Gambar 2. sesaji dalam pementasan topeng Lengger (dok. Ela : Giyanti, 2015) Bentuk penyajian pertunjukan topeng Lengger dalam sebuah rangkaian upacara adat berbeda dengan sajian pertunjukan ketika dalam konteks hiburan atau tontonan saja. Hal ini bisa dilihat dari adanya sesaji sebelum pertunjukan topeng Lengger dimulai. Sesaji yang ada ditujukan sebagai tolak balak yang diharapkan agar dalam pelaksanaan nyadran tidak mendapatkan halangan atau gangguan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Berbeda dengan sajian topeng Lengger yang hanya dalam konteks tontonan semata, sesaji disini tidak memiliki peran penting dalam rangkaian pertunjukan. Pertunjukan topeng Lengger yang disajikan pada malam hari di dalam rangkaian adat nydran Giyanti hanya dipentaskan dengan singkat yang berisi 5-7 babak tarian. Tari topeng Lengger UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 47
Gambar 3. Arak-arakan (dok. Ela : Giyanti, 2015) usai acara arak-arakan semua warga berhenti pada satu pusat yaitu sanggar budaya desa. Tenong yang dibawa oleh ibu-ibu diletakkan berjajar di sepanjang jalan sanggar budaya. Kemudian sesepuh desa meletakkan sebuah sesaji di bawah pohon beringin yang ada di area sanggar. Sesaji ini ditujukan untuk syukuran desa atas keselamatan yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa. Rangkaian acara selanjutnya setelah memanjatkan doa adalah pertunjukan kesenian yang dimiliki oleh dusun Giyanti. Kerukunan umat bergama sangat terlihat jelas, dalam hal ini dapat dilihat melalui sajian kesenian yang ditampilkan. Pertunjukan UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 49
seni yang dipentaskan ada yang berupa garapan yang berbau Islami ataupun kesenian tradisi yang turun temurun. Toleransi umat bergama di Giyanti patut dijadikan contoh bagi seluruh umat beragama. Gambar 4. Rakanan tenongan (dok : Ela, Giyanti: 2015) 5. Peletakan Sesaji Perspektif antropologi sebuah tradisi yang dipengaruhi oleh budaya animisme serta terasa unsur-unsur primitifnya.4 Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa di dalam budaya prmitif terdapat kepercayaan animisme, dinamisme, dan totemisme yang tumbuh subur di dalam masyarakat. Dalam hubungan dengan kepercayaan animisme, mereka 4 126. Sumaryono, Restorasi Seni Tari dan Transformasi Budaya, 2003, Yogyakarta: Elkaphi, UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 50
beranggapan bahwa di dalam benda-benda alam seperti: gunung, batu, pohon, telaga, sungai, terdapat roh-roh yang menunggu. Hal ini dapat terlihat dalam rangkaian Nyadran (perayaan upacara sedekah bumi di bulan Sura) yaitu peletakan sesaji yang dilakukan di bawah pohon beringin yang diyakini masyarakat setempat sebagai pohon keramat. Sesaji dalam hal ini ditujukan sebagai wujud permohonan doa masyarakat atas segala nikmat yang telah dilimpahkan oleh Sang Maha Kuasa. Gambar 5. Tempat Peletakan Sesaji (dok: Ela, Giyanti, 2015) 6. Rakanan Nyadran ( Tenongan ) Rakanan nyadran : rakanan atau sering disebut rayahan tenongan, merupakan simbolisasi dari ucapan syukur semua warga masyarakat Giyanti, karena penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa mereka bisa hidup secara layak, hasil bumi melimpah, dan keamanan selalu terjaga. UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 51
Gambar 6. Rakanan Nyadran (Tenongan) (dok : Ela, Giyanti: 2015) 7. Pertunjukan seni pendukung a. Pertunjukan Émblék (kuda kepang) Pertunjukan Émblék biasanya dimulai pukul 13.00 WIB hingga menjelang petang, setelah usai acara rakanan nyadran. Émblék merupakan sebutan istilah kesenian kuda kepang oleh masyarakat Wonosobo pada umumnya. Tataran bentuk pertunjukan pada kuda kepang di Wonosobo awalnya identik dengan sembilan penari putra. Makna yang terkandung di dalam penyajian kuda kepang yang memilih sembilan penari putra terdapat dua pendapat. Pendapat yang UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 52
