III. METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. tentang Pemerintahan Daerah, pada Pasal 1 ayat (5) disebutkan bahwa otonomi

BAB I PENDAHULUAN. bagi pelaksanaan dan peningkatan pembangunan nasional. Tujuan lainnya untuk

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan harus dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Pembangunan

Pajak restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh. restoran.restoran adalah fasilitas penyedia makanan atau minuman dengan

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, DAN PENGGABUNGAN DAERAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PENERIMAAN PAJAK DAERAH KOTA MALANG

BUPATI SUBANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUBANG NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG

TINJAUAN HUKUM MEKANISME PENGELOLAAN PAJAK HOTEL DAN PAJAK RESTORAN.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN. Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan Pemerintah Republik

BAB III METODE KAJIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. daerah dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian Pendapatan Asli Daerah berdasarkan Undang-undang Nomor

III. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. mayoritas bersumber dari penerimaan pajak. Tidak hanya itu sumber

BAB I PENDAHULUAN. pemerataan yang sebaik mungkin. Untuk mencapai hakekat dan arah dari

LAJU PERTUMBUHAN PAJAK RESTORAN, HOTEL DAN HIBURAN DALAM PAD KOTA KEDIRI

PERSYARATAN DAN PROSEDUR PEMBENTUKAN DAERAH OTONOMI BARU

POTENSI PAJAK RUMAH KOS SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PAJAK DAERAH DALAM PENDAPATAN ASLI DAERAH DI KOTA BANJARMASIN

BAB I PENDAHULUAN. mengurus keuangannya sendiri dan mempunyai hak untuk mengelola segala. sumber daya daerah untuk kepentingan masyarakat setempat.

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Sejak diberlakukannya Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Otonomi

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat untuk penyelenggaraan

BAB II KAJIAN TEORITIS. Menurut Mardiasmo (2002: 132), pendapatan asli daerah adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan UU No.23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.12

ANALISIS POTENSI PENERIMAAN PAJAK HOTEL DI KABUPATEN KARIMUN SKRIPSI. Disusun oleh: JURUSAN ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan menganut asas

BAB I PENDAHULUAN. adalah ketersediaan dana oleh suatu negara yang diperlukan untuk pembiayaan

BAB I PENDAHULUAN. kebijakan daerahnya sendiri, membuat peraturan sendiri (PERDA) beserta

BAB I PENDAHULUAN. ini tidak terlepas dari keberhasilan penyelenggaraan pemerintah propinsi maupun

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA METRO,

BAB I PENDAHULUAN. Undang Nomor 23Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-

BAB I PENDAHULUAN. diharapkan suatu daerah otonom dapat berkembang sesuai dengan kemampuan

BAB I PENDAHULUAN. Menurut UU No. 22 Tahun 1999 yang telah diganti dengan UU No. 34 Tahun 2004

WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 49 TAHUN 2012 TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT SETORAN PAJAK DAERAH (SSPD)

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB VIII EKONOMI DAN KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Peran pemerintah daerah semakin meningkat dengan adanya kebijakan otonomi

BAB I PENDAHULUAN. dikelola dengan baik dan benar untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

BUPATI BARITO KUALA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI BARITO KUALA NOMOR 65 TAHUN 2015 TENTANG

ANALISIS KONTRIBUSI PAJAK DAERAH TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KOTA BANJARMASIN

BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG BAGI HASIL PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH UNTUK DESA

BAB I PENDAHULUAN. Otonomi daerah merupakan peluang dan sekaligus juga sebagai tantangan.

I. PENDAHULUAN. Kemajuan dan perkembangan ekonomi Kota Bandar Lampung menunjukkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-undang sebagai

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor

PROVINSI BANTEN BUPATI TANGERANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG

BAB II KAJIAN PUSTAKA. bersumber dari pajak. Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pembangunan ekonomi daerah khususnya pemerintah kota merupakan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, melalui pengeluaran-pengeluaran rutin dan pembangunan yang

I. PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adil dan makmur sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar pembangunan tersebut dibutuhkan dana yang cukup besar.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. daerahnya dari tahun ke tahun sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang telah

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 6 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG. Dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan nasional,

BAB I PENDAHULUAN. pengelolaan keuangan. Oleh karena itu, daerah harus mampu menggali potensi

BAB I PENDAHULUAN. No.22 tahun 1999 dan Undang-undang No.25 tahun 1999 yang. No.33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. merupakan titik awal pelaksanaan pembangunan, sehingga daerah diharapkan

Transkripsi:

III. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini memilih lokasi di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Pertimbangan dipilihnya daerah ini sebagai studi kasus karena Kota Tangerang Selatan merupakan daerah otonom baru yang terbentuk pada tahun 2008, yang diharapkan mampu mendorong peningkatan pelayanan di bidang pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan, serta memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah setelah dilakukannya pemekaran. Penelitian ini dilakukan pada 7 (tujuh) kecamatan yang ada di Kota Tangerang Selatan, yaitu Kecamatan Serpong, Kecamatan Ciputat, Kecamatan Pamulang, Kecamatan Pondok Aren, Kecamatan Serpong Aren, Kecamatan Ciputat Timur, dan Kecamatan Setu. Penelitian direncanakan akan berlangsung dari bulan Juli 2010 sampai Juli 2011. 3.2. Jenis dan Sumber Data a. Data Primer Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer serta data sekunder. Data primer diperoleh dan dikumpulkan langsung dari responden dan informan kunci dilapangan melalui wawancara dan menggunakan daftar pertanyaan yang terstruktur sesuai dengan tujuan penelitian. Data primer dilakukan untuk kajian potensi keuangan. b. Data Sekunder Data sekunder diperoleh dari instansi dan dinas-dinas terkait dengan penelitian, seperti: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, BPS, Pemerintah Daerah, Dinas Pendapatan Daerah dan hasil penelitian terdahulu. Data sekunder meliputi: profil daerah penelitian, tabel Input-Output Kota Tangerang Selatan, Tangerang dalam Angka, PDRB per sektor per kecamatan, dan data sekunder lainnya.

25 3.3. Kerangka Pendekatan Operasional Penelitian bertujuan untuk menjawab 3 (tiga) pertanyaan penelitian terkait dampak dari pemerakan yang diharapkan dapat memberikan konfigurasi potensi keuangan dan strategi pembangunan Kota Tangerang Selatan setelah dilakukannya pemekaran. Pendekatan penelitian pertama dengan melakukan penilaian kelayakan pemekaran Kota Tangerang Selatan berdasarkan PP No. 78 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah. Analisis yang digunakan sesuai dengan faktor dan indikator dalam rangka pembentukan daerah otonom baru dalam PP No. 78 Tahun 2007. Sehingga diperoleh faktor-faktor yang menjadi dasar pertimbangan Kota Tangerang Selatan layak untuk menjadi daerah otonom. Permasalahan kedua untuk mengetahui dampak pemekaran wilayah terhadap potensi keuangan Kota Tangerang Selatan. Pendekatan penelitian dilakukan melalui penghitungan pajak daerah dan retribusi daerah berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Parkir, Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha, dan Retribusi Perizinan Tertentu akan dihitung hingga diperoleh potensi penerimaan pajak daerah dan potensi penerimaan retribusi daerah. Sektor yang memiliki nilai potensi penerimaan terbesar merupakan sektor unggulan. Dalam menganalisis potensi keuangan juga dilakukan wawancara kuesioner untuk mengetahui potensi pajak dan retribusi sebagai pemasukan daerah Kota Tangerang Selatan. Permasalahan ketiga untuk mengetahui sektor unggulan di wilayah pemekaran Kota Tangerang Selatan. Pendekatan penelitian ini dilakukan dengan melakukan analisis I-O (Input-Output). Sehingga selanjutnya dapat disusun strategi untuk pembangunan Kota Tangerang Selatan melalui analisis SWOT.

26 Kependudukan Kemampuan Ekonomi Potensi Daerah Kemampuan Keuangan Sosial Budaya Sosial Politik Luas Daerah Pertahanan Keamanan Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Rentang Kendali PP No. 78 Tahun 2007 Kelayakan Pemekaran Pajak Hotel dan Restoran UU No. 28 Tahun 2009 Potensi Keuangan Unggulan Tabel I-O Kota Tangerang Selatan Analisis I-O Sektor Unggulan Strategi Pembangunan Wilayah Kota Tangerang Selatan Gambar 2. Kerangka Analisis Penelitian

27 Tabel 1. Matriks Analisis Penelitian No. Tujuan Metode Analisis 1. Mengetahui kelayakan pemekaran 2. Mengetahui potensi ekonomi unggulan 3. Mengidentifikasi sektor unggulan Analisis deskriptif PP No. 78 Tahun 2007 Analisis deskriptif UU No. 28 Tahun 2009 IDE PDRB & PAD Jenis Data Kondisi Wilayah Potensi pajak hotel & restoran Variabel Kependudukan, Kemampuan Ekonomi, Potensi Daerah, Kemampuan Keuangan, Sosial Budaya, Sosial Politik, Luas Daerah, Pertahanan, Keamanan, Tingkat Kesejahteraan Masyarakat, dan Rentang Kendali Tarif, jumlah kamar, tingkat hunian. Jumlah tamu, rata-rata pengeluaran Pertumbuhan PDRB & PAD Sumber Data BPS Bappeda Dispenda Responden Keluaran Kelayakan pemekaran Potensi keuangan unggulan Analisis I-O Tabel I-O PDRB BPS Sektor unggulan 4. Menyusun strategis pembangunan wilayah Analisis SWOT Hasil analisis sebelumnya Sektor unggulan Hasil analisis I-O Strategi 3.4. Hipotesis Berdasarkan latar belakang permasalahan, kerangka teori serta kerangka pemikiran yang dikemukan di atas, maka dapat disusun hipotesis sebagai berikut: 1. Kota Tangerang Selatan diduga layak untuk dijadikan daerah otonom sebagai pemekaran dari Kabupaten Tangerang berdasarkan kriteria PP No. 78 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah. 2. Potensi keuangan unggulan Kota Tangerang Selatan diduga sektor restoran. 3. Potensi pajak hotel dan restoran belum dimanfaatkan dengan optimal.

28 3.5. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode nonprobability sampling dengan teknik judgement (purpossive) sampling dengan pertimbangan responden yang dipilih merupakan pihak yang berperan penting dalam pembangunan daerah baik sebelum dan sesudah pemekaran. Menurut Juanda (2008) teknik judgement (purpossive) sampling adalah prosedur yang digunakan dalam memilih contoh berdasarkan pertimbangan tentang beberapa karakteristik yang cocok berkaitan dengan anggota contoh yang diperlukan untuk menjawab tujuan penelitian. 3.6. Metode Analisis Analisis data dilakukan dalam dua kategori, yaitu analisis deskriptif, baik secara kualitatif maupun kuantitatif pada wilayah penelitian. Kategori kedua dilakukan analisis statistika dan matematis, dengan menggunakan data kuantitatif yang tersedia. Data dan analisis kualitatif digunakan untuk mendukung hasil analisis statistika dan matematis. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis kelayakan pemekaran (PP No. 78 Tahun 2007), analisis pajak dan retribusi (UU Nomor 28 Tahun 2009), analisis I-O (Input-Output) dan analisis deskriptif. 3.6.1. Analisis Kelayakan Pemekaran (PP No. 78 Tahun 2007) Analisis ini digunakan untuk menjawab permasalahan pertama yaitu mengetahui kelayakan pemekaran Kota Tangerang Selatan dari Kabupaten Tangerang, meliputi syarat administrasi, syarat teknis, dan syarat fisik wilayah. Penilaian teknis seperti tertuang dalam PP No. 78 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah. Syarat teknis meliputi faktor dan indikator yang menjadi dasar pembentukan daerah otonom baru yang mencakup faktor kependudukan, kemampuan ekonomi, potensi daerah, kemampuan keuangan, sosial budaya, sosial politik, luas daerah, pertahanan, keamanan, tingkat kesejahteraan masyarakat dan rentang kendali penyelenggaraan pemerintah.

29 Tabel 2. Pembobotan (PP No. 78 Tahun 2007) NO. FAKTOR DAN INDIKATOR BOBOT 1 2 3 1 Kependudukan 20 1 Jumlah Penduduk 20 2 Kemampuan Ekonomi 15 2 PDRB per kapita 5 3 Pertumbuhan Ekonomi 5 4 Kontribusi PDRB 5 3 Potensi Daerah 15 5 Rasio Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank per 10.000 penduduk 2 6 Rasio kelompok pertokoan per 10.000 penduduk 1 7 Rasio pasar per 10.000 penduduk 1 8 Rasio sekolah SD per penduduk usia SD 1 9 Rasio sekolah SLTP per penduduk usia SLTP 1 10 Rasio sekolah SLTA per penduduk usia SLTA 1 11 Rasio fasilitas kesehatan per 10.000 penduduk 1 12 Rasio tenaga medis per 10.000 penduduk 1 13 Persentase rumah tangga yang mempunyai kendaraan bermotor atau perahu motor atau perahu kapal motor 1 14 Persentase pelanggan listrik terhadap jumlah rumah tangga 1 15 Rasio panjang jalan terhadap jumlah kendaraan bermotor 1 16 Persentase pekerja yang berpendidikan minimal SLTA terhadap penduduk usia 18 tahun ke atas 1 17 Persentase penduduk yang bekerja 1 18 Rasio Pegawai Negeri Sipil terhadap penduduk 1 4 Kemampuan Keuangan 15 19 Jumlah Pendapatan Daerah Sendiri (PDS) 10 20 Rasio PDS terhadap PDRB 5 5 Sosial Budaya 5 21 Rasio sarana peribadatan per 10.000 penduduk 2 22 Rasio fasilitas lapangan olahraga per 10.000 penduduk 2 23 Jumlah balai pertemuan 1 6 Sosial Politik 5 24 Rasio penduduk yang ikut Pemilu lagislatif penduduk yang mempunyai hak pilih 3 25 Jumlah organisasi kemasyarakatan 2 7 Luas Daerah 5 26 Luas wilayah keseluruhan 2 27 Luas wilayah efektif yang dimanfaatkan 3 8 Pertahanan 5 28 Rasio jumlah personil aparat pertahanan terhadap luas wilayah 3 29 Karakteristik wilayah, dilihat dari sudut pandang pertahanan 2 9 Keamanan 5 30 Angka kriminalitas per 10.000 penduduk 2 31 Rasio jumlah personil aparat keamanan terhadap jumlah penduduk 3 10 Tingkat Kesejahteraan Masyarakat 5 32 Indeks Pembangunan Manusia 5 11 Rentang Kendali 5 33 Rata-rata jarak kecamatan ke pusat pemerintahan 2 34 Rata-rata waktu perjalanan dari kecamatan ke pusat pemerintahan 3 TOTAL 100

30 Penilaian indikator dilakukan dengan membandingkan nilai calon daerah otonom baru dan daerah induk dengan rata-rata seluruh daerah sekitar. Semakin tinggi nilai calon daerah otonom baru dan daerah induk (apabila dimekarkan) dibandingkan rata-ratanya, semakin besar skornya. Nilai skor antara 1 sampai 5, dimana: Skor 5 : jika nilainya >= 0,8 rata-rata sekitar Skor 4 : jika nilainya >= 0,6 rata-rata sekitar Skor 3 : jika nilainya >= 0,4 rata-rata sekitar Skor 2 : jika nilainya >= 0,2 rata-rata sekitar Skor 1 : jika nilainya < 0,2 rata-rata sekitar Nilai indikator adalah hasil perkalian skor dan bobot masing-masing indikator. Kelulusan ditentukan oleh total nilai seluruh indikator dengan kategori sebagai berikut: a. Sangat mampu : total nilai seluruh indikator antara 420 sampai 500 b. Mampu : total nilai seluruh indikator antara 340 sampai 419 c. Kurang mampu : total nilai seluruh indikator antara 260 sampai 339 d. Tidak mampu : total nilai seluruh indikator antara 180 sampai 259 e. Sangat tidak mampu : total nilai seluruh indikator antara 100 sampai 179 Kriteria pengambilan keputusan: a. Usulan daerah otonom baru ditolak apabila calon daerah atau daerah induknya berkategori kurang mampu, tidak mampu, atau sangat tidak mampu; atau b. Ditolak jika Jumlah nilai faktor Kependudukan <80, atau Jumlah nilai faktor Kemampuan Ekonomi <60, atau Jumlah nilai faktor Potensi Daerah <60, atau Jumlah nilai faktor Kemampuan Keuangan <60

31 3.6.2. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui dampak pemekaran terhadap pembangunan ekonomi dan kapasitas fiskal daerah. Pertumbuhan pembangunan ekonomi didekati dengan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sedangkan pertumbuhan kemampuan keuangan daerah didekati dengan data Pendapatan Daerah dari data Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setelah pemekaran. Melalui analisis ini dapat dilihat laju pertumbuhan PDRB dan Pendapatan Daerah. Rumus Laju Pertumbuhan PDRB: LPPDRB t = PDRB PDRB t PDRB t 1 t 1 100% Dimana: LPPDRB t = Laju pertumbuhan PDRB pada tahun ke-t PDRB t = Angka PDRB pada tahun ke-t PDRBt-1 = Angka PDRB pada tahun ke-t-1 Rumus Laju Pertumbuhan Pendapatan Daerah (PD): LPPD t = PD PD t PD t 1 t 1 100% Dimana: LPPD t = Laju pertumbuhan Pendapatan Daerah pada tahun ke-t PD PD t t-1 = Angka Pendapatan Daerah pada tahun ke-t = Angka Pendapatan Daerah pada tahun ke-t-1 3.6.3. Analisis Indeks Diversitas Entropi (IDE) Analisis IDE digunakan untuk melihat keragaman aktifitas ekonomi atau luas jangkauan spasial suatu wilayah. Prinsip dalam analisis IDE adalah semakin tinggi nilai IDE suatu wilayah berarti semakin beragam aktifitas ekonomi atau semakin luas jangkauan spasial wilayah tersebut. Data yang digunakan adalah data PDRB dan Pendapatan Daerah Kabupaten Tangerang sebelum dan setelah pemekaran, serta Kota Tangerang Selatan setelah pemekaran.

32 a. Analisis Indeks Diversitas Entropi (IDE) PDRB Analisis ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan jenis lapangan usaha/sektor PDRB sesudah pemekaran dengan membandingkan pada kondisi sebelum pemekaran. Sektor-sektor yang diamati meliputi: (1) Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan; (2) Pertambangan dan Penggalian; (3) Industri Pengolahan; (4) Listrik, Gas dan Air Bersih; (5) Bangunan; (6) Perdagangan, Hotel dan Restoran; (7) Pengangkutan dan Komunikasi; (8) Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan; (9) Jasa-jasa. Shannon dan Weaver (1949) memformulasikan nilai entropi (Pi) sebagai berikut: IDEPDRB = Pi = Xi Xi n i= 1 Pi ln Pi Dimana: Pi = Proporsi PDRB sektor ke-i n = Jumlah sektor Xi = Persentase masing-masing lapangan usaha terhadap total PDRB Untuk melihat tingkat perkembangan terdapat ketentuan jika Indeks Diversitas Entropi (IDE) PDRB semakin tinggi, maka tingkat perkembangan semakin tinggi atau semakin merata. b. Analisis Indeks Diversitas Entropi (IDE) Pendapatan Daerah (PD) Analisis ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan sumber-sumber Pendapatan Daerah sesudah pemekaran. Sektor-sektor yang diamati meliputi: (1) Pendapatan Asli Daerah (PAD); (2) Dana Perimbangan; dan (3) Lain-lain Penerimaan yang Sah. Shannon dan Weaver (1949) memformulasikan nilai entropi (Pi) sebagai berikut: IDEPD = Pi = Xi Xi n i= 1 Pi ln Pi

33 Dimana: Pi = Proporsi sumber-sumber PD terhadap total PD n = Jumlah sumber PD Xi = Persentase masing-masing sumber-sumber PD terhadap total PD Untuk melihat tingkat perkembangan terdapat ketentuan jika Indeks Diversitas Entropi (IDE) Pendapatan Daerah semakin tinggi, maka tingkat perkembangan semakin tinggi atau semakin merata. 3.6.4. Analisis Pajak dan Retribusi (UU Nomor 28 Tahun 2009) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, pajak yang menjadi hak serta kewenangan Kabupaten/Kota meliputi Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan, Pajak Parkir, Pajak Air Tanah, Pajak Sarang Burung Walet, Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan, dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa ataupemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Jasa adalah kegiatan pemerintah daerah berupa usaha dan pelayanan yang menyebabkan barang, fasilitas, atau kemanfaatan lainnya yang dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Jasa usaha adalah jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip-prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta. a. Pajak Hotel Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel. Hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari sepuluh. Wajib pajak hotel adalah orang pribadi atau badan yang mengusahakan hotel. Dasar pengenaan

34 pajak hotel adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada hotel. Tarif pajak hotel ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). Tarif pajak hotel tersebut selanjutnya ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Estimasi Potensi Pajak Hotel: Potensi Pajak Hotel = Tarif x (jumlah pembayaran/yang seharusnya dibayar kepada hotel) Penghitungan potensi pajak hotel tidaklah sesederhana itu, karena meskipun besar tarif karena ditentukan oleh undang-undang maupun Peraturan Daerah, namun kesulitan terjadi ketika harus menentukan besarnya basis. Untuk menentukan jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada hotel (basis), umumnya daerah tidak memiliki metode yang memadai. Jika hanya mengandalkan data pada jumlah yang dilaporkan pihak hotel di masa-masa sebelumnya maka dapat dipastikan penghitungan potensinya akan under valued. Hal ini dikarenakan ada kecenderungan pihak hotel akan melaporkan jumlah pembayaran yang diterima lebih kacil dari yang seharusnya. Oleh karena itu, penghitungan potensi pajak hotel dapat dilakukan dengan teknik estimasi penghitungan potensi penerimaan pajak hotel dengan basis mikro, yaitu dengan melakukan assesment pada pembayaran pajak potensial. Hal yang dilakukan adalah dengan melakukan survei guna mengumpulkan data di lapangan. Informasi yang diperlukan dalam rangka mengestimasi besarnya potensi penerimaan pajak hotel antara lain: a. Jumlah kamar yang dimiliki oleh setiap hotel/wisma, menurut klasifikasi (kelas kamar). b. Tarif resmi yang dikenakan untuk setiap kamar yang dimiliki (berdasarkan kelas kamar). c. Jumlah tamu yang datang, diekspresikan dalam tingkat kunjungan paling ramai, suasana normal dan paling sepi. Hasilnya adalah rata-rata tingkat hunian kamar per hari. d. Jumlah pajak yang dibayarkan oleh hotel/wisma tersebut setiap bulan atau tahun sebagai perbandingan dengan besarnya nilai potensi yang diperoleh.

35 Salah satu hal penting dalam penghitungan potensi adalah menentukan besarnya tingkat fluktuasi suatu aktivitas ekonomi seperti jumlah masyarakat yang berkunjung ke suatu obyek wisata, rumah makan, jumlah pedagang yang berjualan, dan lain-lain. Teknik untuk mengetahui besarnya tingkat aktivitas tersebut adalah dengan rata-rata. b. Pajak Restoran Pajak restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran. Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan sejenisnya termasuk jasa boga/katering. Wajib pajak restoran adalah orang pribadi atau badan yang mengusahakan restoran. Dasar pengenaan pajak restoran adalah jumlah pembayaran yang diterima atau yang seharusnya diterima restoran. Tarif pajak restoran ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). Estimasi Potensi Pajak Restoran: Potensi Pajak Restoran = Tarif x (jumlah yang diterima/seharusnya diterima restoran) Metode penghitungan potensi pajak restoran dapat dilakukan dengan melakukan: a) lakukan identifikasi terkait jumlah restoran, skala usaha, lokasi, dan sebagainya; b) jika ternyata di kabupaten/kota terdapat banyak restoran maka karena keterbatasan sumber daya lakukan sampling. Contoh (sample) harus mencerminkan populasi, maka harus dipilih sampel restoran yang sekiranya mampu mewakili populasi terutama dari skala usahanya; c) jika sample telah ditentukan lakukan observasi terhadap restoran bersangkutan terkait dengan frekuensi kunjungan tamu, rata-rata pengeluaran tamu, serta jumlah tamu, ratarata pengeluaran tamu; d) lakukan penghitungan jumlah pembayaran yang diterima atau yang seharusnya diterima restoran (basis) per hari yaitu dengan mengalikan jumlah tamu dengan rata-rata pengeluarannya. Kemudian untuk menghitung basis selama sebulan kalikan 30 hari atau setahun dengan 360 hari. Sementara untuk menghitung besar potensi pajak restoran yang bersangkutan tinggal mengalikannya dengan tarif yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah.

