BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. bermakna (Lutter, 2005). Infeksi saluran kemih merupakan salah satu penyakit

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Infeksi saluran kemih adalah keadaan adanya infeksi (ada pertumbuhan dan

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian dengan judul Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Antibiotik

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

INFEKSI SALURAN KEMIH

membunuh menghambat pertumbuhan

BAB 1 PENDAHULUAN. kemih. Infeksi saluran kemih dapat terjadi pada pria maupun wanita semua umur,

I. PENDAHULUAN. atas yang terjadi pada populasi, dengan rata-rata 9.3% pada wanita di atas 65

ANALISIS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH RAWAT INAP DI RSU PANDAN ARANG BOYOLALI TAHUN 2008 SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. kerap kali dijumpai dalam praktik dokter. Berdasarkan data. epidemiologis tercatat 25-35% wanita dewasa pernah mengalami

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Epidemiologi ISK pada anak bervariasi tergantung usia, jenis kelamin, dan

BAB 1 PENDAHULUAN. mikroba yang terbukti atau dicurigai (Putri, 2014). Sepsis neonatorum adalah

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu jenis infeksi yang paling sering

I. PENDAHULUAN. kematian di dunia. Salah satu jenis penyakit infeksi adalah infeksi

Kriteria Diagnosis Berdasaran IDSA/ESCMID :

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Di negara-negara berkembang, penyakit infeksi masih menempati urutan

Obat yang termasuk golongan ini ialah : a. Sulfonamid, b. Trimetoprin, c. Asam p-aminosalisilat (PAS), dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu respon inflamasi sel urotelium

BAB I PENDAHULUAN. morbiditas dan mortalitas pada bayi dan anak-anak. Infeksi mikroba. intrinsik untuk memerangi faktor virulensi mikroorganisme.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. MOEWARDI SURAKARTA TAHUN 2009

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM PUSAT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang sering ditemukan. Lebih dari 25% perempuan akan mengalami ISK

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. (Saifudin, 2008). Infeksi Luka Operasi (ILO) memberikan dampak medik berupa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI A. TINJAUAN PUSTAKA. Gejala penyerta dapat berupa mual, muntah, nyeri abdominal, mulas, demam,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

sex ratio antara laki-laki dan wanita penderita sirosis hati yaitu 1,9:1 (Ditjen, 2005). Sirosis hati merupakan masalah kesehatan yang masih sulit

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. SOESELO SLAWI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2009

BAB I PENDAHULUAN. menggambarkan kolonisasi kuman penyebab infeksi dalam urin dan. ureter, kandung kemih dan uretra merupakan organ-organ yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. pada wanita hamil maupun wanita tidak hamil. Bakteriuria pada wanita

TINJAUAN PUSTAKA. konsentrasi tertentu mempunyai kemampuan menghambat atau membunuh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (bakteri, jamur) yang mempunyai efek menghambat atau menghentikan suatu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

INFEKSI SALURAN KEMIH PADA ANAK OLEH: ARIES YUNANDA

I. PENDAHULUAN. Enterobacteriaceae merupakan kelompok bakteri Gram negatif berbentuk

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama. morbiditas dan mortalitas di dunia.

UNIVERSITAS INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. bermain toddler (1-2,5 tahun), pra-sekolah (2,5-5 tahun), usia sekolah (5-11

INFEKSI TERSERING PADA PENDERITA INFEKSI SALURAN KENCING DI LABORATORIUM KLINIKA SURABAYA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian yang berjudul Evaluasi Ketepatan Penggunaan Antibiotik

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

SATUAN ACARA PENYULUHAN DI BANGSAL CEMPAKA RSUD WATES INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pneumonia, mendapatkan terapi antibiotik, dan dirawat inap). Data yang. memenuhi kriteria inklusi adalah 32 rekam medik.

