BAB II TINJUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
A. Pengertian Defisit Perawatan Diri B. Klasifikasi Defisit Perawatan Diri C. Etiologi Defisit Perawatan Diri

BAB 1 PENDAHULUAN. pasien mulai dari pasien yang tidak mampu melakukan aktivitasnya secara

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pertumbuhan penduduk lansia umur 60 tahun ke. atas di seluruh dunia sangat cepat, bahkan lebih cepat

BAB II KONSEP DASAR. memelihara kesehatan mereka karena kondisi fisik atau keadan emosi klien

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

6

BAB 1 PENDAHULUAN. Dengan tubuh yang bersih meminimalkan risiko terhadap kemungkinan

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN PERAWATAN KEBERSIHAN DIRI (PERSONAL HYGIENE)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Keperawatan memandang manusia sebagai makhluk holistik yang meliputi biopsiko-sosio-spiritual-kultural.

SURAT PENGANTAR RESPONDEN

BAB I PENDAHULUAN. (Perry & Potter, 2005). Personal hygiene pada anak jalan jarang diperhatikan

Konsep Perawatan Tujuan Kebersihan Diri Meningkatkan drajat kesehatan seseorang Memelihara kebersihan diri seseorang Memperbaiki kebersihan diri yang

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN JIWA. PADA Sdr.W DENGAN HARGA DIRI RENDAH. DI RUANG X ( KRESNO ) RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG. 1. Inisial : Sdr.

BAB II TINJAUAN TEORI Pengertian pengetahuan

PEMBIASAAN PERILAKU PERSONAL HYGIENE OLEH IBU KEPADA BALITA (USIA 3-5 TAHUN) DI KELURAHAN DERWATI

KUESIONER PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. manusia yang harus dicapai, untuk itu diperlukan upaya-upaya dalam mengatasi

BAB 1 PENDAHULUAN. menurut WHO (1947) adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental

BAB V PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN. pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi.

LAPORAN PENDAHULUAN KLIEN DENGAN KASUS DEFISIT PERAWATAN DIRI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kelompok, umumnya murid-murid sekolah. Asrama biasanya merupakan sebuah

PERANAN USAHA KESEHATAN SEKOLAH (UKS) DALAM UPAYA MENINGKATKAN KESEHATAN SISWA SEKOLAH DASAR : PENDIDIKAN KESEHATAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kebutuhan Personal Higiene. Purnama Anggi AKPER KESDAM IM BANDA ACEH

PRINSIP KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

LAMPIRAN CATATAN PERKEMBANGAN

PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN NGARINGAN SD NEGERI 3 BELOR Alamat : Jl. Singosari, Desa Belor, Kec. Ngaringan Kab.

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT. Tanggal Masuk RS : 09 Desember 2014

Universitas Sumatera Utara

2.7 Asuhan Keperawatan A. Pengkajian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab 2 KONSEP ANAK JALANAN FENOMENA SOSIAL ANAK JALANAN 11

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2008). Adapun hierarki tersebut meliputi lima katergori kebutuhan dasar dari Abraham

BAB I PENDAHULUAN. bio-psiko-sosio-spritual-kutural. Asuhan keperawatan yang diberikan harus

Hidup Sehat. Peta Konsep. Halaman 1 dari 8

PERILAKU PERSONAL HYGIENE PADA PEMULUNG DI TPA KEDAUNG WETAN TANGERANG

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas

PEMBIASAAN PERILAKU PERSONAL HYGIENE OLEH IBU KEPADA BALITA (USIA 3-5 TAHUN) DI KELURAHAN DERWATI

PEDOMAN WAWANCARA. I. Identitas Informan : 1. Nama : 2. Umur : 3. Suku : 4. Pendidikan : 5. Pendapatan :

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Menjadi tua ditandai dengan adanya kemunduran biologis yang terlihat

PERSONAL HYGIENE PADA PENDERITA GANGGUAN JIWA DI POLI RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Menua adalah proses menghilang kemampuan jaringan secara

PENGANTAR KEBUTUHAN DASAR MANUSIA MASLOW. 02/02/2016

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku Defenisi Perilaku Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme

Bab II. Solusi Terhadap Masalah-Masalah Kesehatan. Cerita Juanita. Apakah pengobatan terbaik yang dapat diberikan? Berjuang untuk perubahan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. & Wartonah, 2006). Pengertian lain personal hygiene menurut Departemen

TEORI-TEORI KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit kulit banyak di jumpai di Indonesia, hal ini disebabkan karena

BAB II TINJAUAN TEORI A. Personal Hygiene 1. Pengertian Personal Hygiene Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan

Asuhan Keperawatan pada Pasien Defisit Perawatan Diri

CATATAN PERKEMBANGAN Implementasi dan Evaluasi Keperawatan. Tindakan Keperawatan

BAB I PENDAHULUAN. Menurut definisi World Health Organization (WHO), kematian. negara atau daerah adalah kematian maternal (Prawirohardjo, 1999).

BAB II TINJAUAN TEORI. personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. dan kesehatan (Potter dan perry, 2006).

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA KLIEN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI DI RUMAH SAKIT JIWA PROF. Dr. MUHAMMAD ILDREM PROVSU

Tindakan keperawatan (Implementasi)

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta perkembangan. Jika

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Panti Wredha Salib Putih

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan fisik, mental dan sosial serta perlindungan dari segala

14FDSK. Studio Desain 1. Denta Mandra Pradipta Budiastomo, S.Ds, M.Si. Hapiz Islamsyah

BAB I PENDAHULUAN. terutama pada trimester pertama (Hutahaean, 2013). Hampir 45% wanita

Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Abraham Maslow Abraham Maslow membagi kebutuhan dasar manusia ke dalam lima tingkat berikut: 1. Kebutuhan fisiologis

BAB I PENDAHULUAN. hidup sehat (healthy life style), tetapi hal ini dipengaruhi oleh faktor. seseorang akan mengatakan betapa enaknya hidup sehat.

BAB I PENDAHULUAN. satu kebutuhan dasar manusia. Personal hygiene atau kebersihan diri

I. PENDAHULUAN. serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan (Siregar, 2004). Penyakit

BAB II TINJAUAN TEORI

KUESIONER PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR RISIKO KECACINGAN PADA PETANI DI DESA KATEPUL KECAMATAN KABANJAHE TAHUN 2014

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang optimal. Salah satu teori orem ialah self care deficit, Inti dari teori ini

Gambar lampiran 1: Tempat Pencucian Alat masak dan makan hanya satu bak

Jurnal Akses Pengabdian Indonesia Vol. 2 No PERSONAL HYGIENE PADA ANAK SD NEGERI MERJOSARI 3

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan karena akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang

BAB 1 PENDAHULUAN. Organization/WHO), sekitar 2,2 juta orang meninggal dunia setiap tahunnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Menjadi sehat adalah impian seluruh manusia. Baik

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Data Anak Jalanan Tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. proses) yang dimiliki oleh remaja baik secara fisik, mental, emosional dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan

nonfarmakologi misalnya, teknik

LEMBAR OBSERVASI HIGIENE SANITASI PENGOLAHAN BUBUR AYAM DI KECAMATAN MEDAN SUNGGAL TAHUN

Lembar Observasi. Hygiene dan Sanitasi Pedagang Minuman Teh Susu Telur (TST) yang Dijual di Kecamatan Medan Area di Kota Medan Tahun 2012

CATATAN PERKEMBANGAN. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan No. Hari/tanggal Pukul Tindakan Keperawatan Evaluasi. 2. Mengkaji tandatanda

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PASIEN DENGAN MASALAH DEFISIT PERAWATAN DIRI

BAB PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2025

Lampiran Malang, Kepada, Yth. Kepala Jurusan Poltekkes Kemenkes di Malang Yang bertanda tangan dibawah ini :

Apa itu menstruasi? Menstruasi adalah tanda anak perempuan tumbuh menjadi dewasa. Menstruasi adalah proses alami bagi perempuan.

BAB I PENDAHULUAN. dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang

BAB I PENDAHULUAN. termasuk debu, sampah dan bau. Masalah kebersihan di Indonesia selalu

Hubungan Personal Hygiene Organ Reproduksi dengan Kejadian Keputihan pada Remaja Siswi Smk N 1 Sumber Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. tidak asing lagi melihat anak-anak mengerumuni mobil-mobil dipersimpangan lampu

Transkripsi:

11 BAB II TINJUAN PUSTAKA 1. Kebutuhan Dasar a. Pengertian Manusia memiliki kebutuhan dasar (kebutuhan pokok) untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Walaupun setiap individu mempunyai karakteristik yang unik, kebutuhan dasarnya sama. Perbedaannya pada pemenuhan kebutuhan dasar tersebut. Kebutuhan dasar manusia memiliki banyak kategori atau jenis. Salah satunya adalah kebutuhan fisiologis (seperti oksigen, cairan, nutrisi, eliminasi dan lain-lain) sebagai kebutuhan yang paling mendasar dalam jasmaniah (Walyani, 2015). Kegagalan pemenuhan kebutuhan dasar menimbulkan kondisi yang tidak seimbang, sehingga diperlukan bantuan terhadap pemenuhannya kebutuhan dasar tersebut. Disinilah pentingnya peranan perawat sebagai profesi kesehatan dimana salah satu tujuan pelayananan keperawatan adalah membantu klien dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Jenis-jenis kebutuhan dasar manusia yang menjadi lingkup pelayanan keperawatan bersifat holistik yang mencakup kebutuhan biologis, psikologis, sosial, dan spiritual (Asmadi, 2008). 11

12 b. Unsur Kebutuhan Dasar Manusia Teori Hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar, yaitu (Asmadi, 2008): 1) Kebutuhan Fisiologis, yang merupakan kebutuhan paling dasar pada manusia. Antara lain ; pemenuhan kebutuhan oksigen dan pertukaran gas, cairan (minuman), nutrisi (makanan), eliminasi BAB/BAK, istirahat dan tidur, aktivitas, keseimbangan suhu tubuh, serta seksual. 2) Kebutuhan rasa aman dan perlindungan, dibagi menjadi perlindungan fisik dan perlindungan psikologis. Perlindungan fisik, meliputi perlindungan dari ancaman terhadap tubuh dan kehidupan seperti kecelakaan, penyakit, bahaya lingkungan, dll. Perlindungan psikologis, perlindungan dari ancaman peristiwa atau pengalaman baru atau asing yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan seseorang. 3) Kebutuhan rasa cinta, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, memberi dan menerima kasih sayang, kehangatan, persahabatan, dan kekeluargaan. 4) Kebutuhan akan harga diri dan perasaan dihargai oleh orang lain serta pengakuan dari orang lain. 5) Kebutuhan aktualisasi diri, ini merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow, yang berupa kebutuhan untuk

13 berkontribusi pada orang lain atau lingkungan serta mencapai potensi diri sepenuhnya. Menurut Mangkunegara (2005) dalam Nursalam dan Efendi (2008) menjabarkan hirarki Maslow yaitu sebagai berikut: 1) Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan akan pemenuhan unsur biologis. Kebutuhan ini berupa makan, minum, bernapas, seksual, dan sebagainya. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang paling mendasar. 2) Kebutuhan akan rasa aman, yaitu kebutuhan perlindungan dari ancaman dan bahaya lingkungan. 3) Kebutuhan akan kasih sayang dan cinta, yaitu kebutuhan untuk diterima dalam kelompok berafiliasi, berinteraksi, mencintai dan dicintai. 4) Kebutuhan akan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai. 5) Kebutuhan akan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan (aktif) dan potensi, serta berpendapat dengan mengemukakan penilaian dan kritik terhadap sesuatu. c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan dasar manusia Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat pemenuhan kebutuhan dasar pada manusia adalah sebagai berikut (Walyani, 2015):

14 1) Penyakit Adanya penyakit yang terdapat dalam tubuh seseorang dapat menyebabkan perubahan pemenuhan kebutuhan, baik secara fisiologis maupun psikologis, hal ini disebabkan beberapa organ tubuh memerlukan pemenuhan kebutuhan yang lebih besar dari biasanya. 2) Hubungan yang berarti Keluarga merupakan sistem pendukung dalam diri seseorang. Hubungan kekeluargaan yang baik dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar karena adanya rasa saling percaya, merasakan kesenangan hidup, tidak ada rasa curiga antara yang satu dengan yang lain, dll. 3) Konsep diri Konsep diri manusia juga memiliki peran dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Konsep diri yang positif memberikan makna dan keutuhan (wholeness) bagi seseorang. Konsep diri yang sehat dapat menghasilkan perasaan dan kekuatan positif dalam diri seseorang. Orang yang beranggapan positif terhadap dirinya sendiri akan mudah berubah, mudah mengenali kebutuhannya, dan mengembangkan cara hidup yang sehat sehinggga mudah memenuhi kebutuhan dasarnya.

