1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Retinal Vein Occlusion (RVO) adalah sumbatan pada pembuluh darah vena di retina (Bradvica et al. 2012). Pertama kali dilaporkan oleh Liebrich pada tahun 1855 sebagai retinal apoplexy, merupakan salah satu penyakit tersering pada pembuluh darah retina yang bisa menyebabkan penurunan visus. Penurunan visus pada penyakit ini bisa timbul mendadak atau perlahan tanpa adanya nyeri. Hal ini tergantung dari letak dan tipe dari sumbatannya. Berdasarkan penelitian meta-analysis dari 15 studi di internasional, prevalensi terjadinya CRVO 0,65% dan 3,77% untuk BRVO. Kejadian BRVO lebih tinggi pada etnis Asia dan Hispanik dibanding pada ras kulit putih (Wong 2010). RVO dibagi menjadi tiga yaitu central retinal vein occlusion (CRVO), hemi-central retinal vein occlusion (HCRVO), dan branch retinal vein occlusion (BRVO). Berdasarkan beberapa studi, HCRVO merupakan variasi anatomis dari CRVO. Dari segi faktor risiko, penurunan visus, risiko terjadinya neovaskularisasi dan respon terhadap laser, HCRVO sama dengan CRVO (Hayreh, 1994). Faktor risiko terjadinya RVO dibagi menjadi 2 yaitu faktor sistemik dan okular. Faktor sistemik mencakup penyakit vaskular sistemik (hipertensi,
2 diabetes mellitus, dyslipidemia, obesitas), trombofilia (antiphospholipid syndrome, antibody syndrome, activated protein C resistence, dan defisiensi protein C atau protein S), gangguan hematologi (hyperviscosity syndrome, dysproteinemia, blood dyscrasias, anemia, peningkatan plasma homosistein, defisiensi factor XII), terdapatnya inflamasi, atau autoimmune vaskulitis seperti SLE, infectious vasculitis (HIV, sifilis, herpes zoster, sarkoidosis), hormonal dan tumor. Faktor okular yaitu open angle glaucoma, ischemic optic neuropathy, pseudotumor cerebri, dan optic nerve head drusen (Hayreh, 1994; Elvioza, 2011). Obstructive sleep apnea (OSA) merupakan suatu kondisi ditemukannya episode apnea atau hypopnea pada saat tidur. Proses henti nafas ini bisa berlangsung selama 10-30 detik (Grover, 2010). Gejala dari OSA bisa mendengkur, terbangun saat tidur, rasa mengantuk yang berlebih saat siang hari, letih, penurunan kognitif, dan insomnia (Karakucuk et al., 2008; Huseyinoglu et al., 2014). OSA dilaporkan sekitar 2-4 % pada usia dewasa dan diperkirakan tidak terdiagnosa pada 80 % laki-laki, dan 93 % wanita (El- Sayed, 2013). Studi di National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) juga memperkirakan 980.000 orang menderita obstructive sleep apnea yang tidak terdiagnosis. Sebuah studi cohort pada pekerja usia 30-60 tahun di Wisconsin, Amerika Serikat mendapatkan bahwa 24 % laki-laki dan 9 % wanita mengidap obstructive sleep apnea. Studi di Inggris, dengan tingkat obesitas rendah, memiliki prevalensi OSA sekitar 1 % (West et al., 2009).
