BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Badan Standardisasi Nasional (2010) papan partikel merupakan

RINGKASAN. V) dan sifat pernesinan. Sehingga diperlukan upaya perbaikan kualitas yang sesuai.

TINJAUAN PUSTAKA. sedangkan diameternya mencapai 1 m. Bunga dan buahnya berupa tandan,

TINJAUAN PUSTAKA. Adapun taksonomi tanaman kelapa sawit menurut Syakir et al. (2010) Nama Elaeis guineensis diberikan oleh Jacquin pada tahun 1763

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi dan Potensi Tanaman Kelapa Sawit. Menurut Hadi (2004) pengklasifikasian kelapa sawit

TINJAUAN PUSTAKA. perabot rumah tangga, rak, lemari, penyekat dinding, laci, lantai dasar, plafon, dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. ( Jamilah, 2009 ). Menurut Direktorat Bina Produksi Kehutanan (2006) bahwa

ALAT KOMPREGNASI UNTUK PENINGKATAN MUTU KAYU BATANG KELAPA SAWIT

BAB I PENDAHULUAN. Untuk memenuhi kebutuhan industri perkayuan yang sekarang ini semakin

TINJAUAN PUSTAKA. kambium dan umumnya tidak bercabang. Batang sawit berbentuk silinder dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. Kelapa Sawit yang sudah tidak produktif. Indonesia, khususnya Sumatera Utara,

METODE PENELITIAN. Fakultas Kehutanan Univesitas Sumatera Utara Medan. mekanis kayu terdiri dari MOE dan MOR, kerapatan, WL (Weight loss) dan RS (

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia dari tahun seluas 8,91 juta

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Indonesia merupakan negara penghasil ubi kayu terbesar ketiga didunia

BAB III METODE PENELITIAN. sesuai dengan SNI no. 03 tahun 2002 untuk masing-masing pengujian. Kayu tersebut diambil

PENDAHULUAN. Indonesia menyebabkan industri kehutanan mengalami krisis bahan baku.

TINJAUAN PUSTAKA. Batang kelapa sawit mempunyai sifat yang berbeda antara bagian pangkal

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. bahan baku industri terus meningkat jumlahnya, akan tetapi rata-rata pertumbuhan

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENGUJIAN SIFAT FISIS PAPAN DARI CAMPURAN LIMBAH SERAT BATANG KELAPA SAWIT DAN SERBUK KAYU INDUSTRI DENGAN PEREKAT POLIESTER

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Studi Awal Pembuatan Komposit Papan Serat Berbahan Dasar Ampas Sagu

BAB I PENDAHULUAN. meningkat. Hampir setiap produk menggunakan plastik sebagai kemasan atau

TINJAUAN PUSTAKA. kingdom plantae, divisi spermatophyta, subdivisi angiospermae, kelas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. tinggi. Tingginya kadar air dan parenkim pada KKS, berakibat sifat fisik dan mekanik

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Kelapa sawit memiliki umur ekonomis 25 tahun, setelah umur 26 tahun

Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Nangka sebagai Bahan Baku Alternatif dalam Pembuatan Papan Partikel untuk Mengurangi Penggunaan Kayu dari Hutan Alam

BAB I PENDAHULUAN. jadikan sumber pendapatan baik bagi negara ataupun masyarakat. Kayu dapat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar belakang. mebel dan lain sebagainya. Tingginya kebutuhan manusia akan kayu tersebut

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

SIFAT FISIS MEKANIS PAPAN PARTIKEL DARI LIMBAH KAYU GERGAJIAN BERDASARKAN UKURAN PARTIKEL

TINJAUAN PUSTAKA. struktural seperti papan pelapis dinding (siding), partisi, plafon (celing) dan lis.

ANALISIS SIFAT FISIK DAN MEKANIK KAYU KELAPA SAWIT HASIL KOMPREGNASI MELAMINE FORMALDEHYDE

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Balok laminasi pertama kali digunakan pada tahun 1893 di Eropa pada

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 8 Histogram kerapatan papan.

