BAB II KAJIAN TEORI. A. Perilaku Seksual Pranikah. 1. Perilaku Seksual. Sarwono (2003), mendefinisikan perilaku seksual remaja sebagai

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Setiap manusia selama hidupnya pasti mengalami perubahan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Perilaku Seksual Pranikah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Perilaku Seksual. laku individu yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis

BAB I PENDAHULUAN. cinta, seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan individu dewasa.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. Remaja adalah mereka yang berusia diantara tahun dan merupakan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. karena kehidupan manusia sendiri tidak terlepas dari masalah ini. Remaja bisa dengan

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA PUTRI. Skripsi

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa

BAB I PENDAHULUAN. dapat diabaikan dalam kehidupan manusia. Namun demikian, orang tua masih

BAB 1 PENDAHULUAN. Statistik (BPS) Republik Indonesia melaporkan bahwa Indonesia memiliki

BAB I PENDAHULUAN. Periode perkembangan manusia terdiri atas tiga yaitu masa anak-anak,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUIAN. A. Latar Belakang Masalah. meningkat. Remaja menjadi salah satu bagian yang sangat penting terhadap

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. untuk dibicarakan. Hal ini dimungkinkan karena permasalahan seksual telah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dimasyarakat pada saat ini melalui media-media seperti televisi, koran, radio dan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. berhubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen, 1998). Potter & Perry. kelemahannya pada seluruh aspek kepribadiannya.

BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada masa transisi yang terjadi di kalangan masyarakat, secara khusus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tersebut terjadi akibat dari kehidupan seksual remaja yang saat ini semakin bebas

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan salah satu fase krusial dalam

BAB I PENDAHULUAN. namun akan lebih nyata ketika individu memasuki usia remaja.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. melalui perubahan fisik dan psikologis, dari masa kanak-kanak ke masa

BAB I PENDAHULUAN. Fenomena perilaku seksual yang tidak sehat dikalangan remaja Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hasil survei yang dilakukan Hotline Pendidikan dan Yayasan Embun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. latin adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Latifah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Menurut Imran (1998) masa remaja diawali dengan masa pubertas,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Remaja. rentan mengalami perkembangan fisik dan mental.

SKRIPSI. Proposal skripsi. Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S-1 Kesehatan Masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. dalam tubuh yang mengiringi rangkaian pendewasaan. Pertumbuhan organ-organ

BAB I PENDAHULUAN. Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa. reproduksi sehingga mempengaruhi terjadinya perubahan perubahan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. topik yang menarik untuk dibicarakan. Topik yang menarik mengenai masalah

BAB I. perkembangan, yaitu fase remaja. Remaja (Adolescence) di artikan sebagai masa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menikmati masa remajanya dengan baik dan membahagiakan, sebab tidak jarang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang jangka

BAB II KAJIAN TEORI. dibaca dalam media massa. Menurut Walgito, (2000) perkawinan

HUBUNGAN KEINTIMAN KELUARGA DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI D3 KEBIDANAN POLTEKKES BHAKTI MULIA

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanan menuju masa dewasa.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja dikenal sebagai masa peralihan dari anak-anak menuju

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. untuk memiliki. Pada masa ini, seorang remaja biasanya mulai naksir lawan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam proses kehidupan manusia mengalami tahap-tahap perkembangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dengan orang lain, perubahan nilai dan kebanyakan remaja memiliki dua

PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH DI KALANGAN REMAJA (Studi Kasus di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan)

BAB I PENDAHULUAN. istri adalah salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa madya, yaitu

KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG PERILAKU SEKSUAL DI SMK PENCAWAN MEDAN TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN. baik secara fisik maupun psikis. Menurut Paul dan White (dalam Santrock,

BAB I PENDAHULUAN. reproduksi adalah kesehatan yang sempurna baik fisik, mental, sosial dan

BAB I PENDAHULUAN. perilaku remaja dalam pergaulan saat ini. Berbagai informasi mampu di

BABI PENDAHULUAN. Manusia sebagai makhluk sosial secara kodrat mempunyai berbagai

BAB II TINJAUAN TEORI

Gambaran konsep pacaran, Nindyastuti Erika Pratiwi, FPsi UI, Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nadia Aulia Nadhirah, 2013

Bab I Pendahuluan. Mahasiswa masuk pada tahapan perkembangan remaja akhir karena berada pada usia 17-

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. peka adalah permasalahan yang berkaitan dengan tingkat kematangan seksual

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa.

