A. Latar Belakang Penelitian

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya

RITA ROGAYAH DEPT.PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI FKUI

BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan penyakit yang menduduki peringkat pertama penyebab

BAB I PENDAHULUAN. Jumlah penderitadiabetes mellitus (DM) baru di seluruh dunia meningkat secara

BAHAN AJAR V ARTERITIS TEMPORALIS. kedokteran. : menerapkan ilmu kedokteran klinik pada sistem neuropsikiatri

GLUKOMA PENGERTIAN GLAUKOMA

BAB I PENDAHULUAN. (Dorland, 2010). Dalam keadaan normal, tekanan intraokular rata rata sekitar 15 mm

BAB I PENDAHULUAN. hidup biasanya memiliki arti yang berbeda-beda tergantung dari konteks yang

BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG. Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan

BAB I PENDAHULUAN. Aterosklerosis koroner adalah kondisi patologis arteri koroner yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetes mellitus (DM) adalah sekelompok gangguan metabolik. dari metabolisme karbohidrat dimana glukosa overproduksi dan kurang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit paru obstruksi kronik (PPOK) adalah penyakit yang dapat

GLAUKOMA DEFINISI, KLASIFIKASI, EPIDEMIOLOGI, ETIOLOGI, DAN FAKTOR RISIKO

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. lemak, dan protein. World health organization (WHO) memperkirakan prevalensi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Stroke merupakan suatu sindroma neurologis yang. terjadi akibat penyakit kardiovaskular.

BAB I PENDAHULUAN. hilangnya serat saraf optik (Olver dan Cassidy, 2005). Pada glaukoma akan terdapat

Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya

BAB I PENDAHULUAN. Leber Hereditary Optic Neuropathy (LHON) merupakan penyakit

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Anita's Personal Blog Glaukoma Copyright anita handayani

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit tromboemboli vena (TEV) termasuk didalamnya trombosis vena dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang meresahkan adalah penyakit

PROPORSI ANGKA KEJADIAN NEFROPATI DIABETIK PADA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN PENDERITA DIABETES MELITUS TAHUN 2009 DI RSUD DR.MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Stroke atau cedera serebrovaskular adalah berhentinya suplai darah ke

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bells Palsy adalah kelumpuhan atau kerusakan pada nervus facialis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang Penelitian. hampir 80 % prevalensi diabetes melitus adalah DM tipe 2 (

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hipertensi merupakan suatu keadaan terjadinya peningkatan tekanan

Stroke merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak di Amerika Serikat. Pada 2002, stroke membunuh sekitar orang. Jumlah tersebut setara

II. TINJAUAN PUSTAKA. Seseorang dengan katarak akan melihat benda seperti tertutupi kabut, lensa mata

BAB 1 PENDAHULUAN. angka morbiditas penderitanya. Deteksi dini masih merupakan masalah yang susah

ANALISA JURNAL A. Identitas Jurnal B. Analisa Jurnal

BAB I PENDAHULUAN. di negara-negara barat. Penyakit jantung koroner akan menyebabkan angka

BAB I PENDAHULUAN. penyakit. Lensa menjadi keruh atau berwarna putih abu-abu, dan. telah terjadi katarak senile sebesar 42%, pada kelompok usia 65-74

BAB I PENDAHULUAN. Menurut International Diabetes Federation (IDF, 2015), diabetes. mengamati peningkatan kadar glukosa dalam darah.

2 Penyakit asam urat diperkirakan terjadi pada 840 orang dari setiap orang. Prevalensi penyakit asam urat di Indonesia terjadi pada usia di ba

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI

BAB 1 PENDAHULUAN. koroner, stroke), kanker, penyakit pernafasan kronis (asma dan. penyakit paru obstruksi kronis), dan diabetes.