KAYULAPIS Teknologi dan Sertifikasi sebagai Produk Hijau

Lampiran 1. Perhitungan bahan baku papan partikel variasi pelapis bilik bambu pada kombinasi pasahan batang kelapa sawit dan kayu mahoni

Agrium, April 2011 Volume 16 No 3

TEKNIK PEMBUATAN BAMBU LAMINASI BERSILANG SEBAGAI BAHAN MEBEL DAN BANGUNAN

Spesifikasi kelas kekuatan kayu bangunan yang dipilah secara masinal

BAB 1 PENDAHULUAN. Universita Sumatera Utara

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. hutan semakin hari semakin berkurang. Untuk mengurangi ketergantungan akan

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat mendorong

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan alam yang

BAB I PENDAHULUAN. di alam dan pertama kali digunakan dalam sejarah umat manusia. Kayu sampai saat

TINJAUAN PUSTAKA. Tabel 1. Produksi Kayu Gergajian dan Perkiraan Jumlah Limbah. Produksi Limbah, 50 %

SIFAT FISIS MEKANIS PAPAN GIPSUM DARI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DENGAN PERLAKUAN PERENDAMAN DAN VARIASI KADAR GIPSUM

Zaimahwati, Impregnasi Kayu Kelapa Sawit dengan Larutan Polivinil Klorida Komersial

KAJIAN SIFAT FISIS KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) PADA BERBAGAI BAGIAN DAN POSISI BATANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN

PENINGKATAN SIFAT MEKANIK DAN TERMAL KAYU KELAPA SAWIT DENGAN TEKNIK KOMPREGNASI REAKTIF

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Oktober Pembuatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Kebutuhan kayu yang semakin meningkat membutuhkan kenaikan

PENGOLAHAN KAYU (WOOD PROCESSING) Abdurachman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

BAB III METODE PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Cross Laminated Timber (CLT) 1) Definisi 2) Manfaat dan Keunggulan

PEMBAHASAN UMUM Perubahan Sifat-sifat Kayu Terdensifikasi secara Parsial

PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

PEMANFAATAN LIMBAH BATANG SAWIT UNTUK PRODUK SOLID DAN PANIL KAYU LAPIS. Jamal Balfas

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Bahan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Tanaman salak (Salacca sp.) sefamili dengan kelapa (Palmae) merupakan

BAB I PENDAHULUAN. kurangnya pemahaman dari masyarakat dalam pengolahan lahan merupakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. : Cinnamomum burmanii. Panjangnya sekitar 9-12 cm dan lebar 3,4-5,4 cm, tergantung jenisnya. Warna

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BALOK LAMINASI DARI KAYU KELAPA (Cocos nucifera L)

SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA KAYU BONGIN (Irvingia malayana Oliv) DARI DESA KARALI III KABUPATEN MURUNG RAYA KALIMANTAN TENGAH

PENDAHULUAN. mengkonversi hutan alam menjadi penggunaan lainnya, seperti hutan tanaman

I. PENDAHULUAN. industri minyak bumi serta sebagai senyawa intermediet pada pembuatan bahan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Tenggara menyediakan kira-kira 80% potensi bambu dunia yang sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hasil hutan tidak hanya sekadar kayu tetapi juga menghasilkan buahbuahan

BAB IV PEMBAHASAN. (a) (b) (c) Gambar 10 (a) Bambu tali bagian pangkal, (b) Bambu tali bagian tengah, dan (c) Bambu tali bagian ujung.

