BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. Dalam rangka peran serta mewujudkan Pembangunan Nasional, khususnya

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan tingginya sepeda motor di Indonesia. Sehingga membuat permintaan Alloy

PEMBUATAN BRACKET PADA DUDUKAN CALIPER. NAMA : BUDI RIYONO NPM : KELAS : 4ic03

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB III. Proses Pembuatan Velg

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Aluminium merupakan logam yang banyak digunakan dalam komponen

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini pertumbuhan pengguna kendaraan roda dua di Indonesia cukup

TUGAS AKHIR PENGARUH ELEKTROPLATING TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS ALUMINIUM PADUAN

III. METODE PENELITIAN. waktu pada bulan September 2015 hingga bulan November Adapun material yang digunakan pada penelitian ini adalah:

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam kegiatan industri khususnya industri otomotif, ujung tombak yang

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Proses Pengecoran Hingga Proses Heat Treatment Piston Di PT. Federal Izumi Manufacturing NAMA : MUHAMMAD FAISAL NPM : KELAS : 4IC04

Simposium Nasional RAPI XI FT UMS 2012 ISSN :

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Diagram Alir Penelitian Pada penelitian ini langkah-langkah pengujian mengacu pada diagram alir pada Gambar 3.1.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. PT. SENTRA MAHAKARYA INTEGRA merupakan perusahaan yang bergerak di

BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK

BAB IV METODE PENGUJIAN CIGARETTE SMOKE FILTER

BAB I PENDAHULUAN. Menghadapi perkembangan zaman yang kian cepat dan kompleks persaingan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan kapasitas produksi yang antara lain bisa dilakuakan dengan cara

PROSES MACHINING PEMBUATAN ZINC CAN BATTERY TYPE UM-1 DI PT. PANASONIC GOBEL ENERGI INDONESIA

Pengaruh Variasi Komposisi Kimia dan Kecepatan Kemiringan Cetakan Tilt Casting Terhadap Kerentanan Hot Tearing Paduan Al-Si-Cu

ISSN hal

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

MEMPELAJARI PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA PT KOMATSU INDONESIA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. PT. INKOASKU adalah perusahaan manufaktur yang berfokus dalam

aluminium dari kebanyakan bahan itu masih belum ekonomis.

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA PENELITIAN

BAB III PROSES PENGECORAN LOGAM

PENELITIAN PENGARUH VARIASI TEMPERATUR PEMANASAN LOW TEMPERING

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Mulai. Peleburan AC4B GBF. Holding Furnace LPDC. Inject: 0 jam 1 jam 2 jam 3 jam 4 jam. Chipping Cutting Blasting

BAB I PROSES MANUFAKTUR

PROSES PEMBUATAN PISTON TYPE DI PT. INDOMOBIL SUZUKI INTERNASIONAL

BAB IV PROSES PERLAKUAN PANAS PADA ALUMINIUM

BAB III PENELITIAN 3.1. DIAGRAM ALIR. Penelitian

Analisa Pengaruh Aging 450 ºC pada Al Paduan dengan Waktu Tahan 30 dan 90 Menit Terhadap Sifat Fisis dan Mekanis

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2013 sampai dengan selesai.

PROSES PEMBUATAN SMALL PART PADA BUSI SEPEDA MOTOR DI PT. DENSO INDONESIA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III GAMBARAN UMUM INDUSTRI DAN PERUSAHAAN 3

ANALISA PENGARUH AGING 400 ºC PADA ALUMINIUM PADUAN DENGAN WAKTU TAHAN 30 DAN 90 MENIT TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di beberapa tempat sebagai berikut:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. menunjukan bahwa material rockwool yang berbahan dasar batuan vulkanik

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II STUDI LITERATUR

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PERANCANGAN. Mulai. Merancang Desain dan Study Literatur. Quality Control. Hasil Analisis. Kesimpulan. Selesai

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Agustus sampai bulan Oktober 2012.

