UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta

dokumen-dokumen yang mirip
ABSTRAK. BENTUK PENYAJIAN TARI TOPENG LÉNGGÉR DI DESA GIYANTI KECAMATAN SELOMERTO KABUPATEN WONOSOSBO Oleh: Ela Purwanti

TARI SELOKA KUSUMAYUDA

dari pengalaman tertentu dalam karya seninya melainkan formasi pengalaman emosional yang bukan dari pikiranya semata. 2.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia terdiri dari banyak suku yang tersebar dari Sabang sampai

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

I PENDAHULUAN. Manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keberadaan

ANALISIS BENTUK DAN NILAI PERTUNJUKAN JARAN KEPANG TURANGGA SATRIA BUDAYA DI DESA SOMONGARI KECAMATAN KALIGESING KABUPATEN PURWOREJO

BAB V PENUTUP. hasil dari kreatufutas masyarakat di Desa Ngalang, kecamatan gedangsari,

Kata kunci: Wayang Topeng, pelatihan gerak, pelatihan musik, eksistensi.

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

FUNGSI KESENIAN LEDHEK DALAM UPACARA BERSIH DESA DI DUSUN KARANG TENGAH, DESA NGALANG, GEDANGSARI, GUNUNGKIDUL SKRIPSI

TAYUB NINTHING: TARI KREASI BARU YANG BERSUMBER PADA KESENIAN TAYUB

PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP UPACARA MERTI DESA DI DESA CANGKREP LOR KECAMATAN PURWOREJO KABUPATEN PURWOREJO

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat ditemui hal-hal

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Prastyca Ries Navy Triesnawati, 2013

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Bali secara umum memiliki peran di dalam keberlangsungan

BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEAGAMAAN DALAM UPACARA SEDEKAH BUMI. A. Analisis Pelaksanaan Upacara Sedekah Bumi

Pandangan Masyarakat Islam di Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang terhadap Kesenian Sintren

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Riau adalah rumpun budaya melayu yang memiliki beragam

BAB II SENI TARI DAN UNSUR VISUAL

WARISAN BUDAYA TAK BENDA KAB. MERANGIN, JAMBI TARI SAYAK & TARI PISANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV KESIMPULAN. putri menggunakan properti dhodhog. Tari Reog Dhodhog mulai dikenal oleh

BAB V PENUTUP. perkawinan Masyarakat Arab di Kota Medan kesimpulan sebagai berikut. a. Upacara Pernikahan Masyarakat Arab di Medan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP 3)

Kajian Folklor dalam Tradisi Guyang Jaran di Desa Karangrejo Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo

SENI TRADISI UJUNGAN PADA MASYARAKAT DESA GUMELEM WETAN KECAMATAN SUSUKAN KABUPATEN BANJARNEGARA

LENGGER GIYANTI KABUPATEN WONOSOBO : Dari Seni Tradisi ke Seni Wisata

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2012

ESTETIKA KESENIAN DANGSAK WATULAWANG Ari Setyawati

DAFTAR PERTANYAAN. 4. Bagaimana prosesi upacara sebelum kesenian Jonggan dilaksanakan?

1 I Made Bandem, Ensiklopedi Tari Bali, op.cit., p.55.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

Ebeg. Compiled as pptx by Fajar Fitrianto

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER YANG TERKANDUNG DALAM TARI TOPENG LENGGER KINAYAKAN DI DESA RECO, KECAMATAN KERTEK, KABUPATEN WONOSOBO SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Kota Medan merupakan salah satu kota terbesar yang terdapat di Indonesia,

LOMBA TARI KLASIK DAN KARAWITAN GAYA YOGYAKARTA Pemudaku Beraksi, Budayaku Lestari TINGKAT SMA/SMK DAN SEDERAJAT SE-DIY 2016

ESTETIKA TARI ANGGUK PUTRI Khoirunisa Jurusan Sendratasik - Fakultas bahasa dan seni Universitas negeri semarang. Abstrak

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Kesenian Angklung Buncis merupakan kesenian turun temurun yang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Sumedang merupakan kota yang kaya akan kebudayaan, khususnya dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA. temurun. Soedarsono mengungkapkan bahwa tari tradisional adalah semua. selalu bertumpu pada pola-pola tradisi yang ada.

