ASKEP MIASTENIA GRAVIS

dokumen-dokumen yang mirip
Miastenia Gravis Definisi Klasifikasi

MYASTHENIA GRAVIS. DIAH MUSTIKA HW SpS, KIC INTENSIVE CARE UNIT of EMERGENCY DEPARTMENT NAVAL HOSPITAL dr RAMELAN, SURABAYA

BAB II KONSEP DASAR. orang lain maupun lingkungan (Townsend, 1998). orang lain, dan lingkungan (Stuart dan Sundeen, 1998).

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini akan dibahas tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan. penelitian, manfaat penelitian sebagai berikut.

MONITORING DAN ASUHAN KEPERAWATANA PASIEN POST OPERASI

LAPORAN PENDAHULUAN HEPATOMEGALI

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID

PROSES TERJADINYA MASALAH

BOTULISME. Disusun Oleh: Maria Dafrosa Yunita, S.Ked Sientiawati Tjahyono, S.Ked Denny Christiawan, S.Ked. Pembimbing Dr. Utoyo Sunaryo, Sp.

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GASTRITIS PADA LANSIA

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

PENATALAKSANAAN ASMA EKSASERBASI AKUT

5. Pengkajian. a. Riwayat Kesehatan

2006 Global Initiative for Asthma (GINA) tuntunan baru dalam penatalaksanaan asma yaitu kontrol asma

- Nyeri dapat menyebabkan shock. (nyeri) berhubungan. - Kaji keadaan nyeri yang meliputi : - Untuk mengistirahatkan sendi yang fragmen tulang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 latar belakang 1.2 Rumusan Masalah

BAB I KONSEP DASAR. sepanjang saluran usus (Price, 1997 : 502). Obstruksi usus atau illeus adalah obstruksi saluran cerna tinggi artinya

kekambuhan asma di Ruang Poli Paru RSUD Jombang.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HIPERPITUITARISME

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

BAB III PEMBAHASAN. Pada bab ini penulis akan membahas tentang permasalahan yang

BAB IV PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. nafas dan nutrisi dengan kesenjangan antara teori dan intervensi sesuai evidance base dan

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 8 Anak menderita HIV/Aids. Catatan untuk fasilitator. Ringkasan Kasus:

BERDUKA DAN KEHILANGAN. Niken Andalasari

SISTEM NEUROBEHAVIOUR (Miastenia Gravis)

BAB I PENDAHULUAN. yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi.

BAB I PENDAHULUAN. pasien tersebut. Pasien dengan kondisi semacam ini sering kita jumpai di Intensive

DAFTAR TABEL JUDUL. Distribusi frekuensi klien DM berdasarkan usia. Distribusi frekuensi klien DM berdasarkan jenis kelamin

C. Penyimpangan Tidur Kaji penyimpangan tidur seperti insomnia, somnambulisme, enuresis, narkolepsi, night terrors, mendengkur, dll

1. Dokter Umum 2. Perawat KETERKAITAN : PERALATAN PERLENGKAPAN : 1. SOP anamnesa pasien. Petugas Medis/ paramedis di BP

C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pendahuluan Meniere s disease atau penyakit Meniere atau dikenali juga dengan hydrops endolimfatik. Penyakit Meniere ditandai dengan episode berulang

BAB I KONSEP DASAR. dalam kavum Pleura (Arif Mansjoer, 1999 : 484). Efusi Pleura adalah

ASUHAN KEPERAWATAN CA.LAMBUNG

BAB V PEMBAHASAN. A. Pembahasan. Bab ini penulis akan membahas tentang tindakan keperawatan

A. Pengertian Defisit Perawatan Diri B. Klasifikasi Defisit Perawatan Diri C. Etiologi Defisit Perawatan Diri

BAB I PENDAHULUAN. xiv

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Sdr. D DENGAN PERUBAHAN PERSEPSI-SENSORI: HALUSINASI PENDENGARAN DI BANGSAL ABIMANYU RSJD SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Artritis reumatoid/rheumatoid Arthritis (RA) adalah

SATUAN ACARA PENYULUHAN MANAJEMEN NYERI PADA LUKA POST OPERASI

BAB 1 PENDAHULUAN. negara di seluruh dunia (Mangunugoro, 2004 dalam Ibnu Firdaus, 2011).

BAB 1 PENDAHULUAN. Kesehatan yang baik atau kesejahteraan sangat diinginkan oleh setiap orang.

