BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Literatur akuntansi biaya mengklasifikasi biaya yang berhubungan dengan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. selalu mengupayakan agar perusahaan tetap dapat menghasilkan pendapatan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. efisien, mekanisme modal atau investasi perusahaan lalu target market serta

Manajemen Keuangan Agribisnis: KLASIFIKASI BIAYA

BAB II KERANGKA TEORI. Biaya adalah aliran sejumlah anggaran dalam mata uang yang harus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II PENGUKURAN BIAYA PEMBEBANAN PRODUK JASA. masa datang bagi organisasi (Hansen dan Mowen, 2006:40).

Bab 1 PENDAHULUAN. sebuah perusahaan. Manajer dapat dikatakan sebagai agent dan pemegang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Biaya Pengertian Biaya

Definisi akuntansi biaya dikemukakan oleh Supriyono (2011:12) sebagai

BAB II ANALISIS PROFITABILITAS PELANGGAN DAN PELAPORAN SEGMEN

BAB II KERANGKA TEORISTIS PEMIKIRAN. Harga pokok produksi sering juga disebut biaya produksi. Biaya produksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Biaya (cost) adalah kas atau setara kas yang dikorbankan untuk membeli barang atau jasa yang diharapkan akan memberikan manfaat bagi perusahaan saat

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BABl PENDAHULUAN. dituntut akan keunggulan kompetitif agar dapat bertahan dan memimpin

BAB II LANDASAN TEORI. II.1. Arti dan Tujuan Akuntansi Manajemen. Definisi normatif Akuntansi Manajemen menurut Management

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam akuntansi di Indonesia terdapat istilah-istilah biaya, beban, dan harga

BAB II PENGAMBILAN KEPUTUSAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 pasal 1 ayat 1, 2,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II PELAPORAN KEUANGAN BERDASARKAN SEGMEN. Segmen adalah unit-unit usaha penghasil laba dalam organisasi atau

BAB I PENDAHULUAN. suatu perusahaan dengan pihak pihak yang berkepentingan dengan data atau

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengendalian. Proses ini memerlukan sejumlah teknik dan prosedur pemecahan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORITIS. A. Pengertian dan Fungsi Akuntansi Biaya. 1. Pengertian Akuntansi Biaya

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Dalam mengelola suatu perusahaan telah lama dikenal suatu istilah yang

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Beberapa pengertian biaya antara lain dikemukakan oleh Supriyono

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Handout Akuntansi Manajemen

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Penjualan Dan Laba Operasi Pada Perusahaan Manufaktur

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II LANDASAN TEORI. merupakan suatu pengorbanan yang dapat mengurangi kas atau harta lainnya untuk mencapai

Penggolongan Biaya. Prepared by Ridwan Iskandar Sudayat, SE.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

METODE DIRECT COSTING SEBAGAI DASAR PENENTUAN HARGA JUAL PRODUK. Nurul Badriyah,SE,MPd

BAB 1 PENDAHULUAN. pemegang saham dengan cara menaikkan nilai perusahaan. Awalnya suatu

BAB II PENENTUAN BIAYA JASA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu pencatatan

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Mulyadi pengertian sistem dalam buku Sistem Akuntansi. yang terpadu untuk melaksanakan kegiatan pokok perusahaan.

Definisi Activity Based Management Aktivitas utama manjemen adalah mancari laba untuk kelangsungan hidup perusahaan. Setiap aktivitas harus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Teori ini pertama kali dicetuskan oleh Jensen dan Meckling (1976) yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. menerapkan metode Activity Based Costing dalam perhitungan di perusahan. metode yang di teteapkan dalam perusahaan.

PERTEMUAN KE-3 KONSEP DASAR AKUNTANSI MANAJEMEN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TIN 4112 AKUNTANSI BIAYA

BAB I PENDAHULUAN. memahami corporate governance. Jensen dan Meckling (1976) dalam Muh.

BAB II LANDASAN TEORI. membantu manajer dalam membuat keputusan yang lebih baik. Secara luas

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dari definisi biaya tersebut mengandung empat unsur penting biaya yaitu: 1. Pengorbanan sumber-sumber ekonomi.

AN A A N L A I L SA S A B I B AY A A Y A Yup Y i up e i,, M. M K. om 9/27/2014 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. UMKM memiliki peran yang cukup penting dalam hal penyedia lapangan. mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.

