Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tersebut disebut AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). UNAIDS

ABSTRAK KORELASI ANTARA TOTAL LYMPHOCYTE COUNT DAN JUMLAH CD4 PADA PASIEN HIV/AIDS

ABSTRAK KELAINAN SISTEM SARAF PUSAT PADA PASIEN HIV/AIDS YANG DIRAWAT INAP DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI 2007 DESEMBER 2008

ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR

BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan agen penyebab Acquired

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang merupakan sindrom

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. dipengaruhi epidemi ini ditinjau dari jumlah infeksi dan dampak yang

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno

ABSTRAK. Kata kunci: HIV-TB, CD4, Sputum BTA

BAB I. PENDAHULUAN. infeksi Human Immunodificiency Virus (HIV). HIV adalah suatu retrovirus yang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala

ABSTRAK ANGKA KEJADIAN INFEKSI CACING DI PUSKESMAS KOTA KALER KECAMATAN SUMEDANG UTARA KABUPATEN SUMEDANG TAHUN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

4.6 Instrumen Penelitian Cara Pengumpulan Data Pengolahan dan Analisis Data Etika Penelitian BAB V.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 3 KERANGKA KONSEP. Gambar 3.1: Kerangka konsep tentang pola kelainan kulit pada pasien AIDS.

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA DENGUE HAEMORRAGIC FEVER DI RUMAH SAKIT IMMANUEL TAHUN 2011

Studi kasus pada pasien di RSUP Dr. Kariadi Semarang JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA

ABSTRAK PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA ANGKATAN 2010 TENTANG HIV/AIDS

ABSTRAK GAMBARAN KASUS HIV/AIDS DENGAN TUBERKULOSIS DI KABUPATEN MERAUKE TAHUN 2011

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian

BAB 1 PENDAHULUAN. Sel Cluster of differentiation 4 (CD4) adalah semacam sel darah putih

HUBUNGAN CRP (C-REACTIVE PROTEIN) DENGAN KULTUR URIN PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH PADA ANAK DI RSUP. HAJI ADAM MALIK TAHUN 2014.

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan salah satu. Penurunan imunitas seluler penderita HIV dikarenakan sasaran utama

ABSTRAK PREVALENSI DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015

KARYA TULIS ILMIAH PROFIL PASIEN HIV DENGAN TUBERKULOSIS YANG BEROBAT KE BALAI PENGOBATAN PARU PROVINSI (BP4), MEDAN DARI JULI 2011 HINGGA JUNI 2013

KARAKTERISTIK PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TUMINTING MANADO

BAB I PENDAHULUAN. tubuh manusia tersebut menjadi melemah. Pertahanan tubuh yang menurun

BAB I PENDAHULUAN UKDW. tubuh manusia dan akan menyerang sel-sel yang bekerja sebagai sistem kekebalan

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS PERIODE JANUARI 2013 DESEMBER : Triswaty Winata, dr., M.Kes.

PREVALENSI DAN KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN Oleh : ANGGIE IMANIAH SITOMPUL

Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X

2016 GAMBARAN MOTIVASI HIDUP PADA ORANG DENGAN HIV/AIDS DI RUMAH CEMARA GEGER KALONG BANDUNG

ABSTRAK ASPEK KLINIK PEMERIKSAAN ANTIGEN NS-1 DENGUE DIBANDINGKAN DENGAN HITUNG TROMBOSIT SEBAGAI DETEKSI DINI INFEKSI DENGUE

Gambaran status kebersihan gigi dan mulut pada pengidap HIV/AIDS di Yayasan Batamang Plus Manado

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1 kedokteran umum

Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X

Universitas Sumatera Utara

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT SPIRITUALITAS DENGAN TINGKAT KUALITAS HIDUP PADA PASIEN HIV/AIDS DI YAYASAN SPIRIT PARAMACITTA DENPASAR

GAMBARAN PENDERITA DENGUE HAEMORRAGIC FEVER DI RUMAH SAKIT IMMANUEL JANUARI DESEMBER 2011

Profil Manifestasi Klinis dan Spesies Penyebab Dermatofitosis pada Pasien HIV

Intisari. Kata kunci:kadar CD4, Infeksi Oportunistik dan HIV/AIDS

DAFTAR ISI Halaman COVER... i SAMPUL DALAM... ii LEMBAR PENGESAHAN... iii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iv PERNYATAAN KEASLIAN... v ABSTRAK...

