Optimizing Remote Sensing Data for Guiding Geothermal Exploration

dokumen-dokumen yang mirip
PENGGUNAAN CITRA SATELIT LANDSAT 8 UNTUK ANALISA PATAHAN PADA LAPANGAN PANAS BUMI ARJUNO WELIRANG PROVINSI JAWA TIMUR

PERAN REMOTE SENSING DALAM KEGIATAN EKSPLORASI GEOLOGI

Remote Sensing Technology for Mapping Area of Interest (AoI) in Electro Magnetic Survey Design in KMS Geothermal Field

KOREKSI RADIOMETRIK CITRA LANDSAT-8 KANAL MULTISPEKTRAL MENGGUNAKAN TOP OF ATMOSPHERE (TOA) UNTUK MENDUKUNG KLASIFIKASI PENUTUP LAHAN

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam Pasal 12 Undang-undang Kehutanan disebutkan bahwa. penyusunan rencana kehutanan. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

METODOLOGI. Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian

Jurusan Teknik Geomatika Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Metode Geofisika untuk Eksplorasi Panasbumi

Satelit Landsat 8, Landsat Data Continuity Mission Pengolahan Citra Digital

KOREKSI RADIOMETRIK CITRA LANDSAT-8 KANAL MULTISPEKTRAL MENGGUNAKAN TOP OF ATMOSPHERE (TOA) UNTUK MENDUKUNG KLASIFIKASI PENUTUP LAHAN

Berkala Fisika ISSN : Vol. 17, No. 2, April 2014, hal 67-72

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode Penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid

1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Prediksi Spasial Perkembangan Lahan Terbangun Melalui Pemanfaatan Citra Landsat Multitemporal di Kota Bogor

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

SENSOR DAN PLATFORM. Kuliah ketiga ICD

LOGO PEMBAHASAN. 1. Pemetaan Geomorfologi, NDVI dan Temperatur Permukaan Tanah. 2. Proses Deliniasi Prospek Panas Bumi Tiris dan Sekitarnya

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian

SEMINAR NASIONAL GEOGRAFI UMS 2016 Farid Ibrahim, Fiqih Astriani, Th. Retno Wulan, Mega Dharma Putra, Edwin Maulana; Perbandingan Ekstraksi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumatera Utara secara geografis terletak pada 1ºLintang Utara - 4º Lintang Utara dan 98 Bujur Timur Bujur

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Lampiran 1. Peta klasifikasi penutup lahan Kodya Bogor tahun 1997

APLIKASI CITRA LANDSAT UNTUK PEMODELAN PREDIKSI SPASIAL PERKEMBANGAN LAHAN TERBANGUN ( STUDI KASUS : KOTA MUNTILAN)

II. TINJAUAN PUSTAKA. permukaan lahan (Burley, 1961 dalam Lo, 1995). Konstruksi tersebut seluruhnya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

III METODOLOGI. 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Laboratorium Geofisika, Jurusan Fisika FMIPA, ITS Surabaya. Keywords Citra satelit, DEM, Landsat 7+ETM, Geothermal, Tiris, geomagnet

LAPORAN PRAKTIKUM PENGINDERAAN JAUH KOMPOSIT BAND CITRA LANDSAT DENGAN ENVI. Oleh: Nama : Deasy Rosyida Rahmayunita NRP :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Evapotranspirasi Potensial Standard (ETo)

APLIKASI CITRA SATELIT LANDSAT 8 UNTUK IDENTIFIKASI DAERAH PROSPEK PANAS BUMI DAERAH SONGGORITI BATU DAN SEKITARNYA

bdtbt.esdm.go.id Benefits of Remote Sensing and Land Cover

Oleh : Hernandi Kustandyo ( ) Jurusan Teknik Geomatika Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KLASIFIKASI CITRA LANDSAT UNTUK IDENTIFIKASI KONDISI GEOLOGI: STUDI KASUS DAERAH PARANGTRITIS JOGJAKARTA

Untuk mengetahui ketelitian dari hasil groundtruth dan diperoleh 83.67% maka klasifikasi dianggap benar. (Purwadhi, 2001) Pembahasan