BAB 1 PENDAHULUAN. masalah kesehatan untuk sehat bagi penduduk agar dapat mewujudkan derajat

BAB I PENDAHULUAN. penurunan fungsi ginjal secara progresif dan irreversible 1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Centers for Disease Control

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penderita gagal ginjal kronik menurut estimasi World Health Organization

BAB I PENDAHULUAN. menjadi lemah ginjal, buta, menderita penyakit bagian kaki dan banyak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Definisi klinis rinitis alergi adalah penyakit. simptomatik pada hidung yang dicetuskan oleh reaksi

BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG. Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit yang. ditandai dengan kenaikan kronik kadar gula darah di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. dengan adanya hiperglikemia kronik akibat defisiensi insulin baik relatif maupun

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) adalah gangguan fungsi jantung dimana otot

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. koroner. Kelebihan tersebut bereaksi dengan zat-zat lain dan mengendap di

BAB I PENDAHULUAN. kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu

BAB 1 PENDAHULUAN. cerebrovascular disease (CVD) yang membutuhkan pertolongan dan penanganan

Studi epidemiologi deskriptif

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Gagal ginjal kronik (Chronic Kidney Disease) merupakan salah satu penyakit

ABSTRAK ANALISIS PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO TERJADINYA OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA DENGAN KUESIONER BERLIN PADA SEKELOMPOK KARYAWAN DI JAKARTA

BAB 1 PENDAHULUAN. kecacatan yang lain sebagai akibat gangguan fungsi otak (Muttaqin, 2008).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Stroke menurut World Health Organization (WHO) (1988) seperti yang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa Diabetes melitus

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut data Riskesdas 2013, katarak atau kekeruhan lensa

BAB 1 PENDAHULUAN. World Health Organization (WHO) memperkirakan jumlah penderita hipertensi akan terus meningkat seiring

BAB I PENDAHULUAN. metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan

Glaukoma. 1. Apa itu Glaukoma?

BAB I PENDAHULUAN. umum dan untuk mencapai tujuan tersebut bangsa Indonesia melakukan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. P DENGAN GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER : HIPERTENSI DI BANGSAL ANGGREK BOUGENVILLE RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia melakukan pekerjaan yang berbeda setiap harinya,

*Dosen Program Studi Keperawatan STIKES Muhamamdiyah Klaten

BAB I PENDAHULUAN. menjadi tahun. Menurut data dari Kementerian Negara Pemberdayaan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tubuh dan menyebabkan kebutaan, gagal ginjal, kerusakan saraf, jantung, kaki

BAB I PENDAHULUAN. badan menjadi gemuk (obese) yang disebabkan penumpukan jaringan adipose

Diabetes dan Penyakit Mata

BAB I PENDAHULUAN. Pengukuran antropometri terdiri dari body mass index

1. Relatif cepat dan murah untuk mendeteksi adanya kejadian luar biasa.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang penelitian. penduduk dunia seluruhnya, bahkan relatif akan lebih besar di negara-negara sedang

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang. Stroke adalah gangguan fungsi saraf yang timbul secara cepat, karena

BAB 1 PENDAHULUAN. pendengaran yang bersifat progresif lambat ini terbanyak pada usia 70 80

BAB 5 PEMBAHASAN. Telah dilakukan penelitian observasional belah lintang (cross sectional)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut American Heart Association (2015), Penyakit Jantung Bawaan

BAB I PENDAHULUAN UKDW. lanjut usia terus meningkat dari tahun ke tahun(rahayu, 2014). Menurut

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit yang banyak dialami oleh

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan perolehan data Internatonal Diabetes Federatiaon (IDF) tingkat

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. pada tahun 2002 dan peringkat ke 5 di seluruh dunia (Fauci et al., 2008).

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. perempuan. Artinya bahwa laki-laki mempunyai risiko PJK 2-3x lebih besar

BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan masalah yang. ditemukan pada masyarakat baik di negara maju maupun berkembang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Status kesehatan masyarakat ditunjukkan oleh angka kesakitan, angka

BAB I PENDAHULUAN. berfungsi penuh sejak janin berada dalam rahim(kira-kira pada. gestasi minggu ke-8). Tanpa adanya jantung yang berdenyut dan

