Elli Hidayati, 2 Martsa Rahmaswari. Abstrak

dokumen-dokumen yang mirip
KARAKTERISTIK IBU KAITANNYA DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH

Hubungan Usia Kehamilan dan Preeklampsia dengan Asfiksia Neonatorum Bayi Baru Lahir di RSUD Ambarawa Kabupaten Semarang

BAB I PENDAHULUAN. bulan, 80% anak meninggal terjadi saat umur 1-11 bulan. 1 Menurut profil

BAB I PENDAHULUAN. Hiperbilirubinemia merupakan peningkatan kadar plasma bilirubin 2 standar

HUBUNGAN ANTARA KEHAMILAN SEROTINUS DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD INDRAMAYU PERIODE 01 SEPTEMBER-30 NOVEMBER TAHUN 2014

HUBUNGAN BERAT LAHIR DENGAN KEJADIAN IKTERIK PADA NEONATUS TAHUN 2015 DI RSUD. DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN

BAB I PENDAHULUAN. Bayi menurut WHO ( World Health Organization) (2015) pada negara

BAB I PENDAHULUAN. paling kritis karena dapat menyebabkan kesakitan dan kematian bayi. Kematian

FAKTOR-FAKTOR PADA IBU BERSALIN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERBILLIRUBIN PADA BAYI BARU LAHIR DI RUMAH SAKIT DUSTIRA CIMAHI TAHUN 2009

HUBUNGAN USIA DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN RETENSIO PLASENTA PADA IBU BERSALIN

BAB I PENDAHULUAN. dengan jumlah kelahiran hidup. Faktor-faktor yang mempengaruhi AKB

HUBUNGAN PENAMBAHAN BERAT BADAN IBU SELAMA HAMIL DENGAN KEJADIAN BBLR DI RUMAH SAKIT DR. NOESMIR BATURAJA TAHUN 2014

HUBUNGAN KEHAMILAN POST TERM DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RSU PKU MUHAMMADIYAH BANTUL TAHUN 2013 NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN USIA, PARITAS DAN PEKERJAAN IBU HAMIL DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH

Hubungan antara Apgar Score Dengan Ikterus Neonatorum Fisiologis di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung Tahun 2014

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN NEONATUS RISIKO TINGGI

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KABUPATEN PANDEGLANG

BAB I PENDAHULUAN. Bayi Baru Lahir (BBL) atau neonatus adalah bayi umur 0-28 hari

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA IBU HAMIL TRIMESTER III DI PUSKESMAS CIKAMPEK KABUPATEN KARAWANG

ANALISIS FAKTOR RISIKO USIA KEHAMILAN DAN PARITAS TERHADAP KEJADIAN ABORTUS. La Ode Ali Imran Ahmad Universitas Haluoleo Kendari.

HUBUNGAN KEHAMILAN POSTTERM DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD ABDUL MOELOEK

PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU NIFAS TENTANG TANDA BAHAYA NEONATUS DI PUSKESMAS II KARANGASEM BALI TAHUN 2013

HUBUNGAN USIA GESTASI DAN JENIS PERSALINAN DENGAN KADAR BILIRUBINEMIA PADA BAYI IKTERUS DI RSUP NTB. Syajaratuddur Faiqah

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BBLR DI RSUD. PROF. DR. HI. ALOEI SABOE KOTA GORONTALO TAHUN Tri Rahyani Turede NIM

Volume 4 No. 1, Maret 2013 ISSN : HUBUNGAN PARITAS DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RSUD R.A KARTINI JEPARA INTISARI

PERBEDAAN ANGKA KEJADIAN RISIKO ASFIKSIA NEONATORUM ANTARA BAYI KURANG BULAN DENGAN BAYI CUKUP BULAN PADA BERAT BAYI LAHIR RENDAH (BBLR)

ABSTRAK INSIDENSI DAN FAKTOR-FAKTOR RISIKO IKTERUS NEONATORUM DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2005

PENELITIAN HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN TERHADAP HASIL LUARAN JANIN. Idawati*, Mugiati*

