BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Dari hasil penelitian dapat digambarkan bahwa keadaan lokasi penelitian sebagai berikut: 4.1.1Gambaran Umum a. Keadaan Geografi Puskesmas Telaga Biru adalah Puskesmas Medical Center yang berada di wilayah Kecamatan Telaga Biru yang memiliki wilayah kerja 15 desa, dimana terdapat 4 desa sulit dan 11 desa biasa. Puskesmas Telaga Biru memiliki luas wilayah 103,66 km², dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: - Sebelah Timur: Berbatasan dengan Kecamatan Atinggola - Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Limboto - Sebelah Utara: Berbatasan dengan Kecamatan Telaga - Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Danau Limboto b. Keadaan Demorafi Wilayah Puskesmas Telaga Biru memilki jumlah penduduk 27.299 jiwa yang terdiri dari 7531 KK, selengkapnya dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 4.1.1.1 Data Wilayah Dan Penduduk Kecamatan Telaga Biru Tahun 2013 Desa Jumlah Dusun Jumlah Penduduk Jumlah Kepala Keluarga Jumlah Masyarakat Miskin Tuladenggi 4 4101 1115 1698 Ulapato A 4 2205 597 1223 Ulapato B 3 909 243 767 Pentadio T 3 2508 725 1167 Pentadio B 3 3727 862 1375 Dumati 3 1732 492 961 Talumelito 4 1298 348 878 Pantungo 4 1988 555 796 Lupoyo 4 1993 537 1360 Tinelo 4 2221 596 788 Timuato 3 1589 411 1062 Dulut 3 1188 596 917 Modelidu 2 529 114 450 Tonala 3 743 187 628 Tapaluluo 2 568 153 329 Jumlah 45 27.299 7531 14.399 Sumber : Data Sekunder, Desember 2013
c. Sumber daya Puskesmas Telaga Biru Untuk mengoptimalkan pelayanan rawat jalan dan medical center, Puskesmas Telaga Biru memiliki sumber daya sebagai berikut: 1). Ketenagaan Ketenagaan di Puskesmas Telaga Biru Secara keselurahan jumlah 60 orang dengan pendidikan yang berbeda yaitu terdiri dari 1 orang Magister Kesehatan, 2 orang dokter umum, 1 orang dokter gigi, 5 orang sarjana kesehatan masyarakat, 10 orang perawat DIII, 2 orang perawat gigi, 1 orang farmasi, 3 orangperawat DI, 2 orang tenaga gizi,1 orang 2 orang sanitasi, 11 orang bidan desa, 3 orang pekarya, 16 tenaga abdi dan tenaga magang. 2). Sarana dan Prasarana Dalam pelayaanannya Puskesmas memiliki sarana dan prasarana yang dapat menunjang untuk mendapatkan pelayanan prima seperti Pustu, Polindes, dan Poskesdes. 4.1.2 Karesteristik responden Sebelum dilakukan pembahasan pada setiap variabel penelitian, terlebih dahulu di deskripsikan karesteristik personal responden yang meliputi umur dan tempat tinggal. Bedasarkan observasi di peroleh data sebagai berikut
1).Umur Responden Tabel 4.1.2.1 Distribusi Sampel Menurut Golongan Umur Yang Berkunjung Di Puskesmas Telaga Biru Desember 2013 Umur (Tahun) n % 1 10 12 36,4 11 20 8 24,2 21 30 7 21,2 31 40 4 12,1 41 50 2 6.1 Jumlah 33 100 Sumber : Data Primer 2013 Berdasarkan Tabel 4.1.2.1 menunjukkan bahwa responden yang berkunjung ke Puskesmas Telaga Biru dengan gejala panas tinggi, sakit kepala, pusing, mual dan muntah dan bintik merah rata-rata dengan usia termuda 3 tahun dan yang tertua 48 tahun, dan yang paling banyak berkunjung umur 1-10 tahun dengan jumlah 12 pasien (36,4%) dan yang paling sedikit umur 41-50 tahun dengan jumlah 2 pasien (6,1%).
