Jurnq miah Guru "COPE", No. 0/Tahun V/Pebruari 2004 PERANAN PERSATUAN GURU REPUBLK NDONESA (PGR) DALAM UPAYA PENNGKATAN PROFESONALSME GURU oeh: Tri Murwaningsih *) Abstrak Masaah tenaga pendidikan di ndonesia seama ini antara ain adaah rendahnya kuaitas dan profesionaisme guru, rendahnya kemandirian guru daam meaksonaknn profesinya yang berakibat rendahnya mutu pendidikan. Untuk meningkatkan profesionaisme guru peru diupayakan peningkatan kuaifikasi, kompetensi, wawasan keimuan, serta kesejahteraan guru. Profesi guru diegitimasi oeh masyarakat pengguna untuk itu guru dituntut menguasai didaktik dan metodik, serta menguasai substansi keimuan yang menjadi kompetensinya. Guru profesiona dituntut seau meningkatkan profes ionaisme, s erta kemampuan, pengetahuan dan rt:av'osan keimuannya secara berkeanjutan. P rofe s i guru hanrs merupakan profesi mandiri dan memiiki kornunitas profesiona yang seau berkembang. Peranan Persatuan Guru Repubik ndonesia (PGR), sebogai organisasi profesi guru, diharapkan ebih pro akt if d a am me mp e rj uangkan p e r ba i kan kesejahteraan, citra, serto meningkatkan profesionaisme guru. Organisasi profesi ini didambakan dapat menunjukkan citra sebagai motor penggerak dan wadah penampung s emua as piras i profes iona is me guru dan berperan aktif memotivasi peningkatan kuaitas guru. Kata kunci: profesi kependidikan, profesionaisme guru. Pendahuuan Guru merupakan faktor kunci daam keberhasian proses pembeajaran, oeh karenanya masaah tenaga pendidikan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kuaitas hasi proses beajar mengajar. Masaah kasik daam tenaga kependidikan di ndonesia seama ini adaah kekurangan tenaga guru, distribusi guru tidak merata, kuaitas guru pas-pasan, motivasi guru minimum, serta tingkat kesejahteraan guru yang masih rendah. Keadaan ini diperparah agi dengan keterbatasan keterampian dan kemandirian guru daam meaksanakan profesinya atau dengan kata ain rendahnya kuaitas dan profesionaisme guru. Kenyataan inijeas berdampak buruk pada keberhasian proses beajar mengajar di sckoah (Badarudin, 2002:37). Meihat kenyataan pada kebanyakan guru sekoah dasar (SD) dcwasa ini, motivasi dari para guru masih peru untuk terus didorong agar bersikap aspiratif dan *) Tri Murwaningsih adaah guru SDN Samirono, Depok Seman 9
--i Jurna miah Guru "COPE", No.0/Tahun V/Pebruari 2004 akomodatif daam menyikapi perkembangan imu pengetahuan, sains, dan teknoogi di masyarakat. Gejaa ain yang jeas terihat adaah kecenderungan kekurang-mandirian guru daam menjaankan profesinya sebagai tenaga pendidik. Profesionaisme serta kemandirian guru daam menjaankan profesinya peru ditumbuhkembangkan pada setiap kegiatan proses beajar mengajar di sekoah (Saim, 2003: 5). Kondisi sekarang sudah diketahui bersama bahwa kuaitas akademik institusi pendidikan di ndonesia, termasuk juga sekoah dasar, umumnya rendah (Saim, 2003: 5). Rendahnya kuaitas akademik tersebut saah satunya adaah sebagai akibat institusi sekoah kurang memiiki kewenangan apapun, kecuai hanya menjadi peaksana kebijakan pendidikan semata. Kuaitas guru yang rendah seau dituding menjadi penyebab utama rendahnya mutu pendidikan di sekoah-sekoah kita. Waaupun sekarang di SD sudah diberakukan program Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekoah (MPMBS) namun daam kenyataan hasinya beum tampak jeas. Daam MPMBS sekoah memiiki kewenangan untuk menyiasati kurikuum yang beraku agar sesuai dengan kondisi sekoah, termasuk tuntutan masa depan akan pentingnya program Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) bagi siswa. Daam MPMBS dikena ima prinsip dasar, yaitu kemandirian, transparansi, kerjasama, akuntabiitas dan sustainabiitas. Oeh karena itu, bia ima prinsip MPMBS dapat dikembangkan menjadi budaya kerja sekoah, akan terjadi pertumbuhan