STRUKTUR BENTANG LEBAR KABEL

dokumen-dokumen yang mirip
STRUKTUR KABEL: TEKNOLOGI DAN DESAIN 1

Struktur dan Konstruksi Bangunan Bentang Besar ARS 242-3

PENGANTAR KONSTRUKSI BANGUNAN BENTANG LEBAR

BAB VI KONSTRUKSI KOLOM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gedung dalam menahan beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut. Dalam. harus diperhitungkan adalah sebagai berikut :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KAJIAN PEMANFAATAN KABEL PADA PERANCANGAN JEMBATAN RANGKA BATANG KAYU

STRUKTURAL FUNICULAR: KABEL DAN PELENGKUNG

OPTIMALISASI DESAIN JEMBATAN LENGKUNG (ARCH BRIDGE) TERHADAP BERAT DAN LENDUTAN

ELEMEN-ELEMEN STRUKTUR BANGUNAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di dalam perencanaan desain struktur konstruksi bangunan, ditemukan dua

ANALISIS PERBANDINGAN PERILAKU STRUKTUR JEMBATAN CABLE STAYEDTIPE FAN DAN TIPE RADIALAKIBAT BEBAN GEMPA

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Pengertian rangka

BAB III ANALISA PERENCANAAN STRUKTUR

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN

PUNTIRAN. A. pengertian

Pendahuluan. Gambaran Umum Struktur Funicular

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN Umum. Pada dasarnya dalam suatu struktur, batang akan mengalami gaya lateral

BAB I PENDAHULUAN. dengan banyaknya dilakukan penelitian untuk menemukan bahan-bahan baru atau

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut PBI 1983, pengertian dari beban-beban tersebut adalah seperti yang. yang tak terpisahkan dari gedung,

Jembatan Komposit dan Penghubung Geser (Composite Bridge and Shear Connector)

BONDEK DAN HOLLOW CORE SLAB

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pembebanan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. meskipun istilah aliran lebih tepat untuk menyatakan arus lalu lintas dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

STRUKTUR CANGKANG I. PENDAHULULUAN

STUDI ANALISIS DAN EKSPERIMENTAL PENGARUH PERKUATAN SAMBUNGAN PADA STRUKTUR JEMBATAN RANGKA CANAI DINGIN TERHADAP LENDUTANNYA

MODIFIKASI PERANCANGAN JEMBATAN TRISULA MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA DENGAN DILENGKAPI DAMPER PADA ZONA GEMPA 4

BAB II STUDI PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MATERIAL BETON PRATEGANG

D3 TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG BAB II STUDI PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

d b = Diameter nominal batang tulangan, kawat atau strand prategang D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Ek

BAB III LANDASAN TEORI

MODIFIKASI PERENCANAAN JEMBATAN KALI BAMBANG DI KAB. BLITAR KAB. MALANG MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I KOLOM BAJA, BALOK BAJA DAN PLAT LANTAI

plat lengkung atau plat lipat yang tebalnya kecil dibandingkan dengan dimensi

Kuliah ke-6. UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI FAKULTAS TEKNIK Jalan Sudirman No. 629 Palembang Telp: , Fax:

Meliputi pertimbangan secara detail terhadap alternatif struktur yang

Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung. Tugas Akhir

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II DASAR-DASAR DESAIN BETON BERTULANG. Beton merupakan suatu material yang menyerupai batu yang diperoleh dengan

STUDI PEMBUATAN BEKISTING DITINJAU DARI SEGI KEKUATAN, KEKAKUAN DAN KESTABILAN PADA SUATU PROYEK KONSTRUKSI

JURNAL TUGAS AKHIR PERHITUNGAN STRUKTUR BETON BERTULANG PADA PEMBANGUNAN GEDUNG PERKULIAHAN FAPERTA UNIVERSITAS MULAWARMAN

STRUKTUR PERMUKAAN BIDANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERILAKU DAN SISTEM STRUKTUR RANGKA BAJA JEMBATAN

STRUKTUR DAN KONSTRUKSI BANGUNAN IV

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini seiring dengan berkembangnya pengetahuan dan teknologi,

BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

PERBANDINGAN KUAT LENTUR DUA ARAH PLAT BETON BERTULANGAN BAMBU RANGKAP LAPIS STYROFOAM

menahan gaya yang bekerja. Beton ditujukan untuk menahan tekan dan baja

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Perancangan Struktur Atas P7-P8 Ramp On Proyek Fly Over Terminal Bus Pulo Gebang, Jakarta Timur. BAB II Dasar Teori

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bawah, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan serta trotoar.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bab 5 Kesimpulan dan Saran

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB III PEMODELAN STRUKTUR

PERTEMUAN IX DINDING DAN RANGKA. Oleh : A.A.M

BEBAN JEMBATAN AKSI KOMBINASI

Panjang Penyaluran, Sambungan Lewatan dan Penjangkaran Tulangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

REKAYASA PENULANGAN GESER BALOK BETON BERTULANG DENGAN MENGGUNAKAN SENGKANG VERTIKAL MODEL U

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman

Struktur Lipatan. Struktur Lipatan 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. desain untuk pembangunan strukturalnya, terutama bila terletak di wilayah yang

VI. BATANG LENTUR. I. Perencanaan batang lentur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. memikul tekan pada semua beban bekerja distruktur tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. Berbagai inovasi yang ditemukan oleh para ahli membawa proses pembangunan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pergesekan lempeng tektonik (plate tectonic) bumi yang terjadi di daerah patahan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

REKAYASA JALAN REL. MODUL 5 : Bantalan PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

sipil. Kekuatan kayu sebagai bahan untuk struktur dipengaruhi oleh beberapa Kayu dapat menahan gaya tekan yang berbeda-beda sesuai dengan kelas

Ada dua jenis tipe jembatan komposit yang umum digunakan sebagai desain, yaitu tipe multi girder bridge dan ladder deck bridge. Penentuan pemilihan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SAMBUNGAN PADA RANGKA BATANG BETON PRACETAK

DAFTAR NOTASI. A cp. = Luas yang dibatasi oleh keliling luar penampang beton, mm² = Luas efektif bidang geser dalam hubungan balokkolom

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Umum. Berkembangnya kemajuan teknologi bangunan bangunan tinggi disebabkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 PENGUJIAN LABORATORIUM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menahan gaya beban diatasnya. Pondasi dibuat menjadi satu kesatuan dasar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain seperti

KONTROL ULANG PENULANGAN JEMBATAN PRESTRESSED KOMPLANG II NUSUKAN KOTA SURAKARTA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Isi Laporan

sejauh mungkin dari sumbu netral. Ini berarti bahwa momen inersianya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang lebih bawah hingga akhirnya sampai ke tanah melalui fondasi. Karena

2.5.3 Dasar Teori Perhitungan Tulangan Torsi Balok... II Perhitungan Panjang Penyaluran... II Analisis dan Desain Kolom...

MENGGAMBAR RENCANA PELAT LANTAI BANGUNAN

ANALISIS DAN DESAIN STRUKTUR TAHAN GEMPA DENGAN SISTEM BALOK ANAK DAN BALOK INDUK MENGGUNAKAN PELAT SEARAH

Transkripsi:

STRUKTUR BENTANG LEBAR KABEL Pengertian Struktur Kabel Adalah sebuah sistem struktur yang bekerja berdasarkan prinsip gaya tarik, terdiri atas kabel baja, sendi, batang, dsb yang menyanggah sebuah penutup yang menjamin tertutupnya sebuah bangunan. Prinsip konstruksi kabel sudah dikenal sejak zaman dahulu pada jembatan gantung, di mana gaya-gaya tarik digunakan tali. Contoh lainnya adalah tenda-tenda yang dipakai para musafir yang menempuh perjalanan jarak jauh lewat padang pasir. Setelah orang mengenal baja, maka baja digunakan sebagai gantungan pada jembatan. Pada taraf permulaan baja itu dapat berkarat. Pada zaman setengah abad sebelum sekarang, ditemukanlah baja dengan tegangan tinggi yang tahan terhadap karat. Sejerah Singkat Banyak bangunan yang menggunakan struktur funicular. Semula nya struktur kabel yang kita kenal adalah jembatan, mulanya dikembangkan di china, di india, dan amerika selatan adalah struktur funicular tarik. Dari sejarah kita dapat mengenal perkembangan penggunaan kabel sebagai material konstruksi dari generasi ke generasi berikutnya. Banyak pemikiran dan ide yang telah dipublikasikan, bahkan telah menjadi konstruksi yang handal dan mengagumkan. Pembangunan Cable Stayed Brigde menjadi sangat populer dikarenakan kinerja dan biaya konstruksinya ternyata lebih murah dari jembatan gantung. Perkembangan penggunaan kabel baja pada bangunan mencapai puncaknya ketika dibangunnya Munich Olumpic Stadium pada tahun 1972. Demikianlah, saat ini penggunaan kabel baja tidak hanya untuk jembatan ataupun sebagai prategang pada struktur beton, kini para arsitektur mewujudkan ide melalui struktur kabel untuk mewujudkan ruang dalam yang sangat luas tanpa kolom, tetapi tetap mempunyai kesan yang ringan, anggun, transparan dengan bentuknya yang unik. Konsep Jenis-Jenis Sistem Pembebanan Dan Gaya Sistem Stabilisasi Material Struktur