2). Jenis Kelamin Responden Tabel 4.1.2.2 Distribusi Sampel Menurut Jenis Kelamin Yang Berkunjung di Puskesmmas Telaga Biru Desember 2013 Jenis Kelamin N % Laki-Laki 18 54.5 Perempuan 15 45.5 Jumlah 33 100 Sumber: Data Primer,Desember 2013 Berdasarkan Tabel 4.1.2.2 menunjukkan bahwa responden yang berkunjung ke Puskesmas Telaga Biru dengan gejala panas tinggi, sakit kepala, pusing, mual dan munta dan bintik merah rata-rata sebagian besar laki-laki ada 18 pasien (54.5 %) dan perempuan 15 pasien (45.5 %)
3). Tempat tinggal Responden Tabel 4.1.2.3 Distribusi Sampel Menurut Tempat Tingggal Yang Bekunjung di Puskesmas Telaga Biru Desember 2013 Alamat Responden n % Tuladenggi 9 27.3 Ulapato A 6 18.2 Dumati 7 21.2 Pantungo 2 6.1 Pentadio B 1 3 Pentadio T 1 3 Tinelo 3 9.1 Timuato 3 9,1 Talumelito 1 3 Sumber: Data Primer 2013 Jumlah 33 100 Berdasarkan Tabel 4.1.2.3 menunjukkan bahwa dari 15 desa wilayah Puskesmas Telaga Biru ada 9 desa yang sering terjadi KLB dan peningkatan kasus DBD. Dan tempat tinggal responden sebagian besar tempat tinggal di desa Tuladenggi sebesar 9 (27,3%) responden dimana sering terjadi peningkatan kasus DBD. Dan sebagian kecil 1 (3%) responden ada 3 desa yaitu desa Pentadio Barat, Pentadio Timur, dan Talumelito.
4). Jenis Pekerjaan Responden Tabel 4.1.2.4 Distribusi Sampel Menurut Pekerjaan Yang Bekunjung di Puskesmas Telaga Biru Desember 2013 Pekerjaan Responden n % PNS 4 12.1 SWASTA 7 21.2 URT 3 9.1 SISWA 14 42.4 TIADA 5 15.2 Jumlah 33 100 Sumber : Data Primer, 2013 Berdasarkan Tabel 4.1.2.4 menunjukkan bahwa responden yang berkunjung ke Puskesmas Telaga Biru dengan gejala panas tinggi, sakit kepala, pusing, mual dan munta dan bintik merah dengan jenis pekerjaan responden yang tertinggi adalah siswa 14 responden (42,4%) dan terendah URT 3 responden (9.1 %). 4.1.3 Hasil Analisis Univariat Variabel yang diteliti pada penelitian ini adalah hubungan kepadatan jentik Aedes aegypti dengan kejadian penyakit DBD di wilayah Puskesmas Telaga Biru Tahun 2013. Data tentang variable yang diteliti diambil dengan melakukan wawancara dan pengamatan/observasi secara langsung di setiap rumah responden di dalam maupun diluar rumah seperti tempat penampungan air baik itu dispenser dan kulkas, bak mandi, kaleng-kaleng bekas, ban bekas, pas bunga kolam yang menjadi tempat berkembang biaknya jentik Aedes aegypti. Sampel pada
penelitian ini adalah pasien yang berkunjung ke Puskesmas Telaga Biru dengan gejala panas tinggi, sakit kepala, pusing, mual dan muntah dengan jumlah 33 pasien. a. Penyakit DBD Hasil penelitian mengenai Penyakit DBD di wilayah Puskesmas Telaga Biru di peroleh dari kunjungan rawat jalan ke puskesmas, selanjutnya di rujuk ke rumah sakit dan dibuktikan dengan hasil laboratorium dan diagnose dokter. Dari 33 responden yang dinyatakan positf 9 responden (27,3 %) dan yang tidak menderita DBD 24 responden (72.7%). Hasil selengkapanya di tampilkan pada table 4.1.3.1 Tabel 4.1.3.1 Distribusi hasil perhitungan Kejadian Penyakit DBD di Wilayah Puskesmas Telaga Biru Desember 2013 Penyakit DBD N % Menderita 9 27.3 Tidak Menderita 24 72,7 Sumber: Data Primer, 2013 Jumlah 33 100