BAB5 PENUTUP. parsial. Berdasarkan hasil penelitian, hasil analisa, dan pembahasan yang telah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Nurlaila

BAB I PENDAHULUAN. pakaian, dan lainnya. Setiap jenis usaha yang ada memiliki karakteristik yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. hanya mendapatkan profit tetapi untuk untuk memaksimalkan nilai

BAB II LANDASAN TEORI

KONSEP-KONSEP DASAR AKUNTANSI MANAJEMEN

BAB 1 PENDAHULUAN. yang diambil dalam rangka proses penyusunan laporan keuangan akan. mempengaruhi penilaian kinerja perusahaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen.

Transkripsi:

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Biaya Menurut Mulyadi (1998:8) biaya adalah suatu pengorbanan sumber ekonomis, yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Simamora (1999:36) biaya adalah kas atau setara kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan membawa keuntungan di masa yang akan datang untuk kepentingan organisasi. Adapun menurut Supriyono (1999:16) biaya merupakan harga pokok barangbarang atau jasa-jasa yang dikonsumsi untuk menghasilkan pendapatan. Jadi, biaya merupakan sumber ekonomis yang dikeluarkan atau dikonsumsi, baik yang akan atau sudah direalisasikan, yang diukur dalam satuan uang untuk tujuan tertentu suatu organisasi, terutama dalam memperoleh manfaat di masa yang akan datang. 2.1.2. Klasifikasi Biaya Menurut Abdul Halim (1999:5) terdapat beberapa klasifikasi biaya, antara lain: 1) Klasifikasi biaya berdasarkan tendensi perubahannya terhadap aktivitas atau kegiatan. a) Biaya Tetap (fixed cost), yaitu biaya yang jumlah totalnya tetap konstan tidak terpengaruh oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai 7

dengan tingkatan tertentu. Contohnya adalah biaya penyusutan dengan metode garis lurus, biaya gaji karyawan tetap. b) Biaya Variabel (variable cost), yaitu biaya yang selalu berubah secara proporsional atau sebanding sesuai dengan perbandingan volume aktivitas perusahaan. Contohnya adalah biaya penjualan, biaya listrik dan air. c) Biaya Semi-Variabel (semi variable cost), yaitu biaya yang selalu berubah, tetapi perubahannya tidak proporsional (sebanding) dengan perubahan aktivitas perusahaan. Contohnya adalah biaya gaji penjualan dengan gaji pokok ditambah gaji dari persentase tertentu penjualan. 2) Klasifikasi biaya berdasarkan hubungan dengan produk. a) Biaya Produksi, yaitu biaya yang berhubungan langsung dengan produksi dari suatu produk dan akan dipertemukan dengan penghasilan (revenue) pada periode dimana produk itu dijual. Sebelum laku dijual biaya produksi diperlakukan sebagai persediaan. Biaya produksi digolongkan kedalam biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. b) Biaya Periodik, yaitu biaya-biaya yang lebih berhubungan dengan waktu dibandingkan dari unit yang diproduksi. Seluruh biaya ini dibebankan pada penghasilan pada periode dimana biaya tersebut terjadi. Biaya ini juga tidak memberikan manfaat di masa depan. Contohnya adalah biaya pemasaran, administrasi, dan umum. 8

3) Klasifikasi biaya berdasarkan hubungannya dengan fungsi perusahaan. a) Biaya Produksi, yaitu total biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik dalam rangka memproduksi barang. b) Biaya Pemasaran, yaitu biaya yang dikeluarkan dalam rangka memasarkan produk yang dihasilkan. Contohnya adalah biaya iklan, biaya gaji penjualan. c) Biaya Administrasi dan Umum, yaitu biaya yang timbul dalam rangka mengarahkan, mengendalikan, dan mengoperasikan perusahaan. Contohnya adalah biaya gaji direksi, biaya alat tulis kantor, dsb. d) Biaya Keuangan, yaitu biaya yang timbul dalam rangka mendapatkan dana untuk operasi perusahaan. Contohnya adalah biaya penerbitan obligasi dan atau saham. Berdasarkan klasifikasi di atas, biaya pemasaran, administrasi dan umum merupakan kelompok biaya yang berhubungan dengan fungsi perusahaan secara langsung yaitu fungsi pemasaran, administrasi dan umum. Selain itu, biaya ini dapat digolongkan ke dalam biaya semi variabel karena di dalamnya terdapat komponen-komponen seperti biaya promosi, biaya gaji, dan biaya lainnya yang berhubungan dengan pemasaran dan administrasi dan umum. Biaya ini dapat disebut juga biaya periodik yaitu biaya-biaya yang lebih berhubungan dengan waktu dibandingkan dari unit yang diproduksi. Seluruh biaya ini dibebankan pada penghasilan pada periode dimana biaya tersebut terjadi. 9

