13 HASIL DAN PEMBAHASAN Sinkronisasi Estrus dan Waktu Ovulasi Folikel Untuk sinkronisasi estrus dan induksi ovulasi dilakukan pemberian PGF 2α sebanyak 2 ml i.m dan hcg 1500 IU. Hasil seperti tertera pada tabel 3. Beberapa parameter yang diukur meliputi diameter CL, diameter folikel, onset dan lamanya estrus serta interval ovulasi. Tabel 3 Data hasil pengamatan sinkronisasi estrus dan waktu ovulasi folikel Parameter Rata-rata ± SD Diameter CL (cm) Awal perlakuan PGF 2α 2.17 ± 0.15 Awal perlakuan hcg 1.77 ± 0.45 Hari sebelum ovulasi 0.83 ± 0.32 Diamater folikel ovulasi (cm) Awal perlakuan PGF 2α 2.63 ± 0.06 Awal perlakuan hcg 3.27 ± 0.12 Maksimal 4.50 ± 0.52 Hari sebelum ovulasi 4.50 ± 0.52 Estrus (hari) Interval awal perlakuan PGF 2α hingga onset estrus 1.33 ± 0.58 Lama estrus 4.00 ± 1.00 Interval mencapai ovulasi Awal perlakuan PGF 2α (hari) 5.33 ± 1.15 Awal perlakuan hcg (jam) 66.67 ± 10.07 Diameter CL pada saat awal perlakuan PGF 2α adalah 2.17 ± 0.15 cm, sedangkan pada saat awal perlakuan hcg adalah 1.77 ± 0.45 cm. 1 hari sebelum ovulasi diameter CL mencapai 0.83 ± 0.32 cm. Diameter folikel terbesar (DF) pada saat awal perlakuan PGF 2α adalah 2.63 ± 0.06 cm, sedangkan pada awal perlakuan hcg adalah 3.27 ± 0.12 cm. Diameter folikel terbesar dicapai 1 hari sebelum ovulasi mencapai rata-rata 4.50 ± 0.52 cm. Hal ini sedikit berbeda dengan penelitian Bergfelt et al. (2007) yang melaporkan bahwa rata-rata diameter folikel terbesar pada saat awal perlakuan PGF 2α adalah 2.27 ± 0.19 cm, sedangkan pada awal perlakuan hcg adalah 3.15 ± 0.15 cm dan diameter folikel sebelum ovulasi adalah 3.65 ± 0.1 cm.
14 Rata-rata interval awal perlakuan PGF 2α hingga onset estrus adalah 1.33 ± 0.58 hari, dengan rata-rata lama estrus 4.00 ± 1.00 hari. Interval mencapai ovulasi dari awal perlakuan PGF 2α adalah 5.33 ± 1.15 hari, sedangkan dari awal perlakuan hcg adalah 66.67 ± 10.07 jam. Hasil penelitian ini kurang sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Samper (2008), yang telah melaporkan bahwa onset estrus dan ovulasi akan terjadi dalam kurun waktu 3-4 hari dan 8-10 hari setelah perlakuan PGF 2α. Namun demikian, Samper (2008) melaporkan bahwa kisaran antara awal penyuntikan PGF 2α sampai dengan onset estrus dan tercapainya ovulasi dapat berkisar antara 48 jam sampai dengan 12 hari, tergantung dari diameter folikel yang akan ovulasi pada saat penyuntikan dilakukan. Samper et al. (1993) juga menjelaskan bahwa perbedaan onset estrus akan terjadi jika pada saat PGF 2α terdapat folikel yang tumbuh dan berukuran besar, kemungkinan akan terjadi ovulasi dalam 72 jam setelah perlakuan, tanpa adanya tanda estrus yang nampak jelas. Sebaliknya, jika folikel telah mencapai diameter maksimalnya selama fase luteal, maka folikel ini akan mengalami regresi. Selanjutnya akan terjadi perekrutan folikel-folikel yang baru sehingga estrus dan ovulasi akan tertunda. Gastal et al. (2006) melaporkan bahwa penyuntikan 1500 IU hcg pada saat diameter folikel terbesar mencapai 35 mm akan menyebabkan ovulasi folikel 44.0 ± 1.0 jam setelah perlakuan. Pengamatannya menunjukkan bahwa ovulasi berlangsung lebih cepat dibandingkan penelitian ini. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh diameter folikel pada saat awal perlakuan hcg yang berbeda. Dinamika Ovarium dan Tingkah Laku Estrus Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan ultrasonografi setiap hari pada waktu yang sama pada 3 ekor kuda, maka didapatkan dinamika ovarium yang meliputi perkembangan dan regresi folikel dan CL yang terdiri atas gelombang-gelombang folikel, serta kaitannya dengan scoring tingkah laku estrus yang terjadi selama 1 siklus estrus. Untuk lebih jelas dan rinci dapat dilihat pada grafik-grafik berikut:
15 Gambar 2 Dinamika ovarium dan skor estrus pada kuda A-Siklus I. Siklus estrus berlangsung 28 hari dengan tiga gelombang folikel. Skor estrus mencapai 3 saat menjelang ovulasi. Gambar 3 Kelas folikel pada kuda A-Siklus I. Pertumbuhan folikel kelas I teramati pada H1 sampai dengan H9. Pertumbuhan folikel kelas II teramati pada H15 sampai dengan H25. Tidak ada folikel yang mencapai kelas III. Kuda A pada siklus I, panjang siklus estrus adalah 28 hari dengan dengan lama estrus 4 hari dan 3 gelombang folikel. Siklus ini berlangsung lebih lama dibandingkan pengamatan Ginther (2002) bahwa panjang siklus maksimal berlangsung 24 hari. Pertumbuhan gelombang folikel pertama teramati mulai hari
16 ke-2 setelah ovulasi. Gelombang folikel ditandai dengan adanya folikel berdiameter 1.5 cm berjumlah 7 folikel, Jumlah folikel kelas I terus meningkat sampai 13 folikel pada hari ke-9. Folikel dominan (DF) pada gelombang pertama mencapai diameter maksimal pada hari ke-3 dengan diameter 2.3 cm. Diameter folikel tersebut lebih kecil dibandingkan temuan Ginther (1993) yang melaporkan bahwa diameter folikel terbesar pada saat gelombang pertama mencapai 2.8 cm. Pertumbuhan CL tidak memiliki pola yang sama dimana diameter pasca ovulasi adalah 3.3 cm dan terus menurun hingga mencapai 1.4 cm pada saat menjelang ovulasi. Namun demikian gambaran ultrasonografi menunjukkan gradasi warna dari hypoechoic menjadi hyperechoic hal ini menunjukkan terbentuknya sel luteal tidak disertai peningkatan diameter CL. Gambaran tersebut bersesuaian dengan hasil pengamatan Bergfelt dan Adams (2007) bahwa gradasi warna gambaran ultrasonografi berkaitan dengan pembentukan jaringan luteal. Gelombang folikel kedua teramati mulai hari ke-9 dengan DF mencapai diameter 2.0 cm pada hari ke-12. Pada gelombang folikel kedua ini peningkatan jumlah folikel kelas I tidak teramati. Namun demikian folikel kelas II mengalami peningkatan jumlah mencapai 3 folikel pada hari ke-18. DF gelombang kedua tidak berkembang dan cenderung statis. Hal ini terjadi karena CL tidak mengalami lisis sampai hari ke-18 siklus estrus sehingga tidak terjadi LH surge sehingga tidak terjadi ovulasi DF gelombang kedua (Noguiera 2004). Selanjutnya teramati kemunculan gelombang folikel ketiga ditandai dengan peningkatan folikel kelas II pada hari ke-19. DF tumbuh mencapai diameter maksimal menjelang ovulasi adalah 3.2 cm dengan Folikel Subordinat (SF) mencapai 2.2 cm. Diameter DF lebih kecil dibandingkan temuan Noguiera (2004) yang melaporkan bahwa diameter DF mencapai 3.8 cm sebelum ovulasi. Pada saat DF mencapi 3.1 cm estrus mulai terlihat dengan skor 1 dan mencapai skor 3 saat menjelang ovulasi.
