PENGOLAHAN DATA SEISMIK PADA DAERAH BATUAN VULKANIK

dokumen-dokumen yang mirip
PENGOLAHAN DATA SEISMIK PADA DAERAH BATUAN BEKU VULKANIK

Gambar 3.1 Peta lintasan akuisisi data seismik Perairan Alor

BAB IV METODE DAN PENELITIAN

PERBANDINGAN POST STACK TIME MIGRATION METODE FINITE DIFFERENCE DAN METODE KIRCHOFF DENGAN PARAMETER GAP DEKONVOLUSI DATA SEISMIK DARAT 2D LINE SRDA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

Pengolahan Data Seismik 2D Menggunakan Software Echos dari Paradigm 14.1

BAB I PENDAHULUAN. banyak dieksplorasi adalah sumber daya alam di darat, baik itu emas, batu bara,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan melalui langkah - langkah untuk memperoleh

Survei Seismik Refleksi Untuk Identifikasi Formasi Pembawa Batubara Daerah Ampah, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah

Survei Seismik Refleksi Untuk Identifikasi Formasi Pembawa Batubara Daerah Tabak, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah

Analisis Pre-Stack Time Migration (PSTM) Pada Data Seismik 2D Dengan menggunakan Metode Kirchoff Pada Lapangan ITS Cekungan Jawa Barat Utara

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pemrosesan awal setelah dilakukan input data seismik 2D sekunder ini adalah

Analisis Kecepatan Seismik Dengan Metode Tomografi Residual Moveout

IV. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

APLIKASI METODE TRANSFORMASI RADON UNTUK ATENUASI MULTIPEL PADA PENGOLAHAN DATA SEISMIK 2D LAUT DI PERARIRAN X

TEKNOLOGI SEISMIK REFLEKSI UNTUK EKSPLORASI MINYAK DAN GAS BUMI

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Cadzow filtering adalah salah satu cara untuk menghilangkan bising dan

Perbandingan Metode Model Based Tomography dan Grid Based Tomography untuk Perbaikan Kecepatan Interval

EFISIENSI PENGGUNAAN DINAMIT PADA MINYAK DAN GAS BUMI DALAM SURVEI SEISMIK 3D KABUPATEN INDRAMAYU

Koreksi Efek Pull Up dengan Menggunakan Metode Horizon Based Depth Tomography

PROPOSAL KERJA PRAKTIK PENGOLAHAN DATA SEISMIK 2D MARINE DAERAH X MENGGUNAKAN SOFTWARE PROMAX 2003

ATENUASI NOISE DENGAN MENGGUNAKAN FILTER F-K DAN TRANSFORMASI RADON PADA DATA SEISMIK 2D MULTICHANNEL

BAB III TEORI DASAR. Metode seismik refleksi merupakan suatu metode yang banyak digunakan dalam

Perbaikan Model Kecepatan Interval Pada Pre-Stack Depth Migration 3D Dengan Analisa Residual Depth Moveout Horizon Based Tomography Pada Lapangan SF

ANALISIS PRE STACK TIME MIGRATION (PSTM) DAN PRE STACK DEPTH MIGRATION (PSDM) METODE KIRCHHOFF DATA SEISMIK 2D LAPANGAN Y CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA

Pre Stack Depth Migration Vertical Transverse Isotropy (Psdm Vti) Pada Data Seismik Laut 2D

Wahyu Tristiyoherni Pembimbing Dr. Widya Utama, DEA

ANALISIS PERBEDAAN PENAMPANG SEISMIK ANTARA HASIL PENGOLAHAN STANDAR DENGAN PENGOLAHAN PRESERVED AMPLITUDE

SUPRESI MULTIPEL PADA DATA SEISMIK LAUT DENGAN METODE DEKONVOLUSI PREDIKTIF DAN RADON DEMULTIPEL

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengolahan data pada Pre-Stack Depth Migration (PSDM) merupakan tahapan

PENERAPAN METODE F-K DEMULTIPLE DALAM KASUS ATENUASI WATER-BOTTOM MULTIPLE

BAB 3 TEORI DASAR. Seismik refleksi merupakan salah satu metode geofisika yang digunakan untuk

INTERPRETASI RESERVOIR HIDROKARBON DENGAN METODE ANALISIS MULTI ATRIBUT PADA LAPANGAN FIAR

BAB II TEORI DASAR (2.1) sin. Gambar 2.1 Prinsip Huygen. Gambar 2.2 Prinsip Snellius yang menggambarkan suatu yang merambat dari medium 1 ke medium 2

