BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo, yang terdiri atas dua desa yaitu Desa Tuladenggi dan Desa Dumati. Penelitian ini dilakukan selama dua bulan yaitu dari bulan April sampai dengan bulan Mei 2012. Metode yang digunakan adalah metode survei, yang merupakan pengumpulan data empirik berdasarkan wawancara dan observasi. Dimana data terbagi atas data primer dan data sekunder. Teknik survei data sekunder dimaksudkan untuk mendapatkan data yang sudah tersedia yang berhubungan dengan analisis margin pemasaran jagung di Kecamatan Telaga Biru, sedangkan survei data primer dilakukan pada petani dan pedagang jagung untuk mengkaji berapa besar margin pemasaran serta keuntungan yang diterima petani jagung di Kecamatan Telaga Biru. Desain Pelelitian yang dilakukan adalah desain kuantitatif. Hal ini sesuai dengan Arikunto (1997) dalam Sugiarto (2001), yaitu metode survei digunakan agar peneliti lebih mengetahui keadaan lokasi penelitian dengan tujuan untuk mengetahui sifat populasi sebelumnya. 1.2 Definisi Operasional Variabel 1. Pemasaran merupakan suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain. 2. Saluran pemasaran adalah tata urutan atau jalur pemasaran jagung yang dimulai dari produsen sampe konsumen. 3. Lembaga pemasaran adalah orang, perusahan atau lembaga yang secara langsung terlibat dalam pemasaran jagung dari produsen sampai ke konsumen.
4. Petani jagung adalah petani yang menanam secara aktif atau mengusahakan jagung kemudian menggunakan hasil produksi usaha taninya atau menjualnya. 5. Pedagang pengumpul adalah pedagang yang membeli dan mengumpulkan hasil produksi jagung dari para petani kemudian menjual kepedagang besar. 6. Pedagang besar adalah pedagang yang membeli jagung dalam jumlah besar dari pedagang pengumpul atau langsung dari produsen. 7. Pedagang pengecer adalah pedagang yang membeli produk dari pedagang besar atau pedagang pengumpul untuk dijual kekonsumen akhir. 8. Konsumen adalah pembeli jagung di tingkat pedagang pengecer. 9. Harga di tingkat petani adalah harga jual jagung yang merupakan hasil transaksi antara petani dengan pedagang pengumpul dan pedagang Perantara (blantik) sampai dengan konsumen dan dinyatakan dengan satuan rupiah (Rp) 10. Harga beli adalah harga yang di bayar oleh pembeli produk (jagung), dan dinyatakan dalam satuan rupiah per kilogram ( Rp/kg ). 11. Harga jual adalah harga yang diterima oleh penjual produk (jagung), dan dinyatakan dalam satuan rupiah per kilogram ( Rp/kg ). 12. Volume penjualan merupakan penjualan bersih yang diperoleh melalui hasil penjualan seluruh produk selama jangka waktu tertentu. 13. Margin pemasaran adalah selisih antara harga yang diterima petani jagung (produsen) dengan harga yang dibayar konsumen, dan dinyatakan dalam satuan rupiah per kilogram ( Rp/kg ). 14. Responden adalah petani peternak atau salah satu anggotanya yang tinggal dalam satu atap atau rumah baik sebagai anak atau istri yang dapat memberikan informasi yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
1.3 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder antara lain meliputi jumlah penduduk, jumlah petani jagung, jumlah pedagang jagung, luas lahan tanaman jagung, jumlah produksi tanaman jagung, dan harga dasar jagung berdasarkan surat keputusan Gubernur Gorontalo. No 119 Tahun 2006. Data primer dalam penelitian ini antara lain meliputi; data umur petani dan pedagang, pengalaman bertani dan berdagang jagung, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, jenis kelamin, jenis saluran pemasaran yang digunakan, harga jagung di tingkat petani, harga jagung di tingkat pedagang, biaya-biaya yang dikeluarkan dalam produksi jagung, dan keuntungan yang diperoleh petani jagung. Data dalam penelitian diperoleh dari dari responden (petani dan pedagang jagung), tenaga penyuluhan pertanian lapangan, ketua kelompok tani, ketua kelompok pedagang gapoktan, Kepala Cabang Dinas Pertanian Gorontalo, Kantor Badan Penyuluhan Pertanian (BPP), Kantor Statistik Provinsi Gorontalo, Kantor Statistik Kabupaten Gorontalo, Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, dan berbagai terbitan atau publikasi lain yang berkaitan dengan analisis margin pemasaran jagung. 1.4 Teknik Penarikan Sampel Penarikan sampel dilakukan secara bertahap, mulai dari desa sampai dengan petani dan pedagang jagung. 1.4.1 Penarikan Sampel Kecamatan dan Kelurahan atau Desa Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Telaga Biru yang meliputi anggota petani jagung yang tersebar di dua desa. Penentuan lokasi dengan cara purposive atau dengan cara sengaja yaitu untuk penentuan lokasi penelitian di tingkat desa ditentukan berdasarkan potensi wilayah pertanian jagung. Berdasarkan hasil survei dari 13 desa yang ada di Kecamatan Telaga Biru 2 diantaranya merupakan desa yang memilki potensi wilayah pertanian jagung yang paling besar, yaitu Desa Tuladenggi dan Desa Dumati sebagai sampel.