BAB II TINJAUAN PUSKATA. dijumpai wanita maupun pria. Wanita lebih sering menderita infeksi saluran

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PENANGANAN KASUS INFEKSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangunkusumo Jakarta Sectio caesarea pada tahun 1981 sebesar 15,35%

BAB 1 PENDAHULUAN. Sepsis adalah terjadinya SIRS ( Systemic Inflamatory Respon Syndrome)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kematian di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, sebagai akibatnya

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi saluran napas disusul oleh infeksi saluran cerna. 1. Menurut World Health Organization (WHO) 2014, demam tifoid

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan untuk melihat profil dan evaluasi penggunaan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN TEORI. sehat, baik itu pasien, pengunjung, maupun tenaga medis. Hal tersebut

BAB I PENDAHULUAN. lebih banyak dibandingkan dengan Negara maju. Indonesia dengan kasus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada zat kimia yang dihasilkan oleh satu macam organisme, terutama fungi yang

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. keberadaannya sejak abad 19 (Lawson, 1989). Flora konjungtiva merupakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kuman dapat tumbuh dan berkembang-biak di dalam saluran kemih (Hasan dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kecamatan Abiansemal adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Badung

Yayan Akhyar Israr, S.Ked

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Transkripsi:

4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Infeksi saluran kemih Infeksi saluran kemih atau yang sering kita sebut dengan ISK adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih (Tessy et al, 2001). Pada masa neonatus sampai 3 bulan, ISK lebih banyak ditemukan pada bayi laki laki. Pada usia 3 bulan sampai 1 tahun kasus pada laki laki sama dengan perempuan, sedangkan pada usia sekolah penderita perempuan dibandingkan laki laki adalah 3 4 : 1 (Mansjoer, 2000). Infeksi saluran kemih dibagi menjadi 3 kategori, yaitu : infeksi saluran kemih atas (pielonefritis), infeksi saluran kemih bawah (sistitis), dan sindrom uretra akut. Ketiga jenis infeksiini dapat dibedakan berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik dan juga penggunaan uji laboratorium. Pembedaan itu mempunyai implikasi yang penting untuk prognosis dan terapi (Smith et al, 2001). 1. Etiologi Penyebab terbanyak Infeksi saluran kemih adalah bakteri Gram Negatif dimana bakteriinitermasuk bakteri penghuni usus yang kemudian naik ke sistem saluran kemih (Tessy et al, 2001). Eschericha coli merupakan salah satu bakteri Gram Negatif yang paling umum menyebabkan infeksi saluran kemih. Penyebab lain Infeksi saluran kemih namun jarang adalah klebsiela, enterobakter, pseudomonas, streptokokus, strapilokokus (Mansjoer, 2000). Infeksi saluran kemih terjadi karena meningkatnya jumlah kuman atau bakteri yang berbeda pada uretra bahkan bisa sampai ke ginjal. Seperti yang diketahui bahwa saluran kemih umumnya tidak terdapat bakteri. Beberapa macam mikroorganisme penyebab Infeksi saluran kemih antara lain : 4

5 Mikroorganisme Tabel 1 : bakteri penyebab ISK Prosentase biakan Escherichia coli 50-90% Klebsiella atau Enterobacter 10 40% Proteus morganella 5 10% Pseudomonas aeruginosa 2 10% Staphylococcus epidermidis 2 10% Candida albicans 1 2% Staphylococcus aureu 1 2% (Tessy et al, 2001). 2. Patogenesis Ada dua jalur utama terjadinya penyakit Infeksi saluran kemih. Dua jalur utama tersebut adalah hematogen dan ascending. Namun dari dua jalur penyebab terjadinya infeksi pada saluran kemih, jalur ascending lah yang paling sering terjadi. Dua jalur tersebut adalah sebagai berikut : a. Hematogen, pada jalur ini bakteri yang berasal dari pembuluh darah masuk ke dalam ginjal dan menginfeksi jalur saluran kemih. infeksi ini kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah yang dikarenakan menderita suatu penyakit kronik atau bisa juga terjadi pada pasien yang mendapat pengobatan imunosupresif. b. Ascending, pada jalur ini bakteri masuk menuju saluran kemih melewati uretra yang kemudian menuju ke kandung kemih. Bakteri kemudian berkembang biak dalam urin yang kemudian naik melewati ureter menuju pelvis dan ginjal (Tessy et al, 2001). 3. Gejala Gejala klinis yang ditimbulkan karena terjadinya Infeksi saluran kemih tidaklah khas dan bahkan pada beberapa pasien tidak timbul gejala. Gejala yang paling sering timbul karena Infeksi saluran kemih adalah disuria, polakisuria, dan terdesak kencing yang biasanya terjadi bersamaan (Tessy et al, 2001)