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. hingga diperoleh hasil penelitian. Data dari hasil akuisisi lapangan

TEORI DASAR. gelombang ini dinamakan gelombang seismik. Gelombang seismik adalah gelombang elastik yang merambat dalam bumi.bumi

Analisa Pre-Stack Time Migration (PSTM) Data Seismik 2D Pada Lintasan ITS Cekungan Jawa Barat Utara ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. laut Indonesia, maka ini akan mendorong teknologi untuk dapat membantu dalam

PENERAPAN METODE COMMON REFLECTION SURFACE PADA DATA SEISMIK LAUT 2D DI LAUT FLORES

Migrasi Pre-Stack Domain Kedalaman Dengan Metode Kirchhoff Pada Medium Anisotropi VTI (Vertical Transverse Isotropy)

III. TEORI DASAR. Metode seismik memanfaatkan penjalaran gelombang seismik ke dalam bumi.

BAB III TEORI DASAR Tinjauan Umum Seismik Eksplorasi

ANALISA PENAMPANG SEISMIK PRE-STACK TIME MIGRATION DAN POST- STACK TIME MIGRATION BERDASARKAN METODE MIGRASI KIRCHHOFF (Studi Kasus Lapangan GAP#)

ALHAZEN Journal of Physics ISSN Volume 2, Nomor 1, Issue 1, Juli 2015

Pengolahan Data Seismik 2 D Menggunakan ProMAX "Area Cekungan Gorontalo"

BAB II COMMON REFLECTION SURFACE

IERFHAN SURYA

BAB I PENDAHULUAN. Lapangan TERRA adalah salah satu lapangan yang dikelola oleh PT.

BAB IV STUDI KASUS II : Model Geologi dengan Stuktur Sesar

PENERAPAN METODE COMMON REFLECTION SURFACE (CRS) PADA DATA SEISMIK LAUT 2D DI LAUT FLORES

BAB III MIGRASI KIRCHHOFF

III. TEORI DASAR. pada permukaan kemudian berpropagasi ke bawah permukaan dan sebagian

APLIKASI PENGOLAHAN DATA SEISMIK 2D MARINE DENGAN MENGGUNAKAN METODA FK FILTER,SURFACE RELATED MULTIPLE ELIMINATION (SRME) DAN RADON FILTER

VARIASI NILAI MIGRATION APERTURE PADA MIGRASI KIRCHOFF DALAM PENGOLAHAN DATA SEISMIK REFLEKSI 2D DI PERAIRAN ALOR

MODUL PRAKTIKUM. Pengolahan Data Seismik 2D Darat

ANALISA KECEPATAN DATA SEISMIK REFLEKSI 2D ZONA DARAT MENGGUNAKAN METODE SEMBLANCE

SEISMIC DATA PROCESSING

ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA RESPON SEISMIK SINTETIK PP DAN PS BERDASARKAN PEMODELAN SUBSTITUSI FLUIDA PADA SUMUR

DELENIASI PENYEBARAN SHALLOW GAS SECARA HORISONTAL MENGGUNAKAN METODE SEISMIK 2D RESOLUSI TINGGI

PERBANDINGAN PENCITRAAN PENGOLAHAN DATA SEISMIK METODA KONVENSIONAL DENGAN METODA CRS (COMMON REFLECTION SURFACE)

3. HASIL PENYELIDIKAN

Pre Stack Depth Migration Vertical Transverse Isotropy (PSDM VTI) pada Data Seismik Laut 2D

PERALATAN SURVEI SEISMIK DARAT DAN LAUT

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 7 No. 2 November 2016: ISSN

PERBAIKAN MODEL KECEPATAN INTERVAL PADA PRE-STACK DEPTH MIGRATION 3D DENGAN ANALISA RESIDUAL DEPTH MOVEOUT HORIZON BASED TOMOGRAPHY PADA LAPANGAN SF

PENERAPAN DEKONVOLUSI SPIKING DAN DEKONVOLUSI PREDIKTIF PADA DATA SEISMIK MULTICHANNEL 2D DI LAUT FLORES ALFRIDA ROMAULI

IV. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Divisi Geoscience Service PT. ELNUSA Tbk., Graha

PRE STACK DEPTH MIGRATION VERTICAL TRANSVERSE ISOTROPY (PSDM VTI) PADA DATA SEISMIK LAUT 2D

Imaging Subsurface Menggunakan Metode Crs: Study Kasus pada Steep Dip Reflector dan Data Low Fold

BAB IV PERMODELAN POISSON S RATIO. Berikut ini adalah diagram alir dalam mengerjakan permodelan poisson s ratio.