Mutu Papan Partikel dari Kayu Kelapa Sawit (KKS) Berbasis Perekat Polystyrene

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan 3(1): 1-7 (2010)

Transkripsi:

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kayu sebagai bahan konstruksi sudah sejak dulu dikenal orang. Dahulu menggunakan kayu sebagai bahan konstruksi hanya didasarkan pada pengalaman dan intuisi. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan, terutama di bidang matematik, mekanika teknik dan juga ditemukan alat-alat penyambung modern, maka dapat dibuat konstruksi yang berat. Kayu sebagai hasil utama hutan akan tetap terjaga keberadaannya selama hutan dikelola secara lestari dan berkesinambungan. Bila dibandingkan dengan material struktur lain, material kayu mempunyai berat jenis yang ringan dan proses pengerjaan dapat dilakukan dengan peralatan yang sederhana dan ringan. Sebagai bahan dari alam kayu dapat terurai secara sempurna sehingga tidak ada istilah limbah pada konstruksi kayu (environmental friendly) (Sumarni, 2007). Kebutuhan kayu bulat tiap tahun diperkirakan mencapai 86,6 juta m 3, sedangkan ketersediaannya hanya 29,9 juta m 3 sehingga terjadi kekurangan pasokan sebanyak 56,7 juta m3 atau sekitar 190 %. Kekurangan kayu bulat dalam jumlah yang sangat besar akan berakibat negatif terhadap kelestarian hutan (Santoso, 2004). Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodisel). Perkebunan menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatera, Jawa, dan Sulawesi (Hasibuan, 2010). Banyak sekali kayu kelapa sawit tersedia selama penanaman kembali untuk menggantikan pohon kelapa sawit yang tidak produktif lagi. (H ng, 2013). Kayu kelapa sawit telah diidentifikasi sebagai salah satu biomassa potensial untuk kayu berbasis industri. Kelapa sawit digenerasi setiap tahun rata-rata 700,000 ha/tahun (Loh, 2011).

Di Indonesia terdapat banyak perkebunan kelapa sawit baik milik pemerintah, milik swasta ataupun milik rakyat. Kelapa sawit merupakan tanaman rakyat dan primadona subsektor perkebunan. Sejak sepuluh tahun terakhir ini pemerintah mempercepat perluasan tanaman kelapa sawit untuk meningkatkan devisa disektor non migas (Deptan, 2005). Sedangkan di Sumatera utara, luas perkebunan kelapa sawit yang sudah digunakan sebesar 1.183.280 HA (BPS, 2012) Pohon kelapa sawit memiliki umur ekonomis 25 tahun. Setelah itu pohon akan ditebang, karena produksinya mulai menurun dan sulit untuk dipanen. Setelah ditebang pohon tersebut dibiarkan melapuk dan membusuk di lapangan atau dibakar (Siburian, 2001). Peremajaan perkebunan kelapa sawit dengan cara diracuni dan dibakar, membawa dampak lingkungan yang sangat besar, khususnya asap kebakaran. Asap kebakaran selalu terjadi mengingat pola peremajaan dengan diracun dan dibakar masih terus dilakukan, untuk itu perlu dilakukan upaya pemanfaatan limbah sawit agar dapat dimanfaatkan, sehingga tidak perlu dilakukan pembakaran. Limbah terbesar dari perkebunan sawit yang dibakar (hasil pembakaran) adalah bagian batang. Apabila batang sawit yang merupakan biomasa terbesar dapat dimanfaatkan, akan membawa dampak positif bagi supply kayu maupun pada pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang dapat mengarah pada zero waste (Sumardi, 2000). Pemanfaatan batang kelapa sawit selama ini masih belum dilakukan secara komersial dan bahkan belum dikenal masyarakat. Padahal menurut penelitian terdahulu, sepertiga bagian terluar batang kelapa sawit umur daur dapat dimanfaatkan sebagai kayu gergajian dengan kualitas tertentu(sebanding dengan kayu sengon). Berdasarkan luas tanaman yang ada untuk masing-masing kelas umur, maka dengan lima tahun mendatang dapat dihasilkan sejumlah kayu gergajian kelapa sawit yang berarti, yaitu rata-rata 0,8 juta meter kubik per tahun kayu kelapa sawit secara nasional. Tetapi untuk dijadikan bahan bangunan dan perabotan rumah tangga kayu sawit memiliki beberapa kelemahan dalam hal stabilitas dimensi, keawetan (kelas awet V), kekuatan(kelas kuat III-V) dan sifat permesinan. Sehingga diperlukan upaya perbaikan kualitas yang sesuai,

