BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan Pariwisata Dalam Pembangunan

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN. penelitian yang telah dibahas oleh peneliti pada bab-bab sebelumnya mengenai

1BAB I PENDAHULUAN. KotaPontianak.Jurnal Lanskap Indonesia Vol 2 No

REDESAIN TAMAN ALUN-ALUN SUNGAI KAPUAS

mempertahankan fungsi dan mutu lingkungan.

BAB I PENDAHULUAN. repository.unisba.ac.id

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan yang begitu kaya, indah dan

PENGEMBANGAN TAMAN JURUG SEBAGAI KAWASAN WISATA DI SURAKARTA

I. PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan sektor penunjang pertumbuhan ekonomi sebagai

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Wisata Alam di Kawasan Danau Buyan,Buleleng, Bali. BAB 1 PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG EKSISTING PROYEK

BAB I PENDAHULUAN. besar untuk dikembangkan. Peluang itu didukung oleh kondisi kondisi alamiah

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Gambar I.1 Peta wilayah Indonesia Sumber:

I-1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

DESAIN PREMIS. Dalam merancang Taman Budaya ini menggunakan sebuah metode transformasi perancangan yaitu metode preseden. Metode preseden merupakan

PENGEMBANGAN KAWASAN TAMAN REKREASI PANTAI KARTINI REMBANG Penekanan Desain Waterfront

KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB V ARAHAN DAN REKOMENDASI

I. PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan salah satu hal yang penting bagi suatu negara.

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

HOTEL RESORT BINTANG III DI KAWASAN PEGUNUNGAN RANTEPAO TANA TORAJA SULAWESI SELATAN

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Statistik Kunjungan Wisatawan ke Indonesia Tahun Tahun

STUDI PERAN STAKEHOLDER DALAM PENGEMBANGAN SARANA PRASARANA REKREASI DAN WISATA DI ROWO JOMBOR KABUPATEN KLATEN TUGAS AKHIR. Oleh:

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata saat ini merupakan suatu industri yang sedang berkembang

BAB I PENDAHULUAN. Desa Karangtengah merupakan salah satu desa agrowisata di Kabupaten Bantul,

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan salah satu hal penting bagi suatu negara. Pariwisata bagi

BAB I PENDAHULUAN Pentingnya Ruang Terbuka Publik Sebagai Tempat Berinteraksi dan

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan wilayah yang mempunyai potensi obyek wisata. Pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. dan teknologi, sehingga keadaan ini menjadi perhatian besar dari para ahli dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Adanya destinasi pariwisata merupakan salah satu bagian dari pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. negara yang menerima kedatangan wisatawan (tourist receiving countries),

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa

BAB I PENDAHULUAN. menjangkau kalangan bawah. Masyarakat di sekitar obyek-obyek wisata

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Perencanaan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 PENGERTIAN JUDUL Fasilitas Out Bound Pengembangan Obyek Wisata Suban

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri

BAB I PENDAHULUAN. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang berupa keanekaragaman

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rian Heryana, 2013

Galeri Fotografi Pelukis Cahaya yang Berlanggam Modern Kontemporer dengan Sentuhan Budaya Lombok. Ni Made Dristianti Megarini

HOTEL RESORT BINTANG DUA DAN PUSAT KEBUGARAN PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Perkembangan sebuah kota serta peningkatan jumlah penduduk perkotaan tentunya

PENGARUH PERKEMBANGAN OBYEK WISATA CANDI BOROBUDUR TERHADAP BANGKITAN LALU LINTAS DI PENGGAL RUAS JALAN SYAILENDRA RAYA TUGAS AKHIR

BELAWAN INTERNATIONAL PORT PASSANGER TERMINAL 2012 BAB I. PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN 1.7 Latar Belakang

BAB II URAIAN TEORITIS. yaitu : pari dan wisata. Pari artinya banyak, berkali-kali atau berkeliling.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pariwisata pada saat ini, menjadi harapan bagi banyak negara termasuk

I. PENDAHULUAN. Jenis Wisatawan Domestik Asing Jumlah Domestik Asing Jumlah Domestik Asing

I. PENDAHULUAN. Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi wisata

I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata adalah aktivitas perjalanan yang dilakukan untuk sementara

STUDI KEBUTUHAN PENGEMBANGAN KOMPONEN WISATA DI PULAU RUPAT KABUPATEN BENGKALIS TUGAS AKHIR. Oleh : M. KUDRI L2D

BUPATI KLATEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLATEN NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN KABUPATEN KLATEN TAHUN

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Hubungan antara kota dengan kawasan tepi air telah terjalin sejak awal peradaban manusia.