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR ISTILAH

III. TEORI DASAR. seismik juga disebut gelombang elastik karena osilasi partikel-partikel

BAB III METODE PENELITIAN

KARAKTERISASI RESERVOIR KARBONAT DENGAN MENGGUNAKAN METODE AVO INVERSISTUDI KASUS LAPANGAN NGAWEN

BAB IV METODE PENELITIAN. Tugas Akhir ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan pada 13 April 10 Juli 2015

APLIKASI METODE COMMON REFLECTION SURFACE (CRS) UNTUK MENINGKATKAN HASIL STACK DATA SEISMIK LAUT 2D WILAYAH PERAIRAN Y

MODEL KECEPATAN MENGGUNAKAN HORIZON VELOCITY ANALYSIS DAN PENYELARASAN DENGAN DATA SUMUR TUGAS AKHIR FADHILA NURAMALIA YERU NIM:

Deteksi Lapisan Hidrokarbon Dengan Metode Inversi Impedansi Akustik Dan EMD (Empirical Mode Decompotition) Pada Formasi Air Benakat Lapangan "X"

UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS PROSES PRE-STACK TIME MIGRATION DAN POST-STACK TIME MIGRATION DI LAPANGAN X DI DAERAH SUMATERA SELATAN

BAB IV DATA DAN PENGOLAHAN DATA. Pada penelitian ini data seismik yang digunakan adalah data migrasi poststack 3D

Ringkasan Tugas Akhir/Skripsi

ATENUASI MULTIPLE PADA DATA SEISMIK 2D CEKUNGAN BRYANT CANYON LEPAS PANTAI TELUK LOUISIANA TEXAS

Jurnal OFFSHORE, Volume 1 No. 1 Juni 2017 : ; e -ISSN :

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang mengambil judul Interpretasi Reservoar Menggunakan. Seismik Multiatribut Linear Regresion

BAB III TEORI DASAR. hasil akuisisi seismik yang dapat dipergunakan untuk pengolahan data seismik.

STUDI PRE-STACK DEPTH MIGRATION PADA STRUKTUR KOMPLEK TUGAS AKHIR I KOMANG ANDIKA ARIS PERMANA NIM:

III. TEORI DASAR. gelombang akustik yang dihasilkan oleh sumber gelombang (dapat berupa

Bab 6. Migrasi Pre-stack Domain Kedalaman. Pada Data Seismik Dua Dimensi

Jurusan Fisika FMIPA Universitas Brawijaya 2) Pertamina Asset 3

BAB II TEORI DASAR METODE STACK KONVENSIONAL DAN ZERO-OFFSET COMMON-REFLECTION-SURFACE (ZO CRS) STACK

BAB IV METODE PENELITIAN

Reduksi Long Period Multiple dengan Menggunakan Metode High-Resolution Radon Demultiple (RAMUR) Pada Data Seismik Darat 2D

Transkripsi:

Pengolahan Data Seismik... PENGOLAHAN DATA SEISMIK PADA DAERAH BATUAN VULKANIK Raden Bagus Fauzan Irshadibima 1), Dwa Desa Warnana 1), dan Firman Syaifudin 1) 1 Teknik Geofisika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Instittut Teknologi Sepuluh Nopember Email : Fauzan.irshadibima@gmail.com Abstrak. Eksplorasi sumber daya energi minyak dan gas sudah banyak dilakukan di berbagai macam lingkungan. Salah satunya reservoir minyak dan gas yang dapat terbentuk di lingkungan batuan beku (sub-vulkanik), dimana karena sifat alami batuan beku, gelombang yang menjalar melewati permukaan batuan tersebut akan terpantul atau mengurangi amplitudo seismik, sehingga data seismik yang terbaca akan mengalami banyak gangguan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian yang berjudul Pengolahan Data Seismik Pada Daerah Batuan Vulkanik yang bertujuan untuk mengetahui tahapan pengolahan data seismik dan pengaruh dari hadirnya reflektor batuan beku terhadap hasil dari pengolahan data seismik. Tahapan yang digunakan dalam pengolahan dibagi menjadi tiga tahap utama yaitu Pre-Processing, Processing, dan Pre-Conditioning kemudian terakhir dilakukan migrasi menggunakan metode Post-Stack F-K Migration. Setelah dilakukan pengolahan data seismik, didapatkan penampang stacking seismik yang memperlihatkan event seismik pada rentang waktu 1000 3500 ms dan hilang pada CDP 100-500 yang merupakan lapisan sub-vulkanik, sehingga pengaruh dari reflektor sub-vulkanik terhadap data seismik adalah memiliki kecepatan yang sangat besar daripada lingkungannya, gelombang frekuensi tinggi yang tidak dapat menembus lapisan tersebut, dan elevasi pada daerah lapisan sub-vulkanik yang tinggi. Sehingga Pengolahan data seismik konvensional yang digunakan belum dapat memperlihatkan event seismic tepat pada reflektor sub-vulkanik. Kata Kunci: Batu vulkanik, Seismik, Pengolahan data Abstract. Exploration of petroleum resources have been done in many type of environment. Petroleum system can be formed in igneous rock environment (subvolcanic), because of this rock properties, seismic wave that spread across this type of rock will be reflected or the amplitude will decrease, therefore obtained seismic data will encounter so many disturbance. Hence, it is necessary to research according to this topic with title Seismic Data Processing in Volcanic Area with objective to find out step for seismic processing and the impact for seismic processing with subvolcanic reflector present in the area. Step that used in this research is divide to three main phase, Pre-Processing, Processing, and Pre-Conditioning, last will be applied migration with Post Stack F-K Migration method. After processing have been done, the final result is seismic stack which show seismic event in 1000 3500 ms time and this event disappear in 100-500 CDP which appear to be subvolcanic reflector, and thus the impact of this reflector to seismic data is high velocity compared to surrounding area, high frequency wave that cannot penetrate this reflector, and high elevation at the top of subvolcanic reflector which affect the result of static correction. Hence, conventional seismic processing used cant show main seismic event on subvolcanic reflector. Keywords: Subvolcanic, Seismic, Processing PENDAHULUAN Eksplorasi sumber daya energi yang bersumber dari minyak dan gas bumi di Pulau Jawa sudah banyak dilakukan dengan tantangan dan metoda yang beragam, seperti di Pulau Jawa yang ternyata beberapa batuan induknya tertutup lapisan batuan beku, contohnya seperti penelitian yang sudah dilakukan terdapat pada formasi Jatibarang, formasi yang tersusun oleh lapisan batuan beku (Boedi, 2010). Batuan beku yang menutupi batuan induk akan menyebabkan penjalaran gelombang seismik terganggu, efek ini terjadi karena sifat alami dari batuan beku yaitu memiliki sifat refraksi yang kuat (Huijun dan Pal, 2009). Efek ini akan mempengaruhi data seismik karena pada saat melewati lapisan batuan beku penjalaran gelombang seismik terdapat energi yang hilang (amplitudo berkurang), dan dari hasil penelitian-penelitian yang sebelumnya mengakibatkan hasil pengolahan data dari penampang seismik buram/tidak jelas (Hill et al., 2016). Penelitian ini dilakukan dengan memfokuskan pengolahan data seismik di bagian lapisan batuan vulkanik, dengan menerapkan metode-metode quality control (QC), yaitu membandingkan hasil 51

