MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Pemeliharaan ayam dan penampungan semen dilakukan di Kandang B, Laboratorium Lapang, Bagian Ilmu Produksi Ternak Unggas, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Evaluasi semen dilakukan di Laboratorium URR (Unit Rehabilitasi Reproduksi), Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2010 sampai Januari 2011. Ternak, Kandang dan Pakan Materi Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ayam Arab Silver pejantan berumur 33 minggu sebanyak sembilan ekor dengan kisaran bobot badan seragam (Koefisien Keragaman = 9,55%). Pemeliharaan ayam selama penelitian menggunakan kandang individu berukuran 60 cm x 40 cm x 75 cm (panjang x lebar x tinggi). Pakan yang digunakan adalah Pakan Komplit Butiran Ayam Hobi Dewasa CP 594 produksi PT Charoen Pokphand dengan kandungan nutrisi sebagai berikut : Kadar air maksimal 13,0 % Protein 17,5 19,5 % Lemak minimal 3,0 % Serat maksimal 8,0 % Abu maksimal 7,0 % Kalsium minimal 0,9 % Fosfor minimal 0,6 % Energi metabolis 2500 2600 kkal/kg Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan untuk mengoleksi dan mengevaluasi semen adalah spuit 1 cc ; tabung Eppendorf 1,5 cc ; mikroskop elektrik ; pipet plastik ; gelas objek; gelas penutup ; kamar hitung Neubauer Chamber ; mikropipet 10 µl dan 100 µl ; pemanas elektrik ; dan kertas ph. Bahan-bahan yang digunakan adalah NaCl fisiologis, formolsalin, kertas tissue, alkohol 70%, aquadest, dan eosin negrosin 2%. Persiapan Kandang dan Pemeliharaan Prosedur Persiapan kandang dilakukan satu minggu sebelum pemeliharaan dimulai, meliputi pembersihan dan desinfeksi kandang, pembuatan kandang individu, dan 18
persiapan kandang individu. Kandang tersebut didesinfeksi dengan penyemprotan formalin 5% setelah kandang individu selesai dibuat dan siap dimasuki ayam. Sembilan ekor ayam jantan dengan penampilan eksterior baik dipilih, ditimbang bobot badannya, dan ditempatkan ke dalam kandang individu satu hari setelah desinfeksi. Sembilan ekor ayam jantan ini kemudian dibagi menjadi tiga secara acak (A, B, C) dengan masing-masing terdiri dari tiga ekor dan diberi taraf perlakuan yang berbeda, yaitu penampungan semen satu kali per minggu (A), dua kali per minggu (B), dan tiga kali per minggu (C). Ayam diberikan vitamin anti stres selama tiga hari pertama setelah masuk kandang untuk mengurangi stres karena perpindahan kandang. Pencukuran bulu ayam dilakukan di sekitar kloaka untuk memudahkan saat penampungan semen. Ayam diadaptasikan dahulu selama dua minggu pertama setelah ayam masuk kandang agar terbiasa dikoleksi semennya dengan cara pengurutan di bagian punggung sampai pangkal ekor. Ayam selama pemeliharaan diberi pakan sebanyak 100 g/ekor/hari dan air minum tersedia bebas dengan dua kali pemberian, yaitu pada pagi hari dan sore hari. Suhu dan kelembaban diukur menggunakan termohigrometer pada pagi dan sore hari serta saat penampungan semen dilakukan. Vaksin ND diberikan setiap empat minggu sekali dan vitamin (vita stres) diberikan ketika ayam terpapar keadaan ekstrim seperti suhu terlalu panas (lebih dari 30 C) untuk mencegah stres. Penampungan dan Evaluasi Semen Segar Penampungan semen dilakukan selama enam minggu dan waktu penampungan disesuaikan dengan jadwal yang telah ditentukan pada Tabel 1. Tabel 1. Jadwal Mingguan Penampungan Semen Perlakuan Selasa Rabu Kamis Jumat A - - - X B X - X - C X X - X Keterangan A : ayam dengan penampungan semen satu kali per minggu B : ayam dengan penampungan semen dua kali per minggu C : ayam dengan penampungan semen tiga kali per minggu X : dilakukan penampungan semen - : tidak dilakukan penampungan semen 19
Penampungan semen dilakukan dengan metode pengurutan di bagian punggung (dorsal). Bagian sekitar bibir dan bawah kloaka dilakukan pencukuran bulu sebelum memulai penampungan untuk memudahkan saat penampungan. Bagian sekitar bibir dan kloaka tersebut dibersihkan dari kotoran yang menempel dengan tissue yang dibasahi NaCl fisiologis saat akan menampung semen. Cara pengurutan (massage) dilakukan dengan memijat punggung ayam jantan sampai pangkal ekor dengan jemari tangan kanan, kemudian diteruskan naik sampai ke bagian ekor. Telapak tangan kolektor membentuk sudut 30-40 dari punggung ayam jantan. Perabaan harus halus dan tepat agar ayam terangsang sehingga ekor terangkat, kaki agak meregang, kloaka membuka dan terlihat sepasang papila (phallus nonprotudens) menonjol. Tangan kanan secara cepat memfiksir, menggenggam dan sedikit mengangkat pangkal ekor, jari tengah dan ibu jari menekan dasar kloaka dan tetap menahan agar kedua papila tetap menonjol. Metode tersebut dilakukan dengan tekanan tertentu sampai keluar cairan kental berwarna putih (semen). Semen segera ditampung dengan menggunakan spuit 1 cc dan segera dibawa ke Laboratorium URR untuk dilakukan pengamatan makroskopis dan mikroskopis. Peubah yang Diamati Peubah yang diamati pada penelitian