BAB I PENDAHULUAN. Immuno Deficiency Syndrom) merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1 kedokteran umum

ABSTRAK. Aisyah,2012; Pembimbing I : Dr. Savitri Restu Wardhani,dr.SpKK Pembimbing II: dr. Hartini Tiono, M.Kes

KORELASI ANTARA TOTAL LYMPHOCYTE COUNT DAN CD4 COUNT PADA PASIEN HIV/AIDS

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Prosiding SNaPP2011 Sains, Teknologi, dan Kesehatan

1 Universitas Kristen Maranatha

UNIVERSITAS INDONESIA


ABSTRAK PREVALENSI TUBERKULOSIS PARU DI RUMAH SAKIT PARU ROTINSULU BANDUNG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2007

GAMBARAN NILAI MANTOUX TEST PADA ANAK DENGAN RIWAYAT KONTAK DENGAN ORANG DEWASA SATU HUNIAN YANG MENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PADANG BULAN, MEDAN

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI

POLA PENYAKIT KULIT PADA PASIEN HIV/AIDS DIHUBUNGKAN DENGAN KADAR CD4 DI RUMAH SAKIT H. ADAM MALIK MEDAN OLEH : RO RABIAN REIN ROZA TAMPUBOLON

TINJAUAN TENTANG HIV/AIDS

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

GAMBARAN KANKER PAYUDARA BERDASARKAN STADIUM DAN KLASIFIKASI HISTOPATOLOGI DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN

LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH. Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian hasil Karya Tulis Ilmiah mahasiswa program strata-1 kedokteran umum

BAB I PENDAHULUAN. Immunodeficiency Syndrome) merupakan salah satu penyakit infeksi yang

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT KANKER OVARIUM DI RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE JANUARI 2011-DESEMBER 2011

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. helper Cluster of Differentiation 4 (CD4) positif dan makrofag),

ABSTRAK PREVALENSI KARSINOMA SERVIKS DI RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE JANUARI - DESEMBER 2009

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP DAN PENERIMAAN KELUARGA PENDERITA HIV/AIDS TERHADAP PENDERITA HIV/AIDS DI RUMAH SAKIT HAJI ADAM MALIK, MEDAN.

BAB I PENDAHULUAN. berhasil mencapai target Millenium Development Goal s (MDG s), peningkatan

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

ABSTRACT. CHARACTERISTICS OF CERVICAL CARCINOMA AT HASAN SADIKIN HOSPITAL BANDUNG in 1 JANUARY DECEMBER 2010

BAB I PENDAHULUAN. bahkan negara lain. Saat ini tidak ada negara yang terbebas dari masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PREVALENSI TERJADINYA TUBERKULOSIS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS (DI RSUP DR.KARIADI SEMARANG) LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

SKRIPSI GAMBARAN DERMATITIS ATOPIK PADA ANAK USIA 0-12 TAHUN YANG TERPAPAR ASAP ROKOK DI RUMAH SAKITGOTONG ROYONG SURABAYA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. menjadi prioritas dan menjadi isu global yaitu Infeksi HIV/AIDS.

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA MALARIA DI KABUPATEN SUKABUMI PERIODE JANUARI-DESEMBER 2011

INSIDENSI HEPATITIS B PADA PASIEN HIV- AIDS DI KLINIK VCT PUSYANSUS RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN DARI JANUARI TAHUN DESEMBER TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tahun 2013 menjelaskan. HIV atau Human Immunodefisiensi Virus merupakan virus

BAB 1 PENDAHULUAN. mempengaruhi masyarakat dalam cara mendeteksi dini penyakit HIV.