Gambar 7. Pertunjukan Emblék dalam rangkaian seni pendukung Nyadran (dok. Ela, Wonosobo: 2015) b. Pertunjukan Wayang Kulit Wayang kulit biasanya digelar selama dua hari dua malam, setelah acara bersih makam dan malam berikutnya. Mengenai pertunjukan wayang kulit sendiri tidak setiap tahun diadakan, hal ini dikarenakan berkaitan dengan dana yang dikelola oleh masyarakat. Wayang kulit biasanya diadakan setiap dua tahun sekali, untuk cerita yang dibawakan selalu berkaitan dengan adat ruwatan syura di Giyanti. Pertunjukan wayang kulit yang pertama dilaksanakan pada malam sebelum adat bersih desa, untuk malam yang kedua dilaksanakan pada malamnya usai adat ruwat bersih desa. Durasi yang diperlukan dalam pementasan wayang kulit adalah semalam suntuk, yang dimulai pukul 21.00 hingga pagi hari pukul 05.00 WIB. UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 54
Gambar 8. Pertunjukan Wayang Kulit Dalang Cilik Dalam pagelaran seni pendukung Nyadran (siang hari) (dok. Ela, Wonosobo:2015) c. Pertunjukan Tari Topeng Lengger Sebagai Tontonan Pertunjukan Lengger yang disajikan pada siang hari sebagai sajian tontonan atau hiburan biasanya dimulai pada pukul 13.00 WIB. Tari topeng Lengger yang dipertontonkan tidak hanya disajikan pada satu titik, melainkan dari dua bahkan lebih sesuai dengan banyak atau sedikitnya kelompok lenggeran yang diundang dalan adat nyadran. Bentuk penyajian yang ada sebagai tontonan ini berbeda dengan bentuk penyajian ketika pertunjukan tari topeng Lengger pada malam sebelumnya yang difungsikan sebagai sajian ritual. Pertunjukan Lengger sebagai seni tontonan biasanya disajikan setelah emblegan (kuda kepang). Rangkaian pertunjukan tari topeng Lengger ini tidak UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 55
jauh berbeda dengan Lengger yang malam sebelumnya, hanya saja babakan dalam pertunjukan yang membedakan. Gerak dalam pertunjukan tari topeng Lengger memang tidak memiliki pakem gerak, penari putri dan pengibing bergerak mengikuti gendhing yang dimainkan. Penari putri atau Lengger menari setelah pengibing masuk ke arena pertunjukan. Sajian tontonan Lengger ini hanya sebagai hiburan semata bagi penontonnya. adapun babakan yang disajikan adalah : Gambar 9. Lengger babakan Kinayakan (dok. Ela, Wonosobo: 2015) UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 56
Gambar 10. Lengger babakan Sontoloyo (dok. Ela, Wonosobo: 2015) Gambar 11. Lengger babakan Gondang Keli (dok, Ela, Wonosobo: 2015) Makna yang terkandung dalam tai topeng Lengger yang dilaksanakan pada malam hari sebelum perayaan upacara adat nyadran adalah bermaksud untuk mempererat rasa kekeluargaan, tolong menolong, memperkuat persatuan dengan membangun hidup dalam masyarakat, selain itu pertunjukan tersebut bertujuan agara warga masyarakat prihatin dengan lek-lek an (begadang hingga tengah malam) untuk tirakatan menyambut perayaan nyadran keesokan harinya. UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 57