1.4.2 Penarikan Sampel Petani Jagung Penentuan sampel petani jagung menggunakan teknik area sampling. Teknik ini digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang diteliti atau sumber data yang luas, misal penduduk dari suatu negara, provinsi, kotamadya atau kabupaten. Selanjutnya penentuan jumlah sampel yang dianggap refresentatif, yaitu menggunakan rumus Solvin sebagai berikut (sugiyono, 2002). N 1 + N e² Dimana: jumlah sampel N = jumlah populasi e = tingkat kesalahan Responden penelitian ini adalah petani jagung dimana jumlah petani di Kecamatan Telaga Biru terdiri atas 9 kelompok tani, masing-masing 5 kelompok di Desa Dumati, dan 4 kelompok di Desa Tuladenggi. Untuk kelompok tani di Desa Dumati terdiri atas 87 anggota yang aktif, untuk kelompok tani di Desa Tuladenggi memiliki anggota sebanyak 41 anggota petani jagung yang aktif. Jadi jumlah keseluruhan petani jagung di desa Tuladenggi dan Dumati yaitu 128 petani jagung. Berdasarkan rumus tersebut, dan menggunakan tingkat presesi 90%, atau taraf nyata (tingkat kesalahan 10%), maka diperoleh jumlah sampel penelitian sebagai berikut:
Penarikan Sampel Petani Jagung 128 1 + 128 (0,10)² 128 1 + 128 (0,01) 128 2,28 56,14 57 sampel 1.5 Metode Analisis Data Dalam pengujian hipotesis digunakan teknik analisis kualitatif yang digunakan untuk mendeskripsikan saluran pemasaran yang ada di Kecamatan Telaga Biru. Selain itu digunakan pula teknik analisis kuantitatif yaitu analisis margin pemasaran yang digunakan untuk mengetahui berapa nilai margin pemasaran yang ada di Kecamatan Telaga Biru dan analisis regresi berganda yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi margin pemasaran jagung yang ada di Kecamatan Telaga Biru 1.5.1 Analisis Deskriptif Analisis saluran pemasaran digunakan untuk mengetahui proses aliran barang yang terjadi dalam pasar, dimulai dari produsen sampai ke konsumen. 1.5.2 Analisis Margin Pemasaran Margin pemasaran digunakan untuk mengetahui perbedaan harga suatu komoditas yang diterima produsen dengan harga yang dibayar oleh konsumen. Adapun cara untuk menghitung Margin Pemasaran yaitu: MP = Pr - Pf
Dimana: MP = Margin Pemasaran Pr = Harga Konsumen Pf = Harga Produsen 1.5.3 Analisis Regresi Berganda Analisis ini digunakan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi margin pemasaran jagung. Adapun cara untuk menghitung faktorfaktor yang mempengaruhi margin pemasaran yaitu dengan menggunakan regresi berganda sebagai berikut: Y = a + b 1. X 1 + b 2. X 2 + e Dimana: Y = Margin Pemasaran jagung (Kg) a = instersep / konstanta β 1.. β 2 = koefisien regresi masing-masing variabel bebas X 1... X 2 X 1 = harga ditingkat petani (Rp) X 2 = volume penjualan (Kg) e = gangguan stokhastik atau kesalahan (distrubance term) Pengujian secara simultan menggunakan statistik uji F, sedangkan pengujian secara individu menggunakan statistik uji t dengan taraf signifikan α =0,05. Statistik yang digunakan adalah: 1. Pengujian secara simultan H 0 : β i = 0 dan H 0 : minimal satu β i 0 F hitung = JK regresi /k JK sisa / (n-k-1) Dengan batasan : k = jumlah variabel pada persamaan model jumlah pengamatan sampel
Kriteria pengujian adalah F hitung < F daftar maka H 0 diterima, yang berarti variabel bebas tidak berpengaruh nyata secara simultan pada variabel terikat. Jika F hitung > F daftar maka H 0 ditolak dan menerima H 1, dengan demikian variabel secara simultan berpengaruh pada variabel terikat. 2. Pengujian secara parsial H 0 : β i = 0 dan H 0 : β i 0 t hitung = β i Se (β i) Dengan batasan : β i = jumlah variabel pada persamaan model Se (β i) = jumlah pengamatan sampel Kriteria pengujian adalah t hitung < t daftar maka H 0 diterima, yang berarti secara individu tidak terdapat pengaruh nyata variabel bebas terhadap variabel terikat. Jika t hitung > t daftar maka H 0 ditolak dan menerima H 1, yang berarti secara individu terdapat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.