15 4) Tahap perkembangan Sejalan dengan meningkatnua usia, manusia akan mengalami perkembangan. Berbagai fungsi organ tubuh akan mengalami proses kematangan dengan aktivitas yang berbeda pada setiap tahap perkembangan. Setiap tahap perkembangan tersebut memiliki pemenuhan kebutuhan yang berbeda pula, baik kebutuhan biologis, psikologis, sosial, maupun spiritual. 5) Struktur keluarga Strukutr keluarga dapat mempengaruhi cara seseorang memuaskan kebutuhannya. Sebagai contoh seorang ibu mungkin akan mendahulukan kebutuhan bayinya dibandingkan kebutuhannya sendiri. 2. Personal Hygiene a. Pengertian Personal hygiene adalah suatu usaha pemeliharaan kesehatan diri seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis yang bertujuan mencegah terjangkitnya penyakit serta untuk memperbaiki status kesehatannya. Salah satu indikator dari personal hygiene adalah perawatan kaki, tangan, dan kuku. Faktor yang mempengaruhi personal hygiene pada anak usia sekolah adalah citra tubuh, praktek sosial, status sosial ekonomi, pengetahuan, kebudayaan, kebiasaan seseorang dan kondisi fisik (Perry & Potter, 2005). Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara

16 kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis (Tarwato & Wartonah, 2006). Personal hygiene merupakan perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis (Hidayat, 2014). b. Macam-macam tindakan personal hygiene Kebersihan diri atau personal hygiene merupakan suatu pengetahuan dan usaha kesehatan perorangan dengan cara menjaga kebersihan diri. Kebersihan diri mencakup kebersihan kulit, tangan dan kaki, kuku, rambut, mulut dan gigi, hidung, mata, telinga, pakaian dan kebersihan tangan dan kaki sesudah buang air besar dan air kecil (Siswanto, 2009). Menurut Potter & Perry (2005) macam-macam personal hygiene adalah : 1) Kebersihan kulit Adapun tindakan yang dapat menjaga kebersihan kulit adalah: a) Mandi pakai air bersih Kebersihan kulit dan badan harus dijaga dengan mandi pakai sabun dan air bersih. Kulit adalah salah satu bagian tubuh yang penting. Kulit melindungi tubuh dari infeksi dan benturan dari benda-benda tumpul yang membahayakan bagian dalam dari tubuh. Menjaga kesehatan kulit atau fungsi kulit dengan mandi pakai sabun dan air bersih paling sedikit 2 kali sehari. Badan digosok-

17 gosok sehingga badan tidak berdaki. Tidak mandi dengan air kotor seperti mandi di sungai, kolam dan sebagainya. Mandi dengan air kotor membuat badan kotor, menimbulkan gatal-gatal, penyakit kulit, diare dan lain sebagainya. b) Memakai baju bersih Memakai baju bersih badan terasa nyaman dan enak, terlindung dari berbagai infeksi penyakit. Pakaian memberi pengaruh pada kulit. Kulit terlindung dari gesekan, tekanan, menimbulkan panas dan dalam skala tertentu dapat menahan radiasi. Pakaian dapat menjaga kehangatan tubuh. Baju atau rok dan celana harus dijaga kebersihannya. Berganti pakaian minimal 1 kali setiap hari dan tidak tukarmenukar pakaian dengan anak atau orang lain. Mencuci segera pakaian yang kotor dengan air bersih dan sabun, serta bilas sampai bersih. 2) Kebersihan tangan, kuku dan kaki Menjaga kebersihan tangan, kuku dan kaki merupakan salah satu aspek penting dalam mempertahankan kesehatan badan perorangan. Oleh karena itu, tangan, kuku dan kaki harus dijaga kebersihannya. Kuman penyakit dapat terbawa melalui tangan, kuku dan kaki yang kotor. Tangan, kaki dan kuku yang kotor membawa bibit penyakit. Bibit penyakit dan telur cacing

