Hukum Perjanjian menurut KUHPerdata(BW) Pengertian Perjanjian Pasal 1313 KUHPerdata: Suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Oleh: Nama : NADYA CHARISTY WIJANARKO NIM : 145010101111038 No. Absensi : 02 1 MENURUT PARA AHLI: 1. Menurut Sudikno Perjanjian adalah merupakan hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasar kata sepakat untuk menimbulkan suatu akibat hukum 2. Menurut Prof. R. Wirjono Prodjodikoro, SH Perjanjian adalah hubungan hukum dimana seorang tertentu, berdasarkan atas suatu janji, wajib untuk melakukan suatu hal dan orang lain tertentu berhak menuntut kewajiban itu. 2 Unsur-Unsur Perjanjian Syarat-Syarat Perjanjian A. Unsur Esensialia Unsur yang mutlak harus ada untuk terjadinya perjanjian, agar perjanjian itu sah dan ini merupakan syarat sahnya perjanjian. B. Unsur Naturalia Peraturan yang bersifat mengikat bagi para pihak yang diatur didalam Undang- Undang. C. Unsur Aksidentalia Unsur yang nanti ada atau mengikat para pihak jika para pihak memperjanjikannya. Suatu perjanjian adalah sah, apabila memenuhi 4 syarat yaitu: 1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya. 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. 3. Suatu hal tertentu. 4. Suatu sebab yang halal. Dua syarat pertama disebut syarat subjektif karena menyangkut subjeknya atau para pihak yang mengadakan perjanjian, sedangkan dua syarat terakhir adalah mengenai objeknya disebut syarat objektif. 3 4
Akibat Hukum Perjanjian Asas-Asas Hukum Perjanjian Akibat hukum jika syarat perjanjian tidak dipenuhi maka: 1. Batal Demi Hukum, mengenai kesepakatan dan kecakapan. 2. Dapat dibatalkan, mengenai kausa dan objek. Akibat hukum jika syarat perjanjian dipenuhi maka: ~. Setiap perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya 5 1. Asas Konsensualisme: Suatu perjanjian sudah dianggap terjadi pada saat tercapainya kata sepakat para pihak. 2. Asas Kebebasan Berkontrak: Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. 3.PactaSuntServanda: Setiap orang yang membuat perjanjian, dia terikat untuk memenuhi perjanjian tersebut sebagaimana mengikatnya undang-undang 4.AsasItikadBaik: Menurut pasal 1338 ayat (3) BW, suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. 6 Bentuk Perjanjian Batalnya Perjanjian 1. Lisan 2. Tulisan,dibagi2yaitu: ~.AktaDibawahTangan ~. Akta Otentik Akta Di bawah Tangan adalah akta yang dibuat tidak dihadapan pejabat yang berwenang atau notaris. Akta Otentik adalah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan Undang-Undang oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu ditempat dimana akta dibuatnya. Mengenai Batalnya perjanjian yaitu suatu perjanjian dibuat dengan TIDAK memenuhi syarat pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, maka bisa berakibat kepada BATALNYA PERJANJIAN. Pasal 1320 KUHPerdata berisi: Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat: 1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya 2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan 3. Suatu hal tertentu 4. Suatu sebab yang halal 7 8