Task Reading: ASBES TOSIS

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut

GLUKOMA PENGERTIAN GLAUKOMA

KELOMPOK III. Siti Rafidah K Sri Rezkiana andi L Nadia Intan tiara D Arsini Widya Setianingsih

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Keperawatan pasca operasi merupakan periode akhir dari keperawatan

BAB I PENDAHULUAN. ini terdapat diseluruh dunia, bahkan menjadi problema utama di negara-negara

Askep Pada Pasien Miestania Gravis

Data Demografi. Ø Perubahan posisi dan diafragma ke atas dan ukuran jantung sebanding dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN. Setiawan, S.Kp., MNS

SINDROMA GUILLAINBARRE

BAB I PENDAHULUAN. jalan operasi atau sectio caesarea hal ini disebabkan karena ibu memandang

Daftar Diagnosis Keperawatan Berdasarkan Standar Diagnosasis Keperawatan Indonesia (SDKI)

NUTRISI POST GANGGUAN MENELAN Dipublish oleh: Sunardi (Residensi Sp.KMB)

KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL DAN NYERI

BAB II TINJAUAN TEORI. dengan orang lain (Keliat, 2011).Adapun kerusakan interaksi sosial

Kanker Prostat. Prostate Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DIABETES INSIPIDUS

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN JIWA. PADA Sdr.W DENGAN HARGA DIRI RENDAH. DI RUANG X ( KRESNO ) RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG. 1. Inisial : Sdr.

Dika Fernanda Satya Wira W Ayu Wulandari Aisyah Rahmawati Hanny Dwi Andini Isti Hidayah Tri Amalia Nungki Kusumawati

BAB I KONSEP DASAR. Berdarah Dengue (DBD). (Aziz Alimul, 2006: 123). oleh nyamuk spesies Aedes (IKA- FKUI, 2005: 607 )

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gangguan pada sistem pernafasan merupakan penyebab utama

BAB I PENDAHULUAN. 1.Latar Belakang. Anak merupakan aset masa depan yang akan melanjutkan pembangunan

Kekurangan volume cairan b.d kehilangan gaster berlebihan, diare dan penurunan masukan

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar. manusia yang termasuk kedalam kebutuhan dasar dan juga

PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA RUMAH SAKIT UMUM KELAS D KOJA Jl. Walang Permai No. 39 Jakarta Utara PANDUAN ASESMEN PASIEN TERMINAL

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia?

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedaruratan psikiatri adalah sub bagian dari psikiatri yang. mengalami gangguan alam pikiran, perasaan, atau perilaku yang

Gangguan Neuromuskular

BAB 1 PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan kesehatan bagi masyarakat. Menanggapi hal ini,

KEBUTUHAN FISIOLOGIS KESELAMATAN DAN KEMANAN. FATWA IMELDA, S.Kep, Ns

BAB I PENDAHULUAN. tergantung dimana kanker tersebut tumbuh dan tipe dari sel kanker tersebut.

Koping individu tidak efektif

PENGKAJIAN PRIMER DAN SEKUNDER

PENDAHULUAN ETIOLOGI EPIDEMIOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. tahun. Data rekam medis RSUD Tugurejo semarang didapatkan penderita

BAB V PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. BAB ini penulis akan membahas tentang penerapan posisi semi fowler untuk

BAB I PENDAHULUAN. dan kemajuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. bertambahnya jumlah pengendara kendaraan bermotor dan pengguna jalan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan adalah modal utama bagi manusia, kesehatan

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA EFUSI PLEURA

BAB II KONSEP DASAR A. PENGERTIAN. Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya

Profesi _Keperawatan Medikal Bedah_cempaka

BAB II TINJAUAN TEORI. pengecapan maupun perabaan (Yosep, 2011). Menurut Stuart (2007)

: Ikhsanuddin Ahmad Hrp, S.Kp., MNS. NIP : Departemen : Kep. Medikal Bedah & Kep. Dasar

BAB I PENDAHULUAN. Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm

LAPORAN PENDAHULUAN. memperlihatkan iregularitas mukosa. gastritis dibagi menjadi 2 macam : Penyebab terjadinya Gastritis tergantung dari typenya :

CATATAN PERKEMBANGAN. Implementasi Keperawatan. Mengevaluasi tingkat mobilitas klien Mendorong partisipasi

BAB V PENUTUP. Setelah menguraikan asuhan keperawatan pada Ny. W dengan post

LAPORAN PENDAHULUAN. PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan jiwa adalah berbagai karakteristik positif yang. menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang

BAB II TINJAUAN TEORI. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN TRANSIENT TACHYPNEA OF THE NEW BORN

BAB V PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. Bab ini penulis membahas mengenai permasalahan tentang respon nyeri

BAB II TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN. tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri,

Transkripsi:

ASKEP MIASTENIA GRAVIS

A. Pengertian Miastenia gravis merupakan bagian dari penyakit neuromuskular. Miastenia gravis adalah gangguang yang memengaruhi transmisi neuromuskular pada otot tubuh yang kerjanya di bawah kesadaran seseorang (volunter).