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Retinal Vein Occlusion (RVO) adalah sumbatan pada pembuluh darah vena di retina (Bradvica et al. 2012). Pertama kali dilaporkan oleh Liebrich pada tahun 1855 sebagai retinal apoplexy, merupakan salah satu penyakit tersering pada pembuluh darah retina yang bisa menyebabkan penurunan visus. Penurunan visus pada penyakit ini bisa timbul mendadak atau perlahan tanpa adanya nyeri. Hal ini tergantung dari letak dan tipe dari sumbatannya. Berdasarkan penelitian meta-analysis dari 15 studi di internasional, prevalensi terjadinya CRVO 0,65% dan 3,77% untuk BRVO. Kejadian BRVO lebih tinggi pada etnis Asia dan Hispanik dibanding pada ras kulit putih (Wong 2010). RVO dibagi menjadi tiga yaitu central retinal vein occlusion (CRVO), hemi-central retinal vein occlusion (HCRVO), dan branch retinal vein occlusion (BRVO). Berdasarkan beberapa studi, HCRVO merupakan variasi anatomis dari CRVO. Dari segi faktor risiko, penurunan visus, risiko terjadinya neovaskularisasi dan respon terhadap laser, HCRVO sama dengan CRVO (Hayreh, 1994). Faktor risiko terjadinya RVO dibagi menjadi 2 yaitu faktor sistemik dan okular. Faktor sistemik mencakup penyakit vaskular sistemik (hipertensi,

2 diabetes mellitus, dyslipidemia, obesitas), trombofilia (antiphospholipid syndrome, antibody syndrome, activated protein C resistence, dan defisiensi protein C atau protein S), gangguan hematologi (hyperviscosity syndrome, dysproteinemia, blood dyscrasias, anemia, peningkatan plasma homosistein, defisiensi factor XII), terdapatnya inflamasi, atau autoimmune vaskulitis seperti SLE, infectious vasculitis (HIV, sifilis, herpes zoster, sarkoidosis), hormonal dan tumor. Faktor okular yaitu open angle glaucoma, ischemic optic neuropathy, pseudotumor cerebri, dan optic nerve head drusen (Hayreh, 1994; Elvioza, 2011). Obstructive sleep apnea (OSA) merupakan suatu kondisi ditemukannya episode apnea atau hypopnea pada saat tidur. Proses henti nafas ini bisa berlangsung selama 10-30 detik (Grover, 2010). Gejala dari OSA bisa mendengkur, terbangun saat tidur, rasa mengantuk yang berlebih saat siang hari, letih, penurunan kognitif, dan insomnia (Karakucuk et al., 2008; Huseyinoglu et al., 2014). OSA dilaporkan sekitar 2-4 % pada usia dewasa dan diperkirakan tidak terdiagnosa pada 80 % laki-laki, dan 93 % wanita (El- Sayed, 2013). Studi di National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) juga memperkirakan 980.000 orang menderita obstructive sleep apnea yang tidak terdiagnosis. Sebuah studi cohort pada pekerja usia 30-60 tahun di Wisconsin, Amerika Serikat mendapatkan bahwa 24 % laki-laki dan 9 % wanita mengidap obstructive sleep apnea. Studi di Inggris, dengan tingkat obesitas rendah, memiliki prevalensi OSA sekitar 1 % (West et al., 2009).

3 OSA sering dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular, serebrovaskular, perubahan perilaku, gangguan kognitif, gangguan metabolik dan endokrin, penurunan kualitas hidup dan kematian mendadak (Huseyinoglu et al., 2014). Saat ini OSA juga dikaitkan dengan gangguan pada mata seperti floopy eyelid syndrome, gangguan lapang pandang, retinal vein occlusion, central serous chorioretinopathy, dan beberapa gangguan nervus optikus. Papil edema, peningkatan tekanan intrakranial, non-arteritic anterior ischemic optic neuropathy, dan glaukoma juga sering dikaitkan dengan OSA (Casas et al., 2013). Saat ini telah dilakukan beberapa penelitian di dunia dan juga laporanlaporan kasus yang menerangkan bahwa obstructive sleep apnea diduga merupakan salah faktor risiko terjadinya RVO. Dalam hal ini orang yang menderita OSA akan mengalami serangkaian proses metabolik yang nantinya akan menimbulkan gangguan metabolisme juga (Glacet-Bernard et al., 2010). Walaupun demikian, penelitian-penelitian ini menggunakan pemeriksaan polysomnografi (PSG). Pemeriksaan tersebut masih sangat mahal harganya dan tidak semua rumah sakit mempunyai alat tersebut. Untuk itu perlu digunakan alat skrining, dalam hal ini kuesioner, yang murah dan mudah yang dapat mendeteksi risiko tinggi OSA berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik, beserta faktor-faktor risiko dalam rangka mengelompokkan pasien dengan risiko tinggi yang membutuhkan pemeriksaan PSG segera dan atau pengobatan segera dan kelompok risiko rendah dimana tidak diperlukan PSG (El-Sayed, 2013). Dari sekian banyak kuesioner dalam mendeteksi risiko