11/25/2009. Sebuah gambar mengandung informasi dari obyek berupa: Posisi. Introduction to Remote Sensing Campbell, James B. Bab I

BAB I PENDAHULUAN. barat dan kelompok timur. Kawah bagian barat meliputi Kawah Timbang, Kawah

ABSTRAK. Kata Kunci: kebakaran hutan, penginderaan jauh, satelit Landsat, brightness temperature

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perubahan penutupan lahan merupakan keadaan suatu lahan yang mengalami

penginderaan jauh remote sensing penginderaan jauh penginderaan jauh (passive remote sensing) (active remote sensing).

MODEL SISTEM PANAS BUMI BERDASARKAN DATA GRAVITY PADA DAERAH SONGA - WAYAUA, PULAU BACAN, MALUKU UTARA

BAB I PENDAHULUAN. bertipe komposit strato (Schmincke, 2004; Sigurdsson, 2000; Wilson, 1989).

BAB III METODE PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Lahan dan Penggunaan Lahan 2.2 Perubahan Penggunaan Lahan dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Zona Perbukitan Rembang merupakan daerah yang sudah dikenal

SURVEI MAGNETOTELLURIK DAERAH PANAS BUMI GUNUNG ARJUNO- WELIRANG JAWA TIMUR

ANALISIS PERUBAHAN SUHU PERMUKAAN TANAH DENGAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT TERRA DAN AQUA MODIS (STUDI KASUS : DAERAH KABUPATEN MALANG DAN SURABAYA)

SURVEY GEOMAGNET DI DAERAH PANAS BUMI SONGA-WAYAUA, KABUPATEN HALMAHERA SELATAN, MALUKU UTARA. Eddy Sumardi, Timor Situmorang

EVALUASI KAWASAN POTENSI HIDROTERMAL GUNUNG KELUD MENGGUNAKAN ANALISA CITRA SATELIT

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lahan dan Penggunaan Lahan Pengertian Lahan

Image Fusion: Trik Mengatasi Keterbatasan Citra

SIDANG TUGAS AKHIR RG

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

Bab I. Pendahuluan. I Putu Krishna Wijaya 11/324702/PTK/07739 BAB I PENDAHULUAN

THE MULTISPECTRAL DATA ANALYSIS TO IDENTIFICATE GEOTHERMAL POTENTIAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Gambar 11. Citra ALOS AVNIR-2 dengan Citra Komposit RGB 321

BAB 3. PENDEKATAN DAN METODOLOGI

Penentuan Daerah Potensi Rawan Bencana Letusan Gunung Kelud Menggunakan Citra Satelit

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Maksud dan Tujuan

SURVEI GAYA BERAT DAN AUDIO MAGNETOTELURIK (AMT) DAERAH PANAS BUMI PERMIS, KABUPATEN BANGKA SELATAN PROVINSI BANGKA BELITUNG

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kekeringan

BAB IV PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOFISIKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Geologi mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, dan proses pembentukannya.

Perubahan Nilai Konsentrasi TSM dan Klorofil-a serta Kaitan terhadap Perubahan Land Cover di Kawasan Pesisir Tegal antara Tahun

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang

Analisa Perubahan Tutupan Lahan di Waduk Riam Kanan dan Sekitarnya Menggunakan Sistem Informasi Geografis(SIG) dan data citra Landsat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Gambar 1. Satelit Landsat

KAJIAN CITRA RESOLUSI TINGGI WORLDVIEW-2

Manifestasi Panas Bumi Gradien Geothermal Eksplorasi Panas Bumi Analisis Geologi

PEMANFAATAN INTERFEROMETRIC SYNTHETIC APERTURE RADAR (InSAR) UNTUK PEMODELAN 3D (DSM, DEM, DAN DTM)

III. METODOLOGI. Gambar 2. Peta Orientasi Wilayah Penelitian. Kota Yogyakarta. Kota Medan. Kota Banjarmasin

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh ( Citra ASTER dan Ikonos ) Oleh : Bhian Rangga JR Prodi Geografi FKIP UNS

