BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Ekspor Ekspor adalah perdagangan dengan cara mengeluarkan barang dari daerah pabean, dimana barang yang dimaksud terdiri dari barang dalam negeri (daerah pabean), barang dari luar negeri (luar daerah pabean), barang bekas atau baru. (Marsono, 1999 : 7). Ekspor adalah upaya mengeluarkan barang-barang dari peredaran dalam masyarakat dan mengirimkan ke luar negeri sesuai degan ketentuan pemerintah dan mengharapkan pembayaran dalam bentuk valuta asing. (Amir M.S., 2004 : 100). Berdasarkan UU Kepabeanan No. 10 tahun 1995, pengertian ekspor adalah mengeluarkan barang dari wilayah pabean Indonesia. Daerah pabean adalah wilayah Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang angkasa di atasnya serta tempat-tempat tertentu yang di dalamnya berlaku UU No. 10 tahun 1995 tentang kepabeanan. Menurut PPEI (2011) ekspor adalah mengeluarkan barang dari wilayah pabean suatu negara keluar wilayah pabean negara lain. Sedangkan pengertian ekspor menurut Amir M.S. (1990) ekspor adalah menjual barang-barang kepada konsumen di luar negeri atau ke luar batas negara. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dari batas wilayah suatu negara atau mengeluarkan 8
barang dari wilayah pabean suatu negara keluar wilayah pabean negara lain dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. B. Tahap Pelaksanaan Ekspor Proses ekspor pada umumnya adalah tindakan untuk mengeluarkan barang atau komoditas dari dalam negeri untuk memasukkannya ke negara lain. Ekspor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima (PPEI, 2011). 1. Proses Pelaksanaan Ekspor Proses pelaksanaan ekspor pada setiap negara memiliki peraturan dan ketentuan yang berbeda-beda. Melakukan ekspor, harus melalui tahap-tahap sebagai berikut : a. Korespondensi dengan Importir Negosiasi ekspor yang dilakukan antara eksportir dengan importir untuk menawarkan dan menegosiasikan komoditi, dalam surat penawaran kepada importir harus dicantumkan jenis barang, mutu, harga, syarat penyerahan, dan sebagainya. b. Pembuatan Kontrak Dagang Kontrak jual beli akan terjadi apabila importir menyetujui penawaran yang diajukan oleh eksportir, maka kedua belah pihak membuat dan menandatangani kontrak dagang. Dalam kontrak dagang dicantumkan hal-hal yang disepakati bersama. 9
c. Penerbitan Letter of Credit (L/C) Letter of Credit (L/C) akan diterbitkan setelah kontrak dagang ditandatangani kedua belah pihak, maka importir membuka L/C melalui Bank Koresponden di negaranya dan mengirimkan L/C tersebut kepada Bank Devisa yang ditunjuk eksportir, kemudian Bank Devisa yang ditunjuk memberitahukan diterimanya L/C tersebut kepada eksportir. d. Mempersiapkan Barang Ekspor Eksportir mempersiapkan barang yang akan diekspor seseuai dengan yang dipesan importir, keadaan barang harus sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam kontrak dagang dan L/C. e. Mendaftarkan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) Eksportir mendaftarkan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) ke Kantor Bea dan Cukai dengan melampirkan surat sanggup bayar apabila barang ekspornya terkena pajak ekspor. f. Pemesanan Ruang Kapal Eksportir menghubungi perusahaan pelayaran untuk memesan ruang pada kapal. g. Pengiriman Barang ke Pelabuhan Barang dikirim setelah jadwal kapal diperoleh, pengangkutan komoditi ekspor diserahkan kepada Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) untuk mengirimkan barang ke pelabuhan. 10