sehingga kualitas kayunya dapat ditingkatkan sesuai dengan persyaratan bahan bangunan dan perabotan rumah tangga (Mulyono, 2000). Salah satu masalah serius dalam pemanfaatan batang sawit adalah sifat higroskopis yang berlebihan. Meskipun telah dikeringkan sehingga mencapai kadar air kering tanur, kayu sawit dapat kembali menyerap uap air dari udara hingga mencapai kadar air lebih dari 20%. Pada kondisi ini beberapa jenis jamur dapat tumbuh subur baik pada permukaan maupun bagian dalam kayu sawit. Hal ini terutama berhubungan dengan karakteristik kimia kayu sawit yang memiliki kandungan ekstraktif (terutama pati) yang lebih banyak dibandingkan kayu biasa (Hasibuan, 2010). Kekurangan kayu kelapa sawit seperti kekuatan yg lemah, kelas awet rendah, stabilitas dimensi rendah, dan sifat permesinan yang buruk pada porsi tinggi dari adanya jaringan parenkim pada cabang. Meskipun cairan, seperti air dan senyawa dengan bobot molekul rendah dapat di absorpsi ke dalam dinding sel dan lumen (H ng, 2013). Oleh sebab itu resin bisa dengan dalam sebagai penetrasi ke dalam sel diatas dan dibawah merekatkan dan mengisi area kosong lumen (Hoong, 2013). Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan sifat-sifat kayu kelapa sawit diantaranya adalah dengan impregnasi, kompregnasi, dan compress (kompregnasi dan press), sehingga kayu kelapa sawit dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan meningkatkan nilai gunanya yang pada akhirnya dapat dijadikan sebagai bahan pengganti dari kekurangan pasokan kayu saat ini (Margono, 2001). Teknologi pengolahan kayu telah berkembang dan tersedia sesuai dengan kemajuan iptek sehingga saat ini dikenal bermacam-macam produk hasil rekayasa teknologi, yang berbeda baik dari bahan asalnya maupun dalam bentuk dimensi, sifat dan kualitasnya (Arinana, 2009). Kompregnasi merupakan upaya perbaikan kualitas kayu dengan memasukkan bahan-bahan kimia melalui bantuan tekanan dan suhu dalam tangki tertutup. Proses kompregnasi merupakan penggantian posisi (replacement) satu tingkat dengan cara mengisi kayu dengan resin yang akan membantu larutan dengan molekul berukuran cukup kecil yang menembus dinding sel (Abidin, 2009).