Berakhirnya Perjanjian Berakhirnya perjanjian: 1. Karena pembayaran 2. Karena penawaran pembayaran tunai, diikuti dengan penyimpanan atau penitipan 3. Karena pembaharuan utang 4. Karena perjumpaan utang atau kompensasi 5. Karena percampuran utang 6. Karena pembebasan utangnya 7. Karena musnahnya barang yang terutang 8. Karena kebatalan atau pembatalan 9. Karena berlakunya suatu syarat batal 10. Karena lewat waktu Kapan terjadi Wanprestasi? Wanprestasi, artinya tidak memenuhi kewajiban sebagaimana ditetapkan dalam perikatan atau perjanjian. Tidak dipenuhinya kewajiban dalam suatu perjanjian, dapat disebabkan 2 hal, yaitu: 1. Karena kesalahan debitur baik sengaja maupun karena kelalaian 2. Karena keadaan memaksa(overmacht) Sejak kapan debitur dianggap telah wanprestasi? Ketika lewat tenggang waktu yang ditentukan dan debitur tidak dapat melaksanakan prestasinya. Walaupun demikian menurut pasal 1238 BW masih memerlukan teguran dari pengadilan (somasi), baru dapat dikatakan debitur dalam keadaan wanprestasi 9 10 Akibat hukum dari Wanprestasi Keadaan memaksa/ Overmacht Ada 4 keadaan wanprestasi: 1.Tidak memenuhi prestasi. 2.Terlambat memenuhi prestasi. 3.Memenuhi prestasi secara tidak baik. 4.Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya. Akibat Hukum dari Wanprestasi: 1. Debitur diharuskan membayar ganti rugi. 2. Kreditur dapat minta pembatalan perjanjian melalui pengadilan. 3. Kreditur dapat minta pemenuhan perjanjian, atau pemenuhan perjanjian disertai ganti rugi dan pembatalan perjanjian dengan ganti rugi. Dalam keadaan memaksa, debitur tidak dapat dipertanggungjawabkan karena keadaan ini timbul diluar kemauan dan kemampuan debitur. Diatur dalam Pasal 1245 KUHPerdata. Keadaan memaksa ini dapat terjadi karena: 1. Objek perikatan musnah 2. Kehendak debitur untuk berprestasi terhalang 11 12
Daftar Pustaka Hukum Perdata dalam Perspektif BW oleh Djaja S. Meliala, S.H., M.H. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata(Burgerlijk Wetboek) Hukum Perdata oleh Komariah, SH., M.Si., M.Hum TERIMA KASIH 13 14 Koreksi dan Masukan Pertanyaan: 1.ALWI : Apa unsur naturalia yang diatur dalam Undang-Undang? Apa perbedaan mendasar antara kelalaian dengan keadaan memaksa? Jawab : Unsur Naturalia yang diatur dalam undang-undang itu contohnya aturanaturan mengenai perjanjian jual beli lalu ada juga mengenai pengangkutan yaitu misal terjadi kecacatan suatu barang yang tersembunyi maka ditanggung oleh pihak penjual. Perbedaannya, jika keadaan memaksa itu diluar kekuasaannya, memaksa, dan tidak dapat diketahui sebelumnya, sementara itu kelalaian yaitu kesalahan atau kurang hati-hati. Masukan dari Putri : Kelalaian itu tidak memaksa dan harus melakukan ganti rugi sedangkan keadaan memaksa itu tidak harus ada ganti rugi. 2.VINO: Seperti apa konsep perjanjian dalam BW? Jawab : Perjanjian itu berasal dari adanya hubungan hukum antara kreditur dengan debitur. 15 3. PUTRI: Apakah perjanjian baku itu menyalahi asas kebebasan berkontrak? Jawab: Iya, menurut buku Djaja yang berjudul hukum perdata dalam perspektif BW dengan pendapat dari Johanes Gunawan yaitu dalam hal ini bahwa penggunaan perjanjian standar menyebabkan asas kebebasan berkontrak kurang/bahkan tidak dapat diwujudkan. Sementara itu menurut Mariam Darus Badrulzaman menyatakan bahwa perjanjian baku ini secara teoritis yuridis tidak memenuhi unsur-unsur sebagaimana dikehendaki oleh Pasal 1320 jo Pasal 1338 ayat(1) KUHPerdata. Konsep Perjanjian Hukum perjanjian di Indonesia terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata/Burgerlijk Wetboek di dalam buku ketiga. Menurut teori ilmu hukum, hukum kontrak atau perjanjian digolongkan kedalam Hukum tentang Diri Seseorang dan Hukum Kekayaan karena hal ini merupakan perpaduan antara kecakapan seseorang untuk bertindak serta berhubungan dengan hal-hal yang diatur dalam suatu perjanjian yang dapat berupa sesuatu yang dinilai dengan uang. Keberadaan suatu perjanjian atau yang saat ini lazim dikenal sebagai kontrak 16
~.Perjanjian adalah Suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. ~.Perikatan adalah suatu hubungan hukum antara kreditur dan debitur. Yang dimaksud dengan kreditur adalah pihak yang menerima prestasi sedangkan debitur adalah pihak yang melakukan prestasi. Obyek dari perikatan itu sendiri adalah prestasi. Prestasi adalah sesuatu yang wajib dipenuhi oleh debitur dalam setiap perikatan. Sifat-sifat prestasi: 1. Harus sudah tertentu dan dapat ditentukan. Jika prestasi tidak tertentu atau tidak ditentukan mengakibatkan perikatan batal. 2. Harus mungkin untuk dilakukan, artinya prestasi itu dapat dipenuhi oleh debitur secara wajar dengan segala usahanya. Jika tidak demikian perikatan batal. 3. Harus diperbolehkan (halal) atau diperkenankan, artinya tidak dilarang oleh undang-undang, tidak bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum. Jika prestasi itu tidak halal, perikatan batal. 17 Mengenai kelalaian adalah mungkin dan tidak mungkin, bisa melakukan tapi tidak melakukan, artinya apakah isi dari perjanjian itu mungkin dilakukan atau tidak mungkin untuk dilakukan. Contohnya : Jika seseorang diminta untuk membangun sebuah gedung dengan 300 lantai dan ternyata pembangunan gedung itu tidak dapat diselesaikan sesuai dengan apa yang diperjanjikan maka itu dianggap kelalaian karena memang tidak memungkinkan untuk seseorang membangun sebuah gedung dengan lantai yang mencapai sampai 300. Konsep perikatan Perikatan bersifat terbuka sedangkan hukum benda bersifat tertutup(hak gadai, hak milik, dan lain-lain). Perikatan adalah suatu perhubungan hukum anatara dua orang atau dua pihak, berdasarkan yang mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu. Maka hubungan hukum antara perikatan dan perjanjian adalah bahwa perjanjian itu menerbitkan perikatan. 18 Pihak-pihak dalam Perikatan: Di dalam perikatan terdapat subyek hukum, Istilah lain dari subjek hukum adalah rechtperson. Rechtperson diartikan sebagai pendukung hak dan kewajiban. Dalam hal ini yang menjadi subjek hukum dalam hukum kontrak adalah kreditur dan debitur. Kreditur adalah orang yang berpiutang, sedangkan debitur adalah orang yang berutang. Pihak-pihak(debitur kreditur) tidak harus orang tapi juga dapat berbentuk badan, sepanjang ia cakap melakukan perbuatan hukum. Pihak-pihak (debitur kreditur) dalam perikatan dapat diganti. Dalam hal penggantian debitur harus sepengatahuan dan persetujuan kreditur, untuk itu debitur harus dikenal oleh kreditur agar mudah memintanya misalnya pengambil alihan hutang (schuldoverneming) sedangkan penggantian kreditur dapat terjadi secara sepihak. Seorang kreditur mungkin pula mengalihkan haknya atas prestasi kepada kreditur baru, hak mana adalah merupakan hak-hak pribadi yang kwalitatif(kwalitatiev persoonlijke recht). Dalam suatu perjanjian orang tidak dapat secara umum mengatakan siapa yang berkedudukan sebagai kreditur/debitur seperti pada perjanjian timbal balik(contoh jual beli). Si penjual adalah kreditur terhadap uang harga barang yang diperjual belikan, tetapi ia berkedudukan sebagai debitur terhadap barang (objek prestasi) yang perjualbelikan. Demikian sebaliknya si pembeli berkedudukan sebagai debitur terhadap harga barang kreditur atas objek prestasi penjual yaitu barang yang diperjualbelikan. 19 20