6 Gejala klinis yang timbul sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi, sebagai berikut : a. Infeksi saluran kemih bagian bawah biasanya ditunjukkan oleh diuria dan sering mengeluarkan urin yang volumenya sedikit. Hematuria nyata dapat ditemukan, dan mungkin terdapat nyeri atau rasa tidak nyaman di daerah suprapubik. Demam yang nyata sangat jarang terjadi pada Infeksi saluran kemih bagian bawah. b. Infeksi saluran kemih bagian atas secara klasik ditunjukan oleh demam, nyeri pinggang, dan gejala saluran kemih bagian bawah (disuria, kencing sedikit sedikit dan sering). Pada beberapa pasien dapat mengalami nyeri perut atau nyeri kuadran kanan atas, dan sebagian terutama yang berusia lanjut mungkin tidak mengalami gejala sama sekali ) (Smith et al, 2001). 4. Pemeriksaan Laboratorium a. Biakan urin : biakan urin aliran tengah dianggap positif ISK apabila jumlah bakteri 100.000 bakteri/ml urin. Jumlah bakteri antara 10.000 - < 100.000 bakteri/ml urin dianggap meragukan dan perlu diulang. Apabila hasil yang diperoleh <10.000 bakteri/ml urin dianggap sebagai kontaminasi. Apabila proses pengambilan urin dilakukan dengan pungsi suprapubik atau kateterisasi kandungan kemih, maka seberapa pun bakteri yang ditemukan dianggap positif ISK. b. Urin lengkap : tidak ada korelasi pasti antara piuria dan bakteriuria, tetapi pad kasus dengan piuria harus dicurigai kemungkinan ISK. Bila ditemukan silinder leukosit perlu dipertimbangkan adanya kemungkinan pielonefritis. c. Radiologis : pemeriksaan ultrasonografi sedapat mungkin dilakukan pada semua pasien ISK. Pielografi intravena dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya pielonefritis kronik, kelainan kongenital, maupun obstruksi. Dengan miksio sisto uretrigrafi (MSU) dapat ditemukan tanda tanda refluks vesiko ureter atau penyempitan pada muara uretra.

7 d. Lain lain : data tambahan berupa peninggian laju endap darah (LED) dan kadar protein C reaktif, penurunan fungsi ginjal, serta adanya azotemia memberi petunjuk adanya ISK bagian atas (Mansjoer,2000). 5. Penatalaksanaan Menurut Smith (2001) terapi untuk ISK trimetropin sulfametoksazol secara intravena dalam 2 4 dosis terbagi. Sefalosporin generasi ketiga misal sefotaksim secara intra vena setiap 8 jam, atau aminoglikosida misalnya gentamisin setiap 8 jam. Dapat juga diterapi dengan ampisilin setiap 6 jam, atau pada pasien yang mengalami alergi dengan penisilin terapi dengan vankomisin setiap 12 jam. Menurut Mansjoer (2000) tata laksana umum:atasi demam, muntah, dehidrasi, dan lain lain. Anak dianjurkan banyak minum dan jangan membiasakan menahan kencing. Untuk mengatasi disuria dapat diberikan fenazopiridin 7-10 mg/kgbb/hari. Faktor predisposisi dan dihilangkan. Tata laksana khusus ditujukan terhadadp 3 hal, yaitu pengobatan infeksi akut, pengobatan dan pencegahan infeksi berulang, serta deteksi dan koreksi bedah terhadap kelainan anatomis saluran kemih. a. Pengobatan infeksi akut: pada keadaan berat atau demam tinggi dan keadaan umum lemah segera berikan antibiotik tanpa menunggu hasil biakan urin dan uji resistensi bakteri. Obat lini pertama adalah ampisilin, kotrimoksazol, sulfisoksasol, asam nalidiksat, nitrofurantoin dan sefaleksin. Sebagai pilahan kedua dapat digunakan aminoglikosida (gentamisin, amikasin, dll), sefotaksim, karbenisilin, doksisiklin, dll. Terapi diberikan selama 7 hari. b. Pengobatan dan pencegahan infeksi berulang: 30 50% akan mengalami infeksi berulang dan sekitar 50% di antaranya tanpa gejala. Oleh karena itu dilakukan biakan ulang pada minggu pertama sesudah selesai pengobtan fase akut, kemudian 1 bulan, 3 bulan, dan seterusnya setiap 3 bulan selama 2 tahun. Setiap infeksi berulang harus diobati seperti