Pada tahun 2000 Mulyono melakukan penelitian tentang kajian sifat permesinan kayu kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terkompregnasi sebagai bahan bangunan dan perabot rumah tangga diperoleh hasil sifat pengetaman (planning), pembentukan (shaping) dan pemboran (boring) kayu sawit terkompregnasi secara umum termasuk sedang hingga sangat baik dan sifat pengampelasan (sanding) sangat baik dan terjadi peningkatan yang sangat besar dibandingkan dengan kontrol, cacat yang paling banyak ditemukan pada sifat permesinan kayu sawit terkompregnasi adalah jenis cacat serat berbulu tetapi dapat direduksi dengan pengampelasan. Kualitas sifat permesinan kayu kelapa sawit terkompregnasi sebanding dengan jenis-jenis kayu meranti yang biasa digunakan sebagai bahan baku meubel dan furniture (Mulyono, 2000). Pada tahun 2000, Sumardi telah melakukan penelitian Kompregnasi Phenol Formaldehida Sebagai Usaha Peningkatan Kualita Kayu Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dengan konsentrasi PF 20%, 30% dan 40% dengan waktu tekan 30, 60, dan 90 menit dan besarnya tekanan 10kg/cm 2 dalam silinder tertutup diperoleh berat jenis meningkat seiring bertambahnya konsentrasi PF. Peningkatan nilai MoR terjadi sampai 85% pada konsentrasi 40%, MoE meningkat 30% dan kekerasan meningkat hampir 100%, sedangkan keteguhan pukul tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan (Sumardi, 2000). Pada tahun 2001 Margono telah melakukan penelitian Pengaruh Waktu Tekanan Terhadap Sifat Fisis Dan Mekanis Kayu Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Compress Dengan Menggunakan Fenol Formaldehida 30%, tekanan 15 kgf/cm 2 diperoleh nilai rata-rata kadar air sebesar 16,3%, nilai rata-rata susut volume 14,1%, nilai rata-rata MoE sebesar 1,4 x 10 5 kgf/cm 2, nilai rata-rata MoR berkisar antara 323 kgf/cm 2 392 kgf/cm 2 (Margono, 2001). Pada tahun 2010 Nasirwan, dkk melakukan penelitian Alat Kompregnasi Untuk Peningkatan Mutu Kayu Batang Kelapa Sawit diperoleh hasil dari berbagai kombinasi perlakuan suhu dan tekanan yang paling optimal dalam proses kompregnasi yang memberikan peningkatan kelas kuat kayu batang kelapa sawit keteguhan lentur statis (MOR) dan berat jenis (BJ) masuk kelas II. Dalam pengujian sifat fisik dan mekanis pada suhu 80 o C dengan tekanan 11kg/cm 2 (KA = 10,4267%, BJ = 0,6211gr/cm 3, PB =

36,4703, S = 8,0799%, MOR = 523kg/cm 2, H = 73,2163 kg/cm 2, T = 35,2331 kg/cm 3 ) (Nasirwan, 2010). Pada tahun 2011 Balfas melakukan penelitian Perlakuan Resin Pada Kayu Kelapa (Cocos nucifera), hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu kelapa memiliki sifat penyerapan air (higroskopis) yang relative tinggi dibandingkan dengan kayu biasa. Sifat ini seragam menurut tingkat kerapatan pada kayu tersebut. Kayu kelapa dengan kerapatan rendah bersifat lebih higroskopis daripada kayu kelapa berkerapatan tinggi. Namun demikian, sifat pengembangan radial (transversal) pada kayu kelapa berhubungan sebaliknya terhadap kerapatan kayu. Kayu kelapa dengan kerapatan lebih tinggi mengalami pengembangan dimensi lebih besar daripada kayu kelapa yang berkerapatan lebih rendah. Sifat penyerapan air dan pengembangan radial pada kayu kelapa berlangsung secara cepat pada proses rendaman dalam air. Pada awal proses rendaman, kecepatan kayu kelapa dalam penyerapan air dan mengalami pengembangan radial lebih dari sepuluh kali kecepatan yang terjadi pada kayu biasa, seperti jati, bangkirai dan mangium (Balfas, 2011). Resin, cairan getah lengket yang dipanen dari beberapa jenis pohon hutan, merupakan produk dagang tertua dari hutan alam Asia Tenggara. Damar adalah istilah yang umum digunakan di Indonesia untuk menamakan resin dari pohon-pohon yang termasuk suku Dipterocarpaceae dan beberapa suku pohon hutan lainnya. Dewasa ini Indonesia merupakan satu-satunya negara penghasil damar di dunia. Pada masa kejayaan damar, ketika digunakan secara intensif oleh industri-industri, areal utama penghasil damar adalah hutan-hutan alam di Sumatera bagian selatan dan barat serta Kalimantan bagian barat. Dewasa ini Kalimantan bagian barat dan Sumatera bagian selatan masih tetap menghasilkan dammar, tetapi daerah produksi yang paling utama adalah di daerah paling selatan di Sumatera, tepatnya di Pesisir Krui, Lampung (Michon, 2000). Damar merupakan suatu resin alami yang dihasilkan oleh tanaman Dipterocarpaceae dan Burseraceae. Damar banyak digunakan dalam industri, misalnya pembuatan cat, lilin, plastic, bahan isolator, bahan campuran pernis, bahan pengisi kertas dan industry pangan serta obat-obatan (Mulyono, 2004).

