BAB II LANDASAN TEORI
|
|
|
- Yanti Kurniawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II LANDASAN TEORI A. Prestasi Akademik 1. Pengertian Prestasi Akademik Menurut pendapat Djamarah (dalam Rini, 2012) tentang pengertian prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok. Prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melakukan suatu kegiatan. Adesanjaya (dalam Rini, 2012) menyatakan bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun secara kelompok dalam bidang kegiatan tertentu. Dari beberapa pengertian prestasi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi adalah bukti dari suatu hasil kegiatan yang dapat dicapai baik individu maupun kelompok dalam bidang kegiatan tertentu. Menurut Sobur (2006) prestasi akademik merupakan perubahan dalam hal kecakapan tingkah laku, ataupun kemampuan yang dapat bertambah selama beberapa waktu dan tidak disebabkan proses pertumbuhan, tetapi adanya situasi belajar. Perwujudan bentuk hasil proses belajar tersebut dapat berupa pemecahan lisan maupun tulisan, dan keterampilan serta pemecahan masalah langsung dapat diukur atau dinilai dengan menggunakan tes yang terstandar. Prestasi akademik juga dapat diartikan istilah untuk menunjukkan suatu pencapaian tingkat keberhasilan tentang suatu tujuan, karena suatu usaha belajar telah dilakukan oleh 13
2 14 seseorang secara optimal (Setiawan dalam Naam, 2009). Menurut Chaplin (1997) mengemukakan bahwa prestasi akademik adalah suatu keberhasilan yang khusus dari seseorang dalam melaksanakan tugas akademik. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Akademik Terdapat 2 faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang yaitu: a. Faktor internal 1. Faktor Kesehatan Fisik Menurut Ahmadi (dalam Septiarini, 2011) seseorang yang mengalami kelemahan fisik baik karena sakit maupun cacat di mana saraf sensoris dan motoriknya terganggu dapat mengakibatkan rangsangan yang diterima melalui indera tidak dapat diteruskan ke otak dengan baik. Kondisi ini dapat menyebabkan mahasiswa tertinggal dalam pelajarannya. 2. Intelegensi Menurut Ahmadi (dalam Septiarini, 2011) intelegensi seseorang mempengaruhi potensi orang tersebut untuk menyelesaikan pendidikannya dan potensi itu sesuai dengan tingkatan IQ yang dimilikinya, semakin tinggi IQ seseorang maka semakin baik pula potensinya. Dengan melalui ujian saringan masuk perguruan tinggi yang demikian ketat persaingannya secara praktis sebenarnya mahasiswa sudah terseleksi dalam hal aspek intelegensinya. Namun kenyataan menunjukkan masih cukup besar kendala bagi mahasiswa untuk mendapatkan prestasi yang baik. Intelegensi bukan satu-satunya yang menentukan prestasi akademik mahasiswa.
3 15 3. Motivasi Menurut Maslow (dalam Septiarini, 2011) motivasi adalah sesuatu yang mengarahkan dan membangkitkan suatu tingkah laku pada manusia baik dari diri sendiri yakni berupa kebutuhan-kebutuhan tertentu seperti kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan maupun dari orang lain. Setiap mahasiswa memiliki motivasi yang berbeda-beda untuk berprestasi. 4. Minat Minat merupakan rasa suka dan ketertarikan terhadap sesuatu yang muncul dari dalam diri sendiri tanpa ada yang menyuruh. Minat tidak dibawa sejak lahir melainkan diperoleh kemudian melalui proses pembelajaran terhadap hal yang diminati (Septiarini, 2011). Menurut Djamarah (2002) minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang besar dalam mencapai ataupun memperoleh benda atau tujuan yang diinginkan. Timbulnya minat belajar disebabkan oleh berbagai hal, antara lain karena keinginan yang kuat untuk menaikan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik serta ingin hidup senang dan bahagia. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat yang kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah. 5. Kepribadian Pribadi yang seimbang sangat mempengaruhi proses belajar, pribadi yang seimbang dapat menciptakan kesehatan mental dan ketenangan emosi yang dapat mendorong keberhasilan dalam belajar (Ahmadi dalam
4 16 Septiarini, 2011). Menurut Purwanto (2004) tiap-tiap orang mempunyai sifat-sifat kepribadiannya masing-masing yang berbeda dengan orang lain. Ada orang memiliki sikap keras hati, berkemauan keras, tekun dalam segala usahanya, halus perasaannya dan sebaliknya. Sifat-sifat kepribadiannya dapat mempengaruhi sampai manakah hasil belajar yang dapat dicapai oleh orang tesebut. 6. Fisiologis Menurut Noehi (dalam Djamarah, 2002) kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpegaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan lain cara belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan. Anak-anak yang kekurangan gizi memiliki kemampuan belajar yang di bawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi. Mereka lekas lelah, mudah mengantuk, dan sukar menerima pelajaran. Selain itu menurut Neohi (dalam Djamarah, 2002) hal yang tidak kalah pentingnya adalah kondisi panca indra (mata, hidung, pengecap, telinga, dan tubuh), terutama mata sebagai alat untuk melihat dan telinga untuk mendengar. Sebagian besar yang dipelajari manusia yang belajar berlangsung dengan membaca, melihat contoh, melihat model, melakukan observasi, mengamati hasil-hasil eksperimen, mendengarkan keterangan guru, mendengarkan ceramah, mendengarkan keterangan orang lain dalam diskusi dan sebagainya, sehingga kondisi mata dan telinga akan sangat mempengaruhi keefektifan manusia menerima pelajaran dan akan mempengaruhi prestasi akademiknya.
5 17 b. Faktor eksternal 1. Keadaan keluarga Suasana dan keadaan keluarga yang bermacam-macam mau tidak mau turut menentukan bagaimana dan sampai dimana belajar dialami dan dicapai oleh seseorang. Selain itu ada kemampuan keluarga untuk meberikan fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam belajar turut memegang peranan penting (Purwanto, 2004). 2. Guru dan cara mengajar Faktor guru dan cara mengajarnya juga merupakan faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan belajar seseorang. Bagaimana sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru, dan bagaimana cara guru itu mengajarkan pengetahuan itu kepada anak-anak didiknya turut menentukan bagaimana hasil belajar yang dapat dicapai anak (Purwanto, 2004). 3. Alat-alat pelajaran Menurut Purwanto (2004) institusi yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik oleh guru atau dosen, dan kecakapan pengajar dalam menggunakan alat-alat itu akan mempermudah dan mempercepat belajar seseorang. 4. Motivasi sosial Jika seseorang mendapatkan motivasi sosial dari lingkungan sekitarnya, maka akan timbul keinginan dan hasrat belajar yang lebih baik.
