Tahun Penelitian 2005

dokumen-dokumen yang mirip
Model Hidrologi DAS Aih Tripe Hulu untuk Prediksi Banjir dan Kekeringan

MODEL HIDROGRAF BANJIR NRCS CN MODIFIKASI

3.4.1 Analisis Data Debit Aliran Analisis Lengkung Aliran Analisis Hidrograf Aliran Analisis Aliran Langsung

ANALISIS DEBIT BANJIR RANCANGAN BANGUNAN PENAMPUNG AIR KAYANGAN UNTUK SUPLESI KEBUTUHAN AIR BANDARA KULON PROGO DIY

2016 ANALISIS NERACA AIR (WATER BALANCE) PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CIKAPUNDUNG

III. METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini adalah di saluran drainase Antasari, Kecamatan. Sukarame, kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 39/Menhut-II/2009,

BAB I PENDAHULUAN. karena curah hujan yang tinggi, intensitas, atau kerusakan akibat penggunaan lahan yang salah.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. tersebut relatif tinggi dibandingkan daerah hilir dari DAS Ciliwung.

PETA SUNGAI PADA DAS BEKASI HULU

Berfungsi mengendalikan limpasan air di permukaan jalan dan dari daerah. - Membawa air dari permukaan ke pembuangan air.

Lampiran 1. Curah Hujan DAS Citarum Hulu Tahun 2003

EXECUTIVE SUMMARY PENELITIAN KARAKTERISTIK HIDROLOGI DAN LAJU EROSI SEBAGAI FUNGSI PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN

BAB V ANALISA DATA. Dalam bab ini ada beberapa analisa data yang dilakukan, yaitu :

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

III. METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini adalah di saluran Ramanuju Hilir, Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN. Neraca Kebutuhan dan Ketersediaan Air. dilakukan dengan pendekatan supply-demand, dimana supply merupakan

BAB III METODA ANALISIS. desa. Jumlah desa di setiap kecamatan berkisar antara 6 hingga 13 desa.

Lampiran 1. Peta Penutupan Lahan tahun 1990

BAB III METODOLOGI 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan

TINJAUAN PUSTAKA. Gambaran umum Daerah Irigasi Ular Di Kawasan Buluh. Samosir dan Kabupaten Serdang Bedagai pada 18 Desember 2003, semasa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDUGAAN TINGKAT SEDIMEN DI DUA SUB DAS DENGAN PERSENTASE LUAS PENUTUPAN HUTAN YANG BERBEDA

PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP KOEFISIEN RUNOFF

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum Wilayah Penelitian. Tabel 3 Jenis tanah pada lima DAS di Propinsi Aceh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berikut ini beberapa pengertian yang berkaitan dengan judul yang diangkat oleh

Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Nilai Koefisien Limpasan di DAS Krueng Meureudu Provinsi Aceh

BAB I PENDAHULUAN. terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). Sungai merupakan salah

Gambar C.16 Profil melintang temperatur pada musim peralihan kedua pada tahun normal (September, Oktober, dan November 1996) di 7 O LU

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard km 3 : 97,5% adalah air

BIOFISIK DAS. LIMPASAN PERMUKAAN dan SUNGAI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Lokasi penelitian terletak di Bandar Lampung dengan objek penelitian DAS Way

Gambar 2 Peta administrasi DAS Cisadane segmen hulu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Secara geografis DAS Besitang terletak antara 03 o o LU. (perhitungan luas menggunakan perangkat GIS).