I. PENDAHULUAN. Tari adalah gerak-gerak dari seluruh bagian tubuh manusia yang disusun selaras

ARTIKEL ILMIAH BAGIAN DARI TESIS

JURNAL KRUMPYUNG LARAS WISMA DI KECAMATAN KOKAP KABUPATEN KULON PROGO: KELANGSUNGAN DAN PERUBAHANNYA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Berbagai budaya masyarakat, adat istiadat dan kebiasaan yang dilakukan turun

A. LATAR BELAKANG MASALAH

TARI KURDHA WANENGYUDA

BAB II LANDASAN TEORI. tradisi slametan, yang merupakan sebuah upacara adat syukuran terhadap rahmat. dan anugerah yang diberikan oleh Allah SWT.

KRUMPYUNG LARAS WISMA DI KECAMATAN KOKAP KABUPATEN KULON PROGO: KELANGSUNGAN DAN PERUBAHANNYA. Skripsi

PENGARUH RESONATOR TERHADAP BUNYI NADA 3 SLENTHEM BERDASARKAN SOUND ENVELOPE. Agung Ardiansyah

DASAR-DASAR PENGETAHUAN BELAJAR KARAWITAN UNTUK ANAK SD

TARI MANGESTHI DALAM RANGKA DISKUSI DAN PELUNCURAN BUKU THE POLITIC OF OPENING CEREMONY

EKSISTENSI KESENIAN REOG WAYANG DI DUSUN GUNTURAN DESA TRIHARJO KECAMATAN PANDAK KABUPATEN BANTUL

BAB I PENDAHULUAN. kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum,

BENTUK PENYAJIAN TARI RAMPHAK DI SANGGAR RAMPOE BANDA ACEH ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

14 Alat Musik Tradisional Jawa Tengah, Gambar dan Penjelasannya

WAYANG TOPENG DALAM UPACARA SEDEKAH BUMI DESA SONEYAN KABUPATEN PATI. Riris Setyo Sundari Universitas PGRI Semarang

Petunjuk Teknis Pelaksanaan AKSARA 2017

3. Karakteristik tari

DESKRIPSI PENTAS TARI Sebagai Pengrawit (Pendukung Karawitan)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Musik merupakan simponi kehidupan manusia, menjadi bagian yang mewarnai kehidupan

Program Studi Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala *

BAB I PENDAHULUAN. Danandjaja (dalam Maryaeni 2005) mengatakan bahwa kebudayaan daerah

BAB I PENDAHULUAN. masuknya pengaruh Islam merupakan pelabuhan yang penting di pesisir utara

BAB IV PENUTUP. Kesenian Incling Krumpyung Laras Wisma di Kecamatan Kokap

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP 2 )

2. Fungsi tari. a. Fungsi tari primitif

BAB III HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. menarik. Dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan keindahan, manusia

JURNAL SENI TARI PERAN MASYARAKAT TERHADAP KESENIAN TAYUB DI DESA BEDINGIN KECAMATAN TODANAN KABUPATEN BLORA

BAB II KAJIAN PUSTAKA...

BENTUK DAN MAKNA SIMBOLIK KESENIAN KUBRO DI DESA BANGSRI KECAMATAN KAJORAN KABUPATEN MAGELANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Asti Purnamasari, 2013

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

TARI ADI MERDANGGA SIWA NATA RAJA LINGGA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB V KESIMPULAN. 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual. Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah

ini. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda, salah satunya di

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pepatah Jawa dinyatakan bahwa budaya iku dadi kaca benggalaning

2015 PERTUNJUKAN KESENIAN EBEG GRUP MUNCUL JAYA PADA ACARA KHITANAN DI KABUPATEN PANGANDARAN

DESKRIPSI TARI ADI MERDANGGA SIWA NATA RAJA TEDUNG AGUNG

TARI KENYA LENGGER KARYA MULYANI KABUPATEN WONOSOBO (KAJIAN KOREOGRAFI)

PERGESERAN MAKNA SENI TARI PRAJURITAN DESA TEGALREJO KECAMATAN ARGOMULYO

Pelestarian Kesenian Kuda Lumping oleh Paguyuban Sumber Sari di Desa Pandansari Kecamatan Sruweng Kabupaten Kebumen

BENTUK DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM TRADISI GUYUBAN BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA PASIR AYAH KEBUMEN

BAB IV PENUTUP. dijadikan jawaban atas pertanyaan peneliti yang diajukan diawal tentang

DESKRIPSI PENTAS TARI Sebagai Pengrawit (Pendukung Karawitan)

JSM 5 (2) (2016) JURNAL SENI MUSIK.

BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Jawa Barat yang lebih sering disebut sebagai Tatar Sunda dikenal

BAB 2 DATA DAN ANALISA

PENGARUH KEBUDAYAAN SUNDA DALAM KESENIAN EBEG DI KABUPATEN CILACAP JAWA TENGAH. (Kajian Antropologi-Sosiologi) ARTIKEL

BAB I PENDAHULUAN. lain termasuk teknologi, adat-istiadat, dan bentuk-bentuk pengungkapan

DESKRIPSI TARI TABUH TUAK OLEH : I Gede Oka Surya Negara,SST.,M.Sn

FUNGSI DAN BENTUK PENYAJIAN MUSIK KRUMPYUNG DI DESA HARGOWILIS KULON PROGO YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. cerdas, sehat, disiplin, dan betanggung jawab, berketrampilan serta. menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi misi dan visi

BAB I PENDAHULUAN. mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda-beda. Secara

UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta BAB IV KESIMPULAN. Di era yang kini semakin banyak seniman-seniman tari yang semakin kreatif

Transkripsi:

Gambar 2. sesaji dalam pementasan topeng Lengger (dok. Ela : Giyanti, 2015) Bentuk penyajian pertunjukan topeng Lengger dalam sebuah rangkaian upacara adat berbeda dengan sajian pertunjukan ketika dalam konteks hiburan atau tontonan saja. Hal ini bisa dilihat dari adanya sesaji sebelum pertunjukan topeng Lengger dimulai. Sesaji yang ada ditujukan sebagai tolak balak yang diharapkan agar dalam pelaksanaan nyadran tidak mendapatkan halangan atau gangguan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Berbeda dengan sajian topeng Lengger yang hanya dalam konteks tontonan semata, sesaji disini tidak memiliki peran penting dalam rangkaian pertunjukan. Pertunjukan topeng Lengger yang disajikan pada malam hari di dalam rangkaian adat nydran Giyanti hanya dipentaskan dengan singkat yang berisi 5-7 babak tarian. Tari topeng Lengger UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 47

Gambar 3. Arak-arakan (dok. Ela : Giyanti, 2015) usai acara arak-arakan semua warga berhenti pada satu pusat yaitu sanggar budaya desa. Tenong yang dibawa oleh ibu-ibu diletakkan berjajar di sepanjang jalan sanggar budaya. Kemudian sesepuh desa meletakkan sebuah sesaji di bawah pohon beringin yang ada di area sanggar. Sesaji ini ditujukan untuk syukuran desa atas keselamatan yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa. Rangkaian acara selanjutnya setelah memanjatkan doa adalah pertunjukan kesenian yang dimiliki oleh dusun Giyanti. Kerukunan umat bergama sangat terlihat jelas, dalam hal ini dapat dilihat melalui sajian kesenian yang ditampilkan. Pertunjukan UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 49

seni yang dipentaskan ada yang berupa garapan yang berbau Islami ataupun kesenian tradisi yang turun temurun. Toleransi umat bergama di Giyanti patut dijadikan contoh bagi seluruh umat beragama. Gambar 4. Rakanan tenongan (dok : Ela, Giyanti: 2015) 5. Peletakan Sesaji Perspektif antropologi sebuah tradisi yang dipengaruhi oleh budaya animisme serta terasa unsur-unsur primitifnya.4 Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa di dalam budaya prmitif terdapat kepercayaan animisme, dinamisme, dan totemisme yang tumbuh subur di dalam masyarakat. Dalam hubungan dengan kepercayaan animisme, mereka 4 126. Sumaryono, Restorasi Seni Tari dan Transformasi Budaya, 2003, Yogyakarta: Elkaphi, UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 50

beranggapan bahwa di dalam benda-benda alam seperti: gunung, batu, pohon, telaga, sungai, terdapat roh-roh yang menunggu. Hal ini dapat terlihat dalam rangkaian Nyadran (perayaan upacara sedekah bumi di bulan Sura) yaitu peletakan sesaji yang dilakukan di bawah pohon beringin yang diyakini masyarakat setempat sebagai pohon keramat. Sesaji dalam hal ini ditujukan sebagai wujud permohonan doa masyarakat atas segala nikmat yang telah dilimpahkan oleh Sang Maha Kuasa. Gambar 5. Tempat Peletakan Sesaji (dok: Ela, Giyanti, 2015) 6. Rakanan Nyadran ( Tenongan ) Rakanan nyadran : rakanan atau sering disebut rayahan tenongan, merupakan simbolisasi dari ucapan syukur semua warga masyarakat Giyanti, karena penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa mereka bisa hidup secara layak, hasil bumi melimpah, dan keamanan selalu terjaga. UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 51

