BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Secondary Traumatic Stress Terdapat beberapa istilah yang berkaitan dengan trauma sekunder yang sering diartikan dengan salah. Walau terlihat mirip akan tetapi memiliki definisinya berbeda. Menurut Rothschild & Rand (dalam Newel & MacNeil, 2010) ada tiga istilah penyebutan yang sering dimasukkan dalam berbagai literatur yang membahas mengenai reaksi psikologis negatif pada pekerja sosial yaitu: vicarious traumatization (VT), secondary traumatic stress (STS), and compassion fatigue (CF). Meskipun kondisi ini berbeda satu sama lain, istilah ini sering keliru digunakan secara bergantian dalam literatur. VT mengacu pada "proses terjadinya perubahan [kognitif] yang dihasilkan dari keterlibatan empatik dengan korban trauma (Pearlman, dalam Newel & MacNeil, 2010). STS adalah sebagai suatu akibat dari prilaku alamiah emosi yang dihasilkan dari hasil mengetahui kejadian trauma yang dialami oleh orang lain (atau klien) dan trauma dihasilkan dari hasil membantu atau berniat untuk membantu orang yang mengalami trauma atau korban (Figley, dalam Newell dan MacNeil, 2010). Sementara compassion fatigue juga sering digunakan bergantian dengan STS dan VT, CF didefinisikan sebagai gejala yang konsisten yang terdiri dari gejala STS dan burnout (Newel & MacNeil, 2010). 7
Istilah secondary traumatic stress mengacu pada pengalaman kondisi psikologis negatif yang biasanya dihasilkan dari hubungan yang intens dan dekat dengan mereka yang mengalami trauma (Motta, 2008). Mereka yang mengalami trauma sekunder tidak mengalami langsung kejadian traumatisnya tapi mendapatkannya karena seringnya berhubungan dengan korban trauma. (Figley, McCann & Pearlman, dalam Motta 2008). Gejala STS hampir mirip dengan gejala gangguan PTSD yang dialami oleh korban utama dari trauma. Gejala terjadinya STS dapat mencakup berbagai gejala PTSD, seperti terganggunya pikiran, kenangan traumatis atau mimpi buruk yang terkait dengan trauma klien, susah tidur, lebih mudah marah atau emosional, mengalami kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, menghindari klien, dan lebih waspada atau mudah kaget atau mengingat trauma yg dialami klien (Newell dan MacNeil, 2010) Newell dan MacNeil (2010) menjelaskan bahwa ada perbedaan mendasar bagi orang yang terkena PTSD dengan orang yang terkena STS. Bahwa PTSD adalah korban yang mengalami kejadian traumatis tersebut secara langsung. STS sendiri dapat disimpulakan sebagai efek yang menular dari seseorang yang mengalami trauma kepada seseorang yang memiliki kedekatan terhadap korban trauma. Dengan cara mendengar atau menyaksikan suatu kejadian trauma yang dialami korban trauma termasuk mengidentifikasi mereka yang mengalami trauma juga dapat menimbulkan STS, terutama jika pengalama pengalaman tersebut membangkitkan rasa ketakutan pada saksi (Motta, 2008). 8
2.2.1. Dimensi Secondary Stress Traumatic Disorder (STS) a. Mengalami Kembali Kejadian Traumatis (Intrusion) 1. Ingatan tentang kejadian yang dialami korban trauma 2. Mimpi tentang kejadian yang dialami korban trauma 3. Mendadak mengalami kembali kejadiannya yang dialami korban trauma 4. Kesulitan mengingat kembali kejadiannya yang dialami korban trauma b. Penghindaran atau Lupa Ingatan (Avoidance) 1. Berusaha menghindari pikiran/perasaan (yang berhubungan dengan kejadian trauma) 2. Berusaha menghindari kegiatan/situasi (yang berhubungan dengan kejadian trauma) 3. Amnesia Psikogenik 4. Kurang berminat beraktivitas 5. Mengasingkan diri dari orang lain 6. Berkurangnya affect 7. Merasa tidak memiliki masa depan c. Gairah yang Menetap (Arousal) 1. Sulit tidur / sering terbangun 2. Mudah marah atau dapat meledak-ledak 3. Sulit berkonsentrasi 4. Waspada yang berlebihan 9