h. Pemeriksaan Bea dan Cukai Dokumen-dokumen ekspor diperiksa oleh Bea dan Cukai, apabila barang-barang dan dokumen yang menyertainya telah sesuai dengan ketentuan maka Bea dan Cukai menandatangani pernyataan persetujuan muat yang ada pada PEB. i. Pemuatan Barang ke Kapal Setelah PEB ditandatangani oleh pihak Bea dan Cukai, barang bisa dimuat ke kapal. Kemudian pihak pelayaran menerbitkan Bill of Lading (B/L) yang kemudian diserahkan kepada eksportir. j. Surat Keterangan Asal Barang (SKA) Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) melakukan fiat muat barang milik eksportir dan mengajukan permohonan ke Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DISPERINDAG) untuk memperoleh SKA. k. Pencairan Letter of Credit (L/C) Apabila barang sudah dikapalkan, eksportir dapat mencairkan L/C ke Bank Devisa dengan syarat B/L, Packing List, Commercial Invoice, PEB, dan Faktur kemudian Bank Devisa mengirim dokumen ekspor kepada Bank Importir. l. Pengiriman Barang ke Importir Barang dalam perjalanan dengan kapal dari pelabuhan negara ekportir ke pelabuhan yang sudah ditentukan importir. 11
Tahap pelaksanaan ekspor dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 2.1. Gambar Tahapan Pelaksanaan Ekspor IMPORTIR BUYER c Bank Luar Negeri Luar Negeri a a 1 Dalam Negeri b b Produsen d k EKSPORTIR Bank Dalam SELLER Negeri c c c f e g j h h Pelayaran BEA dan CUKAI DISPERINDAG Sumber : PPEI Jakarta (2011) 12
2. Dokumen Ekspor Semua jenis dokumen yang terdapat dalam perdagangan internasional, baik yang dikeluarkan pengusaha, perbankan, pelayaran, dan instansi lain mempunyai arti dan peranan yang sama penting. Oleh sebab itu semua dokumen yang menyangkut kegiatan tersebut harus dibuat dan diteliti dengan seksama. Dokumen-dokumen dalam perdagangan internasional dapat dibedakan dalam tiga kelompok yaitu dokumen induk, dokumen penunjang, dan dokumen pembantu (Amir M.S., 2005). a. Dokumen Induk Dokumen inti yang dikeluarkan oleh badan Pelaksana Utama Perdagangan Internasional, yang berfungsi sebagai alat pembuktian realisasi suatu transaksi, termasuk dalam dokumen ini antara lain : 1) Letter of Credit (L/C) Suatu kredit yang dikeluarkan oleh Bank Devisa atas permintaan importir yang ditujukan kepada eksportir di laur negeri yang menjadi relasi importir, dengan tujuan memberikan hak kepada eksportir untuk menarik wesel atau importir yang bersangkutan. L/C merupakan alat bukti pembayaran atas suatu transaksi yang dilakukan antara eksportir dengan importir. 2) Bill of Lading (B/L) Surat tanda terima penyerahan barang yang dikeluarkan oleh perusahaan pelayaran sebagai tanda bukti kepemilikan barang yang telah dimuat di atas kapal laut oleh ekportir untuk diserahkan kepada 13
importir. B/L merupakan alat bukti penerimaan dan sekaligus penyerahan hak milik atas barang sebagai pelaksanaan suatu transaksi antara eksportir dengan importir. B/L juga merupakan alat bukti adanya kontrak pengangkutan antara shipper dengan perusahaan pelayaran. 3) Faktur (Invoice) Dokumen yang penting dalam perdagangan, data-data dalam invoice akan dapat diketahui berapa jumlah wesel yang akan dapat ditarik, jumlah penutupan asuransi, dan penyelesaian segala bea masuk. Faktur (invoice) dapat dibedakan ke dalam tiga bentuk, yaitu : a) Proforma Invoice Penawaran bentuk faktur biasa dari penjual kepada pembeli untuk menempatkan pesanannya dengan pasti dan sering dimintakan oleh pembeli supaya instansi yang berwenang di negara importir akan memberikan izin impor. Faktur ini biasanya menyatakan syarat-syarat jual beli dan harga barang sehingga setelah pembeli menyetujui pesanan maka akan nada kontrak yang pasti. b) Commercial Invoice Nota perincian tentang keterangan jumlah barang yang dijual dan harga barang tersebut serta perhitungan pembayaran. Faktur ini oleh penjual (eksportir) ditujukan kepada pembeli 14