kecakapan hidup para siswa peserta didik (Najid,2003: 19' 20). Semangat dari MPMBS adaah kebebasan dan kreativitas yang akan sangat menentukan keberhasian sekoah daam usaha menghasikan pribadi berkuaitas serta sangat dibutuhkan saat ini untuk perbaikan kuaitas hidup generasi mendatang (Widayati, 2002: 83). Rendahnya kuaitas guru-guru SD juga menjadi kendaa utama daam kurang optimumnya hasi penerapan MPMBS di sekoah-sekoah (Saim, 2003: 5), sehingga berakibat beum tampaknya keberhasian program ini. Daam konteks otonomi sekoah, keberhasian pendidikan mensyaratkan terseenggarany a pfoses pembeaj aran berangsung secara efektif, aktif dan menyenangkan. Artinya, waktu peajaran yang ada mestinya harus dipergunakan sepenuhnya oeh guru dan murid daam meakukan proses beajar mengajar. Jika daam keas terdapat siswa yang ambat beajamya, guru dengan senang hati harus membimbing sampai murid tersebut dapat menguasai bahan ajar yangdiberikan. Kenyataan yang ada sekarang, banyak guru yang mengajar kurang baik, proses beajar mengajar berangsung kurang menarik dan cenderung membosankan (Suryono, 2042: 6). Jam efektif mengajar banyak digunakan oeh guru-guru untuk mengurusi ha-ha administratif, termasuk kegiatan keompok kerja guru dan kegiatan guru ainnya yang berangsung pada jam-jam efektif sekoah. Guru tidak efektif daam menggunakan waktu untuk proses kegiatan beajar mengajar, ebih banyak konsentrasi dan waktunya terbuang untuk mengerjakan pekerjaan ain sebagai persyaratan administratif, seperti penuisan satuan peajaran (SP) atau pekerjaan administratif ain. Guru mestinya punya perhatian dan waktu yang 0
Jurna miah Guru "COPE", No. OL/Tahun V/Pebruari 2004 cukup untuk meakukan pendampingan pembeajaran pada semua anak didik. Guru akan dapat meratakan pendampingan pada setiap peserta didik, sampai mereka sungguh-sungguh memahami materi peajaran sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Dengan demikian, ada tuntutan bagi guru untuk mengena, memperhatikan dan memahami benar kompetensi anak didik daam setiap kegiatan pembeajaran (Saim, 2003: 5). Kuaitas dan kuaifikasi guru yang umumnya rendah memang sudah ama dirasakan oeh banyak kaangan. Upaya dari Pemerintah untuk meningkatkan kuaifikasi guru merupakan angkah yang harus didukung, misanya untuk guru sekoah dasar didorong untuk ikut program penyetaraan Dipoma PGSD atau program penyetaraan ainnya. Kuaifikasi guru sekoah dasarminimum uusan D PGSD akan ebih menjamin tersedianya tenaga kependidikan yang ebih berkuaitas dan ebih mudah menyesuaikan dengan perkembangan imu pengetahuan, sains dan teknoogi. Program D tersebut memang tidak serta merta meningkatkan kuaitas guru, namun paing tidak merupakan dorongan motivasi kepada para guru untuk terus menerus meningkatkan profesionaisme dan menambah wawasan keimuan, kuaitas dan kuaifikasinya (Tiaar, 2002: 68). Kepada para guru peru diakukan pembinaan kompetensi dan profesionaisme, sehingga mereka menguasai kurikuum dan siabus, substansi mata peajaran, metode beajar, teknik evauasi, memiiki komitmen yang kuat daam mendidik, serta memiiki disipin daam arti yang uas. Guru harus memiiki komitmen yang kuat untuk seau meningkatkan kuaitas diri, mengupayakan perubahan dan perbaikan proses beajar mengajar secara terus menerus. Suryono (2002: 15) menyatakan bahwa peaksanaan kegiatan proses beajar mengajar tentu saja membutuhkan sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang memadai. Sarana dan prasarana yang dimaksud termasuk buku ajar, majaah, fasiitas perpustakaan, aat peraga, aboratorium, aat bantu audio-visua, serta sarana penunjang pendidikan ain. Seanjutnya dinyatakan bahwa kenyataannya kebanyakan SD tidak memiiki sarana dan prasarana pendidikan memadai untuk kegiatan beajar mengajar yang idea. Tanpa sarana dan prasarana pendidikan yang