6 18 Motivasi sosial dapat berasal dari orang tua, guru, tetangga, sanak saudara, dan teman sebaya (Purwanto, 2004). 5. Lingkungan dan kesempatan Menurut Purwanto (2004) anak yang berasal dari keluarga yang baik, memiliki intelegensi yang baik, bersekolah di suatu sekolah yang keadaan guru-gurunya dan alat-alat yang baik, belum tentu dapat belajar dengan baik. Masih ada faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Seperti jarak antara rumah dan sekolah yang cukup jauh sehingga cukup melelahkan untuk berangkat sekolah. Selain itu menurut Djamarah (2002) pencemaran lingkungan hidup merupakan malapetaka bagi anak didik yang hidup didalamnya. Udara yang tercemar merupakan polusi yang dapat menggangu pernapasan. Udara yang terlalu dingin dan terlalu panas juga dapat mempengaruhi hasil belajar. Lingkungan sekolah yang asri dan kondisi kelas yang baik juga dapat mempengaruhi hasil belajar secara positif. Banyak anak-anak memiliki hasil belajar yang tidak baik karena tidak ada kesempatan seperti sibuknya pekerjaan setiap hari, pengaruh lingkungan yang buruk dan negatif serta faktor-faktor lain diluar kemampuannya (Purwanto, 2004). 6. Kurikulum Menurut Djamarah (2002) kurikulum adalah a plan for learning yang merupakan unsur substansial dalam pendidikan. Tanpa kurikulum kegiatan belajar mengajar tidak dapat berlangsung, sebab materi apa yang harus guru sampaikan dalam suatu pertemuan kelas belum guru programkan
7 19 sebelumnya. Itulah sebabnya, untuk semua mata pelajaran, setiap guru memiliki kurikulum untuk mata pelajaran yang dipegang dan diajarkan kepada anak didik. Setiap guru harus mempelajari dan menjabarkan isi kurikulum ke program yang lebih rincidan jelas sasarannya, sehingga dapat diketahui dan diukur dengan pasti tingkat keberhasilan belajar mengajar yang telah dilaksanankan. Menurut Djamarah (2002) muatan kurikulum akan mempengaruhi akan mempengaruhi intensitas dan frekuensi belajar anak didik. Seorang guru terpaksa menjejalkan sejumlah bahan pelajaran kepada anak didik dalam waktu yang masih sedikit tersisa, karena ingin mencapai target kurikulum, akan memaksa anak didik belajar dengan keras tanpa mengenal lelah. Padahal anak didik sudah lelah belajar ketika itu. Tentu saja hasil belajar yang demikian kurang memuaskan dan cenderung mengecewakan (Djamarah, 2002). Dari berbagai faktor yang mempengaruhi prestasi akademik, penelitian ini memfokuskan diri terhadap dampak kepribadian terhadap prestasi akademik mahasiswa. 3. Penilaian Prestasi Prestasi akademik pada mahasiswa tergantung oleh angka indeks prestasi yang ditentukan pada setiap akhir semester. Indeks Prestasi Semester (IPS) dihitung berdasarkan jumlah beban kredit yang diambil dalam satu semester dikalikan dengan bobot prestasi tiap-tiap mata kuliah kemudian dibagi dengan
8 20 jumlah beban kredit yang diambil (, 2010). IPS dapat diukur dengan menggunakan rumus: IPS = (K X N) K K = Jumlah SKS setiap mata kuliah yang tercantum dalam KRS pada semester yang bersangkutan. N = Bobot prestasi setiap mata kuliah. Sedangkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang digunakan sebagai alat ukur prestasi akademik pada penelitian ini adalah indeks prestasi yang dihitung berdasarkan jumlah keseluruhan beban kredit yang diambil mulai dari semester 1 sampai semester terakhir, dikalikan dengan bobot prestasi tiap-tiap mata kuliah kemudian dibagi dengan beban kredit yang diambil. (, 2010). IPK dapat dihitung dengan rumus: IPK = (K X N) K K = Jumlah SKS semua mata kuliah yang dijalani mulai dari semester 1 sampai dengan yang terakhir. N = Bobot prestasi setiap mata kuliah. Perhitungan Indeks Prestasi dan Indeks Prestasi Kumulatif dilakukan oleh bagian pendidikan Fakultas. Klasifikasi Indeks Prestasi Kumulatif dapat dikelompokkan dengan ketentuan sebagai berikut: Tabel 3. Klasifikasi Indeks Prestasi Kumulatif No Kategori Indeks Prestasi Akademik 1 Memuaskan 2,00 x 2,75 2 Sangat Memuaskan 2,76 x 3,50 3 Cumlaude 3,51 x 4,00 Sumber: Buku Peraturan akademik Program Sarjana 2010
9 21 B. Kepribadian 1. Pengertian Kepribadian Kepribadian menurut Allport (dalam Endah, 2005) didefinisikan sebagai suatu organisasi yang dinamik dalam diri individu yang merupakan sistem psikopsikal dan hal tersebut menentukan penyesuaian diri individu secara unik terhadap lingkungan. Definisi ini menekankan pada atribut eksternal seperti peran individu dalam lingkungan sosial, penampilan individu, dan reaksi individu terhadap orang lain. Menurut Feist & Feist (2009) kepribadian merupakan suatu pola yang relatif menetap, trait, disposisi atau karakteristik di dalam individu yang memberikan beberapa ukuran yang konsisten tentang perilaku. Kepribadian itu dinamis, tidak statis. Kepribadian itu menunjukan tingkah laku yang terintegrasi dan merupakan interaksi antara kesanggupan-kesanggupan bawaan yang ada pada diri individu dengan lingkungannya. Kepribadian juga bersifat psikofisik, yang berarti baik faktor jasmaniah maupun rohaniah individu bersama-sama memegang peranan dalam kepribadian. Kepribadian juga bersifat unik, artinya kepribadian mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakannya dari individu lain (dalam Purwanto, 2004). 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian Menurut Purwanto (2004) terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian antara lain: a. Faktor Biologis Faktor biologis merupakan faktor yang berhubungan dengan keadaan jasmani, atau seringkali pula disebut faktor fisiologis seperti keadaan