BAB I PENDAHULUAN. sistem kekebalan tubuh dan biasanya menyerang sel CD4 ( Cluster of

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama sel T CD-4

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

KARAKTERISTIK PENDERITA DERMATITIS ATOPIK DI POLIKLINIK RSUP DR. KARIADI SEMARANG LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan

ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PASIEN RAWAT INAP DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2012

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENDERITA TUBERKULOSIS TERHADAP KETIDAKPATUHAN DALAM PENGOBATAN MENURUT SISTEM DOTS DI RSU

ABSTRAK GAMBARAN KANKER SERVIKS DI RUMAH SAKIT PIRNGADI MEDAN PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEMERIKSAAN LABORATORIUM INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS PADA BAYI DAN ANAK

ABSTRAK BEBERAPA FAKTOR YANG MENUNJUKKAN TINGKAT KEPARAHAN PENYAKIT HIV/AIDS DI RUMAH SAKIT X KOTA BATAM TAHUN 2010

BAB 1 PENDAHULUAN. Sasaran pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs)

Transkripsi:

Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Angka Kejadian Penyakit Kulit Primer dan Kaitannya dengan Hitung CD4 pada Penderita HIV/AIDS Baru di Klinik Teratai Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2015 Incidence Primary Skin Diseases and Its Relation with CD4 Count In New HIV/AIDS Patients at Clinic Teratai Dr. Hasan Sadikin Bandung in 2015 1 Izdihar Hanifah, 2 Tony S. Djajakusumah, 3 Eka Hendryanny 1 Prodi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung 2 Guru Besar, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung 3 Departemen Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung Jl. Tamansari No.1 Bandung 40116 email : 1 izdiharhanifah02@gmail.com, 2 Tonydjajakusumah@yahoo.com, 3 eka_hendryanny@yahoo.com Abstract. Human immunodeficiency virus (HIV) infection is a major health problem worldwide. There is an increase in the number of HIV-infected person in Indonesia and the reported cumulative number of the HIV-infected individuals by the first half of 2015 was 177.463 cases with approximately 90% of patients with skin disease. CD4 count is clinically used as the marker in progression of HIV infection in individuals with AIDS. The study was conducted to measure the incidence of several primary skin disorders and its correlation with CD4 count in patients primarily infected by HIV/AIDS in Klinik Teratai RSHS in 2015. The research design was a cross-sectional descriptive. The medical record from Klinik Teratai RSHS Bandung was collected and used as a data source. The sample of the study was the patient primarily infected by HIV/AIDS infection who is diagnosed with primary dermatological disorder in Klinik Teratai RSHS Bandung in 2015. The result of this study showed that the frequency of dermatological manifestation were found in 75 cases and secondary skin infection is more dominant than primary skin infection. Primary skin disorder found in this study are drug eruption, papular pruritic eruption (PPE), rubella, utricaria and xerosis. The most frequent primary skin disorder diagnosed in this study was PPE for as much as 18 cases (75%) with CD4 count <100 cell/ mm 3, the less frequent was rubella, 1 case (4,2%) with CD4 count <100 cell/mm 3 and xerosis, 1 case (4.2%) with CD4 count <100 cell/mm 3. The study concluded that primary skin disorder is more dominant than secondary skin disorder in individual primarily infected by HIV/AIDS infection and occurs in a broad spectrum and low CD4 count. Keywords : CD4 Count, HIV/AIDS Patients, Primary Skin Disorder Abstrak. Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Di Indonesia, penderita yang terinfeksi HIV terus meningkat jumlahnya dan jumlah kumulatif infeksi yang dilaporkan sampai dengan triwulan II tahun 2015 adalah sebanyak 177.463 kasus dengan sekitar 90% penderita terkena peyakit kulit. Secara klinis digunakan hitung jumlah limfosit CD4 sebagai penanda progresivitas infeksi HIV pada penderita AIDS. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui angka kejadian terjadinya berbagai penyakit kulit primer dan kaitannya dengan hitung CD4 pada penderita HIV/AIDS baru di Klinik Teratai RSHS Bandung pada tahun 2015. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan metode cross sectional. Penelitian dilakukan di Klinik Teratai RSHS Bandung dengan data rekam medik dijadikan sebagai sumber data penelitian. Sampel yang digunakan adalah penderita infeksi HIV/AIDS baru yang terdiagnosis memiliki penyakit kulit primer di Klinik Teratai RSHS Bandung pada tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian penyakit kulit sebanyak 75 kasus, dengan kasus penyakit kulit sekunder lebih banyak daripada penyakit kulit primer. Diagnosis penyakit kulit primer yang ditemukan yaitu drug eruption, pruritic popular eruption (PPE), rubela, urtikaria, dan xerosis. Penyakit kulit primer yang menduduki posisi pertama terbanyak adalah PPE (75.0%) dengan nilai hitung CD4 <100 sel/mm 3 serta yang paling sedikit yaitu rubela dan xerosis (4.2%) dengan nilai hitung CD4 <100 sel/mm 3. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa angka kejadian penyakit kulit primer pada pasien HIV/AIDS baru hanya sedikit jika dibandingkan dengan penyakit kulit yang sekunder, serta dapat muncul dalam spektrum yang luas dan nilai hitung CD4 yang rendah. Kata Kunci: Hitung CD4, Pasien HIV/AIDS Baru, Penyakit Kulit Primer 963