b. Kepadatan Jentik Hasil penelitian mengenai pemeriksaan jentik Aedes aegypti di peroleh dari ada tidaknya jentik di setiap rumah responden baik diluar rumah maupun didalam rumah, sehingga diperoleh hasil kepadatan jentik adalah 66,7 %. Hasil selengkapanya dapat dilihat pada table 4,1.3.2 Tabel 4.1.3.2 Distribusi hasil perhitungan Kepadatan Jentik di Wilayah Puskesmas Telaga Biru Desember 2013 HI (House Index) Kepadatan Jentik N % Padat 22 66,7 Tidak Padat 11 33.3 Jumlah 33 100 Sumber: Data Primer, 2013 4.1.4 Hasil Analisis Bivariat Analisis biavariat bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variable bebas dan variable terikat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kepadatan jentik Aedes aegypti dengan kejadian penyakit DBD di wilayah Puskesmas Telaga Biru tahun 2013. Dalam pengujian hipotesis penelitian ini digunakan uji Chi Square. Karena variable yang diteliti skala nominal dan menggunakan lebih dari 2 kelompok sampel tidak berpasangan dengan Pengujian data penelitian diperoleh hasil analisis sebagai berikut:
a. Hubungan keberadaan jentik Aedes aegypti dengan kejadian penyakit DBD Hasil pengujian hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara kepadatan jentik Aedes aegypti dengan kejadian penyakit DBD di wilayah Puskesmas Telaga Biru Tahun 2013 disajikan pada Table 4.1.4.1 Tabel 4.1.4.1 Hubungan Kepadatan Jentik Aedes aegypti Dengan Kejadian Penyakit DBD Di Wilayah Puskesmas Telaga Biru Tahun 2013 Kepadatan Jentik Kajadian DBD Menderita Tdk Menderita Jumlah DBD DBD n % n % n % ρ Value Padat 9 27,3 13 39.4 22 100 Tdk Padat 0 0 11 33,3 11 100 Jumlah 9 27,3 24 72,7 33 100 Sumber: Data Primer, 2013 0,013 Berdasarkan Tabel 4.1.4.1 diatas dapat diketahui bahwa yang menderita penyakit DBD ada 9 responden, dimana 9 (27,3 %) responden rumahnya ada jentik. Hasil uji statistic Chi Square menunjukkan bahwa ρ = 0,013 ( ρ < 0,05) Ho ditolak, artinya ada hubungan kepadatan jentik Aedes aegypti dengan kejadian penyakit DBD di wilayah Puskesmas Telaga Biru Tahun 2013, dam dilihat dari koefisien Phi = 6,188 termasuk kategori hubungan sangat kuat.
4.2 Pembahasan a. Karakteristik Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa 33 responden yang berkunjung di puskesmas diketahui umur responden terbanyak antara 1-10 tahun sebanyak 12 responden (36,4%). Hasil pengamatan/observasi dilapangan dari 33 responden diketahui bahwa alamat/tempat tinggal responden tebanyak di desa Tuladenggi yaitu 9 responden (27.3%). Hal ini menunjukkan bahwa di desa tersebut terjadi peningkatan penyakit DBD di periode tahun ini. Penyakit DBD dapat meningkat diakibatkan oleh faktor lingkungan yang kurang mendudukung, oleh sebab itu penyakit DBD sering muncul pada satu lingkungan yang radiusnya ± 100 meter sesuai dengan jarak terbang nyamuk Aedes aegypti b. Hubungan Kepadatan Jentik Aedes agypti Dengan Kejadian Penyakit DBD. Keberadaan jentik nyamuk yang hidup sangat memungkinkan terjadinya demam berdarah dengue. Jentik nyamuk yang hidup di berbagai tempat seperti bak air, atau hinggap di lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang, potongan bambu (Depkes RI, 2005). Virus dengue ini memiliki masa inkubasi yang tidak terlalu lama yaitu antara 3-7 hari, virus akan terdapat di dalam tubuh manusia (Sutaryo, 2005). Oleh kerena itu apabila keberadaan jentik nyamuk dibiarkan maka yang terjadi adalah kejadian demam berdarah dengue yang akan terus meningkat. Hasil penelitian mengenai kejadian DBD dengan kepadatan jentik Aedes aegypti pada House Index menunjukkan bahwa nilai ρ = 0,013. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga kepadatan jentik Aedes aegypti pada House Index mempunyai hubungan terhadap kejadian penyakit DBD di wilayah Puskesmas Telaga Biru