10 22 genetik, pencernaan, pernafasaan, peredaran darah, kelenjar-kelenjar, saraf, tinggi badan, berat badan, dan sebagainya. Kita mengetahui bahwa keadaan jasmani setiap orang sejak dilahirkan telah menunjukkan adanya perbedaanperbedaan. Hal ini dapat kita lihat pada setiap bayi yang baru lahir memiliki bentuk fisik yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa sifat-sifat jasmani yang ada pada setiap orang ada yang diperoleh dari keturunan dan ada pula yang merupakan pembawaan anak/orang itu masing-masing. Keadaan fisik yang berlainan menyebabkan sifat-sifat serta tempramen yang berbeda-beda pula. b. Faktor Sosial Faktor sosial yang dimaksud di sini adalah masyarakat yakni manusiamanusia lain di sekitar individu yang bersangkutan. Termasuk juga kedalam faktor sosial adalah tradisi-tradisi, adat istiadat, peraturan-peraturan, bahasa, dan sebagainya yang berlaku di masyarakat itu. Sejak dilahirkan, anak telah mulai bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Lingkungan pertama anak adalah keluarga. Dalam perkembangan anak, peranan keluarga sangat penting dan menentukan bagi pembentukan kepribadian selanjutnya. Demikian pula tradisi, adat-istiadat dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam keluarga itu. Keadaan dan suasana keluarga yang berlainan memberikan pengaruh yang bermacammacam pula terhadap perkembangan kepribadian anak. Pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan anak sejak kecil adalah sangat mendalam dan menentukan perkembangan pribadi anak selanjutnya. Hal ini disebabkan karena pengaruh itu merupakan pengalaman
11 23 yang pertama, pengaruh yang diterima anak masih terbatas jumlah dan luasnya, intensitas pengaruh itu sangat tinggi karena berlangsung terus menerus, serta umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana aman serta bersifat intim dan bernada emosional. Semakin besar seorang anak maka pengaruh yang diterima dari lingkungan sosial makin besar dan meluas. Ini dapat diartikan bahwa faktor sosial mempunyai pengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan kepribadian. c. Faktor Kebudayaan Perkembangan dan pembentukan kepribadian pada diri masingmasing orang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat di mana seseorang itu dibesarkan. Beberapa aspek kebudayaan yang sangat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian antara lain: a. Nilai-nilai (Values) Di dalam setiap kebudayaan terdapat nilai-nilai hidup yang dijunjung tinggi oleh manusia-manusia yang hidup dalam kebudayaan itu. Untuk dapat diterima sebagai anggota suatu masyarakat, kita harus memiliki kepribadian yang selaras dengan kebudayaan yang berlaku di masyarakat itu. 1. Adat dan Tradisi Adat dan tradisi yang berlaku di suatu daerah, di samping menentukan nilai-nilai yang harus ditaati oleh anggota-anggotanya, juga menentukan pula cara-cara bertindak dan bertingkah laku yang akan berdampak pada kepribadian seseorang.
12 24 2. Pengetahuan dan Keterampilan Pengetahuan yang dimiliki seseorang sangat mempengaruhi sikap dan tindakannya. Tiap orang memiliki pengetahuan yang berlain-lainan, dari pengetahuan yang sangat elementer sampai kepada yang tinggi dan luas. Juga jenis pengetahuan yang dimiliki berlainan pula. Demikian juga kecakapan dan keterampilan seseorang membuat atau mengerjakan sesuatu merupakan bagian dari kebudayaannya. Tinggi rendahnya pengetahuan dan keterampilan seseorang atau suatu masyarakat mencerminkan pula tinggi rendahnya kebudayaan masyarakat itu. Makin tinggi kebudayaan suatu masyarakat makin berkembang pula sikap hidup dan cara-cara kehidupan manusia-manusianya. 3. Bahasa Di samping faktor-faktor kebudayaan yang telah diuraikan di atas, bahasa merupakan salah satu faktor yang turut menentukan ciri-ciri khas dari suatu kebudayaan. Betapa erat hubungan bahasa dengan kepribadian manusia yang memiliki bahasa itu. Karena bahasa merupakan alat komunikasi dan alat berpikir yang dapat menunjukkan bagaimana seseorang itu bersikap, bertindak dan bereaksi serta bergaul dengan orang lain. Pendeknya bagaimana cara-cara kita hidup bermasyarakat sebagian besar dipengaruhi oleh bahasa yang kita miliki serta bahasa yang berlaku dalam masyarakat.
13 25 4. Milik Kebendaan (material possessions) Semakin maju kebudayaan suatu masyarakat/bangsa, makin maju dan modern pula alat-alat yang dipergunakan bagi keperluan hidupnya. Hal itu semua sangat mempengaruhi kepribadian manusia yang memiliki kebudayaan itu. 3. Teori Kepribadian Big Five Menurut Schultz (1994) ada beberapa pendekatan yang dikemukakan oleh para ahli untuk memahami kepribadian. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah teori trait. Teori trait merupakan sebuah model untuk mengidentifikasi trait dasar yang diperlukan untuk menggambarkan suatu kepribadian. Trait didefinisikan sebagai suatu dimensi yang menetap dari karakteristik kepribadian, hal tersebut yang membedakan individu dengan individu yang lain. Penelitian mengenai trait diawali oleh Alport dan Odbert pada tahun 1930 dan dilanjutkan oleh Cattell pada tahun 1940-an. Kemudian penelitian mengenai trait dilakukan lagi pada tahun 1960-an oleh Tupes, Christal, dan Norman (Feist & Feist, 2009). Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, Costa dan McCrae mencoba membuat taksonomi dari trait kepribadian (Feist & Feist, 2009). Mereka berusaha menemukan unit dasar dari kepribadian dengan menganalisa kata-kata yang umumnya digunakan oleh orang awam bukan hanya psikolog. Cara yang digunakan adalah meminta sampel untuk merating diri mereka sendiri ataupun orang lain berdasarkan beragam kata sifat yang diambil dan diseleksi dari kamus (John, Angleitner, & Ostendorf dalam Pervin dkk, 2005). Hasil dari rating tersebut kemudian di faktor analisakan (Pervin dkk, 2005).