PERBANDINGAN KARAKTERISTIK MEKANIS DAN KOMPOSISI KIMIA ALUMUNIUM HASIL PEMANFAATAN RETURN SCRAP

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam menghadapi persaingan pasar bebas yang semakin ketat, setiap

III. METODE PENELITIAN. Adapun tempat pengerjaan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS SIFAT FISIS DAN MEKANIS ALUMINIUM (Al) PADUAN DAUR ULANG DENGAN MENGGUNAKAN CETAKAN LOGAM DAN CETAKAN PASIR

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober 2014 sampai Juni 2015di

ANALISIS PROSES TEMPERING PADA BAJA DENGAN KANDUNGAN KARBON 0,46% HASILSPRAY QUENCH

PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam menunjang industri di Indonesia. Pada hakekatnya. pembangunan di bidang industri ini adalah untuk mengurangi

BAB IV ANALISA DAN PENGOLAHAN DATA

Momentum, Vol. 10, No. 2, Oktober 2014, Hal ISSN

I. PENDAHULUAN. Definisi baja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah suatu benda

PROSES PEMBUATAN KEPALA SILINDER MOTOR PADA PT. ASTRA HONDA MOTOR

Dosen Pembimbing : Sutarsis, S.T, M.Sc.Eng

BAB V ANALISA HASIL. terbanyak dari Transmission Case (XCR) adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. komponen otomotif dituntut meningkatkan inovasi sehingga produk bisa menjadi

PROSES PEMBUATAN BANTALAN LUNCUR AXLE LINING di UPT. BALAI YASA YOGYAKARTA. Idris Prasojo Teknik Mesin Dr.-Ing.

BAB lll PEMBUATAN PROFIL ALUMUNIUM

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian eksperimental nyata (true experimental research). Dalam hal ini

Proses perlakuan panas diklasifikasikan menjadi 3: 1. Thermal Yaitu proses perlakuan panas yang hanya memanfaatkan kombinasi panas dalam mencapai

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. oksidasi yang dilakukan dengan metode OM ( Optic Microscope) dan

Momentum, Vol. 10, No. 2, Oktober 2014, Hal ISSN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. walaupun harga produk luar jauh lebih mahal dari pada produk lokal. yang menjadi bahan baku utama dari komponen otomotif.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

NASKAH PUBLIKASI ILMIAH ANALISA PENGARUH SOLUTION TREATMENT PADA MATERIAL ALUMUNIUM TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS

Analisa Deformasi Material 100MnCrW4 (Amutit S) Pada Dimensi Dan Media Quenching Yang Berbeda. Muhammad Subhan

3. Uraikan & jelaskan perbedaan yang mendasar antara teknik pressing & sintering konvensional dengan teknik pressing & sintering modern.

KARAKTERISASI PADUAN AlFeNiMg HASIL PELEBURAN DENGAN ARC FURNACE TERHADAP KEKERASAN

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Diagram Alir Diagram alir penelitian selama proses penelitian dapat diperlihatkan pada Gambar 3.1 dibawah ini : Mulai

BAB 1 PENDAHULUAN. Dengan semakin berkembangnya perekonomian didunia ini, secara tidak

BAB II PROFIL PT. ASTRA DAIHATSU MOTOR

PENGARUH VARIASI WAKTU PENAHANAN TERHADAP KEKERASAN PERMUKAAN, STRUKTUR MIKRO DAN LAJU KOROSI PADA ALUMINIUM 6061 DENGAN METODE UJI JOMINY

BAB IV PENGUMPULAN DATA. DMAIC yaitu tahap Define dan Measure sebagai kerangka untuk mendefinisikan

BAB I PENDAHULUAN. berusaha untuk memberikan kepuasan yang terbaik bagi para konsumennya, dengan

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

PENGARUH UNSUR Mn PADA PADUAN Al-12wt%Si TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK LAPISAN INTERMETALIK PADA FENOMENA DIE SOLDERING SKRIPSI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Studi Literatur. Persiapan Alat dan Bahan bahan dasar piston bekas. Proses pengecoran dengan penambahan Ti-B 0,05%

BAB III METODA PENELITIAN DAN ANALISA PENGUJIAN

BAB I PENDAHULUAN. dimana logam dicairkan dalam tungku peleburan kemudian. dituangkan kedalam rongga cetakan yang serupa dengan bentuk asli

Bab III Metode Penelitian

Perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur besi baja ini sudah banyak menghasilkan produk seperti kawat baja, plat baja, maupun baja

Transkripsi:

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Sejarah Singkat Perusahaan PT. XYZ adalah perusahaan komponen otomotif yang memproduksi velg mobil yang terbuat dari bahan dasar aluminium. PT XYZ didirikan di Jakarta tanggal 26 Juni 1987 dengan Notaris Darsono Purnomosidi, SH. SK.MEN. HAK NO. C2-3454.HT.01.01 tahun 1988 tanggal 15 April 1988. Pada awalnya perusahaan ini hanya memproduksi velg kendaraan roda empat yang berbahan dasar besi ( steel wheel ), namun seiring dengan meningkatnya permintaan pasar maka dikembangkanlah produk velg yang berbahan dasar aluminium yang memiliki sifat lebih ringan dan lebih menarik. Perusahaan ini berpusatkan di Sunter II, Jakarta utara dekat dengan perusahaan perakitan mobil seperti PT Astra Daihatsu Motor, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, PT Gaya Motor serta beberapa perusahaan lainnya. Kini perusahaan ini memiliki 2 cabang yang berlokasi di kawasan industri Surya Cipta, Karawang Timur yang memproduksi velg untuk kendaraan roda dua ( motorcycle wheel ) dan kendaraan roda empat ( carwheel ). Adapun jam kerja perusahaan diatur sebagai berikut : Tabel 4.1 TABEL JAM KERJA PT XYZ 1 2 Hari Senin Kamis JAM KERJA SHIFT 1 SHIFT 2 SHIFT 3 Dari Sampai Dari Sampai Dari Sampai Jam Kerja 1 07:30 11:55 16:15 18:00 23:55 04:15 Jam Kerja 2 12:40 16:15 18:40 23:55 04:50 07:30 Jam Istirahat 11:55 12:40 18:00 18:40 04:15 04:50 Hari Jumat JAM KERJA SHIFT 1 SHIFT 2 SHIFT 3 Dari Sampai Dari Sampai Dari Sampai Jam Kerja 1 07:30 11:45 16:30 18:00 00:10 04:15 Jam Kerja 2 12:45 16:30 18:40 00:10 04:50 07:30 Jam Istirahat 11:45 12:45 18:00 18:40 04:15 04:50 1

Adapun tahapan proses produksi di PT. XYZ adalah sebagai berikut : 1. Inspeksi Kedatangan Material Untuk menjaga kualitas produk yang akan dihasilkan, maka material yang menjadi bahan pokok pembuatan velg dilakukan inspeksi / pemeriksaan setiap kedatangan material. Material ini harus memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. Pemeriksaan ini antara lain Komposisi kimia aluminium, Daya rekat cat dan lain lain. 2. Peleburan ( Melting ) Proses ini adalah proses peleburan material aluminum padat menjadi aluminium cair. Proses peleburan ini menggunakan tungku pemanas dengan bahan bakar LPG, setelah proses peleburan mencapai temperatur lebur ± 800 o C maka proses ini siap untuk dilakukan proses GBF ( Gas Buble Filtration ) yaitu proses penghilangan kandungan uap air dari molten metal cair tersebut dengan cara dialiri gas argon. Selama proses Melting ini dilakukan pemeriksaan komposisi kimia. Material yang dipakai adalah aluminium paduan kekuatan tinggi dengan logam paduan Si, Mg dan bahan campuran yang lain. 3. Pencetakan ( Casting ) Pada proses ini molten cair ditekan dengan tekanan angin dari holding furnace ( penampung metal cair ) dan masuk ke cetakan ( dies ), setelah proses pendinginan ( cooling ) maka cetakan di buka. Adapun cetakan yang dipakai adalah permanent 1

mould. Model velg yang diinginkan sesuai dengan bentuk dari cetakan /dies yang terpasang. 4. Heat Treatment Heat treatment merupakan suatu proses perlakuan panas untuk mendapatkan keandalan yang diinginkan, adapun proses heat treatment ini meliputi : Solution Yaitu pemanasan material hingga ke temperatur austenite ( 535 o C ) dan ditahan selama 6 jam pada tempertatur tersebut. Quenching Material yang telah melewati proses solution dilakukan pencelupan secara cepat kedalam air dengan temperatur 70 o C, dilakukan pencelupan cepat agar fasa yang terjadi pada saat pencelupan tetap austenit sehingga tidak ada kesempatan untuk kembali kefasa semula. Aging Proses ini bertujuan untuk menambah kekerasan produk dengan cara di panaskan hingga temperatur 140 o C selama 3 jam. Setelah proses ini dilakukan pengujian kekerasan Brinell untuk mendapatkan angka kekerasan yang dicapai. 5. Machining Untuk mendapatkan ukuran yang presisi maka velg harus melewati proses machining yaitu Turning ( bubut ) dan Milling ( pengeboran ) pada proses ini dibuat 2

