1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Batik sebuah karya bangsa yang menyimpan nilai luhur budaya masyarakat Indonesia. Dalam buku Batik Filosofi, Motif & Kegunaan yang ditulis oleh Adi Kusrianto (2014), sejak berabad-abad yang lalu batik sudah digunakan kaum wanita dan pria yang tetap lekat dalam kehidupan orang Jawa, Madura dan Sumatra. Kini, batik Indonesia telah diakui oleh bangsa-bangsa lain, bahkan tersebar di berbagai negara. Ada sekitar 3.000 motif batik telah didokumentasikan. Jumlah motif ini akan terus bertambah dan berkembang adanya berbagai modifikasi dan pengembangan yang dilakukan oleh para desainer maupun kreatif lainnya di industri batik Indonesia (Ari Wulandari,2011:170). Di berbagai tempat di Indonesia telah ada wisata-wisata batik. Di tempat ini, kita tidak dapat hanya berbelanja dan memesan batik, tetapi juga belajar membuat batik. Walaupun tidak semua tempat di Indonesia terdapat wisata membuat batik, tetapi di banyak sekolah dasar hingga menengah telah digalakkan pembelajaran batik untuk memperkenalkan proses membatik pada generasi muda. (Ari Wulandari, 2011 : 244). Berdasarkan informasi dari Bapak Siswaya Syamhudi selaku pencipta dan pencetus Batik Bogor yang diwawancarai di salah satu galeri Batik Bogor miliknya Batik Bogor Tradisiku, Jalan Jalak No 2, Tanah Sareal Kota Bogor, 16161 pada 12 Februari 2015, bahwasanya Batik Bogor mulai terbentuk pada tanggal 13 Januari 2008 dan diresmikan oleh Walikota Bogor dengan motif yang sudah diakui lebih dari 30 motif batik dengan khas kota Bogor sendiri. Definisi dari Batik menurut beliau adalah ragam hias kain yang dibuat menggunakan canting dan malam sebagai alat pelintang. Teknis pewarnaanya dengan pencelupan. Batik Bogor adalah batik yang mencirikan khas ikon kota Bogor. Pria yang dilahirkan di Sleman-Yogyakarta ini telah melanglangbuana di Bogor selama lebih dari 28 tahun, sehingga tumbuh rasa kecintaannya terhadap kota 1
yang kerap dijuluki sebagai Kota Hujan ini dengan memberikan sesuatu untuk mengharumkan Kota Bogor. Gagasannya membuat Batik Bogor Tradisiku yang mengambil ikon-ikon khas kota Bogor ini bertujuan untuk melestarikan budaya batik dan menumbuhkan kecintaan masyarakat kota Bogor terhadap Batik Bogor serta membawa nama harum kota Bogor ke seluruh penjuru Nusantara hingga ke dunia internasional. Pada awal berdirinya Batik Bogor Tradisiku, motif-motif batik yang dibuat memang sudah membawa ikon kedaerahan Bogor seperti kijang, kujang, bunga teratai, dan lainnya. Pada tahun 2009, Batik Bogor Tradisiku mengeluarkan motif Kujang Kijang yang kemudian di-launching oleh Walikota Bogor, Bapak Diani Budiarto, beserta Ibu Fauziah Budiarto selaku Ketua DEKRANASDA (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Kota Bogor. Batik Bogor Tradisiku meluncurkan 4 motif terbarunya, yaitu motif Batutulis, Teratai, Kembang Sempur, dan Taleus. Keempat motif ini semakin mengenalkan kekayaan kota Bogor yang dituangkan dalam goresan motif pembatikan yang dibuka khusus untuk anak-anak, remaja, dewasa, hingga batik melalui tangan-tangan kreatif putera-puteri Batik Bogor Tradisiku. Di masa sekarang, sudah banyak upaya regenerasi yang dilakukan oleh pemerintah, pihak swasta, maupun masyarakat pembatik secara umum. Banyak sekolah dan kursus informal masyarakat umum. Waktu dan biaya yang diperlukan pun relatif singkat dan terjangkau. Dengan demikian, makin banyak orang yang mengenal dan mengerti proses pembatikan. Dari sini diharapkan makin banyak generasi muda yang bersedia menekuni usaha pembatikan dan mengembangkannya demi kelestarian batik Indonesia (Ari Wulandari, 2011 : 168). Berdasarkan hasil wawancara bersama putri dari Bapak Siswaya yaitu Lisha Luthfiana Fajri selaku pengelola Batik Bogor Tradisiku bahwasanya kalangan remaja hanya untuk kepentingan edukasi LKP (Lembaga Kursus Pelatihan) untuk kursus bisa berkelompok dan individu. Pengunjung yang sudah datang ke Batik Bogor Tradisiku yaitu dari Garut, Bandung, Tangerang, Depok tetapi justru masyarakat kota Bogor yang kurang aware dengan batik Bogor. Tetapi nama Batik Bogor Tradisiku justru lebih dikenal diluar daripada di kota Bogor. 2
Berdasarkan informasi yang didapat dari Ibu Lisha Luthfiana fajri, dari buku Batik Bogor yang sudah ada, buku tersebut penggunaan kata-katanya formal, menggunakan gambar teknik fotografi dan sedangkan untuk anak-anak serta usia remaja suka dengan penggayaan ilustrasi-ilustrasi serta lebih interaktif. Kemudian tentang pemberian materi di awal masih belum ada bakunya pendahuluan tentang batik, alat-alat dan bahannya. Karena hal itu pastinya akan diperlukan untuk mengukir sejarah tentang Batik di Bogor ke depannya. Jadi butuh panduan yang lebih lengkap lagi tentang batik Bogor, selain itu juga dengan pengenalan motif Batik Bogor. Masa remaja mulai dari umur 12-18 tahun mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung (Nurihsan & Agustin, 2011:19). Dalam perkembangan bahasa remaja, bahasa dapat berbentuk lisan atau tulisan dengan mempergunakan gambar atau lukisan (drawing, picture), dan bentukbentuk simbol ekspresif lainnya (Nurhisan & Agustin, 2011:31). Dalam masa ini terdapat energi dan kekuatan fisik yang luar biasa serta tumbuh keinginan tahu dan coba-coba. Dalam periode ini, buku yang baik dibaca adalah buku-buku petualangan berilustrasi Robinson Crousoe. Anak dianjurkan belajar tentang alam dan kesenian, tetapi yang penting adalah proses belajarnya bukan hasilnya. Anak akan belajar dengan sendirinya, karena periode ini mencerminkan era perkembangan ilmu pengetahuan dalam evolusi manusia (Sarwono, 2013:28). Pemanfaatan grafis dalam pendidikan ditujukan sebagai media yang dapat membantu efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran. Grafis sebagai sebuah ilustrasi visual mampu memuat pesan-pesan pembelajaran yang dapat memberikan sejumlah rangsangan/stimuli dengan kekuatan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Rangsangan melalui indera visual terbukti cukup efektif untuk membantu manusia dalam proses belajarnya (Pujiriyanto, 2005:6). Ilustrasi manual maupun digital merupakan bagian dari bidang keterampilan seni rupa dan desain. Dengan ilustrasi, kita bisa menyampaikan pesan dengan lebih menarik. Akhir-akhir ini ilustrasi cukup diminati oleh kalangan umum, banyak masyarakat umum yang tertarik oleh keterampilan ilustrasi. Hal ini dapat kita lihat dari perkembangan akademi-akademi yang fokus memberikan kurikulum 3
keterampilan ilustrasi manual maupun digital, baik berskala nasional maupun internasional, ataupun dalam lingkup sanggar seni (Pamungkas, 2014). Menurut Alan Swann dalam buku Communicating with Rough Visuals (1989 : 90), visualisasi desain secara umum dapat di bagi dalam sejumlah bidang, yaitu buku, terutama buku-buku modern non- fiksi dan buku pelajaran banyak memerlukan ilustrasi grafis dan informasi visual, termasuk fotografi dan dan teks (Pujiriyanto, 2005:12). Secara umum media sosial, termasuk grafis, telah banyak digunakan karena terbukti dapat meningkatkan kualitas penyajian pengajaran, antara lain : memberikan umpan balik yang penting dalam aktivitas pembelajaran, memudahkan dilakukannya pengulangan dalam pembelajaran, dan mengatasi hambatan/keterbatasan bahasa (Pujiriyanto, 2005:14). 1.2 Permasalahan 1.2.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan latar belakang yang telah disusun di atas maka ditarik beberapa permasalahan yang timbul, antara lain: 1. Kurangnya pemahaman tentang Batik Bogor oleh kalangan remaja di kota Bogor. 2. Batik Bogor sebagai pariwisata dan kebudayaan lokal di kota Bogor. 3. Adanya arti dari motif Batik Bogor yang belum diketahui masyarakat kota Bogor. 4. Belum adanya media yang menarik dan informatif untuk pemahaman dan memperkenalkan Batik Bogor kepada kalangan remaja di kota Bogor. 1.2.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana mengkomunikasikan tentang pemahaman Batik Bogor beserta motifnya kepada kalangan remaja? 2. Bagaimana merancang media yang tepat dan sesuai kepada target audiens untuk memperkenalkan Batik Bogor? 4
1.2.3 Ruang Lingkup Masalah Dari identifikasi masalah tugas akhir yang berjudul Perancangan Buku Ilustrasi Dalam Memperkenalkan Batik Bogor Kepada Kalangan Remaja Di Kota Bogor di atas maka ruang lingkup dalam perancangan ini adalah: a. Apa Perancangan media tentang Batik Bogor beserta motif dan penjelasannya. b. Bagian mana Salah satu cara untuk memperkenalkan Batik Bogor adalah dengan merancang tentang Batik Bogor dan motifnya ke dalam media informasi visual. Media informasi yang dipilih adalah berupa buku ilustrasi. c. Tempat Penyebaran media informasi tersebut di galeri batik bogor dan DEKRANASDA kota Bogor serta pameran. d. Kapan Pengumpulan data untuk perancangan diulai sejak Februari 2015 dan akan selesai diterbitkan pada bulan Juni 2015. e. Siapa Target yang ditujukan untuk perancangan Buku Ilustrasi Batik Bogor ini adalah kalangan remaja usia 12-18 tahun. Hal ini dikarenakan remaja usia 12-18 tahun yang datang ke galeri batik untuk melakukan pelatihan dan pembelajaran tentang Batik Bogor. 1.3 Tujuan Perancangan Setelah meninjau dari keseluruhan rumusan masalah diatas, maka penulis memiliki tujuan dari penelitian ini, sebagai berikut : 1. Memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada kalangan remaja di kota Bogor tentang Batik Bogor beserta motif-motifnya. 2. Untuk mengembangkan pengetahuan tentang Batik sebagai pariwisata dan kebudayaan lokal kota Bogor. 5
1.4 Metode Pengumpulan Data Dalam rangka pengumpulan data dan analisis untuk memenuhi kebutuhan perancangan, guna mendapatkan hasil perancangan yang baik, diperlukan data- data yang berhubungan dengan pokok bahasan. Pengumpulan data- data tersebut dilakukan dengan berbagai metode pengumpulan data antara lain sebagai berikut: 1) Observasi Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati, mencatat, dan dengan harapan mencari data pengetahuan mereka tentang Batik Bogor. Berkunjung ke Batik Bogor Tradisiku dan melihat bagaimana kalangan remaja pengetahuannya terhadap Batik Bogor. Kemudian akan medapatkan kesimpulan dari hasil observasi dan dijadikan dasar untuk perancangan. 2) Wawancara Melakukan tanya jawab melalui wawancara terhadap sumber yang berkecimbung langsung pada proses pembuatan Batik Bogor itu sendiri yairu Lembaga Kursus Keterampilan Batik Bogor Tradisiku. Wawancara kepada pemrakarsa dan pencipta motif Batik Bogor yaitu Bapak Siswaya Syamhudi. Pertanyaan yang ditanyakan seputar sejarah terbentuknya Batik Bogor, arti dari motif-motif yang terkandung dalam Batik Bogor, keberadaan Batik Bogor, perkembangan Batik Bogor, pembuatan Batik Bogor, promosi yang sudah dilakukan untuk Batik Bogor, dan penjualan Batik Bogor. Wawancara juga dilakukan dengan Bapak Igo Nugraha dari Dinas Pariwisata selaku Kepala Seksi Obyek dan Taya Tarik Wisata Kota Bogor, Bapak Yoseph Septian selaku promosi di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, dan Bapak Syaifudin Dzikri selaku pengelola DEKRANASDA (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) kota Bogor. 3) Studi Pustaka Teknik pengumpulan data dengan melakukan kajian yang berkaitan dengan teori yang berkaitan dengan topik yang diangkat. Dalam pencarian teori, peneliti akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari kepustakaan yang berhubungan seperti buku, jurnal, dan hasil-hasil penelitian yang sudah ada dan sumber-sumber lainnya yang sesuai (internet 6
dan lain- lain). Metode ini dilakukan untuk mencari informasi berupa data pendukung yang ada hubungannya dengan Batik Bogor. 7
1.5 Kerangka Perancangan 8
1.6 Pembabakan BAB I Pendahuluan Berisikan tentang Latar belakang masalah tentang Batik Bogor. Berdasarkan latar belakang tersebut dirumuskan identifikasi masalah, rumusan masalah, ruang lingkup masalah, tujuan perancangan, cara pengumpulan data, kerangka perancangan dan pembabakan. BAB II Dasar Pemikiran Berisikan penjelasan dasar pemikirian dari teori-teori sebagai alat bantu menyelesaikan masalah yang disampaikan di BAB I dan digunakan sebagai pijakan dalam merancang. BAB III Data dan Analisis Berisikan data narasumber, data perancangan, data target audiens, data hasil wawancara bersama Bapak Siswaya Syamhudi, Industri Kecil Menengah Bogor Batik Tradisiku dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kota Bogor. Kuisioner, dan data-data yang sudah di dapat guna perancangan tugas akhir. BAB IV Konsep dan Hasil Perancangan Bab ini berisikan penjelasan konsep perancangan yang diangkat dan hasil perancangan yang telah dibuat yaitu buku ilustrasi tentang pengetahuan Batik Bogor. Diawali dengan konsep awal seperti ide, draft atau sketsa, dan penerapannya hingga proses akhir perancangan dalam bentuk buku. BAB V Penutup Berisi kesimpulan dan saran menyeluruh dari perancangan dalam ruang lingkup yang disesuaikan dengan tujuan dan analisis yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya. 9