Gambar 6. Rakanan Nyadran (Tenongan) (dok : Ela, Giyanti: 2015) 7. Pertunjukan seni pendukung a. Pertunjukan Émblék (kuda kepang) Pertunjukan Émblék biasanya dimulai pukul 13.00 WIB hingga menjelang petang, setelah usai acara rakanan nyadran. Émblék merupakan sebutan istilah kesenian kuda kepang oleh masyarakat Wonosobo pada umumnya. Tataran bentuk pertunjukan pada kuda kepang di Wonosobo awalnya identik dengan sembilan penari putra. Makna yang terkandung di dalam penyajian kuda kepang yang memilih sembilan penari putra terdapat dua pendapat. Pendapat yang UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 52

Gambar 7. Pertunjukan Emblék dalam rangkaian seni pendukung Nyadran (dok. Ela, Wonosobo: 2015) b. Pertunjukan Wayang Kulit Wayang kulit biasanya digelar selama dua hari dua malam, setelah acara bersih makam dan malam berikutnya. Mengenai pertunjukan wayang kulit sendiri tidak setiap tahun diadakan, hal ini dikarenakan berkaitan dengan dana yang dikelola oleh masyarakat. Wayang kulit biasanya diadakan setiap dua tahun sekali, untuk cerita yang dibawakan selalu berkaitan dengan adat ruwatan syura di Giyanti. Pertunjukan wayang kulit yang pertama dilaksanakan pada malam sebelum adat bersih desa, untuk malam yang kedua dilaksanakan pada malamnya usai adat ruwat bersih desa. Durasi yang diperlukan dalam pementasan wayang kulit adalah semalam suntuk, yang dimulai pukul 21.00 hingga pagi hari pukul 05.00 WIB. UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 54

Gambar 8. Pertunjukan Wayang Kulit Dalang Cilik Dalam pagelaran seni pendukung Nyadran (siang hari) (dok. Ela, Wonosobo:2015) c. Pertunjukan Tari Topeng Lengger Sebagai Tontonan Pertunjukan Lengger yang disajikan pada siang hari sebagai sajian tontonan atau hiburan biasanya dimulai pada pukul 13.00 WIB. Tari topeng Lengger yang dipertontonkan tidak hanya disajikan pada satu titik, melainkan dari dua bahkan lebih sesuai dengan banyak atau sedikitnya kelompok lenggeran yang diundang dalan adat nyadran. Bentuk penyajian yang ada sebagai tontonan ini berbeda dengan bentuk penyajian ketika pertunjukan tari topeng Lengger pada malam sebelumnya yang difungsikan sebagai sajian ritual. Pertunjukan Lengger sebagai seni tontonan biasanya disajikan setelah emblegan (kuda kepang). Rangkaian pertunjukan tari topeng Lengger ini tidak UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 55

jauh berbeda dengan Lengger yang malam sebelumnya, hanya saja babakan dalam pertunjukan yang membedakan. Gerak dalam pertunjukan tari topeng Lengger memang tidak memiliki pakem gerak, penari putri dan pengibing bergerak mengikuti gendhing yang dimainkan. Penari putri atau Lengger menari setelah pengibing masuk ke arena pertunjukan. Sajian tontonan Lengger ini hanya sebagai hiburan semata bagi penontonnya. adapun babakan yang disajikan adalah : Gambar 9. Lengger babakan Kinayakan (dok. Ela, Wonosobo: 2015) UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 56

Gambar 10. Lengger babakan Sontoloyo (dok. Ela, Wonosobo: 2015) Gambar 11. Lengger babakan Gondang Keli (dok, Ela, Wonosobo: 2015) Makna yang terkandung dalam tai topeng Lengger yang dilaksanakan pada malam hari sebelum perayaan upacara adat nyadran adalah bermaksud untuk mempererat rasa kekeluargaan, tolong menolong, memperkuat persatuan dengan membangun hidup dalam masyarakat, selain itu pertunjukan tersebut bertujuan agara warga masyarakat prihatin dengan lek-lek an (begadang hingga tengah malam) untuk tirakatan menyambut perayaan nyadran keesokan harinya. UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 57