14 26 Pada saat itu Costa dan McCrae hanya memfokuskan diri kepada 2 dimensi yaitu neuroticism (N) dan extraversion (E). Setelah menemukan faktor N dan E, Costa dan McCrae menemukan faktor ketiga, yang disebut Openness (O). Kebanyakan penelitian diawal Costa dan Mc Crae berfokus kepada ketiga faktor ini. Walaupun Lewis Goldberg pertama kali menggunakan istilah Big Five pada tahun 1981 untuk menjelaskan penemuan yang konsisten dengan cara faktor analisis pada trait kepribadian, Costa dan McCrae tetap mefokuskan diri kepada tiga faktor (Feist & Feist, 2009). Pada akhir 1983 Costa dan MaCrae masih tetap meneliti 3 faktor kepribadian. Pada tahun 1985 baru mereka mulai melaporkan hasil penelitian 5 faktor kepribadian. Hasil penelitian ini ditunjukan dengan Five Factor Personality yang baru yang disebut NEO-PI. NEO-PI adalah hasil revisi dari inventory kepribadian yang belum dipublikasikan, inventory kepribadian ini hanya mengukur 3 faktor awal yaitu N, E, dan O. Pada 1985 skala untuk dua faktor lainnya yaitu agreeableness (A) dan conscientiousness (C) masih belum sempurna. Pada tahun 1992 munculah NEO-PI-R, dimana skala untuk faktor A dan C sudah cukup baik (Feist & Feist, 2009). Pada tahun 1980-an, McCrae dan Costa melanjutkan penelitian mereka dengan memfaktor analisiskan hampir semua inventory kepribadian, termasuk Myers-Briggs Type Indicator (Myers, 1962) dan Eysenck Personality Inventory (H. Eysenck & S Eysenck, 1975, 1993). Pengukuran Eysenck mengenai psikotism menunjukan hasil yang sama dengan agreeableness dan conscientiousness yang
15 27 rendah namun tidak berhubungan dengan openness (McCrae & Costa dalam Feist & Feist, 2009). Adapun karateristik yang berkorelasi dengan kelima dimensi ini adalah (dalam Pervin dkk, 2005; Friedman, 2008): 1. Openness (O) sering disebut Culture atau Intellect Merujuk kepada keproaktifan mencari dan menghargai pengalaman karena keinginannya sendiri, toleran dan melakukan eksplorasi terhadap sesuatu yang belum dikenal. Individu dengan skor yang tinggi memiliki karateristik memiliki ketertarikan yang luas, kreatif, imajinatif, tidak tradisional, menyenangkan, dan artistik. Individu dengan skor rendah memiliki karateristik konventional, berketertarikan sempit, membosankan, sederhana dan tidak realistis. 2. Conscientiousness (C) disebut juga Lack of Impulsivity Merujuk pada derajat keteraturan individu, tekun, dan motivasi yang berorientasi pada tujuan. Individu dengan skor yang tinggi memiliki karateristik terorganisir, reliabel, pekerja keras, disiplin, rapi, berhati-hati, dapat diandalkan, dan ambisius. Individu dengan skor rendah memiliki karateristik tidak memiliki tujuan, tidak reliabel, malas, kurang berhati-hati, berkeinginan lemah, ceroboh, berantakan, dan hedonistik. 3. Extraversion (E) sering disebut juga Surgency Merujuk pada kuantitas dan intersitas interaksi personal, activity level, kebutuhan akan stimulasi, kapasitas untuk mendapatkan kesenangan. Individu dengan skor yang tinggi memiliki karateristik penuh semangat,
16 28 antusias, dominan, ramah, komunikatif, bersosialisasi, aktif, talkactive, person-oriented, optimis dan fun-loving. Individu dengan skor rendah memiliki karateristik task oriented, pendiam, penyendiri, pemalu, tidak percaya diri, dan submisif. 4. Agreeableness (A) Merujuk pada kualitas orientasi interpersonal seseorang dimulai dari perasaan peduli sampai dengan perasaan permusuhan dalam pikiran, perasaan, dan tindakan. Individu dengan skor yang tinggi memiliki karateristik berhati baik, suka menolong, pemaaf, berterus terang, ramah, kooperatif, hangat, dan mudah mempercayai orang lain. Individu dengan skor rendah memiliki karateristik kasar, tidak kooperatif, sinis, curiga, dingin, konfrontatif, kejam, dan pendendam. 5. Neuroticism (N) disebut juga Emotional Instability Merujuk pada adjustment vs emotional instability, yaitu mengidentifikasikan kecenderungan indvidu untuk mengalami distress psikologis, ide-ide yang tidak realistik, menginginkan sesuatu secara eksesif, dan coping respon yang maladaptive. Individu dengan skor yang tinggi memiliki karateristik mudah khawatir, gugup, emosional, sensitif, tegang, mudah cemas, inadequate dan hypochodriacal. Individu dengan skor rendah memiliki karateristik tenang, santai, tidak emosional, secure, dan merasa puas diri.
17 29 Menurut Costa & McRae (dalam Pervin dkk, 2005), setiap dimensi dari Big Five terdiri dari 6 (enam) faset atau subfaktor. Faset-faset tersebut adalah: 1. Extraversion terdiri dari: a. Gregariousness (suka berkumpul) b. Activity level (level aktivitas) c. Assertiveness (asertif) d. Excitement Seeking (mencari kesenangan) e. Positive Emotions (emosi yang positif) f. Warmth (kehangatan) 2. Agreeableness terdiri dari: a. Straightforwardness (berterus terang) b. Trust (kepercayaan) c. Altruism (mendahulukan kepentingan orang lain) d. Modesty (rendah hati) e. Tendermindedness (berhati lembut) f. Compliance (kerelaan) 3. Conscientiousness terdiri dari: a. Self-discipline (disiplin) b. Dutifulness (patuh) c. Competence (kompetensi) d. Order (teratur) e. Deliberation (pertimbangan) f. Achievement striving (pencapaian prestasi)
18 30 4. Neuroticism terdiri dari: a. Anxiety (kecemasan) b. Self-consciousness (kesadaran diri) c. Depression (depresi) d. Vulnerability (mudah tersinggung). e. Impulsiveness (menuruti kata hati). f. Angry hostility (amarah). 5. Openness terdiri dari: a. Fantasy (khayalan) b. Aesthetics (keindahan) c. Feelings (perasaan) d. Ideas (ide) e. Actions (tindakan) f. Values (nilai-nilai) C. Mahasiswa Fakultas Psikologi Menurut Salim & Salim (dalam Siagian, 2011) mahasiswa adalah orang yang terdaftar dan menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Hurlock (1999) mengkategorikan usia mahasiswa ke dalam masa dewasa dini. Menurut Hurlock (1999) masa dewasa dini dimulai pada usia 18 tahun sampai kira-kira usia 40 tahun dimana tugas perkembangan pada masa dewasa dini salah satunya adalah mencakup pemilihan karir atau mendapatkan suatu pekerjaan. Berdasarkan definisi yang telah diuraikan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa mahasiswa merupakan peserta didik yang terdaftar dan belajar
19 31 pada perguruan tinggi tertentu serta berada pada masa dewasa dini dimana tugas perkembangan pada masa dewasa dini salah satunya adalah mencakup pemilihan karir atau mendapatkan suatu pekerjaan. Fakultas Psikologi didirikan pada tanggal 17 Nopember Fakultas ini pada awalnya merupakan program studi yang berada di bawah organisasi Fakultas Kedokteran. Program studi Psikologi sudah berdiri sejak 7 April Selain program sarjana (S-1), Fakultas Psikologi menawarkan program magister (S-2). Program Studi jenjang magister memperoleh izin pembukaan Program Pendidikan Profesi Psikologi Jenjang Magister (P4JM) dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) yang disusul kemudian dengan izin dari DIKTI pada tanggal 20 Desember Peresmian Pembukaan P4JM USU dilaksanakan tanggal 26 Agustus 2006 (sumber: Psikologi adalah sebuah disiplin ilmu yang mempelajari perilaku manusia sepanjang rentang kehidupannya mulai dari masa anak-anak hingga lanjut usia, dan juga dalam berbagai bidang kehidupan. Program Studi Psikologi adalah program pendidikan akademik-profesional yang bertujuan menghasilkan tenaga sarjana psikologi dan profesi psikologi dengan kemampuan: (sumber: /psikologi.html). 1. Memahami pengetahuan dasar psikologi dan teknik pengamatan secara obyektif sehingga dapat rnenginterpretasikan tingkah laku manusia 2. Melaksanakan penelitian psikologi.