BAB 1 PENDAHULUAN. Konsep diri adalah cara individu dalam melihat pribadinya secara utuh,

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat melekat pada diri manusia. Seksualitas tidak bisa dihindari oleh makhluk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa

BAB I PENDAHULUAN. jangka waktunya berbeda bagi setiap orang tergantung faktor sosial dan budaya.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Masa remaja merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak

BAB I PENDAHULUAN. dewasa yang meliputi semua perkembangannya yang dialami sebagai. persiapan memasuki masa dewasa (Rochmah, 2005). WHO mendefinisikan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Perilaku Seksual Pranikah. jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam macam mulai dari perasaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. negara-negara Barat, istilah remaja dikenal dengan adolescence yang berasal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam istilah asing yaitu adolescence yang berarti tumbuh kearah

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. menuju masyarakat modern, yang mengubah norma-norma, nilai-nilai dan gaya

2016 HUBUNGAN ATTACHMENT ANAK TERHADAP ORANGTUA DAN PEER PRESSURE DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA DI SMAN 1 SUKATANI PURWAKARTA

PERILAKU SEKSUAL WABAL DI TINJAU DARI KUALITAS KOMUNIKASI ORANG TUA-ANAK TENTANG SEKSUALITAS S K R I P S I

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat diwujudkan dalam tingkah laku yang bermacam-macam, mulai dari

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pada perkembangan zaman saat ini, perilaku berciuman ikut dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa remaja adalah masa terjadinya perubahan-perubahan baik perubahan

BAB 1 PENDAHULUAN. sampai 19 tahun. Istilah pubertas juga selalu menunjukan bahwa seseorang sedang

BAB 1 PENDAHULUAN. Y, 2009). Pada dasarnya pendidikan seksual merupakan suatu informasi

BAB I PENDAHULUAN A Latar Belakang Masalah Jelia Karlina Rachmawati, 2014

BAB 1 PENDAHULUAN. berbagai pengenalan akan hal-hal baru sebagai bekal untuk mengisi kehidupan

BAB 1 PENDAHULUAN. ketertarikan mereka terhadap makna dari seks (Hurlock, 1997). media cetak maupun elektronik yang berbau porno (Dianawati, 2006).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB 2 Tinjauan Pustaka

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Ensiklopedia indonesia, perkataan perkawinan adalah nikah;

BAB 1 PENDAHULUAN. (Santrock,2003). Hall menyebut masa ini sebagai periode Storm and Stress atau

BAB I PENDAHULUAN. tampak pada pola asuh yang diterapkan orang tuanya sehingga menjadi anak

Transkripsi:

8 BAB II KAJIAN TEORI A. Perilaku Seksual Pranikah 1. Perilaku Seksual Sarwono (2003), mendefinisikan perilaku seksual remaja sebagai segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Perilaku seksual bermacammacam. Mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu serta bersenggama atau hubungan seksual. Perilaku tersebut sebaiknya dilakukan dalam suatu perkawinan. Namun hal tersebut mengalami pergeseran pada masa sekarang. Sebagian remaja masa kini menganggap bahwa perilaku seksual pada masa pacaran adalah hal yang biasa dan wajar. Soetjiningsih (2008) mengartikan perilaku seksual remaja adalah segala tingkah laku seksual yang didorong oleh hasrat seksual dengan lawan jenisnya, yang dilakukan oleh remaja sebelum menikah. Bentukbentuk perilaku bisa bermacam-macam, dimulai dari perasaan tertarik sampai pada tingkah laku berkencan, bercumbu. Stuart dan Sundeen (1999), perilaku seksual yang sehat dan adaptif dilakukan ditempat pribadi dalam ikatan yang sah menurut hukum. Purnomowardani dan Koentjoro (2000), Perilaku seksual adalah manifestasi dari adanya dorongan seksual yang dapat diamati secara 8

9 langsung melalui perbuatan yang tercermin dalam tahap-tahap perilaku seksual dari tahap yang paling ringan hingga yang paling berat. Berdasarkan definisi-definisi yang telah uraian diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual dengan awal ketertarikan, berkencan dan bercumbu. 2. Bentuk-Bentuk Perilaku Seksual Soetjiningsih (2008), mengungapkan bahwa bentuk-bentuk perilaku seksual remaja pada umumnya bertahap dimulai dari tingkat yang kurang intim sampai dengan hubungan seksual. a. Berpegangan tangan b. Memeluk/dipeluk bahu c. Memeluk/dipeluk pinggang d. Berciuman pipi, kening. e. Berciuman bibir f. Berciuman sambil berpelukan g. Meraba/diraba daerah erogen dalam keadaan berpakaian h. Meraba/diraba daerah erogen dalam keadaan tanpa pakaian i. Mencium/dicium daerah erogen dalam keadaan berpakaian j. Mencium/dicium daerah erogen dalam keadaan tanpa pakaian k. Saling menempelkan alat kelamin dalam keadaan berpakaian l. Saling menempelkan alat kelamin dalam keadaan tanpa pakaian m. Hubungan seksual.