Jurnal Geosaintek. 03 / 01 Tahun 2017 pengolahan dengan nilai parameter yang berbedabedadan koreksi statik yang diaplikasikan pada data seismik daerah batuan vulkanik. TINJAUAN PUSTAKA Batuan Beku Vulkanik Batuan beku terbentuk karena proses pengerasan dari magma yang merupakan campuran dari air, gas yang terlebur (dissolved gas) dan lelehan yang sebagian besar merupakan lelehan batuan. Batuan beku memiliki berbagai macam ragam kandungan mineral nya tergantung dari kandungan magma tempat dia terbentuk, yang bervariasi diantara silicon, besi, magnesium, sodium, kalsium dan potasium. Batuan beku juga mempunyai struktur yang beraneka macam yang mempengaruhi properti fisiknya seperti porositas dan permeabilitas tergantung bagaimana dia ditempatkan saat pembentukkannya (Huijun dan Pal, 2009). yang kemudian dilakukan interpretasi dari penampang tersebut. Sedangkan tujuan pengolahan data seismik adalah untuk menghasilkan penampang seismik dengan kualitas signal to noise ratio (S/N) yang baik tanpa mengubah bentuk kenampakan-kenampakan refleksi/pelapisan batuan bawah permukaan, sehingga dapat dilakukan interpretasi keadaan dan bentuk dari struktur pelapisan bawah permukaan bumi seperti kenyataannya (Yilmaz, 2001). Atau dapat dikatakan bahwa pengolahan data seismik didefinisikan sebagai suatu tahapan untuk meredam noise dan memperkuat sinyal. Spherical Divergence Sewaktu gelombang akustik dipancarkan oleh sumber seismik yang menjalar ke bawah permukaan, energinya akan tersebar dengan arah seperti bola. Semua energi yang tersimpan dalam sumber seimik akan terpencar ke area yang semakin luas dengan bertambahnya waktu. Efek ini akan menyebabkan energi yang hilang dari sinyal seismik dan mengakibatkan pengurangan amplitudo dari wavelet sumber, inilah yang disebut dengan efek spherical divergence. Gambar 1Petroleum System daerah batuan vulkanik (Holford et al., 2012) Model geologi daripada sistem petroleumyang berada di lingkungan batuan vulkanik memiliki unsur-unsur yang mirip dengan sistem petroleumpada umumnya. Pada keadaan ini, batuan vulkanik mengintrusi daerah reservoir. Intrusi ini membentuk barrier di sekitar zona reservoir yang mengarah baik vertikal maupun horizontal. Pengolahan Data Seismik Pengolahan data seismik bertujuan untuk mengubah data seismik dari hasil recording di lapangan menjadi suatu penampang seismik (stack) Gambar 2Konsep Spherical Divergence (Onajite, E. 2014) Pengembalian energi ini dapat diselesaikan dengan menggunakan formula P.Newman seperti dibawah. (1) dimana : D = Power T = Time Vrms (T) = Kecepatan Root Mean Square V o = Konstanta Kecepatan Pengolahan True Amplitude adalah salah satu langkah yang digunakan untuk mengkompensasi atenuasi, spherical divergence dan efek lainnya 52

Pengolahan Data Seismik... dengan menyesuaikan amplitudo pada data. Tujuannya adalah untuk menghasilkan data pada keadaan dimana amplitudo refleksi berhubungan langsung dengan perubahan properti batuan seperti yang sesungguhnya (Onajite, 2014). gelombang. Karena noise yang terekam juga memiliki frekuensi tertentu, maka dengan mengaplikasikan filter F-K dapat dipilih (picking) frekuensi yang diharapkan sesuai dengan sinyal reflektor. Dekonvolusi Dekonvolusi adalah suatu proses untuk menghilangkan pengaruh dari wavelet sumber dari suatu trace seismik. Dengan proses tersebut diperoleh deret pseudo refleksi yang berupa spike yang menggambarkan amplitudonya. Gambar 3Ilustrasi Operator Length dan Gap Persamaan Dekonvolusi berasal dari konvolusi yang diperlihatkan oleh persamaan dibawah. S(t)=W(t) * R(t) (2) dengan : S (t) = sinyal W (t) = wavelet R(t) = koefisien refleksi. Sehingga dekonvolusi adalah : R(t)= W(t) -1 * S(t) (3) Dekonvolusi merupakan tahapan untuk melakukan koreksi terhadap efek filter bumi tersebut sehingga diperoleh hasil dimana wavelet yang terekam dapat dikembalikan menjadi tajam dan dengan amplitudo yang tinggi. Filter F-K Noise multiple perioda panjang bisa dihilangkan dengan berbagai metode seperti filter F- K, Karhunen-Loeve (KL) transform dan Transformasi Radon (Saputra dan Deni, 2006). Metode atenuasi noise dapat digunakan dengan filter F-K, yang merupakan domain frekuensi dan domain bilangan Gambar 4Filtering data seismik dengan menggunakan F-K (Yilmaz, 2001) Filter F-K juga dapat meresolusi struktur dengan kemiringan yang curam, dan dapat diperlakukan juga pada data dengan rasio signal to noise yang rendah atau dengan kata lain data yang buruk. (Yilmaz, 2001). Migrasi Seismik Migrasi data seismik adalah suatu proses untuk memetakan suatu penampang menjadi penampang yang lain dimana event-event seismik dikembalikan posisinya pada tempat/lokasi dan waktu yang tepat (pada domain time ataupun domain depth). Proses migrasi difraksi sering juga dianalogikan sebagai pendekatan statistik. Dalam metoda ini datum yang akan diperoleh, akan mempunyai banyak kemungkinan. Keuntungan utama dari migrasi difraksi ini adalah penampilan kemiringan curam yang baik, sedangkan salah satu kerugiannya adalah kenampakan yang buruk jika data seismik mempunyai rasio S/N yang rendah. 53