20 32 3. Menunjukkan kepekaan yang bertanggungjawab terhadap nilai, proses dan masalah sosial budaya, agama, politik dan ekonomi yang berpengaruh pada tingkah laku manusia, sehingga mampu menginterpretasrkan tingkah laku dalam kaitannya dengan kondisi Indonesia khususnya kondisi Wilayah Sumatera Utara yang menitik-beratkan pada bidang industri dan pengembangan wilayah. 4. Mengenal, menghayati dan mengamalkan kode etik psikologi. Mahasiswa Fakultas Psikologi adalah orang yang terdaftar dan menjalani pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. D. Dinamika antara Kepribadian Big Five dengan Prestasi Akademik Di dalam dunia pendidikan sendiri mahasiswa adalah substansi yang perlu diperhatikan, karena mahasiswa merupakan penerjemah terhadap dinamika ilmu pengetahuan, dan melaksanakan tugas mendalami ilmu pengetahuan tersebut (Harahap dalam Naam, 2009). Mahasiswa juga diharapkan menunjukan kualitas daya yang dimilikinya. Kualitas mahasiswa dapat dilihat dari prestasi akademik yang didapatkannya. Prestasi akademik adalah istilah untuk menunjukkan suatu pencapaian tingkat keberhasilan tentang suatu tujuan, karena suatu usaha belajar telah dilakukan oleh seseorang secara optimal (Setiawan dalam Naam, 2009). Prestasi akademik pada mahasiswa dapat dilihat dari Indeks Prestasi Akademik (IPK). Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang digunakan sebagai alat ukur prestasi akademik pada penelitian ini adalah indeks prestasi yang dihitung
21 33 berdasarkan jumlah keseluruhan beban kredit yang diambil mulai dari semester 1 sampai semester terakhir, dikalikan dengan bobot prestasi tiap-tiap mata kuliah kemudian dibagi dengan beban kredit yang diambil. Indeks Prestasi Kumulatif yang baik adalah hal yang penting bagi mahasiswa karena akan mempengaruhi masa depannya. Namun sayangnya masih banyak mahasiswa yang terkendala dalam hal prestasi akademik. Prestasi akademik ini dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor internal adalah kepribadian. Kepribadian adalah sebuah karakteristik didalam diri individu yang relatif menetap, bertahan, yang mempengaruhi penyesuaian diri individu terhadap lingkungan. Menurut Schultz & Schultz (1994) pendekatan dalam menjelaskan kepribadian adalah psikoanalisa, neopsikoanalisa, trait, life-span, humanistik, kognitif behavioral, social-learning, dan limited domain. Salah satu pendekatan adalah trait yaitu sebuah model untuk mengidentifikasi trait dasar yang diperlukan untuk menggambarkan suatu kepribadian. Salah satu teori trait adalah teori Big five atau Five Factor Model. Teori Big five membagi kepribadian menjadi 5 dimensi yaitu Neuroticism (N), Extraversion (E), Openness (O), Agreeableness (A) dan Conscientiousness (C). Kelima dimensi ini memiliki sekumpulan trait yang berbeda antar dimensi. Berdasarkan penelitian terdahulu dimensi kepribadian conscientiousness paling sering ditemukan mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa, namun ada beberapa penelitian lain yang menemukan dimensi kepribadian yang lain juga mempengaruhi prestasi akademik. Dimensi conscientiousness berasosiasi dengan
22 34 prilaku disiplin, seperti merencanakan dan mengorganisir tugas, berprilaku dengan rasa tanggung jawab untuk mencapai sesuatu dan keinginan kuat untuk belajar dan berambisi untuk sukses di bidang akademik (Lim & Melissa, 2012). Menurut Vermetten, Lodewijks & Vermunt dimensi agreeableness berhubungan dengan kepatuhan terhadap perintah guru dan berusaha fokus kepada materi pembelajaran (Poropat, 2009). Dimensi openness berasosiasi dengan kemampuan kognitif yang tinggi seperti pemikiran divergen (Lim & Melissa, 2012). Menurut De Raad dan Schouwenburg siswa dengan tingkat extraversion yang tinggi cenderung akan memiliki prestasi yang baik diakibatkan tingginya tingkat energi ditambah dengan attitude positif yang mengarahkan kepada keinginan untuk belajar dan memahami (Poropat 2009). Menurut De Raad & Schouwenburg (dalam Poropat, 2009) individu dengan neuroticism yang tinggi cenderung memfokuskan diri kepada perasaan mereka dan self-talk untuk tidak fokus terhadap tugas di universitas sehingga menurunkan prestasi akademik. E. Hipotesa Penelitian Berdasarkan uraian teoritis yang telah dikemukakan sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: 1. Ada pengaruh dimensi Neuroticism terhadap prestasi akademik mahasiswa Fakultas Psikologi. 2. Ada pengaruh dimensi Extraversion terhadap prestasi akademik Fakultas Psikologi.
23 35 3. Ada pengaruh dimensi Openness terhadap prestasi akademik Fakultas Psikologi. 4. Ada pengaruh dimensi Agreeableness terhadap prestasi akademik Fakultas Psikologi. 5. Ada pengaruh dimensi Conscientiousness terhadap prestasi akademik Fakultas Psikologi.