964 Izdihar Hanifah, et al. A. Pendahuluan Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia. HIV merupakan virus RNA yang termasuk ke dalam kelas retrovirus (Kemenkes,2003). Penderita dengan infeksi HIV memiliki risiko yang lebih besar pula untuk mengalami berbagai macam kelainan kulit, seperti psoriasis vulgaris, efek samping penggunaan obat, dan berbagai kelainan yang disebabkan oleh infeksi dan inflamasi (Dover JS, Johnshon RA,1991). Secara klinis digunakan hitung jumlah limfosit CD4 sebagai penanda progresivitas infeksi HIV pada penderita AIDS. CD4 adalah glikoprotein yang ditemukan pada permukaan sel-sel kekebalan tubuh seperti sel T helper, monosit, makrofag, dan sel dendritik (WHO,2014). Orang yang tidak terinfeksi HIV dan umumnya berada dalam kesehatan yang baik memiliki sekitar 800 sampai 1.200 sel/mm 3 (NIAID, 2009). Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka tujuan dalam penelitian ini diuraikan dalam pokok-pokok sbb. 1. Mengetahui angka kejadian berbagai penyakit kulit primer pada penderita HIV/AIDS baru di Klinik Teratai RSHS Bandung pada tahun 2015. 2. Mengetahui jumlah hitung CD4 saat terjadinya berbagai penyakit kulit HIV primer pada penderita HIV/AIDS baru di Klinik Teratai RSHS Bandung pada tahun 2015. 3. Mengetahui spektrum penyakit kulit HIV primer pada penderita HIV/AIDS baru di Klinik Teratai RSHS Bandung pada tahun 2015. B. Landasan Teori Kelainan kulit merupakan gejala klinis yang menonjol dan mudah dikenali pada HIV/AIDS. Manifestasi kulit pada penderita AIDS berperan sebagai tanda dari progresivitas, sebuah fakta yang meningkatkan pentingnya pemahaman patogenesisnya (Cedeno-Laurent F, Gomez Flores M, dkk.). Kelainan kulit yang berhubungan dengan infeksi HIV dapat diklasifikasikan sebagai primer dan sekunder. Patogenesis dari berbagai manifestasi kulit tidak sepenuhnya dimengerti, dan tidak hanya diakibatkan oleh penurunan sel T CD4 tapi juga dapat dipengaruhi oleh profil sitokin Th2, mimikri molekular, dan ekspresi lebih dari super antigen/xenobiotik berperan dalam perkembangan lesi kulit pada infeksi HIV. Penderita AIDS menunjukan tanda penurunan jumlah dan fungsi dari sel Langerhans, CD4, sel NK, makrofag, dan sel monosit. Adanya kontak fisik Antara HIV 1 sel dendritik dengan Sel T CD4 dalam konteks presentasi antigen dan menyebabkan replikasi masif virus sehingga terjadi sitolitis pada kedua jenis sel. Pada saat ini keadaan imunokompromis pada kulit dapat dipakai untuk memonitor progresivitas penyakit. Konsekuensi dari menurunnya antigen presenting dan Sel T CD4, kulit menjadi rentan terhadap berbagai infeksi oportunistik lain oleh agen infeksi dan keganasan (Cedeno-Laurent F, Gomez Flores M, dkk.) Siklus hidup HIV berawal dari infeksi sel, produksi DNA virus dan integrasi ke dalam genom, ekspresi gen virus dan produksi partikel virus. Virus menginfeksi sel dengan menggunakan glikoprotein envelop yang disebut gp120 (120kD glikoprotein) yang terutama mengikasel T CD4 dan reseptor kemokin (CXCR4 dan CCR5) dari sel manusia. Oleh karena itu virus hanya menginfeksi dengan efisien sel CD4. Makrofag dan sel dendritik juga dapat terinfeksi (Karnen Garna Baratawidjaja, Iris Rengganis, 2014). Kelainan kulit primer yang disebabkan oleh HIV/AIDS diantaranya adalah Volume 2, No.2, Tahun 2016