18 yang mungkin ada dalam tangan atau kuku yang kotor ikut tertelan dan masuk ke dalam tubuh. a) Kebersihan tangan dan kuku Menjaga kebersihan tangan dapat dilakukan dengan cara mencuci tangan, kuku dan kaki pakai sabun. Mencuci tangan pakai sabun dilakukan sebelum makan, setelah dari kamar mandi, bepergian atau bekerja, bermain, memegang atau merawat binatang dan memegang uang. Mencuci tangan pakai sabun dapat mengurangi risiko diare di antara anak-anak lima tahun kebawah hingga 45% dan mengurangi kejadian pneumonia hingga 50%. Sebagian besar masyarakat mengetahui akan pentingnya mencuci tangan pakai sabun, namun dalam kenyataannya masih sangat sedikit, hanya 5% yang tahu bagaimana cara melakukannya dengan benar. Mencuci tangan pakai sabun cukup paling lama 2 menit saja. Motto cukup 2 menit saja menunjukkan untuk cuci tangan tidak memerlukan waktu lama tetapi memiliki dampak besar terhadap pencegahan penyakit menular. Kuku tangan dan kaki harus sering dibersihkan dan dibiasakan untuk beralas kaki (sandal, sepatu). Menjaga kebersihan kuku dapat juga dilakukan dengan memotong pendek kuku.

19 b) Kebersihan kaki Menjaga kebersihan kaki dapat dilakukan dengan cara mencuci kaki secara teratur, di tempat yang kotor harus memakai alas kaki atau sepatu, kuku kaki dipotong pendek dan selalu dibersihkan. 3) Kebersihan mulut dan gigi Menjaga kebersihan mulut dan gigi dapat dilakukan dengan melalui berbagai cara. Menghindari kebiasaan buruk seperti menggigit-gigit sesuatu tanpa sadar (menggigit-gigit jari/kuku, pensil, mengerut-ngerutkan gigi dan lain-lain), serta menghindari bernafas melalui mulut, menggosok gigi dengan air bersih atau matang dengan sikat gigi dan pakai pasta atau odol secara teratur setiap selesai makan dan pada waktu akan tidur. Kebersihan mulut dan gigi yang kurang akan menimbulkan adanya bakteri-bakteri yang akan mempermudah terjadinya peradangan pada gusi, gigi berlubang dan bau mulut yang tidak sedap. 4) Kebersihan hidung, telinga dan mata Hidung, telinga dan mata harus dijaga kebersihannya dengan cara dibersihkan pada saat mandi, menutup hidung dan mulut saat bersin dan saat melewati jalan berdebu, hindari mengusapusap mata, mengkorek-korek telinga dan hidung. Kebersihan hidung perlu dijaga agar tetap berfungsi dengan baik (tidak

20 mampet) dan tetap memiliki daya penciuman yang baik. Telinga perlu dijaga kebersihannya agar tetap memiliki daya dengar yang baik. 5) Kebersihan rambut Rambut adalah bagian tubuh yang harus dijaga kebersihannya. Rambut mempunyai fungsi perlindungan dari panas dan proteksi kepala. Menjaga kebersihan rambut dengan mencuci rambut secara teratur paling sedikit 2 kali dalam seminggu atau setiap rambut kotor dengan air bersih dan menggunakan sabun atau sampho pencuci rambut. Rambut selalu disisir rapi. Rambut yang bersih terbebas dari kuman, kutu atau ketombe. Kulit kepala terasa nyaman serta memperlancar peredaran darah dibawah kulit. Gangguan rambut berupa ketombe dan kutu jika rambut tidak dijaga kebersihannya. c. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Personal Hygiene Menurut Potter & Perry (2005), faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene antara lain : 1) Citra tubuh Penampilan umum seseorang dapat menggambarkan pentingnya hygiene pada orang tersebut. Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang penampilan fisiknya (Potter & Perry, 2005). Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya karena