Jurnal Geosaintek. 03 / 01 Tahun 2017 Gambar 5Ilustrasi konsep dalam migrasi Kirchhoff (Yilmaz, 1987) METODOLOGI PENELITIAN Pada tahap pengolahan data, terdapat tiga langkah yang akan ditempuh, yaitu Pre-Processing bertujuan sebagai quality control data tahap awal yaitu menerapkan geometri yang didapat di lapangan kedalam data dan static data correction, kemudian dilakukan muting gather yang bertujuan untuk mematikan gather yang dianggap bukan data. Lalu masuk ke tahap Processing pada tahap ini ditentukan nilai parameter dari tiap langkah yaitu Frequency Filter yang menggunakan Ormsby Filter, Spherical Divergence, Deconvolution, dan terakhir adalah F-K Filter.Setiap melalui tahapan pada Processing dilakukan stacking untuk QC (Quality Control) hasil tiap parameter. Kemudian Pre-Conditioning yang bertujuan untuk melakukan QC terakhir dengan analisa kecepatan dan jika dihasilkan penampang seismik yang belum mengenai target reservoir maka dilakukan Static Data Correction yang kedua. Yang terakhir adalah tahap migrasi, migrasi dilakukan dengan menggunakan metode F-K Post-Stack Time Migration. Gambar 6Diagram Alur Pengolahan Data HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengolahan Input data pada tahap ini masih dalam bentuk RAW Gather yang masih memiliki banyak noise yang harus dikurangi untuk mendapatkan hasil seismik yang baik. Setelah dilakukan input data yang selanjutnya dilakukan adalah memasukkan geometri, yang berupa informasi yang didapatkan dari pengukuran dilapangan. Geometri terkait dengan lokasi data shot dan receiver (dalam koordinat), kedalaman uphole dan downhole dan lain-lain. 54 Gambar 7Gather data RAW Setelah dilakukan input data langkah selanjutnya adalah static correction dimana tahapan ini bertujuan untuk mengembalikan offset saat survei dilapangan, sehingga membentuk topografi

Pengolahan Data Seismik... yang sesuai dengan keadaan lapangan, langkah yang dilakukan pertama adalah melakukkan picking first break. menghilangkan first break yang tidak diambil informasinya dalam pengolahan data seismik. Gambar 8 Model Statik Seperti yang ditampilkan pada gambar diatas, pengambilan first break untuk kecepatan lapisan pertama dan kedua sudah dilakukan dan sudah menyerupai elevasinya, pada model statik diatas terdapat daerah dengan kecepatan yang tinggi (berwarna merah). Gambar 11Model Kecepatan Analisa kecepatan Kemudian dilakukan koreksi spherical divergence yang berfungsi untuk mengembalikkan energy/ amplitudo yang hilang karena pengaruh jarak (geometri), difraksi pada lapisan dan absorpsi yang terjadi pada batuan. Parameter yang digunakan adalah T:V = 2:1. Gambar 9Gather RAW setelah Statik Proses Filter Frekuensi adalah proses pengurangan noise yang ada pada data seismik yang memiliki frekuensi rendah dan tinggi dengan menggunakan Bandpass Filter tipe Butterworth. Digunakan parameter 5 Hz 10 Hz 55 Hz 60 Hz. Gambar 12Gather spherical divergence Tahap selanjutnya adalah deconvolution, tahap ini menggunakan prinsip inversi dimana pengaruh dari pengurangan kualitas data karena adanya reverberasi dan efek dari lapisan yang cukup kompleks sehingga pada data ini diperlukan perbaikan resolusi vertical, sehingga untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan dekonvolusi. Parameter yang digunakan sehingga menghasilkan autocorelation 2 Operator Length 150 Lag 60. Gambar 10Gather Setelah Filter Frekuensi Setelah proses filter frekuensi untuk dapat melanjutkan proses pengolahan data seismik dilakukan analisa kecepatan, dimana pada tahap ini kecepatan untuk tiap-tiap time (dalam ms) di definisikan. Pada saat menganalisa kecepatan, muting data pada gather CDP (Common Dip Point) akan sangat membantu karena dapat 55 Gambar 13Autokorelasi Dekonvolusi Setelah dilakukan proses Dekonvolusi sehingga data mempunyai resolusi yang baik, langkah selanjutnya adalah melakukan filter untuk