Angka Kejadian Penyakit Kulit Primer dan Kaitannya dengan Hitung CD4 965 dermatitis seboroik, xerosis, dermatitis atopik, psoriasis, folikulitis eosinofilik, penyakit kulit lainnya, dan kelainan kulit akibat reaksi obat (Kemenkes, 2003). C. Hasil Penelitian dan Pembahasan Jenis Penyakit Kulit Primer dan Hitung CD4 Tabel 1. Penyakit Kulit Primer dan Hitung CD4 Penderita HIV/AIDS Baru Di Klinik Teratai RSHS Bandung Pada tahun 2015 CD4 n % <100 15 62.5 100 200 4 16.7 201 500 4 16.7 >500 1 4.2 Total 24 100.0 Sumber: Data Penelitian yang Sudah Diolah, 2016. Berdasarkan tabel diatas dari 24 orang dengan jenis penyakit kulit primer menunjukkan bahwa jumlah terbesar yaitu 15 orang dengan nilai hitung CD4 kurang dari 100 sel/mm 3 (62.5%), sebanyak 4 orang dengan nilai hitung CD4 antara 100-200 sel/mm 3 (16.7%), sebanyak 4 orang dengan nilai hitung CD4 antara 201-500 sel/mm 3 (16.7%%), dan sebanyak 1 orang dengan nilai hitung CD4 diatas 500 sel/mm 3 (4.2%) Tabel 2. Spektrum Penyakit Kulit dan Hitung CD4 Penyakit Kulit Primer Pada Penderita HIV/AIDS Baru Di Klinik Teratai RSHS Bandung Pada tahun 2015 Penyakit Kulit Primer Hitung CD4 <100 100-200 201-500 >500 Total n % n % n % n % n % Drug Eruption 0 0.0 1 4.2 1 4.2 0 0.0 2 8.3 PPE 11 45.8 3 12.5 3 12.5 1 4.2 18 75.0 Rubela 1 4.2 0 0.0 0 0.0 0 0.0 1 4.2 Urtikaria 2 8.3 0 0.0 0 0.0 0 0.0 2 8.3 Xerosis 1 4.2 0 0.0 0 0.0 0 0.0 1 4.2 Total 15 62.5 4 16.7 4 16.4 1 4.2 24 100.0 Tabel diatas memperlihatkan dari 24 orang dengan jenis penyakit kulit primer menunjukkan bahwa jumlah terbesar diagnosis penyakit yang diperoleh pada penelitian ini adalah 18 orang dengan diagnosis penyakit PPE (75.0%). Sedangkan sebanyak 2 orang dengan diagnosis penyakit drug eruption (8.3%), sebanyak 1 orang dengan diagnosis penyakit rubella (4.2%), sebanyak 2 orang dengan diagnosis penyakit urtikaria (8.3%), dan sebanyak 1 orang dengan diagnosis penyakit xerosis (4.2%). Penyakit kulit merupakan suatu masalah yang dapat terjadi pada penderita HIV positif dengan tampilan yang bervariasi dalam manifestasinya (Wiwanitkit V, 2004). Penyakit kulit primer yang terdiagnosis pada penderita HIV/AIDS baru di Klinik Teratai RSHS Bandung pada tahun 2015 berjumlah 24 orang dari 75 orang yang Pendidikan Dokter, Gelombang 2, Tahun Akademik 2015-2016