B. Etiologi 1. Autoimun : direct mediated antibody 2. Virus 3. Pembedahan 4. Stres 5. Alkohol 6. Tumor mediastinum 7. Obat-obatan : Antibiotik (Aminoglycosides, ciprofloxacin, ampicillin, erythromycin) blocker (propranolol) Procainamide Chloroquine

C. Patofisiologi

D. Manifestasi Klinis 1) Kelemahan otot mata dan wajah (hampir selalu ditemukan) Diplobia Otot mimik 2) Kelemahan otot bulbar - Otot-otot lidah Suara nasal, regurgitasi nasal Kesulitan dalam mengunyah Kesulitan menelan dan aspirasi dapat terjadi dengan cairan, batuk dan tercekik saat minum 3) Kelemahan otot anggota gerak 4) Kelemahan otot pernafasan Kelemahan otot interkostal dan diaphragma menyebabkan retensi CO 2 è hipoventilasi è menyebabkan kedaruratan neuromuskular Kelemahan otot faring dapat menyebabkan gagal saluran nafas atas

E. Klasifikasi KLASIFIKASI MIASTENIA OKULAR MIASTENIA UMUM RINGAN MIASTENIA UMUM SEDANG KLINIS Hanya menyerang otot-otot okular,disertai ptosis dan diplopia.sangat ringan tak ada kasus kematian. awitan (onset) lambat, biasanya pada mata, lambat laun menyebar ke otot otot rangka dan bulbar - Sistem pernapasan tidak terkena. Respon terhadap terapi obat baik - Angka kematian rendah Disartria, disfagia, dan sukar mengunyah lebih nyata dibandingkan dengan miastenia gravis umum ringan. Otot otot pernapasan tidak terkena - Respons terhadap terapi obat : kurang memuaskan dan aktifitas klien terbatas, tetapi angka kematian rendah

MIASTENIA UMUM BERAT KRISIS MIASTENIA 1. Fulminan akut : - Awitan yang cepat dengan kelemahan otot otot rangka dan bulbar dan mulai terserangnya otot otot pernapasan - Biasanya penyakit berkembang maksimal dalam waktu 6 bulan - Miastenia gravis berat timbul paling sedikit dua tahun setelah awitan gejala gejala kelompok I atau II - Miastenia gravis dapat berkembang secara perlahan atau tiba tiba - Respons terhadap obat dan prognosis buruk Miastenia dg kelemahan yg progresif dan terjadi gagal nafas à mengancam jiwa - Kelanjutan dari mistenia generalisata berat - Onset terjadi tiba2 dan biasanya dipicu oleh infeksi saluran pernafasan atas yg berkembang menjadi bronkhitis atau pnemoni,pekerjaan fisik yg berlebihan, melahirkan, penggunaan urus2

F. Pemeriksaan Diagnostik 1. Laboratorium 2. X-ray thoraks 3. CT scan thoraks 4. Pemeriksaan Klinis 5. Tes Tensilon 6. Tes Kolinergik 7. Pemeriksaan EMNG 8. Pemeriksaan antibodi AChR 9. Evaluasi Timus

G.Penatalaksanan 1. Periode istirahat yang sering selama siang hari menghemat kekuatan. 2. Obat antikolinesterase diberikan untuk memperpanjang waktu paruh asetilkolin di taut neuro moskular. Obat harus diberikan sesuai jadwal seetiap hari untuk mencegah keletihan dan kolaps otot. 3. Obat anti inflamasi digunakan untuk membatasi serangan autoimun. 4. Krisis miastenik dapat diatasi dengan obat tambahan,dan bantuan pernapasan jika perlu. 5. Krisis kolinergik diatasi dengan atropin (penyekat asetilkolin) dan bantuan pernapasan,sampai gejala hilang. Terapi antikolinesisterase ditunda sampaikadar toksik obatb diatasi. 6. Krisis miastenia dan krisis kolinergik terjadi dengan cara yang sama,namun diatasi secara berbeda. Pemberian tensilon dilakukan untuk membedakan dua gangguan tersebut.

H. Komplikasi 1. Gagal nafas 2. Disfagia 3. Krisis miastenik 4. Krisis cholinergic 5. Komplikasi sekunder dari terapi obat Penggunaan steroid yang lama : Osteoporosis, katarak, hiperglikemi Gastritis, penyakit peptic ulcer Pneumocystis carinii

PROSES KEPERAWATAN

Pengkajian 1. Identitas klien yang meliputi nama,alamat,umur,jenis kelamin,dannstatus 2. Keluhan utama : kelemahan otot 3. Riwayat kesehatan : diagnosa miastenia gravis didasarkan pada riwayat dan presentasi klinis. Riwayat kelemahan otot setelah aktivitas dan pemulihan kekuatan parsial setelah istirahat sangatlah menunjukkan miastenia gravis, pasien mungkin mengeluh kelemahan setelah melakukan pekerjaan fisik yang sederhana. Riwayat adanya jatuhnya kelopak mata pada pandangan atas dapat menjadi signifikan, juga bukti tentang kelemahan otot.