ayak akan suit untuk mengembangkan kemandirian sekoah dan profesionaisme guru pada sekoah yang bersangkutan. Kurikuum berbasis materi, yang masih beraku sampai sekarang, umumnya membuat guru menjadi pasif, kurang mandiri dan kurang kreatif daam pengembangan kegiatan beajar mengajar. Kenyataan ini membuat kurangnya ikim kompetitif dari hasi pembeajaran sekoah dasar (Suryono, 2003: 7-8). Profesionaisme Guru dan Guru Profesiona Profesi adaah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahian (expertise) dari para anggotanya. Pekerjaan mendidik sebagai profesi didasarkan pada asumsi bahwa subyek pendidikan adaah manusia, pendidikan diakukan secara sadar dan bertujuan, diaksanakan berdasarkan teori-teori pendidikan, pendidikan merupa
i Jurna miah Guru "COPE", No. Lbhun W/Pebruari 2004 kan usaha mengembangkan Potensi manusia, inti pendidikan terjadi daam prosesnya, tujuan utama pendidikan menjadikan manusia sebagai manusia yang baik (Anonim, 1992 5). Seorang profesiona menjaankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi dan berdasarkan profesionaisme. Profesionaisme berarti menjadikan atau mengembangkan suatu bidang pekerjaan atau jabatan secara profesiona. Daam proses profesionaisasi yang dituju adaah produktivitas kerja tinggi dan kemandirian menjaankan profesinya (Tiaar, 2002:86-87). Pendidikan harus diakukan secara profesiona, sehingga konsekuensinya diperukan upaya sistematis daam rangka profesionaisasi tenaga kependidikan' Guru profesiona akan mampu menumbuhkan dan mengembangkan ide-idenya, sehingga dapat dipakai sebagai bahan pembeajaran pada siswanya agar proses beajar mengajar berjaan dengan baik' Guru profesiona akan bertindak kreatif, inovatif dan feksibe daam setiap proses pembeajaran, serta tidak hanya berpegang secara kaku pada kurikuum yang beraku. Guru profesiona bukan hanya tahu banyak, tetapi juga bisa banyak. Guru idea tentunya mempunyai tingkat kemandirian dan standar profesionaisme yang tinggi (Sukmadinata, 1992: 60-61). Guru yang mandiri diharapkan semakin dapat memikirkan apa yang paing baik untuk diakukan, demi kemajuan proses beajar mengajar dan pendidikan' Di samping itu, guru hendaknya mampu meihat situasi yang nyata di ingkungan, sekoah, keas dan anak didik; berani meaksanakan apa Yang dipikirkan, dituangkan daam bentuk proses pembeajaran; dapat mengevauasi apa yang teah diakukan daam proses pembeajaran; mempunyai konsep, kreatif dan berani berinisiatif daam meakukan proses pembeajaran dan memiiki strategi pembeajaran (Sukmadinata, 1992: 62). Guru yang aktif memikirkan, mengembangkan kurikuum bahan ajar, metode pendekatan yang digunakan agar ebih efektif membantu siswa berkembang. Guru kreatiftidak hanya puas dengan apa yang diperoeh, tetapi seau ingin mencari-cari bahan, sumber ain, sehingga bahan dapat dikembangkan dengan baik, mau menerima tantangan yang ada agar tidak ketinggaan jaman. Guru diharapkan juga menjadi seorang pemikir dan inteektua yang terus menerus mau beajar, mencari dan mengembangkan pengetahuannya maupun wawasan keimuannya. Guru yang kritis tidak hanya asa ikut-ikutan saja, tetapi meihat, meniai apakah aturan itu baik dan cocok untuk memajukan sekoahnya. Guru sebagai kaum inteektua harus bersikap kritis terhadap kurikuum dan berusaha untuk mengembangkannya (Tiaar, 2002: 122-124)' Untuk menumbuh-kembangkan kemandirian daam meaksanakan profesinya guru dituntut mempunyai kebebasan inteektua, bebas berpikir dan mengembangkan pikirannya. Guru harus pua memiiki visi ke depan jika ingin memajukan kebebasan berpikir pada siswanya' Di samping itu, guru peru keberanian untuk bertindak sendiri, tidak harus terpaku pada aturan main dan mampu mengembangkan kemampuan berrefeksi terhadap apa yang diakukan. Situasi yang seau berubah ituah yang diperukan keberanian untuk i i t2 1.
Jurna miah Guru "COPE", No. D/Tahun Y/Pebruari 2004 mengambi keputusan secara mandiri (Tiaar, 2002: 125-126). Peningkatan Profesionaisme Guru Pengembangan tenaga guru di masa mendatang diarahkan untuk meningkatkan kuaifikasi, kompetensi dan profesionaisme. Peningkatan kesejahteraan guru peru terus menerus diupayakan, untuk ebih menjamin kuaifikasi dan profesionaisme guru. Peningkatan kesejahteraan guru peru diakukan agar dapat hidup ayak, bermartabat, serta meningkatkan kuaitas diri meaui membaca koran, membei buku, majaah, komputer, dan dapat meanjutkan jenjang studinya (Tiaar, 2002: 86). Dengan adanya Otonomi Daerah terjadi pua tuntutan atas otonomi di sektor pendidikan, berupa wacana baru pengadaan guru. Duu profesi guru diegitimasi oeh pengakuan pemerintah, kini harus diegitimasi oeh masyarakat pengguna (stake hoders). Guru merupakan profesi yang terbuka, harus diuji oeh masyarakat, dikritisi dengan standar perforrnans dengan took ukur yang jeas. Menjadi guru yang profesiona, tidak tergantung penguasaan didaktik dan metodik saja, namun mencakup substansi yang seau berubah. Guru merupakan miik masyarakat, keompok guru adaah komunitas yang bersifat dinamis dan terus berkembang. Guru profesiona seau meningkatkan kemampuannya, berkeanjutan sesuai dengan penguatan basis masyarakat oka. Profesi guru adaah profesi mandiri, tidak tergantung embaga pemegang kekuasaan negara, tetapi memiiki komunitas profesiona yang modern (Tiaaa 2002: 86). Di masa depan, guru adaah profesi mandiri. Keberadaan guru ditentukan oeh 4 eemen utama yang bersifat dinamis, yaitu embaga sekoah, embaga profesi, masyarakat dan pemerintah (Tiaar, 2002:86-87). Seanjutnya diuraikan, p ertama, proses desentraisasi pendidikan di tingkat daerah (oka) yang pada dasamya adaah proses pemberian otonomi kepada embaga sekoah. Pemberian otonomi ini merupakan upaya privatisasi yang menjadi acuan peningkatan kematangan embaga sekoah. Tingkat kematangan embaga sekoah akan menentukan kuaitas dan akumuasi guru yang terdapat di daamnya. Kedua, dibutuhkan adanya organisasi profesi guru yang memiiki kemampuan dan wibawa untuk memberikan egitimasi bagi profesi guru. Guru menjadi profesi terbuka, dapat dimasuki oeh berbagai disipin imu, tetapi profesi guru membutuhkan keembagaan yang dapat dipercaya untuk memberikan jaminan daam meningkatkan keahiannya. Guru peru memiiki kemampuan didaktik dan metodik, serta harus rnenguasai substansi imu pengetahuan yang menjadi tanggung jawab profesinya- Ketiga, masyarakat adaah penyumbang utama peningkatan kuaitas embaga sekoah dan juga penentu kebijakan pemiihan tenaga guru di embaga sekoah. Masyarakat merupakan pasar yang sangat menentukan adanya akumuasi penawaran tenaga guru dan kuaifikasi jumah guru yang dibutuhkan. Keempat, pemerintah pusat muai memberi wewenang daam upaya mengadakan guru kepada pemerintah daerah. Kondisi ini meneguhkan posisi masyarakat oka guna mengeoa kebutuhan daam rangka mencukupi t3
' Jurna miah Guru "COPE", No. L/Tahun V/Pebruari 2004 kebutuhan guru di embaga sekoah (Tiaar, 2002:86-87). Sebagai pendidik, guru dituntut untuk bersikap kreatif dan inovatif terutama daam mengeoa keas, sehingga anak didik merasa nyaman daam beajar, namun ha itu biasanya kurang disadari oeh para guru. Kaau guru hanya datang untuk menyampaikan materi tanpa ada variasi atau strategi khusus daam pembeajaran, bisa dipastikan bahwa anak didik akan merasajenuh, bosan dan ujung-ujungnya bisa menjadikan mereka enggan beajar. Untuk antisipasi ha tersebut, guru diharapkan bisa menambah wawasan, imu