21 ada perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya (Tarwoto & Wartonah, 2006). 2) Praktik sosial Selama masa kanak-kanak, anak-anak mendapatkan praktik hygiene dari orang tua mereka. Kebiasaan keluarga, jumlah orang dirumah, dan ketersediaan air panas atau air mengalir merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi perawatan kebersihan (Potter & Perry, 2005). Anak-anak yang selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene (Tarwoto & Wartonah, 2006). 3) Status sosial ekonomi Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat praktik kebersihan yang digunakan (Potter & Perry, 2005). Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat-alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya (Tarwoto & Wartonah, 2006). 4) Pengetahuan Pengetahuan tentang pentingnya hygiene dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik hygiene, karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetus militus ia harus selalu menjaga kebersihan kakinya (Tarwoto & Wartonah, 2006).

22 5) Variabel kebudayaan Kepercayaan kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi perawatan hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda mengikuti praktik perawatan diri yang berbeda. Di sebagian masyarakat, apabila individu sakit tertentu maka tidak boleh dimandikan (Tarwato & Wartonah, 2006). 6) Kebiasaan seseorang Setiap individu mempunyai pilihan kapan untuk mandi, bercukur dan melakukan perawatan rambut. Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri, seperti penggunaan sabun, sampo dll (Tarwoto & Wartonah, 2006). 7) Kondisi fisik Pada keadaan sakit, tentu kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya (Potter & Perry, 2005). Kondisi fisik atau psikis, yaitu pada keadaan tertentu atau sakit kemampuan seseorang untuk merawat diri akan berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya (Tarwoto & Wartonah, 2006). d. Dampak yang Sering Timbul pada Masalah Personal Hygiene Kebersihan diri sangatlah penting dalam kehidupan anak. Kebersihan diri yang terjaga dengan baik akan membuat anak

23 menjadi sehat, dan terhindar dari berbagai macam penyakit (Tarwato & Wartonah, 2006). Menurut Tarwato & Wartonah (2006) dampak yang ditimbulkan jika anak tidak menjaga kebersihan diri dengan baik adalah : 1) Dampak fisik Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpelihara kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku. 2) Dampak psikososial Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial 3. Anak Jalanan 1. Pengertian Anak jalanan adalah perempuan dan laki-laki yang menghabiskan sebagaian besar waktunya untuk bekerja atau hidup di jalanan dan tempat-tempat umum, seperti pasar, mall terminal bis, stasiun kereta api, taman kota (Suharto, 2008).

24 Anak jalanan termasuk dalam kategori anak terlantar. Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Anak terlantar adalah anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial. Pada realitas sehari-hari, kejahatan dan eksploitasi seksual terhadap anak sering terjadi. Anak-anak jalanan merupakan kelompok yang paling rentan menjadi korban. Anak-anak yang seharusnya berada di lingkungan belajar, bermain dan berkembang justru mereka harus mengarungi kehidupan yang keras dan penuh berbagai bentuk eksploitasi (Nugroho, 2014). 2. Karakteristik anak jalanan Dari temuan hasil penelitian Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) (2008) dapat diidentifikasi karakteristik anak jalanan kota Semarang sebagai berikut: a. Lebih banyak anak laki-laki (74,51%) daripada anak perempuan (25,49%) b. Sebagian besar muslim (93,14%) sebagian kecil non muslim (6,86% beragama kristen) c. Usia rata-rata 13 tahun, termuda 6 tahun tertua 21 tahun Sebagian besar lahir di wilayah kota Semarang (69,61%), 19,61% lahir diluar wilayah Semarang. Lainnya sebanyak 10,73% tidak dapat menjawab karena tidak tahu dimana dilahirkan