966 Izdihar Hanifah, et al. menderita penyakit kulit. Manifestasi klinis yang terjadi pada kulit merupakan indikator klinis pada penderita infeksi HIV dan ada hubungan antara timbulnya berbagai kelainan kulit dengan hitung CD4 pada orang yang terinfeksi HIV (Kumarasamy N, Solomon S, dkk., 2000). Data terbesar yang diperoleh pada penelitian ini adalah sebanyak 15 orang dengan penyakit kulit primer memiliki nilai hitung CD4 kurang dari 100 sel/mm 3 (62.5%) dan 1 orang dengan nilai hitung CD4 diatas 500 sel/mm 3 (4.2%), sehingga dapat terlihat bahwa untuk nilai hitung CD4 pada penderita infeksi HIV/AIDS baru dengan penyakit kulit primer sudah banyak yang dibawah 100 sel/mm 3 sedangkan jika penderita dengan hitung CD4 dibawah 100 sel/mm 3 dalam perjalanan penyakit infeksi HIV sudah masuk dalam tahap akhir, ditandai dengan kehancuran pertahanan pejamu, peningkatan viremia, serta penyakit klinis. 20 Penyakit kulit primer pada penderita HIV/AIDS dapat meningkatkan diagnosis dini infeksi HIV dan biasanya disertai dengan hitung CD4 yang masih tinggi, tetapi dalam penelitian ini ditemukan bahwa saat terjadi penyakit kulit primer memperlihatkan hitung CD4 yang rendah, disini mungkin dapat diduga akibat dari awal munculnya penyakit kulit primer tersebut tidak terdiagnosis sejak dini sehingga saat ditemukan sudah dalam jumlah hitung CD4 yang rendah. Diagnosis penyakit kulit primer yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu drug eruption, PPE, rubela, urtikaria, dan xerosis dengan data terbanyak kejadian penyakit kulit primer yang terdiagnosis pada penelitian ini adalah sebanyak 18 orang dengan diagnosis penyakit PPE (75.0%) dengan nilai hitung CD4 <100 sel/mm 3, dan yang paling sedikit yaitu 1 orang dengan diagnosis penyakit rubela (4.2%) dengan nilai hitung CD4 <100 sel/mm 3 dan 1 orang dengan diagnosis xerosis (4.2%) dengan nilai hitung CD4 <100 sel/mm 3. Hasil tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan di RSHS pada tahun 2014, yaitu penyakit kulit primer yang paling banyak terdiagnosis pada penderita HIV/AIDS adalah PPE. Salah satu penelitian luar negeri menunjukkan penyakit kulit yang sangat sering ditemukan pada penderita HIV/AIDS yaitu acne, infeksi staphylococcal, erythema nodosum, dermatitis atopik, psoriasis, dan dermatitis seboroik (Cedeno-Laurent F, Gomez Flores M, dkk.). D. Kesimpulan Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian di Klinik Teratai RSHS Bandung, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Angka kejadian penyakit kulit primer pada penderita HIV/AIDS baru di klinik teratai RSHS Bandung pada tahun 2015 sebanyak sebanyak 24 orang. 2. Hitung CD4 pada penyakit kulit primer penderita HIV/AIDS baru ditemukan pada 15 orang memiliki nilai hitung CD4 kurang dari 100 sel/mm 3 (62.5%) dan 1 orang nilai hitung CD4 diatas 500 sel/mm 3 (4.2%). 3. Spektrum penyakit kulit primer yang ditemukan pada penderita HIV/AIDS baru yaitu drug eruption, PPE, rubella, urtikaria, dan xerosis dengan penyakit kulit primer terbanyak yaitu PPE (75%) dengan nilai hitung CD4 <100 sel/mm 3. E. Saran Saran Teoritis 1. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk melakukan penelitian lain dengan menggunakan variabel lain, dapat berupa usia, stadium penyakit HIV/AIDS atau diagnosis penyakit lainnya. 2. Penelitian selanjutnya disarankan mengambil data rekam medis dalam kurun waktu yang lebih lama sehingga penelitian dapat lebih menggambarkan Volume 2, No.2, Tahun 2016