2.1.3 Activity Based Management (ABM) Activity Based Management yang selanjutnya disingkat ABM merupakan pendekatan terpadu dan menyeluruh yang membuat perhatian manajemen berpusat pada aktivitas yang dilakukan, dengan tujuan meningkatkan nilai pelanggan dan laba yang diperoleh karena memberikan nilai tersebut (Hansen & Mowen, 1997). Terdapat dua dimensi dalam model ABM yang saling terkait satu dengan yang lainnya, yaitu dimensi biaya dan dimensi proses. Dimensi biaya memberikan informasi biaya mengenai sumber daya, aktivitas, produk dan pelanggan. Dimensi proses memberikan informasi tentang aktivitas apa saja yang dilakukan, mengapa aktivitas itu dilakukan, dan seberapa baik dilakukan. Dimensi proses inilah yang memberikan kemampuan untuk melakukan dan mengukur perbaikan berkelanjutan. Pada dimensi biaya, informasi yang dihasilkan dapat berupa biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk mendapatkan sumber daya, memproses aktivitas, sampai menghasilkan suatu produk yang siap untuk dipasarkan kepada pelanggan. Informasi ini terkait dengan biaya pemasaran, administrasi dan umum selaku biaya nonproduksi selain informasi biaya produksi. Hal ini tidak terlepas dari peran kontrol fungsi pemasaran, administrasi dan umum terhadap seluruh aktivitas perusahaan. Pada dimensi proses lebih menekankan pada maksimisasi kinerja sistem secara menyeluruh dan fokus pada pertanggungjawaban aktivitas. Informasi ini salah satunya dapat diukur dengan keluaran aktivitas (activity output) yang nantinya akan menghasilkan penjualan yang pada akhirnya akan menghasilkan 10

laba. Dimensi proses ini tergantung pada keputusan manajer puncak dalam menentukan besarnya keluaran aktivitas (activity output) yang akan dihasilkan dalam satu periode akuntansi. Dalam menentukan besarnya keluaran aktivitas, manajer puncak harus mempertimbangkan ekspektasi permintaan di masa yang akan datang. Ekspektasi permintaan yang fluktuatif dan didukung dengan naik turunnya jumlah penjualan, membuat manajer puncak suatu perusahaan harus dapat menentukan sebenar-benarnya activity output yang akan dihasilkan, sehingga mempermudah dalam menentukan masukan aktivitas (activity input) yang tepat untuk melaksanakan aktivitas perusahaan yang dapat mengefisienkan biaya. Ukuran keluaran yang efektif adalah ukuran dari permintaan yang sesuai ditempatkan pada aktivitas yang sering disebut penggerak aktivitas (activity driver). Dengan naik turunnya permintaan terhadap keluaran aktivitas, maka biaya aktivitas juga berubah. Perubahan biaya inilah yang diindikasikan berperilaku lengket (sticky), terutama biaya yang sifatnya periodik seperti biaya pemasaran, administrasi dan umum. 2.1.4. Teori Keagenan (Agency Theory) Hubungan keagenan (agency relationship) merupakan sebuah kontrak antara satu orang atau lebih (prinsipal) yang mempekerjakan orang lain (agen) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agen tersebut (Jensen & Meckling dalam Windyastuti 2005:669). 11