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Latar Belakang Pengadaan Proyek

PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK

BAB I PENDAHULUAN. nusantara maupun wisatawan mancanegara. Hal ini dikarenakan. yang dapat dimanfaatkan sebagai kegiatan di bidang pariwisata.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. pulau mencapai pulau yang terdiri dari lima kepulauan besar dan 30

BAB I PENDAHULUAN. negaranya untuk dikembangkan dan dipromosikan ke negara lain.

BAB I PENDAHULUAN. sosialnya yang berbeda seperti yang dimiliki oleh bangsa lain. Dengan melakukan

PUSAT RESTORAN MASAKAN TRADISIONAL YOGYAKARTA DENGAN KONSEP TROPIS MODERN BAB I PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan salah satu fenomena sosial, ekonomi, politik, budaya,

PENATAAN KAWASAN GEDONG BATU SEBAGAI KAWASAN WISATA BUDAYA DI SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Taman Imaginasi Di Semarang 126/48

BAB I PENDAHULUAN. menjadikan Indonesia sebagai negara kepalauan terbesar di dunia. Kekayaan alam

WISATA KULINER SEBAGAI PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA PANTAI WIDURI DI KABUPATEN PEMALANG

BAB I PENDAHULUAN. ini menjadi agenda utama pemerintah Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Saat ini Tiongkok merupakan pasar wisatawan asing terbesar di dunia.

PENATAAN DAN PENGEMBANGAN TAMAN WISATA SENGKALING MALANG

PENGEMBANGAN KOMPONEN PARIWISATA PADA OBYEK-OBYEK WISATA DI BATURADEN SEBAGAI PENDUKUNG PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BATURADEN TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pariwisata adalah suatu kegiatan yang unik, karena sifatnya yang sangat

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Existensi proyek

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas dan kaya akan potensi sumber daya

KAJIAN PRIORITAS PENYEDIAAN KOMPONEN WISATA BAGI PENGEMBANGAN PARIWISATA DI PULAU NIAS TUGAS AKHIR. Oleh: TUHONI ZEGA L2D

BAB I PENDAHULUAN. pariwisata, untuk sebagian negara industri ini merupakan pengatur dari roda

BAB I PENDAHULUAN. pemandangan alam seperti pantai, danau, laut, gunung, sungai, air terjun, gua,

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan kepariwisataan di Indonesia tahun terakhir ini makin terus digalakkan dan ditingkatkan dengan sasaran sebagai salah satu sumber devisa andalan di samping minyak dan gas bumi. Sektor kepariwisataan Indonesia terbukti mampu bertahan menghadapi tekanan badai krisis global. Melalui program Visit Indonesia Tahun 2009 sektor pariwisata berhasil menjaring dan mendatangkan wisatawan mancanegara sebanyak 6,5 juta orang dengan perolehan devisa USD 7,5 juta dimana hasil tersebut sesuai dengan target yang dicanangkan oleh pemerintah (Business news, 22 Januari 2010). Berdasarkan data dari Berita Resmi Badan Pusat Statistik No. 25/03/Th. XIX, 01 Maret 2016 menyatakan Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman dalam arti luas ke Indonesia Januari 2016 mencapai 814,3 ribu kunjungan, naik 3,60 persen dibanding kunjungan Januari 2015. Hal ini telah ditunjang dengan seperangkat kebijakan dan ketetapan-ketetapan pemerintah demi pengembangan pariwisata, seperti yang tercantum dalam GBHN 1978 dan dipertegas dalam GBHN 1983 dimana pariwisata dinyatakan sebagai Perlu ditingkatkan dan diperluas hingga akan dapat meningkatkan penerimaan devisa dan memperluas lapangan kerja. Pariwisata sering menjadi harapan sebagai pemasok pendapatan negara atau daerah dan sumber penambah dana segar bagi masyarakat. Pariwisata pada hakikatnya merupakan suatu fenomena lokal sehingga prospek pengembangan pariwisata akan mempengaruhi perkembangan daerah. Potensi pariwisata di Indonesia salah satunya bisa dilihat dari indahnya kota khatulistiwa, yaitu Kota Pontianak. Kota Pontianak memiliki banyak sekali tempat wisata yang menarik sehingga pariwisata di Kota Pontianak menjadi maskotnya Kalimantan Barat. Sebagai Ibu Kota Propinsi, Kota Pontianak memiliki potensi alam diantaranya dibelah oleh aliran dua sungai besar yaitu sungai Kapuas kecil dan sungai Landak yang merupakan cabang sungai Kapuas yang melintasi Kota Pontianak. Wilayah Kota Pontianak sering disebut sebagai kota Tepian Sungai