BULAN. Oleh: J DOKTER

Harto P. Simanjuntak 1, Heru Santosa 2, Maya Fitria 2. Abstract

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERBILIRUBINEMIA

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Intra Uterine Fetal Death (IUFD)

HUBUNGAN PARITAS DAN USIA IBU DENGAN BERAT BADAN BAYI BARU LAHIR DI RUMAH SAKIT UMUM INSANI KECAMATAN STABAT KABUPATEN LANGKAT TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENGARUH UMUR KEHAMILAN PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

ABSTRAK HUBUNGAN FAKTOR RISIKO IBU DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT IMMANUEL TAHUN 2011

BAB I PENDAHULUAN. kematian ibu dan angka kematian perinatal. Menurut World Health. melahirkan dan nifas masih merupakan masalah besar yang terjadi di

BAB I PENDAHULUAN. yang sering dihadapi tenaga kesehatan terjadi pada sekitar 25-50% bayi

Kata kunci : persalinan preterm dan aterm, apgar score, berat badan, panjang badan

ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU BERSALIN PREMATUR DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TUGUREJO SEMARANG TAHUN 2011

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan neonatal harus dimulai sebelum bayi dilahirkan

I. PENDAHULUAN. asfiksia, hampir 1 juta bayi meninggal (WHO, 2002). Di Indonesia, dari

BAB V PEMBAHASAN. A. Analisis Hasil Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Dr. Moewardi September hingga

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERSALINAN EKSTRAKSI VAKUM DI CAMAR II RSUD ARIFIN AHMAD PEKANBARU

Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 2, Oktober 2016 ISSN

BAB I PENDAHULUAN. Ikterus merupakan perubahan warna kuning pada kulit, jaringan mukosa,

FAKTOR RISIKO KEJADIAN PREEKLAMPSIA BERAT PADA IBU HAMIL DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. angka mortalitas tertinggi di negara-negara yang sedang berkembang.

HUBUNGAN ANTARA IBU HAMIL PRE EKLAMSI DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI RSUD SLEMAN YOGYAKARTA TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. dapat dilihat dengan upaya meningkatkan usia harapan hidup, menurunkan. untuk berperilaku hidup sehat (Depkes RI, 2009).

Relationships between Parity and Age of Pregnant Women with Infant Birth Weight in Puskesmas Kota Karang Bandar Lampung in 2012

BAB 1 PENDAHULUAN. saat menghadapi berbagai ancaman bagi kelangsungan hidupnya seperti kesakitan. dan kematian akibat berbagai masalah kesehatan.

ABSTRAK. HUBUNGAN UKURAN LINGKAR LENGAN ATAS (LLA) DAN KADAR HEMOGLOBIN (Hb) IBU KEHAMILAN ATERM DENGAN DISMATURITAS BAYI LAHIR DI SEBUAH RS DI MEDAN

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG MASASE FUNDUS UTERI TERHADAP PENGETAHUAN DAN INVOLUSI UTERUS PADA IBU POSTPARTUM DI RUMAH SAKIT ISLAM SAMARINDA

Riset Informasi Kesehatan, Vol. 6 No.1 Juni 2017 Hubungan sepsis neonatorum, BBLR dan asfiksia dengan kejadian ikterus pada bayi baru lahir

LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

Kejadian Ikterus Pada Bayi Baru Lahir Di RSUP H.Adam Malik Medan Dari Tahun

PENGARUH RIWAYAT HIPEREMESIS GRAVIDARUM TERHADAP BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RRI KEBIDANAN RSUD DR.IBNU SUTOWO BATURAJA

PENGETAHUAN IBU TENTANG PERAWATAN TALI PUSAT BERHUBUNGAN DENGAN WAKTU LEPAS TALI PUSAT

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016 ISSN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PARTUS LAMA

HUBUNGAN ANTARA INSIDEN IKTERUS NEONATORUM DENGAN PERSALINAN SECARA INDUKSI

BAB 1 PENDAHULUAN. penurunan angka kematian ibu (AKI) dan bayi sampai pada batas angka

Hubungan Antara Anemia Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah Di RS Pendidikan Panembahan Senopati Bantul