bagian bagian vegl meliputi : lubang baut, lubang pentil, dudukan ban dan lain lain. Di proses ini sebelum dibuat lubang pentil, dilakukan pengujian kebocoran untuk mengetahui velg yang dihasilkan bocor atau tidak dikarenakan velg alloy menggunakan ban tubless yaitu tidak memakai ban dalam. Dari proses machining dihasilkan velg yang secara fungsi telah dapat digunakan tetapi penampilannya masih jelek sehingga perlu dilakukan pengecatan. 6. Pengecatan ( Painting ) Dalam proses pengecatan terbagi menjadi 2 yaitu : Pretreatment ( persiapan pengecatan) dan Pelapisan warna. Proses pretreatment meliputi : a. Degreasing Proses ini bertujuan untuk mencuci velg dari kotoran dan coolant/minyak machining yang menempel pada produk. b. Water Rinsing Yaitu proses pembilasan dari proses degreasing agar tidak ada kontaminasi degreasing sebelum menuju proses selanjutnya. c. Pasivating Yaitu proses pengetsaan permukaan velg dengan chemical dan pelapisan untuk menambah kerekatan dan daya tahan cat. d. Water Rinsing Yaitu proses pembilasan dari proses pasivating dengan tujuan untuk menghentikan etsa yang terjadi pada proses pasivating. 3

Sedangkan proses painting terdiri dari 3 bagian yaitu ; a. Powder Yaitu sebagai lapisan dasar untuk menutupi pori pori / permukaan yang kasar pada velg, warna dari powder adalah grey. b. Metalic Setelah adanya lapisan awal dilakukan dilakukan proses pengecatan dengan warna metalic untuk memberikan warna pada velg. c. Clear Untuk menambah kilau dari warna velg setelah metalic dilakukan pemberian warna clear,yaitu cat yang tidak berwarna jadi hanya bening saja.dalam keseharian cat jenis ini dinamakan cat anti gores. 7. Final Inspeksi Setelah melalui proses painting velg dilakukan inspeksi oleh bagian Quality Control. Selain appearance yang dicek juga dilakukan pengecekan kelengkapan aksesoris yang ada. Hingga saat ini PT XYZ telah memproduksi velg alloy untuk semua ATPM yang ada di Indonesia antara lain : Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi, Suzuki, Hyundai, Izusu serta untuk ekspor : Perodua Malaysia, Proton, Suzuki Jepang, Toyota Jepang dan GM Thailand. Dengan semakin membaiknya perekonomian di Indonesia maka persaingan antar competitor semakin ketat, sehingga menciptakan suatu tantangan yang cukup berat bagi PT XYZ untuk tetap bertahan dipapan atas. Salah satu yang harus dipertahankan adalah harga dengan cara melakukan improvement untuk mengurangi biaya pembuatan velg. 4

4.2 Pengumpulan Data Sebelum membuat laporan ini penulis melakukan riset dari pengumpulan data yang diperlukan untuk mengetahui akar permasalahan guna melakukan pengolahan data untuk mendapatkan pemecahan dari persoalan tersebut. Penulis mengambil rentang waktu pengambilan data mulai dari bulan Agustus November 2013 di area line Spruecutting Casting. Dengan narasumber Bpk. Abdullah selaku penanggung jawab Melting Area serta Bpk. Iwa Kustiwa sebagai operator utama mesin Spruecut. Proses Spruecutting adalah subunit kerja Melting dan berada di bawah departemen Melting-Casting. Di dalam sub-unit ini terdapat beberapa job desc di antaranya : 1. Charging Bertugas untuk memasukkan tumpukan ingot yang akan dilebur ke dalam tungku peleburan dengan menggunakan forklift. 2. Shuttle Metal Supply Bertugas untuk mengantarkan metal cair yang dimasukkan ke dalam wadah metal ( Holding Furnace ) ke mesin Casting. 3. Drossing ZPF Bertugas untuk membersihkan serta menarik kotoran sisa pembakaran dari dalam tungku peleburan. 4. Susun ingot Bertugas untuk menyusun serta mempersiapkan material dan ingot yang akan dilebur. 5