Teori agensi memiliki asumsi bahwa masing-masing individu semata-mata termotivasi oleh kepentingannya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antar prinsipal dan agen. Pihak prinsipal termotivasi mengadakan kontrak untuk menyejahterakan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat, sementara agen termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomis dan psikologisnya. Konflik kepentingan semakin meningkat terutama karena prinsipal tidak memonitor aktivitas agen sehari-hari untuk memastikan bahwa agen bekerja sesuai dengan keinginan prinsipal. Oleh karena prinsipal tidak memonitor secara langsung apa yang dilakukan oleh agennya, prinsipal memiliki banyak cara agar agennya bekerja secara maksimal. Salah satu contoh tindakan prinsipal dalam memonitor agennya adalah pembentukan komite audit independen. Komite audit independen ini berfungsi sebagai kontrol terhadap jalannya operasional perusahaan dan bertanggung jawab langsung kepada prinsipal sehingga informasi-informasi yang berasal dari dalam perusahaan akan diketahui secara tidak langsung oleh prinsipal melalui komite audit independen ini. Informasi dari dalam perusahaan yang umumnya menjadi keputusan agen adalah meningkatkan atau menurunkan volume aktivitas. Keputusan agen saat menaikkan volume aktivitas yang diikuti oleh peningkatan sumber daya secara besar-besaran dirasa cukup untuk meningkatkan penghasilan (revenue). Akan tetapi, di sisi lain prinsipal menganggap hal itu adalah suatu pemborosan dan belum tentu hasilnya akan sesuai dengan yang diharapkan. Berbeda lagi saat keputusan agen untuk menurunkan volume aktivitas. Saat volume aktivitas 12

diturunkan, hal itu tidak akan serta-merta diikuti oleh penurunan sumber daya sehingga terdapat sumber daya yang menganggur yang pada akhirnya menimbulkan biaya. Hal ini dirasa tidak optimum dari segi prinsipal, karena sumber daya yang menganggur tersebut dapat menimbulkan biaya sehingga laba yang dihasilkan akan berkurang. 2.1.5. Kelengketan Biaya Pemasaran dan Biaya Administrasi dan Umum Biaya dikatakan lengket jika besarnya kenaikan biaya dihubungkan dengan kenaikan volume lebih besar dibanding besarnya penurunan biaya dihubungkan dengan penurunan volume yang ekuivalen (Anderson, et al, 2003:48). Kelengketan biaya terjadi karena pertama, ketidakseimbangan penyesuaian sumber daya yaitu lebih lambat dalam proses penyesuaian yang menurun dibanding proses penyesuaian yang meningkat. Kedua, kelengketan biaya PA&U terjadi ketika manajer memutuskan tetap memakai sumber daya tak terpakai dibanding melakukan penyesuaian ketika volume menurun (Anderson, et al, 2003:49). Ketika perusahaan meningkatkan aktivitasnya, hal ini cenderung akan meningkatkan biaya. Saat perusahaan menurunkan aktivitasnya, hal ini cenderung tidak menurunkan biaya, melainkan menunggu bagaimana ekspektasi permintaan di masa yang akan datang. Pada waktu permintaan masih sesuai dengan yang diharapkan maka manajer cenderung mempertahankan sumber daya yang dimilikinya sehingga menimbulkan biaya yang sering disebut biaya menganggur. Keputusan manajer tetap memakai sumberdaya tak terpakai merupakan bentuk konflik keagenan. 13

Berbeda saat permintaan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Perusahaan akan cenderung untuk menurunkan volume aktivitasnya. Penurunan aktivitas ini tidak serta merta diikuti oleh penurunan biaya karena pengurangan sumber daya seperti tenaga kerja dan aset juga akan menimbulkan biaya seperti biaya pesangon bagi tenaga kerja yang di-phk dan biaya promosi bagi aset-aset yang akan dijual. 2.2 Pembahasan Hasil Penelitian Sebelumnya Penelitian sebelumnya mengenai kelengketan biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum (PA&U) terhadap penjualan bersih telah dilakukan oleh Windyastuti dan Frasto Biyanto (2005) dengan menggunakan metode purposive sampling terhadap semua perusahaan yang terdaftar di PT. Bursa Efek Jakarta dan hasilnya adalah bahwa variasi biaya pemasaran, administrasi dan umum ketika penjualan bersih mengalami kenaikan lebih besar daripada ketika penjualan bersih mengalami penurunan. Kenaikan penjualan bersih sebesar 1% diikuti dengan naiknya biaya PA&U sebesar 0,68% dan sebaliknya penurunan penjualan bersih sebesar 1% diikuti dengan turunnya biaya PA&U hanya sebesar 0,08%. Ini berarti biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum bersifat lengket. Oka Suputra (2007) dalam skripsinya yang berjudul analisis perilaku biaya : stickiness biaya pemasaran, administrasi dan umum terhadap penjualan bersih pada perusahaan manufaktur periode 2003-2006 menyimpulkan bahwa biaya pemasaran, adminstrasi dan umum tidak berperilaku lengket artinya peningkatan biaya pada saat volume aktivitas meningkat tidak lebih besar dari penurunan biaya pada saat volume aktivitas menurun. Hal ini dapat dilihat dari hasil bahwa biaya pemasaran, administrasi dan umum (PA&U) naik sebesar 0,266% apabila 14