BAB I PENDAHULUAN. pelatihan medik maupun paramedik serta sebagai pelayanan peningkatan

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN PERSALINAN PRETERM DI RUANG BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM MEURAXA KOTA BANDA ACEH TAHUN 2012

Yulrina Ardhiyanti, Faktor Ibu yang Berhubungan dengan Kejadian Persalinan Lama di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru

ANALISIS BEBERAPA FAKTOR IBU YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH (BBLR) (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Ciamis Tahun 2013)

MOTIVASI DAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (ANC) PADA IBU HAMIL TRIMESTER III

HUBUNGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DENGAN KEMATIAN NEONATAL DI RSUD. DR. H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG TAHUN 2013 ABSTRAK

HUBUNGAN KEHAMILAN POST TERM DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD DR SOEDIRMAN KEBUMEN

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum Di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado

The Relationship of Postterm Pregnancies dnd Premature Infants With Neonatal Asphyxia

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG IKTERUS FISIOLOGIS PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN ABSTRAK

HUBUNGAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD DR. H. MOCH. ANSHARI SALEH BANJARMASIN TAHUN 2014

HUBUNGAN PREMATURITAS DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD JEND. AHMAD YANI KOTA METRO TAHUN 2016

Relationship between Gestational Age and Incident of Macrosomia

HUBUNGAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DENGAN ASFIKSIA NEONATORUM DI RSU DR. WAHIDIN SUDIRO HUSODO MOJOKERTO SANTI WANTI NIM

HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DENGAN KEJADIAN IKTERUS DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEMATIAN PERINATAL DI KABUPATEN LAMPUNG UTARA TAHUN 2014

ABSTRAK GAMBARAN KELAHIRAN PREMATUR DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI 2013-DESEMBER 2014

Hubungan Antara Partus Lama Dan Kondisi Air Ketuban Dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir (Stady Kasus Di Rsud Kota Salatiga Tahun 2012)

Hubungan Pengetahuan Dan Pendidikan Ibu Dengan Pertumbuhan Balita DI Puskesmas Plaju Palembang Tahun 2014

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUNJUNGAN IBU HAMIL (K4) DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS CIMARAGAS KABUPATEN CIAMIS TAHUN 2013.

FAKTOR MATERNAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN BBLR

Primigravida. Relationship With Birth Weight Normal On Labor Perineal Rupture Primigravida

BAB I PENDAHULUAN. perlu diperhatikan untuk ketahanan hidupnya (Muslihatun, 2010; h. 3).

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian BBLR

BAB I PENDAHULUAN. hingga kelahiran dan pertumbuhan bayi selanjutnya. (Depkes RI, 2009)

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN INFEKSI NEONATORUM DI RSUD UNGARAN TAHUN 2014 ABSTRAK

HUBUNGAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM DI RSU PKU MUHAMMADIYAH BANTUL YOGYAKARTA PERIODE NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. Kehamilan merupakan masa yang penting bagi perkembangan janin.

PERNYATAAN. diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan

Transkripsi:

HUBUNGAN FAKTOR IBU DAN FAKTOR BAYI DENGAN KEJADIAN HIPERBILIRUBINEMIA PADA BAYI BARU LAHIR (BBL) di RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) KOJA, JAKARTA UTARA TAHUN 2015 1 Elli Hidayati, 2 Martsa Rahmaswari 1,2 Prodi D-III Kebidanan FKK-UMJ Alamat email 1 : elli.akbid@gmail.com Abstrak Data tahun 2012 menemukan Angka Kematian Neonatus (AKN) sebesar 19/1000 Kelahiran Hidup (KH). Angka tersebut menurun dari 20/1000 KH di tahun 2007 dan 23/1000 KH di tahun 2002. Salah satu penyebab mortalitas pada bayi baru lahir adalah ensefalopati biliaris (lebih dikenal dengan kern ikterus). Hasil survey menemukan pada tahun 2007 angka kejadian hiperbilirubin mencapai angka 2,6%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor ibu (usia kehamilan, jenis persalinan, dan golongan darah ibu) dan faktor bayi (berat badan lahir, dan golongan darah bayi) dengan kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir di RSUD Koja, Jakarta Utara. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, dengan rancangan penelitian Cross Sectitonal. Populasi dalam penelitian ini adalah semua bayi yang mengalami hiperbilirubin dan dirawat di RSUD Koja Jakarta Utara pada tahun 2015, sejumlah 115 bayi. Tehnik pengambilan sampel dengan cara total sampling. Penelitian ini menggunakan uji analisis Chi Square. Hasil penelitian didapatkan rata-rata responden yang mengalami hiperbilirubinimia 19,1 % dengan kadar bilirubin > 15 gr% dan terdapat 80,9% dengan kadar bilirubin 12-15 gr%. Berdasarkan uji Chi Square bahwa usia kehamilan berhubungan dengan kejadian hiperbilirubinemia (p value=0,010, OR=0,235) dan Berat Badan Lahir berhubungan dengan hiperbilirubinemia (pvalue=0,001, OR=0,148). Simpulan dari penelitian terdapat hubungan antara usia kehamilan dan Berat Badan Lahir dengan hiperbilirubinemia. Diharapkan dari hasil penelitian ini bidan dapat mendeteksi dini hiperbilirubin pada bayi. Kata kunci : Hiperbilirubin, Usia Kehamilan, Berat Badan Lahir, Jenis Persalinan, Darah Abstract Data in 2012 found that the Neonatal Mortality Rate (NMR) is 19/1000 live births. The NMR decreased from 20/1000 live birth 2007 to live birth 23/1000 in 2002. One of the most causes mortality in newborns is biliary encephalopathy ( better known as kernicterus ). The results of the survey in 2007 found that Hiperbilirubin incidence rate is 2.6 %. This study aims to determine the relationship of maternal factors (gestational age, type of childbirth, and maternal blood type ) and infant factors ( birth weight, and infant blood type ) with hyperbilirubinemia in newborns in Koja hospitals, North Jakarta. This research is a quantitative research with Cross Sectitonal method. The population in this study were all babies who have Hiperbilirubin and treated at Koja Hospital in 2015, its about 115 babies. Total Sampling technique that used was total sampling method. This study using Chi Square test analysis. The result showed the average of respondents who experienced a hiperbilirubinimia is 19.1 % with bilirubin levels > 15 g% and 80.9 % with bilirubin levels of 12-15 g%. Based on Chi Square test that gestational age associated with the incidence of hyperbilirubinemia ( p value = 0.010, OR = 0.235 ) and birth weight associated with hyperbilirubinemia ( pvalue = 0.001, OR = 0.148 ). This study conclude that, there is a relationship between gestational age and birth weight with hyperbilirubinemia. The results of this study is expected to help midwife detect Hiperbilirubin in infants earlier. Keywords : Hyperbilirubinemia, Gestasional age, birth weight, typo of childbirth, blood types 93

