BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Longsorlahan merupakan perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah atau mineral campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng akibat adanya gangguan (Dikau, 1996). Penyebab utama longsorlahan adalah gaya gravitasi bumi sedangkan pemicu utama terjadinya longsorlahan adalah hujan. Gangguan yang dimaksud dapat berupa gempa bumi dan/atau aktivitas manusia. Menurut Pusat Vulkanologi, dan Mitigasi Bencana Geologi (BGPVMBG, 2010) bahwa di Indonesia tercatat ada 154 kabupaten/kota yang memiliki risiko longsorlahan, terutama di Pulau Jawa. Lebih jauh disebutkan bahwa kerawanan longsorlahan semakin meningkat,dengan meningkatnya aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan, seperti pembukaan hutan di kawasan perbukitan, bahkan kemudian menjadikannya daerah yang terbuka itu untuk perkebunan dan permukiman. Longsorlahan banyak terjadi mulai awal musim penghujan. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya longsorlahan adalah curah hujan. Curah hujan yang tinggi mempengaruhi tingkat kejenuhan tanah disuatu tempat. Selain itu longsorlahan yang terjadi banyak dipengaruhi oleh aktivitas manusia tetapi tidak termasuk tempat penggembalaan, kebakaran bukit dan deforestasi. Aktivitas manusia menyebabkan perubahan lahan. Dampak negatif yang terjadi adalah menurunya produktivitas lahan yang dalam jangka waktu tertentu akan menyebabkan lahan kritis. Berdasarkan sumber data resmi yang diperoleh dalam kegiatan inventarisasi data, sampai dengan tahun 2011, luas lahan kritis di Pulau Jawa diperkirakan mencapai 3.436.884,81 Ha. Lahan kritis tersebut 1
terdistribusi di wilayah Provinsi Banten seluas 117.913,29 Ha, Provinsi Jawa Barat seluas 117.201,14 Ha, Provinsi Jawa Tengah seluas 484.742,60 Ha, Provinsi Jawa Timur seluas 2.692.892,78 Ha dan Provinsi DI Yogyakarta seluas 24.135,00 Ha. Lahan kritis di Jawa Tengah tersebar di Kawasan Gunung Merapi-Merbabu yang secara administratif terletak di Kabupaten Magelang, Boyolali, Semarang dan Klaten. Kawasan Sindoro Sumbing yang terletak di Kabupaten Magelang, Wonosobo dan Temanggung. Kawasan Gunung Slamet meliputi Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal dan Brebes. Kawasan lain yang juga terdapat lahan kritis adalah Kawasan Gunung Lawu meliputi Karanganyar dan Wonogiri. Kawasan Gunung Muria tersebar di Jepara, Pati dan Kudus serta Dataran Tinggi Dieng. Salah satu wilayah lahan kritis yang ada di Jawa Tengah adalah Kabupaten Temanggung. Berdasarkan peta rawan bencana Kabupaten Temanggung, wilayah yang termasuk ke dalam kawasan rawan longsorlahan adalah Kecamatan Wonoboyo dan Kecamatan Kaloran. Kejadian longsorlahan banyak terjadi di Kabupaten Temanggung memasuki musim awal penghujan. Masyarakat utamanya yang tinggal diperbukitan untuk mewaspadai terjadinya bencana longsorlahan. Longsorlahan banyak melanda daerah perbukitan di tropis basah (Hary Christady H, 2006). Bencana tersebut biasanya terjadi di lereng Gunung Sindoro-Sumbing dan Prau. Selain itu, hujan pertama juga rawan menyebabkan bencana longsorlahan. Bencana tersebut muncul akibat kondisi tanah yang kering di tebing, apabila terguyur air maka akan terjadi penambahan beban akibat resapan air. Dengan beban bertambah berat, maka tanah yang masih labil tersebut rawan longsorlahan. Wilayah yang rawan terjadi bencana longsorlahan adalah wilayah perbukitan dengan tebing yang labil. Selain itu, kawasan pemukiman penduduk di beberapa titik juga rawan terkena longsorlahan. Akses jalan raya dan jalur perkampungan yang bertebing juga rawan terputus apabila terjadi bencana tersebut. 2
Upaya memberikan informasi spasial yang berhubungan dengan longsorlahan di suatu daerah dapat dilakukan dengan berbagai macam metode. Metode investigasi longsorlahan menurut Q Zaruba (1982) antara lain: investigasi lapangan, metode geofisika, dan investigasi laboratorium. Metode investigasi di lapangan dapat dilakukan dengan survei lapangan langsung, menggunakan bantuan foto udara, menggunakan bantuan peta geologi, dan lain-lain. Foto udara dan peta geologi dapat digunakan sebagai instrument untuk membantu mendapatkan informasi kerawanan longsor secara tidak langsung. Skala pemetaan yang akan digunakan yaitu 1: 100.000. Oleh sebab itu data yang digunakan bukan foto udara tetapi citra penginderaan jauh skala menengah. Mengingat wilayah kajian yang akan dilakukan penelitian adalah seluruh Kabupaten Temanggung. Berbagai macam metode untuk pemetaan kerawanan longsorlahan diantaranya: metode Anbalagan, metode Geolistrik, metode Geodetik, metode Fuzzy Logic, metode analisis statistic multivariate, dan lain-lain. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode Anbalagan, dimana metode ini pertama kali diterapkan di India pada wilayah yang bergunung. Metode Anbalagan dipilih sebagai metode pemetaan kerawanan longsorlahan di Kabupaten Temanggung karena metode ini pertama kali diterapkan untuk area perkembangan infrastruktur dan juga perkembangan permukiman. Fokus kajianya digunakan di wilayah yang bergunung baik dalam skala sedang atau besar. Metode Anbalagan yang digunakan merupakan metode Anbalagan dengan modifikasi, perlakukan modifikasi metode ini karena semua parameter yang digunakan merupakan parameter internal. Sehingga untuk menghasilkan model yang lebih baik akurasinya dilakukan modifikasi. Selain itu pengaruh area kajian yang luas parameter pemicu longsorlahan seperti curah hujan sangat berpengaruh. Maka dari itu metode Anbalagan dilakukan modifikasi dengan memasukan faktor curah hujan. Curah hujan merupakan faktor pemicu longsorlahan sekaligus faktor eksternal yang berpengaruh terhadap longsorlahan. Faktor 3
curah hujan dianggap berpengaruh sesuai dengan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Temanggung, sebagian besar keterangan kejadian longsorlahan karena hujan yang terjadi pada waktu tertentu. 1.2 Perumusan Masalah Peraturan perundang-undangan setiap kabupaten memiliki peruntukan wilayah yang berpotensi rawan bencana. Pemerintah daerah Kabupaten Temanggung telah menentukan wilayah yang termasuk ke dalam rawan bencana. Salah satu jenis bencana alamnya adalah longsorlahan. Setiap tahun terjadi longsorlahan pada beberapa tempat yang berbeda. Bencana longsorlahan akan menjadi sebuah masalah dalam kabupaten jika merugikan masyarakat. Maka diperlukan informasi yang lebih detail terkait tingkat kerawanan longsorlahan di Kabupaten Temanggung. Data penginderaan jauh belum dimanfaatkan secara optimal untuk pemetaan kerawanan longsorlahan di Kabupaten Temanggug. Pemetaan kerawanan longsorlahan dengan menggunakan metode Anbalagan yang dimodifikasi dipengaruhi oleh beberapa parameter yang mempengaruhi kestabilan lereng yaitu : kemiringan lereng, relief relatif, litologi, penutup lahan, curah hujan dan kebasahan tanah. Berdasar parameter yang ada belum diketahui faktor yang paling berpengaruh terhadap longsorlahan di Kabupaten Temanggung. Dari permasalahan tersebut di atas maka dapat dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian, yaitu : 1. Bagaimanakah data penginderaan jauh mampu mengektrasi parameter yang mempengaruhi longsorlahan? 2. Bagaimanakah distribusi tingkat kerawanan longsorlahan yang ada di Kabupaten Temanggung? 3. Apakah faktor dominan yang mempengaruhi longsorlahan di Kabupaten Temanggung? 4
Berdasarkan pertanyaan penelitian yang muncul di atas maka penulis melakukan penelitian dengan judul Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Pemetaan Tingkat Kerawanan Longsorlahan di Kabupaten Temanggung. 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan diantaranya, yaitu: 1. Mengkaji kemampuan data penginderaan jauh untuk mengekstrasi faktor yang mempengaruhi longsorlahan. 2. Memetakan tingkat kerawanan longsorlahan berdasarkan aspek fisik dengan menggunakan data analisis penginderaan jauh dan sistem informasi geografis. 3. Mendeskripsikan faktor dominan yang mempengaruhi kerawanan longsorlahan di Kabupaten Temanggung 1.4 Sasaran Sasaran yang hendak dicapai dari penelitian ini antara lain : 1. Deskripsi faktor yang mempengaruhi tingkat kerawanan longsorlahan di Kabupaten Temanggung. 2. Peta tingkat kerawanan longsorlahan di Kabupaten Temanggung. 3. Analisis faktor dominan yang mempengaruhi kerawanan longsorlahan di Kabupaten Temanggung. 1.5 Kegunaan Penelitian Penelitian yang dilakukan memiliki manfaat teoritis/ akademis dan praktis/ empiris. 1. Manfaat secara teoritis atau akademis diantaranya, yaitu: a. Penelitian ini merupakan salah satu cara teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk kajian rawan longsorlahan yang diharapkan mampu memberikan pengetahuan dan wawasan bagi peneliti di bidang lain. 5
b. Penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi tingkat kerawanan longsorlahan. c. Dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut guna pengembangan ilmu penginderaan jauh khususnya dan untuk studi kajian bencana longsorlahan. 2. Manfaat secara empiris/ praktis : a. Bahan rekomendasi atau pertimbangan bagi pemerintah daerah Kabupaten Temanggung dalam pengambilan kebijakan yang berhubungan dengan penentuan kawasan rawan bencana longsorlahan. b. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai data masukan dalam mengembangkan wilayah yang perlu dilakukan konservasi dan juga peningkatan ketahanan masyarakat. 6