10 Berdasarkan uraian diatas, peneliti menyimpulkan bahwa bentukbentuk seksual yaitu perilaku yang dilakukan oleh remaja dari perilaku yang intim hingga berhubungan seksual. 3. Faktor yang mempengaruhi perilaku seksual Menurut Sarwono (2008), secara garis besar perilaku seksual pada remaja disebabkan oleh : a. Meningkatnya libido seksual. Dalam upaya mengisi peran sosial, seorang remaja mendapatkan motivasinya dari meningkatnya energi seksual atau libido. Energi seksual ini berkaitan erat dengan kematangan fisik. b. Penundaan usia perkawinan. Dengan meningkatnya taraf pendidikan masyarakat, dengan makin banyaknya anak-anak perempuan bersekolah, maka semakin tertunda kebutuhan untuk menikahkan anakanaknya untuk bersekolah dulu sebelum menikahkan mereka. c. Tabu atau larangan. Sementara usia perkawinan ditunda, norma-norma agama tetap berlaku dimana orang tidak boleh melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Pada masyarakat modern bahkan larangan tersebut berkembang lebih lanjut pada tingkat yang lain seperti berciuman dan masturbasi, untuk remaja yang tidak dapat menahan diri akan cenderung melanggar larangan tersebut. d. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Remaja yang sudah mulai berkembang kematangan seksualnya secara lengkap namun kurang mendapat pengarahan dari orang tua mengenai kesehatan

11 reproduksi khususnya tentang akibat-akibat perilaku seks, maka mereka sulit mengendalikan rangsangan-rangsangan dan banyak kesempatan seksual pornografi melalui media masa yang membuat mereka melakukan perilaku seksual secara bebas tanpa mengetahui resikoresiko yang dapat terjadi seperti kehamilan yang tidak diinginkan dan infeksi menular seksual. e. Pergaulan semakin bebas. Gejala ini banyak terjadi di kota-kota besar, banyak kebebasan pergaulan antar jenis kelamin pada remaja, semakin tinggi tingkat pemantauan orang tua terhadap anak remajanya, semakin rendah kemungkinan perilaku menyimpang menimpa remaja. Oleh karena itu di samping komunikasi yang baik dengan anak, orang tua juga perlu mengembangkan kepercayaan anak pada orang tua. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi perilaku seksual adalah kurangnya informasi atau pendidikan dari orang tua sehingga mencari tau menggunakan media masa, seperti internet, VCD, dan buku porno, serta faktor yang sangat mempengaruhi yaitu dari pergaulan, dengana adanya pergaulan yang bebas maka remaja semakin bebas berperilaku yang di inginkan. 4. Perilaku Seksual Pranikah Pengertian perilaku seksual pranikah adalah segala tingkah laku seksual yang didorong oleh hasrat seksual dengan lawan jenis, Sarwono (2008). Pada masa dewasa ini seseorang yang sudah mengenal tentang perilaku seksual pranikah akan menjadi kekhawatiran pada orang tua dan

12 masyarakat sekitar karena banyak tingkah laku dari seksual pranikah diantaranya adalah berkencan, berpegangan tangan, berciuman, berpelukan dan bercumbu sebelum menikah Perilaku seksual pranikah menurut Chaplin (2002) adalah tingkah laku, perasaan atau emosi yang berasosiasi dengan perangsang alat kelamin. Dengan berkembangnya seksual, saat ini terjadi begitu banyak perubahan yang sangat cepat dikalangan remaja. Hal tersebut tidak lepas dari pengaruh media masa, terutama televis, internet, serta berbagai macam informasi dari gaya hidup dan pergaulan yang dapat mempengaruhi remaja. Saat ini remaja merupakan bagian yang sulit terpisah dari gaya hidupnya. Remaja sebagai masa yang masih labil dalam mengatur emosinya, maka remaja sangat mudah terpengaruh dari pergaulan teman sebaya, internet dan televisi. Berdasarkan definisi-definisi yang telah uraian diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa perilaku seksual pranikah adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual seperti bergandengan tangan, berciuman, bercumbu. Perilaku tersebut yang seharusnya dilakukan dalam suatu pernikahan namun hal tersebut dilakukan oleh pria dan wanita tanpa melalui proses pernikahan yang resmi.