2 dan dalam kedudukannya sebagai Ibu kota Propinsi Kalimantan Barat yang berdiri pada tahun 1771 M dengan luasnya mencapai 107,82 km 2, atau hanya 0,07% dari luas Kalimantan Barat (BAPPEDA Kota Pontianak, 2015). Sungaisungai tersebut merupakan aset pariwisata yang dimiliki Kota Pontianak. Kelebihan ini akan bernilai positif bagi perkembangan dan peningkatan pendapatan daerah dan masyarakat Kota Pontianak. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan. Terlebih Kota Pontianak berada pada posisi strategis yaitu dilalui oleh garis equator dengan segala peristiwa yang mempunyai daya tarik alami. Potensi ini membawa karakteristik tersendiri, sehingga menjadikan Kota Pontianak sebagai Kota Khatulistiwa sekaligus waterfront city atau Kota Tepian Air. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah Daerah Kota Pontianak Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pontianak Tahun 2013-2033 dalam Pasal 4 yang berbunyi: Mengembangkan kegiatan pariwisata, rekreasi dan perlindungan alam di kawasan pinggiran dan badan Sungai Kapuas dengan konsep waterfront city dan menjadi salah satu daya tarik kota. Kota Pontianak sendiri telah memiliki beberapa tempat pariwisata, seperti, Tugu Khatulistiwa, Keraton Kadariyah, Kampung Beting, Makam Batu Layang, Museum dan Taman Budaya, Cagar Budaya Rumah Betang, Kampung Budaya, Cagar Budaya Kelenteng Tua, Taman Alun Kapuas, Taman Agro Khatulistiwa, dan aloevera center. Banyaknya obyek-obyek wisata di Kota Pontianak saat ini ternyata masih kurang dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini dikarenakan promosi yang kurang maksimal dari pemerintah daerah terutama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat. Pada penelitian ini penulis memfokuskan hanya pada satu obyek wisata yaitu Taman Alun Kapuas. Kawasan Taman Alun Kapuas penulis pilih karena merupakan salah satu titik simpul dari rencana pembangunan waterfront yang direncanakan Pemerintah Kota Pontianak, bertemakan wisata tepian air dengan tema latar belakang sosial budaya (karakter lokal) masyarakat kota air, letak

3 dan lokasinya juga sangat strategis karena berada dipusat kota dan open public space di Kota Pontianak. Berdasarkan hasil pengamatan, saat ini atraksi utama yang terdapat pada kawasan Taman Alun Kapuas lebih terfokus pada aktivitas rekreasi di area taman dan waterfront dan merupakan ruang terbuka hijau gratis (umum). Keunikan yang dimiliki Taman Alun Kapuas ini yaitu sebuah taman yang langsung menghadap ke sungai atau kebadan air (dalam hal ini Sungai Kapuas) yang membentuk koridor sungai, dimana banyak kapal-kapal berukuran besar berlabuh di pelabuhan yang melewati Taman Alun Kapuas. Bagi masyarakat Kota Pontianak Taman Alun Kapuas dimanfaatkan untuk melepas waktu senggang sambil menikmati keindahan air mancur di depan tugu ekuator yang berada ditepian sungai, memancing ditepian sungai, ataupun aktivitas kelompok dengan beragam aktivitas dilakukan, mulai jalan-jalan santai, rekreasi keluarga, kuliner bagi wisatawan, serta pemanfaatan taman alun-alun ini setiap tahun terdapat festival tahunan yaitu festival layang-layang, festival meriam karbit, cap go meh, pameran lukisan, hingga terdapat pasar murah. Kondisi eksisting pada taman alun kapuas sebagai public space juga terdapat dermaga wisata dan kapal wisata yang dapat membawa wisatawan menikmati dan mengelilingi keindahan Taman Alun Kapuas Kota Pontianak. Sayangnya, potensi ini masih belum banyak wisatawan yang mengetahuinya, karena minimnya informasi yang terkait tentang potensi pariwisata di Kota Pontianak. Sedangkan di Negara lain, seperti Ontario, Kanada waterfront dimanfaatkan untuk program event khusus berjalan-jalan menikmati keaslian alam, rekreasi, dan taman bermain anak-anak dan di Indonesia terdapat Ciputra Water Park Surabaya, Waterboom Ciputra Surabaya merupakan taman rekreasi air yang menggunakan tema negeri 1001 malam sebagai konsep bentuk bangunan dan wahana permainannya. Perbedaan dengan Taman Alun Kapuas Kota Pontianak yaitu minimnya taman bermain untuk anak-anak yang ada pada Taman Alun Kapuas ini, sehingga anak-anak lebih suka bermain ke mall dibandingkan ke Taman Alun Kapuas. Pemanfaatan potensi yang dimiliki Taman Alun Kapuas kurang dikembangkan Pemerintah atau masyarakat setempat dengan baik sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kota