17 Gambar 4 Dinamika ovarium dan skor estrus pada kuda A-Siklus II. Siklus estrus berlangsung 19 hari dengan tiga gelombang folikel. Skor estrus mencapai 4 saat menjelang ovulasi. Gambar 5 Kelas folikel pada kuda A-Siklus II. Pertumbuhan folikel kelas I teramati pada hari pertama sampai dengan hari ke-4 dan pada H16 sampai dengan H19. Pertumbuhan folikel kelas II teramati pada H10 sampai dengan H16. Hanya ditemukan satu folikel kelas III pada H16 sampai dengan H19. Sementara pada siklus II dari kuda A, panjang siklus estrus adalah 19 hari dengan lama estrus 7 hari dan 3 gelombang folikel, siklus estrus lebih pendek dengan lama estrus yang lebih panjang dari siklus I. Siklus ini berlangsung lebih pendek dengan temuan Ginther (1992) bahwa siklus estrus pada kuda adalah 21 hari, sedangkan lama estrus lebih pendek dari pengamatan Shirazi et al. (2004)
18 pada kuda Caspian, yaitu 8 hari. Gelombang folikel pertama mulai teramati pada hari pertama setelah ovulasi. Kemunculannya ditandai dengan ditemukannya 16 folikel berdiamater 1.5 cm dan terus meningkat hingga sejumlah 20 folikel pada hari ke-4. DF gelombang pertama diawali dengan diameter folikel terbesar 2.0 cm dan SF 1.8 cm. Pertumbuhan gelombang kedua dimulai pada hari ke-5. DF mencapai diameter 1.5 cm. Folikel kelas I masih dalam kisaran jumlah 20 folikel, dan mulai hari ke-10 teramati peningkatan jumlah folikel kelas II hingga mencapai 5 folikel pada hari ke-12. DF mencapai diameter maksimal 2.4 cm pada hari ke-12. Selanjutnya gelombang folikel ketiga dimulai pada hari ke-13, bersamaan dengan pertumbuhan DF berdiamater 3.0 cm dan berlanjut sampai dengan terjadi ovulasi pada hari ke-19 dengan diameter maksimal DF 5.2 cm. Diameter DF lebih besar dari temuan Cuervo-Arango dan Newcombe (2008) yang melaporkan bahwa pada kuda-kuda sport, seperti Warmblood dan Thoroughbred di UK, diameter DF sebelum ovulasi hanya mencapai 4.6 cm. Pertumbuhan folikel kelas II sejumlah 6 folikel teramati pada gelombang ini, sementara folikel kelas III teramati mulai hari ke-16 sejumlah satu folikel, dan folikel kelas I juga teramati pada hari yang sama sejumlah 10 folikel hingga mencapai 16 folikel pada hari ke-19. Estrus dengan skor 1 mulai teramati pada hari ke-13 pada saat DF mencapai 3.0 cm dan mencapai skor 4 pada saat menjelang ovulasi. Pola pertumbuhan CL hampir sama dengan siklus I, dimana diameter CL pada saat hari pertama setelah ovulasi maencapai 3.2 cm dan terus menurun hingga 0.8 cm pada saat menjelang ovulasi.
19 Gambar 6 Dinamika ovarium dan skor estrus pada kuda A-Siklus III. Siklus estrus berlangsung 25 hari dengan 3 gelombang folikel. Skor estrus mencapai3 saat menjelang ovulasi. Gambar 7 Kelas folikel pada kuda A-Siklus III. Pertumbuhan folikel kelas I teramati pada H2 sampai dengan H9 dan pada H16. Pertumbuhan folikel kelas II teramati pada H11 sampai dengan H25. Tidak ada folikel yang mencapai kelas III. Kuda A pada siklus III, panjang siklus estrus 25 hari dengan lama estrus 6 hari, dan 3 gelombang folikel. Siklus ini lebih pendek dari siklus I, namun lebih panjang dari siklus II. Hal ini lebih panjang dari temuan Shirazi et al. (2004) pada kuda Caspian, yaitu 22 hari. Gelombang folikel pertama diawali dengan pertumbuhan DF berdiamater 1.6 cm dan mencapai diameter maksimal 1.9 cm
20 pada hari ke-6. Pertumbuhan folikel kelas I teramati mulai hari pertama sejumlah 16 folikel dan terus meningkat mencapai 20 folikel pada hari ke-9. Pertumbuhan CL menunjukkan pola yang sama dengan siklus I dan II, dimana diameter setelah ovulasi 3.5 cm dan terus menurun hingga 0.8 cm pada saat menjelang ovulasi. Gelombang folikel kedua teramati mulai hari ke-7 dengan diameter DF 1.4 cm dan mencapai 1.6 pada hari ke-15. Pada gelombang kedua ini peningkatan jumlah folikel kelas I tidak teramati. Namun demikian peningkatan jumlah folikel kelas II mulai teramati pada hari ke-11 sejumlah 1 folikel dan mencapai 2 folikel pada hari ke-15. DF gelombang kedua tidak berkembang dan cenderung statis. Hal ini dikarenakan CL baru mengalami regresi pada hari ke-16 bersamaan dengan munculnya gelombang ketiga. Gelombang ketiga ini muncul pada hari ke- 16. Ditandai dengan diameter DF mencapai 3 cm dan terlihat CL mulai mengalami regresi. Pada gelombang ketiga ini juga teramati dua kali peningkatan jumlah folikel kelas I hingga mencapai 12 folikel pada hari ke-17 dan 21. Jumlah folikel kelas II juga meningkat hingga mencapai 4 folikel pada hari ke-21. DF cenderung statis dengan diameter 3.0 cm hingga menjelang ovulasi. Diameter DF lebih kecil dari temuan Gastal et al. (1997) bahwa diameter DF menjelang ovulasi adalah 3.7 cm. Pada saat DF berdiamater 3.4 estrus mulai terlihat dengan skor 1 pada hari ke-20 hingga mencapai skor 3 saat menjelang ovulasi pada hari ke-25. Berdasarkan hasil pengamatan pada kuda A didapatkan 3 siklus estrus dengan masing-masing panjang siklus 28, 19, dan 25 hari, dengan lama estrus masing-masing 4, 7, dan 6 hari, sehingga didapatkan rata-rata panjang siklus untuk kuda A adalah 24 ± 4.58 hari dengan lama estrus 5.67 ± 1.53 hari. Jika dibandingkan dengan temuan Shirazi et al. (2002) pada kuda Caspian yang dilaporkan memiliki panjang siklus estrus 22 hari dengan lama estrus 8 hari, maka panjang siklus estrus kuda A lebih panjang, namun lama estrus lebih singkat. Sementara itu gelombang folikel yang muncul pada masing-masing siklus estus adalah 3 gelombang folikel. Diameter DF sebelum ovulasi pada masingmasing siklus adalah 3.8, 5.2, dan 3 cm, sehingga rata-rata diameter DF kuda A adalah 4.0 ± 1.1 cm. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bergfelt dan Adams (2007) bahwa rata-rata diameter maksimum folikel ovulasi adalah 4 sampai dengan 4.5 cm pada beberapa kuda tipe tunggang, seperti Quarter, Arab, dan Thoroughbred,
21 namun demikian kisarannya cukup luas (3 sampai 7 cm). Selanjutnya Bergfelt dan Ginther (1996) mengemukakan bahwa perbedaan bangsa dan tipe kuda mengindikasikan adanya perbedaan rata-rata diameter folikel pada saat menjelang ovulasi. ovulasi Gambar 8 Dinamika ovarium dan skor estrus pada kuda B. Siklus estrus berlangsung 28 hari dengan dua gelombang folikel. Skor estrus mencapai 4 saat menjelang ovulasi. Gambar 9 Kelas folikel pada kuda B. Pertumbuhan folikel kelas I teramati pada H4 sampai dengan H5 dan pada H19 sampai dengan H22. Pertumbuhan folikel kelas II teramati pada H13. Tidak ada folikel yang mencapai kelas III.
22 Kuda B, panjang siklus estrus adalah 28 hari dengan lama estrus 8 hari dan 2 gelombang folikel. Siklus estrus ini berlangsung lebih lama dibandingkan pengamatan Ginther (2002) bahwa panjang siklus estrus maksimal berlangsung 24 hari. Pertumbuhan gelombang folikel tidak teramati pada gelombang yang pertama, karena jumlah folikel kelas I cenderung statis pada kisaran 6 folikel. Diameter maksimal DF pada gelombang pertama adalah 2.0 cm yang dicapai pada hari ke-1 dan ke-2, selanjutnya terus menurun sampai dengan 1.0 cm pada hari ke- 5. Diameter folikel tersebut lebih kecil dibandingkan temuan Ginther (1993) yang melaporkan bahwa diameter folikel terbesar pada saat gelombang pertama mencapai 2.8 cm. Pertumbuhan folikel kelas I baru teramati pada hari ke-5 seiring dengan munculnya gelombang folikel yang ke-2, ditandai dengan adanya folikel kelas I berjumlah 11 folikel. Keadaan ini berangsur-angsur berkurang hingga hanya terdapat 6 folikel kelas I pada hari ke-19. Selanjutnya terjadi lagi peningkatan jumlah folikel kelas I mulai hari ke-20 hingga mencapai maksimal pada hari ke-24 sejumlah 11 folikel. Demikian halnya dengan folikel kelas II yang juga mulai teramati kemunculannya pada hari ke-6. Jumlah folikel kelas II cenderung statis pada kisaran 1 sampai 2 folikel saja hingga menjelang ovulasi. Diameter maksimal DF gelombang ke-2 mencapai 4.0 cm pada hari ke-27 namun menurun hingga 3.8 cm pada saat menjelang ovulasi pada hari ke-28. Pada saat diameter DF mencapai 2.5 cm pada hari ke-21 estrus mulai terlihat dengan skor 1 dan mencapai skor 4 pada saat menjelang ovulasi. Diameter CL pasca ovulasi adalah 3.5 cm dan terus menurun hingga mencapai 1.0 cm pada saat menjelang ovulasi.
23 Gambar 10 Dinamika ovarium dan skor estrus pada kuda C. Siklus estrus berlangsung 27 hari dengan dua gelombang folikel. Skor estrus mencapai 4 saat menjelang ovulasi. Gambar 11 Kelas folikel pada kuda C. Pertumbuhan folikel kelas I teramati pada H5 sampai dengan H10. Pertumbuhan folikel kelas II teramati pada H11 sampai dengan H19. Hanya ditemukan satu folikel kelas III pada H20 sampai dengan H27. Pada kuda C, panjang siklus estrus adalah 27 hari dengan lama estrus 9 hari dan 2 gelombang folikel. Siklus ini berlangsung lebih panjang dengan temuan Ginther (1992) bahwa panjang siklus estrus pada kuda adalah 21 hari, sedangkan lama estrus sedikit lebih panjang dari pengamatan Shirazi et al. (2004) pada kuda Caspian, yaitu 8 hari. Gelombang folikel pertama mulai teramati pada hari ke-5 setelah ovulasi. Kemunculannya ditandai dengan ditemukannya 10 folikel kelas I
24 dan terus meningkat hingga sejumlah 15 folikel pada hari ke-6. Diameter maksimal DF gelombang pertama adalah 3.5 cm. Pertumbuhan gelombang kedua dimulai pada hari ke-10. Kemunculannya ditandai dengan mulai meningkatnya jumlah folikel kelas II hingga mencapai 5 folikel pada hari ke-16. Kemunculan folikel kelas III mulai teramati pada hari ke- 20 dan bertahan sampai menjelang ovulasi pada hari ke-27. Diameter maksimal DF pada gelombang kedua adalah 5.8 cm yang dicapai pada saat menjelang ovulasi. DF tersebut lebih besar dari temuan Cuervo-Arango dan Newcombe (2008) yang melaporkan bahwa pada kuda-kuda sport, seperti Warmblood dan Thoroughbred di Negara subtropis, diameter DF sebelum ovulasi hanya mencapai 4.6 cm. Estrus dengan skor 1 mulai teramati pada hari ke-19 pada saat DF mencapai 3.8 cm dan mencapai skor 4 pada saat menjelang ovulasi. Pola pertumbuhan CL hampir sama dengan kuda lain, dimana diameter CL pada saat hari pertama setelah ovulasi maencapai 2.5 cm dan terus menurun hingga 0.5 cm pada saat menjelang ovulasi. Berdasarkan data-data dari semua kuda yang diteliti dapat diketahui bahwa rata-rata panjang siklus estrus adalah 25.4 ± 3.78 hari dengan 2 sampai 3 gelombang folikel dan lama estrus 6.8 ± 1.92 hari. Rata-rata diameter folikel terbesar maksimum sebelum ovulasi adalah 4.2 ± 1.44 cm dengan kisaran 3.0 sampai dengan 5.8 cm. Donadeu dan Ginther (2002) melaporkan bahwa gelombang folikel ovulasi berkembang pada waktu pertengahan siklus estrus dan pada umumnya 1 folikel akan diovulasikan pada akhir estrus. Interval antar ovulasi pada kuda terdiri atas berbagai kombinasi gelombang folikel minor, dimana folikel terbesar tidak menjadi dominan, serta gelombang mayor, dimana folikel yang terbesar menjadi dominan. Interval antar ovulasi dimulai pada saat ovulasi yang diawali estrus dan diakhiri pada saat ovulasi estrus berikutnya. Ratarata panjang interval antar ovulasi adalah 21 atau 22 hari pada kuda, dan 24 hari pada pony (Ginther 1992). Hasil pengamatan terhadap tingkah laku estrus pada saat penelitian menunjukkan bahwa seiring dengan waktu berlangsungnya estrus maka skor tingkah laku estrus juga semakin meningkat. Skor tersebut akan mencapai 3 dan 4 ketika menjelang terjadinya ovulasi (tabel 1).
25 a b c d e Gambar 12 Visualisasi scoring tingkah laku estrus pada kuda: a) Skor 0, b) Skor 1, c) Skor 2, d) Skor 3, dan e) Skor 4 Tingkah laku individu selama estrus bervariasi antar individu kuda, tetapi cenderung sama antar siklus. Tanda-tanda estrus yang dapat dilihat, diantaranya adalah: penerimaan terhadap pejantan, ekor terangkat, sering urinasi, vulva menunjukkan kontraksi ritmik (winking), dan cara berdiri semi jongkok (squatting). Tanda-tanda estrus tersebut juga sesuai dengan pengamatan yang telah dilakukan oleh Coleman dan Powell (2004), Waring (2003) dan Hafez (2000).
26 Gambar 13 Gambaran ultrasonografi CL secara serial sejak hari ke-3 setelah ovulasi (H3) sampai dengan hari ke-17 (H17). Berdasarkan gambaran ultrasonografi CL (gambar 13), terdapat jaring-jaring bersifat hyperechoic dan berisi massa yang hypoechoic yang teramati pada H3 sampai dengan H5. Kemungkinan hal ini berkaitan dengan pembentukan sel-sel luteal yang mengisi ruang kosong setelah ovulasi folikel. Gambaran ini sesuai dengan pengamatan Bergfelt dan Adams (2007) yang menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan dengan pembentukan sel luteal yang ditandai dengan peningkatan secara bertahap kadar progesteron plasma. Pada H7, H9, dan H11 gambaran ultrasonografi menunjukkan CL telah berbatas jelas dengan jaringan sekitarnya dan hypoechoic dengan diameter yang tidak berubah. Menurut Bergfelt dan Adams (2007) pada saat kondisi tersebut CL mencapai fase statis dengan kadar progesteron plasma mencapai kisaran 10 ng/ml. Setelah H11 gambaran ultrasonografi menunjukkan warna yang hyperechoic dengan diameter yang mulai mengecil sampai mencapai 1.2 cm pada H17. Regresi CL tersebut berkaitan dengan terjadinya apoptosis sel luteal dan pembentukan
27 jaringan ikat yang bersifat hyperechoic sehingga terjadi penurunan konsentrasi plasma progesteron (Amrozi 2004). Gambar 14 Gambaran serial ultrasonografi dominan folikel gelombang pertama dan kedua selama 1 siklus estrus. Gambaran ultrasonografi pada H1 (gambar 14) menunjukkan adanya sekelompok folikel yang memenuhi daerah perifer ovarium. Penelusuran mundur dari H5 tampak bahwa bakat DF telah terlihat sejak H1, yaitu berupa folikel dengan bentuk bulat tegas dan anechoic kuat. DF gelombang pertama statis dan tidak tumbuh sampai H5. Selanjutnya diikuti dengan pertumbuhan gelombang
28 folikel kedua yang muncul pada H7. Namun demikian, DF yang teramati dengan jelas pada H11 tetap dapat ditelusuri kembali sampai dengan kemunculannya pada H7. Gambar 15 Gambaran serial ultrasonografi dominan folikel gelombang ketiga dalam satu siklus estrus. Hasil penelusuran ultrasonografi menunjukkan bahwa DF yang akan ovulasi mulai nampak pada H13 berupa folikel berbentuk bulat bersifat anechoic dengan dinding folikel tipis dan jelas. Pertumbuhan DF tersebut mangalami perubahan dari bentuk bulat menjadi pear-shape pada H18 dengan diameter yang sedikit mengecil. Hal ini juga telah dilaporkan oleh Bergfelt dan Adams (2007) yang secara lebih jelas juga mengamati adanya lapisan anechoic di luar lapisan granulosa sel. Perbedaan hasil pengamatan ini terjadi karena Bergfelt dan Adams (2003) menggunakan ultrasonografi color doppler sehingga diperoleh gambaran yang lebih jelas. Gambaran ultrasonografi juga memperlihatkan adanya warna keabu-abuan yang tipis di cairan folikel pada H19, ada kemungkinan ini berkaitan
29 dengan proses pecahnya dinding folikel sebagaimana yang diamati Bergfelt dan Adams (2007). Ovulasi terjadi pada H20 yang ditandai dengan hilangnya DF dan di tempat yang sama terbentuk corpus haemoraghicum. Corpus haemoraghicum tersebut memiliki gambaran ultrasonografi hypoechoic dengan batas yang tidak teratur dengan jaringan sekitarnya. Hasil Pengamatan Kondisi Uterus Berdasarakan hasil pengamatan terhadap kondisi uterus dengan ultrasonografi selama penelitian, maka didapatkan hasil seperti tertera pada tabel 4. Tabel 4 Data hasil pengamatan diameter uterus Rata-rata diameter uterus (cm) Kuda Diestrus Estrus Korpus kornua korpus kornua Kuda A-siklus I 4.84 ± 0.57 3.59±0.22 5.60 ±0.13 3.74±0.06 Kuda A-Siklus II 5.20±0.16 3.77±0.10 5.25±0.09 3.90±0.05 Kuda A-Siklus III 5.08±0.11 3.87±0.09 5.14±0.10 3.89±0.05 Kuda B 4.31±0.27 3.62±0.37 4.96 ±0.34 3.72±0.16 Kuda C 5.06±0.06 3.89±0.06 5.27±0.05 4.15±0.09 Rata-rata 4.90±0.35 3.75±0.14 5.24±0.23 3.88±0.17 Diameter korpus dan kornua uteri pada saat fase diestrus adalah 4.90 ± 0.35 cm dan 3.75 ± 0.14 cm, sedangkan pada saat fase estrus sebesar 5.24 ± 0.23 cm dan 3.88 ± 0.17 cm (Tabel 4). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan diameter uterus pada saat berlangsungnya estrus. Cuervo-Arango dan Newcombe (2008) menyatakan bahwa pola kebengkakan uterus dapat digunakan sebagai acuan untuk penentuan waktu optimal perkawinan dilakukan, karena intensitas kebengkakan terkait dengan waktu pencapaian ovulasi, namun demikian tidak semua kuda mengikuti pola ini.
30 1 2 Gambar 16 Hasil pengamatan ultrasonografi terhadap uterus Gambaran ultrasonografi menunjukkan keberadaan lendir estrus di dalam uterus pada saat estrus (Gambar15.2). Area anechoic menunjukkan keberadaan lendir estrus pada korpus uteri (Gambar15.2.a) dan pada kornua uteri (Gambar15.2.b). Pada saat fase diestrus, lendir estrus tidak ditemukan di dalam kornua dan korpus uteri, ditandai dengan area hypoechoic (Gambar15.1.a&b). Hal ini sesuai dengan pernyataan Bergfelt dan Adams (2003) bahwa endometrial echotexture atau derajat homogenitas maupun heterogenitas hasil pengamatan ultrasonografi terhadap endometrium dapat dijadikan sebagai acuan tambahan untuk mengetahui kondisi estrus dan perkiraan waktu pencapaian ovulasi pada kuda. Perubahan ini dari yang bersifat homogen pada saat diestrus menjadi heterogen pada saat estrus yang terkait dengan terjadinya kebengkakan uterus. Hal ini juga terkait dengan tingkah laku pada saat estrus, seperti urinasi, winked vulva, mengangkat ekor, dan squatting yang berguna untuk memperkirakan waktu pencapaian ovulasi. Selanjutnya Cuervo-Arango dan Newcombe (2008) menambahkan bahwa pada saat fase folikuler, pembesaran lipatan endometrium menghasilkan gambaran ultrasonik yang khas, yang biasa disebut roda pedati sebagai efek yang mewakili adanya jalinan dan pergantian area echoic dan hypoechoic.