Tahun 2013. Dari beberapa tempat penampungan air yang dapat memungkinkan tempat berkembang biaknya jentik hasil observasi dilapangan bahwa jentik paling banyak di temukan yaitu pada tempat penampungan dispenser hasil tersebut dimungkinkan bahwa responden belum secara maksimal memutus rantai perkembangbiakan nyamuk dengan cara membasmi jentikjentik nyamuk dengan melakukan 3 M plus sehingga tidak sampai menjadi nyamuk dewasa. Kegiatan 3 M plus harus sering dilakukan oleh masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Penyebaran penyakit DBD dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti jumlah hari hujan, suhu dan kelembaban udara. Selain itu faktor lainnya yang mempengaruhi penyebaran penyakit ini adalah angka bebas jentik dan kepadatan penduduk. Lingkungan rumah merupakan keadaan lingkungan pemukiman seperti kepadatan rumah, keberadaan jentik dan kepadatan jentik sehingga jumlah kasus penyakit DBD cepat meningkat. Oleh sebab itu diharapkan kepada masyarakat untuk melakukan pecegahan dengan melinhat keadaan lingkungan sekitar, secara biologis yaitu memilihara ikan pemakan jentik, secara kimia yaitu dengan menggunakan insektisida pembasmi jentik (larvasida), dan dengan cara terpadu yaitu melaksanakan gerakan jumat bersih dengan program 3 M Plus yaitu menguras, menutup, mengubur/menimbung barang bekas. Jentik Aedes aegypti mempunyai habitat pada tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, drum air, tempayan, ember, kaleng bekas, vas bunga, botol bekas, potongan bambu, aksila daun, dan lubang-lubang yang berisi air jernih. Menurut pengamatan/observasi yang dilakukan yang dilakukan secara langsung dilapangan menunjukkan bahwa container yang berada bi dalam maupun diluar rumah banyak ditemukan jentik Aedes aegypti adalah tempat penampungan dispenser dan tempat penampungan kulkas di dalam rumah, dan diluar rumah
adalah gelas aqua yang dibuang sembarangan sehingga dapat menampung air hujan yang menjadi tempat perkembang biakan jentik. Angka bebas jentik tersebut merupakan salah satu indikator keberhasilan program pemberantasan vector penular DBD. sebagai indicator upaya pemberantasan vektor melalui pada container adalah gerakan PSN-3M menunjukan tingkat partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD. Rata-rata angka bebas jentik yang masih di bawah 95% menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat untuk mencegah penyakit DBD dengan cara 3M di lingkungannya masing-masing belum optimal, sehingga kasus DBD masih sering terjadi Hasil pengujian hipotesis memperlihatkan bahwa dari 33 rumah responden yang diperiksa ada jentik dengan responden menderita DBD sebanyak 9 rumah responden 27,3%. Hal ini dikarenakan masih banyak ditemukan jentik Aedes setiap kontainer yang diperiksa di dalam rumah responden saat dilakukan observasi dimana di setiap rumah memilik lebih dari satu container. Sehingga hal tersebut dapat menggambarkan bahwa penyakit demam berdarah dengue di wilayah Puskesmas Telaga Biru di sebabkan oleh kepadatan jentik Aedes aegypti yang ada pada kontainer. Hasil penelitian ini diperkuat dengan penelitian Sumekar (2007). Dalam penelitiannya tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes di Kelurahan Raja Basa. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa jentik Aedes di Kelurahan Raja Basa ada hubungan dengan kejadian DBD. Dan juga penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Trisna (Januari-April 2013) dalam penelitian Faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan penyakit DBD di wilayah Puskesmas Telaga Biru Periode januari-april 2013. Hasil penelitiannya, dari beberapa variable yang diteliti hanya keberadaan jentik yang ada hubungan dengan kejadian DBD di wilayah Puskesmas Telaga Biru.