BAB II LANDASAN TEORI. Pembelian Impulsif adalah salah satu jenis dari perilaku membeli, dimana
BAB II LANDASAN TEORI A. PEMBELIAN IMPULSIF Pembelian Impulsif adalah salah satu jenis dari perilaku membeli, dimana perilaku pembelian ini berhubungan dengan adanya dorongan yang menyebabkan konsumen
BAB III METODE PENELITIAN. A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
BAB III METODE PENELITIAN A. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Identifikasi Variabel Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen (bebas) adalah big five personality yang terdiri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Feist (2010:134) kajian mengenai sifat manusia pertama kali
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Uraian Teoritis A. Teori Lima Besar (Big Five Model) 1. Sejarah Big Five Model Menurut Feist (2010:134) kajian mengenai sifat manusia pertama kali dilakukan oleh Allport dan
BAB 2 LANDASAN TEORI. tahun 1996 yang merupakan ahli teori pembelajaran sosial. Locus of control dapat
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Locus of Control 2.1.1 Definisi Locus of Control Konsep tentang locus of control pertama kali dikemukakan oleh Rotter pada tahun 1996 yang merupakan ahli teori pembelajaran sosial.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Secondary Traumatic Stress Terdapat beberapa istilah yang berkaitan dengan trauma sekunder yang sering diartikan dengan salah. Walau terlihat mirip akan tetapi memiliki definisinya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
16 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Prestasi Akademik 1. Pengertian prestasi akademik Menurut pendapat Djamarah (2002) tentang pengertian prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan,
BAB II URAIAN TEORITIS. Sumbayak (2009) dengan judul skripsi Pengaruh Tipe Kepribadian Big Five
35 BAB II URAIAN TEORITIS A. Penelitian Terdahulu Sumbayak (2009) dengan judul skripsi Pengaruh Tipe Kepribadian Big Five Personality Terhadap Coping Stress Pada Polisi Reserse Kriminal Poltabes Medan.
BAB I PENDAHULUAN. Utuh berarti bahwa individu tidak dapat dipisahkan dengan segala cirinya,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap individu berfungsi sebagai satu kesatuan yang utuh dan unik. Utuh berarti bahwa individu tidak dapat dipisahkan dengan segala cirinya, karena individu
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kinerja 1. Pengertian Kinerja Prawirosentono (2008) menyatakan kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan
BAB I PENDAHULUAN. organisasi yang efektif (Yukl, 2010). Tidak ada organisasi yang mampu berdiri tanpa adanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kepemimpinan diyakini menjadi unsur kunci dalam melakukan pengelolaan suatu organisasi yang efektif (Yukl, 2010). Tidak ada organisasi yang mampu berdiri tanpa
BAB II LANDASAN TEORI. Logoterapi ditemukan dan dikembangkan oleh Victor E. Frankl, seorang
BAB II LANDASAN TEORI A. Sumber Nilai Makna Hidup 1. Definisi Sumber Nilai Makna Hidup Logoterapi ditemukan dan dikembangkan oleh Victor E. Frankl, seorang neuropsikiater keturunan Yahudi dari kota Wina,
BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Robert dan Kinicki (dalam Robert Kreitner, 2011) bahwa komitmen
BAB II LANDASAN TEORI A. Komitmen Organisasi 1. Pengertian Komitmen Organisasi Menurut Robert dan Kinicki (dalam Robert Kreitner, 2011) bahwa komitmen organisasi adalah cerminan dimana seorang karyawan
Gambaran Kepribadian Dosen-Tetap pada Universitas Swasta Terbaik di Indonesia
Gambaran Kepribadian Dosen-Tetap pada Universitas Swasta Terbaik di Indonesia Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara Email:[email protected] ABSTRAK Dosen adalah salah satu komponen utama
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan memegang peranan penting
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan memegang peranan penting untuk menghasilkan tenaga ahli yang tangguh dan kreatif dalam menghadapi tantangan pembangunan
TRAIT FACTOR THEORY EYSENCK, CATTELL, GOLDBERG. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi Psikologi
Modul ke: 13 Yoanita Fakultas PSIKOLOGI TRAIT FACTOR THEORY EYSENCK, CATTELL, GOLDBERG Eliseba, M.Psi Program Studi Psikologi HANS EYSENCK Dasar umum sifat-sifat kepribadian berasal dari keturunan, dalam
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Konsep tentang locus of control pertama kali dikemukakan oleh Rotter pada tahun
18 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Locus Of Control 2.1.1 Definisi Locus Of Control Konsep tentang locus of control pertama kali dikemukakan oleh Rotter pada tahun 1996 yang merupakan ahli teori pembelajaran
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecurangan Kecurangan sebagaimana yang umumnya dimengerti, berarti ketidak jujuran dalam bentuk suatu penipuan yang disengaja atau suatu kesalahan penyajian yang dikehendaki
BAB I PENDAHULUAN. Dalam menghadapi tantangan hidup, terkadang orang akan merasakan bahwa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam menghadapi tantangan hidup, terkadang orang akan merasakan bahwa hidup yang dijalaninya tidak berarti. Semua hal ini dapat terjadi karena orang tersebut
BAB I PENDAHULUAN. masa beralihnya pandangan egosentrisme menjadi sikap yang empati. Menurut Havighurst
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Perkembangan sosial masa dewasa awal (young adulthood) adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah
BAB II. meningkatkan fungsi konstruktif konflik. Menurut Ujan, dkk (2011) merubah perilaku ke arah yang lebih positif bagi pihak-pihak yang terlibat.
BAB II LANDASAN TEORI A. Manajemen Konflik 1. Pengertian Manajemen Konflik Menurut Rahim (2001) manajemen konflik tidak hanya berkaitan dengan menghindari, mengurangi serta menghilangkan konflik, tetapi
BAB I PENDAHULUAN. terhadap sampel dari suatu perilaku. Tujuan dari tes psikologi sendiri adalah untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tes psikologi adalah suatu pengukuran yang objektif dan terstandar terhadap sampel dari suatu perilaku. Tujuan dari tes psikologi sendiri adalah untuk mengukur perbedaan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian yang Digunakan Metode penelitian yang pada penelitian ini adalah metode kuantitatif. Menurut Creswell (dalam Alsa, 2011, hal. 13), penelitian kuantitatif
BAB II LANDASAN TEORI. A. Kepribadian. konsistensi perasaan, pemikiran, dan perilaku-perilaku (Pervin & Cervone, 2010).