13 5. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah Menurut Soetjiningsih (2008), menunjukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah remajakarena : a. Hubungan dengan orang tua yang buruk atau tidak ada komunikasi yang baik dengan keluarga. b. Karena tekanan negatif dari teman sebayanya. c. Pemahaman tingkat agama. d. Serta karena terpapar media pornografi dari media masa. Proses perkembangan pola tingkah laku remaja secara tidak langsung berhubungan dengan peran orang tua dalam memberikan dasar pendidikan agama, budi pekerti/sopan santun, kasih sayang, rasa aman serta membiasakan remaja selalu mematuhi peraturan yang ada di lingkungannya. Hurlock (2007) Berdasarkan uraian diatas, peneliti menyimpulkan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi perilaku seks pranikah yaitu dari hubungan dengan orang tua yang tidak baik, kurangnya komunikasi dengan keluarga, kurangnya kasih sayang dari orang tua serta kerena paparan dari media masa. 6. Aspek-Aspek Perilaku Seksua Pranikah Menurut Jersild (2005), aspek-aspek perilaku seksual pranikah antara lain :

14 a. Aspek biologis. Aspek ini meliputi respon fisiologis terhadap stimulus seks, reproduksi, pubertas, perubahan fisik serta pertumbuhan dan perkembangan pada umumnya. b. Aspek psikologis. Seks merupakan proses belajar yang terjadi pada diri individu untuk mengekspresikan dorongan seksual melalui perasaan, sikap dan pemikiran tentang seksualitas. c. Aspek social. Aspek ini meliputi pengaruh budaya berpacaran, hubungan interpersonal dan semua hal tentang seks yang berhubungan dengan kebiasaan yang dipelajari individu di dalam lingkungannya. d. Aspek moral. Yang termasuk dalam aspek ini adalah menjawab pertanyaan benar atau salah, harus atau tidak harus, serta boleh atau tidaknya suatu perilaku seseorang. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa aspek-aspek seksual adalah perubahan, pertumbuhan dan perkembangan fisik pada umumnya, seksual meupakan proses pembelajaran dari setiap individu melalui perasaan sikap dan pemikiran. B. Intimacy 1. Pengertian Intimacy Intimasi merupakan kata dari keintiman yang dapat diartikan sebagai suatu kemampuan memperhatikan orang lain dan membagi pengalaman bersama.

15 Sternberg (1988), intimacy adalah kondisi ketika seseorang merasa cinta, dekat dan hangat kepada orang lain, sehingga ia bersedia membagi informasi terdalam mengenai dirinya kepada orang tersebut Hatfield & Rapson (1994), pada masa dewasa ini, orang-orang telah siap dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Mereka sangat mendambakan hubungan intim yang akrab, dengan dilandasi rasa persaudaraan, serta setiap mengembangkan daya-daya yang dibutuhkan untuk memenuhi komitmen-komitmen ini sekalipun mereka harus banyak berkorban. Dalam suatu studi ditunjukan bahwa hubungan intim mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan psikologis dan fisik pada seseorang, dan dimana orang-orang memiliki tempat untuk berbagi ide, perasaan dan masalah lebih bahagia dan lebih sehat dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki tempat untuk berbagi. Papalia, Old & Feldman (2008), Intimacy merupakan pengalaman yang ditandai oleh adanya kedekatan, kehangatan serta komunikasi yang mungkin disertai atau tanpa melibatkan kontak seksual. Seseorang akan menjadi lebih intim, selama ada keterbukaan yaitu saling responsive pada kebutuhan satu sama lain, serta adanya penerimaan dan penghargaan yang saling menguntungkan. Papalia, Old & Feldman, (2008). Keintiman juga meliputi kebutuhan untuk membentuk hubungan bagi tingkah laku manusia dan rasa saling memiliki ( sense of belonging ). Berdasarkan definisi-definisi yang telah diuraikan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa intimacy merupakan adanya pembentukan