Hasil dan Analisis. Simulasi Banjir Akibat Dam Break

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Besai yang terletak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4. PERUBAHAN PENUTUP LAHAN

PENERAPAN SISTEM AGROFORESTRY PADA PENGGUNAAN LAHAN DI DAS CISADANE HULU: MAMPUKAH MEMPERBAIKI FUNGSI HIDROLOGI DAS? Oleh : Edy Junaidi ABSTRAK

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN 1 BAB I. 1.1 Latar Belakang

V DINAMIKA ALIRAN BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN KERAGAMAN SPASIAL DAN TEMPORAL HIDROKIMIA

ANALISA HIDROLOGI dan REDESAIN SALURAN PEMBUANG CILUTUNG HULU KECAMATAN CIKIJING KABUPATEN MAJALENGKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

KAJIAN HUBUNGAN SIFAT HUJAN DENGAN ALIRAN LANGSUNG DI SUB DAS TAPAN KARANGANYAR JAWA TENGAH :

Modul 3 ANALISA HIDROLOGI UNTUK PERENCANAAN SALURAN DRAINASE

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil analisis mengenai dampak perubahan penggunaan lahan

Panduan Teknis. Pengukuran Debit Sungai Sederhana. Prosedur Pengukuran. 1. Menentukan lokasi pengamatan/pengukuran debit dan tinggi muka air

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Analisis Perubahan Tutupan Lahan dan Pengaruhnya Terhadap Neraca Air dan Sedimentasi Danau Tempe

BAB III METODA ANALISIS

Hidrometri Hidrometri merupakan ilmu pengetahuan tentang cara-cara pengukuran dan pengolahan data unsur-unsur aliran. Pada bab ini akan diberikan urai

PENGERTIAN HIDROLOGI

PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Hujan merupakan komponen masukan yang paling penting dalam proses

BAB II DESKRIPSI KONDISI LOKASI

TINJAUAN PUSTAKA. lahan dengan data satelit penginderaan jauh makin tinggi akurasi hasil

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 TINJAUAN UMUM SUB-DAS CITARIK

Gambar 9. Peta Batas Administrasi

Seminar Nasional : Menggagas Kebangkitan Komoditas Unggulan Lokal Pertanian dan Kelautan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura

TUGAS AKHIR ANALISIS ROUTING ALIRAN MELALUI RESERVOIR STUDI KASUS WADUK KEDUNG OMBO

ANALISIS ALIRAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI CIMANUK HULU (STUDI KASUS CIMANUK-BOJONGLOA GARUT)

STUDI PERBANDINGAN ANTARA HIDROGRAF SCS (SOIL CONSERVATION SERVICE) DAN METODE RASIONAL PADA DAS TIKALA

BAB III METODE PENELITIAN

PERHITUNGAN DEBIT DAN LUAS GENANGAN BANJIR SUNGAI BABURA

PERSYARATAN JARINGAN DRAINASE

BAB IV ANALISA DATA. Dalam bab ini ada beberapa analisa data yang dilakukan, yaitu :

ANALISIS DAN KARAKTERISASI BADAN AIR SUNGAI, DALAM RANGKA MENUNJANG PEMASANGAN SISTIM PEMANTAUAN SUNGAI SECARA TELEMETRI

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Letak Geografis. Daerah penelitian terletak pada BT dan

III. FENOMENA ALIRAN SUNGAI

I. PENDAHULUAN. Kata kunci : Air Baku, Spillway, Embung.

ANALISA KEKERUHAN DAN KANDUNGAN SEDIMEN DAN KAITANNYA DENGAN KONDISI DAS SUNGAI KRUENG ACEH

BAB I PENDAHULUAN. penduduk akan berdampak secara spasial (keruangan). Menurut Yunus (2005),

PENDAHULUAN. tempat air hujan menjadi aliran permukaan dan menjadi aliran sungai yang

PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DAN KERUSAKAN HUTAN TERHADAP KOEFISIEN PENGALIRAN DAN HIDROGRAF SATUAN

BAB IV METODE PENELITIAN

Gambar 3.1 Peta lokasi penelitian Sub DAS Cikapundung

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Tinjauan Umum

I. PENDAHULUAN. angin bertiup dari arah Utara Barat Laut dan membawa banyak uap air dan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE. Gambar 1 Peta Lokasi Penelitian

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. hortikultura,dan 12,77 juta rumah tangga dalam perkebunan. Indonesia

HASIL DAN PEMBAHASAN. Curah Hujan. Tabel 7. Hujan Harian Maksimum di DAS Ciliwung Hulu