4. Pemeriksaan fisik : B1(breathing): dispnea,resiko terjadi aspirasi dan gagal pernafasan akut, kelemahan otot diafragma B2(bleeding) : hipotensi / hipertensi.takikardi / bradikardi B3(brain) : kelemahan otot ekstraokular yang menyebabkan palsi okular,jatuhnya mata atau dipoblia B4(bladder) : menurunkan fungsi kandung kemih,retensi urine,hilangnya sensasi saat berkemih B5(bowel) : kesulitan mengunyah-menelan,disfagia, dan peristaltik usus turun, hipersalivasi,hipersekresi B6(bone) : gangguan aktifitas / mobilitas fisik,kelemahan otot yang berlebih

Diagnosa Keperawatan 1. Ketidakefektifanpola nafas yang berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan 2. Gangguan persepsi sensori bd ptosis,dipoblia 3. Resiko tinggi cedera bd fungsi indra penglihatan tidak optimal 4. Gangguan aktivitas hidup sehari-hari yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum, keletihan 5. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan disfonia,gangguan pengucapan kata, gangguan neuromuskular, kehilangankontrol tonus otot fasial atau oral 6. Gangguan citra diri berhubungan dengan ptosis, ketidakmampuan komunikasi verbal

Intervensi DP INTERVENSI RASIONAL 1 a. Kaji kemampuan Ventilasi Untuk klien dengan penurunan kapasitas ventilasi, perawat mengkaji frekuensi pernapasan, kedalaman, dan bunyi nafas,pantau hasil tes fungsi paru-paru tidal,. b. Kaji kualitas, frekuensi,dan kedalaman pernapasan,laporkan setiap perubahan yang terjadi. c. Baringkan klien dalam posisi yang nyaman dalam posisi duduk d. Observasi tanda-tanda vital (nadi,rr) Dengan mengkaji kualitas, frekuensi, dan kedalaman pernapasan, kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi klien. Penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal. Peningkatan RR dan takikardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru

DP INTERVENSI RASIONAL 2 Tentukan kondisi patologis klien untuk mengetahui tipe dan lokasi yang mengalami gangguan Kaji gangguan penglihatan terhadap perubahan persepsi Berbicaralah dengan klien secara tenang dan gunakan kalimat-kalimat pendek Observasi respon perilaku klien, seperti menangis, bahagia, bermusuhan, halusinasi setiap saat 3 Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktivitas Evaluasi Kemampuan aktivitas motorik untuk mempelajari kendala yang berhubungan dengan disorientasi klien. memfokuskan perhatian klien, sehingga setiap masalah dapat dimengerti. Untuk mengetahui keaadaan emosi klien. Menjadi data dasar dalam melakukan intervensi selanjutnya Menilai tingkat keberhasilan dari terapi yang boleh diberikan

DP INTERVENSI RASIONAL 4 Kaji komunikasi verbal klien. Kelemahan otot-otot bicara klien krisis miastenia gravis dapat berakibat pada komunikasi Lakukan metode komunikasi yang ideal sesuai dengan kondis iklien. Antisipasi dan bantu kebutuhan klien. 5 Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan Identifikasi arti dari Kehilangan atau disfungsi pada klien. Anjurkan orang yang Terdekat untuk mengizinkan klien melakukan hal untuk dirinya sebanyakbanyaknya Teknik untuk meningkatkan komunikasi meliputi mendengarkan klien. Membantu menurunkan frustasi oleh karenaketergantungan atau ketidakmampuanberkomunikasi Menentukan bantuan individual dalammenyusun rencana perawatan ataupemilihan intervensi. Sebagian klien dapat menerima dan mengatur beberapa fungsi secara efektif dgn sedikit penyesuain diri. Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu perkembanganharga diri serta mempengaruhi prosesrehabilitasi

Implementasi Keperawatan 1. Mengkaji kemampuan Ventilasi 2. Mengobservasi respon perilaku klien,seperti menangis,bahagia,bermusuhan,halusinasi setiap saat. 3. Mengkaji kemampuan klien dalam melakukan aktivitas. 4. Mengkaji komunikasi verbal klien. 5. Mengkaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan

Evaluasi 1. Dalam waktu 1x24 jam setelah diberikan intervensi,pola pernafasan klien kembali efektif. 2. Meningkatnya persepsi sensorik secara optimal. 3. Menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan melindungi diri dari cedera. 4. Klien dapat menunjukkan pengertian terhadap masalah komunikasi, mampu mengekspresikan perasaannya, mampu menggunakan bahasa isyarat 5. Klien mampu menyatakan atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi.