Biji kakao AMANDEMEN 1

dokumen-dokumen yang mirip
Kayu gergajian Bagian 3: Pemeriksaan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari hasil penentuan mutu biji kakao yang diperoleh dengan berdasarkan uji

Susu segar-bagian 1: Sapi

Gaharu SNI 7631:2011. Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan

Sekilas tentang Standar Nasional Indonesia: Biji kopi; Biji kakao; dan Rumput laut

Mesin pemecah biji dan pemisah kulit kakao - Syarat mutu dan metode uji

Kulit masohi SNI 7941:2013

Kayu lapis indah jenis jati Bagian 1: Klasifikasi, persyaratan dan penandaan

SNI Standar Nasional Indonesia. Mete gelondong. Badan Standardisasi Nasional ICS

Bibit rumput laut kotoni (Eucheuma cottonii )

Metode uji residu aspal emulsi dengan penguapan (ASTM D , IDT)

Analisis kadar abu contoh batubara

Bibit sapi potong Bagian 1: Brahman Indonesia

Cara uji fisika Bagian 2: Penentuan bobot tuntas pada produk perikanan

Cara uji sifat tahan lekang batu

Metode uji persentase partikel aspal emulsi yang tertahan saringan 850 mikron

Metode uji penentuan persentase butir pecah pada agregat kasar

Semen portland komposit

Cara uji kadar air total agregat dengan pengeringan

Cara uji daktilitas aspal

Atmosfer standar untuk pengondisian dan/atau pengujian - Spesifikasi

Kayu bundar jenis jati Bagian 3: Pengukuran dan tabel isi

Air dan air limbah Bagian 10: Cara uji minyak nabati dan minyak mineral secara gravimetri

Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis, Valenciences) - Bagian 2: Benih

Spesifikasi aspal emulsi kationik

Metode uji penentuan campuran semen pada aspal emulsi (ASTM D , IDT)

Cara uji kuat tarik tidak langsung batu di laboratorium

Kawat baja tanpa lapisan untuk konstruksi beton pratekan (PC wire / KBjP )

Cara uji berat jenis aspal keras

Metode uji pengendapan dan stabilitas penyimpanan aspal emulsi (ASTM D , MOD.)

Bambu lamina penggunaan umum

Bibit niaga (final stock) umur sehari/kuri (day old chick) Bagian 2: Ayam ras tipe petelur

Cara uji kandungan udara dalam beton segar dengan metode tekan

SNI 4482:2013 Standar Nasional Indonesia Durian ICS Badan Standardisasi Nasional

Metode penyiapan secara kering contoh tanah terganggu dan tanah-agregat untuk pengujian

Sosis ikan SNI 7755:2013

ZULISTIA Air dan air limbah Bagian 80: Cara uji warna secara spektrofotometri SNI :2011

Bibit induk (parent stock) umur sehari/kuri (day old chick) Bagian 1: Ayam ras tipe pedaging

Cara uji kemampuan penyelimutan dan ketahanan aspal emulsi terhadap air

Terasi udang SNI 2716:2016

Kayu bundar Bagian 2: Pengukuran dan tabel isi

Udara ambien Bagian 10: Cara uji kadar karbon monoksida (CO) menggunakan metode Non Dispersive Infra Red (NDIR)

Sarden dan makerel dalam kemasan kaleng

Air demineral SNI 6241:2015

Air mineral SNI 3553:2015

Rambu evakuasi tsunami

Kayu lapis - Klasifikasi. Plywood - Classification

Metode uji penentuan ukuran terkecil rata-rata (UKR) dan ukuran terbesar rata-rata (UBR) butir agregat

Tata cara pengambilan contoh uji campuran beraspal

Cara uji penetrasi aspal

Cara uji titik lembek aspal dengan alat cincin dan bola (ring and ball)

Tuna dalam kemasan kaleng

Minyak terpentin SNI 7633:2011

Perpustakaan umum kabupaten/kota

Produksi bibit rumput laut kotoni (Eucheuma cottonii) Bagian 1: Metode lepas dasar

Air mineral alami SNI 6242:2015

Mesin pemecah buah dan pemisah biji kakao - Syarat mutu dan metode uji

Cara uji CBR (California Bearing Ratio) lapangan

Tata cara pemasangan lembaran bitumen bergelombang untuk atap

Cara uji geser langsung batu

Tata cara perhitungan evapotranspirasi potensial dengan panci penguapan tipe A

Alat pemadam kebakaran hutan-pompa punggung (backpack pump)- Unjuk kerja

Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis, Valenciences) - Bagian 1: Induk

Ikan bawal bintang (Trachinotus blochii, Lacepede) Bagian 3: Benih

SNI Standar Nasional Indonesia. Biji kopi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. cokelat berasal dari hutan di Amerika Serikat. Jenis tanaman kakao ada berbagai

Ikan lele dumbo (Clarias sp.) Bagian 2 : Benih

Metode uji bahan yang lebih halus dari saringan 75 m (No. 200) dalam agregat mineral dengan pencucian (ASTM C , IDT)

Ikan lele dumbo (Clarias sp.) Bagian 3 : Produksi induk

Bibit sapi perah holstein indonesia

Cara uji kuat lentur beton normal dengan dua titik pembebanan

Spesifikasi agregat untuk lapis fondasi, lapis fondasi bawah, dan bahu jalan

Spesifikasi aspal keras berdasarkan kelas penetrasi

Semen beku Bagian 3 : Kambing dan domba

SNI 7827:2012. Standar Nasional Indonesia. Papan nama sungai. Badan Standardisasi Nasional

Metode uji partikel ringan dalam agregat (ASTM C ,IDT.)

Telur ayam konsumsi SNI 3926:2008

Bibit sapi potong - Bagian 3 : Aceh

Siomay ikan SNI 7756:2013

Biji mete kupas (cashew kernels)

Cara uji kekakuan tekan dan kekakuan geser bantalan karet jembatan

Pengemasan benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada sarana angkutan darat

Pupuk kalium klorida

Tata cara penentuan kadar air batuan dan tanah di tempat dengan metode penduga neutron

Baja tulangan beton SNI 2052:2014

Tuna loin segar Bagian 2: Persyaratan bahan baku

Cara uji penyulingan aspal cair

Spesifikasi saluran air hujan pracetak berlubang untuk lingkungan permukiman

SNI 4230:2009. Standar Nasional Indonesia. Pepaya

Semen cair babi SNI 8034: Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di dan tidak untuk di

Metode uji untuk analisis saringan agregat halus dan agregat kasar (ASTM C , IDT)

Ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch 1790) Bagian 1: Induk

Bibit babi Bagian 4 : Hampshire

Pengemasan benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada sarana angkutan udara

Alat penyuling minyak atsiri - Bagian 1 : Sistem kukus Syarat mutu dan metode uji

Ikan bawal bintang (Trachinotus blochii, Lacepede) Bagian 1: Induk

Metode uji CBR laboratorium

Kertas, karton dan pulp Cara uji kadar abu pada 525 o C

Embrio ternak - Bagian 1: Sapi

Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat

Transkripsi:

Standar Nasional Indonesia Biji kakao AMANDEMEN 1 ICS 67.140.30 Badan Standardisasi Nasional

Copyright notice Hak cipta dilindungi undang undang. Dilarang menyalin atau menggandakan sebagian atau seluruh isi dokumen ini cara dan dalam bentuk apapun dan dilarang mendistribusikan dokumen ini baik secara elektronik maupun hardcopy tanpa izin tertulis dari BSN BSN Gd. Manggala Wanabakti Blok IV, Lt. 3,4,7,10. Telp. +6221 5747043 Fax. +6221 5747045 Email: dokinfo@bsn.go.id www.bsn.go.id Diterbitkan di Jakarta

Prakata Dokumen ini merupakan Amandemen 1 (satu) dari SNI 23232008 Biji kakao. Amandemen ini meliputi istilah dan definisi, syarat mutu dan lampiran. Amandemen ini telah disepakati dalam rapat konsensus pada tanggal 8 Januari 2010 yang dihadiri oleh anggota PT 6503 Pertanian dan selanjutnya diusulkan oleh Panitia Teknis pada tanggal 12 Januari 2010 untuk ditetapkan menjadi amandemen pertama dari SNI ini. Amandemen ini telah melalui proses pemungutan suara pada tanggal 22 Januari 2010 22 Maret 2010 hasil akhir RASNI. i

Amandemen meliputi: 1. Pada halaman 2 dari 37 3.9 biji berkecambah Biji kakao AMANDEMEN 1 semula : biji kakao yang kulitnya telah pecah atau berlubang karena pertumbuhan lembaga biji kakao yang telah berkecambah atau yang telah lepas kecambahnya ditandai adanya lubang 2. Pada halaman 2 dari 37 3.10 biji tidak terfermentasi (biji slaty) semula : Pada kakao lindak memperlihatkan separuh atau lebih permukaan irisan keping biji berwarna keabuabuan seperti sabak atau biru keabuabuan bertekstur padat dan pejal dan pada kakao mulia permukaannya berwarna putih kotor pada biji kakao lindak memperlihatkan separuh atau lebih permukaan irisan keping biji berwarna ungu, keabuabuan seperti sabak atau biru keabuabuan bertekstur padat serta pejal, dan pada biji kakao mulia permukaannya berwarna putih kotor 3. Pada halaman 3 dari 37 5.1 Syarat umum semula : Tabel 1 Persyaratan mutu No Jenis uji Satuan Persyaratan 1 2 3 4 Serangga hidup Kadar air Biji berbau asap dan atau hammy dan atau berbau asing Kadar benda asing % fraksi massa tidak ada maks. 7,5 tidak ada tidak ada Tabel 1 Persyaratan mutu No Parameter Satuan Persyaratan 1 2 3 % Tidak ada Maks. 7,5 Tidak ada 4 5 Serangga hidup Kadar air (b/b) Biji berbau asap dan atau hammy dan atau berbau asing Kadar benda asing (b/b) pecah (b/b) % % Tidak ada Maks. 2 1 dari 3

5.2 Syarat khusus Mulia (Fine Jenis mutu Lindak (Bulk berjamur Tabel 2 Persyaratan mutu slaty Persyaratan berserangga (biji/biji ) Satuan dalam persen Kadar kotoran waste berkecam bah I F I B Maks. 2 Maks. 3 Maks. 1 Maks. 1,5 Maks. 2 II F II B Maks. 4 Maks. 8 Maks. 2 Maks. 2,0 Maks. 3 III F III B Maks. 4 Maks. 20 Maks. 2 Maks 3,0 Maks. 3 Mulia (Fine I F II F III F Jenis mutu Lindak (Bulk I B II B III B berjamur Tabel 2 Persyaratan mutu slaty Persyaratan berserangga (biji/biji ) Satuan dalam persen Kadar kotoran waste (b/b) berkecam bah Maks. 2 Maks. 3 Maks. 1 Maks. 1,5 Maks. 2 Maks. 4 Maks. 8 Maks. 2 Maks. 2,0 Maks. 3 Maks. 4 Maks. 20 Maks. 2 Maks 3,0 Maks. 3 2 dari 3

4. Pada halaman 8 dari 37 9 Syarat penandaan Produksi Indonesia Nama barang/no. kemasan/kode partai (lot) Jenis mutu Nama/kode/eksportir/importir Berat kotor/berat bersih Tujuan menjadi: Nama produsen Nama barang/no. kemasan/kode partai (lot) Jenis mutu Nama/kode/eksportir/importir Berat kotor/berat bersih Tujuan 5. Pada halaman 9 dari 37 halaman 36 dari 37 Lampiran A Lampiran O merupakan lampiran normatif menjadi: merupakan lampiran informatif 6. Pada halaman 36 dari 37 Lampiran O Penentuan residu pestisida Penentuan residu pestisida sesuai metode pengujian pestisida dalam hasil pertanian yang diterbitkan tahun 1997 oleh Komisi Pestisida (Kompes) Departemen Pertanian. menjadi: Penentuan residu pestisida sesuai metode pengujian pestisida dalam hasil pertanian yang diterbitkan tahun 2004 oleh Ditjen Tanaman Pangan, Departemen Pertanian atau revisinya. 3 dari 3