PENYELIDIKAN GEOLISTRIK DAN HEAD-ON DAERAH PANAS BUMI SEMBALUN, KABUPATEN LOMBOK TIMUR - NTB

Pengukuran Kekotaan. Lecture Note: by Sri Rezki Artini, ST., M.Eng. Geomatic Engineering Study Program Dept. Of Geodetic Engineering

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 PENGOLAHAN DAN INTERPRETASI DATA GEOFISIKA

BAB I PENDAHULUAN. pembentuk tanah yang intensif adalah proses alterasi pada daerah panasbumi.

SURVEI MAGNETOTELURIK (MT) DAERAH PANAS BUMI SUMANI, PROVINSI SUMATERA BARAT

BAB II DASAR TEORI. 2.1 DEM (Digital elevation Model) Definisi DEM

09 - Penginderaan Jauh dan Pengolahan Citra Dijital. by: Ahmad Syauqi Ahsan

ANALISIS ZONA PERMEABEL FLUIDA SISTEM PANAS BUMI GUNUNG API SLAMET BERDASARKAN ANALISIS KERAPATAN KELURUSAN CITRA SRTM DAN STRUKTUR GEOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. and R.W. Kiefer., 1979). Penggunaan penginderaan jauh dalam mendeteksi luas

Gambar 7. Lokasi Penelitian

SURVEI GEOFISIKA TERPADU (AUDIO MAGNETOTELURIK DAN GAYA BERAT) DAERAH PANAS BUMI MALINGPING KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN

q Tujuan dari kegiatan ini diperolehnya peta penggunaan lahan yang up-to date Alat dan Bahan :

PENDUGAAN ZONA MINERALISASI GALENA (PbS) DI DAERAH MEKAR JAYA, SUKABUMI MENGGUNAKAN METODE INDUKSI POLARISASI (IP)

PERANAN CITRA SATELIT ALOS UNTUK BERBAGAI APLIKASI TEKNIK GEODESI DAN GEOMATIKA DI INDONESIA

BAB III METODE PENELITIAN

Transkripsi:

Optimizing Remote Sensing Data for Guiding Geothermal Exploration Rial Dwi Martasari 1,2, Yunus Daud 2,3 and Suwijanto Tarmidi 1 1 PT. NewQuest Geotechnology, Indonesia 2 Master Program in Geothermal Exploration, Graduate Program of Physical Science, The University of Indonesia 3 Geothermal Laboratory, Department of Physics, The University of Indonesia rial.dwimartasari@newquest-geotechnology.com Keywords: Remote Sensing, geothermal exploration ABSTRACT Geothermal exploration is a crusial step in geothermal system development sequences. This step is costly and requires quite long times, especially for large coverage survey area. Accordingly, appropriate methods need to be applied before and during field survey to keep this step effective. One of the methods that can be used as a guidance in conducting more effective geothermal field survey is Remote Sensing. Remote sensing data can contribute to rock unit determination, geological structure identification and surface manifestation recognition. These contributions can act as useful clues to guide in cunstructing of geological, geochemical and geophysical survey design. This new field survey design is proposed to give better result in data distribution that can lead to better and more representative data interpretation. We have applied this method in several geothermal prospect areas. Field survey with previous design (without remote sensing method) took 2 months longer survey period than other surveys with remote sensing method. The data distributions were also less representative than the ones with remote sensing guidance. These facts proved that remote sensing is an appropriate method to guide more effective field survey for geothermal exploration. PENDAHULUAN Sumberdaya panasbumi umumnya berada di daerah vulkanik yang memungkinkan dapat terbentuknya suatu sistem panasbumi di bawah permukaan bumi. Manifestasi panasbumi dapat muncul di permukaan akibat adanya fluida panas dari bawah permukaan bumi mendesak ke atas untuk penyesuaian tekanan yang difasilitasi oleh adanya sistem struktur geologi yang dapat berupa kekar, sesar dan patahan pada struktur perlapisan bumi. Manifestasi panasbumi di permukaan bumi dapat berupa fumarole, mataair panas, kubangan lumpur panas (mud pools), geyser dan lain-lain. Selain struktur geologi aspek geologi yang berperan menentukan keberadaan suatu sistem panasbumi adalah persebaran batuan dan alterasi batuan. Alterasi batuan ini dapat terjadi karena terdapat aktifitas fluida panas di bawah permukaan. Untuk mengetahui hal tersebut sangat perlu dilakukan kegiatan lapangan untuk memetakan persebarannya. Kegiatan peninjauan di lapangan (field checking) merupakan suatu fundamental yang kuat dalam kegiatan eksplorasi, namun kegiatan tersebut tentu saja membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tinggi untuk mencapai tingkat akurasi yang baik. Saat ini metoda remote sensing atau penginderaan jauh telah menjadi satu alat eksplorasi yang berperan dalam menunjang kegiatan tersebut. Keunggulan metode ini adalah dapat menentukan zona-zona yang diperkirakan prospek sebelum melakukan peninjauan langsung di lapangan. Secara klimatologi kawasan Asia Tenggara hampir seluruhnya memiliki iklim tropis di mana vegetasi tumbuh dengan lebat dan tingkat erosi berlangsung sangat intensif. Suatu tantangan tersendiri untuk melakukan penelitian menggunakan remote sensing pada daerah yang memiliki vegetasi lebat, hal tersebut tentu akan sangat membantu kegiatan-kegiatan eksplorasi lainnya di wilayah beriklim tropis. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk membantu dalam melakukan kegiatan lapangan agar dapat menginterpretasikan wilayah panasbumi secara keseluruhan dengan waktu yang singkat dan biaya lebih kecil. DATA REMOTE SENSING Penginderaan jauh didefinisikan sebagai suatu metoda untuk mengenal dan menentukan obyek di permukaan bumi tanpa melalui kontak langsung dengan obyek tersebut. Pada tahun 1972 satelit ERTS-1 (sekarang dikenal dengan Landsat) untuk pertama kali diorbitkan Amerika Serikat. Satelit ini dikenal dengan satelit sumber alam karena fungsinya adalah untuk memetakan potensi sumber alam dan memantau kondisi lingkungan. Para praktisi dari berbagai bidang ilmu mencoba memanfaatkan data Landsat untuk menunjang program pemetaan, dalam waktu singkat disimpulkan bahwa data satelit tersebut potensial untuk menunjang program pemetaan dalam lingkup sangat luas. Penggunaan data satelit penginderaan jauh di bidang kebumian telah banyak dilakukan di negara maju untuk keperluan pemetaan geologi, eksplorasi mineral dan energi, bencana alam dan sebagainya. Gambar 1. Komponen Penginderaan Jauh: (1). Sumber Energi (matahari); (2). Target (obyek di permukaan bumi); (3). Atmosfir (media transmisi); dan (4). Sensor (alat perekam). Empat komponen dasar dari sistem Penginderaan Jauh adalah target, sumber energi, alur transmisi, dan sensor (Gambar 1). Komponen dalam sistem ini berkerja bersama untuk mengukur dan mencatat informasi mengenai target tanpa menyentuh obyek tersebut. Sumber energi yang menyinari atau memancarkan energi elektromagnetik pada target mutlak diperlukan. Energi berinteraksi dengan target 1