16 hubungan intim dari orang-orang yang dewasa yang dilandasi dengan kedektan, kehangatan serta rasa persaudaraan, dengan adanya keterbukaan yang saling memberi respon maka hubungan tersebut dapat menjadi hubungan intim yang saling memiliki. 2. Aspek-aspek Intimacy Intimacy memiliki empat aspek menurut Hatfield dan Rapson (1994), yaitu : a. Aspek love dan affection, yang menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki perasaan lebih cinta dan sayang kepada pasangan intimnya dibandingkan kepada orang lain. b. Aspek trus, yang menjelaskan bahwa seringkali orang merasa tidak nyaman untuk membagi mimpi, harapan atau ketakutan mereka, kecuali mereka sudah yakin hal tersebut aman untuk dilakukan. Pada hubungan intimate, seseorang tidak lagi merasa takut atau tidak nyaman untuk membagi mimpi dan ketakutannya kepada pasangannya. c. Aspek self disclosure, yang menjelaskan bahwa ketika laki-laki dan perempuan sudah mampu mengungkapkan perasaan terdalam kepada satu sama lain, hubungan mereka akan semakin berkembang dan menjadi lebih intim. d. Aspek non verbal communication, yang menjelaskan bahwa pasangan dalam hubungan intim merasa lebih nyaman ketika berdekatan secara fisik.

17 Berdasarkan uraian diatas maka peneliti menyimpulkan bahwa aspek-aspek intimacy merupakan suatu kedekatan dengan pemberian rasa kasih dan sayang kepada pasangannya, pasangan yang salingmengungkapkan perasaannya maka huungan tersebut akan menjadi lebih intim dan berkembang. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi intimacy Ada 4 faktor yang mempengaruhi intimacy, dalam Yudistriana,dkk (2010) yaitu : Karena terjadinya kedekatan fisik ( physical proximity ) dengan orang lain yang dapat meningkatkan ataupun mengurangi kemungkinan bahwa kedua individu tersebut sering mengalami kontak. Kontak yang terus-menerus merupakan dasar awal ketertarikan pada seseorang. a. Keadaan yang afektif ( affective state ) pada seseorang, keadaan afektif mencakup seperti perasaan, minat, sikap, emosi atau nilai. b. Individu cenderung menyukai orang lain yang dihubungkan dengan emosi negatif c. Adanya reaksi emosional terhadap orang-orang yang ditemui sebagian ditentukan oleh bagaimana individu mempersepsikan karakteristik yang dapat di amati (observable characteristic) Berdasarkau uraian diatas, peneliti menyimpulkan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi intimacy adalah karena adanya kedekatan fisik pada kedua individu dengan memberikan perasaan, minat, sikap, nilai.maka dari situlah awal ketertarikan yang mempengaruhi intimacy

18 C. Remaja 1. Pengertian Remaja Desmita (2010), istilah remaja dikenal dengan adolescence yang berasal dari kata latin adolescere (dari kata benda adolescentia = remaja), yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa. Istilah remaja mencakup arti yang lebih luas yaitu kematangan fisik, sosial maupun psikologis. Sarwono (2000), memberikan definisi konseptual bahwa remaja merupakan suatu masa ketika : a. Individu berkembang saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda seksual sekunder sampai saat ia mencapai kematangan seksual. b. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. c. Terjadi peralihan dari ketergantungan ekonomi yang penuh kepada keadaan relativ lebih mandiri. Fase remaja merupakan perkembangan individu dengan perubahan fisik yang sangat cepat, termasuk pertumbuhan organ-organ reproduksi (organ seksual) untuk mencapai kematangan, sehingga mampu melangsungkan fungsi reproduksi. Menurut Pikunas (1976), masa remaja ini meliputi : a. Remaja awal usia 12-15 tahun b. Remaja madya usia 15-18 tahun c. Rmaja akhir usia 19-23 tahun

19 Sedangkan Salzman mengemukakan, bahwa remaja merupakan perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orangtua kearah mandiri (independence), dari minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika. Maka kesimpulan dari uraian diatas yaitu masa remaja merupakan suatu periode dari peralihan masa kanak-kanak menjadi masa dewasa, remaja juga mengalami keadaan yang lebih mandiri dari peralihan dan ketergantungan ekonomi, serta perubahan yang sangat penting yaitu kematangan organ-organ seksual yang mengakibatkan munculnya dorongan seksual pada diri remaja. Berdasarkan definisi yang telah diuraikan diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa remaja adalah individu yang menjadi lebih dewasa dengan perubahan fisik, sosial, psikologis dan seksual. 2. Ciri-Ciri Masa Remaja Menurut Hurlock (1999), ciri-ciri masa remaja antara lain : a. Masa remaja sebagai periode yang penting Remaja mengalami perkembangan fisik dan mental yang vepat dan penting dimana semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan pembentukan sikap, nilai dan minat baru. b. Masa remaja sebagai periode peralihan Peralihan tidak berarti terputus dengan apa yang telah terjadi sebelumnya. Tetapi peralihan merupakan perpindahan dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya, dengan demikian