(importir) yang nama dan alamatnya sesuai dengan yang tercantum dalam L/C. c) Consular Invoice Faktur yang dikeluarkan oleh instansi resmi yaitu kedutaan atau konsulat yang ditandatangani oleh konsul perdagangan pembeli. Tujuannya untuk melihat harga jual dan meyakinkan bahwa tidak terjadi harga dumping, selain itu juga diperlukan untuk menghitung bea masuk di tempat importir. 4) Polis Asuransi Surat bukti pertanggungjawaban yang dikeluarkan perusahaan asuransi atas permintaan eksportir maupun importir untuk menjamin keselamatan atas barang yang dikirim. Dokumen asuransi ini penting karena dapat membuktikan bahwa barang-barang yang disebut di dalamnya telah diasuransi, jenis-jenis resiko yang ditutup juga disebutkan dalam dokumen ini. Penggantian kerugian apabila kerusakan atau kehilangan akan dibayarkan senilai yang dinyatakan dalam dokumen asuransi tersebut kepada eksportir dan importir apabila telah di endorse. Dokumen asuransi dapat disebut atas nama pengasuransi, order bank, dan pembawa. b. Dokumen Penunjang Dokumen yang dikeluarkan untuk memperkuat atau merinci keterangan yang terdapat dalam dokumen induk, terutama faktur (invoice). Termasuk dalam dokumen ini antara lain: 15
1) Daftar Pengepakan (Packing List) Dokumen yang berisi daftar perincian lengkap mengenai jenis dan jumlah satuan dari barang yang terdapat dalam tiap peti atau total keseluruhannya sama dengan jenis dan jumlah yang tercantum dalam commercial invoice. Dokumen ini diperlukan oleh bea cukai untuk memudahkan pemeriksaan, dengan adanya packing list maka importir atau pemeriksa barang tidak akan keliru dalam memastikan barang. 2) Surat Keterangan Asal (Certificate of Origin) Surat pernyataan yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang, biasanya Kamar Dagang (Chamber of Commerce), yang menyebutkan negara asal suatu barang. Certificate of Origin ini penting artinya untuk memperoleh fasilitas bea masuk maupun sebagai alat penghitung quota di negara tujuan, atau untuk mencegah masuknya barang dari negara terlarang. 3) Surat Keterangan Pemeriksaan (Certificate of Inspection) Keterangan tentang keadaan suatu barang yang dibuat oleh independen surveyor, badan resmi yang disahkan oleh pemerintah dan dikenal oleh dunia perdagangan internasional, berfungsi sebagai jaminan atas mutu dan jumlah barang, ukuran dan berat barang, keadaan barang, serta pengepakan barang. Laporan yang dibuat atas pemeriksaan sampling 2% dari berat yang sebenarnya, dan merupakan dokumen yang disyaratkan L/C. 16
4) Sertifikat Mutu (Certificate of Quality) Keterangan yang dibuat berkaitan dengan hasil analisis barang di laboratorium perusahaan atau badan peneliti independen yang menyangkut mutu barang yang diperdagangkan. Berkaitan dengan hal tersebut di Indonesia berlaku peraturan yang mengharuskan adanya standardisasi dan pengendalian mutu untuk barang-barang ekspor, yaitu dengan menerbitkan sertifikat mutu (certificate of quality). Sertifikat ini wajib dimiliki oleh eksportir untuk keperluan perdagangan apabila diminta oleh pembeli. 5) Sertifikat Mutu dari Produsen (Manufacture s Quality Certificate) Surat pernyataan yang dibuat oleh produsen yang menguraikan tentang mutu barang, termasuk penjelasan tentang baru atau tidaknya barang, dan menyatakan bahwa barang tersebut adalah hasil produksinya yang membawa merek dagangnya (trade mark). Dokumen ini penting artinya sebagai bukti keaslian dan jaminan mutu atas barang serta menyangkut masalah patent, trade mark, license, dan nama baik produsen dalam perdagangan internasional. 6) Keterangan Timbangan (Weight Note) Surat pernyataan (catatan) yang berisi tentang keterangan berat dari tiap kemasan yang biasanya menyebutkan berat kotor dan berat bersih dari tiap kemasan dan dihimpun menjadi satu daftar yang total keseluruhannya sama dengan total berat kotor dan total berat bersih yang tercantum dalam commercial invoice. Dokumen ini penting 17