3 OSA sering dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular, serebrovaskular, perubahan perilaku, gangguan kognitif, gangguan metabolik dan endokrin, penurunan kualitas hidup dan kematian mendadak (Huseyinoglu et al., 2014). Saat ini OSA juga dikaitkan dengan gangguan pada mata seperti floopy eyelid syndrome, gangguan lapang pandang, retinal vein occlusion, central serous chorioretinopathy, dan beberapa gangguan nervus optikus. Papil edema, peningkatan tekanan intrakranial, non-arteritic anterior ischemic optic neuropathy, dan glaukoma juga sering dikaitkan dengan OSA (Casas et al., 2013). Saat ini telah dilakukan beberapa penelitian di dunia dan juga laporanlaporan kasus yang menerangkan bahwa obstructive sleep apnea diduga merupakan salah faktor risiko terjadinya RVO. Dalam hal ini orang yang menderita OSA akan mengalami serangkaian proses metabolik yang nantinya akan menimbulkan gangguan metabolisme juga (Glacet-Bernard et al., 2010). Walaupun demikian, penelitian-penelitian ini menggunakan pemeriksaan polysomnografi (PSG). Pemeriksaan tersebut masih sangat mahal harganya dan tidak semua rumah sakit mempunyai alat tersebut. Untuk itu perlu digunakan alat skrining, dalam hal ini kuesioner, yang murah dan mudah yang dapat mendeteksi risiko tinggi OSA berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik, beserta faktor-faktor risiko dalam rangka mengelompokkan pasien dengan risiko tinggi yang membutuhkan pemeriksaan PSG segera dan atau pengobatan segera dan kelompok risiko rendah dimana tidak diperlukan PSG (El-Sayed, 2013). Dari sekian banyak kuesioner dalam mendeteksi risiko
4 tinggi OSA, kami memilih kuesioner Berlin dikarenakan penggunaannya yang mudah dan lebih banyak digunakan dalam mendeteksi risiko tinggi OSA. Hal ini tentunya dapat bermanfaat terhadap penanganan lebih lanjut kasus-kasus yang di duga disebabkan oleh obstructive sleep apnea, yaitu RVO, sehingga pasien-pasien RVO yang di curigai mengalami risiko tinggi OSA dapat kita rujuk ke bagian saraf untuk dapat dilakukan serangkaian pemeriksaan dan terapi lebih lanjut agar RVO tidak bertambah berat. Sampai saat ini, belum didapatkan penelitian tentang kejadian RVO yang di hubungkan dengan OSA yang di deteksi menggunakan kuesioner. Untuk itu penulis merasa perlu melakukan penelitian ini. Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi tentang pengaruh antara RVO dengan risiko tinggi OSA, dengan menggunakan teknik yang lebih mudah, sehingga pasien-pasien RVO yang terdeteksi mengalami risiko tinggi OSA dapat di tangani penyebabnya dengan merujuk ke bagian saraf. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti membuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut : 1. RVO merupakan penyakit sumbatan pembuluh darah pada retina yang dapat menyebabkan penurunan visus berat 2. OSA dapat membahayakan kehidupan seseorang karena dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular, serebrovaskular, perubahan perilaku, gangguan kognitif, gangguan metabolik dan endokrin,
5 penurunan kualitas hidup dan kematian mendadak, serta diduga menyebabkan gangguan di mata seperti gangguan lapang pandang, RVO, papil edema, NAION, dan glaukoma 3. OSA diduga menyebabkan gangguan vaskular pada tubuh, termasuk gangguan vaskular retina, dalam hal ini adalah RVO 4. Penderita dengan risiko tinggi OSA dapat di deteksi dengan kuesioner Berlin C. Pertanyaan Penelitian Uraian dalam latar belakang dan rumusan masalah diatas memberi dasar bagi peneliti untuk merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : Apakah terdapat pengaruh antara risiko tinggi obstructive sleep apnea dengan kejadian retinal vein occlusion? D. Tujuan Penelitian Mengetahui obstructive sleep apnea risiko tinggi sebagai faktor risiko retinal vein occlusion. E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai sumber informasi mengenai obstructive sleep apnea sebagai salah satu faktor risiko terjadinya RVO, sehingga kita dapat segera merujuk ke bagian saraf untuk
6 penanganan lebih lanjut, dan kuesioner Berlin dapat digunakan sebagai alat untuk mempermudah dalam menskrining obstructive sleep apnea. F. Keaslian Penelitian Pada penelitian ini kami mencoba meneliti pengaruh risiko obstructive sleep apnea dengan kejadian retinal vein occlusion, dalam hal ini diagnosa risiko obstructive sleep apnea menggunakan kuesioner Berlin yang sebelumnya sudah tervalidasi. Sejauh yang kami tahu belum pernah diteliti sebelumnya. Beberapa penelitian sebelumnya yang meneliti tentang obstructive sleep apnea yang dihubungkan dengan kejadian retinal vein occlusion : (tabel 1) Tabel 1. Kejadian obstructive sleep apnea yang dihubungkan dengan retinal vein occlusion No Peneliti Desain Hasil 1. Jardins, 2009 Case report 3 pasien yang telah di diagnosa CRVO mengalami OSA 2. Glacet- Cross sectional 23 dari 30 pasien (77%) RVO Bernard, study mengalami OSA 2010 3. Govetto, Case report Pasien dengan CRVO yang terdiagnosa
7 2014 OSA 4. (Chou et al., 2012) Retrospective nonrandomized, matched-control cohort study Sleep apnea mungkin sebagai faktor resiko independen pada RVO 5. Kanai, 2012 Cross sectional study Kasus RVO memiliki korelasi terhadap gangguan tidur 6. Turati et al., 2009 Case report Hipoksia dan hiperkapnia dapat mencetuskan eritrositosis yang menyebabkan hiperviskositas yang akhirnya menyebabkan trombus pada lamina kribrosa