BAB II LANDASAN TEORI A. Kepribadian 1. Pengertian Kepribadian Kepribadian adalah karakteristik seseorang yang menyebabkan munculnya konsistensi perasaan, pemikiran, dan perilaku-perilaku (Pervin & Cervone,
2. TINJAUAN PUSTAKA. Universitas Indonesia
10 2. TINJAUAN PUSTAKA Bab ini mengulas tentang pelbagai teori dan literatur yang dipergunakan dalam penelitian ini. Adapun teori-teori tersebut adalah tentang perubahan organisasi (organizational change)
BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut akan terus-menerus mendorong manusia
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Manusia sebagai Homo economicus, tidak akan pernah lepas dari pemenuhan kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut akan terus-menerus mendorong manusia untuk melakukan
menjadi bagian dari kelompoknya dengan mengikuti norma-norma yang telah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Seks pranikah merupakan aktivitas seksual yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut agama dan kepercayaan masing-masing
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengelolaan. Menurut Mangkunegara (2005) manajemen adalah suatu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Fungsi Manajemen 2.1.1 Pengertian Manajemen Manajemen adalah sebuah disiplin ilmu yang berkaitan dengan pengelolaan. Menurut Mangkunegara (2005) manajemen adalah
BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. meneliti sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan korelasional yang bertujuan meneliti sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini peneliti akan memaparkan kesimpulan dan saran dari hasil diskusi yang telah dilakukan. 5.1 Kesimpulan Berikut adalah kesimpulan dari hasil diskusi yang telah dilakukan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Wade dan Tavris (2007: 194) menyebutkan bahwa kepribadian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Kepribadian 1. Pengertian Kepribadian Wade dan Tavris (2007: 194) menyebutkan bahwa kepribadian (personality) adalah
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Uji Asumsi 1. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui sebaran data normal atau tidak. Alat yang digunakan adalah One Sample Kolmogorov- Smirnov
BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kepribadian merupakan karakteristik khusus yang dimiliki oleh setiap individu yang mencerminkan sikap dan perilaku yang dimilikinya. Gordon W. Allport (dalam Pieter
BAB II LANDASAN TEORI. yang masing-masing berbeda tingkat keluasannya (McAdams dalam John &
15 BAB II LANDASAN TEORI A. BIG FIVE PERSONALITY 1. Definisi Big Five Personality Kepribadian telah dikonsepkan dari bermacam-macam perspektif teoritis yang masing-masing berbeda tingkat keluasannya (McAdams
BAB II LANDASAN TEORI A. LANDASAN TEORI PSYCHOLOGICAL ADJUSTMENT. Weiten dan Lloyd (2006) menyebutkan bahwa psychological adjustment
BAB II LANDASAN TEORI A. LANDASAN TEORI PSYCHOLOGICAL ADJUSTMENT 1. Definisi Psychological Adjustment Weiten dan Lloyd (2006) menyebutkan bahwa psychological adjustment merupakan proses psikologis yang
BAB I PENDAHULUAN. Anak tumbuh dan berkembang di bawah asuhan orang tua. Melalui orang tua,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak tumbuh dan berkembang di bawah asuhan orang tua. Melalui orang tua, anak beradaptasi dengan lingkungannya dan mengenal dunia sekitarnya serta pola pergaulan
BAB I PENDAHULUAN. ini bisa dilihat dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Keberadaan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dalam sejarah penyelenggaraan pemerintahan daerah, tidak berubah dan selalu dibutuhkan. Hal ini bisa dilihat
I. PENDAHULUAN. Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal, yang masih
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal, yang masih dalam naungan serta pengawasan pemerintah. Tujuan dan fungsi lembaga pendidikan
GAMBARAN KEPRIBADIAN DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DITINJAU BERDASARKAN GOLONGAN DARAHNYA. Oleh : I Made Yudhistira Dwipayama, M.
GAMBARAN KEPRIBADIAN DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DITINJAU BERDASARKAN GOLONGAN DARAHNYA Oleh : I Made Yudhistira Dwipayama, M.Psi Pernah membaca buku diet berdasarkan golongan darah? Ternyata pola makna
BAB I PENDAHULUAN. Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG MASALAH Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam pendidikan. Perguruan Tinggi diadakan dengan tujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi
BAB I PENDAHULUAN. dimaksud dengan transisi adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap individu mengalami masa peralihan atau masa transisi. Yang dimaksud dengan transisi adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001).
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. lazimnya dilakukan melalui sebuah pernikahan. Hurlock (2009) menyatakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia sebagai makhluk sosial ditakdirkan untuk berpasangan yang lazimnya dilakukan melalui sebuah pernikahan. Hurlock (2009) menyatakan bahwa pernikahan adalah salah
Sejarah dan Aliran-Aliran Psikologi
Sejarah dan Aliran-Aliran Psikologi Modul ke: Pendekatan Trait & Type Fakultas Psikologi Dra. Anna Amanah, Psi., MSi. Program Studi Psikologi http://www.mercubuana.ac.id Pendekatan Tipe dan Trait Tipe,
BAB I PENDAHULUAN. lembaga kesejahteraan sosial yang mempunyai kewajiban untuk memberikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Secara umum anak-anak tinggal dengan orang tua mereka di rumah, tetapi ada juga sebagian anak yang tinggal di panti asuhan. Panti asuhan adalah suatu lembaga
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Metode merupakan unsur penting dalam penelitian ilmiah, karena metode yang digunakan dalam penelitian dapat menemukan apakah penelitian tersebut dapat dipertanggungjawabkan hasilnya.