untuk barang yang harganya didasarkan pada berat barang, serta penting untuk menyediakan alat bongkar muat maupun alat angkut yang sesuai dengan berat tiap kemasan, seperti dalam menyediakan forklift dan truck. 7) Daftar Ukuran (Measurement List) Daftar yang berisi ukuran dan takaran dari setiap kemasan seperti panjang, tebal, garis tengah, serta volume barang. Ukuran dan takaran dalam dokumen ini harus sesuai dengan apa yang tercantum dalam faktur (commercial invoice). Measurement list penting artinya untuk barang yang perhitungan harganya didasarkan pada volume barang serta untuk menyediakan alat bongkar muat dan alat angkut yang sesuai. 8) Analisa Kimia (Chemical Analysis) Pernyataan yang dikeluarkan oleh laboratorium kimia yang berisi komposisi kimiawi dari suatu barang. Dokumen ini juga menjelaskan tentang bahan-bahan dan proporsi serta kandungan bahan yang terdapat pada barang yang diharuskan pemeriksaannya. Penelitian tersebut dilakukan oleh badan analisis obat-obatan dan bahan-bahan kimia. 9) Wesel (Bill of Exchange) Alat pembayaran yang memberikan perintah tidak bersyarat dalam bentuk tertulis, yang ditujukan oleh seseorang kepada orang lain. 18
Pihak-pihak yang terlibat dalam wesel antara lain : a) Drawer adalah pihak yang menandatangani wesel (penarik). b) Drawee adalah membayar (tertarik). c) Payee adalah pihak yang menerima pembayaran. d) Endorse pihak yang menerima perpindahan atau pengalihan wesel. C. Peran dan Tanggung Jawab Freigh Forwarding 1. Pengertian Perusahaan Forwarding Perusahan forwarding merupakan usaha jasa pengurusan dokumen dan transportasi, dimana peran utamanya adalah sebagai pemberi jasa antara shipper (eksportir) dan consignee (importir) atau shipping line (angkutan laut) (Susilo, 2008 : 109). Perusahaan forwarding berfokus pada kegiatan pengiriman barang baik ekspor maupun impor. Freight forwarding adalah badan usaha yang bertujuan untuk memberikan jasa pelayanan atau pengurusan atas seluruh kegiatan ekspor yang diperlukan bagi terlaksananya pengiriman, pengangkutan dan penerimaan barang dengan menggunakan multimodal transport baik melalui darat, laut, dan udara (Suyono, 2007). 2. Dokumentasi Operator multimodal transport bebas untuk membuat kontrak maupun syarat/kondisi yang dapat diterima oleh customer (pelanggan). Ketentuan yang diikuti adalah ketentuan yang disusun oleh ICC yang dikenal sebagai Uniform for a Combined Transport Documents. Secara internasional belum 19
ada peraturan atau keseragaman dokumentasi dari freight forwarder dan pelanggannya (Suyono, 2007). a. Dokumen yang diterima dari customer (pelanggan) 1) FIATA Forwarding Instruction (FFI) atau Shipper Instruction Customer menerbitkan dokumen ini kepada forwarder sehingga terjadi kontrak antara forwarder dengan customer untuk mengatur pengangkutan dari poin A ke poin B. Customer diharapkan untuk dapat melengkapi semua data yang diperlukan sehubungan dengan pengiriman ekspor barang, termasuk dokumen penting lainnya yang dibutuhkan. Forwarder bisa membantu customer dalam pengisian FIATA forwarding instruction. 2) FIATA SDT (Shipper Declaration of Dangerous Good) Dokumen ini berisi informasi yang mendetail, termasuk di dalamnya informasi mengenai klasifikasi barang berbahaya sesuai dengan peraturan pengangkutan barang dan freight forwarder wajib membantu customer untuk mengisi dokumen ini. Isi dari dokumen FIATA SDT adalah sebagai berikut : a) Nama shipper dan alamat. b) Nama forwarder. c) Marking, jumlah dan jenis kemasan nama teknis dari barang yang bersangkutan. d) Berat kotor dan berat bersih. e) Klasifikasi barang yang akan dikirim. 20