dan sekaligus berfungsi sebagai media untuk meneruskan informasi dari target kepada sensor. Sensor adalah sebuah alat yang mengumpulkan dan mencatat radiasi elektromagnetik. Setelah dicatat, data akan dikirimkan ke stasiun penerima dan diproses menjadi format yang siap pakai, diantaranya berupa citra. Citra ini kemudian diinterpretasi untuk menyarikan informasi mengenai target. Proses interpretasi biasanya berupa gabungan antara visual dan automatic dengan bantuan komputer dan perangkat lunak pengolah citra. Ciri khas dari citra Landsat 7 dengan sensor ETM+ dengan 8 kanal panjang gelombang (band). Masing-masing kanal yang terdapat pada sensor ETM+ mempunyai kemampuan dan karakteristik yang berbeda-beda dalam menangkap pancaran gelombang elektromagnetik dari obyek di permukaan bumi. Tiap kanal pada Landsat 7+ ETM memiliki ukuran panjang gelombang karateristik tersendiri. Data yang digunakan dalam analisis Landsat 7+ETM adalah data pada band 4, band 5 dan band 7 untuk mendapatkan kombinasi yang cukup baik dalam analisis persebaran litologi untuk menghasilkan peta vulkanostratigrafi, persebaran struktur yang mengontrol daerah telitian serta dapat mengidentifikasi persebaran alterasi yang nampak. Saat ini sudah diluncurkan landsat terbaru yang diberi nama landsat 8 yang dapat diakses secara komersial. Satelit landsat 8 ini memiliki sensor Onboard Operational Land Imager (OLI) dan Thermal Infrared Sensor (TIRS) dengan jumlah band sebanyak 11 buah. Di antara band-band tersebut, 9 band (band 1-9) berada pada panjang gelombang OLI dan 2 lainnya (band 10 dan 11) pada TIRS. Sebagian besar band memiliki spesifikasi mirip dengan landsat 7. Jika menggunakan landsat ini kombinasi band untuk warna RGB adalah band 5, 6 dan 7. Perbedaannya pada kedua versi tersebut tidak terlalu banyak (Tabel 1). Karakteristik persamaan dan perbedaannya antara lain : Tabel 1. Perbedaan Landsat 7 dan Landsat 8 Landsat 7 Landsat 8 Jenis Band Resolusi (m) Jenis Band Resolusi (m) Band 1 30 Band 1 30 Band 2 30 Band 2 30 Band 3 30 Band 3 30 Band 4 30 Band 4 30 Band 5 30 Band 5 30 Band 6 30 Band 7 30 Band 7 30 Band 8 15 Band 8 15 Band 9 30 Band 6 60 Band 10 100 Band 11 100 PEMPROSESAN DATA REMOTE SENSING Data remote sensing yang dilakukan pemprosesan yaitu data topografi ASTER dan data landsat. Data topografi ASTER (The Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer) sendiri memiliki resolusi 15 meter. Dalam pengolahannya menggunakan software Global Mapper versi 15. Data ini merupakan data open source yang dapat di download secara bebas. Pengolahan pada software Global Mapper hanya untuk meng-eksport menjadi tipe file (JPG yang memiliki koordinat) yang dapat di baca pada software MapInfo, software yang digunakan untuk mengolah data selanjutnya Data Citra Landat yang umum dipergunakan adalah Landsat 7 dan Landsat 8. Data awal dapat di akses secara komersial pada website United States of Geological Service (USGS). Komposisi warna RGB yang dipergunakan jika menggunakan landsat 7 adalah band 4, 5 dan 7, sedangkan jika menggunakan landsat 8 perpaduan band yang digunakan adalah band 5, 6 dan 7. Band-band tersebut memiliki sifat yang sensitif dalam menangkap sinyal yang dipancarkan oleh klorofil dari vegetasi sehingga dapat mengidentifikasi keberadaan alterasi batuan dengan baik. Pemprosesan data ini dapat dilakukan dengan bantuan beberapa software yang menunjang, seperti ERMapper, ILWIS, IDRISI, ERDAS, PCI, ENVI dan lain-lain yang dapat dipergunakan sebagai pilihan. Dalam penelitian ini software yang dipergunakan adalah ERMapper. Setelah dilakukan kombinasi band untuk mendapatkan warna yang maksimal dan dapat mempermudah dalam interpretasi dapat dilakukan pengaturan histogram warna sampai mendapatkan warna yang memiliki kontras yang maksimal. Coordinate system pada software ERMapper ini selalu menggunakan UTM dengan zona utara (N) sehingga harap diperhatikan ketika akan mengimport data output dari software ini. Output dari pemrosesan ini adalah data dengan tipe.ers atau.alg agar dapat dibaca pada Software MapInfo. Dengan menggunakan data-data remote sensing tesebut akan sangat membantu dalam mengidentifikasi gejala-gejala geologi yang muncul di permukaan. Gejala-gejala geologi yang diinterpretasikan berupa pembagian satuan batuan, keberadaan struktur geologi serta manifestasi panasbumi berupa alterasi bahkan hot spring dan fumarola. METODOLOGI INTERPRETASI Pada tahap eksplorasi sangat diperlukan analisis data foto udara atau remote sensing untuk membantu dalam mendapatkan hipotesis awal yang ditunjang dengan interpretasi data digital elevation model (DEM). Data-data remote sensing yang digunakan dapat berupa data ASTER (The Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer) 15 dan komposit citra satelit (landsat 7 atau landsat 8) berupa kombinasi RGB. Data DEM dapat digunakan untuk menggambarkan ekspresi topografi dan morfologi yang dapat digunakan sebagai interpretasi awal dalam mengidentifikasi gejala geologi di permukaan. Hipotesis awal yang ingin diketahui terkait dengan kondisi geologi daerah prospek sekaligus menyusun metode yang akan dipakai pada tahap eksplorasi yang dilakukan di lapangan. Gejala geologi yang dianalisa dapat berupa pola kelurusan morfologi yang diinterpretasikan sebagai kelurusan patahan, struktur melingkar yang diinterpretasikan sebagai rim caldera/crater, sector collapse serta struktur kawah yang umumnya berhubungan dengan pusat erupsi vulkanik (Gambar 2). Selain pola kelurusan, dalam analisa citra juga diidentifikasi gejala aktivitas hidrotermal/alterasi serta satuan batuan dengan pendekatan vulkanostratigrafi serta mempertimbangkan kenampakan visual, seperti rona, tekstur, bentuk, torehan permukaan, pola serta posisi relatifnya terhadap pusat erupsi di sekitarnya. 2

Gambar 2. Contoh penarikan struktur geologi menggunakan data remote sensing landsat 7 dengan perpaduan warna RGB menggunakan band 4, 5 dan 7. Pada data remote sensing akan terlihat penampakanpenampakan yang khas yang menunjukkan batuan penyusunnya misalnya lava atau piroklastik (Gambar 3). Urutan terbentuknya pun akan dapat teramati perbedaannya apakah produk tersebut masih tergolong baru ataupun sudah tua (kegiatan vulkanik sebelumnya) yang terlihat seperti pada Gambar 4. Pada daerah yang terganggu oleh aktifitas alterasi batuan juga akan menunjukkan warna yang khas seperti pada Gambar 5. Gambar 4. Contoh cara mengenali periode produk gunungapi Gambar 5. Contoh penentuan daerah yang terganggu oleh aktivitas hidrotermal (alterasi batuan) HASIL INTERPRETASI Gambar 3. Contoh cara mengenali produk gunungapi Setelah teridentifikasi gejala-gejala geologi yang menarik dan mendukung pada aktifitas panasbumi dilakukan penggabungan dan pembuatan peta gelogi (berdasarkan remote sensing). Dari peta geologi tersebut dapat dilakukan penyusunan desain survey kegiatan lapangan dengan menentukan lintasan-lintasan yang dinilai dapat mengcover seluruh satuan batuan yang telah ditentukan (Gambar 6). Dari penyusunan desain survey ini dapat diketahui perkiraan berapa lama akan dilakukan survey sehingga dapat menyusun jadwal serta memperkirakan biaya yang dibutuhkan. Selain dapat membantu dalam penyusunan desain pemetaan geologi hasil interpretasi data remote sensing juga dapat membantu dalam pembuatan desain pengukuran survey geofisika seperti pengukuran Magnetotelluric (MT) dan Gravity. Survey geofisika ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keadaan bawah permukaan sehingga dapat memperkuat hasil interpretasi permukaan menggunakan data remote sensing ini. 3