Gambar 12. Beberapa penari putri yang memerankan karakter putra dalam tari tombak (foto : Harry, 2016) Aspek jumlah penari dalam tari topeng Lengger saat ini beragam sesuai dengan ketentuan masing-masing paguyuban. Paguyuban yang menjadi objek peneliti ini adalah paguyuban Rukun Putri Budaya yang dipimpin oleh Dwi Pranyoto. Jumlah penari dan anggota dalam paguyuban ini kurang lebihnya 35 anggota yang berprofesi sebagai petani, pelajar, buruh, dan pegawai. Jumlah penari putri (penari lengger) 10 orang, penari putra 10 orang, pemain musik (pengrawit) 10 orang. Penari lengger khususnya tidak hanya berasal dari desa Giyanti saja, akan tetapi penari Lengger di paguyuban Rukun Putri Budaya ini berasal dari berbagai desa yang masih warga Wonosobo. Pertunjukan tari topeng Lengger dalam bentuk penyajiannya pada bagian lenggeran penari memiliki peran yang berbeda. Penari putri dalam pertunjukan ini disebutkan sebagai penari Lengger yang dalam ceritanya sebagai penggambaran penyamaran Panji Asmara Bangun. Kesenian ini diangkat berdasarkan cerita UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 72
Gambar 13. Penggambaran peran penari topeng Lengger massa sekarang Penari putri (penari lengger), Penari putra (penari topeng) (dok. Ela, 2015) 4) Aspek Iringan Pemahaman secara artistik bahwa tari harus diiringi dengan musik, penata tari menyadari bahwa tari dan musik saling berkaitan. Ketika membahas konsep waktu sebagai elemen setetis koreografi telah dibicarkan panjang lebar; intinya bahwa dalam pertunjukan tari, musik betul-betul sebagai pengiring, yaitu mengiring tari.12 Musik atau iringan dalam tari tidak hanya sekedar sebagai iringan saja, tetapi juga sebagai pelengkap tari yang sangat terkait, yang dapat menciptakan suasana yang diinginkan dan mendukung alur cerita. Iringan dalam tari topeng Lénggér menggunakan lancaran dengan laras slendro dan pelog. Macam gamelan yang dipakai adalah: Bonang Barung, Bonang Penerus, Demung, Saron, Peking, Kethuk Kenong, Gong, Bendhe, Kempul, 12 Y. Sumandiyo Hadi, Koreografi Bentuk-Teknik-Isi, Yogyakarta: Cipta Media, 2011, 115. UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 74
ditambahkan pensil alis untuk membuat godhég dan kumis. Aksesoris kepala yang dipakai adalah ikét yang merupakan ciri khas Wonosobo. 6) Aspek Tata busana Busana merupakan sesuatu yang terbuat dari bahan kain membentuk kostum yang bertujuan untuk menutupi bagian tubuh manusia. Busana tari adalah adalah sesuatu yang dipakai pada tubuh manusia untu kebutuhan pertunjukan tari dan biasanya menimbulkan kesan keindahan dan ciri khas daerah tari berasal. Pertunjukan tari topeng Lénggér menggunakan busana sebagai berikut: Penari Putri : jamang bulu, sumping, baju rompi / kemben, selendang mute, kain jarik, korset / stagen, sampur. Penari Putera : iket kepala, kain jarik, celan selutut (cinde/ bludru), bara samir, sabuk kamus, sampur, stagen, gelang tangan, baju (sorjan dengan gulon ster karakter gagah dan halus, baju rompi dengan kace untuk karakter keras). Gambar 14. Rias dan busana penari Lengger ( Dok. Ela : Giyanti, 2016 ) UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 80
gaya Wonosobopun mengalami akulturasi gaya dengan wujud topeng yang memiliki karakter gagah namun lucu. Dalam penyajiannya tari Lengger memiliki babak, dan dalam setiap babaknya tentu properti yang ada untuk kelengkapan menaripun juga berbeda. Gambar 16. Karakter topeng sebagai properti dalam pertunjukan Tari Topeng Lengger Wonosobo (dok. Ela, Wonosobo : 2015) Dokumentasi topeng di atas hanya menunjukkan mengenai wujud properti yang digunakan dalam tari topeng Lengger, akan tetapi tidak semua topeng yang ada dalam gambar dikenakan oleh penari topeng. Topeng yang digunakan sebagai properti hanya topeng yang dimainkan sesuai dengan gendhing yang dibawakan. Umumnya saat ini topeng yang diperankan hanya topeng Kinayakan, Sulasih, Gondang Keli, Rangu-rangu, Jangkrik Genggong, Bribil, dan Kebo Giro. UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta 86