b. Dokumen yang diterbitkan untuk customer (pelanggan) ada 5 macam, diantaranya : 1) FIATA FCR (Forwarder Certificate of Receipt) Dokumen ini merupakan pernyataan secara resmi dari pihak freight forwarder bahwa penguasaan atas barang sudah diambil alih oleh freight forwarder. Freight forwarder dianggap bertanggung jawab untuk menerima dan mengirimkan barang kepada importir. Isi/informasi yang ada dalam dokumen FIATA FCR : a) Nama principal dari supplier atau forwarder b) Nama dan alamat consignee. c) Jumlah dan jenis kemasan. d) Keterangan tentang barang. e) Berat kotor. f) Ukuran barang. g) Tempat dan tanggal penerbitan FCR. 2) FIATA FCT (Forwarder Certificate of Transport) Forwarder dianggap bertanggungjawab atas pengiriman barang ke tujuan melalui agen yang ditunjuknya, kepada pemegang dokumen sesuai dengan kondisi yang tercantum dalam FCT. Catatan khusus : a) FIATA FCT adalah surat berharga dan penyerahan barang hanya dapat berlaku apabila ditunjukkan dokumen FCT asli. 21
b) Di bagian belakang dokumen ini mencantumkan Standart Training Conditions dari negara dimana dokumen ini diterbitkan. c) Freight forwarding biasanya mengenakan biaya atas penerbitan dokumen FIATA FCT kepada customer. Isi/informasi yang terdapat dalam FIATA FCT : a) Nama principal. b) Nama consignee. c) Nama pihak ketiga yang ikut diberitahu. d) Pelabuhan muat. e) Pelabuhan tujuan. f) Merek dan nomor. g) Jumlah dan jenis kemasan. h) Keterangan tentang barang. i) Berat kotor. j) Ukuran barang. k) Asuransi. l) Freight dan biaya-biaya yang dibayarkan. m) Tanggal dan penerbitan FIATA FCT. 3) FBL Negociable FIATA Combinatet Transport B/L FBL merupakan dokumen lanjutan (through document) yang dipergunakan oleh International Freight Forwarding yang bertindak sebagai Multimodal Transport Operator (MTO). Dengan menerbitkan FBL, maka forwarder bertanggungjawab tidak hanya terhadap 22
pelaksanaan kontrak angkutan barang saja, dan penyerahan barang di tempat tujuan tetapi juga terhadap tindakan dan kesalahan dari carrier dan pihak ketiga lainnya yang terkait. Catatan khusus : a) FLB itu negociable kecuali dinyatakan sebaliknya. b) Diterima oleh bank untuk pengurusan L/C (Documentary Credit). c) Dapat juga dipergunakan sebagai marine B/L (Ocean B/L). d) Dengan menerbitkan FBL, maka forwarder menerima kewajibankewajiban SDRs (Special Drawing Right) perkilo dari barang yang hilang atau rusak. Bila harapan dari terjadinya kehilangan atau kerusakan barang dapat diketahui, maka tanggung jawabnya akan ditentukan sesuai dengan pembagian yang relevan dari Hukum Nasional atau Konvensi Internasional yang berlaku. e) Sangat dianjurkan agar fraight forwarding yang menerbitkan FLB untuk menutup tanggung jawabnya dengan asuransi. Isi dan informasi yang terdapat dalam FBL : a) Nama shipper. b) Nama consignee. c) Nama pihak ketiga yang ikut diberitahu. d) Tempat penerimaan barang. e) Nama kapal. f) Pelabuhan muat. g) Pelabuhan bongkar/tujuan. 23
h) Tempat penyerahan barang. i) Merek dan nomer. j) Jumlah dan jenis kemasan. k) Perincian barang. l) Berat kotor. m) Ukuran barang. n) Jumlah freight dibayar. o) Asuransi muatan. p) Jumlah FBL asli. q) Nama agen yang akan melaksanakan penyerahan barang. 4) FWR (FIATA Ware House Receipt) Dokumen ini digunakan oleh freight forwarder yang mengoperasikan pergudangan. Berhubungan dengan perincian pembagian hak dan pemegangnya, dengan endorsement pada dokumen, pemindahan hak, dan perjanjian bahwa penyerahan barang dengan menyerahkan dokumen FWR senilai barang yang diserahkan. Dokumen ini tidak negociable kecuali dinyatakan sebaliknya, apabila di suatu negara diberlakukan secara legal adanya warehouse receipt sesuai hukum nasional yang berlaku maka FIATA FWR tidak perlu digunakan lagi di negara tersebut. Isi/informasi yang terdapat dalam FIATA FWR : a) Nama pemasok (supplier). b) Nama depositor. 24