5. Spruecutting Bertugas untuk memotong Sprue semua velg NG yang nantinya akan dilebur bersama dengan ingot aluminium. 6. Transfer material NG Bertugas untuk mengambil dan mendata semua velg NG dari departemen Casting, Machining dan Painting. Proses Spruecutting adalah proses pemotongan ujung pelek yang berisikan metal kotor yang disaring oleh sebuah kawat bundar yang ikut tertanam didalamnya. Kawat tersebut berbahan dasar besi yang fungsinya menyaring kotoran pada metal saat proses Injection. Berikut ini adalah rangkaian proses produksinya yang dituangkan dalam Standard Operating Procedure dan Bagan Standar Kerja. 6

Pada proses Spruecutting terdapat beberapa jenis permasalahan yang mengganggu jalannya proses produksi, diantaranya : tunggu material, perbaikan mesin, listrik padam serta pekerja diperbantukan ke mesin lain. Fokus penelitian ini tertuju pada Lost time tunggu material. Pada bulan Agustus terdapat 195 menit waktu kerja yang terbuang karena menunggu material, bulan September terdapat 140 menit serta pada bulan Oktober terdapat 53 menit. Data laporan hasil produksi dari bulan Agustus Oktober 2013 terlampir pada halaman berikut. 7

Pada proses Spruecutting operator dapat bekerja secara optimal hanya saat shift 1 ( masuk pagi ) hal ini dikarenakan pencahayaan yang kurang memadai serta lambatnya penanganan bila terjadi masalah pada mesin. Oleh karena itu, kinerja operator sangat terbatas, terlebih jika terjadi Abnormality Process dari Casting Departement yang menyebabkan penumpukan material. Kurangnya sinergi dengan pihak Maintenance departement. Oleh karena itu dibutuhkan konektifitas dari atasan sebagai pembuka jalan guna memperlancar arus informasi serta penanganan yang tanggap guna memuluskan jalannya proses produksi. Berikut gambar mesin Spruecutting sebelum adanya aktifitas Kaizen. Gambar 4.1 proses Spruecutting 1

4.3 Pengolahan Data Berdasarkan data yang sudah terkumpul maka penulis melakukan pengolahan data sebagai berikut : 1. Produktifitas bulan Agustus Total jam kerja 25 hari X 8 jam = 200 jam ( 1200 menit ) Total lost time tunggu material = 195 menit Total target 25 hari X 300 pcs = 7500 pcs Total output = 8449 pcs produktifitas waktu kerja = total lost time total jam kerja X 100 % = ( 195 menit : 1200 menit ) X 100% = 0,1625 % 2. Produktifitas bulan September Total jam kerja 29 hari X 8 jam = 232 jam (1392menit) Total lost time tunggu material = 140 menit Total target 29 X 300 pcs = 8700 pcs Total output = 7809 pcs Produktifitas waktu kerja = ( total lost time : total jam kerja ) X 100 % = ( 140 menit : 1392 menit ) X 100 % = 0,1005 % 3. Produktifitas bulan Oktober Total jam kerja 29 hari X 8 jam = 232 jam (1392menit) Total lost time tunggu material = 53 menit 2

Total target 29 X 300 pcs = 8700 pcs Total output = 6981 pcs produktifitas waktu kerja = ( total output : total target ) X 100 % = ( 6981 pcs : 8700 pcs ) X 100 % = 0,8024 % Jika terjadi abnormality process dari proses Casting yang menyebabkan material NG terlalu banyak, maka akan menyebabkan penumpukan material di area SprueCutting. Sementara proses produksi hanya dilakukan pada shift 1, maka akan banyak material yang tidak terproses. Hal ini diakibatkan di mesin SprueCutting sangat gelap dan minim penerangan sehingga beresiko terjadi kecelakaan kerja. Area kerja proses SprueCutting dipenuhi oleh banyak peralatan dari pekerjaan lainnya, maka terlihat sangat kumuh. Pergerakan pekerja pun sangat sempit dan terbatas dan beresiko terjepit di antara barang-barang tersebut. 3