda, Prosiding Semiloka Infrastruktur Lintas Selat Sunda, Institute Teknologi Bandung. [3]. Troitsky, M.S.,(1977), Theory and Design Cable Stayed Bridges, Crosby Lockwood Staples, London [4]. Wangsadinata W., (2003), Beberapa Catatan Mengenai Penyeberangan Selat Sunda, Prosiding Semiloka Infrastruktur Lintas Selat Sunda, Institute Teknologi Bandung [5]. Podolny, W., Scalzi, J.B.(1976), Construction and Design of Cable Stayed Bridges, John Wiley and Sons [6]. Walther, R. (1988), Cable Stayed Bridges, Thomas Telford, London. [7]. Karoumi R., Dynamic Response of Cable- Stayed Bridges Subjected to Moving Vehicles, IABSE 15th Congress, Denmark, pp. 87-92, 1996. 160