20 dapat diartikan bahwa apa yang telah terjadi sebelumnya akan meninggalkan bekas pada apa yang terjadi sekarang dan yang akan datang. c. Masa remaja sebagai periode perubahan Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik.perubahan fisik yang terjadi dengan pesat diikuti dengan perubahan dan sikap yang juga berlangsung pesat. d. Masa remaja sebagai usia bermasalah Setiap periode mempunyai masalah tersendiri, namun masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit untuk diatasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. e. Masa remaja masa mencari identitas Pencarian identitas dimulai pada akhir masa kanak-kanak, penyesuaian diri dengan standar kelompok lebihpenting dari pada bersikap individualistis. Penyesuaian diri sengan kelompok pada remaja awal masih tetep penting bagi anak laki-laki dan perempuan, namun lambat laun mereka mulai mendambakan identitas diri dengan kata lain ingin menjadi pribadi yang berbeda dengan orang lain. f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan Anggapan stereotype budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak dapat dipercaya serta cenderung berperilaku merusak,

21 menyebabkan orang dewasa harus banyak membimbing kehidupan masa remaja dalam bertangguang jawab dan bersikap tidak simpatik. g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik Remaja pada masa ini melihat dirinya dan orang lain sebagai yang dia inginkan dan bukan sebagai adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Remaja akan merasa kecewa apabila orang lain mengecewakan jika ia tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan. h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa Semakin mendekatkan usia kematangan, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa, remaja mulai memutuskan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa yaitu sperti merokok, minum-minuan keras, obat-obatan serta dalam perbuatan seks. Berdasarkan uraian diatas, peneliti menyimpulkan bahwa ciri-ciri remaja adalah masa remaja sebagai periode yang sangat penting, mengalami perkembangan fisik dan mentalserta perubahan sikap dan perilaku yang sangat cepat.dengan pencarian identitas dirinya maka remaja mulai menyesuaikan diri dengan kelompoknya. Masa remaja juga sebagai abang masa dewasa, semakin dekat dengan usia kematangan remaja mulai memutuskan berbagai perilaku yang negatif dengan contoh berhura-hura, pergaulan bebas hingga perilaku seksual.

22 3. Aspek-Aspek Perkembangan Masa Remaja Aspek-aspek perkembangan pada masa remaja dapat dibagi menjadi dua yaitu : a. Perkembangan fisik Perkembangan fisik adalah perubahan perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik, Papalia & Olds, (2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi badan, berat tubuh, pertumbuhan tulang, otot, kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi orang dewasa dengan kematangan seperti perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif. Papalia dan Olds (2001). b. Perkembangan Kognitif Menurut Santrock (2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka.informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka.remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.

23 Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa aspek-aspek perkembangan masa remaja merupakan perkembangan fisik yang semakin matang dengan pertumbuhan tulang dan otot, kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Dengan perkembangan kognitif remaja semakin matang untuk berfikir dan merangkai berbagai ide-ide. D. Kerangka Pemikiran Remaja SKB Paket C di Kalibagor Intimacy Perilaku Seksual Pranikah Gambar 1 : kerangka pemikiran Kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah peserta dengan usia remaja madya di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kecamatan Kalibagor, dalam masa perkembangannya yang ditandai dengan pertumbuhan primer, sekunder serta mengalami kematangan yang sempurna. Dalam masa remaja ini mulai muncul hubungan intim seperti komitmen-komitmen dengan landasan rasa kedekatan, keakraban dan persaudaraan. Prager (1995) mendefinisikan intimacy

24 sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekresikan kebutuhannya terhadap orang lain. Memiliki hubungan intim yang lebih dekat maka akan memunculkan hasrat seksual yang semakin meningkat serta membutuhkan penyaluran dalam bentuk perilaku seksual. Taufik dkk (2005) mendefinisikan perilaku seksual sebagai perilaku yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang telah mencapai pada tahap hubungan intim. Pada remaja yang tidak mampu mengendalikan hubungan intim dengan lawan jenis, maka remaja cenderung berperilaku yang negatif, tidak membatasi keakraban dengan lawan jenis sehingga dapat berperilaku seksual pranikah. E. Hipotesis Berdasarkan uraian diatas diajukan hipotesis penelitian yaitu : Intimacy berhubungan dengan Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kecamatan Kalibagor.