8 pengobatan pada fase akut. Apabila relaps atau reinfeksi terjadi lebih dari 2 kal, pengobatan dilanjutkan dengan terapi profilaksis menggunakan obat antisesis saluran kemih, yaitu nitrofurantoin, kotrimoksazol, sefaleksin, atau asam mendelamin. Umumnya diberikan 1 4 dosis normal, satu kali sehari pada malam hari selam 3 bulan. Bila ISK disertai dengan kelainan anatomis, pemberian obat disesuaikan dengan hasil selama 3 bulan. Bila ISK disertai terapi profilaksis dilanjutkan selam 6 bulan, bila perlu samapai 2 tahun. c. Koreksi bedah: bila pada pemeriksaan radiologis ditemukan obstruksi, perlu dilakukan koreksi bedah. Penanganan terhadap refluks tergantung dari stadium. Refluks stadium I sampai III biasanya akan menghilang dengan pengobatan terhadap infeksi. Paa stadium IV dan V perlu dilakukan koreksi bedah dengan reimplantasi ureter pada kandung kemih. pada pionefrosis atau pielonefritis atrofik kronik, nefrektome kadang perlu dilakukan (Mansjoer, 2000). B. Antibiotik Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroorganisme lain. Belakangan ini banyak antibiotik yang dibuat secara sintentis maupun semisintetis. Obat yang digunakan untuk membasmi mikroorganisme penyebab infeksi pada manusia harus mempunya sifat toksisitas yang selektif (Setiabudy, 2007). Mikroorganisme dapat memperlihatkan resistensi terhadap obat melalui berbagai mekanisme, yaitu : a. Mikroorganisme menghasilkan enzim yang merusak obat aktif. b. Mikroorganisme mengubah permeabilitasnya terhadap obat tersebut. c. Mikroorganisme mengembangkan sasaran struktur yang diubah terhadap obat. d. Mikroorganisme mengembangkan jalur metabolisme yang lain yang memintas reaksi yang dihambat oleh obat.

9 e. Mikroorganisme mengembangkan enzim baru yang masih dapat melakukan fungsi metaboliknya tapi sedikit dipengaruhi obat (Jawetz, 2007). Penyebaran resistensi dapat terjadi secara vertikal (diturunkan ke generasi) berikutnya atau secara horisontal dari suatu sel donor. Namun penyebaran resistensi yang paling sering terjadi adalah secara horisontal dari suatu sel donor (Setiabudy, 2011). 1. Aktivitas dan Spektrum Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antibiotik yang mempunyai aktivitas bakteriostatik yaitu antibiotik yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain, selain itu ada juga yang di sebut dengan aktivitas bakteriosida yaitu bersifat membunuh mikroorganisme lain. Berdasarkan aktivitasnya antibiotik di bedakan menjadi dau yaitu antimikroba berspektrum luas dan antimikroba berspektrum sempit. Antibiotik spektrum luas dapat menghambat atau bahkan membunuh semua mikroorganisme baik gram positif maupun gram negatif, sedangkan untuk antibiotik spektrum sempit hanya dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme gram positif atau gram negatif saja. 2. Mekanisme kerja Mekanisme kerja antibiotik dibedakan menjadi 5 kelompok, yaitu: a. Antibiotik yang berkerja dengan cara menghambat metabolisme sel mikroba. b. Antibiotik yang bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel mikroba. c. Antibiotik yang bekerja dengan cara mengganggu permeabilitas membran sel mikroba. d. Antibiotik yang berkerja dengan cara menghambat sintesis protein sel mikroba. e. Antibiotik yang bekerja dengan cara menghambat sintesis asam nukleat.