pengetahuan dan teknoogi, antara ain dengan mengikuti penataran, peatihan, kursus, seminar dan kegiatan ainnya. Guru diharapkan pua aspiratif terhadap kemajuan teknoogi, utamanya teknoogi informasi, misanya penggunaan komputer dan internet untuk kegiatan beajar mengajar. Dengan seau mengikuti perkembangan teknoogi, diharapkan guru tidak mengaami "gagap teknoogi " dan ketinggaan jaman, karena para peserta didik akan semakin intensif menggunakan teknoogi informasi daam kehidupan sehari-harinya. Menurut Tiaar (2002: 122-124) tugas seorang guru profesiona meiputi tiga bidang utama: ) daam bidang profesi, 2) daam bidang kemanusiaan, dan 3) daam bidang kemasyarakatan. Seanjutnya dijeaskan pua bahwa guru yang profesiona dapat mengadakan evauasi di daam proses beajar mengajar, membimbing peserta didik untuk mencapai tujuan program beajar mengajar. Seain itu, seorang guru profesiona merupakan seorang administrator, baik daam proses beajar mengajar maupun daam kemampuan manajeria daam ingkungan sekoah. Sebagai pendidik, seorang guru profesiona adaah seorang komunikator. Sebagai profesi yang terus berkembang, seorang guru profesiona hendaknya mampu mengadakan peneitian-peneitian yang berkaitan dengan peningkatan profesionaisme seorang pendidik (Tiaar, 2002:89-90). Peranan Kepaa Sekoah daam Peningkatan Profesionaisme Guru Daam upaya meningkatkan profesionaisme guru, peranan kepaa sekoah sangat penting, seperti yang dipaparkan oeh Suparno (2003: 4). Kepaa sekoah peru memberikan kebebasan kepada para guru untuk berinisiatif, berpikir, mengembangkan pembeajaran di bidang yang dikeoanya. Kepaa sekoah harus memberikan kebebasan kepada para guru untuk ikut berbicara, demi kemajuan proses beajar mengajar di sekoah. Lebih-ebih dengan adanya otonomi sekoah, peranan guru diharuskan mau menghadapi tantangan, bersaing dengan sekoah-sekoah ain dan nyata-nyata menjadi ujung tombak keberhasian pendidikan. Kerjasama antara sekoah dan masyarakat, termasuk Komite Sekoah, sangat dibutuhkan demi keberangsungan sekoah itu sendiri (Suparno, 20A3: 4). Guru peru diberi peuang untuk mengembangkan bahan, metode, evauasi, serta pembuatan soa untuk ujian sumatif bahkan sampai soa ujian akhir sekoah. Guru juga harus diberi kesempatan untuk ikut aktif daam aktivitas manajemen sekoah dan mengikuti perkembangan imu pengetahuan, sains dan teknoiogi. Bia kepaa sekoah bersikap apriori, maka t4
Jurna miah Guru "COPE", No. 0/Tahun Y/Pebruari 2004 pembaharuan dan reformasi pendidikan serta kemandirian guru tidak akan pemah tercapai. Kepaa sekoah diharapkan mengerti pendidikan secara menyeuruh, bersifat terbuka terhadap perubahan dan pembaharuan, terbuka terhadap semua ha, seau meuangkan waktu untuk menambah wawasan, memahami visi dan misi sekoah, meibatkan semua guru untuk memikirkan pengembangan dan kemajuan sekoah, membangun reasi yang baik dengan semua guru. Bia kepaa sekoah bersikap seperti tersebutdiatas, maka diharapkan akan ebih aspiratif, akomodatif dan menambah motivasi terhadap peningkatan profesionaisme dan kemandirian guru (Tiaar, 2002: e2-93). Peranan PGR daam Peningkatan Profesionaisme Guru Persatuan Guru Repubik ndonesia (PGR), merupakan organisasi profesi guru terbesar di ndonesia. Seperti organisasi profesi ainnya, PGR bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anggotanya daam bidang profesinya, serta meindungi hak dan kewajiban guru sebagai anggota profesi. Organisasi profesi ini memang beum berhasi menunjukkan kemampuannya daam memperjuangkan nasib guru (Anonim, 2003: 0). Seanjutnya dikatakan bahwa organisasi profesi guru ini bahkan dimasa ampau pernah menjadi kendaraan poitik, yang justru menggunakan nasib guru untuk meraih cita-cita goongan poitik dominan tertentu. Peranan PGR di masa mendatang diharapkan ebih proaktif daam memperjuangkan nasib serta meningkatkan kuaitas dan profesionaisme guru. Organisasi profesi ini hendaknya mampu menunjukkan citra sebagai motor penggerak dan wadah yang menampung semua aspirasi profesionaisme guru secara mandiri (Anonim,2003: 0). Kuaitas pendidikan yang rendah, akan berdampak menghambat program pembangunan peningkatan sumber daya manusia. Kondisi ini peru mendapatkan perhatian dari pihak PGR guna menghasikan sistem pendidikan yang baik dan bermutu. Sebagai organisasi profesi guru, PGR harus dapat menciptakan terobosan-terobosan untuk keuar dari masaah rendahnya kuaitas dan profesionaisme guru. Citra PGR pada masyarakat kita adaah bahwa organisasi ini seakan-akan hanya berorientasi kepada guru sekoah dasar dan menengah saja, meskipun terdapat juga para dosen dan profesor perguruan tinggi yang menjadi anggota PGR. Sudah saatnya PGR merangkum seuruh kekuatan organisasi profesi guru muai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, agar dapat mempunyai daya tekan yang kuat untuk mewujudkan cita-cita pendikan nasiona, serta para guru mendapatkan penghargaan yang wajar dan setimpa dari masyarakat yang memiikinya (Tiaar, 2002: 104). Organisasi profesi guru PGR harus mampu menciptakan sistem pembinaan guru yang berkuaitas ewat peningkatan keterampian, pengetahuan dan wawasan tenaga pendidik. Organisasi ini diharapkan menjadi motor bagi ahirnya imu pendidikan yang otonom dan inovatif, sehingga membantu pengembangan profesiona profesi guru di era goba ini (Tiaar, 2002: 06). Dikatakan pua, ada beberapa ha yang peru diperhatikan oeh PGR daam 5
&trna miah Guru "COPE", No. 0Lahun V/Pebruari 2004 pembinaan profesionaisme guru, antara ain guru harus mempunyai jiwa kepemimpinan dan serius memperhatikan pendidikan; guru harus berkemampuan menentukan prioritas pekedaan yang diperukan; guru harus menghindari ketidak-jujuran yang tidak hanya terkait dengan materi, tetapi juga waktu jam kerja dan proses beajar mengajar (Tiaar, 2002: 106). Citra guru di ndonesia dewasa ini memang daam keadaan terpuruk. Keterpurukan profesi guru ini merupakan penghaang bagi kebangkitan kehidupan berbangsa dan bertanah air. Terpuruknya profesi gum disebabkan oeh berbagai ha, antara ain teah terjadi anomai mengenai status profesi guru, karena kesaahan masyarakat sendiri yang meninggikan dan sekaigus mencampakkan profesi guru sebagai profesi terhormat di daam masyarakat. Seanjutnya, merosotnya profesi guru ebih dikarenakan embaga organisasi profesi guru, seperti PGR, emah sehingga tidak menopang perbaikan profesi guru, baik dari segi kuaitas pengabdiannya maupun di daam kuaitas penghargaan pemerintah dan masyarakat terhadap profesi guru. Sebagai organisasi profesi, PGR peru mengambi angkah-angkah untuk meningkatkan apresiasi orang tua, masyarakat dan pemerintah terhadap profesi guru. Guru yang emah, guru yang kurang gizi jasmani dan rohani, akan menghasikan generasi penerus yang kurang gizi juga. Setaiknya, guru yang mendapat penghargaan serta kesejahteraan yang sepadan dengan pengabdiannya kepada masyarakat akan menjadi saah satu motor penggerak kemajuan masyarakat menuju ndonesia yang ebih baik (Tiaar, 2002:92-93, 106). Seaku seorang guru, penuis memberikan sumbang saran agar sebagai organisasi profesi guru PGR akan ebih proaktif daam memperjuangkan nasib serta