penjualan bersih naik sebesar 1%, dan sebaliknya biaya pemasaran, administrasi dan umum (PA&U) turun sebesar 0,632% apabila penjualan bersih turun sebesar 1%. Hal ini disebabkan karena kenaikan BBM industri pada tahun 2005 menyebabkan perusahaan menekan biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum untuk tetap mempertahankan aktivitas operasional perusahaan Penelitian yang dilakukan oleh Anderson, et al (2003) dengan menggunakan sample seluruh perusahaan di Amerika sebanyak 7.629 perusahaan dalam kurun waktu 20 tahun menghasilkan bahwa variasi biaya pemasaran, administrasi dan umum ketika penjualan bersih mengalami kenaikan lebih besar daripada ketika penjualan bersih mengalami penurunan. Kenaikan penjualan bersih sebesar 1% diikuti dengan naiknya biaya PA&U sebesar 0,55% dan sebaliknya penurunan penjualan bersih sebesar 1% diikuti dengan turunnya biaya PA&U hanya sebesar 0,35%. Ini berarti biaya pemasaran, administrasi dan umum bersifat lengket. Otavio Ribeiro de Modeiros (2004) yang melakukan penelitian pada perusahaan-perushaan di Brasil menunjukkan biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum bersifat lengket. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya biaya PA&U sebesar 0,59% ketika penjualan meningkat sebesar 1% namun biaya PA&U hanya menurun 0,32% ketika pejualan menurun sebesar 1%. Penelitian mengenai kelengketan biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum (PA&U) terhadap penjualan bersih juga dilakukan oleh Calleja (2005) pada seluruh perusahaan yang ada di Amerika, Inggris Raya, Perancis, dan Jerman menghasilkan bahwa variasi biaya pemasaran, administrasi dan umum ketika 15

penjualan bersih mengalami kenaikan lebih besar daripada ketika penjualan bersih mengalami penurunan. Kenaikan penjualan bersih sebesar 1% diikuti dengan naiknya biaya PA&U sebesar 0,97% dan sebaliknya penurunan penjualan bersih sebesar 1% diikuti dengan turunnya biaya PA&U hanya sebesar 0,91%. Ini berarti biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum bersifat lengket. Calleja (2005) juga menemukan perbedaan tingkat kelengketan biaya pada negara yang berbeda. Tingkat kelengketan biaya perusahaan di Jerman dan Perancis lebih tinggi daripada tingkat kelengketan biaya di Amerika dan Inggris Raya. Perbedaan tingkat kelengketan biaya tersebut disebabkan oleh karakteristik usaha yang berbeda-beda. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya adalah pada sampel dan periode waktu yang digunakan. Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2003-2007. 2.3 Hipotesis Ketika volume penjualan perusahaan naik, biaya PA&U pada perusahaan tersebut cenderung akan naik. Saat perusahaan menurunkan volume penjualannya, maka biaya PA&U pada perusahaan tersebut cendurung akan turun. Penurunan biaya tersebut diperkirakan lebih kecil daripada naiknya biaya saat volume penjualan naik. Hal ini dikarenakan terdapat keterlambatan penyesuaian sumber daya sehingga menimbulkan biaya saat perusahaan mengalami penurunan volume penjualan. Selain itu terdapat biaya yang menganggur saat perusahaan 16

memutuskan untuk tetap menggunakan sumber daya yang tidak terpakai saat volume penjualan menurun. Berdasarkan landasan teori, pembahasan hasil penelitian sebelumnya dan uraian yang telah dipaparkan di atas, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : H1 : kenaikan biaya PA&U pada perusahaan yang mengalami peningkatan penjualan lebih besar dari penurunan biaya PA&U pada perusahaan yang mengalami penurunan penjualan. 17