PENDAHULUAN Pembangunan Kesehatan masyarakat yang telah dilaksanakan selama ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Indikator derajat kesehatan masyarakat komponen kesehatan diantaranya adalah Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Indonesia masih berada pada posisi terendah di ASEAN untuk masalah AKB pada tahun 2007, dinegara-negara ASEAN seperti Singapura 3/1000 per Kelahiran Hidup (KH), Malaysia 5,5/1000 per KH, Thailand 17/1000 per KH dan di Indonesia mencapai 34/1000 KH. Hasil survey tahun 2012, Angka Kematian Neonatus (AKN) pada tahun 2012 sebesar 19/1000 KH, menurun dari 20/1000 KH di tahun 2007 dan 23/1000 KH di tahun 2002. Hasil penelitian di dunia pada tahun 2003, kematian bayi terjadi pada usia neonatus dengan penyebab infeksi 33%, asfiksia/ trauma 28%, BBLR 24%, kelainan bawaan 10%, dan lain-lain 5%. Salah satu penyebab mortalitas pada bayi baru lahir adalah ensefalopati biliaris (lebih dikenal dengan kernikterus). Ensefalopati biliaris merupakan komplikasi ikterus neonatorum yang paling berat. Selain memiliki angka mortalitas yang tinggi, juga dapat menyebabkan gejala sisa berupa cerebral palsy, tuli nada tinggi, paralysis dan displasia dental yang sangat mempengaruhi kualitas hidup. Ikterus adalah suatu keadaan kulit dan membran mukosa yang warnanya menjadi kuning akibat peningkatan jumlah pigmen empedu di dalam darah dan jaringan tubuh. Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi menimbulkan kernikterus, jika tidak ditanggulangi dengan baik. Hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam faktor penyebab seperti umur kehamilan, berat badan lahir, jenis persalinan dan golongan darah. Hasil penelitian pada tahun 2007 angka kejadian hiperbilirubin mencapai angka 2,6%, dan dari penelitian yang di lakukan di RSUD Kota Bandung diperoleh hasil kejadian hiperbilirubin mencapai 12,3%. Wilayah kota administrasi Jakarta Utara merupakan salah satu daerah administratif di Provinsi DKI Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Pusat kesehatan masyarakat jakarta utara salah satunya adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja Jakarta Utara. Menurut data di RSUD Koja Jakarta Utara tahun 2013 kejadian hiperbilirubin sebanyak 123 bayi, dan terjadi peningkatan ditahun 2014 menjadi 148 bayi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor ibu dan faktor bayi dengan kejadian hiperbilirubinemia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Koja, Jakarta Utara tahun 2015. METODE Jenis desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ini adalah analisis sederhana dengan pendekatan potong lintang (cross sctional), dimana seluruh variabel yang diamati diukur dan dihubungkan antara variabel independen dan dependen. Variabel Independen Faktor Ibu (Usia Kehamilan, Jenis Persalinan, golongan darah ibu) Faktor Bayi (Berat Badan Lahir (BBL), golongan darah bayi). Variabel Dependen (Hiperbilirubinemia pada Bayi Baru Lahir). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi yang mengalami hiperbilirubin, berjumlah 115 orang, sedangkan sampel dalam penilitian ini menggunakan rumus Taroyamane didapatkan hasil 54 orang. Namun dalam penelitian ini 94

menggunakan teknik total sampling, jadi jumlah sampel yang diteliti merupakan total populasi yaitu 115 orang. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah bayi yang memiliki kadar bilirubin lebih dari 12 gr%. Tempat pengambilan data di RSUD Koja tahun 2015. Waktu pelaksanan pengambilan data pada bulan Mei 2016. Jenis data adalah data sekunder yang diambil dari rekam medis, alat ukur menggunakan kuisioner yang berisi tentang pertanyaan dalam variabel yang diteliti. Pengumpul data dilakukan oleh peneliti dibantu seorang mahasiswa dan petugas rekam medis. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar Hiperbillirubinemia di RSUD Koja, Jakarta Utara Tahun 2015 22(19.1%) 2 3 4 5 Aterm dan post term Jenis persalinan 96 83.5 Normal 50 43,5 Tindakan(S C,FE, VE) darah ibu 65 56,5 O 10 8,7 A,B dan AB 105 91,3 Berat badan lahir <2500 gr 26 22,6 2500 gr 89 77,4 darah bayi A,B.AB 49 42,6 O 66 57,4 TOTAL 115 100 Berdasarkan diagram pie diatas kadar bilirubin tertinggi 93 orang (80.9%) mengalami hiperbilirubinimia pada kadar 12-15gr%, sedangkan 22 orang (19.1%) mengalami kecedurungan kearah kern ikterus (kadar bilirubin >15gr%). Tabel 1.1 Distribusi Frekuensi Usia Kehamilan, Jenis Persalinan, Darah Ibu, Berat Badan Bayi, Darah Terhadap Hiperbilirubin di RSUD Koja Tahun 2015 No 1 Variabel Usia kehamilan 93(80.9%) F (n=115) % Preterm 19 16.5 Tabel 1.2 Hubungan Antara Usia Kehamilan, Jenis Persalinan, Darah Ibu, Berat Badan Bayi, Darah Bayi Terhadap Hiperbilirubin Di RSUD Koja Tahun 2015 Variabel P value OR (CI (95 %) Usia 0.235 (0.080-0.010 kehamilan 0.686) Jenis 1.441(0.552-0.485 persalinan 3.763) 0.516(0.122-0.401 darah ibu 2.178) Berat badan 0.148(0.054-0.001 lahir bayi 0.407) 0.867(0.340-0.813 darah bayi 2.207) pada usia kehamilan aterm atau post term sebesar 96(83.5%), sedangkan preterm 19(16.5%). Hasil analisa hubungan antara usia kehamilan dengan kejadian hiperbilirubinemia pada usia kehamilan pretem 82(85,4%). 95