Jurnal Geosaintek. 03 / 01 Tahun 2017 menghilangkan noise yang masih tersisa, yaitu noise ground roll, linear noise, dan noise-noise frekuensi lainnya. Pada tahap filter F-K, langkah pertama adalah menentukkan zona muting, pada F-K spectrum analysis. Muting ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas data dengan menyeleksi frekuensi data, agar noise ground roll yang mempunyai kecepatan frekuensi yang berbeda dengan data dapat terseleksi dan kemudian dipotong dengan menggunakan mute. penelitian ini frekuensi yang di naikkan adalah frekuensi rendah, sehingga menghasilkan penampang yang merupakan reflektor dari hasil gelombang frekuensi rendah. Tahap selanjutnya adalah residual statik dimana tahap ini bertujuan untuk mengkoreksi kembali hasil statik setelah data sudah dilakukan pengolahan sehingga error yang didapat lebih kecil. Setelah tiga tahap utama sudah dilakukan selanjutnya adalah melakukan migrasi, yaitu mengembalikkan reflektor seismik keposisi semula. Metode yang digunakan adalah metode Post stack F-K migration, karena termasuk salah satu migrasi yang cukup cepat dan akurat prosesnya. Gambar 14 Desain Mute Filter F-K Seperti yang terlihat pada gambar di atas, penggunaan mute dilakukan oleh daerah yang menyimpang pada batas frekuensinya, yang kemudian diolah dengan menggunakan filter F-K dan menghasilkan data dengan noise ground roll, noise linear yang lebih sedikit. Gambar 15 (a) Gaher sesudah dilakukan filter F-K Gambar 15 (b) Gather sebelum dilakukan filter F-K Kemudian dilakukan tahapan selanjutnya yaitu persiapan sebelum dilakukan migrasi, frekuensi balancingdilakukan untuk menaikkan/ menyeimbangkan data terhadap frekuensi, pada 56 Gambar 16 Stack sesudah dilakukan Post stack F-K migration Setelah dilakukan migrasi terlihat reflektor seismic yang dikembalikkan ke posisi sesungguhnya, pengaruhnya dapat mempertebal reflector tersebut. Dengan dilakukannya migrasi maka data seismik yang ditampilkan memperlihatkan bentukkan event yang sebenarnya seperti dilapangan. Dimana sebelumnya telah dilakukan pengolahan untuk menghilangkan noise pada data, baik noise multpel, linear, frekuensi rendah dan tinggi pada tahap processing. Juga dilakukan enchantment data menggunakan metode frequency balancing dan residual statik yang dapat meningkatkan resolusi lapisan reflektor. Reflektor sub-vulkanik yang menjadi fokus penelitian belum dapat dimunculkan, hal ini dikarenakan frekuensi gelombang yang melewati reflektor langsung dipantulkan kembali, walaupun terdapat frekuensi rendah yang dapat melewati reflektor ini namun metode pengolahan konvensional yang digunakan belum dapat