Transkripsi:

Sabtu, 1 Februari 27 :55 - Terakhir Diupdate Senin, 1 Oktober 214 11:41 Tahun Penelitian 25 Adanya peningkatan intensitas perubahan alih fungsi lahan akan berpengaruh negatif terhadap kondisi hidrologis DAS diantaranya meningkatnya debit puncak, fluktuasi debit antar musim, koefisien aliran permukaan, serta banjir dan kekeringan. Untuk memantau perubahan penutupan lahan yang terjadi secara cepat, cara yang paling efisien adalah dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh (remote sensing technology) berdasarkan data spasial citra satelit yang runut waktu. Adanya peningkatan intensitas perubahan alih fungsi lahan akan berpengaruh negatif terhadap kondisi hidrologis DAS diantaranya meningkatnya debit puncak, fluktuasi debit antar musim, koefisien aliran permukaan, serta banjir dan kekeringan. Untuk memantau perubahan penutupan lahan yang terjadi secara cepat, cara yang paling efisien adalah dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh (remote sensing technology) berdasarkan data spasial citra satelit yang runut waktu. Kondisi debit sungai berubah dari waktu ke waktu sepanjang tahun. Untuk memonitor perubahan debit, tinggi muka air sungai harus selalu diamati secara kontinyu setiap waktu baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Alih fungsi lahan yang terjadi di seluruh DAS akan tergambarkan dengan indikator fluktuasi debit yang terjadi. Bila alih fungsi lahan terjadi sangat intensif, maka akan tergambarkan dengan terjadinya peningkatan debit puncak dan perbedaan debit maksimum dan minimum yang besar. Demikian juga waktu respon yang terjadi, akan semakin cepat. Untuk dapat mencatat kondisi debit sungai sepanjang waktu, perlu dipasang alat perekam tinggi muka air otomatik (AWLR, Automatic Water Level Recorder). Untuk membangun basis data hidrologi pada daerah yang belum memiliki stasiun otomatik, dapat dilakukan dengan membangun prototipe model yang selanjutnya akan bermanfaat apabila diaplikasikan di wilayah lain dengan karakteristik sejenis. Model yang dibangun akan membantu dalam melakukan pemantauan dan evaluasi perubahan tipe penutupan lahan serta mempelajari karakteristik debit. Oleh karena itu masalah kerusakan DAS dapat dideteksi dan 1 / 5

Sabtu, 1 Februari 27 :55 - Terakhir Diupdate Senin, 1 Oktober 214 11:41 diantisipasi secara dini dan resiko yang mungkin terjadi dapat diminimalkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik biofisik DAS Aihtripe Hulu, dan memprediksi karakteristik debit Sungai Aihtripe berdasarkan aplikasi model hidrologi. Instalasi stasiun AWLR dilakukan untuk mendapatkan data debit kontinyu (interval 6 menitan atau jam-jaman). Pemasangan stasiun AWLR dilakukan dengan mempertimbangan titik lokasi alat tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut atau danau, bentuk sungai pada titik lokasi alat relatif lurus, lokasi mudah dijangkau dan secara teknis memungkinkan pembangunan konstruksi penyangga sensor AWLR. Penampang melintang profil sungai diukur dengan alat bantu theodolit. Pengukuran beberapa seri kecepatan aliran sungai dilakukan menggunakan current meter un tuk mendapat kurva lengkung debit ( rating curve ). Karakteristik biofisik DAS Aih Tripe hulu dianalisis untuk menentukan luas dan keliling DAS, bentuk DAS (koefisien Gravelius/Kc), persegi ekuivalen/persegi Gravelius, Indeks kemiringan global, beda tinggi spesifik (karakteristik Geometrik) serta menentukan tipe jaringan sungai, klasifikasi order sungai dan kerapatan jaringan (karakteristik Morfometrik). Untuk memantau perubahan penggunaan lahan, dilakukan analisis perubahan penggunaan lahan melalui analisis penutupan lahan multi temporal (2 dan 2). 2 / 5

Sabtu, 1 Februari 27 :55 - Terakhir Diupdate Senin, 1 Oktober 214 11:41 Prediksi debit sesaat dilakukan menggunakan aplikasi model H 2 U modifikasi, sedangkan fluktuasi debit harian Sungai Aih Tripe disimulasi menggunakan model GR4J. Model ini merupakan model debit yang sederhana, merupakan model global dengan interval waktu harian yang hanya membutuhkan 4 parameter (Perrin, 22). Secara administratif, daerah aliran sungai (DAS) Aih Tripe hulu termasuk kedalam wilayah Kecamatan Terangun, Bukit Gaib, Blangjerango, Kutapanjang, dan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Luwes, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Letak geografis DAS, 52 5 sampai dengan 4 15 4 lintang utara dan di antara 97 1 sampai dengan 97 1 4 BT Instalasi stasiun pencatat tinggi muka air otomatis (Automatic Water Level Recorder/AWLR) telah dipasang di Sungai Aih Tripe hulu pada posisi geografis 4 1,7 11 LU dan 97 8 1 25,6 11 BT, dengan ketinggian 726 m dpl. Secara administratif termasuk wilayah Desa Ketukah, Kecamatan Blangjerango, Kabupaten Gayo Luwes. / 5

Sabtu, 1 Februari 27 :55 - Terakhir Diupdate Senin, 1 Oktober 214 11:41 Penggunaan lahan di DAS Aih Tripe didominasi oleh hutan yang terdiri dari hutan lindung, hutan produksi terbatas, hutan konversi, hutan produksi, dan lainnya yaitu kebun campuran, sawah, semak belukar, lahan terbuka dan pemukiman serta Taman Nasional Gunung Leuser. Terjadi alih fungsi lahan seperti yang terjadi antara tahun 2 sampai 2 dimana hutan produksi terbatas, hutan konversi dan hutan produksi luasnya menurun, tetapi hutan lindung luasnya meningkat. Karakteristik DAS Aih Tripe hulu adalah, luas 1115,2 km 2, bentuk DAS sangat memanjang (Indeks Gravelius 4,1), panjang ekuivalen (L) 252,4 dan lebar ekuivalen (l) 4,42, pola aliran paralel, memiliki order sungai maksimum 5 dan kerapatan jaringan 1,7 m/m 2, indeks kemiringan global (Ig) 2, dan beda tinggi spesifik (Hg) sebesar.6. Hasil simulasi debit sesaat pada musim kemarau menunjukkan, debit maksimum sesaat mencapai 64,8 m /s dengan time to peak (waktu debit puncak) 4 jam dan intensitas hujan maksimum 29 mm/jam, curah hujan 45,9 mm, durasi 5 jam.pada musim hujan, debit maksimum mencapai 65,2 m /s dengan time to peak 2 jam, dan intensitas maksimum 4,8 mm/jam, curah hujan 7,2 mm dengan durasi selama 7 jam. {mosimage} 4 / 5

Sabtu, 1 Februari 27 :55 - Terakhir Diupdate Senin, 1 Oktober 214 11:41 Gambar Hidrograf debit banjir simulasi berdasarkan input kejadian hujan tanggal 16-17 September 1999. Curah Hujan 45,9 mm, Intensitas maksimum=29 mm/jam Hasil simulasi Debit Harian, debit maksimum absolut harian pada saat El Nino mencapai 11,4 m /s ( September) dan debit minimum absolut harian mencapai 8, 2 m /s (1 Maret). Simulasi debit harian saat La Nina dengan intensitas lemah (Januari-Maret 1996), debit maksimum absolut harian mencapai 28, m /s (11 Desember) dan debit minimum absolut harian sebesar 8,5 m /s (5 Oktober) (gambar Simulasi debit harian S. Aik Tripe). {mosimage} Gambar Simulasi debit harian Sungai Aik Tripe saat terjadi La Nina tahun 1996 5 / 5