Kebijakan pemerintah tentang perluasan lahan sawit mendorong para peneliti untuk saling mengembangkan penggunaan produk sawit. Saat ini pemerintah akan melakukan peremajaan tanaman sawit selauas 500.000 HA (Jamasri, 2006). Berdasarkan hal tersebut diatas maka pada penelitian ini akan ditingkatkan stabilitas dimensi, kekuatan, keawetan dan memperbaiki sifat pengerjaan kayu sawit melalui teknik kompregnasi dengan resin alam dengan perlakuan konsentrasi resin dan waktu kompregnasi serta mencari kondisi optimum untuk kedua perlakuan tersebut. 1.2 Perumusan Masalah 1. Bagaimana cara kompregnasi KKS dengan resin getah damar. 2. Bagaimana proses kompregnasi optimum resin damar kedalam kayu kelapa sawit. 3. Bagaimana karakteristik kayu kelapa sawit yang telah di kompregnasi. 1.3 Pembatasan Masalah Dalam penelitian ini permasalahan dibatasi pada: 1. Kayu kelapa sawit yang digunakan dari spesies jenis E. guineensis yang berasal dari CIKAL USU Jalan Dr. Mansyur, Padang Bulan, Sumatera Utara. 2. Resin yang digunakan adalah resin alam yaitu getah damar. 3. Karakterisasi kayu kelapa sawit terkompregnasi dengan menggunakan Scan Electron Microscopy (SEM), Fourier Transform-Infra Red (FT-IR), Modulus Elastisitas (MoE), Modulus Patah (MoR), dan Thermogravimetry Analysis (TGA).

1.4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan stabilitas dimensi, kekuatan, keawetan dan memperbaiki sifat pengerjaan kayu sawit melalui teknik kompregnasi dengan perlakuan konsentrasi resin dan ketinggian kayu kelapa sawit serta mencari kondisi optimum untuk kedua perlakuan tersebut. 1.5 Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah: Untuk meningkatkan kualitas dari kayu kelapa sawit menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai jual tinggi, serta mengubah cara pandang dalam mengatasi limbah kelapa sawit yang semakin hari semakin meningkat dan dapat memberikan informasi mengenai cara meningkatkan kualitas kayu kelapa sawit yang merupakan material yang menjanjikan di masa mendatang. 1.6 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Fisika FMIPA USU Medan, Laboratorium Kimia Polimer FMIPA USU Medan, Laboratorium Analisa Material SEM Banda Aceh, Laboratorium Uji Mekanis Fakultas Teknik USU, Analisa sifat termal bahan polimer TGA dan analisa gugus fungsi FT-IR di Laboratorium Terpadu 1.7 Metodologi Penelitian Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium, dimana pada penelitian ini dilakukan beberapa tahapan, yaitu: - Tahap persiapan kayu kelapa sawit - Tahap persiapan resin alam. - Tahap kompregnasi kayu kelapa sawit dengan resin alam.

- Tahap karakterisasi kayu kelapa sawit, yaitu: Scan Electron Microscopy (SEM), Infra Red (IR), Modulus Elastisitas (MoE), Modulus Patah (MoR), Analisa termal (TGA). Variabel yang digunakan pada penelitian adalah: a. Variabel tetap - Jenis kayu kelapa sawit - Resin Alam yaitu resin getah damar b. Variabel bebas - Ketinggian KKS - Konsentrasi resin c. Variable terikat - Analisa permukaan dengan Scan Electron Microscopy (SEM) - Infra Red (IR) - Modulus Elastisitas (MoE) - Modulus Patah (MoR) - Analisa Termal (TGA)