36 3.6.5. Analisis I-O (Input-Output) Analisis I-O (input-output) merupakan suatu pendekatan yang mampu menunjukkan performa pembangunan perekonomian wilayah khususnya menyangkut keterkaitan antar sektor. Selain itu juga dapat dikembangkan berbagai alternatif skenario pembangunan guna mendorong keberimbangan dan keterkaitan antar wilayah serta mendorong peningkatan dampak lokal, regional dan nasional dalam upaya mengatasi kemiskinan, minimnya anggaran pemerintah, minimnya nilai tambah dan ketergantungan yang tinggi terhadap impor. Analisis I-O dengan menggunakan Tabel Input-Output adalah alat yang akan digunakan untuk melihat keterkaitan antar sektor yang terdapat dalam perekonomian. Dengan Tabel I-O akan dapat dilihat secara gamblang keterkaitan antar satu sektor dengan sektor lainnya. Tabel I-O yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Tabel Input Output Kota Tangerang Selatan tahun 2009. Tabel 3. Struktur Dasar Tabel Input-Output Input Internal Wilayah Input Antara Nilai Tambah Input Eksternal Wilayah Total Input Permintaan Internal Wilayah Permintaan Permintaan Antara Permintaan Eksternal Wilayah Total Output Akhir 1 2 J n C G I E 1 X 11 X 1j X 1n C 1 G 1 I 1 X 1 X 1 2 X 21 X 2j X 2n C 2 G 2 I 2 X 2 X 2 : i X ij C i G i I i X i X i : N X n1 X nj X nn C n G n I n X n X n W W 1 W j W n C W G W I W E W W T T 1 T j T n C T G T I T E T T S S 1 S j S n C S G S I S E S S M M 1 M j M n C M G M I M - M X 1 X j X n C G I E X Keterangan: ij : sektor ekonomi (i = 1, 2,... n; j = 1, 2,... n) X ij Xi : banyaknya output sektor i yang digunakan sebagai input sektor j : total output sektor i X j dengan total input (X : total output sektor j; untuk sektor yang sama (i = j), total output sama i = X j )

37 Ci Gi Ii Ei Yi W T j S j M j j : permintaan konsumsi rumah tangga terhadap output sektor i : permintaan konsumsi (pengeluaran belanja rutin) pemerintah terhadap output sektor i : permintaan pembentukan modal tetap netto (investasi) dari output sektor i; output sektor i yang menjadi barang modal : ekspor barang dan jasa sektor i; output sektor i yang diekspor/dijual ke luar wilayah, permintaan wilayah eksternal terhadap output sektor i : total permintaan akhir terhadap output sektor i (Y i = C i + G i + I i + E i ) : pendapatan (upah dan gaji) rumah tangga dari sektor j; nilai tambah sektor j, yang dialokasikan sebagai upah dan gaji anggota rumah tangga yang bekerja di sektor j : pendapatan pemerintah (pajak tak langsung) dari sektor j; nilai tambah sektor j yang menjadi pendapatan asli daerah dari sektor j : surplus usaha sektor j; nilai tambah sektor j yang menjadi surplus usaha : impor sektor j; komponen input produksi sektor j yang diperoleh dari luar 3.6.6. Analisis SWOT Analisis mengenai strategi pembangunan dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness) dengan faktor eksternal, yaitu peluang (Opportunity) dan ancaman (Threats) bagi pengembangannya. Selain itu, analisis ini juga digunakan untuk merumuskan alternatif strategi dalam pengembangan teknologi penangkapan tepat guna. Menurut (Rangkuti, 1990), Strength dan Weakness adalah faktor internal sedangkan Opportunity dan Threats adalah faktor eksternal. 3.7. Definisi Operasional 1. Indikator merupakan suatu parameter atau suatu nilai yang diturunkan dari faktor yang memberikan informasi tentang keadaan dari suatu fenomena/lingkungan/wilayah, dengan signifikansi dari indikator tersebut berhubungan secara langsung dengan nilai parameter

38 2. Kepadatan penduduk adalah rasio antara jumlah penduduk dengan luas wilayah efektif. 3. Produk Domestik Regional Bruto merupakan jumlah nilai tambah bruto seluruh sektor kegiatan ekonomi yang terjadi/muncul di suatu daerah pada periode tertentu. 4. Pajak daerah adalah pungutan kepada masyarakat, yang menjadi hak perogratif pemerintah daerah, tanpa ada kontraprestasi secara langsung. 5. Retribusi merupakan partisipasi masyarakat untuk ikut membiayai fasilitas dan pelayanan pemerintah yang dinikmatinya.