4 Pontianak. Apabila kita melihat sejarah yang dimiliki Kota Pontianak yang bertumbuh dan berkembang ditepian Sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia maka sangatlah menarik apabila memasukkan unsurunsur historis atau sejarah Kota Pontianak ke dalam konsep perencanaan dan perancangan waterfront di Taman Alun Kapuas ini. Pengembangan obyek-obyek wisata di Kota Pontianak dilakukan dalam rangka mendorong pengembangan wilayah setempat, karena sektor ini sangat cocok dengan karakteristik Kota Pontianak sebagai kota tepian air Sungai Kapuas. Aktivitas rekreasi wisatawan akan menciptakan pusat-pusat pelayanan pariwisata yang sangat mendorong bagi pengembangan wilayah. Keterkaitan pencapaian (akses), waktu perjalanan serta ketersediaan akomodasi sangat diperlukan. Dengan demikian upaya pengembangan setiap obyek berada dalam suatu kerangka yang terpadu, sehingga diperoleh nilai tambah dari setiap obyek dalam wilayah tersebut. Antar obyek yang satu dengan yang lain saling melengkapi dan memberi peluang (choice) yang lebih banyak bagi wisatawan atau pengunjung. Dengan sendirinya pola tersebut akan memberikan peluang lebih besar untuk memperpanjang lama tinggal dan memperbanyak kunjungan. Permasalahan yang terjadi saat ini adalah belum optimalnya pemanfaatan potensi kawasan waterfront Taman Alun Kapuas sebagai kawasan rekreasi wisata. Dalam penelitian ini peneliti mencoba untuk mengkaji bagaimana mengoptimalkan pemanfaatan ruang Taman Alun Kapuas sebagai daya tarik wisata waterfront city sesuai dengan potensi dan permasalahannya. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis berupaya melakukan penelitian untuk menempuh tugas akhir dengan judul: Pengembangan Potensi Obyek Wisata Taman Rekreasi Alun Kapuas Kota Pontianak Sebagai Daya Tarik Wisata Waterfront City Tahun 2016 B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas terkait dengan permasalahan yang timbul mengenai pemanfaatan dan pengembangan potensi obyek wisata taman rekreasi alun kapuas dalam mendukung keberadaan Kota Pontianak sebagai Waterfront city, maka penelitian ini difokuskan pada permasalahan sebagai berikut:

5 1. Bagaimana kondisi obyek wisata Taman Rekreasi Alun Kapuas di Kota Pontianak? 2. Bagaimana potensi obyek wisata Taman Rekreasi Alun Kapuas Kota Pontianak sebagai daya tarik wisata Waterfront City? 3. Bagaimana pengembangan obyek wisata Taman Rekreasi Alun Kapuas Kota Pontianak sebagai daya tarik wisata Waterfront City? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui: 1. Kondisi obyek wisata Taman Rekreasi Alun Kapuas di Kota Pontianak. 2. Potensi yang ada pada obyek wisata Taman Rekreasi Alun Kapuas Kota Pontianak sebagai daya tarik wisata Waterfront City. 3. Pengembangan obyek wisata Taman Rekreasi Alun Kapuas Kota Pontianak sebagai daya tarik wisata Waterfront City. D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi dunia akademis khususnya dan masyarakat pada umumnya, mengingat minimnya informasi tentang pariwisata di wilayah Kota Pontianak. Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi bagi pengembangan teori-teori kependidikan khususnya yang berkaitan dengan program studi Pendidikan Geografi khususnya geografi pariwisata serta menambah pengetahuan mengenai informasi pariwisata dan juga dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan sosial. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi Dinas Perhubungan dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pontianak dalam pengambilan keputusan, dan pengembangan pariwisata agar dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Pontianak, serta