10 3. Ampisilin Ampisilin merupakan antibiotik golongan penisilin. Ampisilin termasuk kedalam antibiotik spektrum sempit dimana bekerja hanya mampu menghambat atau membunuh segolongan jenis bakteri saja (gram positif saja/ gram negatif saja) (Pratiwi, 2008). Ampisilin bekerja pada proses sintesis dinding sel dari bakteri (Tjay Hoan T. dan Kirana R., 2002). Dalam resisten terhadap ampisilin yang merupakan antibiotik golongan penisilin terjadi karena mikroorganisme patogen memiliki gen pengkode β laktamase yang dapat merusak cincin β laktam pada ampisilin (Pratiwi, 2008). 4. Sefotaksim Sefotaksim merupakan antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga yang mempunyai sifat anti laktamase kuat dan khasiat anti Psudomonas sedang (Tjay dan Kirana, 2002). Mekanisme kerja dari sefotaksim dengan cara menghambat sintesis dinding sel dari bakteri (Pratiwi, 2008). Sefotaksim merupakan antibiotik berspektrum luas yang kerjanya dapa tmenghambat atau membunuh bakteri dari golongan gram negatif maupun dari gram positif (Tjan dan Kirana, 2002). 5. Seftriason Seftriason merupakan antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga sama seperti sefotaksim dengan sifat anti laktamase dan anti kuman gram negatif kuat, kecuali terhadap Pseudomonos (Tjay dan Kirana, 2002). Mekanisme kerja dari seftriakson sama seperti sefotraksim yang bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel dari bakteri (Pratiwi, 2008). Sama halnya dengan sefotaksim seftriakson juga merupakan antibiotik berspektrum luas yang kerjanya dapat menghambat atau membunuh bakteri dari golongan gram negatif maupun dari gram positif (Tjay dan Kirana, 2002).

11 C. Resistensi Infeksi pada saluran kemih adalah penyakit infeksi yang membutuhkan pemberian antibiotik. Tetapi pemilihan antibiotik sangatlah penting guna mempertimbangkan toksisitas dan resistensi bakteri penyebab ISK. Bahaya dari timbulnya resistensi adalah semakin sulitnya pengobatan, semakin lamanya infeksi serta resiko peningkatan komplikasi atau kematian (Tjay dan Kirana, 2007). Ada beberapa mekanisme yang menyebabkan terjadi resistensi bakteri terhadap antibiotik. Menurut Suharto (1994) mekanisme resistensi bakteri ada lima yaitu Mikroorganisme dapat memproduksi enzim yang dapat merusak obat, terjadinya perubahan permeabilitas kuman, terjadinya perubahan tempat atau lokus tertentu di dalam sekelompok mikroorganisme tertentu yang menjadi target dari obat, terjadinya perubahan metabolit pathway yang menjadi target obat, dan terjadinya perubahan enzimatik sehingga kuman masih dapat hidup dengan baik. D. Urin Urin yang disekresikan dalam ginjal bersifatsteril kecuali jika ginjal terinfeksi. Urin dalam kandung kemih yang tidak terkontaminasi juga steril dalam keadaan normal. Namun, uretra mengandung flora normal sehingga urine normal yang dikeluarkan mengandung sedikit bakteri. Oleh karena itu penting untuk membedakan organisme yang mengkontaminsa dengan organisme yang merupakan flora normal yang penting secara etiologis (Jawetz, 2007).