Keuntungan dan Kelemahan Struktur Kabel Keuntungan struktur kabel : GAMBAR 1.1: OLYMPIC STADION MUNICH(1972). 1. Elemen KABEL kabel BAJA merupakan elemen konstruksi paling ekonomis untuk menutup permukaan yang luas. 2. Ringan, meminimalisasi beban sendiri sebuah konstruksi. 3. Memiliki daya tahan yang besar terhadap gaya tarik, untuk bentangan ratusan meter Mengungguli semua sistem lain. 5. Memiliki faktor keamanan terhadap api lebih baik dibandingkan struktur tradisonal yang sering runtuh oleh pembengkokan elemen tekan di bawah temperatur tinggi. Kabel baja lebih dapat menjaga konstruksi dari temperatur tinggi dalam jangka waktu lebih panjang, sehingga mengurangi resiko kehancuran. 6. Dari segi teknik, pada saat terjadi penurunan penopang, kabel segera menyesuaikan diri pada kondisi keseimbangan yang baru, tanpa adanya perubahan yang berarti dari tegangan. 7. Cocok untuk bangunan bersifat permanen. 4. Memberikan efisiensi ruang lebih besar. Kelemahan struktur kabel : Pembebanan yang berbahaya untuk struktur kabel adalah getaran. Struktur ini dapat bertahan dengan sempuna terhadap gaya tarik dan tidak mempunyai kemantapan yang disebabkan oleh pembengkokan, tetapi struktur dapat bergetar dan dapat mengakibatkan robohnya bangunan.

contoh perkembangan kabel pada jembatan: GAMBAR 1.5: Jembatan penyebrangan. Menggunakan bahan dari baja, beton dan sistem kabel Tower Bridge (London, Inggris) GAMBAR 1.3: Jembatan penyebrangan. Menggunakan bahan dari kayu dan bambu GAMBAR 1.6: Jembatan penyebrangan. Menggunakan bahan dari beton dan menggunakan sistem kabel dan di bantu dengan kolom (Millau Bridge, Perancis) GAMBAR 1.5: Jembatan penyebrangan. Menggunakan bahan dari baja, beton dan menggunakan sistem kabel(syney- Harbour Bridge) GAMBAR 1.4: Jembatan penyebrangan. Menggunakan bahan dari kayu, besi, dan menggunak sistem sistem kabel

Sistem Stabilisasi Beberapa sistem stabilisasi yang dapat digunakan untuk mengantisipasi deformasi pada struktur kabel antara lain : 1. Peningkatan beban mati Stabilisasi ini dilakukan dengan penerapan GAMBAR 1.2: KHAN SHATYR DI ASTANA KAZAKHSTAN(2009). material dengan berat yang memadai dan merupakan material yang homogen sehingga diperoleh beban yang terdistribusi merata. 2. Pengaku busur dengan arah berlawanan (inverted arch) Stabilisasi dengan pengaku bususr atau kabel ini berusaha mencapai bentuk yang kaku dengan menambah jumlah kabel sehingga kemudian menghasilkan suatu jaring-jaring (cable net structure). 3. Penggunaan batang-batang pembentang (spreader) Stabilisasi ini menggunakan batang-batang tekan sebagai pemisah antara dua kabel sehingga menambah tarikan internal didalam kabel. 4. Penambatan/pengangkuran ke pondasi (ground anchorage) Sistem ini hanya berlaku bagi kabel karena adanya gayagaya taik yang dinetralisir oleh pondasi sehingga menghasilkan stabilisasi.pada pondasi terjadi tumpuan tarik akibat perlawanan gaya tarik kabel. 5. Metoda prategang searah kabel (masted structure) Ciri utamanya adalah tiang-tiang dan kabel yang secara keseluruhan membentuk suatu struktur kaku. Kabel ditempatkan pada keadaan tertegang dengan jalan memberikan beban yang dialirkan searah kabel