6 dapat membantu memberikan informasi kepada masyarakat tentang berbagai potensi pariwisata di Kota Pontianak. E. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup pada penelitian ini meliputi ruang lingkup wilayah dan ruang lingkup substansi. 1. Ruang Lingkup Wilayah Ruang lingkup wilayah pada penelitian ini adalah obyek wisata Taman Alun Kapuas, merupakan salah satu taman kota yang menghadap ke badan Sungai Kapuas (sungai terpanjang di Indonesia) memiliki keunikan dan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai rekreasi wisata waterfront city, kondisi ini juga didukung dengan adanya simpul-simpul sejarah dan kebudayaan Kota Pontianak pada tempo dulu, yang berada di Jalan Rahadi Oesman, kecamatan Pontianak Kota tepatnya di depan Kantor Walikota Pontianak. Letak obyek wisata Taman Alun Kapuas berada di pusat kota dengan batas wilayah administratif Kota Pontianak menurut Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Pontianak (2014: 15) adalah sebagai berikut: a) Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Siantan Kabupaten Pontianak. b) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sungai Raya dan Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. c) Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. d) Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sungai Raya dan Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya. 2. Ruang Lingkup Materi Ruang lingkup substansi pembahasan tentang pengembangan potensi obyek wisata taman rekreasi alun kapuas Kota Pontianak sebagai daya tarik wisata waterfront city meliputi: a) Definisi kepariwisataan, yang merupakan suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu dari satu tempat ke tempat lain yang mempunyai obyek dan daya tarik wisata untuk dapat dinikmati sebagai suatu rekreasi atau hiburan yang mendapatkan kepuasan lahir dan batin. Bersama dengan unsur-unsur dan pengembangannya yang meliputi:

7 wisatawan, pengembangan obyek wisata, pengembangan daya tarik wisata, perencanaan pengembangan, dan konsep daya tarik wisata. b) Definisi kawasan rekreasi, merupakan tempat atau daerah yang disediakan untuk memberikan hiburan bagi setiap orang yang berkunjung. Hiburan tersebut dapat berupa panorama alam setempat, budaya maupun sarana dan prasarana yang ada dan dikelola oleh manusia menjadi suatu tempat yang bertujuan untuk mencari kesenangan yang ditujukan bagi kepuasan bathin manusia. Dijabarkan juga sistem-sistem di dalamnya yang meliputi maksud dan tujuan rekreasi, jenis rekreasi, serta pelaku dan aktivitas dalam kawasan rekreasi. c) Definisi waterfront, merupakan suatu area yang berbatasan dengan air yang memiliki kontak fisik dan visual dengan air laut, sungai, danau dan badan air lainnya. Berfungsi sebagai tempat dimana komunitas berkumpul untuk mengadakan suatu event atau festival, biasanya diadakan pada lapangan terbuka atau berumput dimana semua orang merasa diterima untuk datang. Semua kawasan yang memiliki batasan antara daerah perairan dengan daratan dapat disebut sebagai kawasan waterfront. Dijabarkan juga sejarah perkembangan waterfront, tipologi waterfront city, aspek-aspek pengembangan waterfront, kriteria dan jenis waterfront, dan waterfront Sungai Kapuas. F. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 18 24 April 2016 pada pagi hari pukul 06.00 10.00 WIB dan sore hari pada pukul 15.00 18.00 WIB dengan melakukan survei lapangan, observasi, dan wawancara kepada pedagang maupun pengunjung obyek wisata Taman Alun Kapuas. 2. Tempat Penelitian Penelitian ini berada pada obyek wisata Taman Alun Kapuas di Jalan Rahadi Oesman, Kecamatan Pontianak Kota. Taman Alun Kapuas merupakan sebuah nama ruang terbuka hijau, open public space dan salah satu kawasan waterfront city di Kota Pontianak.