Pengolahan Data Seismik... memunculkan gelombang yang termasuk kedalam frekuensi rendah. Faktor kedua adalah metode pengolahan data seismik konvensional yang menganggap bahwa sifat setiap lapisan adalah isotropis, sedangkan pada kenyataannya setiap lapisan khususnya lapisan subvulkanik berbeda sifat nya (kecepatannya) dengan sekitarnya, sehingga menyebabkan analisa kecepatan memiliki eror yang cukup tinggi. Faktor ketiga adalah statik, statik pada data seismik akan menjadi sangat penting, karena elevasi pada data sekitar zona subvulkanik (CDP 100 500) tinggi, sehingga dibutuhkan metode statik yang lebih advance dibandingkan dengan mengandalkan statik first break dan residual statik, yaitu salah satu metodanya adalah statik menggunakan tomografi, dimana metode ini memanfaatkan model ray-trace yang sesuai dengan informasi elevasi dan posisi shot maupun receiver sehingga hasil dari statik menjadi lebih akurat dan akan memperlihatkan event seismik. Faktor keempat adalah metode akuisisi yang konvensional, dimana apabila menggunakan metode konvensional maka reflektor sub-vulkanik yang hadir dalam lingkungan akuisisi akan selalu memantulkan gelombang seismik yang ditembakkan. PENUTUP Kesimpulan Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini antara lain. 1. Tahapan pengolahan data adalah preprocessing yang dilakukan dengan tujuan menginput data seismik dan menginput informasi geometrinya, kemudian tahapan processing yang bertujuan untuk menghilangkan noise pada data seismik, kemudian dilakukan pre-conditioning yang dilakukan untuk meningkatkan ketajaman dari event seismik dan terakhir migrasi yang berfungsi untuk mengembalikkan posisi reflektor ke posisi yang sesungguhnya. 2. Hasil pengolahan data memperlihatkan event seismik yang terletak pada rentang waktu 1000 3500 ms dan hilang pada CDP 100-500 yang merupakan reflektor sub-vulkanik 3. Pengaruh lapisan reflektor sub-vulkanik terhadap data seismik adalah memiliki kecepatan yang sangat besar daripada lingkungannya, gelombang frekuensi tinggi yang tidak dapat menembus lapisan tersebut, dan elevasi pada daerah lapisan sub-vulkanik yang tinggi sehingga sangat mengurangi kualitas dari hasil yang didapat setelah pengolahan data dilakukan. Pengolahan data seismik konvensional yang digunakan untuk lingkungan sub-vulkanik belum dapat memperlihatkan event seismic. Saran Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil dan kesimpulan untuk membangun hipotesahipotesa selanjutnya antara lain. 1. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan akurat, perlu dilakukan analisa kecepatan dengan perlapisan kecepatan anisotropis di lingkungan sub-vulkanik. 2. Perlu dilakukan metode koreksi statik yang lebih akurat, contohnya menggunakan metode koreksi statik tomografi. 3. Akuisisi pada lingkungan sub-vulkanik harus dilakukan berbeda dengan lingkungan yang konvensional, karena reflektor yang selalu memantulkan gelombang tepat dibawah posisi penembakkan gelombang, sehinga perlu dilakukan akuisisi seperti far-offset sehingga penembakkan gelombang tidak langsung dari atas reflektor sub-vulkanik dan dapat mencapai target yaitu dibawah reflektor tersebut. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen- dosen pembimbingbapak Dwa Desa Warnana dan Bapak Firman Syaifuddin atas ide penulisan dan pengarahannya selama proses penelitian hingga penulisan. 57

Jurnal Geosaintek. 03 / 01 Tahun 2017 DAFTAR PUSTAKA Boedi, W., 2010, Optimisasi produksi lapangan Minyak Mature Struktur X Lapangan Y PT. PERTAMINA EP Region Jawa, Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta. Hill, D., L. Combee, and J. Bacon, 2006, Over/Under Acquisition and Data Processing: The Next Quantum Leap in Seismic Technology?, First Break 24, no 6. Holford, S.P., N. Schofield, J.D. Macdonald, I.R. Duddy, and P.F. Green, 2012, Seismic Analysis of Igneous Systems in Sedimentary Basins and Their Impacts on Hydrocarbon Prospectivity: examples from the southern Australian margin: The APPEA Journal, v. 52, p. 52. Huijun, H., dan A. Pal, 2009, Evaluating Volcanic Reservoirs. Oilfield Review Spring, Schlumberger. Onajite, E. 2014, Seismic Data Analysis Techniques in Hydrocarbon Exploration. Elsevier s Science & Technology Rights Department, Oxford, UK. Saputra dan Deni. 2006, Atenuasi Multipel pada Data Seismik Laut dengan Menggunakan Metoda Predictive Deconvolution dan Radon Velocity Filter. Yilmaz, Ö., 1987, Seismic DataProcessing, Society of Exploration Geophysics. Yilmaz, Ö., 2001, Seismic Data Analysis, Processing, Inversion, and Interpretation of Seismic Dat, Volume I, Society of Exploration Geophysicists: Tulsa USA. 58