ini meliputi evaluasi makroskopis (warna, ph, volume dan konsistensi semen) serta evaluasi mikroskopis (gerakan massa, motilitas spermatozoa, konsentrasi spermatozoa, abnormalitas spermatozoa, dan jumlah spermatozoa per ejakulat). Pengamatan Warna, ph, Volume dan Konsistensi Semen. Pengamatan warna, ph, volume, dan konsistensi semen dilakukan secara makroskopis. Pengamatan warna dan volume semen dilakukan dengan melihat dan mengukur semen secara langsung pada spuit 1 cc. Pengamatan konsistensi semen dilakukan melalui perkiraan kekentalan dengan memiringkan spuit berisi semen. Pengukuran ph dilakukan menggunakan kertas ph dengan cara meneteskan 1 µl semen ke kertas ph kemudian nilai ph dibaca sesuai indikator perubahan warna. Pengamatan Gerakan Massa dan Motilitas Spermatozoa. Pengamatan ini dilakukan secara mikroskopis. Pengamatan gerakan massa dan motilitas spermatozoa 20
dilakukan melalui penilaian justifikasi. Pengamatan gerakan massa spermatozoa dilakukan dengan meneteskan 5 µl semen di atas gelas objek kemudian diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 10x10. Penilaian dilakukan dengan melihat gelombang spermatozoa dan dinilai dengan (-) jika tidak ada gelombang dan tidak ada gerakan individual (buruk), (+) jika tidak terlihat gelombang melainkan hanya gerakan individual motil progresif (sedang), (++) jika gelombang kecil, tipis, jarang, kurang jelas dan bergerak lamban (baik), (+++) jika terlihat gelombang besar, banyak, gelap, tebal, dan aktif berpindah-pindah tempat (sangat baik) (Toelihere, 1993). Pengamatan motilitas progresif spermatozoa dilakukan dengan meneteskan 5 µl semen di atas gelas objek kemudian diteteskan 2-3 tetes NaCl fisiologis. Gelas objek ditutup dengan gelas penutup dan diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 40x10. Penilaian ditentukan dengan memperkirakan jumlah spermatozoa yang motil progresif terhadap jumlah total spermatozoa. Pengamatan Konsentrasi Spermatozoa. Pengamatan konsentrasi spermatozoa diawali dengan mengencerkan semen sebanyak 500 kali dengan formolsalin (1 µl semen ditambah 499 µl formolsalin). Semen yang telah diencerkan disentuhkan pada kedua ujung kamar hitung Neubauer Chamber (ujung atas dan bawah) yang telah ditutup dengan gelas penutup. Semen yang telah disentuhkan dibiarkan mengalir di bawah gelas penutup sampai daerah hitung terisi. Kamar hitung Neubauer Chamber diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 40x10. Penghitungan jumlah spermatozoa dilakukan pada lima kamar hitung menurut arah diagonal (sudut kiri atas, sudut kanan atas, sudut kiri bawah, sudut kanan bawah, dan tengah) yang masing-masing mempunyai 16 ruangan kecil. Penghitungan konsentrasi berdasarkan rumus berikut : Konsentrasi spermatozoa per ml semen = jumlah spermatozoa terhitung x 25 x 10 6 Pengamatan Abnormalitas Spermatozoa. Pengamatan abnormalitas spermatozoa dilakukan secara mikroskopis. Pengamatan ini dimulai dengan membuat preparat ulas. Preparat ulas dibuat dengan meneteskan 1 µl semen yang ditambah 4-5 tetes larutan eosin negrosin 2% pada gelas objek. Campuran semen tersebut diaduk hingga homogen dengan ujung gelas objek lain kemudian dibuat preparat ulas setipis mungkin pada gelas objek yang berbeda (gelas objek yang baru) dan dikeringkan 21
menggunakan pemanas elektrik. Preparat ulas diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 40x10. Penghitungan dilakukan dengan menghitung 200 spermatozoa dalam 10 lapang pandang yang berbeda. Persentase spermatozoa abnormal dihitung dengan rumus sebagai berikut : Jumlah spermatozoa abnormal Abnormalitas Spermatozoa = x 100% Jumlah total spermatozoa Jumlah Spermatozoa per Ejakulat. Pengamatan jumlah spermatozoa per ejakulat dihitung dengan cara mengalikan volume semen dengan konsentrasi spermatozoa. Rancangan dan Analisis Data Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga taraf perlakuan, yaitu frekuensi penampungan semen satu kali per minggu (A), dua kali per minggu (B), dan tiga kali per minggu (C). Setiap perlakuan terdiri dari tiga ekor sebagai ulangan dan pengamatan dilakukan selama enam minggu. Data yang diperoleh kemudian dianalisis ragam dengan bantuan aplikasi Minitab 14. Model Rancangan Acak Lengkap (RAL) menurut Gasperz (1991) adalah sebagai berikut : Y ij = µ + τ i + ℇ ij Keterangan : i = perlakuan penampungan semen (satu kali per minggu, dua kali per minggu, tiga kali per minggu) j = ulangan (ayam ke-1, ayam ke-2, ayam ke-3) Y ij = nilai kualitas semen dari ayam ke-j yang memperoleh perlakuan ke-i µ = nilai tengah umum τ i = pengaruh perlakuan ke-i ℇ ij = pengaruh galat percobaan pada ayam ke-j yang memperoleh perlakuan ke-i Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut: H 0 H 1 = Frekuensi penampungan semen yang berbeda tidak berpengaruh terhadap karakteristik semen ayam Arab. = Frekuensi penampungan semen yang berbeda berpengaruh terhadap karakteristik semen ayam Arab. 22