lokasi A yang dibantu oleh analisis remote sensing dengan luas daerah 167 km 2 dapat diselesaikan dalam waktu 3.5 bulan. Perbedaan waktu ini cukup signifikan dan akan sangat berpengaruh kepada besarnya biaya yang dikeluarkan. Selain berpengaruh terhadap waktu dan biaya, penggunaan metode ini akan sangat membantu juga dalam persebaran lokasi pengamatan pada saat di lapangan karena tim lapangan sudah memiliki panduan akan memulai dan berakhir di mana serta perkiraan batuan yang akan ditemukan. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam melakukan analisis tahap selanjutnya. KESIMPULAN Gambar 6. Penarikan rencana lintasan survey geologi pada daerah A STUDI KASUS Penerapan metode ini sudah dilakukan pada beberapa lokasi dan dilakukan perbandingan dengan lokasi yang sebelumnya tidak dilakukan terlebih dahulu analisis data remote sensing. Sebagai contoh pada lapangan B, pada lokasi ini sebelumnya tidak dilakukan analisis remote sensing terlebih dahulu sehingga menghasilkan distribusi lokasi pengamatan yang tidak merata dan pada pusat kegiatan panasbumi jumlah lokasi pengamatan sangat sedikit (Gambar 8). Hal tersebut akan sangat mempengaruhi dalam melakukan interpretasi dan tingkat keyakinan data yang didapat. Jika hal tersebut terjadi maka dalam melalukan interpretasi selanjutnya akan mengalami kesulitan dalam menentukan perkiraan zona potensi untuk membantu dalam penyusunan desain survey berikutnya. Pada lokasi B terlihat pada kemungkinan area pusat kegiatan panasbumi keterdapatan lokasi pengamatan hanya sedikit dan tidak merata. Sedangkan pada lokasi-lokasi yang dimungkinkan sebagai outflow justru begitu banyak lokasi pengamatan dan komposisinya sama. Kejadian seperti ini dinilai kurang efektif karena waktu yang digunakan akan semakin lama dan biaya yang dibutuhkan pun juga akan semakin banyak. Dengan penerapan metode remote sensing pada daerah A dapat terlihat perbedaannya. Pada lokasi pusat kegiatan panasbumi terdapat titik-titik lokasi pengamatan untuk membuktikan hasil interpretasi dari remote sensing dan di lapangan terbukti adanya (Gambar 7). Luas daerah pada lokasi B seluas 110 km 2 dan survey lapangan diselesaikan dalam waktu 5 bulan. Sedangkan pada Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian tersebut antara lain : 1. Metode remote sensing akan sangat membantu dalam penyusunan desain survey lapangan baik untuk geologi maupun geokimia dan geofisika. 2. Data lapangan yang didapatkan lebih representatif mewakili semua wilayah dan akan lebih mudah dalam menginterpretasikan lebih lanjut. 3. Dengan menggunakan metode remote sensing ini dapat mempersingkat waktu survey lapangan geologi 4. Jika waktu yang dipergunakan dapat dipersingkat maka biaya yang dikeluarkan akan dapat diminimalisir juga. DAFTAR ACUAN Lillesand, T. M., & Kieffer. R. W., 1994. Remote Sensing and Image Interpretation, 3rd Edition. John Wiley & Sons, Inc. New York. Lillesand dan Kiefer, 1997. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Dulbahri (Penerjemah). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Martasari, Rial Dwi., 2015. Analisis Struktur Bawah Permukaan dengan Menggunakan Data Remote Sensing dan Pemodelan Data Magnetotelluric (MT) serta Data Sumur pada Lapangan Panasbumi RL. Tesis. Program studi Eksplorasi Geotermal. Universitas Indonesia. Noer, D., 2012. Pengantar Geologi : Penginderaan Jauh, Bab 6, Hal 252-291. Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Pakuan, Bogor. Tarmidi, Suwijanto., 2014. Remote Sensing Untuk Eksplorasi Panasbumi. Professional Training Course Geothermal System and Exploration Technology. Universitas Indonesia. Depok. 17-20 November 2014. 4

Proceedings Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition 2015 Jakarta Convention Center, Indonesia August 19th 21st, 2015 Gambar 7. Persebaran lokasi pengamatan pada daerah A Gambar 8. Persebaran lokasi pengamatan di daerah B 5