GAMBAR 1.2: KHAN SHATYR DI ASTANA KAZAKHSTAN(2009). struktur kabel berfungsi sebagai "tanpa kolom". (sumber: JENIS-JENIS STRUKTUR KABEL Struktur Kabel Non Pretension Adalah struktur kabel yang tidak diregang sebelum maupun sesudah diberi beban luar, tegangan yang timbul pada kabel hanya diakibatkan oleh berat kabel sendiri dan beban luar, seperti pada contoh yaitu kabel yang tergantung bebas atau dak gantung. Perhitungan statis: Bentuk lengkungan kabel dak gantung sesuai bentuk bidang momen. Av = AH = qxl 2 qx12 8 x I f f = lenturan karena berat sendiri kabel atau lenturan yang dikehendaki. I = bentang konstruksi yang dikehendaki. Lenturan ekonomis (fe) = 1 L 10

Gaya kabel maximum pada perletakan, K max z 1,1 AH F= Kmax/T Panjang kabel yang dibutuhkan, k = l [ 1 + 8 ( fe ] 3 l Lenturan f akan mengalami perubahan karena pembebanan dan temperatur. Contoh: dak gantung dengan k = 100 m, delta t = 30 C, dengan beban q = 1000 kp/cm 2, maka f(q) z 9 cm dan f(t) z 5 cm Jenis-jenis Struktur Kabel non Pretension, yaitu: 1. Kabel vertikal Contoh: kabel pada kran (crane) Gaya yang bekerja hanya gaya yang disebabkan oleh beban gantung, sehingga membentuk kabel menjadi garis vertikal. 3. Kabel Diagonal Contoh: jembatan gantung, atap gantung dan Iainlain. horizontal. Gambar 1 Kabel Vertikal 2. Kabel horizontal Contoh: kabel untuk menarik beban secara Gambar 3 Kabel Diagonal 4. Kabel-kabel parabola a. Balok tepi sejajar Gambar 2 Kabel Horisontal Bila gaya tarik yang bekerja pada kabel benar-benar horizontal, maka kabel akan membentuk garis lurus yang benar- benar horizontal dengan catatan berat sendiri diabaikan. Gambar 4 Balok Tepi Sejajar b. Balok tepi sejajar melengkung ke atas, bersama kabel-kabel gantung membentuk bidang synklastik.

Balok Kestabilan Dengan Balok Melintang Gambar 5 Balok Tepi Sejajar Membentuk Bidang Synklastik c. Balok tepi sejajar melengkung ke bawah, bersama kabel-kabel gantung membentuk bidang antiklastik. Penutup atap dibuat berat. Penutup atap dibuat dari beton yang sekaligus membungkus kabel-kabel. 5. Kabel-kabel radial Balok tepi berbentuk ring yang kaku dengan kabel-kabel yang tergantung bebas dan bertemu di satu titik, katenoid. Gambar 6 Balok Tepi Sejajar Membentuk Bidang Antiklastik Selain bentuk-bentuk balok tepi seperti a, b, dan c diatas, juga boleh digunakan balok tepi berbentuk busur, rangka ruang dan Iain-lain. Pada tiap-tiap kabel ada kemungkinan terjadi deformasi ke segala poros, maka perlu dilakukan penyetabilan dengan salah satu cara di bawah ini: Di atas kabel-kabel diletakan balok-balok melintang. Gambar 7 Struktur Kabel Pretension Struktur Kabel Pretension adalah struktur kabel yang diregang sebelum diberikan beban luar.

Contoh: struktur kabel sistim Jawerth, jaring kabel synklastik tiga dimensional 1. Struktur kabel dimana setiap kabel diregang sebelumnya. Gambar 9 Sistim Jawerth Pada Gelanggang Anggar di Mexico. Gambar 11 Sistem Radial Konstruksi menjadi tegang karena kabel-kabel bagian bawah menarik kabel-kabel bagian atas. Penutup atap dapat menggunakan bahan yang ringan, karena konstruksi sudah stabil. 2. Struktur kabel dengan batang-batang tekan. Gambar 10 Sistem Bidang Datar (Dua Dimensional) Gambar 12 Gambar 13 Sistem Kombinasi Tiga Dimensional Sistem Dengan Kolom Terurai detail Dan Sistem Pengakhiran Kabel Struktur kabel 3D (ruang) membagi pembebanannya melalui elemen tarik seperti halnya pada sistem