25 d. Profesi yang dijalani sebagian besar serbagai pengamen (60,78%) dan lainnya (39,21%) meliputi: pemintaminta, tukang parkir, jual media masa, membersihkan kereta api, pemulung, membanatu di RPSA. e. Rata-rata di jalanan 6 jam/ hari f. Rata-rata penghasilan Rp19.690,-/hari g. Sebagian besar ke jalanan setiap hari (80,30%) sisanya 19,7% tidak setiap hari h. Sebagian besar saat ini beralamat di kota Semarang (98,04%) dan sisanya diluar kota semarang (1,96%) i. Sebagian besar tidak bersekolah (60,79%) dan lainnya (39,21%) bersekolah, terdiri dari: TK (5%), SD (70%), SLTP (22,5%), dan SLTA (2,5%) j. Lokasi sekolah sebagian besar di kota Semarang (95%), sisanya (5%) diluar kota Semarang k. Sumber biaya sekolah kebanyakan dari orang tua (57,5%), swasta dalam hal ini yayasan (30%), orang tua dan diri sendiri (7,5%), diri sendiri (2,5%) dan pemerintah (2,5%) l. Dari yang bersekolah, 72,5% pernah mendapatkan beasiswa dan 27,5% belum pernah mendapatkan beasiswa. Pihak swasta yang membiayai anak jalanan antara lain yayasan Setara, Yayasan Sugiyo Pranoto dan Yayasan Tunas Harapan.

26 Hasil penelitian Erwin (2013) menunjukkan bahwa karakteristik anak jalanan berdasarkan lamanya waktu anak jalanan melakukan kegiatan di jalanan sekitar delapan jam sampai dengan 12 jam, sekitar 54%; dan sekitar 12 jam sampai dengan 14 jam kurang lebih 32%, dan sekitar 14 % berada di jalanan lebih dari 14 jam. Hasil Penelitian Fajar dan Wati (2012) menunjukkan bahwa kondisi anak jalanan yang ada di Purwokrto ada tiga kategori tindakan anak jalanan yaitu mencari kepuasan, mencari nafkah, dan tindakan asusila. Kegiatan anak jalanan tersebut biasanya dilakukan di tempat mereka mangkal sehari-hari yakni alun-alun, terminal, stasiun, perempatan jalan, pasar, pertokoan dan tempat keramaian lain.anak jalanan di Kabupaten Banyumas khususnya di wilayah Purwokerto, tidak semua berdomisili di Purwokerto. Sebagian dari mereka adalah pendatang dari tetangga kota Purwokerto. Adapun mereka yang asli Purwokerto kebanyakan adalah warga dari Kampung Sri Rahayu atau orang Purwokerto sendiri lebih mengenalnya denga Kampung Dayak. Sementara yang berdomisili di Banyumas adalah anak-anak pemungut koin yang berasal dari Daerah Pageralang. 3. Ciri-ciri anak jalanan Menurut Muis (2010) bahwa anak jalanan memiliki ciri-ciri fisik dan psikis, yaitu sebagai berikut:

27 a. Ciri Fisik 1) Warna kulit kusam 2) Rambut kemerah-merahan 3) Kebanyakan berbadan kurus 4) Pakaian tidak terurus b. Ciri psikis 1) Mobilitas tinggi 2) Acuh tak acuh 3) Penuh curiga 4) Sangat sensitive 5) Berwatak keras 6) Kreatif 7) Semangat hidup tinggi 8) Berani menanggung risiko 9) Mandiri 4. Kelompok anak jalanan Anak jalanan menurut Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (1999) dalam Siregar (2006) dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu: a. Anak-anak yang tidak lagi berhubungan dengan orang tua (children of the street) mereka ini telah mempergunakan fasilitas jalanan sebagai ruang hidupnya. Hubungan dengan keluarga sudah terputus. Kelompok ini disebabkan oleh faktor

28 sosial psikologis keluarga, mereka mengalami kekerasan, penolakan, penyiksaan, dan perceraian orang tua. Umumnya mereka tidak mau kembali ke rumah, kehidupan anak jalanan dan solidaritas sesama temannya telah menjadi ikatan mereka. b. Anak-anak yang berhubungan tidak teratur dengan orang tuanya. Mereka adalah anak yang bekerja di jalanan (children on the street). Mereka sering kali diidentifikasikan sebagai pekerja migrant kota yang pulang tidak teratur kepada orang tuanya di kampung. Pada umumnya mereka bekerja dari pagi sampai sore hari seperti menyemir sepatu, pengasong, pengamen, tukang ojek paying, dan kuli panggul. Tempat tinggal mereka dilingkungan kumuh bersama dengan saudara atau teman-teman senasib. c. Anak-anak yang berhubungan langsung dengan orang tua. Mereka tinggal dengan orang tuanya, beberapa jam di jalanan karena ajakan dari teman, belajar mandiri, membantu orang tua dan disuruh oleh orang tua. Aktivitas mereka yang paling menyolok adalah berjualan koran. d. Anak-anak jalanan yang berusia di atas 16 tahun. Mereka berada di jalanan untuk mencari kerja. Umumnya mereka telah lulus SD bahkan ada yang lulus SLTP. Mereka biasanya kaum urban yang mengikuti orang dewasa (orang tua maupun saudara) ke kota. Pekerjaan mereka biasanya mencuci bus,