4 tinggi OSA, kami memilih kuesioner Berlin dikarenakan penggunaannya yang mudah dan lebih banyak digunakan dalam mendeteksi risiko tinggi OSA. Hal ini tentunya dapat bermanfaat terhadap penanganan lebih lanjut kasus-kasus yang di duga disebabkan oleh obstructive sleep apnea, yaitu RVO, sehingga pasien-pasien RVO yang di curigai mengalami risiko tinggi OSA dapat kita rujuk ke bagian saraf untuk dapat dilakukan serangkaian pemeriksaan dan terapi lebih lanjut agar RVO tidak bertambah berat. Sampai saat ini, belum didapatkan penelitian tentang kejadian RVO yang di hubungkan dengan OSA yang di deteksi menggunakan kuesioner. Untuk itu penulis merasa perlu melakukan penelitian ini. Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi tentang pengaruh antara RVO dengan risiko tinggi OSA, dengan menggunakan teknik yang lebih mudah, sehingga pasien-pasien RVO yang terdeteksi mengalami risiko tinggi OSA dapat di tangani penyebabnya dengan merujuk ke bagian saraf. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti membuat rumusan masalah penelitian sebagai berikut : 1. RVO merupakan penyakit sumbatan pembuluh darah pada retina yang dapat menyebabkan penurunan visus berat 2. OSA dapat membahayakan kehidupan seseorang karena dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular, serebrovaskular, perubahan perilaku, gangguan kognitif, gangguan metabolik dan endokrin,

5 penurunan kualitas hidup dan kematian mendadak, serta diduga menyebabkan gangguan di mata seperti gangguan lapang pandang, RVO, papil edema, NAION, dan glaukoma 3. OSA diduga menyebabkan gangguan vaskular pada tubuh, termasuk gangguan vaskular retina, dalam hal ini adalah RVO 4. Penderita dengan risiko tinggi OSA dapat di deteksi dengan kuesioner Berlin C. Pertanyaan Penelitian Uraian dalam latar belakang dan rumusan masalah diatas memberi dasar bagi peneliti untuk merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : Apakah terdapat pengaruh antara risiko tinggi obstructive sleep apnea dengan kejadian retinal vein occlusion? D. Tujuan Penelitian Mengetahui obstructive sleep apnea risiko tinggi sebagai faktor risiko retinal vein occlusion. E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai sumber informasi mengenai obstructive sleep apnea sebagai salah satu faktor risiko terjadinya RVO, sehingga kita dapat segera merujuk ke bagian saraf untuk

6 penanganan lebih lanjut, dan kuesioner Berlin dapat digunakan sebagai alat untuk mempermudah dalam menskrining obstructive sleep apnea. F. Keaslian Penelitian Pada penelitian ini kami mencoba meneliti pengaruh risiko obstructive sleep apnea dengan kejadian retinal vein occlusion, dalam hal ini diagnosa risiko obstructive sleep apnea menggunakan kuesioner Berlin yang sebelumnya sudah tervalidasi. Sejauh yang kami tahu belum pernah diteliti sebelumnya. Beberapa penelitian sebelumnya yang meneliti tentang obstructive sleep apnea yang dihubungkan dengan kejadian retinal vein occlusion : (tabel 1) Tabel 1. Kejadian obstructive sleep apnea yang dihubungkan dengan retinal vein occlusion No Peneliti Desain Hasil 1. Jardins, 2009 Case report 3 pasien yang telah di diagnosa CRVO mengalami OSA 2. Glacet- Cross sectional 23 dari 30 pasien (77%) RVO Bernard, study mengalami OSA 2010 3. Govetto, Case report Pasien dengan CRVO yang terdiagnosa

7 2014 OSA 4. (Chou et al., 2012) Retrospective nonrandomized, matched-control cohort study Sleep apnea mungkin sebagai faktor resiko independen pada RVO 5. Kanai, 2012 Cross sectional study Kasus RVO memiliki korelasi terhadap gangguan tidur 6. Turati et al., 2009 Case report Hipoksia dan hiperkapnia dapat mencetuskan eritrositosis yang menyebabkan hiperviskositas yang akhirnya menyebabkan trombus pada lamina kribrosa