rangka batang, dimana resultan gayanya bisa bertemu pada satu titik ataupun dari titik pertemuan ini garis resultan gayanya harus berubah atau berbelok. Yang penting untuk diperhatikan, adalah bahwa pada perancangan struktur kabel, untuk semua kombinasi pembebanan seluruh kabel berada dalam keadaan tarik. 4 Struktur Kabel: Teknologi dan Desain (Hardjasaputra) Karena elemen-elemen struktur kabel ini umumnya tidak selalu bersilangan secara orthogonal, diperlukan desain bentuk dari titik pertemuan antara kabel. Setiap titik pertemuan dari kabel selain harus memenuhi syarat kekuatan dan kemudahan pemasangan, juga harus dipertimbangkan secara estetika. Sesuai fungsinya titik pertemuan dari kabel-kabel tersebut dapat dikategorikan dalam beberapa bentuk simpul untuk persilangan dari 2 atau 4 kabel. Sifat dari pemegang persilangan ini dapat dibedakan dalam 2 sistem, yaitu: sistem di mana sifat persilangan tidak dapat berotasi (fix) dan sistem dimana persilangan masih dapat bergeser dan berotasi (Gambar 7). Gambar 7. Berbagai Bentuk Simpul untuk Persilangan Kabel (Schulitz et al. 1999) Dudukan Untuk Pelengkung Kabel Sesuai dengan fungsinya resultan gaya pada kabel utama harus pula dapat dibelokkan. Sebagai lintasan dari pembelokan kabel utama umumnya digunakan konstruksi dudukan berbentuk pelana dengan radius tertentu (Gambar 8). Gambar 8.Konstruksi untuk Dudukan Lintasan Pembelokan Kabel Utama (Holgates 1997) Sedangkan bila diperlukan perubahan arah gaya di mana sudut beloknya kecil dan panjang kabelnya terbatas, maka direncanakan dengan sistem di mana kabel-kabel tersebut diputus pada daerah tersebut, untuk kemudian kabel-kabel tersebut akan bertemu pada konstruksi pelat simpul 3D (Gambar 9). Gambar 9. Konstruksi Simpul 3D Pertemuan Kabel Utama (Holgates 1997) Pengangkuran Seperti sudah dijelaskan, pemberian gaya prategang pada jaringan kabel dilakukan dengan menarik kabel utama pada ujung-ujungnya. Untuk itu diperlukan pengangkuran dan penarikan pada kabel utama. Ketiga tipe detil dari bentuk pertemuan ini merupakan aspek teknis yang harus dirancang dan diuji terlebih dahulu. Saat ini, untuk beberapa detail standar sudah tercantum dalam standard DIN. Jurnal Teknik Sipil, Vol. 3, No. 1, Januari 2006 5 Tipe Kabel Kabel sesuai dengan keperluannya, terdiri dari berbagai macam tipe. Menurut standard DIN 18 800 semua kabel yang digunakan untuk struktur bangunan dikategorikan sebagai high tensile members. Secara umum kabel-kabel tersebut mempunyai kekuatan rencana yang lebih tinggi dari pada batang tarik baja, sehingga dengan luas penampang yang sama dapat memikul beban lebih besar. Tetapi modulus elastisitas kabel adalah antara E = 155.000 N/mm2 sampai E = 165.000 N/mm2, jelas lebih rendah dari pada modulus elastisitas yang dipakai untuk batang tarik baja (E = 210.000 N/mm2). Ada pula kabel yang mempunyai lapisan krom dan nikel, agar bersifat tahan terhadap karat. Untuk keperluan konstruksi bangunan, dikenal 3 tipe penampang kabel, yaitu spiral strands, full locked coil cables dan structural wire ropes (Gambar 10). Gambar 10. Berbagai Tipe Kabel Konstruksi (spiral strands, full locked coil cables dan structural ropes) Spiral strands terutama digunakan untuk bangunan di mana bebannya relatif kecil seperti untuk pendukung antena telekomunikasi, cerobong asap, ikatan angin (bracing) pada jaringan kabel, struktur kayu dan baja. Spriral strands diproduksi dengan diameter antara 5 mm sampai 40 mm. Spiral strands hanya terdiri dari kawat-kawat yang berpenampang lingkaran, akibat adanya celah-celah spiral strand dikelompokkan pada

material yang kurang tahan terhadap bahaya korosi. Full locked coil cables terutama digunakan sebagai kabel utama pada berbagai konstruksi, antara lain kabel utama pada suspension bridge dan stay cables bridge, kabel tepi pada jaringan kabel. Sifat-sifat khusus dari full locked coil cables, adalah: Mempunyai E modulus yang tinggi Permukaan kabel mempunyai daya tahan tinggi Permukaan kabel tertutup, sehingga tahan terhadap bahaya korosi Penampang kabel bagian dalam atau bagian inti terdiri dari kawat-kawat dengan penampang lingkaran, sedangkan bagian luar, penampangnya berbentuk Z. Structural wire ropes, terutama digunakan sebagai kabel tepi pada struktur membran (textile structure). Kabel ini terdiri dari beberapa strands, sehingga sifatnya fleksibe