29 menyemir sepatu, membawa barang belanjaan (kuli panggul), pengasong, pengamen, pengemis, dan pemulung. 5. Faktor yang mempengaruhi anak menjadi anak jalanan Berdasarkan hasil penelitian LPM (2008) menunjukkan bahwa faktor penyebab menjadi anak jalanan yaitu kemiskinan (83,33%), keretakan keluarga (1,96%), orang tua tidak paham dan tidak memenuhi kebutuhan sosial anak (0,98%) dan Lainnya (13,7%): keinginan sendiri, sering dipukuli orang tua, dan ingin bebas. Hasil penelitian Erwin (2013) menunjukkan bahwa faktor penyebab anak jalanan yaitu sekitar 43% dari anak-anak menyebutkan faktor ekonomi orang tua, yang menjadi alasan kenapa mereka berada di jalanan; faktor perceraian orang tua dan ketidak harmonisan orang tua sekitar 32% sedangkan sisanya faktor lingkungan sosial (pertemanan). Fajar dan Wati (2012) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa alasan anak jalanan turun ke jalan lebih sering dipengaruhi oleh desakan kehidupan keluarga. Beberapa dari mereka turun ke jalan disertai dengan ibu mereka atau bersama kakaknya. Alasan yang ditemui bahwa mereka turun ke jalan karena ingin membantu orang tua mendapatkan penghasilan tambahan. Tidak jarang anakanak dimanfaatkan oleh orang tua untuk mengais rizki karena ternyata profesi ini benar-benar menguntungkan bagi mereka.

30 Pendapatan yang mereka terima dari bekerja dengan cara ini berkisar antara 30 sampai 50 ribu per harinya. Anak-anak disuruh untuk terjun mengemis ataupun mengamen di jalan sementara orang tua mereka mengawasi dari kejauhan. Faktor-faktor yang menyebabkan anak pergi ke jalanan berdasarkan alasan dan penuturan mereka adalah karena kekerasan dalam keluarga, dorongan ekonomi keluarga, ingin bebas, dan ingin memiliki uang sendiri karena pengaruh teman, kemudian kondisi ini diperparah dengan hadirnya kekerasan fisik maupun emosional terhadap anak. Faktor lain yang semakin menjadi alasan anak untuk turun ke jalan adalah faktor ekonomi rumah tangga. Melihat keberadaan anak-anak jalanan dan alasan-alasan yang dikemukakan mereka sehingga mereka hidup dan bekerja di jalanan (Budiyanto, dkk., 2000 dalam Siregar, 2006).

31 4. KERANGKA TEORI Faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene 1. Citra tubuh 2. Praktik sosial 3. Status sosial ekonomi 4. Pengetahuan 5. Kebudayaan 6. Kebiasaan sesorang 7. Kondisi fisik Dampak personal hygiene 1. Dampak fisik 2. Dampak psikososial Faktor-faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan dasar manusia: 1. Penyakit 2. Hubungan yang berarti 3. Konsep diri 4. Tahap pekembangan 5. Struktur keluarga Kebutuhan dasar manusia: 1. Kebutuhan fisiologis 2. Kebutuhan rasa aman 3. Kasih sayang 4. Harga diri 5. Aktualisasi diri Gambaran diri pemenuhan kebutuhan dasar personal hygiene Anak Jalanan Gambar 2.1 Kerangka Teori Sumber: Modifikiasi Walyani (2015), Asmadi (2008), Tarwoto dan Wartonah (2006), Siswanto (2009) dan Potter dan Perry (2005),