Sedangkan usia kehamilan aterm dan post term sebesar 8 (42.1%). Uji statistik diperoleh nilai pvalue 0.010 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara usia kehamilan dengan kejadian hiperbillirubin dan dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR = 0.235, (95%CI)=(0.080-0.686) artinya usia kehamilan preterm mempunyai peluang 0.235 kali untuk terjadi hiperbilirubin dibandingkan dengan usia kehamilan aterm atau post term. Pertumbuhan organ tubuh bayi yang lahir prematur belum berfungsi seperti bayi yang matur, oleh karena itu bayi prematur banyak yang mengalami kesulitan untuk hidup diluar rahim ibu dan semakin mudah terjadi komplikasi serta tingginya angka kematian. Hal ini menunjukkan bahwa kehamilan prematur dapat mempengaruhi angka kejadian hiperbilirubin. pada usia kehamilan <37 minggu memiliki angka terbesar pada (tabel 1.1). Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Tanjungkarang, kehamilan <37 memiliki faktor risiko terjadinya 6 kali lipat. Usia kehamilan <37 minggu sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup bayi. semakin rendah usia kehamilan dan semakin kecil bayi yang dilahirkan, makin tinggi angka kesakitan dan kematiannya. Pertumbuhan organ tubuh bayi yang lahir prematur belum berfungsi seperti bayi yang matur, oleh karena itu bayi prematur banyak yang mengalami kesulitan untuk hidup diluar rahim ibu dan semakin mudah terjadi komplikasi serta tingginya angka kematian. Hal ini menunjukkan bahwa kehamilan prematur dapat mempengaruhi angka kejadian hiperbilirubin. jenis persalinan menunjukkan ibu yang bersalin tindakan ada 51 orang (78.5%) dan persalinan normal sebesar 8 orang (16.0%). Hal tersebut sejalan dengan penelitian di RSUD Kota Bandung, Jawa Barat tahun 2010 yang menemukan bahwa kejadian hiperbilirubin terbanyak di jenis persalinan ekstraksi vacum yaitu sebesar 13,0%. 15 Uji statistik diperoleh nilai Pvalue 0,485 dengan OR = 1.441 (95% CI)=(0.552-3.763), artinya tidak ada hubungan antara jenis persalinan dengan kejadian hiperbilirubinemia. Bayi yang dilahirkan secara ekstraksi vacum dan ekstrasi forcep mempunyai kecenderungan terjadinya perdarahan tertutup di kepala, seperti caput sudccadenaum dan cepalhematoma yang merupakan faktor resiko terjadinya hiperbilirubin pada bayi. pada golongan darah ibu O sebesar 10(8.7%), sedangkan golongan darah A,B dan AB 105(91.3%). Uji statistik diperoleh nilai pvalue 0.401 (95% CI)=(0.080-0.686) Hasil menunjukan bahwa kejadian hiperbilirubenimia sering terjadi pada ibu yang bergolongan darah O. Hal tersebut sejalan dengan teori bahwa kejadian hiperbilurin akan beresiko lebih tinggi pada ibu yang memiliki golongan darah O dan berbeda golongan darah dengan bayinya. BB bayi 2500 gram memiliki angka terbesar pada 89(77,4),sedangkan BB bayi < 2500 gram ( 22,6 ) Hal ini sejalan dengan teori, hiperbilirubin terjadi pada bayi berat badan lahir rendah karena fungsi hepar yang belum matang atau terdapat gangguan fungsi hepar seperti hipoksia, hipoglikemi, asidosis, dan lain-lain sehingga mengakibatkan kadar bilirubin meningkat. Uji statistik diperoleh nilai pvalue 0.001 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara Berat Badan Lahir 96