Resolusi Konflik dalam Perspektif Kepribadian
Resolusi Konflik dalam Perspektif Kepribadian Zainul Anwar Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang [email protected] Abstrak. Karakteristik individu atau sering dikenal dengan kepribadian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Prestasi belajar atau hasil belajar adalah realisasi atau pemekaran
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Prestasi Belajar 1. Pengertian Prestasi Belajar Prestasi belajar atau hasil belajar adalah realisasi atau pemekaran dari kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian a. Persiapan Penelitian Persiapan penelitian perlu dilakukan agar penelitian yang akan diadakan dapat
BAB II LANDASAN TEORI. A. Tipe Kepribadian Tangguh (Hardiness) Istilah kepribadian ( personality) berasal dari bahasa Yunani kuno, persone
BAB II LANDASAN TEORI A. Tipe Kepribadian Tangguh (Hardiness) 1. Pengertian Kepribadian Istilah kepribadian ( personality) berasal dari bahasa Yunani kuno, persone yang artinya topeng yang biasanya dipakai
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menjadikannya sebagai insal kamil, manusia utuh atau kaffah. Hal ini dapat terwujud
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Hidayat (2013) pendidikan adalah suatu upaya sadar yang dilakukan untuk mengembangkan potensi yang dianugrahkan tuhan kepada manusia dan diarahkan pada
1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia
1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Berubah atau mati!, adalah kalimat yang diserukan oleh para manajer di seluruh dunia untuk menggambarkan keharusan setiap organisasi atau perusahaan untuk terus
C A R E E R H O G A N D E V E L O P TIPS- TIPS PENGEMBANGAN UNTUK MANAJEMEN KARIR. Laporan untuk: John Doe ID: HC Tanggal: 29 Juli 2015
S E L E C T D E V E L O P L E A D H O G A N D E V E L O P C A R E E R TIPS- TIPS PENGEMBANGAN UNTUK MANAJEMEN KARIR Laporan untuk: John Doe ID: HC243158 Tanggal: 29 Juli 2015 2 0 0 9 H O G A N A S S E
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan seseorang memasuki masa dewasa. Masa ini merupakan, masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sekelompok (peer group) serta kurangnya kepedulian terhadap masalah kesehatan.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gambaran khas remaja yaitu pencarian identitas, kepedulian akan penampilan, rentan terhadap masalah komersial dan tekanan dari teman sekelompok (peer group)
BAB III METODE PENELITIAN. merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif komparatif, yakni jenis
26 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Menurut Arikunto (2002) desain penelitian merupakan serangkaian proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Penelitian ini merupakan
BAB I PENDAHULUAN. yang melibatkan respon-respon mental dan tingkah laku, di mana individu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam rentang kehidupan manusia, manusia akan mengalami perubahan, baik perubahan dari luar maupun dari dalam. Dari dalam seperti fisik, pertumbuhan tinggi
STUDI DESKRIPTIF THE FIVE-FACTOR MODEL OF PERSONALITY PADA REMAJA USIA TAHUN
LAPORAN PENELITIAN STUDI DESKRIPTIF THE FIVE-FACTOR MODEL OF PERSONALITY PADA REMAJA USIA 15 18 TAHUN (Studi pada siswa SMA X Bandung dan mahasiswa semester II Universitas Y Bandung) Oleh: Irene Prameswari
1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada hari Minggu tanggal 29 April 2007 seorang siswa kelas 1 (sebut saja A) SMA swasta di bilangan Jakarta Selatan dianiaya oleh beberapa orang kakak kelasnya. Penganiayaan
Profil Kepribadian Mahasiswa yang Melakukan Kecurangan Akademik di Fakultas Psikologi Unisba Angkatan X Ditinjau dari Big Five Theory
Prosiding Psikologi ISSN: 2460-6448 Profil Kepribadian Mahasiswa yang Melakukan Kecurangan Akademik di Fakultas Psikologi Unisba Angkatan X Ditinjau dari Big Five Theory 1 Desti Yuniarti, 2 Temi Damayanti
BAB II KAJIAN TEORITIS
7 BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Kajian Teoritis 2.1.1 Pengertian Perilaku Sosial Perilaku sosial adalah perilaku yang dimiliki individu di mana perilaku itu akan muncul pada waktu individu itu berinteraksi
PERKEMBANGAN AFEKTIF
PERKEMBANGAN AFEKTIF PTIK PENGERTIAN AFEKTIF Afektif menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah berkenaan dengan rasa takut atau cinta, mempengaruhi keadaan, perasaan dan emosi, mempunyai gaya atau makna yang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tipe Kepribadian (The Big Five Personality) 2.1.1 Definisi kepribadian Salah satu tokoh Psikologi yang menjelaskan apa yang dimaksud dengan kepribadian ke dalam suatu definisi
BAB II LANDASAN TEORI A. BURNOUT
BAB II LANDASAN TEORI A. BURNOUT 1. Pengertian Burnout Burnout yaitu keadaan stress secara psikologis yang sangat ekstrem sehingga individu mengalami kelelahan emosional dan motivasi yang rendah untuk
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Hurlock (1999) orang tua adalah orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas
BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dan teknologi serta restrukturisasi organisasi, begitu pula di Indonesia.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Era globalisasi membawa kemajuan dan perubahan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta restrukturisasi organisasi, begitu pula di Indonesia. Hal ini menimbulkan
BAB I PENDAHULUAN. Perawat atau Nurse berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata Nutrix yang berarti
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perawat atau Nurse berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata Nutrix yang berarti merawat atau memelihara. Profesi perawat diharapkan dapat membantu mempertahankan
TINJAUAN PUSTAKA. seseorang dalam proses pembelajaran (Suparlan, 2004: 31). Di dunia
9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Gaya Belajar Gaya Belajar adalah cara atau pendekatan yang berbeda yang dilakukan oleh seseorang dalam proses pembelajaran (Suparlan, 2004: 31). Di dunia pendidikan, istilah gaya
BAB I PENDAHULUAN. dengan kata lain dilakukan tes psikologi. Salah satu pengukuran yang dilakukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Psikologi merupakan salah satu cabang ilmu yang berperan untuk mempelajari proses mental dan perilaku manusia. Untuk mempelajari perilaku manusia, para
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sikap (attitude) adalah pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Uraian Teoritis 2.1.1. Sikap 1. Pengertian Sikap Sikap (attitude) adalah pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan terhadap objek, individu, atau
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kecemasan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kecemasan 1. Definisi Kecemasan Kecemasan atau anxietas adalah status perasaan tidak menyenangkan yang terdiri atas respon-respon patofisiologis terhadap antisipasi bahaya yang
BAB I PENDAHULUAN. membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Mahasiswa, adalah seseorang
15 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa, pada dasarnya sebagai generasi penerus. Mereka diharapkan sebagai subyek atau pelaku didalam pergerakan pembaharuan. Sebagai bagian dari masyarakat,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan negara yang tiap elemen bangsanya sulit
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang tiap elemen bangsanya sulit lepas dari belenggu anarkisme, kekerasan, dan perilaku-perilaku yang dapat mengancam ketenangan masyarakat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. merupakan jumlah total cara-cara di mana seorang individu beraksi atas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. TINJAUAN PUSTAKA 1. Kepribadian Menurut Robbins dan Judge (2015) kepribadian (personality) merupakan jumlah total cara-cara di mana seorang individu beraksi
BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori mengenai self-efficacy dan
BAB 2 LANDASAN TEORI Teori yang akan dibahas dalam bab ini adalah teori mengenai self-efficacy dan prestasi belajar. 2.1 Self-Efficacy 2.1.1 Definisi self-efficacy Bandura (1997) mendefinisikan self-efficacy
BAB I PENDAHULUAN. pada individu seperti dampak fisik, sosial, intelektual, psikologis dan spiritual
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Stres merupakan fenomena universal yang terjadi dalam kehidupan seharihari dan akan dialami oleh setiap orang. Stres memberikan dampak secara total pada individu seperti
BAB II. Landasan Teori
BAB II Landasan Teori 2.1 Pengertian Tes Pauli Tes Pauli dikembangkan oleh Dr. Richard Pauli (1938) Dr.Wilhem Arnold dan Prof.Dr.Van Hiss yang di modifikasi dari tes Kraeplin, untuk tujuan melihat daya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sepanjang hayatnya, baik sebagai individu, kelompok sosial, maupun sebagai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan manusia sepanjang hayatnya, baik sebagai individu, kelompok sosial, maupun sebagai bangsa. Pendidikan tidak