c) Nama gudang dan pengelola pergudangan. d) Alat pengangkut. e) Asuransi. f) Merek dan nomer. g) Jumlah dan jenis kemasan. h) Perincian barang. i) Berat kotor. j) Keadaan barang. k) Penerima barang. l) Tempat dan tanggal penerbitan. 5) House Bill of Lading / House Air Way Bill Apabila freight forwarder bertindak sebagai carrier dengan cargo consolidation dengan angkutan laut atau angkutan udara, maka freight forwarder tersebut menerbitkan Bill of Lading sendiri kepada shipper. Tidak ada keseragaman isi atau kondisi dari House Bill of Lading, karena freight forwarder menikmati Kebebasan Berkontrak. a) Beberapa forwarder tidak menerima tanggung jawab terhadap hilang atau rusaknya barang apabila barang tersebut berada di bawah kekuasaan atau pengawasan actual carrier. b) Beberapa freight forwarder menerima pertanggungjawaban, dalam hal ini membayar kerugian pada shipper, sebagaimana dia juga menerima ganti rugi dari carrier. 25
c) Beberapa freight forwarder yang menerbitkan HBL bertanggung jawab secara penuh seperti yang tercantum dalam FBL. Tidak ada keseragaman dalam isi dokumen yang diterbitkan oleh forwarder, tetapi pada umumnya House Bill of Lading berisi data-data sebagai berikut : a) Nama shipper. b) Nama consignee. c) Pihak ketiga yang turut diberitahu. d) Pelabuhan muat. e) Tanggal keberangkatan. f) Tanggal tiba. g) Pelabuhan bongkar. h) Tujuan akhir. i) Freight dibayar. j) Jumlah B/L asli. k) Merek dan nomer. l) Jumlah dan jenis kemasan. m) Berat kotor. n) Kondisi penyerahan. o) Keterangan tentang keadaan barang. p) Tempat dan tanggal penerbitan HBL. q) Nama dan alamat agen penyerahan barang. 26
Selain data-data tersebut di atas, dapat juga dicantumkan kode keagenan, nomer rekening shipper/consignee, route, jenis valuta untuk pembayaran freight, nilai barang yang diberitahukan untuk kepentingan pengangkut maupun untuk kepentingan pabean. 3. Freight Forwarding dalam Konsolidasi Muatan Konsolidasi barang (cargo consolidation) atau disebut juga groupage adalah pengumpulan beberapa kiriman barang dari beberapa shipper di tempat asal yang akan dikirim untuk beberapa consignee di tempat tujuan yang dikemas dalam satu unit paket muatan, lalu muatan terkonsolidasi tersebut dikapalkan dan ditujukan kea gen konsolidator di tempat tujuan. Freight forwarder sebagai konsolidator dan pada umumnya menggunakan namanya sendiri dan menerbitkan House Bill of Lading. Konsolidasi memberikan (door to door service) yang tidak dilakukan oleh perusahaan pelayaran. Untuk perusahaan pelayaran juga mempunyai keuntungan karena kebanyakan muatan dikirim dengan FCL (Full Container Load) sehingga tidak begitu banyak memerlukan pegawai untuk mengerjakan muatan seperti status LCL (Less than Container Load). a. Keuntungan Konsolidasi 1) Bagi shipper dan consignee a) Mendapatkan freight yang lebih rendah, utamanya bagi shipper kecil yang kurang memiliki pengetahuan tentang angkutan, baik laut maupun udara. 27
