Sabtu, 1 Februari 27 :55 - Terakhir Diupdate Senin, 1 Oktober 214 11:41 Tahun Penelitian 25 Adanya peningkatan intensitas perubahan alih fungsi lahan akan berpengaruh negatif terhadap kondisi hidrologis DAS diantaranya meningkatnya debit puncak, fluktuasi debit antar musim, koefisien aliran permukaan, serta banjir dan kekeringan. Untuk memantau perubahan penutupan lahan yang terjadi secara cepat, cara yang paling efisien adalah dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh (remote sensing technology) berdasarkan data spasial citra satelit yang runut waktu. Adanya peningkatan intensitas perubahan alih fungsi lahan akan berpengaruh negatif terhadap kondisi hidrologis DAS diantaranya meningkatnya debit puncak, fluktuasi debit antar musim, koefisien aliran permukaan, serta banjir dan kekeringan. Untuk memantau perubahan penutupan lahan yang terjadi secara cepat, cara yang paling efisien adalah dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh (remote sensing technology) berdasarkan data spasial citra satelit yang runut waktu. Kondisi debit sungai berubah dari waktu ke waktu sepanjang tahun. Untuk memonitor perubahan debit, tinggi muka air sungai harus selalu diamati secara kontinyu setiap waktu baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Alih fungsi lahan yang terjadi di seluruh DAS akan tergambarkan dengan indikator fluktuasi debit yang terjadi. Bila alih fungsi lahan terjadi sangat intensif, maka akan tergambarkan dengan terjadinya peningkatan debit puncak dan perbedaan debit maksimum dan minimum yang besar. Demikian juga waktu respon yang terjadi, akan semakin cepat. Untuk dapat mencatat kondisi debit sungai sepanjang waktu, perlu dipasang alat perekam tinggi muka air otomatik (AWLR, Automatic Water Level Recorder). Untuk membangun basis data hidrologi pada daerah yang belum memiliki stasiun otomatik, dapat dilakukan dengan membangun prototipe model yang selanjutnya akan bermanfaat apabila diaplikasikan di wilayah lain dengan karakteristik sejenis. Model yang dibangun akan membantu dalam melakukan pemantauan dan evaluasi perubahan tipe penutupan lahan serta mempelajari karakteristik debit. Oleh karena itu masalah kerusakan DAS dapat dideteksi dan 1 / 5
Sabtu, 1 Februari 27 :55 - Terakhir Diupdate Senin, 1 Oktober 214 11:41 diantisipasi secara dini dan resiko yang mungkin terjadi dapat diminimalkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik biofisik DAS Aihtripe Hulu, dan memprediksi karakteristik debit Sungai Aihtripe berdasarkan aplikasi model hidrologi. Instalasi stasiun AWLR dilakukan untuk mendapatkan data debit kontinyu (interval 6 menitan atau jam-jaman). Pemasangan stasiun AWLR dilakukan dengan mempertimbangan titik lokasi alat tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut atau danau, bentuk sungai pada titik lokasi alat relatif lurus, lokasi mudah dijangkau dan secara teknis memungkinkan pembangunan konstruksi penyangga sensor AWLR. Penampang melintang profil sungai diukur dengan alat bantu theodolit. Pengukuran beberapa seri kecepatan aliran sungai dilakukan menggunakan current meter un tuk mendapat kurva lengkung debit ( rating curve ). Karakteristik biofisik DAS Aih Tripe hulu dianalisis untuk menentukan luas dan keliling DAS, bentuk DAS (koefisien Gravelius/Kc), persegi ekuivalen/persegi Gravelius, Indeks kemiringan global, beda tinggi spesifik (karakteristik Geometrik) serta menentukan tipe jaringan sungai, klasifikasi order sungai dan kerapatan jaringan (karakteristik Morfometrik). Untuk memantau perubahan penggunaan lahan, dilakukan analisis perubahan penggunaan lahan melalui analisis penutupan lahan multi temporal (2 dan 2). 2 / 5
Sabtu, 1 Februari 27 :55 - Terakhir Diupdate Senin, 1 Oktober 214 11:41 Prediksi debit sesaat dilakukan menggunakan aplikasi model H 2 U modifikasi, sedangkan fluktuasi debit harian Sungai Aih Tripe disimulasi menggunakan model GR4J. Model ini merupakan model debit yang sederhana, merupakan model global dengan interval waktu harian yang hanya membutuhkan 4 parameter (Perrin, 22). Secara administratif, daerah aliran sungai (DAS) Aih Tripe hulu termasuk kedalam wilayah Kecamatan Terangun, Bukit Gaib, Blangjerango, Kutapanjang, dan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Luwes, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Letak geografis DAS, 52 5 sampai dengan 4 15 4 lintang utara dan di antara 97 1 sampai dengan 97 1 4 BT Instalasi stasiun pencatat tinggi muka air otomatis (Automatic Water Level Recorder/AWLR) telah dipasang di Sungai Aih Tripe hulu pada posisi geografis 4 1,7 11 LU dan 97 8 1 25,6 11 BT, dengan ketinggian 726 m dpl. Secara administratif termasuk wilayah Desa Ketukah, Kecamatan Blangjerango, Kabupaten Gayo Luwes. / 5
Sabtu, 1 Februari 27 :55 - Terakhir Diupdate Senin, 1 Oktober 214 11:41 Penggunaan lahan di DAS Aih Tripe didominasi oleh hutan yang terdiri dari hutan lindung, hutan produksi terbatas, hutan konversi, hutan produksi, dan lainnya yaitu kebun campuran, sawah, semak belukar, lahan terbuka dan pemukiman serta Taman Nasional Gunung Leuser. Terjadi alih fungsi lahan seperti yang terjadi antara tahun 2 sampai 2 dimana hutan produksi terbatas, hutan konversi dan hutan produksi luasnya menurun, tetapi hutan lindung luasnya meningkat. Karakteristik DAS Aih Tripe hulu adalah, luas 1115,2 km 2, bentuk DAS sangat memanjang (Indeks Gravelius 4,1), panjang ekuivalen (L) 252,4 dan lebar ekuivalen (l) 4,42, pola aliran paralel, memiliki order sungai maksimum 5 dan kerapatan jaringan 1,7 m/m 2, indeks kemiringan global (Ig) 2, dan beda tinggi spesifik (Hg) sebesar.6. Hasil simulasi debit sesaat pada musim kemarau menunjukkan, debit maksimum sesaat mencapai 64,8 m /s dengan time to peak (waktu debit puncak) 4 jam dan intensitas hujan maksimum 29 mm/jam, curah hujan 45,9 mm, durasi 5 jam.pada musim hujan, debit maksimum mencapai 65,2 m /s dengan time to peak 2 jam, dan intensitas maksimum 4,8 mm/jam, curah hujan 7,2 mm dengan durasi selama 7 jam. {mosimage} 4 / 5
Sabtu, 1 Februari 27 :55 - Terakhir Diupdate Senin, 1 Oktober 214 11:41 Gambar Hidrograf debit banjir simulasi berdasarkan input kejadian hujan tanggal 16-17 September 1999. Curah Hujan 45,9 mm, Intensitas maksimum=29 mm/jam Hasil simulasi Debit Harian, debit maksimum absolut harian pada saat El Nino mencapai 11,4 m /s ( September) dan debit minimum absolut harian mencapai 8, 2 m /s (1 Maret). Simulasi debit harian saat La Nina dengan intensitas lemah (Januari-Maret 1996), debit maksimum absolut harian mencapai 28, m /s (11 Desember) dan debit minimum absolut harian sebesar 8,5 m /s (5 Oktober) (gambar Simulasi debit harian S. Aik Tripe). {mosimage} Gambar Simulasi debit harian Sungai Aik Tripe saat terjadi La Nina tahun 1996 5 / 5