Gambar 12. Beberapa penari putri yang memerankan karakter putra dalam tari tombak (foto : Harry, 2016) Aspek jumlah penari dalam tari topeng Lengger saat ini beragam sesuai dengan ketentuan masing-masing paguyuban. Paguyuban yang menjadi objek peneliti ini adalah paguyuban Rukun Putri Budaya yang dipimpin oleh Dwi Pranyoto. Jumlah penari dan anggota dalam paguyuban ini kurang lebihnya 35 anggota yang berprofesi sebagai petani, pelajar, buruh, dan pegawai. Jumlah penari putri (penari lengger) 10 orang, penari putra 10 orang, pemain musik (pengrawit) 10 orang. Penari lengger khususnya tidak hanya berasal dari desa Giyanti saja, akan tetapi penari Lengger di paguyuban Rukun Putri Budaya ini berasal dari berbagai desa yang masih warga Wonosobo. Pertunjukan tari topeng Lengger dalam bentuk penyajiannya pada bagian lenggeran penari memiliki peran yang berbeda. Penari putri dalam pertunjukan ini disebutkan sebagai penari Lengger yang dalam ceritanya sebagai penggambaran penyamaran Panji Asmara Bangun. Kesenian ini diangkat berdasarkan cerita UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 72

Gambar 13. Penggambaran peran penari topeng Lengger massa sekarang Penari putri (penari lengger), Penari putra (penari topeng) (dok. Ela, 2015) 4) Aspek Iringan Pemahaman secara artistik bahwa tari harus diiringi dengan musik, penata tari menyadari bahwa tari dan musik saling berkaitan. Ketika membahas konsep waktu sebagai elemen setetis koreografi telah dibicarkan panjang lebar; intinya bahwa dalam pertunjukan tari, musik betul-betul sebagai pengiring, yaitu mengiring tari.12 Musik atau iringan dalam tari tidak hanya sekedar sebagai iringan saja, tetapi juga sebagai pelengkap tari yang sangat terkait, yang dapat menciptakan suasana yang diinginkan dan mendukung alur cerita. Iringan dalam tari topeng Lénggér menggunakan lancaran dengan laras slendro dan pelog. Macam gamelan yang dipakai adalah: Bonang Barung, Bonang Penerus, Demung, Saron, Peking, Kethuk Kenong, Gong, Bendhe, Kempul, 12 Y. Sumandiyo Hadi, Koreografi Bentuk-Teknik-Isi, Yogyakarta: Cipta Media, 2011, 115. UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 74

ditambahkan pensil alis untuk membuat godhég dan kumis. Aksesoris kepala yang dipakai adalah ikét yang merupakan ciri khas Wonosobo. 6) Aspek Tata busana Busana merupakan sesuatu yang terbuat dari bahan kain membentuk kostum yang bertujuan untuk menutupi bagian tubuh manusia. Busana tari adalah adalah sesuatu yang dipakai pada tubuh manusia untu kebutuhan pertunjukan tari dan biasanya menimbulkan kesan keindahan dan ciri khas daerah tari berasal. Pertunjukan tari topeng Lénggér menggunakan busana sebagai berikut: Penari Putri : jamang bulu, sumping, baju rompi / kemben, selendang mute, kain jarik, korset / stagen, sampur. Penari Putera : iket kepala, kain jarik, celan selutut (cinde/ bludru), bara samir, sabuk kamus, sampur, stagen, gelang tangan, baju (sorjan dengan gulon ster karakter gagah dan halus, baju rompi dengan kace untuk karakter keras). Gambar 14. Rias dan busana penari Lengger ( Dok. Ela : Giyanti, 2016 ) UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 80

gaya Wonosobopun mengalami akulturasi gaya dengan wujud topeng yang memiliki karakter gagah namun lucu. Dalam penyajiannya tari Lengger memiliki babak, dan dalam setiap babaknya tentu properti yang ada untuk kelengkapan menaripun juga berbeda. Gambar 16. Karakter topeng sebagai properti dalam pertunjukan Tari Topeng Lengger Wonosobo (dok. Ela, Wonosobo : 2015) Dokumentasi topeng di atas hanya menunjukkan mengenai wujud properti yang digunakan dalam tari topeng Lengger, akan tetapi tidak semua topeng yang ada dalam gambar dikenakan oleh penari topeng. Topeng yang digunakan sebagai properti hanya topeng yang dimainkan sesuai dengan gendhing yang dibawakan. Umumnya saat ini topeng yang diperankan hanya topeng Kinayakan, Sulasih, Gondang Keli, Rangu-rangu, Jangkrik Genggong, Bribil, dan Kebo Giro. UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 86