5. Mudah terkejut 6. Reaktivitas fisiologis terhadap stimulus 2.2. The Big Five Factor Personality Lansen & Buss (2008) menyatakan bahwa kepribadian merupakan sekumpulan trait psikologi dan mekanisme di dalam individu yang diorganisasikan, relatif bertahan yang mempengaruhi interaksi dan adaptasi individu didalam lingkungan (meliputi lingkungan intrafisik, fisik dan lingkungan sosial). Feist & Feist (2008) juga menjelaskan bahwa kepribadian atau trait adalah suatu pola watak yang relatif permanen, dan sebuah karakter unik yang memberikan konsistensi dan individualitas bagi periliaku seseorang. Trait merupakan istilah untuk bagian dari perilaku seseorang yang konsisten. Trait manusia adalah bersifat internal yang berarti bahwa individu membawa keinginan mereka, kebutuhan dan keinginan dari satu situasi ke situasi yang berikutnya. Selanjutnya, keinginan dan kebutuhan ini akan dianggap menjadi sebagai penyebab perilaku individual. Perlu diketahui bahwa penyebab perilaku dalam konteks ini berarti bahwa trait yang dimiliki individu dapat menjelaskan perilaku tertentu dari individu itu sendiri (Larsen & Buss, 2008). Menurut Feist & Feist (2008) trait yang dimiliki individu memberikan kontribusi bagi perbedaan individu dalam perilakunya, konsistensi perilaku yang ditimbulkan di sepanjang waktu, dan stabilitas perilaku tersebut disetiap situasi. Feist juga menjelaskan 10
bahwa trait mungkin saja unik atau umum bagi sekelompok orang atau mungkin dimiliki oleh seluruh spesies manusia namun pola yang dimiliki oleh trait ini berbeda bagi setiap individu (Feist & Feist, 2008). Terdapat beberapa pendekatan yang dikemukakan oleh pada ahli untuk memahami trait individu. Allport dan Odbert (dalam John, et al., 2008) berhasil mengumpulkan 18.000 istilah yang digunakan untuk membedakan perilaku seseorang dengan lainnya. Daftar ini menginspirasi Cattell menyusun model multidimensional dari kepribadian. Karya besar Cattell ini merupakan pemicu bagi peneliti-peneliti kepribadian lainnya, baik untuk meneliti maupun menganalisis ulang data dari kalangan yang bervariasi. Data ini mulai dari anak-anak hingga dewasa. Khusus subjek dewasa, latar belakang pekerjaan mereka antara lain adalah supervisor, guru, dan klinisi yang berpengalaman. Dari sinilah diperoleh lima faktor yang sangat menonjol, yang kemudian diberi nama oleh Goldberg dengan sebutan Big Five (Goldberg, 1992) Big Five Personality (Costa & McCrae dalam Feist & Feist, 2008) merupakan pendekatan teoritis yang mengacu pada lima trait kepribadian yakni trait, conscientiousness (kehati-hatian), extraversion (keterbukaan), agreeableness (kesetujuan), Neuroticsm (kecemasan), dan Openess to New experience (terbuka terhadap pengalaman baru). 11
2.1.1. Tipe-Tipe Kepribadian Big Five Personality Terdapat beberapa istilah untuk menjelaskan kelima faktor tersebut. Namun, di sini kita akan menyebutnya dengan istilah-istilah berikut: 1. Neuroticism (N) 2. Extraversion (E) 3. Openness to New Experience (O) 4. Agreeableness (A) 5. Conscientiousness (C) Neuroticism berlawanan dengan Emotional stability yang mencakup perasaan-perasaan negatif, seperti kecemasan, kesedihan, mudah marah, dan tegang. Openness to Experience menjelaskan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas dari aspek mental dan pengalaman hidup. Extraversion dan Agreeableness merangkum sifat-sifat interpersonal, yaitu apa yang dilakukan seseorang dengan dan kepada orang lain. Yang terakhir Conscientiousness menjelaskan perilaku pencapaian tujuan dan kemampuan mengendalikan dorogan yang diperlukan dalam kehidupan sosial (Pervin, L.A., & Cervone, D. 2013). Untuk lebih jelasnya, kelima faktor di atas akan dipaparkan pada Tabel 2.1. yang didapat dari hasil penelitian Costa dan McCrae (Pervin, L.A., & Cervone, D. 2013) Tabel 2.1. Five Factor Model 12
Karakteristik dengan skor tinggi Kuatir, cemas, emosional, merasa tidak nyaman, kurang penyesuaian, kesedihan yang tak beralasan. Mudah bergaul, aktif, aktif berbicara, berorientasi pada manusia, optimis, menyenangkan, kasih sayang, bersahabat. Rasa ingin tahu tinggi, ketertarikan luas, kreatif,apa adanya, imajinatif, tidak ketinggalan jaman. Berhati lembut, baik, suka menolong, dapat dipercaya, mudah memaafkan, mudah untuk dimanfaatkan, terus terang. Teratur, dapat dipercaya, pekerja keras, disiplin, tepat waktu, teliti, rapi, ambisius, tekun. Sifat Neuroticism (N) Mengukur penyesuaian Vs ketidakstabilan emosi. Mengidentifikasi kecenderungan individu akan distress psikologi, ide-ide yang tidak realistis, kebutuhan/keinginan yang berlebihan, dan respon coping yang tidak sesuai. Extraversion (E) Mengukur kuantitas dan intensitas interaksi intrapersonal, level aktivitas, kebutuhan akan stimulasi, kapasitas kesenangan. Openness (O) Mengukur keinginan untuk mencari dan menghargai pengalaman baru, Senang mengetahui sesuatu yang tidak familiar. Agreeableness (A) Mengukur kualitas orientasi interpersonal seseorang, mulai dari perasaan kasihan sampai pada sikap permusuhan dalam hal pikiran, perasaaan, dan tindakan. Conscientiousness (C) Mengukur tingkat keteraturan seseorang, ketahanan dan motivasi dalam mencapai tujuan. Berlawanan dengan ketergantungan, dan kecenderungan untuk menjadi malas dan lemah. Karakteristik dengan skor Rendah Tenang, santai, tidak emosional, tabah, nyaman, puas terhadap diri sendiri. Tidak ramah, tenang, tidak periang, menyendiri, berorientasi pada tugas, pemalu, pendiam. Mengikuti apa yang sudah ada, rendah hati, tertarik hanya pada satu hal, tidak memiliki jiwa seni, kurang analis. Sinis, kasar, rasa curiga, tidak mau bekerjasama, pendendam, kejam, mudah marah, manipulatif. Tidak bertujuan, tidak dapat dipercaya, malas, kurang perhatian, lalai, kurang berhati-hati, tidak disiplin, keinginan lemah, cenderung suka bersenang-senang. 13
Menurut Costa & McRae (2003), setiap dimensi dari Big Five memiliki 6 fased atau subfaktor, yaitu: A. Neuroticism terdiri dari: 1. Anxiety (kecemasan) 2. Angry hostility (amarah) 3. Depression (depresi) 4. Self-consciousness (kesadaran diri) 5. Impulsiveness (menuruti kata hati) 6. Vulnerability (mudah tersinggung) B. Extraversion terdiri dari: 1. Warmth (kehangatan) 2. Gregariousness`(suka berkumpul) 3. Assertiveness (asertif) 4. Activity (tingkatan kegiatan) 5. Excitement-seeking (mencari kesenangan) 6. Positive emotion (emosi yang positif) C. Openness terdiri dari: 1. Fantasy (khayalan) 2. Aesthetics (keindahan) 3. Feelings (perasaan) 4. Actions (tindakan) 5. Ideas (ide) 14
6. Values (nilai-nilai) D. Agreeableness terdiri dari: 1. Trust (kepercayaan) 2. Straightforward-ness (berterusterang) 3. Altruism (mendahulukan kepentingan orang lain) 4. Compliance (kerelaan) 5. Modesty (rendah hati) 6. Tender-mindedness (berhati lembut) E. Conscientiousness terdiri dari: 1. Competence (kompetensi) 2. Order (teratur) 3. Dutifulness (patuh) 4. Achievement striving (pencapaian prestasi) 5. Self Discipline (disipliin) 6. Deliberation (pertimbangan) 2.3. Kerangka Pemikiran Dari petugas UPPA yang memang diharuskan turun langsung ke lapangan untuk melakukan penyidikan tentu saja seorang penyidik harus langsung turun ke Tempat Kejadian Perkara dan hal ini pula yang dapat menimbulkan secondary trauma karena seorang penyidik melihat langsung tempat kejadian, bertemu langsung dengan korban, dan melihat langsung reka ulang pada TKP. Dari Mendengar, melihat, merasakan ataupun 15
pengamatan dan turut marasa syok ketika ada suatu peristiwa yang tidak dialami secara langsung, sehingga secara tidak langsung menimbulkan secondary trauma pada petugas polisi. Figley (dalam Newell and MacNeil, 2010) yang menyatakan bahwa secondary traumatic stress terjadi karena hubungan empati yang erat dengan individu yang memiliki pengalaman trauma dan memberikan kesaksian mengenai kejadian trauma yang mengerikan secara intens. Studi sebelumnya telah mengidentifikasi beberapa variabel pratrauma dan pasca-trauma selain peristiwa traumatik itu sendiri, seperti faktor genetik, kurangnya pengasuhan, sejarah masa lalu dari trauma dan masalah psikologis, gaya hidup yang tidak sehat, kepribadian seseorang, intelejen, juga dampak dari pasca-trauma atau pasca-perang, dukungan, kepercayaan, harapan dan atribusi (Jakšić et al. 2012). Telah terbukti bahwa salah satu faktor yang dapat membantu menjelaskan mengapa hanya beberapa orang mengalami trauma yang dapat menimbulkan gejala gangguan psikologis salah satunya adalah kepribadian seseorang, hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakuan oleh Coebanu, M.C., Mairean, C. (2015) yang menjelaskan dalam penelitiannya yang berjudul The Relation Between Personality Traits, Social Support and Traumatic Stress bahwa Secondary Traumatic stress memiliki hubungan dengan kepribadian Big Five. 16
Big Five STS Gambar 2.2. Kerangka berpikir 2.4. Hipotesis Ha: Ada hubungan antara The Big Five Factor Personality dengan Secondary Traumatic Stress pada petugas polisi perlindungan perempuan dan anak di Polda Metro Jaya dan jajarannya. 17