dengan kejadian hiperbillirubin dan dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR = 0.148 (95% CI)=(0.054-0.407) artinya Berat Badan bayi lahir mempunyai peluang 0.148 kali untuk terjadi hiperbilirubin dibandingkan dengan berat badan bayi 2500 gram. Hasil penelitian menunjukan bahwa kejadian hiperbilirubin sering terjadi pada bayi yang bergolongan darah O sebanyak 66 (57,4 %),sedangkan yang bergolongan darah A,B dan AB sebesar 49 ( 42,6 %). Hal ini tidak sejalan dengan teori yang menyebutkan bahwa bayi yang lahir bergolongan darah A atau B, maka kemungkinan akan mengalami hiperbilirubin apabila ibu bergolongan darah O. Hal ini bisa disebabkan pada saat pemotongan tali pusat, darah ibu dapat masuk ke sirkulasi darah bayi. Uji statistik diperoleh nilai pvalue 0,813 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara golongan darah bayi dengan kejadian hiperbillirubin dan dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR = 0.867 (95% CI)=(0.340-2,207). SIMPULAN Simpulan dari penelitian terdapat hubungan antara usia kehamilan dan Berat Badan Lahir dengan hiperbilirubinemia. Diharapkan dari hasil penelitian ini bidan dapat mendeteksi dini hiperbilirubin pada bayi. DAFTAR PUSTAKA Anggraini, Yetti. 2013. Hubungan Antara Persalinan Prematur Dengan Hiperbilirubin Pada Neonatus. Tanjungkarang Depkes RI, Riset Kesehatan Dasar, 2007. [dokumen pada internet Indonesia] [diunduh pada 2 Juli 2016]. Tersedia dari: http://www.depkes.ac.id Depkes RI, Profil Kesehatan Indonesia, 2014. [dokumen pada internet Indonesia] [diunduh 2 juli 2016]. Tersedia dari: http://www.depkes.ac.id Depkes RI, Survei Demografi Kesehatan Indonesia, 2012. [dokumen pada internet Indonesia] [diunduh 2 maret 2010]. Tersedia dari:http://www.depkes.ac.id. Khusna, Nailul dan Setiawan. 2013. Faktor Resiko Neonatus Bergolongan Darah A atau B dari Ibu yang Bergolongan Darah O Terhadap Kejadian Hiperbilirubinemia. Universetas Diponegoro Purwokerto. Kuning / Jaundice pada Bayi Baru Lahir. 2014. [dokumen pada internet Indonesia] [diunduh 3 juli 2016]. Tersedia dari : http//www.bidankita.com. Mauliku, Novie E dan Ade Nurjanah. 2009. Faktor-Faktor Pada Ibu Bersalin Yang Berhubungan dengan Kejadian Hiperbilirubin Pada Bayi Baru Lahir di RS.Dustira Cimahi Tahun 2009. Bandung. Mansjoer, Arief. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:Medika Aeseulupius. Murray, R.K. 2009. Edisi Bahasa Indonesia. Biokimia Harper Edisi 27. Alih Bahasa Pendit, Bharm U. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Ngatiyah.2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta:Buku Kedokteran EGC Nelson.1996.Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15.Jakarta:Buku Kedokteran EGC. Persalinan Dengan Operasi Caesar. 2016. [dokumen pada internet Indonesia] [diunduh 3 juli 2016]. Tersedia dari: http//www.bidanku.com. 97

Prawirohardjo, S.2012.Ilmu Kebidanan.Jakarta: Yayasan Penerbit Sarwono Prawirohardjo Septiani N, Farid, Handayani S. 2013. Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Hiperbilirubinemia Pada Neonatus di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung. Bandung Siswosuharjo, Suwignyo.2010. Panduan Super Lengkap Hamil Sehat. Jakarta:Plus Wisma Hijau Surasmi, srining.2002.perawatan Bayi Resiko Tinggi.Jakarta:Buku Kedokteran EGC 98