b) Shipper cukup berhubungan dengan forwarding yang mampu mengirim barang ke berbagai pihak-pihak yang terkait dibandingkan dengan actual carrier yang hanya menawarkan jasa angkutan sesuai dengan rute masing-masing. c) Forwarding konsolidasi mampu menawarkan door to door service. 2) Bagi (actual) carrier a) Tidak perlu mengurusi muatan kecil-kecil yang berarti penghematan dokumen, waktu dan tenaga kerja. b) Muatan insentif karena hanya menerima FCL shipment. c) Hemat biaya karena tidak menyediakan peralatan, ruang dan tenaga untuk handle LCL. d) Tidak ada resiko pembayaran dari (actual) shipper, tetapi cukup berhubungan dengan forwarding konsolidasi. 3) Bagi freight forwarding a) Mendapat keuntungan dari selisih freight. 4) Bagi ekonomi nasional a) Karena forwarding konsolidasi memberikan tariff murah, maka barang ekspor memiliki daya saing tinggi membantu pemasukan devisa. b. Peran Freight Forwarding sebagai Pengangkut Freight forwarding bertindak sebagai operator dan bertanggung jawab penuh dalam melaksanakan pengangkutan meskipun tidak memiliki kapal sendiri. 28
1) Freight forwarding juga bertindak sebagai : a) Vessel Operating Multimodal Transport Operator Secara penuh yang melaksanakan berbagai jenis pengangkutan dengan cara door to door dengan satu dokumen intermodal berbentuk FBL. b) Non Vessel Operator (NVO) Operator muatan yang mengurus pengangkutan lewat laut dari pelabuhan ke pelabuhan dengan menggunakan satu House Bill of Lading atau Ocean Bill of Lading yang juga dapat mencakup transport darat dan berfungsi sebagai Non Vessel Operating Multimodal Transport. c) Non Vessel Operating Common Carrier (NVOCC) Mempunyai jadwal pelayaran yang tetap dan melaksanakan konsolidasi muatan atau melayani multimodal transport dengan House Bill of Lading (HBL) atau Bill of Lading dari FIATA (The International Federation of Freight Forwarder Association). 4. Hubungan Freight Forwarding dengan Pihak Ketiga dalam Multimodal Transport Hak, kewajiban dan tanggung jawab freight forwarder, status hukum freight forwarder secara umum adalah Standart Trading Condition (Persyaratan Perdagangan Standar). Standart Trading Condition sebagai dasar dalam menetapkan hak, kewajiban, dan tanggung jawab freight forwarder 29
terhadap pelanggannya. Standart Trading Condition ini dipakai oleh Indonesia, Jerman, dan Inggris. Multimodal transport adalah transportasi yang melibatkan lebih dari satu macam modal angkutan, apakah transportasi tersebut terjadi dalam satu negara saja ataupun lebih dari satu negara. Dengan demikian freight forwarder umumnya menggunakan pihak ketiga, antara lain : a. Pihak Pengangkut 1) Operator angkutan darat. 2) Jasa kereta api. 3) Pemilik kapal. 4) Angkutan udara. b. Non Pengangkut 1) Terminal peti kemas. 2) Pergudangan. 3) Container Freight Stations (CFS). 4) Pemilik peti kemas. 5) Organisasi yang usahanya khusus untuk mengepak, penyelesaian dokumen, penukaran valuta asing. c. Pihak Lain 1) Bank. 2) Pihak asuransi. 3) Pelabuhan laut/pelabuhan udara. 4) Bea cukai. 30
D. Aktivitas Keseluruhan Freight Forwarding Sesuai dengan posisinya sebagai jasa pelayanan atau pengurusan atas seluruh kegiatan yang diperlukan bagi terlaksananya pengiriman, freight forwarding mempunyai aktivitas sebagai berikut : 1. Memilih rute perjalanan barang. 2. Melaksanakan penerimaan barang. 3. Mempelajari Letter of Credit barang, peraturan-peraturan, mempersiapkan dokumen-dokumen. 4. Melaksanakan transportasi barang ke pelabuhan, mengurus ijin bea cukai, menyerahkan barang ke pemilik. 5. Membayar biaya-biaya handling dan freight. 6. Mendapatkan B/L atau dari pengangkut. 7. Mengurus asuransi transportasi yaitu ajaran klaim bila terjadi kehilangan atau kerusakan barang. 8. Memonitor perjalanan barang sampai ke pihak penerima. 9. Melaksanakan penerimaan barang dari pengangkut. 10. Mengurus ijin masuk pada bea cukai. 11. Melaksanakan transportasi barang dari pelabuhan ke tempat penyimpanan atau gudang. 12. Melaksanakan penyerahan barang kepada pihak consignee. 31