Angka Kejadian Penyakit Kulit Primer dan Kaitannya dengan Hitung CD4 967 populasi sebenarnya. 3. Penelitian selanjutnya disarankan untuk dilakukan secara prospektif agar hasil yang dilaporkan lebih menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Saran Praktis Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada tenaga medis bahwa pemeriksaan kulit untuk penderita HIV/AIDS itu sangat penting dan diharapkan untuk selalu menuliskan hasil temuan pemeriksaan kulit pada setiap penderita HIV/AIDS dengan baik. Daftar Pustaka Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman nasional perawatan, dukungan dan pengobatan bagi ODHA. Direktur jenderal PPM dan PL. 2003. Dover JS, Johnson RA: Cutaneous manifestations of human immunodeficiency virus infection. Part I. Arch Dermatol 127:1383-1391, 1991. Dover JS, Johnson RA: Cutaneous manifestations of human immunodeficiency virus infection. Part II. Arch Dermatol 127:1549-1558, 1991. World Health Organization. Global update on the health sector response to HIV. WHO; 2014. hlm. 5 National Institute of Allergy and Infectious Disease. How HIV causes AIDS. HIV/AIDS.2012.[Diunduh 20 Januari 2016] Tersedia dari : URL : http://www.niaid.nih.gov/topics/hivaids/understanding/howhivcausesaids/pages/ cause.aspx Cedeno-Laurent F, Gomez-Flores M, Mendez N, Ancer-Rodriguez J, Bryant J L, Gaspari A A, Trujillo J R. New insight into HIV-1-primary skin disorders. Journal of the international AIDS society. 2011; 3 7. Karnen Garna Baratawidjaja, Iris Rengganis. Imunologi Dasar. Edisi ke-11. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2014. Wiwanitkit V. Prevalence of dermatological disorders in Thai HIV-infected patients correlated with different CD4 lymphocyte count statuses: A note on 120 cases. Int J Dermatol 2004;43(4):265-8. Kumarasamy N, Solomon S, Madhivanan P, Ravikumar B, Thyagarajan SP, Yesudian P. Dermatologic manifestation among human immunodeficiency virus patients in south India. Int J Dermatol 2000;39(3):192-5. Pendidikan Dokter, Gelombang 2, Tahun Akademik 2015-2016