meningkatkan kuaitas dan profesionaisme guru. Organisasi PGR peru diperuas, dihiangkan citra bahwa hanya miik guru sekoah dasar dan menengah saja, namun mencakup muai dari guru taman kanakkanak sampai perguruan tinggi. Dengan demikian, organisasi ini akan menjadi ebih kuat dan ebih mempunyai daya tekan yang dapat meobi DPR maupun ernbaga masyarakat ainnya, sehingga terbentuk opini umum betapa besarnya peranan pendidikan, meaui profesi guru, daam membangun masyarakat ndonesia baru. Adanya organisasi PGR yang kuat akan mempunyai kekuatan poitis serta kemampuan meindungi dengan memberikan sanksi terhadap anggotanya untuk mempertahankan dan mengembangkan standar profesi guru. Organisasiprofesi PGR juga diharapkan menjadi inisiator bagi ahirnya imu pengetahuan pendidikan yang otonom dan inovatif, sehingga membantu pengembangan profesiona profesi guru daam menghadapi era gobaisasi. Profesi guru merupakan pekerjaan inteejen yang berhak dihargai oeh masyarakat sebagai suatu profesi terhormat, serta mempunyai kewajiban dan memperoeh imbaan yang sesuai seperti profesi ainnya. Organisasi PGR di masa mendatang dituntut untuk ebih memperjuangkan hak dan kewajiban, meningkatkan kesejahteraan, serta meningkatkan citra profesiona dari para guru anggotanya. Organisasi profesi ini sangat diharapkan dapat menjadi dinamisator dan okomotif daam perbaikan profesionaisme ] { 6 L i te.,
Jurna miah Guru "COPE", No. 0/Tahun V/Pebruqri 2004 guru daam rangka perbaikan sistem pendidikan nasiona menuju pembangunan masyarakat ndonesia yang ebih baik di masa mendatang. Penutup Kuaitas dan profesionaisme guru daam meaksanakan profesinya umumnya masih rendah. Untuk meningkatkan kuaitas dan profesionaisme harus diupayakan peningkatan kuaifikasi, kompetensi, profesionaisasi, serta kesejahteraan guru. Guru yang profesiona seau meningkatkan kemampuannya, pengetahuan dan wawasannya secara berkeanjutan. Profesi guru merupakan profesi terhormat, mandiri dan memiiki komunitas profesiona yang dinamis. Peranan PGR, sebagai organisasi profesi guru, diharapkan ebih proaktif daam memperjuangkan nasib serta meningkatkan kuaitas dan profesionaisme guru. Organisasi profesi ini diharapkan menjadi sarana kekuatan untuk tujuan profesi guru dan perbaikan hidup anggotanya. Organisasi PGR ini juga dituntut untuk menunjukkan citra sebagai motor penggerak dan wadah yang menampung semua aspirasi profesionaisme guru. Diharapkan juga PGR dapat memfasiitasi dan memotivasi kepada para guru anggotanya untuk terus menerus meningkatkan profesionaisme dan menambah wawasan keimuan, kuaitas dan kuaifikasinya Daftar Pustaka Anonim. (1992). Meningkatkan profesionaisasi tenaga pendidikan khususnya memantapkan jabatan fungsiona guru. Jurna Pendidikan vo T: -53. Anonim. (2003). PGR harus bisa ciptakan sistem pembinaan bermutu. Skh Bernas 4 Maret 2003, hm: 10. Badarudin, A. (2002). Profesionaisme guru. Berkaa mu Pendidikan vo24: 36-42. Najid, A. Poa Peaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup. Surabaya: Penerbit Surabaya nteectua Cub. Saim, A. (2003). Paradigma Guru: Dari PNS ke guru kontrak. Skh Kompas Maret 2003, hm: 5. Sukmadinata, N. S. (1992). Peningkatan mutu pendidikan guru. Jttrna Pend idikan vo 7 : 54-66. Suparno, P. (2003). Kepaa sekoah dan reformasi pendidikan. Str,h Bernas 6 Maret 2003, hm: 4. Suryono, A. R. (2002). Mengena kurikuum bcrbasis kompetensi. Media Pendidikan vo 2: 4-18. Tiaar, H. A. R. (2002). Membenahi Pendidikan Nasiona. Jakarta: Rincka Cipta. Widayati, S. (2002). Reformasi Pendidikan Dasar. Jakarta: Grasindo. 7/N 7